. Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 23 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 23

0
74

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 23

Ruthless And Relentless

04.30 am
Somewhere In Kaliurang

Budi beserta kelima temannya yaitu Assassin, Queen, Insane, Shadow dan Hurricane sudah sampai di tempat yang telah direncanakan. Sedangkan seorang lagi yaitu Jaka alias Nocturne sudah berada di posnya sendiri. Jaka memang bertugas untuk melindungi teman-temannya dari jarak jauh. Berbekal senapan SPR seri Alfa yang khusus dibuat oleh perusahaan produsen senjata di negeri ini. Senapan ini memiliki keunggulan dari sisi jarak tembak jika dibandingkan dengan SPR 2 yang sudah membuat gentar dunia. Pada SPR 2, jarak maksimal adalah 2 Km, sedangkan SPR seri Alfa milik Jaka bisa menembak dari jarak 3 Km dengan tingkat akurasi hampir 100%.

Sementara itu teman-temannya yang lain rata-rata menggunakan senapan serbu dan pistol yang juga dibuat secara khusus. Kedekatan Zeus dengan beberapa pimpinan perusahaan produsen senjata itu membuatnya lebih mudah mendapatkan akses dan fasilitas senjata. Semua senjata yang digunakan oleh anggota Vanquish hanya dibuat dengan jumlah yang sangat terbatas, dan bersifat sangat rahasia.

Selain senjata api, Assassin dan Insane juga melengkapi diri mereka dengan senjata tajam berbagai jenis dan ukuran. Terutama bagi Insane yang memang lebih menyukai pertarungan jarak dekat.

Kini mereka sudah siap untuk menyerang. Berbekal informasi dari Shadow dan pengamatan visual yang didapatkan oleh Jaka, mereka sudah mengetahui bagaimana kondisi di lingkungan villa yang akan mereka serang. Sudah cukup banyak orang yang berjaga disana, ada sekitar 150-an orang. Jumlah itu bukannya membuat mereka gentar, namun justru menjadi semakin bersemangat. Darah mereka mendidih, adrenalin mereka terpacu. Sudah cukup lama mereka menunggu saat-saat seperti ini, saat dimana mereka akan melakukan pembantaian kepada para penjahat itu.

Budi terlihat membuka laptopnya, dia menyambungkan dengan ponsel khususnya mencoba untuk mendapatkan koneksi internet. Tugasnya yang pertama adalah melumpuhkan jaringan yang kini dipegang oleh Steve dan David untuk mengendalikan senapan otomatis yang sudah terpasang mengelilingi villa. Dengan melumpuhkan jaringan itu, maka Budi dan teman-temannya akan lebih aman untuk merangsek ke dalam lingkungan villa.

“Gimana Bud, udah bisa dilumpuhin?” tanya Insane yang terlihat sudah tidak sabar ingin segera memuntahkan peluru dari senjata yang dia pegang.

“Belum San, agak sulit. Mereka sudah membentengi jaringan mereka dengan cukup baik, sepertinya perlu waktu lebih lama untuk bisa membobolnya,” jawab Budi yang masih mengotak-atik laptopnya.

“Hmm, jadi mereka sudah bisa menebak apa yang akan kita lakukan ya? Sepertinya hari ini bakal benar-benar menjadi hari yang seru,” ujar Assassin ikut mengomentari.

“Ya, mereka sudah memperkirakan langkah-langkah kita, makanya kita harus lebih berhati-hati lagi.” Budi terlihat sedikit kesulitan, karena selain harus menembus jaringan musuh, ternyata Steve dan David juga sedang melacak keberadaannya.

Di tempat lain, di dalam ruangan kontrol villa itu terlihat Steve dan David juga sibuk dengan perangkat komputernya masing-masing. Steve sedang berusaha untuk menangkal setiap kali ada serangan masuk yang mereka ketahui itu dari Budi, sedangkan David sedang melacak sumber serangan itu. Menyerang dari dua sisi seperti ini tentu akan lebih mudah bagi mereka, namun sebaliknya justru sangat merepotkan bagi Budi, karena Budi hanya sendirian.

Shit!” tiba-tiba terdengar Steve memaki, membuat David terkejut.

What’s wrong bro?” (Ada apa bro?)

Other people trying to attack our server.” (Ada orang lain yang mencoba menyerang jaringan kita.)

Other people? Who?” (Orang lain? Siapa?)

I don’t know. Go find him.” (Entahlah. Cepat temukan dia.)

Okay.”

Kini giliran Steve yang kerepotan karena harus menghadapi 2 serangan sekaligus. Dia yang sedari tadi berkonsentrasi menahan serangan Budi kini harus membagi fokusnya. David pun demikian. Dia mencoba membantu Steve dengan melacak keberadaan orang kedua ini. Namun sama halnya dengan yang dia lakukan kepada Budi, orang kedua ini juga sangat sulit untuk dilacak, pertahanannya cukup bagus. Dia tak mengetahui ada hacker yang kemampuannya selevel dengan Budi.

Dave, i thing we should tell the boss.” (Dave, kurasa kita harus memberitahu si boss.)

Yeah, i think so.” (Yah, kurasa juga begitu.)

David kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Bastian yang sekarang sedang berada di bangunan utama dari villa ini. David memberitahu tentang apa yang sedang mereka alami, dan Bastian hanya menjawab bahwa dia akan segera kesana.

How?” (Gimana?)

He’s coming here.” (Dia sedang kesini.)

Tak lama kemudian Bastian bersama dengan Rio sudah berada di ruangan itu. Dia melihat apa yang telah dilaporkan oleh David tadi, memang bener jaringan mereka sedang diserang dari dua arah dan kedua penyerang itu belum bisa terlacak sampai sekarang. Bastian mengetahui salah seorang penyerang itu adalah Budi, namun dia masih belum tahu siapa penyerang yang lainnya. Dia sama sekali tak memiliki gambaran, namun sedikit mengira-ngira bahwa itu adalah salah satu teman Budi sesama hacker.

“Dave, masih belum bisa dilacak?” tanya Bastian kepada David.

“Belum boss, sulit juga ini sama seperti Venom, tapi sepertinya dia tidak berasal dari luar negara ini,” jawab David dengan kedua tangan masih sibuk di keyboard komputernya.

“Hmm, siapa hacker di negeri ini yang memiliki kemampuan setara dengan Venom? Kupikir Venom sudah yang terbaik,” Bastian bergumam sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan siapa yang sedang menyerang mereka selain Budi.

“Mungkin temannya Budi di Vanquish Bas,” ujar Rio memberikan pendapatnya.

“Kayaknya nggak deh, di Vanquish yang ahli ginian kan cuma si Budi.”

“Lu lupa masih ada 1 orang lagi yang kita nggak tahu kemampuannya seperti apa?”

“Oh iya, bener, si Unknown. Bisa jadi dia sih. Dave, Steve, do your best.

“Siap boss.”

Bastian dan Rio masih mengamati pekerjaan yang dilakukan oleh kedua anak buah bulenya itu. Mereka masih cukup lega karena sudah mempersiapkan semuanya, termasuk kemungkinan serangan pada jaringan untuk melumpuhkan sistem persenjataan otomatis yang sudah mereka pasang. Kamera-kamera pengawas yang dipasang di sekitar villa pun juga masih bekerja dengan baik. Bastian kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Halo, mereka udah disini. Kalian berempat bawa orang-orang itu naik, nanti kalau sudah dengar suara-suara tembakan, kalian sikat mereka dari belakang.”

“Siapa Bas, Mata Angin?” tanya Rio saat Bastian selesai menelpon.

“Iya, udah waktunya buat mereka naik.”

“Emang senjata kita sama orang-orang yang disini nggak cukup?”

“Jaringan kita sebentar lagi pasti bisa dibobol sama mereka, dan orang-orang kita mungkin dengan jumlah segitu masih bisa mereka atasi. Tapi gue yakin mereka bakal kelimpungan kalau dapet serangan dari belakang juga.”

“Yah percuma dong kalau senjata kita bisa dilumpuhin mereka, rugi banget ngeluarin duit sebanyak itu tapi nggak bisa dipakai Bas.”

“Lu pikir gue ngeluarin duit sebanyak itu cuma buat dilumpuhin?”

“Maksud lu?”

“Jaringan kita emang bakal dibobol dan dilumpuhin, tapi itu buat sementara doang. Karena itulah Steve dan David tetep bakal disini meskipun mereka udah berhasil nerobos nantinya, senjata-senjata itu bakal diaktifin lagi sama mereka berdua saat Budi udah nggak ngotak-atik sistem jaringan kita.”

“Ooh jadi gitu yaa.”

“Ini namanya strategi perang Yo, biarin lawan kita merasa di atas angin, saat mereka lengah, kita hantam sekeras-kerasnya sampai mereka nggak bisa apa-apa lagi.”

“Haha, otak lu emang licik abis Bas. Oh iya, terus gimana dengan kemungkinan adanya bantuan dari polisi atau yang lainnya?”

“Mereka nggak akan tiba secepat itu. Waktu mereka sampai nanti kita udah cabut dari sini. Pak Fuadi udah ngasih perintah ke anak buahnya yang ada di kepolisian, buat mengulur waktu.”

“Ya ya ya, gue sih percaya ajalah sama rencana lu.”

“Ya iyalah, emang dari dulu kan semuanya rencana gue, lu kan nggak ngapa-ngapain.”

Bastian dan Rio kembali mengamati apa yang dilakukan oleh Steve dan David. Sampai sekarang mereka masih bisa menahan serangan di jaringan mereka meskipun masih belum juga bisa menemukan keberadaan para penyerangnya.

Sementara itu di tempat lain, ketika Budi masih terus berusaha membobol jaringan lawannya untuk melumpuhkan persenjataan mereka, Insane nampak begitu tak sabar untuk beraksi. Jika teman-temannya yang lain lebih banyak duduk dan menunggu, dia sedari tadi sudah berjalan mondar-mandir sambil menggumam tak jelas.

“San, ngapain sih lu? Duduk dulu napa?” tanya Hurricane yang mulai risih dengan kelakuan Insane.

“Ah elu Har, gue udah nggak sabar nih pengen ngebantai mereka semua. Bud udah belum? Lama amat deh,” jawab Insane sekenanya.

“Belum. Sabar dulu,” jawab Budi singkat saja karena masih sibuk dengan laptopnya.

“San, duduk!” Queen yang sedari tadi diam menyuruh Insane untuk duduk karena juga merasa risih.

“Haduuh my Queen, gue udah nggak…”

“Gue bilang duduk!” Queen kembali menyuruh Insane duduk, kali ini dengan lebih tegas dan tatapan yang tajam, membuat pria dengan rambut gondrong itu menurut. Tentu saja hal ini membuat rekan-rekannya yang lain tersenyum geli. Seorang Insane yang dikenal paling bernyali saat bertarung seperti memiliki banyak nyawa saja, kini tunduk hanya dengan kata-kata dari Queen.

“Oke, aku udah bisa masuk ke jaringan mereka, tinggal mencari dan melumpuhkan sistem persenjataan mereka. Tapi sepertinya, ada orang lain juga yang ikut menyerang jaringan mereka,” ujar Budi ketika sudah mulai bisa membobol pertahanan yang dibuat oleh Steve dan David.

“Orang lain, siapa Bud?”

“Entahlah, aku juga nggak tahu. Yang jelas dia adalah seseorang dengan kemampuan hacking yang hebat. Dia yang ngebongkar pertahanan mereka jadi aku gampang buat masuknya.”

“Hmm, pasti ‘dia’ deh, gue yakin itu,” ujar Insane diikuti oleh anggukan teman-temannya yang mengetahui siapa orang yang dimaksud.

Budi kini terlihat lebih lincah memainkan jari-jarinya di keyboard laptop. Teman-temannya segera berdiri dan bersiap, mereka tahu sebentar lagi Budi akan berhasil melumpuhkan persenjataan otomatis milik lawannya, dan itu adalah saat dimana mereka merangsek maju menghabisi mereka semua. Masing-masing orang kembali memeriksa senjatanya, juga mempersiapkan amunisi cadangan jika diperlukan.

Done!” pekik Budi setelah berhasil melumpuhkan jaringan lawannya. Dia kemudian menyerahkan laptopnya kepada Shadow dan mempersiapkan senjatanya sendiri.

“Jaka, gimana kondisi disana?” tanya Insane kepada Jaka dengan menggunakan radio.

Mereka sudah bersiap. Posisinya seperti yang sudah digambarkan tadi, jadi kalian bisa menyerang sesuai rencana.

“Oke kalau gitu. Aku, Assassin, Insane dan Hurricane masuk dulu, Shadow dan Queen lindungi dari belakang, Mas Jaka back up sisanya,” ujar Budi yang menjadi pemimpin operasi pagi ini.

“Siap!” jawab mereka serentak.

Are you ready guys? Let’s have a party started!

Budi dan ketiga rekannya langsung bergerak maju, sementara itu Shadow dan Queen mengikuti di belakang mereka. Dengan gerakan yang cepat dan gesit mereka menembus gelapnya pagi itu, hingga kini sudah berada tak jauh dari gerbang villa yang masih tertutup rapat. Sepanjang jalan mereka sempat melihat beberapa senjata dan kamera pengawas yang sudah dilumpuhkan oleh Budi sebelumnya.

“Jak, yang aku kasih tahu tadi, udah kamu lihat?” tanya Shadow dari radionya.

Lihat kok, udah aku habisi juga mereka.

“Loh Jak, kamu udah mulai duluan? Wah dasar brengsek!” sahut Insane sewot karena tanpa sepengetahuan mereka Jaka sudah memulai dulu aksinya.

Hahaha sorry guys, daripada nunggu nanti, mending aku matiin mereka dulu, biar nggak bikin repot.

“Yaudah nggak masalah, justru bagus. Ayo kita mulai,” ujar Budi memberikan kode kepada Hurricane untuk menembakkan pelontar granat ke gerbang villa itu.

BLAAAAAAARRRRRR

Terdengar suara ledakan yang cukup keras bersamaan dengan hancurnya gerbang villa yang seketika membuatnya hancur berantakan. Terdengar pula teriakan beberapa orang yang berada di sekitar gerbang dan terkena ledakan. Meskipun sudah bersiaga namun tampaknya mereka kurang siap dengan serangan semacam ini.

“Oke kita maju! Shadow, Queen, cover up!

Budi segera maju bersama ketiga temannya setelah memberi instruksi. Kehadiran mereka berempat langsung disambut oleh tembakan dari beberapa orang yang sudah sedari tadi bersiap di sekitar gerbang.

“Aakh…” “Aakh…” “Aakh…”

Beberapa orang langsung tergeletak dengan kepala tertembus timah panas meskipun Budi dan ketiga temannya belum menembak sama sekali. Rupanya Jaka sudah beraksi duluan untuk melindungi keempat rekannya itu agar bisa merangsek lebih ke dalam. Beberapa kali Jaka menembakkan senapa serbunya. Meskipun dari jarak yang cukup jauh, namun tak satupun dari tembakannya yang meleset, semua tepat mengenai kepala lawannya.

“Ada sniper… Ada sniper… cepat lapor boss.”

Seseorang berlari mencari Bastian untuk melaporkan serangan jarak jauh yang menewaskan beberapa rekannya. Namun belum jauh orang itu berlari badannya sudah tersungkur ke tanah dengan kepala bagian belakang tertembus peluru, membuat beberapa orang di sekitarnya panik. Saat suasana lawan menjadi kacau giliran Budi dan ketiga rekannya membombardir kawanan penjahat itu dengan senapan serbu mereka.

DOORR… DOORR… DOORR…

Suara rentetan tembakan yang begitu ramai terdengar jelas, bersamaan dengan jatuhnya beberapa orang dengan kondisi tubuh penuh dengan luka tembak. Melihat hal ini, beberapa orang yang mentalnya lemah menjadi semakin panik dan berusaha menghindar, namun nasib mereka kemudian tak jauh beda dengan teman-temannya yang lain, tersungkur di tanah dengan badan bersimbah darah.

Sementara itu Bastian dan Rio yang masih berada di ruang kontrol bersama dengan Steve dan David sebenarnya melihat itu semua melalui sebuah kamera pengawas yang terpasang di dalam lingkungan villa. Kamera pengawas itu tidak terhubung dengan jaringan yang sudah berhasil diretas oleh Budi sehingga masih bisa beroperasi dengan normal. Mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana para anak buahnya dibantai, namun belum melakukan tindakan apapun.

Semua itu adalah bagian dari rencana Bastian. Orang-orang yang ditaruh di bagian depan ini memang hanyalah anggota baru yang sengaja dikorbankan agar para anggota Vanquish merasa berada di atas angin. Juga dengan beberapa orang yang terbunuh oleh sniper, Bastian sengaja membiarkannya untuk memberi kesempatan kepada Jimmy dan Ferdi, oknum polisi yang dia tugaskan menjadi sniper di pihaknya, untuk mencari keberadaan sniper milik tim Vanquish sehingga bisa segera menyerangnya.

“Gimana Bas? Mereka udah mulai tuh,” tanya Rio yang sedikit gelisah karena lawan yang mereka tunggu sudah beraksi.

“Tahan dulu, baru keliatan 4 orang doang, 4 orang lagi sama pimpinan mereka belum muncul,” jawab Bastian dengan santainya.

“Jimmy sama Ferdi gimana?”

“Belum ngabarin, mungkin mereka masih nyari sniper-nya Vanquish. Kalau udah ketemu pasti mereka ngasih tahu dulu.”

“Tapi masa belum ketemu sih Bas? Udah berapa orang nih anak buah kita jadi korban sniper itu?”

“Tunggu aja bentar lagi. Kalau perkiraan gue nggak salah, sniper ini emang agak jauh posisinya dari sini. Gue yakin dia bukan orang biasa, dan senapan yang dia pakai pasti bukan senapan biasa.”

“Sejauh apa sih emangnya? Paling mentok kan 2 Km, tuh lihat tembakannya kena kepala semua.”

“Maksimal 2 Km itu buat sniper biasa Yo, gue yakin dia lebih dari itu, makanya gue udah pasang beberapa orang buat nyari dan habisin dia.”

“Beberapa orang gimana? Cuma Jimmy sama Ferdi kan?”

“Lu pikir kalau cuma ngandalin mereka berdua bakal beres gitu urusannya? Yang ada mereka berdua bisa mati duluan bego!”

“Lha terus siapa lagi emangnya?”

“Ada lah, beberapa anak buah Pak Arjuna yang berhasil kita paksa buat ikut di pihak kita. Mereka udah gue sebar, tinggal tunggu aja waktunya, sampai sniper-nya Vanquish bisa kita habisi.”

Bastian dan Rio kembali melihat ke layar monitor yang menampilkan Budi beserta ketiga temannya yang memakai topeng terus menembakkan senapan serbu ke arah anak buah mereka. Beberapa orang juga roboh dengan luka tembak di kepala akibat ulah dari sniper yang belum diketahui keberadaannnya hingga kini. Lama kelamaan hal itu membuat Bastian heran, seharusnya Jimmy dan Ferdi sudah bisa menemukan posisi sniper itu jika dilihat dari serangan yang dia lakukan.

“Dave, coba sambungkan ke Jimmy dan Ferdi,” perintah Bastian kepada David, merasa benar-benar ada yang janggal.

“Oke, bentar boss,” David kemudian mengotak-atik keyboard komputernya, lalu menyerahkan sebuah earphone kepada Bastian.

“Jimmy, Ferdi, mana laporannya? Udah ketemu belum sniper itu?” panggil Bastian melalui alat komunikasi yang dipegangnya, namun tak ada jawaban dari keduanya.

“Jimmy, Ferdi, kalian dengar suaraku?” kembali tak ada jawaban dari kedua orang itu, membuat mereka berempat merasa sesuatu sudah terjadi.

Shit! Sepertinya mereka berdua malah udah dihabisi duluan sama sniper itu!” maki Bastian. Rio, Steve dan David pun merasa demikian.

“Terus gimana Bas?”

“Hubungkan sama yang lain!” perintah Bastian kembali kepada David. Setelah beberapa saat David kembali sibuk dengan komputernya, dia memberi kode jempol kepada Bastian.

“Roni, Agus, kalian dengar?”

Yaa boss, masuk.

“Kalian udah dapat posisi sniper itu?”

Belum boss. Kami kan masih nunggu info dari boss.

“Sialan. Yaudah, sekalian cari, begitu ketemu langsung aja habisi!”

Baik boss.”

Bastian terdiam sejenak. Dia berpikir sejak kapan posisi Jimmy dan Ferdi diketahui sehingga bisa dengan cepat dihabisi oleh sniper-nya Vanquish. Padahal jika dilihat dari tempat yang sudah disiapkan, posisi mereka berdua seharusnya aman.

“Steve, segera aktifkan lagi senjata otomatis kita. Mungkin keempat orang lainnya yang belum masuk ke gerbang villa sedang menunggu di sekitar sana.”

“Oke boss.”

Kini gantian Steve yang sibuk dengan komputernya, mencoba kembali mengambil alih jaringan yang tadi sudah dibobol oleh Budi. Jika sekarang Budi sudah berada di dalam gerbang, maka seharusnya mereka akan lebih mudah mengambil lagi kendali atas jaringannya. Namun setelah beberapa kali mencoba, Steve terlihat cukup gusar. Dia kesulitan untuk kembali masuk ke jaringannya sendiri.

“Kenapa?” tanya Bastian menyadari ada yang tidak beres dengan Steve.

“Sulit boss, saya nggak bisa masuk. Sepertinya penyerang kita yang satunya lagi sudah mengunci jaringan kita dan mengambil alih sepenuhnya.”

“Loh kok bisa? Jaringan itu kan perlu kode khusus untuk bisa diambil alih sepenuhnya, dan yang tahu kode itu cuma kita bertiga kan?”

“Itu dia masalahnya boss. Saya sama sekali nggak bisa masuk ke jaringan, sepertinya orang itu sudah merubah kodenya.”

What the fuck! Seharusnya cuma Budi yang bisa menyadari dan melakukan itu semua, tapi sekarang dia sedang berada disini. Kerjaan siapa lagi ini?!” Bastian mulai terlihat gusar karena rencananya mulai berantakan.

“Gue yakin ini pasti kerjaan si Unknown Bas. Terus gimana selanjutnya?” tanya Rio sedikit membuat Bastian terdiam. Dia memikirkan langkah strategis yang bisa diambil dengan cepat disaat-saat seperti ini.

“Yo, hubungi Mata Angin, pantau sampai dimana keberadaan mereka sekarang. Steve tetap disini dan usahakan sebisa mungkin kembali mengambil alih jaringan kita. David ikut aku, siapkan senjata kita, Tono dan yang lain sudah menunggu disana. Rio, habis ini lu susul gue.”

Bastian dan David pun segera beranjak dari ruang kontrol ini meninggalkan Steve dan Rio. Steve terlihat sedikit kebingungan dengan jaringan yang dia buat itu. Dia mencoba segala cara yang dia bisa untuk kembali mengambil alih namun selalu gagal. Sedangkan Rio nampak sedang menghubungi keempat Mata Angin yang tadi sudah diperintah untuk segera menyusul ke atas, namun beberapa kali telponnya tidak diangkat.

“Kemana sih mereka ini, kok nggak ada yang ngangkat? Jangan-jangan terjadi sesuatu lagi,” gumam Rio sambil masih tetap mencoba menghubungi keempat Mata Angin itu. Setelah beberapa saat akhirnya Yandi, salah satu Mata Angin mengangkat telponnya.

Halo Bang Rio.

Rio sedikit terkejut karena selain mendengar suara Yandi yang sepertinya sedang panik, dia juga mendengar suara yang sangat ramai di belakangnya. Suara-suara teriakan dan juga tembakan campur aduk menjadikannya begitu kacau.

“Yan kalian dimana? Itu ada apa kok rame banget?”

Bang kami diserang polisi, jumlah mereka lumayan banyak.

Tuutt… Tuutt… Tuutt…

Tiba-tiba sambungan telpon mereka terputus. Rio terdiam namun pikirannya mulai kacau. Bagaimana bisa pasukan yang mereka persiapkan dari bawah diserang oleh polisi? Bagaimana polisi bisa mengetahuinya? Dan bukankah Bastian tadi sudah bilang kepadanya kalau orang-orang di kepolisian yang merupakan anak buah Arjuna sudah diperintah untuk mengulur waktu? Lalu siapa yang menggerakkan polisi-polisi ini sehingga bisa mencegat bahkan menyerang anak buahnya?

Tak mendapat jawaban sedikitpun dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya, Rio segera bergegas menyusul Bastian untuk memberitahukan hal ini. Sebelumnya dia berpesan kepada Steve untuk tetap melanjutkan pekerjaannya. Rio segera keluar dan berlari menuju ke tempat dimana Bastian, David dan Tono sedang mempersiapkan diri mereka. Dia sempat melihat beberapa anak buahnya yang terkapar dengan tubuh bersimbah darah, dan juga baku tembak yang masih terjadi antara anak buahnya dengan keempat anggota Vanquish yang telah berhasil masuk ke dalam gerbang villa ini.

“Bas, gawat Bas!” teriak Rio ketika dia sudah masuk ke ruangan itu, yang membuat terkejut Bastian, David dan Tono.

“Gawat apaan? Ada apa?”

“Mata Angin dan orang-orang kita dari bawah diserang sama polisi.”

“Apa?”

Mereka pun saling berpandangan satu sama lain. Mereka punya pertanyaan besar yang sama dengan Rio. Bagaimana para polisi itu bisa tahu tentang keberadaan dan pergerakan anak buah yang sudah mereka persiapkan dari bawah? Dan yang paling penting juga, siapa yang menggerakkan semua polisi itu?

****
Few Moments Earlier

“Jadi kita nunggu disini aja Mas?”

“Iya Pai, sesuai dengan arahan dari Mas Marto tadi. Disini sepi, cukup jauh dari pemukiman, jadi bisa menghindarkan adanya korban jiwa dari warga sipil. Yang lain udah siap kan?”

“Beres Mas, seperti yang diminta, mereka udah siap semua. Kalau informasi kali ini akurat, kami benar-benar akan habis-habisan, kami ingin membalas dendam untuk semua yang sudah mereka lakukan selama ini.”

“Ya benar itu Mas Fadli, kita udah berkali-kali dipermalukan mereka, sekarang saatnya untuk balas dendam. Memang agak susah meyakinkan orang-orang kita, tapi begitu kami bilang info ini dari Mas Fadli, mereka langsung siap.”

“Sebenarnya aku juga nggak bisa bilang info ini pasti benar Pai, Zi. Tapi sepertinya Mas Marto dan Ichi yakin benar dengan info ini. Lagipula, orang itu tadi yang nyelametin kita kan. Udah, kita tunggu aja dulu.”

Saat ini Fadli bersama dengan Paidi, Fauzi dan Nickolai serta para anak buahnya sedang menunggu di sebuah tempat yang cukup sepi di jalan menuju ke kawasan Kaliurang. Tadi saat mereka hendak melakukan pengintaian di sebuah villa yang lokasinya cukup terpencil, tiba-tiba seseorang muncul di hadapan mereka.

Orang itu memakai pakaian yang serba hitam, bahkan wajahnya pun tertutup topeng. Tak ada satupun dari mereka yang mengenali orang itu. Sempat berpikir bahwa dia adalah musuh, mereka sudah bersiap untuk menyerangnya, namun kemudian orang itu mengatakan bahwa mereka di pihak yang sama. Dia bahkan memberitahu kalau sedikit lagi mereka masuk lebih dalam, bisa berakibat fatal.

Orang misterius itu kemudian memperlihatkan kondisi di sekitar villa yang sudah dipenuhi oleh puluhan senjata otomatis yang dikendalikan dari jarak jauh. Paidi dan Fauzi yang ikut dalam operasi penggerebekan kelompok Mata Angin yang berakhir memalukan beberapa waktu sebelumnya tentu saja ngeri dengan kondisi itu. Pada akhirnya mereka berterima kasih kepada orang itu karena telah menyelamatkan mereka.

Selanjutnya orang itu memberikan informasi yang cukup mengejutkan, terkait dengan kawanan kelompok Mata Angin yang berada di bawah, dan perkiraan kelompok itu melakukan pergerakan di pagi hari menjelang subuh. Dia meminta mereka untuk mempersiapkan anak buah guna menghadang kelompok itu dan sekalian menghabisinya.

Awalnya mereka sempat curiga, dan berprasangka bahwa ini adalah salah satu jebakan yang sudah dipersiapkan oleh kelompok Mata Angin. Namun kemudian orang itu mengajak Marto dan Ichi untuk menjauh dan membicarakan sesuatu. Setelah kembali terlihat bahwa Marto dan Ichi begitu yakin dengan apa yang dikatakan oleh orang itu. Lalu mereka kembali ke penginapan sambil merencanakan apa yang akan dilakukan.

Selanjutnya tanpa menunggu lebih lama mereka membereskan barang-barangnya dan kembali turun ke bawah. Paidi, Fauzi dan Nickolai ditugaskan untuk mengumpulkan anak buah yang bisa dipercaya. Mereka diminta melakukan itu tanpa memberitahu satu orangpun petinggi kepolisian. Sedangkan Fadli ditugaskan untuk memimpin mereka semua dalam penyerangan kali ini.

Sementara itu, Marto dan Ichi entah apa yang mereka lakukan, baik Fadli maupun ketiga rekannya itu tidak tahu. Yang mereka tahu adalah Marto dan Ichi terlihat kembali ke atas dengan membawa sebuah tas besar. Mereka berpikiran bahwa yang dibawa oleh Marto dan Ichi itu tak lain adalah senjata.

Meskipun masih bertanya-tanya, namun akhirnya Fadli mengikuti saja rencana yang sudah dibuat. Dia tahu kapasitas kemampuan Marto seperti apa, sedangkan Ichi sebagai seorang agen interpol pasti bukanlah orang sembarangan. Hal itu terbukti dengan persiapan super cepat yang dia lakukan ketika mereka melakukan penyamaran untuk bisa mengelabuhi petugas penjaga loket kawasan Kaliurang sebelumnya.

Fadli memperkirakan, akan terjadi perang besar di atas sana. Dan entah siapapun orang-orang yang bersama Marto dan Ichi, mereka pasti sudah jauh lebih siap dibandingkan dirinya dan para anak buahnya. Kini yang bisa mereka lakukan adalah menunggu kawanan penjahat itu. Menurut info yang mereka terima, para penjahat itu akan diangkut dengan 3 atau 4 buat truk, dan diperkirakan jumlah mereka mencapai 100 orang.

Sedangkan jumlah pasukan yang sekarang dibawa oleh Fadli dan ketiga rekannya tak lebih dari 60 orang saja. Namun meskipun kalah jumlah, mereka yakin bisa mengatasi para penjahat itu. Anak buah yang dibawa oleh Paidi, Fauzi dan Nickolai sebagian besar adalah mereka yang melakukan penggerebekan beberapa waktu yang lalu. Mereka orang-orang terpilih dengan kemampuan diatas rata-rata, sehingga optimis bisa mengalahkan kelompok Mata Angin.

Ditambah lagi motivasi mereka semakin besar karena dua hal. Yang pertama adalah ketika mendengar nama Fadli disebutkan. Sebelum pindah tugas 3 tahun yang lalu, Fadli adalah pimpinan mereka saat melakukan operasi di peristiwa malam tahun baru berdarah. Mereka semua sangat menghormati Fadli, sehingga begitu tahu Fadli ada disana mereka semakin yakin bahwa informasi yang diberikan itu adalah benar.

Hal kedua yang memotivasi mereka tentunya adalah keinginan untuk membalas dendam kepada kelompok Mata Angin. Mereka tak peduli jika nantinya mendapat hukuman karena telah bertindak sendiri tanpa ada instruksi resmi dari kepolisian. Mereka bahkan tak peduli jika harus berkorban nyawa, yang mereka inginkan sekarang hanyalah menumpas habis Mata Angin dan seluruh anak buahnya.

Setelah hampir satu jam, akhirnya yang ditunggu datang juga. Orang-orang yang ditempatkan beberapa kilometer dari mereka memberi info bahwa ada 4 buah truk yang menuju ke atas. Terlihat bahwa truk-truk itu mengangkut cukup banyak orang, dan mereka meyakini itu adalah kelompok Mata Angin, karena ciri-ciri dari keempat truk itu sama persis dengan informasi yang mereka dapat.

Mendapat informasi itu mereka semua bersiap. Fadli sudah memerintahkan jika truk-truk itu melintas, maka mereka langsung saja menghujaninya dengan tembakan. Fadli mengatakan kepada para anak buahnya itu untuk melakukan apapun yang mereka inginkan, termasuk memperbolehkan mereka membunuh para penjahat itu, dan dialah yang nantinya akan mempertanggung jawabkan semuanya.

Tak lama kemudian mereka bisa melihat dan mendengar truk-truk itu semakin mendekat. Mereka menggenggam erat senjatanya masing-masing. Seringai senyum terlihat di wajah mereka semua, seringai yang penuh dengan aura membunuh. Hingga akhirnya sebuah truk melintas di depan mereka, serentak mereka menembakkan senjata yang bawa.

DOORR… DOORR… DOORR…

Serangan yang tiba-tiba itu berhasil membunuh supir dan dua orang lagi yang berada di kabin depan truk pertama, membuatnya sedikit oleng hingga menabrak sebuah pohon. Mendapatkan serangan itu membuat ketiga truk yang berada di belakangnya berhenti, semua orang yang diangkut pun segera turun dengan senjata mereka masing-masing.

DOORR… DOORR… DOORR…

Begitu para penjahat itu turun langsung saja mereka dihujani dengan tembakan dari para polisi yang sudah bersiap. Kawanan penjahat yang bingung itu membalas tembakan dengan asal, karena tidak mengetahui posisi orang-orang yang menyerang mereka. Tentu saja para polisi ini sudah bersiap di tempat yang aman dari serangan, sehingga tembakan-tembakan yang dilepaskan oleh para penjahat itu tak satupun mengenai mereka.

Baku tembak itu berlangsung cukup sengit. Puluhan orang dari pihak kelompok Mata Angin terkapar di jalanan dengan tubuh bersimbah darah. Beberapa orang yang rupanya adalah keempat Mata Angin, pimpinan mereka, nampak memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk mencari tempat berlindung. Mereka benar-benar tak menyangka akan mendapat serangan seperti ini.

Kelompok Mata Angin, keluar dari persembunyian kalian dan menyerahlah, atau kami akan menghabisi kalian semua!

Tiba-tiba terdengar suara Fadli dari pengeras suara yang dipegangnya. Dia mencoba untuk memancing para penjahat itu keluar dan menangkap yang tersisa.

“Persetan dengan kalian semua. Kamilah yang akan menghabisi kalian polisi-polisi jahanam!” Yandi membalas gertakan dari Fadli dan malah menantang mereka.

Baiklah kalau itu yang kalian mau. Jangan salahkan kami kalau hari ini adalah hari terakhir dalam hidup kalian!

DOORR… DOORR… DOORR…

Begitu Fadli terdiam langsung terdengar kembali suara tembakan dari para polisi. Mereka menembaki kelompok Mata Angin dari kedua sisi jalan, sehingga para penjahat itu tak bisa lagi berlari dan sembunyi. Beberapa orang yang naik di bak truk pun akhirnya berakhir tragis karena diberondong tembakan oleh para polisi itu.

Anggota kelompok Mata Angin mencoba membalas sebisanya namun kembali tak satupun dari tembakan mereka yang menemui sasaran. Hingga akhirnya sebuah pemandangan mengerikan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu kembali terulang disini. Puluhan mayat bergelimpangan. Bau anyir darah yang mengalir dari tubuh mereka begitu pekat, namun tak menghentikan aksi dari para polisi itu.

Mereka justru semakin bersemangat untuk menghabisi para penjahat itu. Dendam dan kemarahan mereka yang sudah begitu bertumpuk dilampiaskan habis-habisan pagi itu. Fadli, Paidi, Fauzi dan Nickolai pun demikian. Mereka sampai harus mengisi ulang amunisi senjatanya setelah beberapa kali menembak dan semuanya tepat mengenai sasaran.

Baku tembak baru berhenti ketika hanya tinggal tersisa beberapa orang saja dari para penjahat itu. Mereka masih tak mau menyerah meskipun sudah kehabisan peluru. Para polisi akhirnya merangsek maju, mendekati para penjahat yang masih bersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak itu. Mereka tetap menjaga kewaspadaannya jika para penjahat itu menyerang dengan tiba-tiba.

Dan benar saja, beberapa orang akhirnya keluar dengan membawa senjata tajam dan menyerang membabi buta ke arah polisi. Tentu saja polisi dengan mudah melumpuhkan mereka, beberapa tembakan bersarang di tubuh dan kepala para penjahat nekat itu. Satu dua orang yang posisinya sudah terlanjur dekat terpaksa diladeni dengan pertarungan fisik. Namun bukan menjadi persoalan bagi para polisi yang memiliki kemampuan beladiri yang cukup mumpuni itu. Hanya dengan beberapa gerakan saja para penjahat itu sudah berhasil dilumpuhkan dan berakhir dengan kehilangan nyawa mereka.

Kini hanya tersisa 4 orang dari kawanan penjahat itu, mereka tak lain adalah Yandi, Tanto, Maman dan Aris, para Mata Angin. Dengan berani mereka keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah para polisi itu. Di bawah todongan senjata, mereka menantang para polisi untuk melakukan pertarungan satu lawan satu.

“Kalau kalian memang jantan, lawan kami dengan tangan kosong. Kita bertarung sampai mati!” ucap Yandi mewakili teman-temannya. Mereka membuang senjata yang dibawa karena memang sudah kosong kehabisan peluru.

“Boleh juga nih, udah lama nggak duel satu lawan satu kayak gini. Lebih greget,” jawab Fadli sambil menyerahkan senjatanya ke salah satu anak buahnya.

“Oke, kami layani permintaan kalian, kita lihat seperti apa kehebatan para Mata Angin,” Fauzi pun melakukan hal yang sama dengan Fadli, diikuti oleh Paidi dan Nickolai.

Kini keempat pimpinan kelompok Mata Angin itu sudah berhadapan dengan keempat pimpinan polisi yang melakukan operasi pagi ini. Yandi melawan Fadli, Tanto melawan Fauzi, Maman melawan Paidi dan Aris melawan Nickolai. Mereka sudah bersiap dengan kuda-kudanya masing-masing.

Yandi segera maju menyerang, sebuah pukulan diarahkan ke wajah Fadli, namun dengan sebuah gerakan ringan Fadli berhasil menghindarinya. Fadli menyerang balik dengan mengarahkan pukulannya ke arah perut Yandi, namun Yandi ternyata sudah menebaknya dan berhasil menangkis. Baku pukul dan saling tangkis terjadi diantara keduanya, rupanya mereka berdua sama-sama kuat.

Bersamaan dengan itu, Tanto juga mulai menyerang Fauzi. Tanto sempat meremehkan Fauzi yang memang bertubuh lebih kecil darinya itu. Beberapa kali Tanto mengarahkan pukulan dan tendangannya kepada Fauzi, namun dengan gerakan yang cukup lincah semua itu bisa dihindari. Tanto menyerang dengan membabi buta sehingga membuat Fauzi sedikit kesulitan untuk membalasnya. Pada sebuah kesempatan, sedikit terbuka celah di pertahanan Tanto yang terlihat oleh Fauzi, dengan gerakan yang sangat cepat dia berhasil memasukkan pukulannya telak di wajah Tanto.

“Anjing! Kecil kecil lumayan juga pukulanmu!”

“Haha, jangan kira karena tubuhku kecil terus nggak ada tenaganya yaa, kamu bakal nyesel kalau punya pikiran kayak gitu.”

Tanto pun mulai menyadari kesalahannya, dia merubah pandangannya terhadap Fauzi, tak lagi meremehkannya. Dia kembali menyerang seperti tadi, membuat Fauzi sedikit kewalahan menahannya. Tanto juga tak membiarkan ada celah lagi yang bisa dimanfaatkan oleh Fauzi. Posisinya yang mulai terdesak tak membuat Fauzi kehilangan akal. Saat Tanto melancarkan pukulannya dengan sigap Fauzi bergerak memutar hingga kini berada di belakang Tanto. Menyadari bahaya di belakangnya, Tanto pun dengan cepat membalik badannya, namun saat baru saja menghadap ke arah Fauzi, sebuah pukulan telak mengenai dagunya, membuatnya sedikit limbung dengan rasa sakit luar biasa.

Tak jauh dari mereka, Maman juga sedang melancarkan serangannya kepada Paidi. Keduanya juga terlihat berimbang. Paidi beberapa kali terkena pukulan dari Maman, namun dia juga berhasil menyarangkan pukulannya di dada dan wajah Maman. Mereka berdua saling jual beli pukulan tanpa terlalu memperhatikan pertahanannya.

Terlihat bibir Paidi sedikit mengeluarkan darah, sedangkan pelipis Maman juga robek terkena beberapa pukulan dari Paidi. Namun hal itu tak menghentikan perkelahian mereka. Seolah tidak merasakan sakit di luka-lukanya, mereka terus menyerang lawannya dengan membabi buta. Pertahanan Paidi yang sedikit terbuka membuat Maman berhasil membuat pelipisnya terkena pukulan hingga robek, namun disaat yang bersamaan Paidi berhasil menyarangkan sebuah uppercut telak di dagu Maman, hingga keduanya mundur beberapa langkah.

Perkelahian antara Aris dan Nickolai juga tak kalah seru. Jika ketiga perkelahian yang lain lebih banyak mengandalkan pukulan, Aris dan Nickolai lebih mengandalkan tendangan-tendangan mereka. Aris yang lebih tinggi dan jangkauan kaki yang lebih panjang sedikit membuat Nickolai kewalahan. Nickolai kemudian merapatkan jarak untuk mengurangi efek dari serangan Aris, sekaligus untuk menyerangnya balik.

Tendangan-tendangan dari Aris berhasil ditangkis, dan sebuah tendangan kaki kanan Nickolai telak mengenai bagian perut Aris hingga membuatnya hampir terjatuh. Disaat Nickolai menghampiri untuk memberikan serangan lanjutan, Aris sudah bersiap dan dengan kakinya yang panjang menendang ke arah kepala Nickolai. Tendangan itu berhasil ditahan meskipun karena saking kuatnya sempat mengenai kepala Nickolai. Aris menyerang lagi dengan mengarahkan pukulannya namun Nickolai berhasil berkelit dan membalas pukulan Aris yang tepat mengenai dadanya.

Sementara keempat penjahat dan keempat polisi ini bertarung, para polisi yang lain terus menyaksikan dan tetap bersikap waspada. Mereka memeriksa lagi kondisi di sekitar memastikan tidak ada dari penjahat-penjahat itu yang masih hidup.

Kembali pada pertarungan Yandi dan Fadli. Keduanya masih terlihat sama kuat dan sama-sama belum berhasil menyarangkan pukulan di tubuh lawannya. Namun nafas Yandi rupanya sudah mulai ngos-ngosan, berbeda dengan Fadli yang masih nampak fit. Fadli melihat ini sebagai sebuah kesempatan, hingga kemudian dia mengambil alih serangan dengan melancarkan berbagai kombinasi pukulan.

Yandi terlihat mulai kewalahan. Beberapa pukulan berhasil bersarang di tubuh dan wajahnya meski tidak terlalu telak. Yandi berusaha membalas namun tak satupun pukulannya berhasil mengenai Fadli. Merasa di atas angin Fadli semakin banyak melancarkan pukulannya, namun hal itu justru membuatnya lengah sehingga pertahanannya mulai terbuka. Yandi melihat sebuah kesempatan dan melayangkan tendangan yang cukup telak mengenai perut Fadli.

Fadli terdorong mundur beberapa langkah karena tendangan itu, namun beruntung Yandi tidak melakukan serangan lanjutan karena masih mengatur nafasnya. Hal ini membuat Fadli mempunyai kesempatan untuk memulihkan rasa sakit di perutnya itu. Tak lama kemudian dia kembali menyerang Yandi, tak ingin memberi kesempatan pada penjahat itu untuk mengembalikan staminanya yang sudah semakin terkuras.

Fadli langsung saja mengarahkan pukulannya ke wajah Yandi. Sempat menangkis, namun Yandi tak menyangka bahwa pukulan itu hanya sebagai pengalih saja, karena selanjutnya Fadli menyerangkan pukulan tepat di ulu hatinya. Saat dia mengerang kesakitan dan terbuka pertahanannya, Fadli langsung menambah penderitaannya dengan sebuah uppercut yang telak menghantam dagunya. Seketika tubuh Yandi roboh. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Fadli segera menghampiri dan memukuli wajah Yandi hingga bibir dan hidungnya mengeluarkan darah segar.

Namun ternyata Yandi tak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa tenaganya dia menjejakkan kakinya di perut Fadli lagi hingga membuat Fadli kembali terdorong mundur. Dengan cepat Yandi bangkit dan menyerang Fadli, namun Fadli yang sudah memperkirakan ini menghindar dengan cukup gesit. Dia berputar hingga berada di belakang Yandi. Yandi telat menyadarinya saat sebuah tendangan di punggung membuat tubuhnya kembali roboh dengan posisi tengkurap. Belum sempat bangkit dia merasakan tubuhnya ditindih oleh Fadli, kemudian tangan Fadli memegang kepalanya.

“Selamat beristirahat di neraka, kawan!”

KRAAAAAAKKK…

Terdengar bunyi tulang patah dari leher Yandi yang diputar paksa oleh Fadli. Seketika itu pula Yandi meregang nyawanya di tangan Fadli. Terlihat kedua matanya melotot, membuat ngeri siapa saja yang melihat.

Sementara itu, Fauzi yang tadi sempat berada di atas angin karena berhasil menyerang Tanto kini dibuat sedikit kerepotan. Tanto yang mulai menganggap serius pertarungan ini bahkan sempat membuat wajah Fauzi lebam akibat beberapa pukulannya, sementara selain dua pukulan yang dia terima sebelumnya, belum ada lagi pukulan-pukulan Fauzi yang berhasil menembus pertahanannya.

Tanto menggunakan dengan baik kedua tangan dan kakinya untuk bertahan dari serangan Fauzi, apalagi dengan jangkauan tangan dan kaki Fauzi yang tidak terlalu panjang, membuatnya harus memperpendek jarak mereka berdua. Akibatnya Tanto justru lebih mudah melancarkan pukulannya.

Berbeda dengan Yandi, Tanto ini memiliki stamina yang cukup baik. Tubuhnya masih cukup fit meskipun sudah berkali-kali meyerang Fauzi tanpa jeda. Fauzi yang sedari tadi hanya menghindar juga bisa menyimpan cukup banyak tenaganya sembari memikirkan cara untuk bisa merobohkan lawannya ini. Fauzi masih bersabar menghadapi serangan-serangan Tanto sambil mencari celah yang bisa dia manfaatkan.

Tanto sendiri yang menyadari keunggulan Fauzi dari segi kecepatan dan kelincahan mencoba mengatasinya dengan terus melakukan serangan dan tak memberi ruang yang cukup bagi Fauzi. Dia juga masih menjaga kewaspadaannya jika Fauzi melakukan serangan tiba-tiba seperti saat pertama kali dia terkena pukulan tadi.

Pada akhirnya kesabaran Fauzi membuahkan hasil juga. Ketika pertahanannya terlihat sedikit terbuka Tanto menggerakkan kakinya untuk menendang bagian samping tubuh Fauzi. Namun ternyata semua itu hanya pancingan dari Fauzi saja, karena sesaat sebelum tendangan Tanto mengenai tubuhnya, dia menjatuhkan diri sambil melakukan tendangan memutar yang mengenai kaki Tanto yang digunakan sebagai pijakan. Hal itu mau tak mau membuat keseimbangan Tanto goyah hingga terjatuh, dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Fauzi.

Dengan sangat cepat dan gesit Fauzi menyarangkan beberapa pukulan di wajah Tanto, membuat pelipis dan bibirnya robek. Saat kedua tangan Tanto digunakan untuk melindungi wajahnya, dua buah pukulan beruntun dari Fauzi bersarang telak di ulu hatinya. Tanto berusaha mendorong Fauzi dan berhasil membuanya mundur beberapa langkah. Dia kemudian berusaha untuk bangkit. Kedua pelipisnya yang robek dan mengeluarkan darah membuat pandangannya sedikit kabur.

Tanto tak dapat melihat dengan jelas saat Fauzi bergerak, hingga kembali sebuah pukulan telak bersarang di ulu hati membuatnya terbungkuk menahan sakit. Saat itu dia merasa kepalanya dipegang oleh Fauzi, dan akhirnya sebuah hantaman keras dari lutut Fauzi telak mengenai wajahnya, membuat tulang hidungnya patah seketika.

“Aaaarrkkkhhh.”

Terdengar teriakan Tanto sambil memegangi hidungnya. Namun Fauzi tak mau berlama-lama, segera dia dia berlari menghampiri Tanto, kemudian dengan berpijak di tanah dia melompat memberikan tendangan yang bersarang di dagu Tanto, membuatnya limbung ke belakang. Tak hanya sekali, Fauzi mengulangi lagi tendangannya di sisi lain dari dagu Tanto. Sebuah serangan pamungkas dengan lutut, Fauzi berhasil mematahkan tulang leher Tanto sekaligus memisahkan nyawa dari tubuhnya. Tubuh Tanto pun terkapar tak bergerak lagi.

Di tempat lain, Paidi dan Maman wajahnya sama-sama sudah lebam dengan darah yang mengalir. Jual beli pukulan masih terjadi, namun terlihat bahwa Paidi mulai unggul dan mengambil kendali. Pukulan-pukulan Maman yang tadinya selalu bisa mengenai Paidi kini lebih banyak tak menemui sasaran, hingga staminanya semakin terkuras tanpa hasil. Sedangkan Paidi yang sebenarnya staminanya juga mulai terkuras, namun semangatnya semakin tinggi karena melihat lawannya semakin tak berdaya.

Namun tetap saja Maman bukanlah lawan sembarangan. Meskipun dengan luka-luka yang semakin banyak dan stamina yang semakin menurun, tetap sulit bagi Paidi untuk merobohkannya. Tubuhnya cukup kuat menerima pukulan-pukulan dari Paidi. Dia bahkan sempat berhasil memukul mundur Paidi saat mengenai ulu hatinya. Beruntung, Paidi yang mengerang kesakitan masih bisa menahan serangan lanjutan yang dilakukan oleh Maman.

Sebuah pukulan dari Maman sempat mengenai wajah Paidi, namun ketika akan memberikan pukulan susulan tangannya berhasil ditangkap oleh Paidi. Dengan sedikit tarikan berhasil membuat Maman merunduk, dan tanpa diduga olehnya Paidi menyerang tangan itu dengan menggunakan sikunya.

KRAAAAAAKKK…

“Aaaaaarrrggghhhh.”

Teriakan Maman terdengar keras saat siku tangannya berhasil dipatahkan oleh Paidi. Maman langsung menyerang dengan menggunakan tangan kirinya, namun kembali berhasil ditangkap dan diberikan serangan serupa oleh Paidi.

“Aaaaaarrrggghhhh anjiiiiiiing…”

Kembali teriakan Maman pecah saat tangan kirinya juga patah di sikunya. Tak hanya itu, Paidi langsung menarik tubuh Maman, memegang kerah baju dan celananya, lalu dengan kekuatannya Paidi mengangkat tubuh Maman ke atas. Kedua tangan Maman yang patah membuatnya tak bisa banyak melawan. Lalu dengan sebuah gerakan Paidi membanting tubuh Maman kebawah dimana lutut Paidi sudah bersiap menunggu punggungnya.

KRAAAAAAKKK…

Benturan antara tulang punggung Maman dan lutut Paidi membuat tulang punggung itu patah, dan seketika Maman kehilangan nyawanya. Paidi meleparkan begitu saja tubuh Maman yang sudah tak bernyawa itu. Terlihat ekspresi kesakitan yang liar biasa dari kedua mata Maman dan juga mulutnya yang terbuka.

Tak jauh dari situ, Nickolai yang tadi begitu kerepotan menghadapi Aris kini sudah berbalik unggul. Serangan-serangan dari kedua kaki Aris berhasil ditahan dengan baik olehnya. Bahkan tangkisan yang dilakukan oleh Nickolai dengan menggunakan sikunya juga sekaligus merupakan serangan balasan kepada Aris, hingga kini Aris merasa kedua kakinya begitu sakit terkena siku Nickolai.

Aris yang merasa serangan dengan kakinya menjadi sia-sia mulai merubah taktik bertarungnya. Dia sekarang lebih banyak melancarkan pukulan-pukulan. Namun sayang kemampuan Aris dengan tangan tak sehebat ketika dia menggunakan kedua kakinya, sehingga semua serangan Aris dengan mudah mampu dimentahkan oleh Nickolai. Sebaliknya, justru pukulan-pukulan dari Nickolai yang lebih banyak menemui sasaran.

Aris sempat terpukul mundur saat tendangan dari Nickolai mengenai perutnya. Sebelum kembali menyerang dia sempat melihat ketiga kawannya yang telah berhasil dikalahkan oleh lawannya masing-masing. Hal itu menimbulkan kemarahan yang luar biasa dalam dirinya.

“Bangssaaat! Kubunuh kalian semuaaa!”

Aris langsung berlari ke arah Nickolai sambil melayangkan sebuah tendangan. Namun Nickolai dengan tenang berkelit menghindar, dan dengan gerakan cepat sebuah hantaman bersarang telak di wajah Aris. Karena kemarahan akibat kematian teman-temannya, tanpa mempedulikan rasa sakit itu kembali Aris menyerang dengan membabi buta. Namun kembali, Nickolai yang lebih tenang berhasil mengindar dari semua pukulan dan tendangan Aris, membuatnya semakin emosi.

Serangan-serangan Aris yang bersifat sporadis itu justru membuatnya memberikan banyak celah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Nickolai. Beberapa pukulan dan tendangan dari Nickolai berhasil menemui sasaran. Namun lagi-lagi Aris tak mempedulikannya dan terus menyerang, hingga akhirnya sebuah uppercut berhasil membuatnya sedikit limbung.

Tak menyia-nyiakan keadaan itu gantian Nickolai menghujani wajah dan tubuh Aris dengan pukulan dan tendangan tanpa satupun berhasil ditangkis. Sampai kemudian sebuah pukulan Nickolai di dagu membuat tubuh Aris melenting. Nickolai segera meraih tubuh itu, memeluk dan mengangkatnya, lalu dengan keras membantingnya ke jalan aspal.

Bantingan dari Nickolai membuat kepala belakang Aris jatuh terlebih dahulu menghantam aspal, hingga membuat tulang tengkoraknya pecah dan kehilangan nyawa sekekita. Nickolai dengan nafas terengah-engah memandangi tubuh sang lawan yang baru saja dia habisi itu dengan senyum penuh kepuasan. Dia kemudian menatap kearah ketiga rekannya yang juga telah berhasil membunuh lawan mereka masing-masing, dan mendapat acungan jempol dari ketiganya, dan juga sorakan dari semua orang yang sedari tadi hanya menonton pertarungan mereka.

“Gimana? Yang lain udah dipastiin nggak ada yang masih hidup kan?” tanya Fadli kepada para anak buahnya.

“Aman komandan, semuanya sudah berhasil kita habisi.”

“Bagus, misi selesai. Selamat buat kalian,” Fadli tersenyum kepada mereka semua sambil mengacungkan jempolnya.

“Wah, kalau dipikir-pikir kita sadis juga ya Mas, semua kita habisi tanpa sisa gini,” ujar Fauzi, melihat sekelilingnya yang penuh dengan mayat bergelimpangan dengan darah menggenang dimana-mana.

“Yah sesuai dengan pesan orang yang nyelametin kita semalam kan Zi, ruthless and relentless, kejam dan tanpa belas kasihan. Itu harga yang layak untuk mereka, yang selama ini telah melakukan berbagai macam kejahatan dan bahkan mempermalukan pihak kepolisian.”

“Terus sekarang gimana Mas? Apa kita nyusul ke atas?”

“Iya Nick, aku pengen nyusul kesana, tapi sebaiknya cuma kita berempat saja, biarkan yang lain istirahat, sambil mengurus mayat-mayat ini.”

“Gimana, kalian udah denger apa yang dibilang Mas Fadli kan?” tanya Nickolai kepada para anak buahnya.

“Kami ikut instruksi ndan. Kalau komandan perintahkan kami untuk naik, kami akan naik. Tapi kalau kami diperintahkan untuk tetap disini dan mengurusi mayat-mayat ini, kami akan lakukan.”

“Baiklah kalau begitu, urusan disini kami serahkan kepada kalian. Hari sebentar lagi akan terang, akan banyak aktivitas warga. Kalian blokir dulu jalan dari dan ke Kaliurang. Urusi mayat-mayat ini, panggil tim medis jika dirasa perlu. Dan yang paling penting, kalian hilangkan bekas-bekas darah ini, entah gimanapun caranya,” ujar Paidi memberikan instruksi.

“Siap komandan!”

*****

“Bagaimana polisi bisa tahu tentang anak buah kita yang dari bawah boss?”

“Entahlah Dave. Pasti ada yang memberikan informasi dan menggerakan polisi-polisi itu, tapi aku juga nggak tahu siapa orangnya.”

“Apa mungkin itu ulah Marto, Bas?”

“Bisa jadi, tapi yang jelas bukan Marto seorang. Dia pasti nggak tahu informasi ini dengan sendirinya karena sedang sibuk mencari istrinya. Dan dia juga nggak mungkin menggerakkan polisi-polisi itu sendirian, dia nggak punya power untuk itu.”

“Terus siapa?”

“Dia pasti mendapatkan informasi ini dari Vanquish, dan meminta bantuan kepolisian untuk menyerang anak buah kita. Tapi seharusnya Fadli bisa menahannya. Aku sudah menyuruhnya untuk memberikan informasi-informasi palsu kepada Marto supaya dia terpecah fokusnya, tapi kenapa Marto malah bisa menyerang kayak gini. Aah brengsek apa yang sebenarnya dilakukan sama Fadli itu?!”

“Ton, coba hubungi Mata Angin lagi, siapa tahu mereka udah bisa ngatasin polisi-polisi itu. Meskipun banyak yang mati, tapi sisanya suruh langsung naik aja, lumayan buat nyerang Vanquish dari belakang,” ujar Rio memberi perintah kepada Tono.

Tono pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi salah satu dari keempat Mata Angin. Beberapa kali dia mencoba tapi sama sekali tak diangkat, hingga akhirnya saat dia menghubungi nomer milik Aris, baru ada jawaban.

Halo.
“Halo Ris, gimana kondisi disana? Kalian udah bisa beresin polisi-polisi itu kan? Kalau udah cepet naik Ris, bantuin yang disini, berapapun anggota kalian yang tersisa?”

Oh ini Mas Tono ya? Saya bukan Aris, Mas.”
“Loh, lha ini siapa?”

Saya Iptu Nickolai. Disini udah beres, tapi bukan polisi yang dibereskan, melainkan keempat Mata Angin dan semua anak buah kalian. Mereka udah tenang di neraka Mas, semuanya.
“Aa… Apa?”

Oh iya, dan kami juga akan segera naik Mas, untuk membereskan kalian semua, tunggu ya.

Tuutt… Tuutt… Tuutt…

“Gimana Ton? Apa yang terjadi?” tanya Rio melihat perubahan raut wajah Tono.

“Mereka mati, dan nggak ada yang tersisa. Polisi-polisi itu juga sedang naik kemari.”

Fuck… Fuck… Fuck…! Gimana bisa mereka mati semudah itu!” pekik Bastian marah mendengar kabar dari Tono.

Mereka terdiam. Rencana yang sudah begitu rapi dibuat kini satu demi satu mulai berantakan. Dari persenjataan otomatis mereka yang menelan biaya banyak, yang dengan mudah bisa diambil alih oleh Budi dan seorang lagi yang membantunya. Dan kini pasukan dari bawah yang mereka siapkan berhasil diatasi oleh kepolisian hingga tak menyisakan satu orangpun. Saat mereka masih terdiam tiba-tiba Steve masuk ke ruangan itu dengan ekspresi menahan kemarahan.

“Ada apa Steve?”

“Jaringan kita yang diambil alih, tidak bisa lagi saya rebut boss. Mereka bahkan mengirimkan sebuah virus yang menyebabkan kerusakan pada perangkat kita. Sekarang semuanya mati total, termasuk jaringan kamera CCTV yang terpasang di villa ini.”

“Apa? Semudah itu?”

“Iya boss. Saya sudah coba buat mengatasinya, tapi perangkat kita benar-benar mati total, tak bisa lagi digunakan.”

“Siapa lagi yang melakukan ini. Budi berada disini, dan seharusnya dia yang paling berkompeten untuk melakukan ini semua!”

“Jadi, sekarang gimana Bas?”

“Terpaksa, kita hadapi mereka langsung. Steve, kamu persiapkan diri bersama David. Tono dan Rio, kalian pimpin anak buah yang udah disiapkan, serang mereka sebisa kalian. Bunuh semuanya, jangan ada sisa. Aku hubungi dulu sniper kita, biar mereka bisa ikut membantu dari jauh.”

“Terus, ayah kamu sama Pak Arjuna gimana? Sama Martha juga.”

“Ayahku ngurus Ara dan lonte-lonte lainnya. Pak Arjuna ngurus Mila dan keluarga Wijaya. Martha aku minta ngurus anak-anak kecil itu. Dalam kondisi terjepit, kita gunakan mereka semua sebagai tameng.”

“Oke, kalau gitu aku gerak sekarang. Ayo Ton!” ujar Rio mengajak Tono, dan segera meninggalkan ruangan ini untuk menemui para anak buahnya.

Steve dan David kemudian mempersiapkan diri dan senjata mereka. Ada kemarahan yang muncul di dalam diri mereka, karena semua yang telah dilakukan dan dipersiapkan selama ini dengan mudah diatasi oleh pihak lawan. Mereka merasa benar-benar dipermalukan oleh Vanquish. Semakin bertambah besar pulalah dendam dalam diri mereka, setelah sebelumnya dendam itu hanya sebatas untuk membalas kematian ayah mereka belasan tahun silam.

Bastian sendiri terlihat menghubungi beberapa orang yang dia tempatkan sebagai sniper. Dengan dimatikannya semua jaringan yang sudah dia buat, berarti cara satu-satunya adalah dengan menelpon mereka satu persatu. Bastian tahu jarak mereka terlalu jauh dari villa sehingga tidak mungkin untuk meminta bantuan menembaki Budi dan rekan-rekannya yang sudah berhasil merangsek masuk. Dia hanya memberikan instruksi agar tetap mencari sniper milik tim Vanquish, sambil mengamati jika ada polisi yang berhasil naik mendekati villa ini, agar menghabisi mereka sekalian. Bastian juga menghubungi Fuadi, ayahnya, untuk memberitahu situasi terkini yang sedang mereka hadapi.

Setelah itu Bastian juga mempersiapkan dirinya sendiri. Dia masih tak menyangka jika ternyata kemampuan dari tim Vanquish ini lebih dari apa yang dia perkirakan. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menyesal, apalagi mundur. Dia dan McArthur bersaudara sudah siap untuk menghadapi situasi terburuk sekalipun. Mereka sudah menyiapkan rencana pamungkas, namun sebelum itu, mereka harus berusaha untuk melawan tim Vanquish ini sekuat yang mereka bisa.

Rencana pamungkas itu hanya akan dilakukan jika memang pihaknya sudah berada di ambang kekalahan. Tapi dia masih yakin bisa mengalahkan Vanquish dengan kemampuan yang mereka punya saat ini. Mereka bertiga sudah siap. Sesaat saling tatap, merekapun melangkah keluar, untuk menyambut pertarungan terakhirnya.

***
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler