. Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 7 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 7

0
268

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 7

PeDeKaTe

Sudah lebih dari 2 minggu sejak Indah mengunjungi Beti di rumah sakit jiwa. Dia sudah membaca buku catatan kecil yang diberikan oleh Beti kepadanya. Awalnya dia tak mengerti dengan tulisan-tulisan di buku itu. Tulisan di tiap halamannya seperti tidak bermakna, dan juga tidak ada hubungannya antar halaman. Tapi setelah beberapa kali membaca dan memperhatikan benar-benar tiap tulisan Beti, akhirnya Indah bisa mengartikan pesan tersembunyi yang terdapat di buku itu.

Setelah mampu memecahkan pesan dari Beti, justru sekarang Indah yang kebingungan, apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Tapi dia kembali teringat oleh pesan Beti yang curiga ada yang sedang mengawasi dirinya, karena itulah Indah berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Karena bisa jadi orang yang sedang mengawasi Beti pun juga mengawasinya.

Sesuai dengan pesan Beti pula, begitu Indah mengetahui isi pesan rahasianya maka buku itu langsung dibakar, memastikan tak ada jejak yang bisa dicium jika benar ada orang yang sedang mengawasi mereka.

Pagi ini Indah sudah berada di kantornya. Seperti biasa dia adalah orang pertama yang datang, selain para OB tentunya.

“Duh adek kita udah datang aja ini, pagi Ndah,” sapa Lia.

“Kamu rajin banget ya Ndah berangkatnya pagi-pagi terus,” Ara yang datang bersama Lia ikut menimpali. Selama ini dia memang menyukai sikap Indah selama di kantor.

“Hehe iya Mbak, kebiasaan dari kecil sih dari sekolah dulu, berangkatnya pagi-pagi terus,” jawab Indah sambil tersenyum kecil.

“Nggak apa-apa, bagus kok kayak gitu, biar cepet dapet jodoh, haha,” ujar Lia berkelakar.

“Lah, apa hubungannya Mbak berangkat pagi sama dapet jodoh?” tanya Indah bingung. Dia sama sekali tak menemukan benang merah antara kedua hal tersebut.

“Yaa nggak tahu sih, cari aja sendiri hubungannya, haha,” jawab Lia asal diikuti tawa dari mereka bertiga karena candaan Lia yang garing namun berhasil menghidupkan suasana pagi itu.

Indah memang sudah mulai dekat dengan teman-teman kantornya ini, terutama yang perempuan. Semuanya menganggap Indah adalah adik mereka karena memang umurnya yang paling muda. Indah pun senang seperti memiliki banyak kakak, karena memang dia adalah anak tunggal yang tak pernah merasakan bagaimana memiliki kakak ataupun adik, tapi disini semua orang memperlakukannya seperti keluarga, hingga dia bisa sedikit melupakan keadaannya kini yang memang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, selain Beti, yang dia tahu.

Suasana kantor semakin ramai menjelang jam kerja dimulai. Semua pegawai sudah berdatangan, kecuali mereka yang sedang cuti. Mereka menjalani rutinitasnya seperti biasa. Suasana kerja disini cukup nyaman sehingga membuat semuanya bisa menikmati pekerjaan mereka. Begitu sampai jam istirahat Indah pun segera menghampiri Ara.

“Eh Mbak Ara, hari sabtu atau minggu besok aku maen ke rumah ya?” tanya Indah.

“Oh iya Ndah, main aja,” jawab Ara sambil tersenyum.

“Oke Mbak, pengen ketemu sama si kecil Ardi nih. Dari fotonya lucu-lucu nggemesin gitu, hehe,” ujar Indah, namun matanya curi-curi melihat ke ponsel Ara yang menampilkan screensaver berupa foto Ardi.

“Iya emang dia itu lucu dan nggemesin juga, mirip lah kayak bundanya, haha,” canda Ara menimpali ucapan Indah.

“Yee malah Mbak Ara yang ge-er gimana sih, haha,” Indah tergelak mendengarkan jawaban Ara.

“Eh, Ardi sukanya apa Mbak?” tanya Indah.

“Maksudnya?” tanya Ara kurang mengerti maksud Indah.

“Yaa maksudnya, dia suka sama apa gitu? Biar entar Indah bawain,” jawab Indah.

“Halah kamu tuh, nggak usah bawa apa-apa lah, ngerepotin aja entar,” ujar Ara.

“Nggak kok Mbak nggak repot,” kilah Indah.

“Udah nggak usah, Ardi sukanya sama cewek cantik, jadi kamu bawa badan aja nggak usah yang lain, haha,” jawab Ara sekenanya.

“Lah kecil-kecil udah gitu. Itu yang suka Ardinya apa ayahnya Mbak? Haha,” tanya Indah tergelak. Indah memang sudah cukup dekat dengan Ara sehingga bisa lebih terbuka bercanda dengannya.

“Haha, kalau ayahnya sih udah pasti lah, tapi udah nggak bisa ngapa-ngapain dia, pawangnya galak Ndah,” ujar Ara menanggapi candaan Indah.

“Hahaha, emang iya gitu Mbak? Kayaknya pawangnya kalem-kalem gitu, masa sih galak?” tanya Indah menggoda Ara.

“Eh jangan salah Ndah, kalau ayahnya Ardi nggak macem-macem emang kalem, tapi kalau dia udah macem-macem, uuuhh bisa kena amukan dia,” tanggap Ara melotot pada Indah, namun karena tahu hanya gurauan justru membuat Indah semakin tertawa lebar.

Kelihatan sekali memang Indah paling dekat dengan Ara di kantor ini. Sedari awal masuk kerja Indah memang sudah merasa adanya kecocokan dengan Ara. Meskipun semua orang di kantor ini sudah dianggap sebagai kakak oleh Indah, namun dengan Ara lah dia merasa paling cocok. Dia juga bercerita banyak hal kepada Ara, dan Ara pun ternyata juga memainkan perannya sebagai kakak yang baik untuk Indah.

Ara yang memang hampir sepanjang usianya hidup sebagai anak tunggal, juga merasa senang dengan adanya Indah. Tak pernah memiliki adik sama sekali, membuatnya benar-benar menganggap Indah ini sebagai adiknya. Meskipun keduanya belum terlalu jauh mengenal secara personal, namun kedekatan ini bisa menjadi awal yang baik untuk rasa persaudaraan mereka kedepannya.

Teman-teman mereka di kantor pun ikut senang melihat hal itu. Entah kenapa tapi aura persaudaraan yang muncul di kantor ini terasa semakin kental. Sepertinya memang kedekatan yang ditunjukkan oleh Ara dan Indah ini menyebar kepada yang lain. Mereka nampak jauh lebih akrab dari sebelumnya, bahkan sampai kepada keluarga mereka juga, nampak jadi lebih saling kenal dan dekat.

Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang positif. Terbukti dengan pekerjaan mereka yang kini jadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Setiap pekerjaan yang menjadi kewajiban mereka selalu diselesaikan dengan penuh tanggung jawab. Jika ada yang mengalami kesulitan maka siapapun akan dengan segera membantunya, tanpa memandang senior atau junior. Sungguh sebuah suasana kerja yang pastinya diimpikan oleh semua orang.

Karena hal itulah Pak Hamid selaku pimpinan di kantor ini memiliki sebuah ide untuk mengadakan acara spesial, seperti sebuah family gathering. Dia ingin lebih mengakrabkan para pegawai dan keluarga mereka. Dia berharap dengan adanya acara seperti itu akan semakin memperkuat rasa persaudaraan di kantor ini, sehingga akan berdampak positif pada kinerja semua pegawainya.

Usul itu tentunya disambut dengan sangat antusias oleh semua pegawai. Merasa mendapatkan respon yang positif akhirnya Pak Hamid menyuruh beberapa pegawainya untuk segera menyusun rencana kegiatan itu. Mereka memilih saat akhir pekan di bulan depan, dan akan mengadakan acara itu di sebuah pantai di daerah selatan. Rencananya mereka akan menginap semalam disana.

Semua rencana telah disusun dengan matang, bahkan penginapan pun sudah mereka pesan. Semua pegawai menyatakan kesediaan mereka untuk ikut. Semua punya harapan yang sama dengan Pak Hamid.

*****

Hari sudah beranjak petang. Seorang wanita nampak duduk sendirian di sebuah cafe yang tak jauh dari kawasan kampus terbesar di kota ini. Suasana cafe ini tidak terlalu ramai karena ini bukanlah akhir pekan. Wanita itu terlihat sibuk dengan laptopnya. Dia sedang menunggu seseorang yang beberapa saat lalu sudah mengabarinya kalau dia sedang dalam perjalanan.

Huft, dia menarik nafas panjang. Apa yang dia lihat di layar laptopnya itu, sesuatu yang membuatnya marah, marah akan kelakuan mendiang suaminya dulu yang ternyata tak setia. Apalagi bukan hanya dengan 1, tapi beberapa wanita sekaligus. Dan karena kelakuannya inilah sang suami harus kehilangan nyawa, meninggalkannya seorang diri untuk mengurus kedua buah hati mereka.

Tapi kematian yang seperti itu tentu saja tak bisa diterima begitu saja oleh Lusi. Sebenarnya dia sudah mencoba untuk mengikhlaskannya saja, mengingat ada 2 orang anak yang perlu perhatian lebih darinya. Tapi di satu sisi, dia sudah terlanjur sejauh ini, sudah terlalu jauh untuk mundur dan membatalkan niatnya.

Apa untungnya kalau berhasil? Apakah dia akan menjalan hari-harinya dengan nyaman? Dan bagaimana kalau dia gagal membalas dendam? Dan skenario terburuknya, bagaimana bila dia sampai harus menyusul suaminya? Bagaimana nasib anak-anaknya nanti? Berbagai pertanyaan yang entah kenapa muncul akhir-akhir ini, membuatnya menjadi agak bimbang.

Tak berapa lama menunggu, nampak seorang pria paruh baya mendekati meja nomor 14, dimana Lusi sudah menunggunya. Pria itu berjalan pelan menjinjing tasnya yang juga berisi laptop, seperti permintaan Lusi saat menghubunginya kemarin. Pria itu masih belum tahu apa tujuan Lusi memintanya bertemu. Meski sudah saling mengenal, tapi itu sudah lama sekali.

“Selamat malam Bu,” sapa pria itu, menjulurkan tangannya.

“Oh malam Pak, silahkan duduk,” jawab Lusi membalas uluran tangan dari si pria.

“Makasih. Udah lama Bu Dede?” tanya si pria.

“Formal sekali. Lusi, panggil Lusi saja Pak Hamid. Saya belum lama kok, silahkan duduk,” jawab Lusi mempersilahkan Pak Hamid untuk duduk.

“Baiklah Bu Lusi, haha. Hmm, sudah cukup lama yaa,” ucap Pak Hamid kemudian duduk berhadapan dengan Lusi.

“Iya, sudah 3 tahun lebih Pak, sejak peristiwa itu,” jawan Lusi tersenyum.

“Oh iya, Pak Hamid mau pesan apa? Kebetulan saya juga belum pesan,” tanya Lusi sambil tangannya melambai memanggil seorang waitress.

“Kopi hitam saja, kebetulan tadi sudah makan duluan,” jawab Pak Hamid.

“Baiklah. Mbak, pesan kopi hitam satu, capucinno hangat satu, sama roti bakar keju dua ya,” ucap Lusi kepada waitress yang kemudian mencatat pesanan mereka.

“Baik Bu, mohon ditunggu sebentar,” ucap sang waitress dengan sopan.

“Haha, masih ingat rupanya kamu Lus,” ujar Pak Hamid tiba-tiba setelah waitress tadi meninggalkan mereka.

“Yah, apalagi yang Pak Hamid pesan selain itu kalau disini, iya kan?” jawab Lusi tersenyum.

Mereka pun memulai obrolan ringan, saling bertukar kabar, saling bertanya tentang keluarga masing-masing. Dulu semasa Dede masih hidup, keduanya memang sudah cukup kenal dekat. Meskipun Lusi tinggal di Bandung namun sebulan sekali dia datang bersama anak-anaknya untuk mengunjungi suaminya. Dan beberapa kali mereka keluar bersama dengan keluarga Pak Hamid, yang merupakan orang kepercayaan Dede.

Setelah pesanan mereka datang, mereka melanjutkan obrolan dengan berbincang santai sambil menikmati minuman dan kudapan yang sudha tersaji di hadapan mereka. Karena memang sudah cukup lama tak bertemu maka banyak yang mereka bicarakan. Pertemuan terakhir mereka adalah 3 tahun lalu ketika Lusi datang untuk mengambil jasad suaminya yang meninggal dengan cukup mengenaskan, setelah itu belum lagi mereka bertemu, bahkan untuk saling telpon ataupun bertukar pesan tidak.

“Jadi, dari kapan kamu di Jogja Lus?” tanya Pak Hamid sambil menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepulkan asap.

“Udah sebulanan ini lah Pak,” jawab Lusi singkat.

“Wah udah lama? Sendirian aja?” tanya Pak Hamid lagi.

“Iya Pak, anak-anak saya tinggal di Bandung sama adik saya,” jawab Lusi sambil memainkan ponselnya.

“Terus, disininya sampai kapan?” tanya Pak Hamid lagi.

“Belum tahu, yang jelas sampai urusan saya beres lah,” jawab Lusi santai.

“Emang ada urusan apa sih Lus? Sampai anak-anak ditinggal lama gitu?” tanya Pak Hamid sambil mengangkat lagi cangkir kopinya dan meninum isinya.

“Soal kematian suami saya Pak,” jawab Lusi singkat tanpa ekspresi.

Pak Hamid yang sedang menyeruput kopinya sedikit tersedak mendengar jawaban Lusi.

“Kematian Dede? Kenapa dengan kematian Dede? Itu kan udah lama?” Pak Hamid semakin heran dengan penuturan Lusi.

“Iya, emang udah lama. Tapi saya masih ingin mengungkapnya. Saya ingin mencari orang yang udah membunuh suami saya, dan kalau bisa membalas dendam sekalian,” jawab Lusi masih dengan ekspresi yang datar.

“Hah, apa? Membunuh? Suamimu kan meninggal karena kecelakaan Lus, kok kamu bisa bilang dibunuh sih?” tanya Pak Hamid terkejut. Beruntung dia masih ingat kalau sedang berada di tempat umum sehingga sempat melirihkan suaranya.

“Bapak yakin suami saya meninggalnya karena kecelakaan? Bukan karena dibunuh?” tanya Lusi balik.

“Yaa, kan polisi dan dokter bilang gitu,” jawab Pak Hamid.

“Memang itulah yang mereka katakan. Tapi apa Pak Hamid nggak curiga sama sekali? Apa mungkin kecelakaan yang cuma kayak gitu bisa sampai merenggut nyawa suami saya?” tanya Lusi menatap tajam mata Pak Hamid.

Pak Hamid pun menatap tajam mata Lusi. Dia ingin mencari keseriusan ucapan Lusi dari pancaran matanya. Pak Hamid seperti ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Bahkan dia sempat menengok ke kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain yang cukup dekat dengan posisi duduk mereka, memastikan tidak ada yang mendengar hal yang akan mereka bicarakan itu.

“Jadi menurutmu, Dede dibunuh?” tanya Pak Hamid dengan suara lirih.

“Iya,” jawab Lusi singkat.

“Atas dasar apa? Hanya melihat seperti apa kecelakaan itu?” tanya Pak Hamid lagi. Dia semakin penasaran dengan apa saja yang diketahui oleh Lusi.

“Itu salah satunya. Kebetulan saya kenal dengan dokter yang melakukan visum, dan dia memberi tahu kalau luka di kepala Mas Dede, bukan luka karena benturan dengan stir mobil, tapi karena benturan dengan benda yang lebih keras, yang nggak ada di mobil itu,” jawab Lusi.

“Tapi yang kudengar laporannya tidak seperti itu Lus,” sangkal Pak Hamid, memancing Lusi untuk menceritakan lebih banyak lagi.

“Dengar darimana? Media? Yah saya juga kurang tahu bagaimana di berita bisa muncul seperti itu, mungkin karena kurangnya bukti, atau sengaja ditutup-tutupi. Tapi kecurigaan saya tetap tidak berubah,” jawab Lusi.

“Hmm, lalu? Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Pak Hamid lagi.

“Seperti yang saya bilang tadi, saya akan mencari siapa pembunuhnya, dan kalau bisa membalas dendam,” jawab Lusi.

“Dengan cara seperti apa? Mencari pelaku pembunuhan yang sudah terjadi lebih dari 3 tahun, tanpa ada petunjuk sama sekali? Lalu bagaimana membalas dendamnya?” tanya Pak Hamid yang semakin antusias dengan apa yang dibicarakan oleh Lusi.

“Membalas dendamnya nanti saya pikirkan lagi. Yang jelas saya mau cari pelakunya dulu. Dan saya ingin mengumpulkan petunjuk-petunjuk, dari orang-orang yang pernah berhubungan dengan suami saya,” jawab Lusi dengan lugas.

“Orang-orang yang pernah berhubungan? Maksudmu?” Pak Hamid mengernyitkan dahinya.

“Harusnya Bapak tahu maksud saya, itulah kenapa saya meminta Pak Hamid untuk membawa laptop,” jawab Lusi tersenyum.

“Aku makin nggak paham maksudmu Lus,” Pak Hamid menggelengkan kepalanya.

“Bapak pernah mengcopy isi laptop suami saya kan sebelum saya membawanya pergi?” tanya Lusi.

“Iya, terus apa hubungannya?” Pak Hamid sebenarnya sudah mulai menebak kemana arah pembicaraan Lusi, namun dia hanya ingin memastikan saja.

“Apa saja yang Bapak copy?” Lusi menatap tajam Pak Hamid.

“Ya semua yang berhubungan sama pekerjaan lah,” jawab Pak Hamid.

“Lalu, apa lagi?” tanya Lusi lagi, terus mengejar Pak Hamid.

“Apa lagi, apanya?” Pak Hamid semakin yakin dengan apa yang sedang dibicarakan Lusi.

“Video-video itu? Juga catatan-catatan itu?” Lusi langsung pada inti dari apa yang ingin dia bicarakan.

“Hmm. Jadi kamu mau menyelidiki mereka?” tanya Pak Hamid yang dijawab dengan anggukan oleh Lusi.

Sebelum laptop milik Dede dibawa oleh Lusi, Pak Hamid memang telah mengcopy seluruh data yang ada di laptop itu. Awalnya dia terkejut karena ternyata di laptop itu tersimpan sebuah folder yang isinya adalah bukti-bukti perselingkuhan Dede. Ada beberapa video persetubuhan Dede dengan beberapa anak buahnya, serta beberapa catatan yang mendeskripsikan dengan sangat detail apa saja yang dia lakukan dengan anak buahnya itu.

Pak Hamid tentu saja terkejut melihat isi folder itu. Dia tak menyangka anak buahnya yang selama ini dia kira sebagai wanita baik-baik dan istri yang setia ternyata memiliki affair dengan Dede. Dia melihat video persetubuhan Dede dengan Nadya, Lia, Kartika, Wulan dan beberapa pegawai lain yang sudah pindah dari kantornya. Dia juga membaca sebuah catatan dimana Dede pernah mencabuli pegawai favoritnya, Ara, di sebuah tempat karaoke beberapa tahun silam.

Sejak saat itulah pandangan Pak Hamid kepada pegawainya sedikit berubah. Bagaimanapun juga dari video yang dia copy dari laptop Dede, dia bisa melihat bagaimana bentuk tubuh beberapa pegawainya yang selama ini tertutup oleh pakaian dinas mereka. Dia juga sempat membayangkan bagaimana bentuk tubuh Ara karena Dede mendeskripsikan dengan sangat detail di catatan itu.

Di kantor, di depan mereka selama ini Pak Hamid bersikap biasa saja. Namun dia sudah sering kali membayangkan bagaimana rasanya menikmati tubuh para pegawainya itu. Saat bercinta dengan istrinya, dia kerap membayangkan sedang menyetubuhi Nadya, Lia atau yang lainnya. Beberapa kali pula dia memainkan kejantanannya dengan melihat video persetubuhan Dede dengan wanita-wanita itu.

Sering dia mencuri pandang ketika di kantor. Lebih tepatnya saat berada di ruangannya, dia mengintip dari jendelanya untuk memperhatikan apa yang sedang diperbuat oleh pegawai-pegawai wanitanya itu. Yang lebih gila lagi, pernah dia memanggil Nadya, Lia, Kartika dan Wulan secara bergantian ke ruangannya untuk membahas masalah pekerjaan, namun disaat yang bersamaan di laptopnya sedang diputar video persetubuhan wanita-wanita itu.

Namun sampai saat ini hanya sampai disitulah yang dilakukan oleh Pak Hamid. Dia belum berani untuk melangkah lebih jauh lagi. Memang dia memegang kartu as para wanita itu, dan sewaktu-waktu bisa dia pakai untuk memperdaya mereka. Namun Pak Hamid sadar dirinya sudah tak muda lagi, dan staminanya dalam bercinta sudah sangat menurun dibandingkan masa mudanya dulu, sehingga dia takut malah akan jadi malu nantinya.

Dia melihat bagaimana liarnya para wanita itu bercinta dengan Dede, dan dia tak yakin akan bisa mengimbangi permainan mereka. Meski begitu bukan berarti keinginannya untuk itu dia buang sama sekali, tapi dia juga masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Pertama dia harus meningkatkan staminanya terlebih dahulu, setelah itu semua pasti akan menjadi lebih mudah.

“Jadi, ada salah satu dari mereka yang kamu curigai?” tanya Pak Hamid kepada Lusi, setelah beberapa saat keduanya terdiam.

“Pastinya siapa sih belum Pak, tapi saya yakin pelakunya ada diantara mereka, atau paling tidak orang-orang yang dekat dengan mereka, seperti misalnya suami atau keluarganya,” jawab Lusi.

“Lalu, bagaimana cara kamu menyelidiki mereka?” Pak Hamid menyilangkan kedua tangannya, penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Lusi.

“Bukan saya, tapi Bapak,” jawab Lusi singkat.

“Loh, kok aku? Maksudnya gimana ini?” tanya Pak Hamid kebingungan.

“Saya minta untuk ketemu Bapak disini, untuk meminta tolong hal ini. Saya ingin Bapak mengorek info tentang hubungan mereka dengan suami saya,” papar Lusi.

“Mengorek info? Maksudnya gimana sih Lus? Aku beneran nggak ngerti deh. Dan, kenapa harus aku?” tanya Pak Hamid semakin kebingungan.

“Kenapa Bapak? Karena Bapak atasan mereka, akan lebih mudah membuat mereka buka mulut ketimbang meminta tolong pada orang lain,” jawab Lusi membuat Pak Hamid semakin mengerutkan dahinya.

“Gimana caranya? Dan apa untungnya buatku?” tanya Pak Hamid.

“Keuntungan buat Bapak, sekaligus caranya, adalah menikmati tubuh mereka,” jawab Lusi tersenyum.

“Gila, kamu nyuruh aku melakukan hal yang sama dengan suamimu?” Pak Hamid terkejut, tak menyangka Lusi akan berkata demikian.

“Iya, kenapa? Keberatan? Bukankah Bapak juga menginginkan itu?” tanya Lusi.

“Tapi Lus,” ucap Pak Hamid.

“Saya tahu Pak, saya tahu kenapa sampai sekarang Bapak belum mau memanfaatkan video-video itu untuk menjerat salah satu atau semua wanita itu. Saya akan bantu Bapak untuk hal itu, dan saya jamin nantinya wanita-wanita itu akan bertekuk lutuk sama Bapak,” jawab Lusi memotong ucapan Pak Hamid.

“Maksudnya?” tanya Pak Hamid, penasaran sekaligus malu. Malu jika kelemahannya ini benar-benar diketahui oleh Lusi.

“Pak Hamid tentu kenal dengan Tata bukan? Dia yang ngasih tahu semuanya ke saya. Pak Hamid tenang aja nggak usah malu, saya justru yang akan membantu Bapak,” ucap Lusi yang semakin membuat Pak Hamid terkejut.

Ya, Pak Hamid mengenali nama itu. Bukan hanya mengenal, tapi pernah merasakan tubuh wanita cantik itu. Dia mengenalnya saat Tata menjadi weeding organizer untuk pernikahan keponakannya. Dan memang benar, Pak Hamid yang saat itu sudah begitu bernafsu kepada Tata, justru harus menahan malu saat dirinya dibuat ejakulasi sebelum sempat melakukan penetrasi.

Dan rupanya Tata mengenal Lusi, bahkan menceritakan aibnya kepada Lusi. Tapi tawaran dari Lusi tadi rupanya sedikit menarik minat Pak Hamid. Jika benar Lusi bisa membantu mengatasi kelemahannya, pasti semua angan-angannya selama ini bisa dia wujudkan.

“Coba nyalakan laptop Bapak, saya mau kasih sesuatu,” ujar Lusi membuyarkan lamunan Pak Hamid.

“Oh oke, bentar,” jawab Pak Hamid lalu mengeluarkan laptopnya dari tas, kemudian menyalakannya.

“Kalau misalnya aku mau, aku harus mulai darimana Lus?” tanya Pak Hamid, membuat Lusi tersenyum karena sudah menduga bahwa pria ini pasti tak akan keberatan.

Lusi belum menjawab, masih terlihat sibuk dengan laptopnya. Tak berselang lama dia mencabut flashdisk yang sedari tadi menancap di laptopnya, lalu menyerahkannya kepada Pak Hamid.

Copy aja dulu folder ini. Bapak bisa mulai dari dia,” jawab Lusi.

Pak Hamid pun segera melakukan apa yang dikatakan oleh Lusi. Di flashdisk itu hanya terlihat satu folder yang dinamai salah satu pegawainya. Dia memindahkannya ke laptopnya sendiri, lalu membukanya. Pak Hamid awalnya terkesiap, tak percaya dengan apa yang dia lihat, namun kemudian sebuah senyuman terkembang di bibirnya.

“Ya, dimulai dari anak buah Bapak yang satu itu. Setelah itu terserah Bapak mau melanjutkan ke siapa dulu, tapi yang jelas saya akan membantu Bapak dulu supaya nantinya bisa menaklukan mereka semua,” ujar Lusi yang mengetahui apa arti dari senyuman Pak Hamid.

Pria itu mengangguk-angguk, dan senyumnya semakin lebar, mulai mengerti apa yang diinginkan oleh Lusi. Dia sedang memutar sebuah video dari beberapa yang ada di dalam folder yang barusan dia copy. Video yang menampilkan adegan ranjang seorang anak buahnya. Sambil menontonnya, Pak Hamid juga membayangkan nantinya dia akan bisa menikmati tubuh indah anak buahnya ini.

Tanpa sepengetahuan Pak Hamid, seorang pria yang duduk tak jauh dari situ nampak tersenyum setelah mendapatkan kode dari Lusi. Pria itu tadi datang bersama dengan Lusi ke cafe ini, dan sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi antara Lusi dan Pak Hamid. Pria itu tersenyum puas karena salah satu dari bagian rencananya sudah berhasil dijalankan dengan baik.

*****

Disaat yang bersamaan namun di lain tempat, tampak beberapa orang sedang berdiksusi di sebuah rumah. Rumah itu juga sekaligus sebagai butik dan kantor weeding organizer milik Tata dan beberapa temannya. Mereka sedang mendiskusikan tentang acara pernikahan yang akan mereka tangani beberapa minggu lagi. Setelah mendapatkan konsep yang diinginkan oleh klien, kini tugas mereka adalah menyiapkan segala sesuatunya agar acara itu bisa diselenggarakan dengan lancar.

“Oke, sepertinya diskusi kita hari ini cukup, kita lanjutin lagi besok setelah list yang tadi udah dibuat terpenuhi semua. Jadi kalian boleh pulang sekarang,” ucap Tata mengakhiri diskusi ini.

“Makasih Mbak, kalau gitu kami duluan ya,” ujar seseorang diantaranya.

Mereka pun membereskan barang-barang mereka, lalu satu persatu pergi meninggalkan Tata dan seorang temannya.

“Ta, kamu mau langsung balik?” tanya Sintya, teman Tata.

“Entar Sin, aku mau ngecek barang-barang yang besok mau diambil Bu Aini,” jawab Tata.

“Oke kalau gitu aku duluan ya, ada janji nih soalnya,” ujar Sintya.

“Oke, hati-hati ya, salam buat Restu” jawab Tata.

Tak lama kemudian Sintya pun pergi, tinggal Tata sendiri. Dia segera memeriksa barang yang memang besok akan diambil oleh Bu Aini, yang biasanya menyuruh supirnya Pak Sarbini. Setelah selesai dan bersiap pulang, tiba-tiba ada seorang pria yang masuk ke rumah itu setelah sebelumnya mengetuk pintu yang memang masih terbuka.

“Malem Mbak Tata,” sapa pria itu.

“Yaa malem. Hmm, maaf Mas siapa ya?” tanya Tata, karena dia memang asing dengan wajah itu.

“Udah lupa sama aku?” tanya pria itu, yang semakin membuat Tata bingung.

“Hmm, aduh maaf, tapi beneran lupa,” jawab Tata tersenyum.

“Haha, yah maklum sih, udah lama kan kita nggak ketemu. Terakhir waktu aku liburan ke Indonesia 10 tahun lalu, kita ketemu di Jakarta,” ujar pria itu membalas senyum Tata.

“Eh bentar, 10 tahun lalu?” tanya Tata, berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“Yap, 10 tahun lalu,” jawab pria itu mempertegas.

“Hmm, Bastian bukan?” tanya Tata ragu-ragu.

“Haha iya Mbak, ini aku Bastian, Sebastian Mahendra,” jawab pria itu.

“Ya ampun Bastiaaan, kamu beda banget sekarang,” ujar Tata yang langsung menghambur memeluk Bastian.

“Haha beda gimana? Tambah ganteng ya?” sahut Bastian sambil membalas pelukan Tata.

“Iya ih tambah ganteng sekarang. Kamu kapan balik ke Indo?” tanya Tata, belum melepas pelukannya.

Bastian yang ada di hadapan Tata ini memang sudah sangat berbeda dengan yang dikenalnya. Dulu, 10 tahun yang lalu, wajahnya masih terlihat cukup polos. Namun kini pria itu sudah terlihat begitu dewasa. Badannya tegap, tak lagi cungkring seperti dulu. Wajahnya tegas, dengan sorot mata tajam yang menunjukkan sebagai seorang pria yang memiliki kharisma.

“Udah lama sih, cuma kemarin di Jakarta dulu. Ini baru sempat main ke Jogja,” jawab Bastian.

“Kok nggak ngabarin Bas kalau balik?” tanya Tata.

“Belum sempet aja Mbak, aku juga nggak tahu nomor Mbak Tata. Lagian kan aku juga harus ngurusin perusahaan dulu setelah ditinggal papa,” jawab Bastian.

Tata kemudian melepaskan pelukannya saat Bastian membahas tentang papanya. Mau tak mau Tata kembali teringat dengan peristiwa tragis itu. Dia tak bisa membayangkan seperti apa reaksi Bastian ketika mendengar papanya harus tewas dengan cara seperti itu. Apalagi sebelum ditemukan tewas dia juga harus menanggung malu akibat kejahatan besarnya terungkap oleh yang berwajib.

“Hmm, Bas,” ujar Tata yang langsung dipotong Bastian.

“Udah nggak usah dibahas dulu masalah itu,” ucap Bastian yang mengetahui apa yang hendak dibicarakan oleh Tata.

“Tapi Bas, apa kamu nggak mau..?”

“Jelas aku mau balas dendam Mbak. Nggak bisa aku terima begitu saja. Tapi itu nantilah, gampang. Aku udah punya rencana, dan aku pengen Mbak Tata bantuin rencanaku ini,” potong Bastian lagi.

“Bantu apa Bas? Rencana apa?” tanya Tata.

“Nanti aku kasih tahu Mbak apa rencanaku. Tapi aku minta tolong dulu ke Mbak Tata, besok jemput Mbak Beti ya, udah waktunya dia keluar dari rumah sakit itu. Terus besok sabtu pagi, bawa Mbak Beti ke kontrakannya Mbak Lusi, nanti disana aku jelasin semuanya,” ujar Bastian.

“Loh, kamu tahu soal Mbak Beti sama Mbak Lusi?” tanya Tata terkejut.

Bastian hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan Tata. Dia sudah tahu reaksi Tata pasti akan seperti itu. Tata jelas kebingungan bagaimana Bastian bisa sampai mengetahui tentang Beti yang dirawat di rumah sakit jiwa, dan juga tentang kontrakan Lusi. Tak banyak yang tahu tentang keberadaan Beti, apalagi Lusi yang tak ada hubungannya dengan peristiwa tragis itu.

Lusi hanya datang kesini karena kemungkinan orang yang dicari adalah sama dengan yang sedang dicari Tata. Tapi kenapa Bastian bisa tahu semuanya? Apakah itu artinya Bastian sudah cukup lama mengawasi keadaan sekaligus mengumpulkan informasi? Lalu meminta untuk mengumpulkan Beti dan Lusi sekaligus, apa itu artinya Bastian mengetahi sesuatu yang mereka cari-cari selama ini?

Tapi jika Bastian sudah mengetahui itu semua, dan juga berniat untuk membalas dendam atas kematian papanya, itu artinya Bastian sudah mempersiapkan semuanya. Dengan begitu urusan balas dendam yang sudah direncanakan oleh Tata maupun Lusi akan mendapat bantuan yang sangat besar, dan jelas sangat mempermudah mereka.

Tapi bantuan apa yang akan diminta oleh Bastian jika dia sendiri sudah bisa mengumpulkan informasi sampai sejauh itu? Tata masih menimbang-nimbang, apakah dia akan menuruti Bastian atau tidak. Tapi dia juga tahu, pria ini pasti tak akan menerima penolakan darinya, maupun dari Beti dan Lusi.

“Jadi kamu udah tahu semuanya Bas?” tanya Tata lagi.

“Udah kubilang, nanti hari sabtu, kalau kalian bertiga udah kumpul di rumah Mbak Lusi, aku bakal kasih tahu ke kalian. Yang penting tugas Mbak Tata adalah, jemput Mbak Beti besok, dan bawa ke rumah Mbak Lusi sabtu nanti, itu aja dulu, oke?!” Bastian kembali menegaskan kepada Tata.

“Baiklah kalau itu mau kamu Bas,” jawab Tata.

“Bagus. Oh iya, satu lagi. Sementara ini jauhi Sarbini, jangan layani dia dulu, nanti ada waktunya sendiri Mbak Tata mendekati orang tua itu lagi,” ujar Bastian sebelum pergi meninggalkan Tata.

Tata kembali dibuat terkejut oleh perkataan Bastian. Bahkan pria itu mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dengan Sarbini. Sudah sejauh itukah informasi yang dia punyai? Atau malah lebih jauh lagi?

Tata memang sempat mengenal Bastian, namun itu sudah lama sekali. Sepuluh tahun yang lalu saat pria itu berlibur ke Indonesia. Sepengetahuan Tata, Bastian memang tinggal di Inggris sejak kecil, dan sangat jarang datang ke Indonesia. Justru Baktiawan, papanya, yang lebih sering mengunjunginya kesana.

Karena memang hanya pernah bertemu sebentar, Tata jadi kurang tahu seperti apa sebenarnya Bastian ini. Ternyata pria ini benar-benar mengejutkannya. Entah bagaimana caranya dia bisa mendapatkan banyak sekali informasi-informasi dengan sedetail itu. Sama seperti papanya dulu, yang juga sering mengerahkan anak buahnya untuk melakukan apa yang dia mau.

Apakah Bastian ini sama seperti papanya? Apakah dia juga licik dan kejam seperti papanya juga? Atau justru lebih licik dan lebih kejam dari papanya? Tata jadi tertarik, rencana apa yang sudah disiapkan oleh Bastian. Entah apapun bantuan yang akan dimintanya nanti, tapi bagi Tata kehadiran Bastian ini memberinya secercah harapan untuk bisa menuntaskan dendam yang ada di dirinya, dan mungkin juga dendam Beti dan Lusi.

*****

 


Lusi


Beti


Tata


Bastian


Rio

Tata dan Beti baru sampai di rumah itu ketika Lusi berada di teras. Lusi memang sudah diberitahu oleh Bastian kalau hari sabtu ini dia menyuruh Tata dan Beti berkumpul di rumahnya, karena ada yang ingin disampaikan oleh Bastian. Ini akan menjadi pertemuan pertama Lusi dengan Beti sebab sebelumnya rencana Lusi mengunjungi Beti di rumah sakit batal karena saat sedang membeli buah dia bertemu dengan Bastian.

“Pagi Mbak Lusi,” sapa Tata.

“Pagi Ta, pagi Mbak Beti,” balas Lusi, sambil mengulurkan tangannya menyalami Beti.

“Pagi Lusi,” balas Beti.

“Eh, kok awkward gini sih, kalian kan udah pernah ketemu?” tanya Tata yang bingung melihat kecanggungan antara Lusi dan Beti, yang hanya dibalas oleh senyum keduanya.

“Eh masuk aja dulu yuk, sambil nunggu Bastian,” sahut Lusi mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.

Ketiganya pun masuk ke ruang keluarga. Baik Lusi maupun Beti masih saling diam seperti belum pernah mengenal sebelumnya. Tata yang tahunya keduanya sudah pernah bertemu menjadi heran, dia mengira-ngira apakah ada sesuatu ketika mereka bertemu hingga membuat suasana menjadi seperti ini.

“Jadi gini Ta, Mbak belum pernah ketemu sama Mbak Beti,” ujar Lusi.

“Lha kan kapan itu Mbak bilang mau ke rumah sakit? Nggak jadi emangnya?” tanya Tata.

“Nggak jadi Ta. Awalnya Mbak emang mau kesana, tapi pas mampir buat beli buah, Mbak ketemu sama Bastian, terus dia ngajakin ngobrol gitu. Jadi ya ini pertama kalinya Mbak ketemu sama Mbak Beti,” jawab Lusi panjang lebar.

“Hoo gitu tho,” Tata pun akhirnya mengerti.

“Iya Ta, makanya sebenarnya dari kemarin Mbak bingung sama apa yang kamu bicarain, siapa itu Lusi, tapi yaa Mbak diem aja, mbak iyain aja apa kata kamu, hehe,” sahut Beti menambahkan.

“Yee Mbak Beti gimana malah ngerjain Tata nih,” ucap Tata manyun.

Ketiganya pun ngobrol sambil bersenda gurau. Terutama Lusi dan Beti karena mereka memang baru pertama kali bertemu sehingga cukup banyak yang mereka bicarakan. Tak terasa sudah lebih dari satu jam mereka asyik ngobrol saat terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Lusi. Mereka sudah bisa menduga siapa yang datang.

“Pagi,” sapa Bastian.

“Pagi Bas, sendiri aja?” tanya Tata.

“Nggak kok, tuh ada yang ikut,” jawab Bastian, tak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam rumah itu.

“Pagi semua,” sapa pria itu.

“Pagi juga Rio,” balas Lusi.

Setelah saling bersalaman mereka pun duduk, sedangkan Lusi ke dapur menyiapkan minum untuk mereka. Tata dan Beti berkenalan dulu dengan Rio karena sebelumnya mereka memang belum pernah bertemu, sedangkan Bastian sibuk menyiapkan laptopnya. Tak lama kemudian Lusi pun kembali dengan membawa beberapa gelas minuman.

“Oke, karena semuanya sudah kumpul, langsung aja ya, kebetulan aku dan Rio setelah ini ada keperluan lain,” ucap Bastian.

“Oke silahkan, apa yang mau kamu sampaikan Bas?” tanya Tata.

“Sebelumnya aku sudah sempat menceritakan beberapa hal kepada Mbak Lusi, tapi nggak apa-apa aku ceritakan lagi aja dari awal,” ucap Bastian mengawali ceritanya.

“Aku minta maaf karena baru nemuin kalian sekarang. Sebenarnya aku sudah kembali ke Indonesia sejak 3 tahun lalu, beberapa bulan setelah peristiwa itu. Selama 3 tahun ini aku dibantu oleh Rio dan beberapa orang lagi menyelidiki tentang peristiwa berdarah itu, terutama kematian ayahku, Baktiawan Mahendra,” terang Bastian.

Ketiga wanita ini menanggapi biasa-biasa saja karena memang sudah mengetahui siapa Bastian yang sebenarnya, meskipun khusus Beti, dia baru pertama kali ini bertemu dengan pria itu.

“Awalnya kami memang hanya menyelidiki soal kematian ayahku saja, namun ternyata kami menemukan juga keterkaitan peristiwa itu dengan kematian Pak Yusri, om dari Mbak Tata dan Mbak Beti, dan juga Pak Dede, suami dari Mbak Lusi. Kalau untuk suami dari Mbak Beti, aku rasa udah jelas karena Mas Ramon tewas dalam peristiwa itu,” papar Bastian.

“Jadi kalian tahu siapa yang membunuh Om Yusri dan suami Mbak Lusi?” tanya Tata memotong.

“Dugaan udah ada, tapi kita perlu bukti yang lebih kuat lagi,” jawab Bastian.

“Siapa Bas?” tanya Tata.

“Orang yang ada hubungannya dengan dia,” jawab Bastian sambil menunjukkan sebuah foto di laptopnya.

“Ara?” ujar Tata dan Beti serentak.

“Ya benar. Orang yang memiliki hubungan dengan Ara,” jawab Bastian.

“Kenapa dia? Kenapa bukan orang lain? Apa penjelasannya Bas?” tanya Tata lagi.

“Oke gini, pertama adalah kematian dari Pak Dede, suami Mbak Lusi,” Bastian menahan omongannya lalu menatap Lusi, dan mendapatkan anggukan tanda dia memperbolehkan Bastian untuk melanjutkan ceritanya.

“Pak Dede ini memiliki affair dengan beberapa anak buahnya, salah satunya adalah Ara. Setiap melakukan affair dengan anak buahnya, dia selalu merekam apa yang mereka lakukan dengan ponselnya, kalau kalian tak percaya silahkan nanti tanya ke Mbak Lusi karena dia punya semua video itu,” ujar Bastian.

“Kemungkinannya seperti ini, orang yang ada hubungannya dengan Ara ini ingin menghentikan aksi Pak Dede dan membebaskan Ara dari affair ini dengan menghabisi Pak Dede dan menghapus bukti video perselingkuhan mereka. Hal ini terbukti dengan hilangnya ponsel Pak Dede saat kejadian itu dan sampai sekarang tidak pernah ditemukan. Tapi orang itu tak tahu kalau ternyata video-video itu sudah disimpan di tempat lain, yaitu laptop milik Pak Dede,” terang Bastian.

“Tapi kenapa Ara? Bisa saja kan orang lain yang juga punya affair?” tanya Beti.

“Entar dulu Mbak, itu baru kejadian yang pertama. Lanjut ke kejadian kedua, kematian Pak Yusri,” jawab Bastian. Sesaat dia meneguk minumannya sebelum melanjutkan.

“Mbak Beti ada disana waktu kejadian itu, jadi aku rasa udah tahu kondisi disana saat itu. Ada skenario penjebakan kan disana waktu itu Mbak?” tanya Bastian, yang dijawab dengan anggukan oleh Beti.

“Kenapa penginapan itu yang dipilih?” tanya Bastian lagi.

“Karena di penginapan itu sudah dipasang kamera tersembunya di berbagai sudut, jadi kami tak perlu repot-repot merekam sendiri untuk membuat video yang bisa dijadikan senjata untuk mengancam mereka,” jawab Beti.

“Yap, tepat sekali. Dan yang jadi pertanyaan sampai sekarang tentu adalah, kenapa harus Pak Yusri yang dibunuh, sementara saat itu yang sedang bersama dengan Ara adalah Mas Ramon, begitu bukan?” tanya Bastian.

“Iya, kenapa justru Ara yang dicurigai? Bisa jadi kan dari pihak Nadya yang dicurigai, karena saat itu Nadya yang bersama dengan Om Yusri, dan Nadya juga punya affair dengan suami Mbak Lusi kan?” tanya Beti yang masih belum mengerti maksud Bastian.

“Semua pasti akan mengira seperti itu, kami pun awalnya juga begitu. Tapi setelah menyelidiki tentang Nadya, dia tidak memiliki keluarga, saudara, kerabat atau bahkan teman yang memiliki potensi untuk melakukannya, karena itulah kami mengeliminir Nadya dari kemungkinan ini,” jawab Bastian.

“Apa karena Ara berasal dari keluarga seorang petinggi kepolisian?” tanya Tata.

“Ya, benar. Hanya Ara lah yang memiliki potensi ke arah sana. Dia adalah seorang anak dari petinggi kepolisian, tentu ayahnya akan dengan mudah menyuruh orang-orang terbaiknya untuk melindungi Ara. Dan kenapa Pak Yusri yang dibunuh waktu itu, perkiraan kami adalah mereka sudah tahu tentang kamera-kamera di penginapan itu dan kebiasaan Pak Yusri yang merekam aktivitasnya, sehingga mereka ingin menghentikan itu semua,” papar Bastian.

“Oke, kalau begitu penjelasannya aku bisa terima. Sekarang gini, kalau Pak Dede yang punya affair dengan Ara sampai dibunuh, kenapa Mas Ramon yang saat itu bersama dengan Ara tidak?” tanya Lusi sambil matanya melirik ke arah Beti.

“Karena waktu itu polisi sudah mengetahui hubungan Ramon dengan Pak Baktiawan, sehingga jika membunuh Ramon saat itu juga, mereka akan kehilangan kesempatan untuk menangkap Pak Bakti,” sahut Rio.

“Gimana kamu bisa tahu?” Tata terheran karena justru Rio yang menjawabnya.

“Aku dulu adalah polisi. Hmm, lebih tepatnya, aku menyusup sebagai anggota kepolisian, sehingga bisa mengetahui informasi-informasi seperti itu,” jawab Rio.

“Jadi Mas Ramon sengaja dibiarkan hidup waktu itu?” tanya Beti memastikan lagi.

“Ya, Ramon sengaja dibiarkan hidup. Tapi polisi sudah menanamkan alat penyadap di ponselnya, sehingga dengan begitu polisi bisa mengetahui apa rencana yang akan dilakukan oleh Pak Bakti. Karena itulah, pada malam tahun baru itu, polisi bisa dikatakan menang telak karena sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang,” papar Rio.

“Benar apa yang dikatakan oleh Rio. Jadi intinya, suami Mbak Lusi, omnya Mbak Tata dan Mbak Beti, serta suami Mbak Beti, tewas karena karena orang ini,” ucap Bastian sambil sekali lagi menunjuk foto Ara di laptopnya.

Ketiga wanita itu terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Lusi sudah lebih dahulu tahu sehingga dia tak terlalu emosional. Beti pun hanya diam saja tanpa menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Sedangkan Tata yang nampaknya lebih berapi-api, terlihat sekali dia begitu geram saat melihat foto Ara.

“Terus gimana ini Bas? Kenapa nggak langsung dibalaskan saja?” tanya Tata.

“Membalas dendam itu pasti, tapi kita nggak boleh buru-buru. Mendekati Ara nggak gampang, karena sampai sekarang pasti ada orang-orang yang melindunginya. Karena itulah kita memerlukan rencana, kita harus main cantik,” jawab Bastian.

“Oke, terus apa rencananya?” tanya Tata tak sabaran.

“Whoo tenang dulu Mbak, sabar nggak usah buru-buru gitu,” sahut Bastian.

“Mau sabar gimana? Kan udah ketahuan siapa yang membunuh Om Yusri, ya harus segera dibalaskan lah,” jawab Tata penuh emosi.

“Tenang, sabar. Aku tahu kalian semau marah, dendam. Aku juga. Ingat, ayahku juga terbunuh. Dia tewas tertembak kepalanya di kamar rumah sakit yang dijaga ketat 24 jam oleh polisi. Menurut kalian siapa yang bisa melakukan itu selain mereka? Aku juga punya dendam yang luar biasa, tapi kalau kita kebawa emosi, kita akan sulit untuk membalas dendam, jadi tolong tenanglah,” ujar Bastian mencoba menenangkan Tata.

Mendengar perkataan Bastian itu membuat Tata sedikit bisa meredam emosinya. Benar apa yang dikatakan oleh Bastian, pasti dia juga sangat marah dan menyimpan dendam yang sangat besar, karena selain ayahnya tewas terbunuh, bisnisnya pun sempat goyah karena pasokan dana dari peredaran narkoba yang dilakukan ayahnya terhenti saat itu.

“Oke, jadi gimana rencanamu?” tanya Tata dengan lebih tenang.

Bastian pun menjelaskan rencananya kepada ketiga wanita itu. Mereka mendengarnya dengan seksama. Tugas telah dibagi, dan mereka siap untuk menjalankannya. Bastian dan Rio pun memberikan nomor ponsel mereka jika kelak ketiga wanita itu membutuhkan bantuan mereka berjanji untuk membantunya, apapun itu.

“Ada satu yang ingin aku tanyakan, apakah orang yang membunuh Pak Dede, Om Yusri dan suamiku adalah orang yang sama?” tanya Beti sebelum Bastian dan Rio pamit.

“Yang membunuh Pak Dede dan Pak Yusri kemungkinan besar orang yang sama, kalau untuk yang membunuh Mas Ramon kami belum tahu. Nanti kita akan lihat siapa saja polisi yang malam itu menggerebek gudang tempat terjadinya peristiwa itu, dan kita akan mencari tahu siapa yang membunuh suamimu,” jawab Bastian.

Setelah tak ada lagi yang ditanyakan Bastian dan Rio pun pamit dan meninggalkan rumah itu. Lusi, Tata dan Beti nampak terdiam, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Namun terlihat Beti yang paling tidak puas, dia merasa ada yang janggal dengan penjelasan Bastian dan Rio, namun dia tak memberitahukannya kepada Lusi dan Tata.

Kecurigaan Beti semakin kuat saat dia bertanya tentang siapa yang membunuh suaminya, Bastian sengaja menutupi dan Rio diam saja. Beti tahu Bastian dan Rio menyembunyikan sesuatu. Entah untuk tujuan apa, apakah untuk dibereskan sendiri oleh Bastian dan Rio, atau ada maksud lain di baliknya, namun yang jelas, Beti sangat tahu kalau mereka berdua benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya, dari Lusi dan juga Tata.

*****

 


Indah


Ara


Budi

‘Mbak Ara, aku udah di gerbang perumahan nih. Rumah mbak yang mana?’

‘Oh iya benar Ndah, aku share lokasinya lewat WhatsApp ya.’

‘Okee.’

Ara pun mengirimkan lokasi rumahnya melalui WhatsApp kepada Indah yang ternyata sudah sampai di gerbang perumahannya. Pagi ini dia sedang bersama dengan suami dan anaknya, melewatkan waktu dengan bersantai di teras rumah. Hari ini mereka tidak pergi ke rumah Wijaya seperti biasanya karena memang Indah mengabari akan datang.

“Indah mau kesini Yah,” kata Ara.

“Indah siapa?” tanya Budi.

“Itu lho temen kantor bunda yang pernah Bunda ceritain tempo hari,” jawab Ara.

“Oh, Indah yang suka lari-larian tiap pagi itu?” tanya Budi.

“Haha iya Yah, tapi sekarang udah nggak kayak gitu lagi kok sejak dia punya motor. Dia kesini katanya pengen ketemu sama Ardi, kan beberapa kali liatin foto Ardi, gemes katanya,” jawab Ara.

Belum sempat mereka melanjutkan terlihat sebuah motor memasuki halaman rumah mereka. Nampak Indah yang memakai jaket dan celana panjang jeans kemudian memarkirkan motornya. Dia pun turun dan melepaskan helmnya, kemudian berjalan ke arah Ara dan Budi yang sudah berdiri menyambutnya.

“Pagi Mbak Araaaa,” sapa Indah yang langsung memeluk Ara.

“Pagi juga cantik, gimana nggak nyasar kan?” tanya Ara.

“Nggak dong Mbak, Indah gitu loh, hehe. Eh, pagi Mas Budi,” sapa Indah, kali ini hanya menyalami Budi.

“Pagi juga Indah,” jawab Budi singkat.

“Aaah ini pasti Ardi yaaa. Haloo Ardi, sini sini kenalin, tante Indah,” ujar Indah sambil mendekati Ardi.

“Aloo tante,” jawab Ardi yang kemudian mencium tangan Indah, dan tiba-tiba saja memeluk Indah.

“Eh, langsung nemplok aja nih, haha,” ujar Indah.

“Iya tuh Ndah, tahu aja ada cewek cantik langsung nemplok, ajar-ajaran ayahnya yaa gitu tuh, haha,” Ara berkelakar.

Budi pun hanya tersenyum saja digoda oleh sang Istri. Tak lama kemudian Ara pun masuk ke dalam untuk menyiapkan minum bagi mereka, sedangkan Indah nampak asyik bermain dengan Ardi yang ternyata sangat cepat akrab dengannya.

“Darimana tadi Ndah?” tanya Budi memandangi wajah Indah.

“Dari kost aja tadi Mas langsung kesini,” jawab Indah yang masih memeluk Ardi.

“Oh kamu kost tho? Bukan orang asli sini?” tanya Budi lagi.

“Nggak Mas. Aku aslinya dari Gunung Kidul makanya kost disini,” jawab Indah, sesekali menatap Budi.

“Eh, oh gitu. Emang kostnya dimana?” Budi agak terkejut melihat tatapan mata Indah.

“Di daerah lembah kampus Mas,” jawab Indah tersenyum.

“Loh, daerah kampus? Kalau ngantor kan lumayan jauh Ndah, kenapa nggak nyari yang deket-deket kantor aja?” tanya Budi yang mulai antusias, dan masih lekat menatap Indah.

“Maunya sih gitu Mas. Cuma kan kebetulan kenal sama yang punya kostan, dan kebetulan dia sekarang nggak tinggal disitu, ngurusin villa di daaerah atas sekalian tinggal disana, makanya Om Risman nyuruh aku buat tinggal disitu,” jawab Indah.

“Siapa Ndah? Pak Risman?” tanya Ara yang tiba-tiba keluar dengan membawa minuman dan makanan ringan.

“Eh, iya mbak, Om Risman. Mbak kenal?” tanya Indah.

“Kenal. Villa yang dia kelola itu kan biasanya dipakai sama kantor kita Ndah kalau ada acara di Kaliurang,” Ara menaruh minuman dan makanan ringan yang dibawanya di meja.

“Oh ya? Indah nggak tahu Mbak,” ujar Indah.

“Iya lah, selama kamu disini kan emang kita belum pernah ngadain acara lagi disana. Oh iya Yah, katanya dulu Mbak Mila juga kost disana lho, yang Indah tempati sekarang,” ujar Ara kepada Budi.

“Oh ya?” tanya Budi, sesekali masih melirik Indah.

“Iya Yah. Kamarnya nomor 2 dari pojok Ndah, kamu tahu kan?” tanya Ara ke Indah.

“Oh kamar itu tho, iya Mbak, Indah tahu, tapi Indah jarang ke belakang sih, Indah kan nempatin rumah utamanya. Lagian disana Indah juga nggak bayar kok, malah anak-anak itu yang bayar ke Indah, sebelum uangnya dikasih ke Om Risman, hehe,” ucap Indah yang masih memeluk Ardi.

“Wah, jadi ibu kost dong kamu? Haha.”

Mereka pun melanjutkan obrolan, dengan Indah masih bermain dengan Ardi. Budi lebih banyak diam dan mendengarkan mereka, sekali-sekali saja dia ikut nimbrung. Budi sebenarnya tahu kalau Mila kost disana, karena beberapa kali dia mengantar Mila jika sedang bepergian beramai-ramai dengan Ihsan dan yang lainnya.

Namun sebenarnya ada hal lain yang membuat Budi lebih banyak diam. Tanpa sepengetahuan Ara maupun Indah, diam-diam Budi memperhatikan gadis muda itu. Tatapan mata Indah tadi mengingatkan Budi kepada seseorang. Indah memang bukan orang itu, tapi tatapan matanya benar-benar mirip dengan seseorang. Seseorang yang pernah mengisi hatinya dan terpaksa ia tinggalkan untuk menjalani misinya.

*****

Bastian dan Rio sedang dalam perjalanan meninggalkan rumah Lusi. Mereka baru saja melangkah ke tahap rencana selanjutnya.

“Gimana menurut lu dengan penjelasan kita tadi?” tanya Rio sambil mengemudi mobil.

“Yah gua rasa itu udah cukup. Mereka bertiga terlihat yakin dan percaya dengan penjelasan kita,” jawab Bastian.

“Kenapa kita nggak mengatakan sesuatu dia?” tanya Rio lagi.

“Nggak perlu, terlalu sulit buat mereka. Orang itu nanti saja, dan itu bagian lu, haha,” jawab Bastian.

“Hah kampret, giliran yang kayak gitu aja lu kasih ke gua,” ujar Rio sewot.

“Haha santai aja bro. Intinya dia bakal kita urus kalau dia mulai ikut campur,” ujar Bastian.

“Ya kalau entar bininya kita bawa kan ikut campur juga dia,” sahut Rio.

“Maka dari itu. Dia pasti bakal ikut campur, tapi itu masih lama, sementara ini biarin aja dulu dia nikmatin hidupnya,” ucap Bastian.

“Yah, terserah lu aja lah Bas, you’re the boss. Terus, rencana selanjutnya apa?”

“Buset dah, lu nanya mulu? Lu udah ganti muka, udah ganti nama jadi Rio, dah gua masukin ke pasukan khusus kepolisian, masih bego aja. Masa iya otak lu gua ganti sama otaknya Rio sekalian?” tanya Bastian jengkel.

“Haha, gitu aja sewot lu. Tapi yah gua akui, dengan muka dan identitas ini, jadi lebih enak hidup gua, haha.”

****
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂