. Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 6 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 6

0
394

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 6

Diary Sang Mawar Hitam

POV Kamila
7 Tahun Yang Lalu

Segalanya dimulai dari sini. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan yang kujalani, berawal dari sini. Jalan hidupku yang semula biasa-biasa saja seperti kebanyakan orang, berubah menjadi sebuah perjalanan yang penuh dengan torehan tinta hitam. Jalan yang tak pernah terbayangkan sama sekali olehku sebelumnya. Awal perjalanan yang telah membuatku layaknya setangkai mawar hitam.

*****

 


Kamila


Ratna

“Dek, Mas pulang dulu ya,” ucapnya.

“Iya Mas, hati-hati ya,” jawabku tersenyum.

Sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Hal yang dulu selalu menghadirkan senyum di bibirku. Namun akhir-akhir ini senyum itu terasa getir untukku. Bukan karena aku sudah tak menyukai saat bibirnya mengecupku, hanya saja peristiwa beberapa bulan yang lalu telah merubah semuanya.

Kupandangi kekasihku yang mulai beranjak menjauh. Jam 11 malam, sudah cukup larut memang untuk ukuran jam malam di kostanku. Seharusnya gerbang sudah digembok dari jam 10 tadi, tapi karena aku sudah ijin pada Pak Risman maka dia memberikan toleransi maksimal sampai jam 12 malam.

Aku dan Mas Ihsan tadi memang pergi ke sebuah rumah makan untuk merayakan tepat setahun kami berpacaran. Bukan perayaan yang besar karena hanya mengundang teman-teman sekontrakan Mas Ihsan bersama dengan pacar-pacar mereka. Mas Budi dengan Devi, Mas Dimas dengan Ayunda, dan Mas Sakti dengan Mbak Melly.

Aku sudah mengganti pakaianku dengan pakaian tidur saat berbaring di kasurku, menunggu kabar dari pacarku. Aku teringat lagi acara makan malam kami tadi, saat tingkah kocak Mas Sakti dan Mas Budi sukses mengocok perut kami semua. Aku sampai senyum-senyum sendiri mengingat lelucon-lelucon yang keluar dari mereka berdua.

Suara getaran dari ponsel di meja riasku terdengar, membuatku beranjak untuk melihat pesan di layar kotak itu.

Dek, Mas udah sampai di kontrakan ini,’ BBM dari Mas Ihsan.

‘Ya udah Mas, cuci muka dulu, baru istirahat,’ balasku.

Iya sayang. Met istirahat ya, love you :*’

Love you too, honey,’ balasku lagi.

Lagi-lagi aku tersenyum getir. Sekali lagi, bukannya aku tak suka dengan ucapan sayang dari Mas Ihsan, namun peristiwa beberapa bulan lalu yang membuatku seperti ini. Peristiwa yang membuatku mengkhianati kepercayaan dari Mas Ihsan, mengkhianati komitmenku dengan Mas Ihsan. Dan aku mengkhianatinya bukan dengan orang lain, melainkan dengan sahabatnya sendiri, teman sekontrakannya, Mas Sakti.

*****

Aku sudah mengenal Mas Sakti sejak awal jadian dengan Mas Ihsan. Mereka tinggal satu kontrakan dengan Mas Budi dan Mas Dimas. Rumah yang mereka kontrak ini termasuk mewah untuk ukuran mahasiswa seperti kami, memiliki 4 buah kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu, ruang keluarga, garasi, dan juga halaman yang cukup luas. Harganya? Tentu saja mahal.

“Mas, kontrakanmu ini bagus banget, berapa pertahunnya?” tanyaku pada Mas Ihsan saat pertama kami diajak kesana.

“Tiga puluh juta setahun dek,” jawabnya.

“Hah, 30 juta? Mahal amat Mas?” tanyaku terkejut.

“Iya mahal banget. Kita sempat keberatan sih awalnya, tapi si Sakti ngotot mau ambil rumah ini, dia sampai mau bayar 20 juta sendiri, sisanya kita bagi bertiga,” jawab Mas Ihsan menerangkan.

“Mas Sakti sendiri 20 juta? Loyal banget Mas?” tanyaku, penasaran.

“Yah namanya juga anak orang kaya dek. Orang tuanya kan pengusaha sukses, jadi buat dia uang sih bukan masalah besar,” jawab Mas Ihsan.

Dari situ aku mulai penasaran dengan Mas Sakti. Secara fisik, dia termasuk good looking. Wajahnya tampan, perawakannya tegap. Meskipun menurut Mas Ihsan dia termasuk badboy yang doyan gonta ganti pasangan, tapi Mas Sakti ini memang teman yang enak untuk diajak ngobrol. Sedari awal kenal dia tak canggung untuk memulai obrolan, tak pernah kehabisan bahan dan selalu ceplas ceplos gaya bicaranya.

Semakin lama mengenalnya muncul sedikit ketertarikanku padanya. Namun semua itu kutepis karena aku sudah memiliki Mas Ihsan yang juga baik kepadaku, dan menyayangiku dengan tulus. Aku menganggap Mas Sakti hanya sebagai teman yang baik yang selalu siap mendengarkan unek-unek kami, dan kadang siap menjadi badut untuk menghibur teman-temannya yang sedang bersedih.

Sabtu pagi, aku main ke kontrakan mereka seperti yang sudah sering kulakukan. Aku pergi kesana tanpa memberi tahu Mas Ihsan terlebih dahulu. Tapi ternyata begitu aku sampai, hanya ada Mas Sakti saja di rumah itu, Mas Ihsan baru saja pergi untuk mengerjakan tugas kelompok. Aku menelpon Mas Ihsan dan dia bilang baru akan pulang paling cepat 2 jam lagi. Karena aku memang sedang ada perlu dengan Mas Ihsan maka kuputuskan untuk menunggunya saja.

Mas Sakti sendiri sedang sibuk main PES di ruang tengah. Aku pun menghampirinya karena tak enak juga menunggu sendirian di kamar Mas Ihsan. Akhirnya kami pun ngobrol disela-sela dia masih main PES. Obrolan yang biasa saja sebenarnya, tapi gaya bicaranya yang menurutku asyik dan juga diselingi dengan guyonan-guyonan segar memuatku begitu antusias dan betah untuk berlama-lama ngobrol dengannya. Mataku pun tak lepas dari Mas Sakti yang masih saja cuek namun tetap meladeni obrolanku.

Waktu 2 jam tak terasa hingga akhirnya Mas Ihsan pulang. Setelah menyelesaikan urusanku dengan Mas Ihsan aku pun pamit pulang. Di kost, entah kenapa aku malah kepikiran Mas Sakti. Rasanya ada sesuatu dari Mas Sakti yang menyedot perhatianku. Padahal sebenarnya kami sudah sering ketemu, orangnya memang asyik dan nyambung kalau ngobrol. Tapi tadi adalah pertama kalinya kami ngobrol berdua seperti itu.

Sampai beberapa hari kemudian aku masih kepikiran dengan Mas Sakti, kadang malah aku tersenyum sendiri dibuatnya. Entahlah, tapi ini rasanya sama seperti saat pertama aku tertarik dan mulai menyukai Mas Ihsan dulu. Tertarik? Apakah aku memang tertarik dengan Mas Sakti? Yah, mungkin saja. Tapi menyukai dalam artian yang lebih jauh? Ah nggak lah, nggak mungkin.

Seminggu kemudian aku pun pergi lagi ke kontrakan mereka, dan lagi-lagi hanya ada Mas Sakti di rumah itu. Seperti biasa Mas Sakti masih sibuk dengan gamenya.

“Loh Mila, ada apa Mil?” tanya Mas Sakti setelah sesaat tadi menoleh untuk melihat siapa yang datang, lalu kembali fokus pada gamenya.

“Hehe, nyari Mas Ihsan Mas, dimana ya?” jawabku, sekaligus bertanya.

“Lha kan dia hari ini ada kuliah pengganti sampai entar siang, emang kamu nggak dikasih tahu?” tanyanya, dengan pandangan masih fokus ke layar monitor.

“Eh, masa sih?” aku pun buru-buru membuka ponselku.

Astaga, iya benar. Tadi padi Mas Ihsan sudah memberitahuku kalau dia ada kuliah pengganti hari ini setelah kemarin dosennya tidak masuk. Kok aku bisa nggak nyadar ya? Maksudku, aku sudah membacanya sekilas tadi pagi, tapi kenapa aku tak memperhatikannya?

“Iya kan?” tanya Mas Sakti.

“Eh iya Mas, akunya yang kelupaan, hehe,” jawabku tersipu.

“Hadeeh gimana kamu ini,” ujar Mas Sakti, yang kemudian mematikan gamenya lalu menghadap ke arahku.

“Lho, udah ngegamenya Mas?” tanyaku.

“Udah ah, udah bosen. Lagian ada cewek cantik gini masa mau dianggurin, haha,” ucap Mas Sakti menggodaku.

“Ih Mas Sakti bisa aja,” jawabku, semakin tersipu.

“Mas Sakti kok ngegame mulu sih kerjaannya? Nggak kuliah?” tanyaku.

“Nggak Mil, semester ini aku nyantai kok, cuma ambil beberapa mata kuliah aja. Jadinya ya kayak gini, anak-anak pergi ke kampus, aku yang jadi penunggu kontrakan, haha,” jawabnya.

“Hoo gitu. Enak ya yang mau lulus. Eh tapi apa nggak lebih baik waktunya dipakai buat nyari bahan skripsi Mas?” tanyaku lagi.

“Haha, bahan buat skripsiku juga udah ada kok Mil, udah lengkap malah,” jawab Mas Sakti.

“Loh kok bisa?” tanyaku penasaran.

“Yaa kan aku ngajuin tema skripsi yang nggak jauh-jauh dari bidang usaha orang tuaku. Dosen udah setuju, bahan-bahan udah disiapin sama anak buahnya papaku, kalau aku males ya tinggal suruh mereka sekalian ngetikin, beres deh,” jawabnya.

“Ih curang banget kayak gitu mainnya,” sahutku.

“Haha, kalau bisa dibikin enak, ngapain dibikin susah?” tanggapan Mas Sakti yang membuatku ikut tertawa.

“Oh iya, kata Mas Ihsan, Mas Sakti yang nanggung sebagian besar biaya kontrakan ini ya Mas? Kok bisa gitu?” tanyaku.

“Iya Mil, soalnya aku udah cocok banget sama rumah ini. Aku juga udah cocok sama mereka bertiga, jadi ya aku maunya tetep tinggal disini bareng mereka. Awalnya sih mereka nolak habis-habisan ideku itu, tapi ya setelah kupaksa mereka mau-mau aja,” jawab Mas Sakti.

“Hoo gitu,” sahutku manggut-manggut.

“Iya, dan mungkin karena ngerasa nggak enak akhirnya mereka mutusin kalau mereka yang bakal bayar listrik, air dan lain-lainnya, aku nggak boleh ngeluarin duit lagi. Padahal aku sih santai-santai aja lho, aku nggak mau itung-itungan kayak gitu, tapi merekanya maksa ya udah aku ikut aja, daripada mereka kabur kan, haha,” lanjut Mas Sakti.

Obrolan kami pun semakin mengalir. Namun kemudian dia mulai banyak memuji dan rasanya, menggombaliku. Anehnya, aku justru merasa senang dan tersanjung dengan semua itu. Bukankah seharusnya aku marah? Aku ini kan pacar sahabatnya, dan dia malah menggombaliku. Entahlah, aku sendiri juga bingung.

Setelah beberapa jam, dengan muka yang mungkin sudah memerah akibat pujian dan gombalan dari Mas Sakti aku pun pamit pulang tanpa menunggu Mas Ihsan datang. Mas Sakti mengantarku hingga ke pintu, dan saat aku hendak melangkah tiba-tiba tanganku dipegang olehnya. Aku yang terkejut memalingkan muka, namun yang kudapatkan justru bibirnya mengecup sesaat pipiku.

Aku hanya terdiam saja karena kaget, tak menyangka Mas Sakti melakukan itu. Tangannya pun tak melepaskan genggamannya di tanganku, bahkan sedikit meremasnya. Dia tersenyum menatapku, dan tanpa sadar aku membalas senyumannya itu. Beberapa saat kami terdiam dalam posisi itu, sampai akhirnya dia melepaskan tanganku.

“Udah sana, keburu ujan, tuh udah mendung,” kata Mas Sakti.

Aku tak menjawabnya, dan langsung saja beranjak meninggalkan Mas Sakti, meninggalkan rumah itu. Sesampainya di kost aku benar-benar semakin kepikiran dengan Mas Sakti. Rasa ketertarikan yang ada kurasakan semakin bertambah. Mungkin bukan hanya tertarik saja, tapi entahlah, aku tak bisa, hmm belum bisa memastikannya.

Beberapa hari kemudian aku datang lagi ke rumah itu. Kali ini aku sudah tahu kalau Mas Ihsan sedang pulang kampung karena ada hajatan saudaranya. Dari Mas Sakti aku tahu kalau Mas Budi pergi dan menginap di salah satu pantai di Gunung Kidul bersama pacarnya, katanya sekalian hunting foto. Sedangkan Mas Dimas juga pergi entah kemana. Tahu seperti itu harusnya aku tak datang kesini, tapi entah kenapa waktu Mas Sakti memintaku untuk datang langsung aku iyakan.

Sesampainya aku di rumah itu, memang benar-benar sepi, hanya ada Mas Sakti seorang. Awalnya kami hanya ngobrol biasa di ruang tengah. Maksudku, selain lelucon-lelucon yang bisa membuatku tertawa lepas, gombalan dan rayuan Mas Sakti pun keluar lagi. Dan lagi-lagi, aku menyukainya. Rasanya nyaman aja kalau sama dia. Jika selama ini aku nyaman dengan sifat Mas Ihsan yang cenderung lebih pendiam, kali ini aku pun nyaman dengan Mas Sakti yang lebih ceplas-ceplos.

Obrolan kami masih terus berjalan, membuatku semakin nyaman dan melambung dengan semua rayuan gombalannya, sampai akhirnya Mas Sakti meraih dan menggandeng tanganku menuju ke kamarnya. Aku tahu aku bisa menarik kembali tanganku, aku bisa menolaknya, sangat bisa, tetapi tak kulakukan? Kenapa? Jangan tanya, aku sendiri pun tak tahu kenapa, yang jelas aku hanya diam dan mengikuti langkahnya.

Sampai di kamarnya, tanpa melepas tanganku dia menutup pintu tanpa menguncinya, mungkin karena penghuni lain memang benar-benar tidak ada disini. Melihat itu pun aku hanya diam saja. Kemudian dia menarikku dan mengajak duduk di ranjangnya, bersandar di tembok. Kami duduk bersebelahan, tangan kirinya masih menggenggam tangan kananku. Bukan genggaman yang erat, namun aku sendiri rasanya enggan untuk melepaskanya. Yang kurasakan adalah tenang dan nyaman, tidak ada takut atau khawatir sedikit pun.

Kami kemudian melanjutkan obrolan, yang kurasakan semakin banyak kata-kata manis yang keluar dari bibir Mas Sakti. Hingga entah bagaimana awalnya, yang kuingat hanyalah saat bibir kami saling bersentuhan. Lembut sekali, dan hangat. Ini adalah ciuman bibir pertamaku. Ya, aku bahkan belum pernah melakukannya dengan Mas Ihsan setelah beberapa bulan pacaran, paling jauh hanyalah sebatas dia mencium keningku.

Tapi kini sahabatnya lah yang telah mengambil kesempatan pertama itu. Mas Sakti lah yang telah memerawani bibirku. Aku yang terbuai hanya bisa pasrah dan bahkan membalasnya. Aku yang sama sekali belum pernah melakukan ini hanya mengandalkan naluriku saja saat mengikuti permainan Mas Sakti yang mulai memasukkan lidahnya untuk mencari-cari lidahku.

Kupejamkan mataku menikmati percumbuan pertamaku ini. Aku benar-benar melayang dibuatnya. Tak ku ingat lagi siapa aku dan siapa pria yang mencumbuku ini. Tak ku ingat lagi kekasihku yang saat ini sedang berada di kampung halamannya. Yang kurasakan sekarang ini hanyalah perasaan senang, nyaman, dan juga nikmat. Belum pernah aku dibuai seperti ini sebelumnya. Entah akunya yang kelewat polos atau Mas Saktinya yang memang jago, tapi kurasakan setiap sentuhannya begitu membuatku melayang.

Benar-benar tak kuperhatikan bagaimana keadaanku saat itu, hingga aku sadar bahwa kami berdua sudah tak memakai apa-apa lagi. Semua pakaianku termasuk kerudungku sudah jatuk ke lantai, begitu pula pakaian Mas Sakti. Sempat aku bimbang, haruskah kulanjutkan? Atau kuhentikan sampai disini? Aku tahu aku punya kesempatan untuk menghentikan semua ini sebelum terlambat.

Tapi saat perlahan kedua tangannya mendorong pundakku hingga rebah di kasurnya, aku menurut saja. Seketika kebimbanganku hilang saat bibirnya kembali menyusuri kulit putihku yang belum pernah tersentuh oleh siapapun. Cumbuannya di leher, pundak dan dadaku benar-benar membuatku melayang lagi, dan tak memberi kesempatan kepada logikaku untuk menolaknya.

Aku pasrah, terhanyut oleh setiap permainan yang dia bawa. Aku merasakan bagaimana gelinya lubang yang selama ini hanya aku pakai untuk buang air kini dia cumbui dengan lembut dan mesranya. Mataku masih terpejam, aku terlalu malu untuk melihatnya, untuk memberitahunya bahwa aku pun menikmatinya. Tapi aku yakin dia sudah mengetahui itu semua dari kedua tonjolan kecil di dadaku yang sudah mengeras, dan juga lubang kencingku yang sudah sangat basah.

Benar-benar hari ini menjadi serba pertama buatku. Pertama kali berduaan dengan seorang pria di dalam sebuah kamar yang tertutup, karena sebelumnya selama dengan Mas Ihsan, kalau kami sedang berada di kamarnya pintunya selalu terbuka. Ini juga pertama kalinya bibirku menerima sentuhan hangat dari bibir seorang pria. Pertama kalinya aku tanpa busana sehelai pun di depan seorang pria. Pertama kalinya setiap bagian dari tubuhku disentuh oleh tangan dan lidah seorang pria. Pertama kalinya area-area paling pribadiku dicumbui oleh seorang pria, dan aku dengan pasrah menikmatinya.

Sampai tak terasa badan Mas Sakti sudah berada di atasku, pinggulnya sudah berada di antara kedua pahaku yang telah terbuka lebar. Dapat kurasakan sesuatu yang hangat dan keras sedang menggesek-gesek pelan bibir kewanitaanku. Aku hanya bisa menggigit bibirku sendiri menahan geli yang berasal dari bawah sana. Aku kemudian membuka mataku karena merasa Mas Sakti sedang menatapku.

Pandangan kami bertemu. Tatapannya begitu tajam, namun penuh keteduhan. Dia menurunkan kepalanya, semakin lama semakin mendekati wajahku. Dapat kurasakan tarikan dan hembusan nafasnya yang sedikit berat, sama denganku. Tubuh kami pun rasanya semakin menempel, dapat kurasakan dada bidangnya mulai menekan kedua bukit payudaraku yang tak terlalu besar ini.

“Boleh?”

Tanyanya lirih saat wajah kami sudah sedemikian dekatnya. Tapi apalah arti jawabanku jika keadaan kami sudah seperti ini. Tanpa bertanya pun harusnya dia sudah tahu apa jawabanku. Aku terlalu malu hingga tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku, hanya mataku yang kemudian terpejam kembal menantikan apa yang akan dia lakukan kepadaku. Dan saat itulah, bersamaan dengan bibirnya yang ditempelkan ke bibirku, mahkota yang kujaga selama 20 tahun, yang seharusnya kuberikan pada suamiku kelak, akhirnya diambil oleh seorang pria, yang tak lain adalah sahabat dari kekasihku sendiri.

Rasanya benar-benar sakit saat benda keras itu masuk merobek selaput daraku. Aku tak mengaduh mengeluarkan suara karena bibirku erat dibekap oleh bibirnya. Hanya tanganku kemudian merangkul tubuhnya dengan begitu erat, ingin memberitahu kepadanya betapa sakit yang kurasakan di bawah sana. Dan dia sepertinya memahami itu. Dia memberikanku kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ini.

Perlakuannya yang begitu lembut kepadaku akhirnya membuatku mulai bisa menikmati permainan itu. Aku hanya mengandalkan naluri betinaku saja, selebihnya aku ikuti semua apa yang dilakukan oleh Mas Sakti. Masih terasa sakit di bawah sana, tapi aku juga sudah mulai bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan dari apa yang kami lakukan ini. Tak berselang lama aku pun merasakan sensasi yang luar biasa, dari pangkal paha menyebar ke seluruh tubuh hingga tubuhku serasa mengejang, dan sepertinya ada cairan yang keluar dari liang kewanitaanku.

Mas Sakti sempat memberiku istirahat sejenak sebelum dia melanjutkannya lagi. Entah berapa lama kami berpacu dalam birahi, hingga aku dibuat lemas olehnya. Mas Sakti yang begitu dominan terhadapku akhirnya mengeluarkan spermanya di perutku. Dia beristirahat sejenak sebelum akhirnya mengambil tissue dan membersihkan bagian tubuhku yang terkena semburannya, juga bercak darah di kemaluanku. Setelah itu dia memelukku erat.

Kepalaku kubenamkan di dadanya, tangisku pecah. Tak ada satupun kata yang terucap dari bibir kami. Tapi dia semakin erat memelukku. Tangannya mengusap lembut punggungku, bibirnya beberapa kali mengecup kepalaku. Hingga kurasakan letih dan akhirnya terlelap dalam dekapannya.

Saat terbangun, kulihat Mas Sakti masih terjaga dan memelukku, meskipun tak seerat sebelumnya. Tatapanku disambut dengan sebuah kecupan di keningku, lalu turun hingga ke bibirku, kami berciuman lagi. Namun hanya sebatas itu, kami tak melanjutkannya lagi karena aku masih merasakan sakit di liang senggamaku. Mas Sakti pun mengerti keadaanku dan tak memaksaku, meski ku tahu dia masih berhasrat untuk melakukannya lagi.

*****

Setelah peristiwa itu, aku masih beberapa kali ‘mengunjungi’ Mas Sakti di kontrakannya untuk mengulangi lagi permainan terlarang kami. Tentu saja kami harus curi-curi waktu, memastikan tidak ada orang lagi di kontrakannya, dan juga memastikan kalau kami punya cukup waktu untuk dihabiskan berdua.

Kami selalu melakukan hal itu di kontrakan Mas Sakti, tak pernah dia mengajakku bertemu atau janjian di luar. Mungkin ini adalah cara dia untuk menyembunyikan hubungan terlarang kami ini. Memang resikonya akan lebih besar jika kami main di luar, bisa saja kami tanpa sengaja bertemu dengan orang-orang yang mengenal kami, dan tentu akan menjadi tidak baik jika sudah seperti itu.

Sebenarnya selalu muncul rasa bersalahku pada Mas Ihsan dan Mbak Melly setelah kami selesai melakukannya, namun entah kenapa saat sedang bersama dengan Mas Sakti semua rasa bersalah itu terlupakan begitu saja, dan kami masih terus saja melakukannya. Aku bahkan kadang lebih merindukan sentuhannya ketimbang pacarku sendiri.

Aku mulai menikmati duniaku yang baru ini. Dunia yang belum pernah kumasuki sebelumnya. Mas Sakti memperkenalkan semua ini dengan cara yang sangat lembut. Dia bahkan memperlakukanku layaknya seorang pacar, seorang yang benar-benar dia sayangi, bukan sekedar selingkuhan.

Selingkuh? Ya, aku sadar sudah berselingkuh dari kekasihku. Rasa bersalah pastinya ada, tapi aku memilih untuk menikmatinya saja. Perasaanku pada Mas Ihsan masih sama, aku masih sangat menyayanginya. Tapi disaat yang bersamaan, aku telah memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada orang lain, dan aku rasa aku mulai menyayangi Mas Sakti. Entah sampai kapan seperti ini, aku hanya ingin menjalaninya saja.

*****

Fiuh, akhirnya selesai juga kegiatan hari ini. Seharian ini padat sekali, mempersiapkan ini itu untuk keperluan ospek. Yah, ini memang sudah memasuki libur semester genap. Kebanyakan teman-temanku pulang ke kampung halamannya, hanya beberapa yang masih tinggal disini karena sudah punya rencana kegiatan mereka masing-masing.

Aku sendiri memutuskan untuk tidak pulang kampung di liburan kali ini. Aku beralasan kepada orang tuaku kalau aku ikut menjadi panitia ospek untuk tahun ajaran baru. Namun bukan itu alasan sebenarnya kenapa aku tak pulang kampung. Aku memang tetap ikut dalam kepanitiaan ospek di kampusku, namun sebenarnya aku masih bisa pulang kampung dulu untuk sekitar sebulan.

Aku bertahan disini untuk melepas kepergian Mas Ihsan pacarku. Ya, tahun ini dia sudah lulus, dan kebetulan sudah langsung diterima kerja di sebuah perusahaan milik negara yang bergerak di bidang pelayanan jasa listrik untuk masyarakat. Namun sayangnya Mas Ihsan harus ditempatkan di provinsi paling barat di negeri ini. Demi sebuah peluang karir yang menjanjikan untuk masa depan aku pun dengan ikhlas melepas kepergiannya.

Sama dengan Mas Ihsan, ketiga teman kontrakannya pun sudah lulus dan langsung mendapat pekerjaan. Mas Dimas diterima kerja di sebuah perusahaan pertambangan di Kalimantan, sedangkan Mas Sakti kembali ke Jakarta untuk bekerja di perusahaan orang tuanya. Hanya Mas Budi saja yang bertahan di kota ini karena dia diterima kerja di sebuah bank milik negara yang dan ditempatkan di kantor cabang yang bersebelahan dengan kampus kami. Tapi karena ketiga temannya harus pindah keluar dari Jogja maka Mas Budi pun lebih memilih untuk kost ketimbang meneruskan kontrakan mereka, karena biayanya yang terlalu mahal.

Sebelum pergi ke tempat kerja masing-masing mereka mengadakan sebuah pesta perpisahan di rumah makan yang sebenarnya terlalu elit untuk mahasiswa seperti kami. Namun sekali lagi, dengan adanya Mas Sakti yang menjadi bossnya, bukan persoalan besar bagi mereka. Dan tentu saja pada acara perpisahan ini mereka membawa pacarnya masing-masing.

Selain acara perpisahan itu, Mas Sakti rupanya sudah memiliki rencana tersendiri, yaitu membuat ‘pesta perpisahan khusus’, hanya beberapa hari setelah Mas Ihsan dan Mas Dimas berangkat ke tempat kerjanya, serta Mas Budi yang berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan terlebih dahulu.

Semula aku pikir, dia akan mengajakku untuk menghabiskan waktu berdua saja, menikmati kebersamaan yang mungkin adalah terakhir kalinya sebelum dia kembali ke kotanya. Namun betapa terkejutnya aku bahwa ternyata bukan hanya aku saja yang diundang ke pestanya itu. Ada dua orang wanita lain yang ternyata sudah menunggu di rumah kontrakan itu, yang tak lain adalah Ayunda, pacar Mas Dimas, dan juga Devi, pacar Mas Budi.

Kami bertiga saling berpandangan heran dan menduga-duga, sedangkan Mas Sakti malah tertawa-tawa melihat kami kebingungan. Akhirnya baru aku tahu, bahwa selain kepadaku yang pacarnya Mas Ihsan, Mas Sakti juga melakukan hal yang sama kepada Ayunda dan Devi. Itu artinya, pacar dari ketiga teman sekontrakannya sudah pernah dia tiduri semua. Kami hanya geleng-geleng saja mendengarnya, what a lucky bastard.

Aku sebenarnya sempat marah mengetahui kenyataan ini. Kenyataan bahwa ternyata aku bukanlah satu-satunya, masih ada yang lainnya juga. Marah karena merasa dibohongi, marah karena merasa, cemburu. Kulihat ekspresi yang sama juga ditunjukkan oleh Ayunda dan Devi. Tapi aku sadar, Mas Sakti tidak membohongi kami, dia tak pernah mengatakan padaku bahwa akulah satu-satunya, mungkin kepada Ayunda dan Devi juga seperti itu. Dan juga, siapalah kami, bukan pacarnya yang berhak untuk cemburu.

Akhirnya malam itu kami lewati dengan penuh gairah. Ada rasa canggung awalnya karena harus melakukan hubungan badan seperti ini dan dilihat orang lain, juga menyaksikan orang lain berhubungan badan, namun akhirnya kami lebih memilih untuk menikmatinya. Jadilah malam itu kami bertiga menjadi dayang-dayang yang siap memuaskan Mas Sakti. Tak sampai disitu karena keesokan harinya kami diajak pergi ke Kaliurang dan menginap di salah satu villa disana. Entah apa yang membuat Mas Sakti begitu perkasa hingga mampu mengimbangi kami bertiga.

Setelah ‘pesta’ itu Ayunda dan Devi pulang kembali ke kost mereka masing-masing, sedangkan aku diajak Mas Sakti ke kontrakannya. Disana kami mengulanginya lagi. Seharian tubuhku digarap oleh Mas Sakti sampai kami benar-benar kehabisan tenaga. Saat itu Mas Sakti mengatakan kalau dia memiliki perasaan lebih kepadaku, tapi aku tak terlalu menanggapinya karena selain aku masih resmi menjadi pacar Mas Ihsan, aku juga masih agak marah kepadanya, hmm cemburu lebih tepatnya.

Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan Mas Sakti karena keesokan harinya dia berangkat ke Ibukota. Tidak ada kata-kata perpisahan lagi darinya, dan aku pun memang tak terlalu mengharakannya. Namun satu hal yang aku tahu, aku pasti akan merindukan kebersamaanku dengan Mas Sakti, merindukan saat-saat indah kami memadu kasih dan memacu birahi, yang entah apa bisa terulang lagi atau tidak.

*****

Kini hari-hariku lebih banyak kuhabiskan di kostan, sambil menunggu teman-teman panitia ospek kampusku berkumpul. Tidak ada yang spesial, bahkan cenderung membosankan menurutku. Tapi kalau mau pulang kampung sudah nanggung, hanya tinggal seminggu lagi untuk rapat perdana. Untungnya aku tidak sendiri di kostan, masih ada Ratna yang katanya juga ikut jadi panitia ospek di fakultasnya, sedangkan teman-teman kami yang lain pulang kampung.

Ratna memang cukup aktif dalam kegiatan di kampusnya. Dia sering ikut acara-acara yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perkuliahan, karena dia bilang bisa menambah pengalaman dan kenalan, jadi banyak manfaat untuk kedepannya. Yah mungkin ada benarnya juga sih, semakin banyak kenalan bisa jadi semakin banyak kesempatan kita untuk sukses, karena kata orang, yang membuat kita sukses bukanlah seberapa banyak orang yang kita kenal, tapi seberapa banyak orang yang mengenal kita.

Aku mengenal Ratna sejak pertama kali masuk kuliah. Saat itu kami bertemu di kostan yang sekarang kami tinggali. Dia juga sama seperti aku, sama-sama mahasiswa baru dan sedang mencari tempat kost. Kebetulan sekali waktu itu di tempat Pak Risman tinggal ada dua kamar yang kosong dan bersebelahan, kamar yang akhirnya kami tempati sampai sekarang.

Perawakan Ratna ini hampir sama denganku, baik itu tinggi maupun berat badan kami. Kami berdua juga sama-sama berkerudung dalam keseharian. Tutur katanya begitu sopan dan lembut, yang membuatku senang dan nyaman berteman dengannya. Tapi jangan tertipu dengan kelembutanya, karena meski berpenampilan seperti itu, Ratna ternyata jago beladiri, lebih tepatnya taekwondo.

Dia memang sudah sejak dini diajarkan taekwondo oleh orang tuanya. Dan sekarang, di kampus dia juga aktif dalam UKM taekwondo, dan katanya menjadi salah satu pelatih juga. Kupikir dia sudah tinggi tingkatannya, tapi aku tak tahu karena memang tak paham dengan hal-hal seputar bela diri. Yang jelas dia pernah cerita padaku pernah menghajar 2 orang pria tinggi besar yang mencoba untuk merampoknya. Jika tak mengenalnya seperti ini, aku tidak akan percaya Ratna dengan tubuh seperti itu bisa melawan dia orang pria tinggi besar sekaligus.

Selain itu dia juga cukup berprestasi di bidang akademik. Sempat kulihat transkrip nilanya, hampir semua bertuliskan huruf A, hanya ada satu mata kuliah yang mendapatkan nilai B, saat kutanya kenapa bisa dapat B, dia menjawab, entah benar atau bercanda, kalau menurut dosennya di mata kuliah itu, nilai A hanya milik Tuhan, jadi nilai paling tinggi yang pernah diberikan oleh dosen itu kepada mahasiswanya yang paling pintar sekalipun hanyalah B. Aku hanya tergelak saja mendengar jawaban dari Ratna itu.

Mungkin karena memang sejak awal kuliah dan tinggal di kost kami sudah merasa ada kecocokan sehingga kami bersahabat baik hingga sekarang. Aku tentu saja senang memiliki sahabat yang jago taekwondo seperti dirinya, sehingga bisa lebih merasa aman dan terlindungi. Namun tak pernah kusangka, ternyata sahabatku ini menjadi salah satu yang membawaku ke dalam lubang hitam yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Sore ini aku pulang diantarkan oleh temanku karena tadi waktu berangkat aku dibonceng oleh Ratna. Sebentar saja aku sudah sampai di kost karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kampus. Kulihat sudah ada motor Ratna, berarti dia sudah pulang. Aku segera bergegas menuju ke kamarku, namun saat hendak masuk aku dikejutkan oleh suara pekikan dari kamar Ratna.

Aku pun menuju kamar Ratna bermaksud untuk mencari tahu apa yang terjadi. Namun sesaat sebelum aku mengetuk pintu aku mendengar suara yang tak kalah mengejutkan lagi. Suara orang yang, mendesah, dan bersahut-sahutan. Tak hanya suara Ratna yang terdengar, tapi ada juga suara seorang pria yang sangat ku kenal, Pak Risman!

Aku jadi khawatir, apa yang terjadi di dalam? Apakah Pak Risman berbuat sesuatu yang kurang ajar kepada Ratna? Aku harus menolongnya. Aku pun mengedarkan pandangan ke sekitar mencari sesuatu yang bisa kupakai untuk menolong Ratna. Kulihat ada sebuah batu seukuran kepalan tangan, aku segera mengambilnya. Namun saat aku hendak membuka pintu kamar itu, aku langsung terdiam saat mendengar perkataan Ratna yang disahuti oleh Pak Risman, di antara desahan mereka.

“Aaahh teruusss Paak, yang daleem, Ratna mau keluaaarrhh.”

“Tahan bentar Rat, Bapak juga mau keluaarr”

“Aaaahhh Pak Rismaann, Ratna keluaaarrrhhhh.”

“Bapak jugaaahh, Bapak pejuhin memek kamu Raattt aaaahhh.”

Hening.

Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Aku masih berdiri mematung di depan pintu kamar Ratna, dengan tangan kananku masih memegang batu yang tadinya mau kugunakan untuk menolong sahabatku itu. Tubuhku rasanya gemetar, nafasku memburu. Aku tak tahu, di antara terkejut, marah, ah entahlah.

“Bapak pake obat ya? Nggak kayak biasanya, kayak nggak ada capeknya aja,” kudengar Ratna bertanya.

“Haha nggak lah, ngapain juga pake obat? Bapak kan kangen banget sama kamu, udah lama kan kita nggak ngentot,” jawab Pak Risman.

“Halah kan baru semingguan Pak, biasanya juga Bapak ngentotin saya seminggu sekali” jawab Ratna.

“Itu kan kalau ada Dhea sama Windy jadi bisa gantian, sekarang kan tinggal kamu doang,” ucap Pak Risman.

“Yaa kan kemarin Ratna lagi halangan Pak. Baru juga bersih sehari udah digenjot aja,” sahut Ratna.

“Haha, ya resikomu cuma tinggal kamu yang disini,” ucap Pak Risman.

“Udahan ya Pak, entar keburu Mila pulang lho. Udah dari siang juga, Ratna udah capek nih,” ucap Ratna.

“Iya iya.”

Aku semakin terbengong mendengar percakapan mereka. Itu artinya bukan kali ini saja mereka melakukan ini. Dan bahkan, selain dengan Ratna, Pak Risman juga melakukannya dengan Dhea dan Windy. Kalau dengan Dhea dan Windy mungkin aku tak terlalu terkejut karena aku cukup mengenal keduanya, tapi Ratna? Bagaimana dia bisa seperti ini? Benar-benar sangat jauh dari Ratna yang aku kenal selama ini.

Bagaimana Ratna bisa jatuh ke pelukan Pak Risman? Apakah Pak Risman memaksanya? Tapi kan Ratna ini jago taekwondo, yang pernah menghajar dua orang preman yang hendak menjahatinya. Apa dia tak mampu melawan Pak Risman? Apakah Pak Risman lebih jago ketimbang Ratna? Atau ada sebab lain? Ah entahlah, aku benar-benar bingung.

Menyadari Pak Risman yang hendak keluar dari kamar Ratna, aku pun segera beranjak ke depan, berpura-pura kalau aku baru saja datang, tak lupa kutaruh kembali batu yang sedari tadi kupegang. Dan benar saja, saat aku berjalan menuju kamarku, terlihat Pak Risman berjalan dari arah kamar Ratna, dengan wajah yang sumringah.

“Baru pulang Mil?” tanya Pak Risman.

“Iya nih Pak. Dari mana Pak?” aku mencoba bersikap senormal mungkin.

“Barusan dari kamar Ratna, ngecek kamar mandi katanya bocor tadi,” jawab Pak Risman sambil senyum-senyum.

“Oh ya udah kalau gitu, Mila masuk dulu Pak,” ucapku.

Aku pun segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Perasaanku benar-benar kacau, mengingat apa yang terjadi tadi. Aku memang tak melihatnya secara langsung, namun aku mendegarnya dengan jelas, dan aku cukup tahu apa yang terjadi. Aku benar-benar tak habis pikir dengan Ratna. Orang yang begitu baik dan menjaga dirinya, tutur katanya yang sopan dan lembut, tak kusangka berbuat hal seperti itu dengan Pak Risman.

Yah, aku memang bukan orang suci karena aku sendiri sudah melakukan hal seperti itu. Aku mengkhianati pacarku, melakukan itu bersama dengan Mas Sakti, sahabatnya. Tapi apa yang dilakukan Ratna barusan masih belum bisa kuterima. Jika dia melakukannya kekasihnya, atau paling tidak dengan pria yang masih pantas jika disandingkan dengannya, aku mungkin akan lebih bisa menerimanya. Tapi ini dengan Pak Risman, bapak kost kami sendiri!

Dan Pak Risman sendiri, dia sudah menikah meskipun istrinya tidak tinggal disini karena bekerja di luar kota. Selama ini dia selalu baik dan perhatian kepada kami. Dia pun sepertinya begitu protektif kepada kami dengan melarang membawa tamu pria ke dalam kamar, kecuali orang tua dan saudara kandung kami. Tapi nyatanya, dia sendiri yang justru memangsa anak kostnya, bukan hanya 1 tapi ada 3, itu baru yang aku tahu dari percakapan mereka tadi, selain itu aku tak tahu.

Aku begitu pusing memikirkannya, bagaimana semua ini bisa terjadi. Tiba-tiba muncul ketakutan dalam diriku. Jika Pak Risman benar telah berhasil mendapatkan ketiga teman kostku, apakah dia masih ada keinginan untuk mendapatkan yang lainnya juga, termasuk aku? Ah tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Aku harus semakin waspada sekarang, aku harus lebih bisa menjaga diriku lagi.

*****

Sudah hampir 2 minggu sejak aku mengetahui apa yang terjadi antara Ratna dan Pak Risman. Sampai saat ini semuanya berjalan seperti biasanya. Setiap bersamaku, Ratna masihlah Ratna yang kukenal. Ratna yang selalu menjaga tutur kata dan tingkah lakunya, yang menjaga tubuhnya dengan pakaian yang selalu tertutup. Pak Risman pun juga tak terlihat berubah, sikapnya kepadaku masih seperti yang dulu. Hal ini membuatku sedikit lebih lega, karena nampaknya ketakutanku tak akan terjadi.

Aku pun semakin disibukkan dengan persiapan menjelang ospek yang tinggal seminggu lagi. Hampir tiap hari aku ke kampus untuk rapat dengan teman-teman panitia yang lainnya, yang biasanya baru selesai menjelang maghrib. Kegiatanku yang padat ini sedikit banyak membuat pikiranku tentang Ratna dan Pak Risman sedikit teralihkan. Apalagi setelah hari itu aku belum pernah mendengar mereka melakukannya lagi.

Namun aku tetap menjaga kewaspadaanku. Selalu kupastikan pintu sudah dalam keadaan terkunci setiap akan tidur. Aku tak mau kalau sampai Pak Risman bisa masuk dan mengambil kesempatan dengan melakukan hal buruk kepadaku. Tapi nampaknya aku lupa akan sesuatu, ya sesuatu yang sebenarnya sangat sepele, yang menjadi awal kelamnya hari-hariku.

Hari ini rapat persiapan ospek di kampusku berjalan lebih lama dari biasanya. Entah kenapa semakin mendekati hari pelaksanaan justru semakin banyak hal yang diperdepatkan. Seksi P3K dimana aku menjadi bagian di dalamnya sebenarnya tak terlalu banyak dibahas, namun rasanya tak enak bila harus pulang duluan meninggalkan teman-teman lain yang masih rapat.

Cukup melelahkan memang, tapi untungnya bagian konsumsi dengan sigap menyiapkan makan malam dan snack untuk kami. Akhirnya jam 8 malam ketua panitia memutuskan untuk menunda rapat keesokan harinya karena belum ditemui kata sepakat dari perdebatan tadi. ‘Haduh, kalau tahu begini kenapa nggak dari tadi aja distop rapatnya,’ keluhku dalam hati.

Setelah dibubarkan aku segera saja pulang karena sudah merasa sangat letih. Sesampainya di kost ternyata suasana sangat sepi. Motor Ratna tak ada, kamarnya juga kelihatan kosong, ah mungkin dia sedang keluar cari makan. Aku pun segera masuk ke kamar, tak lupa kembali mengunci pintu, dan kemudian membersihkan diriku. Dinginnya air yang mengguyur tubuhku membuat merasa lebih segar, rasa letihku sedikit berkurang.

Setelah mandi aku memakai piyama tanpa pakaian dalam di baliknya. Selama ini jika tidur aku memang tak pernah memakai pakaian dalam sama sekali, kecuali saat kedatangan tamu bulanan. Kemudian kurebahkan badanku di kasur. Ah nikmatnya bisa meluruskan badan setelah seharian mengikuti rapat ujung-ujungnya harus ditunda sampai besok.

Kuraih ponselku untuk sekedar memberi kabar kepada Mas Ihsan. Setelah menjalani hubungan jarak jauh seperti ini, aku tetap berusaha untuk menjaga komunikasi kami berjalan lancar. Tapi aku juga mencoba untuk tahu diri dengan tak menghubunginya setiap saat, karena dia pasti sedang sibuk disana. Sebagai pegawai baru, pastinya dia harus lebih aktif dan giat mempelajari pekerjaannya supaya kedepan bisa lebih memudahkannya.

Setelah cukup lama menunggu dan tak mendapat jawaban dari Mas Ihsan aku pun memutuskan untuk tidur saja. Aku mencoba untuk berfikiran positif saja pada Mas Ihsan, mungkin dia juga kelelahan karena harus beraktivitas seharian. Yang harus kulakukan saat ini adalah memberinya dukungan dan juga mendoakannya supaya bisa sukses, demi kehidupan kami kedepannya. Karena memang masih merasa letih tak lama kemudian aku pun mulai terlelap.

Entah sudah berapa lama aku terlelap, saat kurasakan aku sedang bermimpi. Aku seperti berada di sebuah pandang rumput yang sangat luas. Seluas mata memandang hanya tersaji hamparan hijau yang menyejukkan mata. Aku tak sendiri, di sampingku sudah ada seorang lelaki yang belum lama pergi, tapi sudah sangat kurindukan. Bukan, dia bukan Mas Ihsan, dia adalah Mas Sakti.

Tak ada sepatah katapun yang terucap dari kami, hanya saling tatap dan saling senyum. Tak lama kemudian wajahnya mulai mendekat, hingga bibir kami pun bersentuhan. Pelan dia melumat bibirku sambil kedua tangannya yang sudah berada di pundakku mendorong perlahan hingga aku rebah beralaskan rerumputan.

Cumbuan lembutnya begitu terasa nyata, entah karena aku memang merindukannya atau bagaimana, aku tak tahu. Dia mulai membuka kancing bajuku satu persatu hingga terlepas semua dan membukanya ke kiri kanan. Tanpa bra, terpampanglah kedua buah dadaku yang tak terlalu besar ini.

Bibirnya mulai meninggalkan lumatannya di bibirku, dan perlahan menuju ke bukit payudaraku. Terasa geli namun nikmat, terlebih saat lidahnya bertemu dan bermain dengan salah satu putingku yang sudah mulai mengeras. Dia menjilatinya perlahan, dan rasanya, rasa nikmatnya benar-benar begitu nyata, sepertinya aku benar-benar merindukan kehadirannya.

Cumbuannya berpindah dari payudara kiri ke payudara kananku, membuatku semakin melayang menikmati tiap sentuhannya. Rasa geli yang muncul di titik-titik yang dicumbu Mas Sakti tak ayal membuat bagian bawahku juga ikut meresponnya. Rasa geli itu semakin bertambah saat kumisnya yang kasar ikut menusuk kulit payudaraku yang halus, membuat sensasi yang kurasakan semakin bertambah, dan terasa kian nyata.

Eh, kumis? Sejak kapan Mas Sakti punya kumis? Apalagi setebal ini kumisnya, seperti punya Pak Risman saja. Tunggu dulu! Rasa geli yang begitu nyata, dan kumis tebal Pak Risman? Jangan-jangan? Entah kesadaran darimana tiba-tiba membuat tubuhku tersentak dan mataku langsung terbuka.

Aku terbelalak menyaksikan pemandangan di depanku. Bukan, ini bukan padang rumput dalam mimpiku. Bukan pula Mas Sakti yang menindih tubuhku, tapi benar-benar si pemilik kumis tebal itu, Pak Risman! Dan dia benar-benar sedang mencumbui payudaraku, yang sudah terbebas dari piyamaku. Ini bukan mimpi, ini, aah tidaak!

“Pak, apa yang Bapak lakukan? Hentikan!” pekikku sambil berusaha untuk berontak, membuat Pak Risman terkejut.

“Udah bangun tho kamu Mil? Bagus deh, kita bisa nikmatin ini sama-sama, haha,” ucapnya dengan santai yang terdengar begitu menjijikan olehku.

“Nggak, Mila nggak mau! Lepasin!” pekikku semakin keras, begitu pula dengan rontaanku yang membuat Pak Risman sedikit kewalahan.

“Iiissh bandel banget sih kamu. Rat, taruh aja kameranya di meja, bantuin Bapak pegangin Mila,” ucap Pak Risman.

Aku terkejut, karena baru kusadari ternyata di kamar ini ada Ratna juga. Dia memegang sebuah handycam dan mengarahkannya kepadaku yang sedang dikerjai oleh Pak Risman, dan yang lebih mengejutkan lagi, Ratna hanya memakai sepasang pakaian dalam untuk menutupi tubuhnya.

Segera saja Ratna mengikuti perintah Pak Risman, dia meletakkan handycam itu di meja namun tetap diarahkan kepadaku. Setelah itu dia menghampiriku dan segera meringkus kedua tanganku, lalu menariknya ke atas kepalaku. Aku mencoba untuk melawan, tapi apalah dayaku menghadapi kedua orang ini. Seorang pria yang dikuasai oleh nafsunya, dan seorang lagi adalah sahabatku sendiri yang aku tahu di dalam tubuhnya yang mungil itu tersimpan tenaga yang besar.

“Ratnaa, lepassiiiin akuu, tolooong,” pintaku memelas, yang hanya ditanggapi oleh senyuman dari Ratna yang aku tak tahu apa artinya.

“Raaat pliiiiss lepasiinn, aaahhhh Paak jangaann,” pintaku kepada Ratna, diselingi desahanku karena Pak Risman semakin buas mencumbui kedua buah dadaku.

“Ssssstttt tenang Mila sayang, jangan teriak-teriak gitu dong, entar kamu pasti bakalan nikmat dan ketagihan deh kalau udah kena kontolnya Pak Risman,” ucap Ratna dengan santainya.

“Nggak mauuu, lepasiinn aarrggghh,” pekikku saat Pak Risman dengan kuat menyedot salah satu buah dadaku.

“Aaaaarrrggghhh bajingan kalian berduaa, apa salahkuuhhmpp,” teriakanku terhenti saat tanpa kuduga Ratna membekap mulutku dengan mulutnya.

Tak hanya membekap, Ratna juga dengan rakus melumat bibirku. Tak siap dengan semua itu hanya membuatku semakin meronta. Terlebih saat kurasakan tangan Pak Risman dengan kasar menarik celana yang kukenakan hingga terlepas dari kakiku. Mengetahui aku kini sudah telanjang bulat di depan kedua orang itu membuatku semakin kuat meronta, tapi jadi tak berarti apa-apa karena kuatnya Ratna mengunci kedua tanganku dan juga Pak Risman yang memegangi kakiku.

Sesaat kemudian kedua kakiku dibuka lebar-lebar oleh Pak Risman. Kini bandot tua itu bisa dengan leluasa melihat daerah paling pribadiku yang selama ini hanya pernah dilihat oleh Mas Sakti. Tak berselang lama kurasakan dengan buas Pak Risman mencumbui dan menjilati bibir vaginaku. Tenagaku semakin terkuras karena rontaan yang sia-sia ini. Hanya air mataku yang kini deras mengalir membasahi pipiku.

Beberapa saat kemudian kurasakan jilatan Pak Risman berhenti, namun justru ini yang kutakutkan, karena setelah ini dia pasti akan melanjutkan ke tahap selanjutnya. Dan benar saja, kurasakan sesuatu yang hangat dan keras digesek-gesekkan di bibir vaginaku. Aku menjadi semakin panik dan mencoba untuk kembali meronta, namun sia-sia karena kini tubuh Pak Risman sudah berada diantara kedua pahaku.

“Hhmmppphhh.”

Kurasakan kepala penisnya yang besar itu mulai menyeruak membuka bibir vaginaku. Aku mencoba menghindar namun kedua tangannya memegang erat pinggulku. Perlahan-lahan batang keras itu semakin masuk menembus ke liang senggamaku. Aku memejamkan mata semakin erat menahan sakit, karena penis ini lebih besar dari penis Mas Sakti yang pernah memasukiku, hingga pada akhirnya,

“Eeeehhhmmmpppp.”

Aku memekik tertahan saat tiba-tiba Pak Risman menghentakkan dengan keras penisnya hingga kurasa kepala penisnya menyentuk dinding rahimku. Sakit. Sakit sekali. Berbeda dengan Mas Sakti yang melakukannya dengan penuh kelembutan, Pak Risman melakukannya dengan sangat kasar, dan ini benar-benar menyakitkan.

Tak ada yang bisa kulakukan selain hanya menangis. Orang yang selama ini kuhormati dan sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri, dengan teganya mencampuriku. Bahkan orang yang selama ini sudah kuanggap sebagai sahabatku pun bukannya menolongku, tapi malah membantu pria jahanam ini memperkosaku. Aku benar-benar hancur, benar-benar sakit. Sakit di organ kewanitaanku, dan sakit di hatiku.

“Wah wah, udah jebol ternyata kamu Mil. Rat, kamu kalah, hahaha,” ujar Pak Risman yang masih mendiamkan penisnya di vaginaku.

“Masa sih Pak? Yah Mila, bikin kalah taruhan aja sih,” ucap Ratna begitu dia melepas lumatannya dari bibirku.

Ya Tuhan, aku ternyata dijadikan barang taruhan oleh mereka. Benar-benar biadab mereka berdua ini. Benar-benar tak kusangka, dua orang yang sangat dekat dan begitu baik kepadaku sebelumnya, sekarang justru memperlakukanku seperti ini.

Pak Risman kemudian mulai menggerakkan pinggulnya menghujam-hujamkan penisnya di dalam vaginaku. Sama seperti saat dia pertama kali memasukkan tadi, kali ini setiap hujamannya juga dilakukan dengan begitu kasar. Aku menutup rapat mulut dan mataku, menahan semua rasa sakit ini dan berharap ini akan segera berakhir.

Tubuhku terlonjak-lonjak tak karuan mengikuti setiap gerakan Pak Risman. Kedua tanganku yang sudah dilepaskan oleh Ratna hanya bisa meremas sprei yang kini kondisinya pun sudah acak-acakan. Entah apa yang dilakukan oleh Ratna selama Pak Risman mengerjaiku dengan kasar ini, aku tak tahu dan aku tak peduli. Aku benar-benar sakit hati kepada wanita yang beberapa saat yang lalu masih kuanggap sahabat itu.

Entah berapa lama Pak Risman menggenjot tubuh telanjangku, selama itu pula hanya rasa sakit luar biasa yang kurasakan. Tak ada sama sekali kenikmatan-kenikmatan bersenggama yang selama ini aku rasakan ketika melakukannya dengan Mas Sakti. Tubuhku pun entah sudah berapa kali di bolak balik oleh Pak Risman, aku tak peduli lagi, karena aku masih dengan kuat menutup mata dan mulutku.

Hingga saat kemudian tubuhku ditelentangkan, tiba-tiba saja irama sodokan Pak Risman berubah. Tidak lagi kasar seperti sebelumnya, tapi pelan dan begitu lembut. Dia bahkan dengan lembut mencium keningku, kemudian turun ke hidung lalu hinggap di bibirku yang masih tertutup rapat. Tangannya tak tinggal diam. Dengan sangat lembut pula dia merangsang kedua payudaraku bergantian.

Perubahan dari cara Pak Risman memperlakukanku ini rupanya mendapat reaksi dari tubuhku meskipun aku tak menginginkannya. Gerakannya benar-benar lembut, seperti saat Mas Sakti biasa mencumbuiku. Rasa-rasa geli kembali menghinggapi titik-titik sensitifku. Kurasakan kemaluanku pun mulai berkedut merespon setiap gesekan antara dinding vaginaku dengan dengan permukaan penis Pak Risman, sehingga mulai mengeluarkan cairan pelumasnya lebih banyak lagi.

Rangsangannya di kedua buah dadaku juga beberapa kali membuat tubuhku menggelinjang. Lenguhan-lenguhan lirih dariku pun mulai terdengar. Lidah Pak Risman mulai berusaha masuk ke dalam mulutku. Mendapatkan rangsangan seperti itu, membuat bibirku yang tertutup rapat sedikit demi sedikit mulai terbuka, dan akhirnya lidah itu berhasil masuk, mengait lidahku dan mengajaknya bermain.

“Nah kan apa kubilang Mil, kamu pasti menikmatinya,” ucap Ratna terdengar di telingaku.

Oh tidak. Jangan. Aku tidak mau. Aku sedang diperkosa, aku tak boleh menikmatinya. Tapi tubuhku bereaksi sebaliknya. Rangsangan yang diberikan Pak Risman terlalu nikmat untuk bisa kulawan. Penisnya, ough benar-benar terasa penuh di liang vaginaku. Rasa sakitnya perlahan menghilang, digantikan oleh kenikmatan. Tapi, tidak, aku tak mau. Aku tak boleh sampai menikmatinya. Tapi ini, aahhhh kenapa tubuhku seperti ini?!

“Memekmu enak banget Mil, Bapak kayaknya udah mau keluar ini,” ucap Pak Risman lirih, membuatku terkejut dan membuka mataku.

“Jangaan Pak, jangan di dalam. Mila nggak mau,” ucapku memelas menggelengkan kepala.

“Oke, Bapak keluarin di luar, tapi kamu ikutan goyang ya?” pinta Pak Risman.

Terpaksa aku pun mengangguk. Lebih baik menuruti keinginannya sekarang, daripada dia membuang spermanya di dalam vaginaku, karena sekarang ini adalah masa suburku. Dengan enggan aku pun mulai menggerakkan pinggulku, membalas goyangan Pak Risman. Temponya masih cukup lambat, tak terkesan buru-buru. Sepertinya dia ingin menikmati tubuhku sepenuhnya.

Perlahan tapi pasti Pak Risman mulai mempercepat tempo goyangannya, dan aku pun mengikutinya. Kedua tangannya tak lagi bermain di payudaraku, tapi kini sudah mendekap tubuhku. Bibirnya semakin liar beradu dengan bibirku. Lidah kami sudah saling membelit, saling kulum dan saling hisap.

Mendapat perlakuan seperti ini tak ayal membuat semua saraf-saraf kenikmatanku bereaksi. Liang vaginaku semakin dibuat basah oleh hujaman penis besar Pak Risman yang semakin kencang. Desahanku sudah tak malu-malu lagi terlontar. Hingga akhirnya aku sampai pada titik yang selalu membuatku melayang saat bersetubuh dengan Mas Sakti. Tubuhku mengejang, mulutku terbuka dan mendesah keras ketika orgasmeku datang.

“Aaaaaaaahhhhhhhhhhh Paaaakkkhhhh.”

Tubuhku mengejat-ngejat saat liang vaginaku banjir oleh cairan kenikmatanku. Dan saat itu tiba-tiba Pak Risman mencabut penisnya dari vaginaku, lalu bergerak menuju kepalaku. Tangan kirinya meraih kepalaku sedangkan tangan kanannya mengocok penisnya sendiri. Akhirnya aku kini melihat penis itu, penis kedua yang telah berhasil masuk dan menikmati liang senggamaku, penis yang lebih besar daripada milik Mas Sakti.

“Buka mulutmu Mil,” perintah Pak Risman, dan entah kenapa aku menurutinya begitu saja.

Baru saja mulutku terbuka tiba-tiba Pak Risman mengarahkan penis besar itu masuk ke dalam mulutku.

“Aaaaaaaahhhhhhhhhh.”

Baru kepalanya saja yang masuk ke dalam mulutku, tiba-tiba Pak Risman berteriak dan tubuhnya mengejang. Disaat yang bersamaan kurasakan beberapa kali semburan hangat di mulutku. Aku yang belum pernah seperti ini sebelumnya berontak dan hendak menarik kepalaku namun tertahan oleh tangan Pak Risman. Bahkan dia memaksakan penisnya untuk bisa masuk lagi lebih dalam ke mulutku.

Aku tak punya pilihan lain, akhirnya kutelan cairan kental yang rasanya sangat aneh dan membuatku mual itu. Penis besar Pak Risman benar-benar dipaksakan untuk masuk sedalam mungkin hingga membuatku tersedak. Tangan Pak Risman yang menahanku membuat kepalaku tak bisa kutarik. Beberapa saat hingga kurasakan penis Pak Risman mulai melemas dia pun menariknya.

Begitu penis itu terlepas aku langsung terbatuk-batuk. Tangisku kembali pecah, menyadari tubuhku yang semakin kotor ini. Aku yang memang sudah ternoda oleh Mas Sakti kini kembali dinodai oleh bapak kostku sendiri. Dan sialnya, aku malah sempat menikmatinya hingga mendapatkan orgasme.

“Gimana Rat? Dapet semua?” tanya Pak Risman tiba-tiba.

“Dapet nih Pak, bagus kok hasil rekamannya,” jawab Ratna yang membuatku terkesiap.

Aku pun menatap keduanya dengan tatapan bingung, marah, dan juga takut. Kulihat Ratna menyerahkan handycam itu kepada Pak Risman. Pria itu nampak manggut-manggut puas dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ratna. Ya ampun, berarti sedari tadi Pak Risman menyetubuhi, Ratna merekamnya? Bagaimana kalau rekaman itu sampai tersebar dan diketahui banyak orang? Mau ditaruh dimana mukaku nanti?

“Tenang aja Mil, selama kamu nurut sama Bapak, rekaman ini aman kok,” ucap Pak Risman seolah mengetahui apa yang kupikirkan.

Aku diam saja tak menjawabnya. Tapi dalam hati aku cukup lega karena Pak Risman tadi sudah menepati janjinya untuk tidak membuang spermanya di dalam vaginaku. Kali ini aku berharap pria itu kembali memegang janjinya untuk menyimpan dan tidak menyebarkan rekaman persetubuhan kami, eh bukan, tapi rekaman pemerkosaannya terhadapku.

Akhirnya malam itu kami mengulanginya lagi, dan Ratna pun ikut ambil bagian dalam persetubuhan itu. Pak Risman menghajar kami berdua habis-habisan dan baru berhenti saat subuh menjelang. Badanku sudah sedemikian lemas sehingga membiarkan apa saja yang dilakukan oleh Pak Risman. Dan semalaman itu dia masih memegang janjinya untuk tidak mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku. Dengan tubuh yang sangat letih akhirnya kami bertiga tertidur di kasurku yang sempit. Entah esok akan jadi seperti apa, aku tak tahu, tapi yang pasti aku tak akan lagi bisa lepas dari cengkraman bapak kostku ini.

*****

Sudah hampir setahun sejak peristiwa pemerkosaan itu. Setelah malam itu Pak Risman pun rajin mengunjungi kamarku untuk meminta jatah. Sejak itu pula akhirnya aku tahu bagaimana ceritanya sampai Ratna bisa jatuh dan takluk pada Pak Risman. Ratna pun mengalami hal yang sama denganku. Saat itu Pak Risman bersama dengan Dhea dan Windy yang sudah terlebih dahulu jadi budaknya, masuk ke dalam kamar Ratna dan memperkosanya.

Mereka memang sempat kewalahan karena Ratna memiliki tenaga yang kuat dan jago taekwondo. Namun kondisi Ratna yang kelelahan setelah kegiatan kampusnya, ditambah lagi harus melawan 3 orang, terutama Pak Risman yang ternyata juga jago beladiri, membuat akhirnya Ratna tak berdaya dan berhasil diperawani olehnya. Sama denganku, semua kejadian itu direkam dengan sangat jelas oleh Dhea dan Windy, sehingga membuat Ratna akhirnya tak bisa berkutik dan harus takluk pada Pak Risman.

Sampai pada akhirnya Ratna dan Pak Risman mengadakan taruhan, yaitu aku masih perawan atau tidak. Dan tentu saja cara mengetahuinya adalah dengan menyetubuhiku langsung. Ratna yang merasa cukup mengenalku langsung saja mengatakan kalau aku pasti masih perawan, tapi nyata tidak, aku sudah tidak perawan saat disetubuhi oleh Pak Risman.

Kini aku lebih banyak mengenal tentang seks. Pak Risman memperkenalkan kepadaku banyak hal tentang hubungan kelamin ini. Berbagai macam variasi posisi, bagaimana cara untuk memuaskan seorang pria. Aku sebenarnya tak menginginkan semua itu, tapi apalah dayaku sekarang yang hanya menjadi budak pemuas nafsu Pak Risman jika sudah berada di kost, sama seperti teman-temanku yang lainnya.

Sejak beberapa bulan lalu hubunganku dengan Mas Ihsan juga kurasakan mulai renggang. Intensitas komunikasi kami mulai berkurang, namun aku mencoba untuk tetap berpikir positif kepada pacarku itu. Tapi tak bisa kupungkiri, entah sebuah firasat atau apa, aku memang merasa Mas Ihsan berubah, tak seperti dulu lagi. Bahasanya di telpon dan chat kami kurasakan lebih dingin, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Sampai pada akhirnya Mas Ihsan memberitahuku kalau dia akan datang dan menemuiku, katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Antara senang dan takut yang kurasakan. Senang karena setelah setahun akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya. Takut karena aku benar-benar tak tahu apa yang akan dia katakan kepadaku, apakah sesuatu yang menyenangkan atau justru sebaliknya.

Hatiku semakin berdebar saat memasuki sebuah rumah makan yang dulu sering kami datangi bersama. Bukan hanya aku dan Mas Ihsan, tapi sering dipakai oleh teman-teman sekontrakannya untuk merayakan sesuatu. Kulihat di sebuah meja di salah satu sudut rumah makan ini, nampak seorang pria sudah duduk menunggu disitu. Pria yang menjadi pacarku selama 3 tahun ini.

Dia nampak sedikit berubah. Wajahnya yang dulu bersih kini dihiasi oleh brewok tipis, yang memberikan kesan dewasa. Dia duduk sendirian, meja pun masih terlihat kosong, belum ada yang dipesan, atau memang dia baru datang? Aku melangkah perlahan mendekatinya, entah kenapa perasaanku jadi nggak karuan begini, antara senang dan takut, juga menyesal dengan apa yang telah terjadi padaku selama ini, terutama setelah kepergiannya.

“Mas,” sapaku lirih, dan dia menolehkan kepalanya.

“Eh Dek, baru datang?” balasnya, nampak tenang mengulurkan tangannya, yang kusambut dan kutempelkan di pipiku.

“Iya, Mas udah lama?” tanyaku sambil duduk di kursi depannya.

“Belum kok Dek, baru 5 menitan,” jawabnya.

Kami terdiam sebentar, saling tatap dan saling senyum. Aku senang bisa melihatnya lagi, tapi dari sorot matanya nampak ada sesuatu yang lain. Berbeda dengan saat terakhir kami bertatapan sebelum dia pergi ke tempat kerjanya. Dia tersenyum, tapi seperti dipaksakan. Aku bingung, penasaran, tapi tak berani bertanya.

Kami pun memesan minuman untuk mencairkan suasana. Rasanya banyak sekali yang ingin kukatakan padanya, karena selama setahun ini kami hanya berhubungan via telpon dan chat saja. Namun berada di hadapannya sekarang lidahku malah jadi kelu, tak bisa mengatakan apa-apa selain hanya menjawab pertanyaan Mas Ihsan.

Sudah hampir 20 menit kami duduk dan ngobrol disini, tapi masih berbasa basi saja. Jujur aku begitu penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Mas Ihsan. Memang kepulangannya ini hanyalah cuti tahunan biasa, bukan khusus untuk menemuiku. Tapi entah kenapa aku seperti memiliki firasat bahwa pertemuan kali ini bukanlah pertemuan biasa, bukan sekedar untuk melepas rindu.

“Dek, sebenarnya Mas ngajak kamu ketemu ini, ada yang pengen Mas omongin,” ujar Mas Ihsan menatapku tajam.

“Soal apa Mas?” tanyaku, dengan perasaan yang tak menentu.

“Soal hubungan kita,” jawabnya singkat, nampak seperti ragu-ragu.

“Hubungan kita? Kenapa dengan hubungan kita Mas?” tanyaku.

“Kita udah pacaran selama 3 tahun, dan kamu tahu Mas bahagia sekali menjalaninya. Kamu tahu kan seberapa besar Mas sayang sama kamu?” tanya Mas Ihsan, yang hanya kujawab dengan anggukan.

“Dari awal kita berhubungan, Mas selalu punya angan-angan kalau kelak kita akan melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih jauh lagi Dek. Mas punya keinginan untuk bisa menghabiskan sisa hidup Mas sama kamu Dek,” ucapnya panjang lebar, sedikit membuat hatiku senang.

“Iya Mas, Adek juga kepikiran yang sama, tapi entah Adek bisa jadi pendamping yang baik buat Mas atau nggak,” jawabku menundukkan kepalaku, mengingat lagi kejadian-kejadian yang telah aku alami, yang kini membuat diriku begitu kotor.

“Jangan ngomong kayak gitu, kamu pasti bakal jadi pendamping yang baik buat siapapun kok,” ujar Mas Ihsan, yang membuat hatiku semakin sedih.

“Tapi Mas harus jujur sama kamu Dek. Mas minta maaf kalau keinginan kita ini tidak akan bisa jadi kenyataan,” ucap Mas Ihsan mengagetkanku, membuatku menatap matanya.

“Maksud Mas?” tanyaku tak mengerti, meskipun sudah menebak kemana arah pembicaraan ini.

“Mas, hmm, Mas harus nikah sama orang lain,” jawabnya, membuatku terdiam.

“Mas kena hukum adat disana Dek. Kejadiannya bulan kemarin. Mas sebenarnya nggak melakukan apapun, hanya berniat menolong seorang gadis yang kebetulan rumahnya dekat dengan kontrakan Mas. Mas hanya memboncengnya waktu pulang kerja, karena kasihan ngelihat dia yang jalan kaki. Tapi ternyata ada yang melihat semua itu, dan menyangka Mas ada apa-apanya dengan gadis itu,” jelasnya. Aku masih diam, membiarkannya melanjutkan ceritanya, meskipun air mataku sudah mulai turun membasahi pipiku.

“Hari itu juga Mas disidang secara adat. Mas coba buat membela diri tapi percuma, apalagi gadis itu cuma diam saja, nggak berani menyangkal karena takut dengan ayahnya yang juga kepala adat disana. Akhirnya, terpaksa Mas harus menikahi gadis itu, dan pernikahan kami akan dilangsungkan minggu depan,” lanjutnya, membuat air mataku turun semakin deras.

“Mas pulang sebenarnya untuk menjemput kedua orang tua Mas. Juga untuk menemui Adek, untuk ngasih tahu semuanya. Mas minta maaf karena baru ngasih tahu sekarang, karena Mas memang ingin ngasih tahunya waktu kita ketemu kayak gini, nggak lewat telpon atau SMS. Mas minta maaf karena udah ngecewain Adek. Mas harap, Adek bisa dapat pengganti yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Kulihat mata Mas Ihsan pun mulai berair. Aku tahu dia bicara jujur, dia tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh disana, aku sangat yakin itu. Kalau sekarang dia berada dalam kondisi seperti ini, itu hanya karena dia berada di tempat dan waktu yang salah saja. Terlihat dia berat untuk menceritakan semua ini, dan terdengar ada beban saat dia mengucapkan kata maaf.

Aku sendiri jelas sedih mendengar setiap perkataan Mas Ihsan. Aku sedih karena harus melepas pria yang kusayangi ini dan melihatnya menikah dengan orang lain. Tapi dibalik itu, ada terselip rasa bahagia di hatiku. Ya, aku berharap Mas Ihsan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan lebih bersih dariku. Aku berharap keadaan ini akan menjadi awal kebahagiaan untuk Mas Ihsan.

Kami berdua terdiam dalam tangis kami masing-masing. Aku masih membisu, tak tahu apa yang harus kukatakan. Kulihat Mas Ihsan juga seperti kehilangan kata-kata, seperti bingung ingin mengucapkan apa lagi. Kemudian aku menyentuh tangannya, dan menggenggamnya erat. Dia menatapku, masih dengan mata yang berkaca-kaca.

“Mas, Adek sayang sama Mas, Adek cinta sama Mas, dan Adek pengen bisa bahagia sama Mas. Tapi kita cuma bisa berkeinginan, sudah ada yang menentukan jalan hidup kita Mas. Berat buat Adek kalau harus ngelepasin Mas, tapi Adek tahu Adek harus ikhlas biar nantinya Mas bisa bahagia. Adek harap, perempuan itu adalah perempuan yang tepat buat Mas, perempuan yang jauh lebih baik dari Adek,” ucapku.

Mas Ihsan terdiam tak menjawab, hanya anggukan kepala saja yang dia berikan padaku. Dia menggenggam tanganku dengan sangat erat, seperti ingin menumpahkan segela permohonan maafnya kepadaku. Kali ini aku sudah mengambil pilihan, aku lebih memilih mengikhlaskan dan mendukungnya, demi kebahagiaannya. Lagi pula dengan kondisiku yang sekarang, akan lebih baik jika Mas Ihsan bersama dengan orang lain.

Sedangkan untukku sendiri, aku tak tahu, seperti apa jalan yang akan kulalui kedepannya, aku pasrah saja. Yang penting, aku bisa melihat orang yang kusayangi ini bisa bahagia, meskipun itu harus dengan orang lain.

*****

Kini aku sudah kembali ke kotaku setelah menyelesaikan masa studiku di Jogja. Kuliahku harus molor 2 semester dari yang aku rencanakan dulu. Peristiwa yang kualami dengan Pak Risman, serta putusnya hubunganku dengan Mas Ihsan sempat membuatku depresi, hingga semakin memasrahkan diriku untuk menjadi budak nafsu Pak Risman.

Sama halnya denganku, Ratna pun juga harus molor kuliahnya karena juga menjadi budak nafsu Pak Risman. Pria itu seperti berat untuk membiarkan kami lulus dan kembali ke kota kami masing-masing. Tapi setelah akhirnya dia mendapatkan mangsa baru, barulah dia mau untuk melepaskan kami. Ratna pergi lebih dahulu, seminggu sebelum aku. Sebelum pergi dari kota itu, tentu saja Pak Risman menggarap tubuh kami habis-habisan sebagai tanda perpisahan, dan dia juga berjanji untuk menghapus semua foto dan video persetubuhan kami.

Dan sekembalinya aku ke kota kelahiranku ini, aku langsung bekerja di sebuah perusahaan milik orang tuaku. Disini aku ingin memulai semuanya dari awal lagi. Aku ingin melupakan semua yang telah terjadi pada diriku dulu, aku ingin memperbaiki diriku. Semua yang telah hilang dari diriku memang tak akan bisa kembali lagi, tapi paling tidak aku ingin menjaga diriku agar tak perlu lagi jatuh ke lubang yang sama.

Biarlah semua itu menjadi masa lalu yang buruk, sekaligus pengalaman yang berharga untukku. Menyesalinya terus menerus tak akan merubah keadaan, jadi lebih baik menguburnya dalam-dalam dan menatap masa depan dengan sudut pandang yang berbeda, dan berusaha untuk meraih kebahagiaanku sendiri.

Entah apakah keadaanku yang sekarang ini bisa diterima oleh orang lain atau tidak nantinya, tapi aku percaya bahwa di ujung takdirku nanti sudah dipersiapkan seseorang yang akan bisa menerima dan menjagaku, aku percaya itu.

*****

Tak terasa sudah hampir setahun ini aku bekerja di perusahaan orang tuaku. Aku sudah menikmati kehidupanku yang sekarang ini. Aku sudah mulai melupakan kejadian-kejadian kelamku yang dulu, meskipun sesekali mimpi buruk masih mendatangiku. Tapi kuanggap itu hanyalah bagian yang tak penting dari hidupku, dan mengacuhkannya untuk sesuatu yang lebih bail lagi.

Aku pun sekarang sudah memiliki seorang pria yang menyayangiku. Mas Restu, anak dari teman ayahku. Bukan, kami tidak dijodohkan. Kami bertemu secara kebetulan di sebuah acara, lalu berkenalan dan menjadi semakin dekat. Saat dia sudah resmi kuterima dan kukenalkan dengan orang tuaku, barulah kami sama-sama tahu kalau orang tua kami ternyata sudah saling kenal. Tentu saja hal ini mempermudah orang tua kami memberi restu. Pas kan, kayak namanya ya, Restu.

Mas Restu ini orangnya baik, hampir seperti Mas Ihsan kepribadiannya. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan BUMN dan jabatannya pun sudah lumayan. Usianya hanya setahun di atasku. Meskipun belum lama pacaran, sepertinya dia sangat serius ingin membina hubungan yang lebih jauh denganku. Aku sih senang-senang saja, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku.

Bagaimana nanti reaksinya kalau tahu ternyata aku sudah tidak perawan lagi? Penjelasan seperti apa harus kuberikan padanya? Apakah aku harus berkata yang sebenarnya? Apakah dia masih akan mau denganku jika mengetahui seperti apa masa laluku? Atau aku harus bohong? Tapi bohong yang seperti apa? Aku benar-benar bingung dengan kondisi ini.

Disaat aku masih bingung dengan bagaimana caraku nantinya untuk menjelaskan kondisiku kepada Mas Restu, sebuah prahara besar menimpa keluargaku. Segala hal yang selama ini berjalan baik-baik saja, semua yang terasa begitu bahagia, mendadak menjadi sebuah bencana.

Suatu sore ketika aku baru pulang dari kantor, di ruang tamu rumahku nampak seorang gadis yang kira-kira seusia denganku, sedang menangis tersedu-sedu. Disitu juga ada ayaku yang tampak menunduk dan membisu. Juga ada ibuku yang sepertinya sedang menahan emosinya. Aku yang belum tahu apa-apa akhirnya duduk di sebelah ibuku, menanyakan tentang apa yang terjadi.

“Bu, ada apa ini?” tanyaku lirih.

“Tanya saja sama ayahmu itu!” jawab ibuku, yang membuatku terkejut.

Nampak begitu emosional. Belum pernah aku melihat ibuku seperti itu. Aku menatap ayahku yang masih saja menunduk. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak. Apalagi melihat wanita muda yang duduk di seberangku, yang masih menangis tersedu-sedu. Tidak, semoga saja apa yang terjadi ini bukanlah hal yang saat ini terlintas di kepalaku.

“Ayah, ada apa ini? Dan, Mbak ini, siapa?” tanyaku sambil menunjuk wanita itu.

“Dia, namanya Tania, dan diaa..” jawab ayahku menggantung.

“Dan dia apa Yah?” tanyaku cepat.

“Dia selingkuhan ayahmu, dan dia sedang hamil 3 bulan. Dia kesini untuk meminta pertanggung jawaban dari ayahmu,” sahut ibuku.

“Apa?!” tanyaku tak percaya.

Aku sampai menutup mulutku mendengar jawaban dari ibu tadi. Mungkinkah ayahku berbuat demikian? Ayah yang selama ini mengajariku norma-norma kesopanan dan juga agama, menghamili seorang wanita muda, yang seumuran denganku? Aku benar-benar tak bisa mempercayainya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kenapa sampai ayahku jatuh ke dalam keadaan yang seperti ini?

Ibuku pun melanjutkan ceritanya, bahwa ayah sudah menyetujui untuk menikahi wanita itu. Ibuku tak melarangnya, tapi dengan syarat ayah menceraikan ibu dulu sebelum menikahi wanita itu. Keluargaku yang harmonis, keluarga yang kubanggakan, keluargaku yang terpandang di masyarakat, harus hancur karena hal seperti ini? Sungguh tak pernah terbayang akan jadi seperti ini.

Proses perceraian yang cepat, termasuk dengan pembagian harta. Dan kini ayahku sudah pergi meninggalkan kami berdua. Aku masih tak bisa terima dengan keadaan ini. Bukan masalah harta yang dibagi, karena ibu dan aku mendapat bagian yang cukup besar. Tapi apalah artinya semua itu jika keutuhan sebuah keluarga tak mampu dipertahankan?

Akhirnya aku keluar dari kantor tempatku bekerja karena perusahaan itu menjadi milik ayah sekarang, dan aku tak sudi bekerja bersama dengannya. Akhirnya aku pindah ke perusahaan yang lebih kecil, yang sekarang menjadi milik ibu. Bukan sesuatu yang mudah karena ibu tak pernah turun langsung dalam pengelolaan perusahaan seperti ini. Aku pun masih belum bisa fokus bekerja karena kejadian yang menimpa keluargaku ini benar-benar membuatku malu dan shock.

Namun disaat seperti ini aku merasa beruntung memiliki orang-orang yang menyayangiku. Ibu dan Mas Restu selalu memberikan dukungan dan semangat agar aku segera bangkit dari keterpurukanku ini, karena banyak sekali hal yang harus aku lakukan. Hal ini membuat hubunganku dengan Mas Restu menjadi semakin dekat. Dia semakin perhatian kepadaku, setiap hal kecil pun tak lepas dari perhatiannya.

Semua dukungan dan perhatian yang diberikan oleh Mas Restu membuatku semakin yakin bahwa dia adalah pria yang baik untukku. Hanya tinggal menunggu waktu saja untukku bisa menjelaskan tentang kondisi dan masa laluku. Aku berharap nantinya dia bisa menerima keadaanku, dan tetap mau menjadikanku sebagai pendamping hidupnya.

Suatu hari Mas Restu mengajakku pergi, katanya ingin menghiburku agar tak terlalu larut dalam kesedihanku terus menerus. Aku yang memang merasa perlu refreshing mengiyakan saja ajakan Mas Restu. Seharian dia mengajakku jalan-jalan, dari pagi hingga sore hari. Dia sengaja mengambil cuti hari ini supaya bisa jalan denganku, dan hal ini semakin membuatku tersanjung saja.

Sore harinya kami memutuskan untuk beristirahat di rumah kontrakan Mas Restu. Rumahnya tidak terlalu besar. Dia bilang, setelah menikah nanti baru akan membeli rumah yang lebih besar untuk kami tempati. Sesampainya di rumah itu aku langsung saja menghempaskan pantatku di sofa ambil menonton TV, sedangkan Mas Restu ke dapur untuk menyiapkan minuman. Huft, capek juga jalan-jalan seharian ini, tapi aku cukup terhibur.

Mas Restu datang dengan membawa 2 gelas minuman dingin, yang langsung kuhabiskan karena memang tenggorokanku sudah kering. Mas Restu hanya tertawa geli melihat tingkahku. Kami menghabiskan waktu dengan ngobrol dan sesekali mengomentari apa yang kami lihat di TV. Tak lama kemudian aku merasakan ada yang aneh di tubuhku, rasanya lemas dan kepalaku seperti berkunang-kunang. Melihat itu Mas Restu mendekatiku dan membelai kepalaku yang tertutup kerudung.

“Kamu kenapa sayang? Kok pucet mukanya?” tanya Mas Restu.

“Nggak tahu mas, tiba-tiba Mila jadi pusing gini,” jawabku.

Mas Restu kemudian memijit pelipisku pelan, mencoba untuk membantuku mengatasi rasa pusing di kepalaku. Aku hanya menyandarkan saja kepalaku di bahunya. Pijatan Mas Restu di kepalaku terasa sedikit membantu, tapi tubuhku masih saja lemas, entah apa yang terjadi padaku.

Tapi kemudian aku merasakan tangan Mas Restu turun ke bagian tengkuk, dan kembali memberi pijatan ringan disana. Ada rasa nyaman, tapi juga bercampur geli, karena aku paling tak tahan jika disentuh di bagian itu. Tubuhku menggeliat karena kegelian, namun Mas Restu tak menghentikan pijatannya disitu. Bahkan kurasakan kepalanya mendekat dan hembusan nafasnya kurasakan di telingaku.

“Mila, aku sayang banget sama kamu. Kamu mau kan nikah sama aku?” bisiknya di telingaku.

“Ssshhh Mass, Mas Restu mau ngapain?”

“Aku pengen menjadikanmu milikku Mil, aku pengen jadi yang pertama buat kamu,” jawabnya, lalu bibirnya menyentuh telingaku yang masih tertutup kerudung.

“Maasss jangaannn, aaahhh Maaassshhh.”

Mas Restu masih menciumi telingaku, tangan kanannya juga masih berada di tengkukku. Sementara itu tangan kirinya mengelus-elus wajahku. Tak lama kemudian bibir Mas Restu berpindah dan melumat bibirku. Ini adalah pertama kalinya kami berciuman, karena sebelumnya selama pacaran kami hanya pernah berpegangan tangan dan berpelukan saja.

“Aaahhh Maaasss jangaaan, Mila nggak mauu,” ucapku saat tangannya mulai menjamah bagian dadaku.

“Sssttt, udah deh Mil, kita kan nanti bakalan nikah, jadi aku mau ambil perawan kamu dulu ya sayang, hehe. Tenang aja, aku bakal nikahin kamu kok Mil.”

Entah kenapa tubuhku benar-benar terasa lemas, aku tak mampu mencegah apapun yang dilakukan oleh Mas Restu. Tangannya mulai mempereteli pakaianku satu persatu hingga tubuhku kini telanjang bulat. Dia membuka kuncirku sehingga rambut sebahuku tergerai begitu saja. Tatapan matanya nampak mengagumi tubuhku, dan di bibirnya tersungging senyum, yang entah apa maknanya.

Setelah puas memandangi tubuh telanjangku, bibirnya kembali aktif mencumbui seluruh tubuhku. Aku yang tak bisa menggerakkan tubuhku untuk mencegahnya hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuannya. Tangisku mulai terdengar saat lidahnya memainkan kedua payudaraku, dan juga dengan sangat lihainya menjilati bibit vaginaku hingga basah. Cara dia melakukan ini membuatku yakin ini bukanlah yang pertama kali baginya.

Entah apa aku yang sudah salah menilai, atau Mas Restu yang pandai menyembunyikannya, selama ini dia bersikap layaknya seorang yang sangat baik dan lugu. Tapi ternyata dia tak selugu yang kukira, dari caranya mencumbui tubuhku, aku sangat yakin dia sudah berpengalaman dalam hal ini.

Mas Restu kemudian menelanjangi dirinya, lalu memaksaku untuk mengulum penisnya yang tidak terlalu besar itu. Aku benar-benar tak sanggup untuk melawannya, hingga setelah penis itu masuk ke dalam mulutku dia memaju mundurkannya dengan kasar, hingga membuatku beberapa kali tersedak. Dia benar-benar memperlakukanku dengan kasar, sangat jauh berbeda dengan sikap lembut dan bersahajanya selama ini.

Setelah beberapa saat penisnya berada di mulutku dan kurasakan sudah semakin keras, dia pun menariknya keluar. Mas Restu kemudian membuka lebar-lebar kedua kakiku, menempatkan badannya di tengah-tengah kakiku. Dia gesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vaginaku yang sudah basah oleh jilatannya tadi, kemudian dia tersenyum ke arahku, senyum yang begitu menjijikan bagiku.

“Maass jangan Mas, Mila mohon, jangaaan,” pintaku memelas, masih menangis.

Bleeeessss.

Tanpa mendengar permintaanku dia langsung saja menghentakkan penisnya memasuki rongga kewanitaanku. Meskipun sudah tidak perawan lagi, dan penisnya yang relatif lebih kecil dibandingkan Mas Sakti ataupun Pak Risman, namun karena sudah lama tak melakukannya sehingga tetap saja membuatku merasakan sakit di liang kewanitaanku, apalagi melakukannya dalam kondisi seperti ini.

Asuu, wes ra perawan tibake. Podo wae kowe karo wedokan-wedokan sing tau tak kenthu Mil. Kerudungan tapi lonthe.” (Anjing, udah nggak perawan ternyata. Sama aja kamu sama wanita-wanita yang pernah aku setubuhi Mil. Berkerudung tapi perek).

Umpatannya benar-benar menyakiti hatiku. Tak pernah sebelumnya dia bicara sekasar ini kepadaku. Bicaranya selalu lembut dan sopan, tapi ternyata dia hanyalah serigala berbulu domba. Tangisku semakin deras mendapati kenyataan ini.

Dia kemudian menyetubuhiku dengan sangat kasar, menggenjotku sesuka hatinya hingga membuat tubuhku yang masih lemas ini terlonjak-lonjak. Dia bahkan juga meremasi kedua payudaraku dengan kasar, membuatku semakin histeris dengan semua rasa sakit yang kuterima ini. Tapi justru di wajahnya terlihat ekspresi kepuasan, aku benar-benar jijik kepadanya.

Tubuhku kemudian dibalikkan olehnya, dan kembali vaginaku digenjot dengan sangat kasar. Rasanya perih, benar-benar perih. Tangisanku terdengar pilu, tapi itu sepertinya membuatnya lebih bersemangat untuk menyetubuhiku. Hingga sampai akhirnya dia mencabut penisnya, lalu menggesekkannya di lubang anusku. Apa maunya? Apa dia mau menganalku? Oh tidak, jangan, aku belum pernah!

Yowes, lek ra entuk perawane tempikmu, perawane silitmu wae lah Mil, iku nek sik perawan.” (Ya udah, kalau nggak dapat perawannya memekmu, perawannya anusmu ajalah Mil, itupun kalau masih perawan).

Kurasakan jarinya mengocok vaginaku, kemudian cairan vaginaku yang membasahi jarinya dia pakai untuk membasahi bibir lubang anusku. Satu jarinya dimasukan ke lubang sempit itu dan dia putar-putar, berusaha membuatnya semakin melebar.

“Maass jangan disitu, Mila belum pernaah,” ujarku lirih.

Ooh, sik perawan berarti. Sip, rasakno iki.” (Ooh, masih perawan berarti. Sip, rasain ini).

“Jangan Maaaass, Aaaahhhh sakiiiiiitttt.”

Penisnya benar-benar dihujamkan di liang anusku. Sakit sekali rasanya, benar-benar sakit. Dia masukkan sebagian, lalu dicabut lagi, dimasukan lagi, dicabut lagi, hingga akhirnya seluruh permukaan batang penis itu terbenam di liang anusku. Aku mencoba menjerit sekuatnya tapi suara yang keluar dari mulutku benar-benar lirih, lemah sekali, selemah tubuhku.

Entah berapa lama dia menyodomiku seperti ini, sampai kemudian dia cabut kembali penisnya lalu membalikkan badanku. Setelah tubuhku terlentang langsung saja dia masukkan lagi penisnya ke vaginaku dan memompanya dengan sangat cepat dan kasar. Sambil memompa dia meremas payudaraku juga tak kalah kasarnya, membuatku merasakan sakit dan pedih di sekujur tubuhku.

“Aaaaahh rasakan ini lontheee. Dasar lonthe kerudungan.”

Croot.. Croot.. Croot..

Beberapa kali semburan sperma terasa di dalam liang senggamaku. Terlihat ekspresi wajahnya yang penuh dengan kepuasan, membuatku semakin jijik kepadanya. Perlakuannya yang sangat kasar membuat tubuh dan hatiku benar-benar sakit hingga aku sama sekali tak merasakan kenikmatan. Bahkan Pak Risman saja tak pernah memperlakukanku sekasar ini. Apalagi saat dia memaksaku untuk membersihkan penisnya, yang baru saja dia masukkan ke lubang vagina dan anusku, membuatku merasa sangat mual.

Dia sempat mengulanginya sekali lagi saat tubuhku masih lemah. Dengan kasar dia menyetubuhiku dan kembali dia semburkan spermanya di dalam vaginaku. Aku sangat berharap apa yang dia lakukan ini tak sampai membuatku hamil, karena entah mengapa aku memiliki firasat yang kuat dia akan meninggalkanku setelah ini.

Saat tubuhku sudah mulai pulih, dan tangisku sudah berhenti, akupun meminta untuk diantar pulang. Namun pria ini emmang benar-benar bajingan, bukannya mengantarkanku pulang dia malah memanggil ojek online untukku. Aku benar-benar kecewa dengan sikapnya itu. Hatiku benar-benar hancur. Rasa cinta dan kepercayaanku kepadanya yang mulai tumbuh kini hilang sudah.

Sesampainya di rumah aku kembali menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib buruk yang belum berhenti mendatangiku. Setelah kehilangan ayahku yang berpisah dengan ibuku, pria yang selama ini kuanggap sebagai pria baik-baik yang akan menuntun dan menemaniku melewati masa sulit ternyata memanfaatkan sebuah kesempatan untuk mengambil keuntungan dariku.

*****

Kejadian itu sudah beberapa bulan berlalu. Setelah berhasil menyetubuhiku dan mengetahui bahwa aku sudah tidak perawan lagi, Mas Restu benar-benar pergi meninggalkanku. Aku memang sudah begitu membencinya, tapi aku sempat mencoba mencarinya. Nomornya sudah tak bisa lagi dihubungi, rumah kontrakannya pun sudah kosong saat kucari kesana. Saat kutanyakan ke kantornya ternyata dia sudah dipindah tugaskan, hanya beberapa hari setelah peristiwa itu.

Bisa kusimpulkan bahwa memang Mas Restu sudah merencanakan semua itu. Dia ingin memerawaniku sebelum pergi dari kota ini. Dan itulah yang membuatku semakin muak dan membencinya. Dia bahkan jauh lebih bajingan dari Pak Risman yang telah membuatku menjadi budaknya dulu.

Berhari-hari aku jatuh dalam keterpurukan yang terdalam. Luka hati yang sudah lama tertutup pun terbuka kembali. Kuingat-ingat saat aku menyerahkan kesucianku kepada Mas Sakti, lalu bagaimana Pak Risman memperdayai dan memperbudakku. Saat itu aku berpikir bahwa kejadianku bersama Pak Risman adalah karma yang harus kuterima karena telah mengkhianati rasa cinta dan sayang Mas Ihsan yang begitu tulus.

Aku menerimanya jika itu adalah sebuah karma atas kesalahanku. Tapi kemudian, disini aku mengalami hal yang lebih buruk lagi. Keluargaku harus hancur berantakan saat kedua orang tuaku bercerai. Semua ini karena perbuatan bejat ayahku yang telah menghamili seorang gadis muda, dan akhirnya lebih memilih gadis itu, meninggalkan aku dan ibu.

Lalu Mas Restu. Pria yang awalnya begitu baik kepadaku, ternyata memiliki maksud tersembunyi dari semua itu. Entah apakah hanya aku saja korbannya, atau ada wanita-wanita lain yang juga berhasil dia perdaya dengan kelembutannya itu, yang jelas lelaki itu telah meninggalkan luka yang begitu mendalam kepadaku.

Kenapa para lelaki begitu mudahnya melampiaskan nafsu kepada wanita yang bukan pasangan mereka? Apakah semuanya seperti itu? Apa yang mereka dapatkan dari itu semua? Kepuasan birahi semata? Atau apa lagi? Lalu apa jadinya perempuan-perempuan yang menjadi korban sepertiku? Apakah mereka juga merasa terpuruk sama denganku? Atau mereka memilih jalan lain untuk menikmatinya?

Aku kembali teringat kata-kata Mas Restu yang terlontar saat menyetubuhiku. Kata-kata itu seperti masuk ke memori terdalamku dan selalu terngiang setiap saat. Kata-kata kasar yang sama sekali tak terbayangkan akan keluar dari mulutnya yang selalu berkata manis kepadaku. Dasar perek berkerudung. Apakah memang aku serendah itu mas? Apakah aku memang seorang perek berkerudung? Bahkan kurasa seorang perek pun mendapatkan uang dari apa yang dia kerjakan, sedangkan aku? Baiklah kalau begitu, seperti katamu, aku akan menjadi seperti apa yang kau bilang itu!

*****

Rasa amarah, dendam, keterpurukan dan putus asa, yang akhirnya membuatku menjadi seperti ini. Aku telah mewujudkan perkataan Mas Restu tempo hari ketika menyetubuhiku. Aku memang masih bekerja di perusahaan milik ibuku, tapi aku juga memiliki pekerjaan lain. Tanpa merubah penampilanku yang selalu berpakaian tertutup, aku melayani nafsu birahi pria hidung belang yang bersedia membayar sejumlah rupiah yang menjadi tarif mengencaniku.

Semua ini berawal dari pertemuanku dengan Damar, seorang teman lamaku. Teman dari SD hingga SMA. Kami kemudian berpisah saat aku harus kuliah di luar kota. Sebelumnya kami berdua cukup dekat, bahkan sering saling bercerita banyak hal. Banyak yang menyangka kami pacaran, tapi tidak, kami hanya berteman, bersahabat mungkin. Sebuah pertemuan yang kebetulan di salah satu rumah makan akhirnya membuat kami kembali menjalin komunikasi. Dia ternyata bekerja di sebuah hotel bintang 5 di kawasan pusat kota.

Dari komunikasi kami ini akhirnya aku tahu dia memiliki pekerjaan sampingan selain pegawai hotel, yaitu menjadi germo. Aku sempat terkejut mendengar pengakuannya, kupikir germo-germo yang menjual wanita-wanita penghibur seperti layaknya di lokalisasi, namun ternyata berbeda. Dia memang memiliki banyak anak buah yang bekerja sebagai wanita panggilan, namun bukan di lokalisasi seperti yang kubanyangkan.

Dia ‘menjual’ anak buahnya itu secara online melalui sebuah forum dewasa. Tentu saja bukan sembarang orang yang dia terima, hanya member forum yang sudah terverifikasi saja. Selain itu, dia juga menjual anak buahnya kepada tamu-tamu di hotelnya, karena tamu yang menginap di hotelnya sudah pasti dari kalangan atas, sehingga dia bisa pasang harga yang tinggi untuk para anak buahnya.

Damar bahkan kemudian menunjukkan kepadaku foto-foto wanita yang menjadi anak buahnya. Lumayan banyak, dan juga cantik-cantik. Tak salah dan tak berlebihan kalau dia memasang harga yang tinggi untuk bisa mengencani anak buahnya, karena memang mereka semua terlihat high class. Saat sedang melihat foto-foto itu aku tersenyum, nampaknya Damar salah mencampurkan foto beberapa wanita berkerudung di foldernya ini.

Tapi betapa terkejutnya aku setelah diberitahu oleh Damar, bahwa ternyata wanita-wanita berkerudung ini adalah anak buahnya juga. Mereka juga adalah wanita panggilan? Aku tak percaya sebenarnya, tapi yang aku tahu selama ini Damar memang tak pernah berbohong kepadaku.

Aku terkejut mendapati kenyataan bahwa ternyata ada juga wanita yang berpenampilan sepertiku tapi berprofesi sebagai wanita panggilan. Apalagi usia mereka terbilang masih muda, bahkan kata Damar banyak yang sepantaran dengan kami. Tiba-tiba aku teringat perkataan Mas Restu, dan terbesit sesuatu yang gila dalam benakku.

“Mar, hmm, aku mau juga dong,” ucapku agak ragu.

“Mau apa Mil?” tanya Damar.

“Mau kayak mereka,” jawabku.

“Maksudmu opo tho?” tanya Damar yang kebingungan.

“Mau kayak mereka yang ada ponselmu itu. Mau jadi, wanita panggilan juga,” jawabku.

“Huss, ngawur kamu tuh. Kalau ngomong yang bener ah, bercandamu gak lucu yo,” ujarnya merespon perkataanku.

“Aku serius Mar, aku nggak bercanda,” ucapku mantap, sambil menatap matanya tajam.

“Mil, udah deh jangan bercanda. Emoh aku,” jawab Damar.

“Kok emoh, kenapa? Apa aku kurang layak jual?” tanyaku.

Yoo pokoke emoh. Kamu itu temenku lho, mana mungkin aku mau jadiin kamu kayak gitu, ngawur ae,” jawab Damar sewot.

“Kalau kamu nggak mau aku cari papi yang lain,” ucapku memaksanya.

“Kamu ini kenapa sih Mil? Sakit ya? Nggak demam kok,” ujarnya sambil meletakkan punggung tangannya di keningku sebentar.

“Nggak Mar, aku sehat wal afiat, dan aku sadar sepenuhnya sama semua omonganku,” ucapku meyakinkannya.

“Kamu kenapa sih Mil sebenarnya? Kamu butuh duit? Buat apa? Kamu kan udah kerja di perusahaan ibumu, yang artinya itu perusahana kamu juga kan? Kalau emang kamu butuh duit, kamu butuh berapa? Biar aku kasih aja. Semua anak buahku itu mau kerja kayak gini karena mereka butuh duit,” ujar Damar panjang lebar.

“Kamu kenapa sih kok nolak aku?” tanyaku penasaran.

“Mila, udah kubilang kan, kamu itu temenku dari kecil. Aku kenal kamu, aku juga kenal keluarga kamu. Mana mungkin aku mau jerumusin kamu kayak gitu? Aku emang germo, aku emang bajingan, tapi aku juga masih punya perasaan Mil. Pantang buatku njerumusin temen-temenku sendiri,” jawabnya tegas.

“Siapa yang jerumusin? Kan aku yang minta bukan kamu yang maksa,” jawabku.

“Tapi Mil…” dia tak melanjutkan ucapannya, sepertinya dia bingung menghadapiku.

“Udah deh, kamu terima aja aku Mar. Kalau kamu nggak mau aku beneran cari papi lain nih,” ancamku, mengambil tasku seolah hendak pergi meninggalkannya.

“Eh tunggu tunggu,” tahan Damar memegang tanganku.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Kamu seriusan?” tanyanya, mencoba mendapat keyakinan dariku.

“Iya, serius, banget. Udah sini ponselmu,” jawabku tegas, lalu mengambil ponselnya dan mengambil foto selfieku, lalu menyimpan foto itu di folder yang sama dengan para anak buah Damar.

“Nih udah, mulai malam ini aku resmi jadi anak buahmu,” ujarku sambil mengembalikan ponselnya.

Damar menerima ponselnya dengan ekspresi bingung. Aku tahu dia ragu-ragu, karena sebenarnya aku pun juga masih sedikit menyimpan keragu-raguan untuk hal ini. Tapi kemudian keragu-raguan itu kuenyahkan dengan mengingat semua perlakuan buruk yang aku pernah terima dari para lelaki di masa laluku.

“Tapi Mil…” ucapnya, masih ragu-ragu.

“Udah nggak ada tapi-tapian lagi. Eh tapi aku punya syarat ya, aku cuma mau melayani tamu hotelmu, jangan lewat forum. Dan aku mau prianya juga yang good looking, jangan yang jelek, apalagi yang tua. Usahakan dapet pelanggannya yang bersih ya Mar. Aku cuma mau pelanggan yang dari luar kota, jadi tidak ada yang akan mengenaliku. Aku juga mau mainnya pake pengaman, and no anal,” ujarku menjelaskan, dan Damar hanya garuk-garuk kepala saja mendengarkan syaratku yang banyak itu.

Begitulah awal mula aku menjalani ‘profesi sampinganku’ ini. Dan Damar benar-benar melakukan syarat-syarat yang kuberikan kepadanya. Awalnya dia ragu-ragu, dan bilang tak memaksaku jika aku keberatan dan akan mengatakan kepada tamunya kalau aku sedang berhalangan. Tapi aku selalu memenuhi setiap ada panggilan darinya.

Damar memasang tarif yang tinggi untuk setiap lelaki yang menginginkanku, paling tinggi diantara anak buahnya yang lain katanya. Dan anehnya, Damar tak mau menerima sepeserpun uang hasil dari menjual diriku, entah kenapa. Aku sendiri pun juga tak pernah memakai uang-uang itu, karena untuk semua keperluanku masih tercukupi dengan pekerjaan utamaku saat ini. Semua penghasilan itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku.

Sudah empat bulan aku menjalani pekerjaan ini. Dan memang belum terlalu banyak lelaki yang menginginkan jasaku, entah karena Damar sengaja tidak memperlihatkan fotoku atau memang pelanggannya tidak begitu ramai. Para pria yang telah menikmati jasaku pun rata-rata adalah pria-pria yang sesuai dengan kriteria yang kuberikan kepada Damar, dan tak pernah ada yang main kasar kepadaku, bahkan beberapa diantaranya memperlakukanku dengan sangat baik dan memberikan tip yang cukup besar kepadaku.

Mil, ada orderan malam ini, mau diambil nggak?’

Bunyi SMS dari Damar membuyarkan lamunanku. Aku pun menyanggupinya dan segera mempersiapkan diri. Setelah merasa sudah cukup akupun mengemudikan mobilku ke arah hotel tempat Damar bekerja. Setelah memarkirkan mobilku, aku pun menuju lobby untuk menemuinya.

“Dimana Mar?” tanyaku.

“714, langsung kesana aja, masnya udah nunggu,” jawabnya.

“Masih muda ya?” tanyaku.

“Yaah, mungkin cuma selisih beberapa tahun sama kita,” jawabnya.

Akupun segera menuju ke kamar yang dimaksud oleh Damar. Entah kenapa kali ini jantungku berdegup lebih kencang daripada biasanya, padahal ini bukan pertama kali aku melakukannya. Apakah sebuah firasat yang buruk? Ah, semoga saja tidak. Sesampainya di depan kamar 714, akupun menarik nafas sejenak menenangkan diriku, lalu memencet bel kamar tersebut.

Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar pun terbuka perlahan. Aku mengembangkan senyumku untuk pria yang akan menyambutku. Ketika pintu terbuka, nampaklah seorang pria muda dengan wajah yang sangat-sangat familiar. Seketika itu pula senyumku hilang. Aku ternganga, terkejut, begitu juga dengan pria itu. Pria yang sangat kukenal beberapa tahun yang lalu, pria yang tak lain adalah sahabat dari mantan pacarkau.

“Mas Budi??”

*****

“Huaaaa undaaaaaaa.”

Lamunanku terpecah saat anakku Tika menangis. Entah sudah berapa lama aku melamunkan masa laluku sampai tak menyadari anakku sudah terbangun dari tidurnya. Aku pun segera menggendongnya dan memberikannya susu. Aku tersenyum melihat Tika, buah hatiku bersama Mas Sakti.

Kehidupanku memang berubah sejak aku bertemu dengan Mas Budi malam. Dia berhasil memaksaku untuk menceritakan kenapa aku menjadi seperti itu, melakukan sebuah hal yang sangat-sangat bodoh. Akupun akhirnya menceritakan kepada Mas Budi, meskipun tidak semuanya. Aku tak menceritakan bagaimana aku diperdaya dan akhirnya menjadi budak bapak kostku, sebuah keputusan yang kini kusesali.

Harusnya malam itu aku ceritakan semua kepada Mas Budi, dengan begitu saat ini aku tahu kemana harus minta tolong ketika Pak Risman muncul lagi di kehidupanku. Harusnya sebelum menikah dengan Mas Sakti pun aku menceritakan semua ini kepadanya. Dia sudah bisa menerima semua masa laluku yang buruk, dia pasti juga bisa menerima salah satu episode buruk kehidupanku yang lainnya.

Tapi bagaimana nanti reaksinya jika aku baru menceritakan ini sekarang? Bagaimana kalau dia sampai tak bisa menerimanya? Apakah aku siap jika kemudian dia tak terima dan meninggalkanku? Tapi jika aku tak cerita, bagaimana caranya aku menghadapi Pak Risman? Pria itu pasti akan mencariku lagi.

Mila, ini Risman, simpen nomor ini ya. Aku kangen banget sama kamu sayang, kapan-kapan kita main lagi ya, hehe.’

Huft, isi SMS dari pria itu masih saja terbayang-bayang di kepalaku. Tadinya aku berharap dia sudah berubah, tak seperti dulu lagi, tapi dengan SMS itu, ah ternyata masih sama saja. Dan yang membuatku bingung, kenapa tadi dia bersama Ratna? Bukankah seharusnya Ratna sudah tidak di kota ini lagi? Dan yang kudengar dia juga sudah mendapatkan pekerjaan di kota asalnya sana. Tapi hari ini dia ada disini, bersama dengan Pak Risman. Apakah kebetulan dia sedang berkunjung ke kota ini? Atau ada sebab lain?

Aku yakin setelah pertemuan tadi, Pak Risman pasti akan memintaku untuk menemuinya lagi, dan mengulangi apa yang pernah kami lakukan dulu. Dan kalau memang hal itu akan benar-benar terjadi, apakah aku bisa menghindar? Apakah aku bisa menolaknya? Apakah dia masih memegang bukti-bukti perbuatan kami dulu? Semua foto dan video yang dia pernah berjanji akan menghapusnya, namun tak pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri dia melakukan itu, karena aku sudah terlanjur yakin akan pergi jauh dan tak akan bertemu dengannya lagi. Kalau sampai bukti-bukti itu masih ada, dan dia gunakan untuk mengancamku, aku harus bagaimana?

Aku benar-benar bingung bagaimana harus bertindak. Aku khawatir jika Pak Risman kembali mencariku, tapi aku juga takut menceritakan semua ini kepada suamiku. Saat aku sedang melamun kebingungan memikirkan apa yang harus aku lakukan, aku kembali dikejutkan oleh suara getar dari ponselku. Aku meraihnya dan segera melihat ada beberapa pesan yang masuk, semuanya dari Pak Risman.

Tanganku, tubuhku bergetar melihat apa yang dikirimkan oleh Pak Risman. Beberapa foto yang membuat lidahku kelu. Keringat dingin mengucur membasahi tubuhku. Foto pertama dengan sebuah caption : Remember this? menunjukkan tubuhku yang sedang telanjang. Lalu beberapa foto lagi yang merupakan screenshot dari video persetubuhan kami beberapa tahun silam, dan diakhiri oleh sebuah pesan : ‘Aku selalu kangen dengan cara kamu manjain kontolku Mil, aku kangen sama remesan memekmu di kontolku. Aku udah nggak sabar buat ngulangin itu semua, Mila sayang.’

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler