. Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 21 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 21

0
127

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 21

The Team

Budi dan anggota Vanquish lain beserta Zeus masih berada di rumahnya untuk membahas rencana yang akan mereka lakukan. Kehadiran mereka membuatnya sedikit lebih lega, paling tidak bebannya akan sangat terbantu. Komandan yang mereka panggil Zeus ini tak lain adalah ayah mertua dari Filli, kakak perempuan Budi. Karena Zeus inilah Budi bisa masuk ke dalam kelompok yang sekarang berada di rumahnya.

Zeus yang melihat potensi besar yang dimiliki Budi tak mau menyia-nyiakannya, hingga akhirnya Budi yang saat itu masih kuliah dipaksanya untuk mengambil cuti selama 2 semester. Dia membawa Budi ke Nusa Barung, sebuah pulau tak berpenduduk di sebelah selatan Pulau Jawa. Di pulau itulah Budi dilatih dengan sangat keras oleh seseorang yang pada akhirnya dia gantikan. Setelah hampir 6 bulan dilatih untuk bertahan hidup di pulau itu, dia kemudian diberi pelatihan tentang penggunaan berbagai macam jenis senjata. Tiga bulan sisanya dia semakin mengasah kemampuannya di bidang teknologi. Setelah setahun itu, Budi kembali melanjutkan kuliahnya. Namun yang tak diketahui orang lain, Budi kembali sebagai orang yang berbeda, dengan berbagai kemampuan yang telah dia kuasai.

Hanya setahun setelah pelatihannya itu Budi pun secara resmi ditarik ke dalam kelompok itu, menggantikan pelatihnya yang memang usianya sudah tidak muda lagi. Berbagai konsekuensi harus dihadapi oleh Budi semenjak menjadi anggota kelompok itu, termasuk harus meninggalkan kekasihnya dulu untuk kemudian menjalin hubungan dengan Ara, yang bertahan hingga kini.

Sebenarnya tak hanya Budi. Hampir semua anggota kelompok ini pernah mengorbankan sesuatu yang begitu mereka sayangi dan sangat berharga dalam hidup mereka. Bukan hanya anggota yang sekarang, namun anggota-anggota terdahulu juga melakukan hal yang sama. Harta bendanya, keluarganya, anak istrinya, harus rela mereka korbankan demi tugas yang mereka emban.

Sebagai manusia biasa tentu saja muncul pergolakan dalam diri mereka, antara rela atau tidak, antara harus memilih keluarga atau tugasnya. Walau akhirnya selalu berakhir pada pilihan terhadap tugasnya, tak jarang pilihan itu menimbulkan penyesalan yang sangat mendalam. Hal itulah yang kemudian mereka lampiaskan ketika melaksanakan misi. Tanpa belas kasihan, menjadi semboyan mereka selama bertahun-tahun dalam menjalankan tugasnya.

Seperti yang saat ini dirasakan oleh Budi. Dia memang tidak merelakan anak istrinya, maupun orang lain yang saat ini sedang diculik untuk dikorbankan. Namun karena kejadiannya sudah seperti ini, maka di dalam benak Budi sudah terpatri untuk mengakhiri semua ini tanpa meninggalkan satupun orang yang hidup dari pihak musuh, dan tentu saja hal ini diamini oleh teman-temannya.

Budi termasuk anggota yang jarang menjalankan tugas lapangan. Dia lebih banyak dimintai tolong untuk sekedar melacak keberadaan musuh-musuh yang menjadi target mereka, dan untuk urusan ‘pekerjaan kotor’ teman-temannyalah yang bertindak. Namun saat ini, karena keluarganya yang menjadi korban, maka Budi akan turut serta dalam misi ini, bahkan Zeus memintanya untuk berada di posisi depan bersama dengan Jaka. Zeus meminta Jaka menemaninya karena masih khawatir dengan emosi Budi yang belum teruji jika menghadapi hal-hal seperti ini.

Bukan menjadi masalah bagi Budi, karena diapun merasa memang harus ada orang yang berada di dekatnya untuk sekedar mengingatkan atau mengendalikannya nanti. Dan orang yang paling pas dari semua anggota itu adalah Jaka, yang sudah mengenal Budi dengan cukup dekat. Jaka sendiri, yang beberapa tahun sudah membantu Budi saat peristiwa malam tahun baru berdarah, tak lain adalah anak angkat dari Zeus. Dia adalah anggota dari salah satu pasukan elit yang dimiliki oleh negeri ini, Denjaka.

Sore ini, setelah banyak sekali membahas hal-hal yang akan dilakukan nantinya, mereka pun beristirahat sejenak. Sebagian masih nampak berbincang di ruangan itu, sebagaian lagi mempersiapkan peralatan mereka. Selain Zeus, Budi, Jaka dan si pria gondrong, mereka masih memakai topengnya masing-masing. Budi tak masalah dengan itu, namun sebenarnya dia penasaran dengan wajah di balik topeng merah yang selalu dipakai oleh Queen. Rasanya bukan hanya Budi yang penasaran, namun semua anggota yang lain juga. Apalagi Queen menggunakan semacam alat untuk menyamarkan suara aslinya, sehingga mereka benar-benar tidak mengetahui siapa dia sebenarnya.

Namun hanya sebatas itu saja rasa penasaran mereka terhadap Queen, tak ada yang berani bertindak lebih. Karena mereka tahu, kalau sudah marah wanita ini bisa jauh lebih berbahaya dari apapun. Duel satu lawan satu pun mereka tak yakin bisa mengalahkan wanita itu, karena beberapa dari mereka pernah melihatnya berduel dengan beberapa orang sekaligus yang sebenarnya memiliki kemampuan beladiri sangat tinggi. Itupun berhasil dikalahkan dengan mudah olehnya.

Saat sedang berbincang santai, tiba-tiba ponsel Budi berdering. Dilihat layar ponsel pintarnya itu tertera nama Fadli disana. Mungkin Fadli ingin mengabarinya terkait dengan rencananya bersama Marto dan yang lainnya. Karena ingin tahu Budi pun mengangkatnya.

“Halo. Assalamualaikum Mas Fadli.”
Waalaikumsalam. Bud, gawat Bud.

“Gawat kenapa Mas?”
Rumah Pak Wijaya kosong. Mereka semua nggak ada, termasuk polisi yang seharus berjaga. Yang ada cuma seragam-seragam dinas polisi yang berserakan disini.

“Hah? Kok bisa? Sudah menghubungi kepolisian Mas?”
Sudah, baru saja aku telpon Brigjen Alfarizy, dia bilang mau diperiksa dulu. Kamu kalau bisa cepetan kesini.

“Oke oke Mas, aku kesana sekarang.”
Oke Bud, aku tunggu.

“Ada apa Bud?” tanya sang komandan melihat wajah Budi yang terlihat panik.

“Mertua saya dan Sakti menghilang. Di rumah itu cuma ada seragam-seragam polisi berserakan Pak.”

“Wah sial, kita kecolongan. Itu pasti oknum-oknum polisi anak buahnya Arjuna.”

“Maaf Pak, saya harus kesana dulu. Nanti kalau ada apa-apa saya kabarin lagi.”

“Yaudah, hati-hati. Nanti kami juga akan kabari kamu kalau sudah mulai bergerak.”

“Baik Pak.”

Tanpa menunggu lama Budi pun segera meluncur ke rumah mertuanya. Dan benar saja, sesampainya disana dia hanya menemukan Fadli yang duduk terdiam di ruang tamu. Dia juga melihat seragam-seragam polisi berserakan disana, seperti yang disampaikan oleh Fadli tadi.

“Mas, kok bisa gini sih?”

“Aku juga nggak tahu Bud. Tadi sepulangnya aku dari tempat Marto, kondisinya sudah seperti ini. Sialnya kita nggak masang kamera pengawas disini, jadi nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.”

“Kita benar-benar kecolongan. Tapi kok bisa polisi yang datang kesini malah anak buahnya Arjuna ya?”

“Itu dia yang aku bingung, padahal mereka sudah dibagi tugas dan yang seharusnya datang kesini adalah orang-orang yang bisa kita percaya.”

“Brigjen Alfarizy belum ngasih kabar?”

Belum sempat menjawab ponsel Fadli sudah berdering. Ternyata Brigjen Alfarizy menghubunginya. Fadli pun mengangkatnya namun terlihat lebih banyak diam. Nampaknya Alfarizy sedang memberinya penjelasan mengenai apa yang terjadi, dan sepertinya itu bukan hal yang bagus karena beberapa kali Fadli menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian Fadli meletakkan ponselnya setelah hubungan telpon dengan Alfarizy terputus.

“Gimana Mas?” tanya Budi tak sabar.

“Barusan Brigjen Alfarizy ngasih tahu, kalau tadi siang tiba-tiba saja ada perubahan instruksi tentang petugas yang berjaga disini. Dan sekarang, orang yang memberi instruksi itu sudah kabur, hilang entah kemana. Sudah jelas dia adalah antek-anteknya Arjuna. Kita benar-benar salah strategi Bud.”

“Salah strategi gimana?”

“Yah, kita terlalu yakin kalau semua urusan dengan pihak kepolisian sudah beres. Karena itulah mulai hari ini Paidi, Fauzi dan Nickolai dibebastugaskan untuk bergabung denganku dan Marto. Ternyata sepeninggal mereka, ada seorang petinggi disana yang merubah instruksi. Aku nggak nyangka kalau orangnya Arjuna juga berpangkat sama tinggi dengannya, pantas saja dia bisa melakukan itu.”

“Huft, ini bukan salah strategi kalau menurutku Mas, tapi mereka sudah memprediksinya. Atau lebih parahnya, sebenarnya kita sedang menjalankan skenario dari mereka.”

“Kenapa kamu bisa berpikir kayak gitu?”

“Bayangkan saja, timing-nya pas banget lho. Aku dan Mas Fadli pas nggak ada di rumah ini. Sakti mungkin nggak bisa mikir jernih karena mikirin anak istrinya, apalagi ayah dan ibu. Kalau ada kita, mereka pasti nggak berani melakukan itu.”

“Bisa jadi sih. Tapi tunggu dulu, kalau benar seperti yang kamu bilang, jangan-jangan mereka juga sudah memprediksi kalau aku dan Marto akan bergerak malam ini ke Kaliurang. Atau bahkan mereka juga sudah mengetahui keberadaan Daichi disini.”

“Kemungkinan besar kayak gitu Mas. Mending hubungi Mas Marto, bahas lagi rencana kalian. Inget lho, disana ada Rio, meskipun itu Rio gadungan. Tapi dia sudah cukup lama mengenal Mas Marto, jadi kemungkinan dia sudah tahu apa yang sedang direncanakan oleh Mas Marto, dan bersiap menyambut kalian disana nanti.”

“Ahh brengsek, kenapa malah kayak gini jadinya. Baiklah aku coba hubungi Marto, biar dia kesini saja, mungkin kamu bisa ngasih masukan nanti.”

“Yaudah nggak apa-apa Mas, disini aja. Kalau bisa sekalian sama Ichi, aku cukup tahu dia seperti apa, kehadirannya pasti akan cukup membantu.”

Fadli pun menghubungi Marto dan Ichi mengabarkan tentang apa yang terjadi, dan juga meminta mereka berdua untuk menemui dirinya dan Budi. Sementara kepada ketiga orang lainnya yaitu Paidi, Fauzi dan Nickolai, dia hanya mengirimkan pesan memberitahukan bahwa kemungkinan akan terjadi perubahan rencana, tapi tetap meminta mereka bersiap kapanpun dibutuhkan.

*****

“Sudah kalian bereskan mereka?”

“Sudah boss. Kami taruh di kamarnya Pak Arjuna, seperti perintah boss.”

“Oke, tinggal nunggu mereka sadar aja, untuk menonton pertunjukan yang seru, haha.”

Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Baru ada 6 orang yang berkumpul di ruang tengah villa itu. Fuadi, Dokter Lee dan keempat orang Mata Angin yang baru saja ditugaskan untuk menculik Wijaya, Aini dan Sakti. Mereka masih menunggu kedatangan beberapa orang lagi, karena menurut Bastian ada sebuah informasi yang akan disampaikan oleh Steve dan David.

Tak lama kemudian Arjuna keluar dari kamar yang sejak semalam dia pakai bersama dengan Mila. Kedatangan keempat Mata Angin yang membawa Wijaya beserta anak istrinya tadi membuatnya harus menghentikan dulu aktivitasnya, terlebih lagi Mila juga sudah tak sadarkan diri akibat perbuatannya. Kini dia bergabung dengan keenam orang lainnya di ruang tengah. Beberapa saat kemudian menyusul Rio dan Tono yang juga baru saja selesai bermain-main dengan Fitri dan Wanda. Wajah mereka terlihat lelah, namun tetap menampakkan rona kepuasan.

“Bastian belum datang Pak?” tanya Rio yang sudah duduk dan mengambil sekaleng bir.

“Belum, bentar lagi paling. Tadi ngabarin udah di jalan kok,” jawab Fuadi.

“Emangnya mau pada bahas apaan sih sampai ngumpulin semuanya gini? Kayaknya penting banget ya?”

“Yaah, bisa dibilang gitu. Sepertinya mereka mau ngasih informasi soal lawan kita.”

“Lawan kita? Vanquish itu?”

“Yaa siapa lagi emangnya? Kalau polisi kan masih bisa kita atasi, selama orang-orang kita masih ada disana, betul kan Jun?”

“Iya Pak. Tenang aja, orang kita masih banyak kok disana, dan saya yakin si tua bangka Alfarizy itu belum tahu siapa saja musuh dalam selimutnya,” jawab Arjuna yakin, karena memang masih banyak oknum polisi yang masih berada di markas besar, yang sampai saat ini masih aktif memberinya informasi tentang apa saja yang sedang direncanakan dan dilakukan oleh para polisi itu.

“Hmm, jadi penasaran saya, sehebat apa sih sebenarnya lawan yang kita hadapi ini,” ujar Tono menyuarakan rasa penasarannya.

“Yang jelas jauh lebih hebat daripada elu lah Ton. Elu kan cuma bisa ngewe doang, haha.”

Celetukan Rio kembali membuat mereka tertawa, termasuk Tono yang sebenarnya agak jengkel dengan jawaban Rio itu. Tapi dia tak mau membantahnya karena tahu dengan kemampuannya saat ini dia masih kalah jauh bahkan dari Rio. Dia hanya bertindak dengan mengandalkan otot dan nama besar kakaknya saja, kalau masalah adu strategi dia tidak ada apa-apanya.

Tawa mereka sontak terhenti ketika sebuah mobil masuk ke area villa dan berhenti tak jauh dari ruangan itu. Bastian bersama Steve dan David turun dengan membawa dua buah tas kecil. Kedua tas itu berisi laptop dan sebuah proyektor LCD. Mereka kemudian masuk ke dalam villa dan menyapa yang sudah menunggu disitu.

“Sore semua, sorry agak lama nunggunya.”

“Iye lu, lama amat sih Bas? Darimana emangnya?” tanya Rio seenaknya.

“Berisik aja lu. Gue tadi nungguin Steve dan David, mereka kan yang ngumpulin info. Udah lu diem biar mereka dulu semuanya.”

Mereka pun terdiam melihat Steve dan David yang masih sibuk menyiapkan laptop dan proyektornya. Proyektor itu kemudian diarahkan ke dinding berwarna putih polos di hadapan mereka. Tak lama kemudian terlihat tampilan power point di dinding itu. David menatap kearah Bastian dan mengangguk, memberi kode bahwa mereka sudah siap.

“Oke rekan-rekan semua, Steve dan David akan menyampaikan informasi tentang lawan yang akan kita hadapi. Mereka sudah cukup lama mengumpulkan semua informasi ini, jadi tolong kalian perhatikan baik-baik. Steve, silahkan mulai.”

“Baik boss,” Steve pun kemudian berdiri di hadapan mereka semua, bersiap untuk menyampaikan informasinya.

“Saya akan sampaikan profil mengenai lawan kita. Kami sudah hampir 2 tahun ini mengumpulkan informasi. Dan kenapa baru kami sampaikan sekarang, karena baru-baru ini saja kami mendapatkan sumber yang benar-benar bisa dipercaya, orang yang pernah terlibat langsung dengan kelompok ini.”

“Kelompok yang akan kita hadapi ini bernama Vanquish. Kelompok ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Dibuat oleh seorang bernama Thomas van Quish. Seorang jenderal Belanda yang merasa keberatan dengan perbuatan teman-temannya terhadap rakyat Indonesia, dan akhirnya membelot. Namun karena posisinya saat itu sebagai salah satu jenderal, dia tidak bisa melawan secara terang-terangan, karena itulah dia membentuk kelompok rahasia dengan mengumpulkan orang-orang pribumi yang memiliki kemampuan tinggi.”

“Awalnya kelompok ini tidak memiliki nama, namun tujuannya jelas yaitu merongrong kekuatan penjajah. Karena tidak ingin terlalu mencolok, Thomas hanya merekrut 9 orang saja waktu itu. Dampak dari gerakan kelompok ini cukup besar karena berhasil membunuh orang-orang penting di pemerintahan kolonial Belanda. Namun kematian mereka sengaja ditutup-tutupi karena kalau sampai terdengar luas, mereka takut warga pribumi akan bangkit dan melakukan perlawanan.”

“Sampai pada akhirnya Thomas van Quish meninggal, kelompok ini diambil alih oleh salah satu anggota yang paling senior. Dan untuk menghormati pendirinya, maka kemudian kelompok ini diberi nama Vanquish. Mereka masih terus melanjutkan aksinya sampai Indonesia merdeka. Bahkan setelah kemerdekaan, mereka masih sering membantu pemerintah mengatasi berbagai macam ancaman.”

“Karena usia anggotanya yang semakin tua dan kemampuan mereka semakin menurun, maka dilakukanlah regenerasi dengan merekrut orang-orang pilihan. Meskipun sudah berganti orang, mereka tetap menjaga kerahasiaan kelompok ini. Sistem regenerasi yang dilakukan oleh kelompok ini bersifat personal, artinya setiap anggota mencari penerusnya masing-masing.”

“Seiring perkembangan jaman, kemampuan masing-masing anggota kelompok ini semakin variatif. Merekapun mulai menamai setiap anggotanya dengan julukan masing-masing, yang bila disingkat membentuk kata Vanquish. Dan yang sekarang akan kita hadapi ini adalah Vanquish generasi keempat. Jumlah mereka masih sama, yaitu satu orang ketua dan 8 orang anggota.”

“Oke, kita mulai dengan ketua mereka. Orang ini dijuluki Zeus. Jika pada generasi pertama dan kedua orang ini yang memiliki kemampuan paling hebat diantara yang lainnya, di generasi ketiga mulai berubah. Orang yang ditunjuk sebagai Zeus ini tidak lagi memiliki kemampuan lapangan yang tinggi, namun lebih kepada kepemimpinan dan strategi perang saja. Dan dari Zeus generasi ketiga inilah kami mendapatkan semua informasi ini.”

“Dari Zeus generasi ketiga? Bagaimana bisa? Dan apakah kalian yakin informasi ini benar-benar akurat? Setahuku kalau orang yang terlibat dengan kelompok semacam itu, mereka akan merahasiakannya mati-matian,” potong Rio yang sedikit sangsi dengan penjelasan Steve.

“Ya, benar sekali Rio. Orang seperti ini memang sulit dikorek informasinya. Tapi kami sebagai mantan pasukan elit punya cara sendiri untuk itu, dan aku rasa kamu tak ingin sampai mengetahuinya,” jawab Steve dengan senyum sinisnya, merasa tersinggung karena kemampuannya diragukan oleh Rio.

“Ya sudahlah, lanjutkan saja Steve. Aku yakin dengan metode kalian. Selama ini kalian bekerja dengan sangat baik, jadi aku rasa informasi yang kalian berikan ini bisa dipercaya,” ucap Fuadi menengahi. Riopun kemudian terdiam, urung membantah perkataan Steve.

“Oke saya lanjutkan. Dari Zeus generasi ketiga ini kami bisa mengetahui siapa yang sekarang ini menggantikan dirinya. Dia adalah Soemartono, seorang pensiunan tentara,” ujar Steve sambil menunjukkan foto yang ditampilakan proyektor di dinding.

“Semasa aktif sebagai tentara, tidak ada prestasi istimewa yang dia terima. Dia dipilih lantaran dianggap memiliki kepemimpinan dan strategi yang baik. Juga karena faktor kedekatannya dengan Zeus terdahulu. Sayangnya, meskipun sudah tahu siapa orangnya, kami sangat sulit untuk mendekatinya.”

“Kenapa memangnya?” tanya Arjuna menyela.

“Karena dia dilindungi oleh anak angkatnya, yang merupakan salah satu anggota Vanquish.”

“Anak angkatnya? Siapa? Si Budi?” tanya Rio penasaran.

“Sabar, nanti juga saya jelaskan,” jawab Steve yang mulai jengkel dengan Rio.

“Oke, sudah cukup untuk ketuanya, sekarang akan saya jelaskan tentang anggota-anggotanya. Seperti yang saya bilang tadi, anggotanya ada 8 orang dengan julukan mereka masing-masing yang bila digabung akan membentuk kata VANQUISH. Mereka adalah Venom, Assassin, Nocturne, Queen, Unknown, Insane, Shadow dan Hurricane. Pemberian nama ini bukan sembarangan, tapi disesuaikan dengan kemampuan atau karakter mereka.”

“Yang pertama adalah Venom, atau bisa kita artikan sebagai bisa ular. Seperti namanya, caranya bekerja tak terlalu terlihat oleh mata, namun hasilnya bisa sangat mematikan. Dia menguasai banyak hal, mulai dari penggunaan berbagai jenis senjata, menguasai berbagai macam disiplin ilmu beladiri, sampai mahir dengan semua jenis teknologi. Saat ini, kemungkinan dia adalah anggota Vanquish yang paling berbahaya.”

“Kok kemungkinan Steve?” kembali Rio menyela seenaknya.

“Nanti saya akan jelaskan semua, jadi tolong sabar dulu,” jawab Steve yang semakin jengkel kepada Rio.

“Ya ya, okelah, lanjutkan,” ucap Rio tanpa mempedulikan kejengkelan Steve.

“Baiklah. Nama Venom saat ini cukup terkenal di dunia maya sebagai raja hacker. Dia adalah guru dari E-coli, hacker yang kita culik dan kita bunuh beberapa waktu yang lalu. Identitasnya kita sudah tahu semua, dia adalah Budi.”

“Hah, sumpeh lu? Jadi si Budi punya kemampuan kayak gitu? Kok nggak kelihatan sih?” semua orang kembali dibuat menatap jengkel karena celetukan Rio ini.

“Namanya juga kelompok rahasia, Mas. Ya mana mungkin dia perlihatkan kemampuannya di depan umum. Udah deh lu diem dulu ngapa, biarin Steve jelasin sampe kelar. Gue matiin juga lu lama-lama,” kali ini Bastian yang menanggapi, saking jengkelnya kepada Rio. Digertak seperti itu, terlebih lagi semua tatapan penuh aura membunuh yang diarahkan kepadanya, membuat Rio ciut juga.

“Baik, saya lanjutkan ke anggota yang kedua, yaitu Assassin. Sesuai dengan namanya, dia adalah salah satu anggota yang berada di barisan depan untuk melakukan pekerjaan kotor. Tugasnya jelas, yaitu melenyapkan target. Dia menguasai penggunaan berbagau senjata dan juga pertarungan jarak dekat. Selalu memakai penutup wajah ketika melakukan aksinya, sampai sekarang kami tidak tahu identitas dia yang sebenarnya.”

“Kemudian yang ketiga adalah Nocturne. Hampir sama seperti Assassin, hanya saja dia spesialis pertempuran di malam hari. Kemampuan pertarungan jarak dekatnya masih kalah ketimbang Assassin, tapi soal pertarungan jarak jauh dia luar biasa. Dialah yang membantu Budi pada peristiwa beberapa tahun silam. Dia yang menyelamatkan Marto, dan juga membunuh keempat Mata Angin terdahulu, termasuk kakakmu, saudara Tono,” ucap Steve sambil menatap Tono. Terlihat Tono mengepalkan tangannya mengingat bagaimana kakaknya tewas dengan kepala tertembus timah panas.

Nocturne ini adalah anak angkat dari Zeus yang sekarang. Dia bernama Jaka Samudera, seorang anggota pasukan elit angkatan laut yang bernama Detasemen Jalamangkara, atau lebih dikenal dengan Denjaka. Dialah yang melindungi Zeus dan keluarganya sehingga sangat sulit kami dekati.”

“Anggota yang keempat adalah Queen. Kemungkinan dia adalah satu-satunya anggota perempuan di kelompok ini. Namun meskipun seorang perempuan, kemampuannya tak bisa dianggap sebelah mata. Seperti yang kalian tahu, perempuan kalau sudah marah bisa lebih kejam dari laki-laki. Dia menguasai berbagai macam beladiri, namun untuk penggunaan senjata dia masih kalah dengan anggota-anggota yang lainnya. Meskipun begitu jika dibandingkan dengan anak buah kita dia masih lebih unggul. Identitas Queen ini juga kami belum tahu. Bisa jadi dia ini anggota militer, artis, model atau mungkin orang biasa saja.”

“Selanjutnya ada Unknown, anggota paling misterius dari Vanquish. Inilah yang membuat saya tadi mengatakan kemungkinan Budi adalah anggota paling berbahaya, atau Queen anggota perempuan satu-satunya. Tidak ada informasi sama sekali tentang Unknown ini. Dia bisa siapa saja, dan kemampuannya bisa apa saja. Bisa jadi dia yang paling lemah di kelompok ini, tapi bisa jadi dia yang paling kuat.”

“Latar belakang, karakter, kemampuan, semuanya tidak ada yang diketahui, bahkan mungkin oleh anggota Vanquish yang lain sekalipun. Selama Zeus terdahulu memimpin, dia juga tidak pernah tahu siapa Unknown yang sebenarnya, tapi dia selalu ada di setiap operasi atau misi yang dijalankan oleh kelompok ini. Bahkan, jika ketujuh anggota yang lain diketahui sudah generasi keempat, Unknown ini tidak diketahui apakah juga generasi keempat atau masih yang ketiga, benar-benar misterius.”

“Menurutku justru dia yang paling berbahaya, karena kita benar-benar tidak mengetahui siapa dia,” ucap Fuadi menanggapi penjelasan Steve, yang diamini dengan anggukan oleh semuanya.

“Saya pikir juga begitu Pak. Dan kalau nantinya dia ikut membantu mereka melawan kita, kita benar-benar harus sangat waspada,” jawab Steve setuju dengan Fuadi.

“Saya lanjutkan. Anggota keenam ini memiliki julukan Insane atau si gila. Dia adalah orang terdepan di setiap pertempuran yang dilakukan oleh Vanquish. Kemampuan pertempuran jarak jauh maupun jarak dekat sama hebatnya, namun dia lebih senang berhadapan langsung dengan lawan-lawannya. Sepertinya, membunuh merupakan kepuasan tersendiri baginya.”

“Dia terlihat seperti bertindak tanpa berpikir, seolah-olah tak peduli dengan nyawanya. Namun sebenarnya setiap pergerakannya penuh dengan perhitungan. Yang dia lakukan ini lebih kepada mengacaukan konsentrasi lawan.”

“Kalau lawan seperti ini bukannya lebih mudah dihabisi jika kita punya sniper handal?” tanya Arjuna.

“Logikanya begitu Pak. Tapi seperti yang saya bilang tadi, Insane ini penuh dengan perhitungan. Dia baru akan bergerak maju ketika ancaman dari jauh sudah sudah diamankan oleh rekan-rekannya, terutama Nocturne yang juga memiliki kemampuan sebagai sniper handal.”

“Hmm gitu yaa. Boleh juga strategi mereka. Lanjutkan Steve.”

“Baik Pak. Selanjutnya ada Shadow, atau bayangan. Keahlian utamanya adalah menyamar dan menyusup untuk mengumpulkan informasi. Bisa dibilang dia memiliki seribu wajah dan seribu suara, sehingga sangat sulit untuk membongkar penyamarannya. Namun meskipun begitu, seperti para anggota yang lain, kemampuan tempurnya juga terbilang hebat. Jika yang lain menyerang dari depan, ada kemungkinan dia menyerang dari belakang, karena saat itu sedang menyamar menjadi anggota musuh. Ini juga patut untuk kita waspadai.”

“Yang terakhir adalah Hurricane, atau angin topan. Dia bersama dengan Assassin dan Insane adalah trisula maut dari Vanquish. Mereka bertiga yang akan berada di barisan terdepan dalam pertempuran. Mereka bertiga juga merupakan anggota yang paling sering mendapatkan tugas untuk melenyapkan target.”

Hurricane ini selain memiliki kemampuan tempur yang hebat, dia juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan berbagai macam armada tempur, seperti tank maupun jet. Jika kalian pernah mendengar sebuah markas gerilyawan yang berada di tengah hutan luluh lantak akibat serangan pesawat, itu adalah ulah Hurricane terdahulu. Meskipun belum diketahui identitasnya, tapi kemungkinan dia adalah anggota militer yang memiliki akses untuk penggunaan armada-armada tempur tersebut.”

“Itulah informasi tentang profil lawan kita yang berhasil kami kumpulkan,” ujar Steve mengakhiri penjelasannya.

“Jadi selain Zeus, Venom dan Nocturne, identitas anggota yang lain belum diketahui? Darimana bisa tahu kemampuan mereka seperti yang kalian jelaskan itu tadi?” tanya Dokter Lee yang sedari tadi hanya diam.

“Ini memang belum 100% akurat Dok, tapi jika melihat bagaimana sistem regenerasi yang mereka lakukan, kemungkinan besar mereka akan memilih, atau mungkin mendidik penerusnya untuk memiliki dasar kemampuan yang sama. Dan biasanya, penerusnya akan memiliki kemampuan yang lebih hebat dibanding pendahulunya,” jawab David seraya mematikan laptopnya.

“Hmm, masuk akal sih. Tapi kalau memang mereka lebih hebat dari pendahulunya, pastinya akan sangat berbahaya. Lalu bagaimana dengan kita? Maksudku dengan kemampuan yang kita miliki, apa yang kita punya untuk melawan mereka?” tanya Dokter Lee lagi.

“Tentu saja kami sudah mempersiapkan semua itu. Sedari awal merencanakan ini kami sudah mencoba mengukur kemampuan lawan, dan menyiapkan semua antisipasinya, karena itulah hampir 2 tahun kami berada di kota ini.”

“Benar sekali yang dikatakan oleh David Dok. Selama 2 tahun ini memang saya menyuruh mereka untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk pemilihan tempat ini. Kalian mungkin melihatnya hanya sebuah villa biasa, tapi sebenarnya di sekeliling tempat ini sudah dipenuhi dengan senjata yang bisa dikendalikan dari jarak jauh,” Bastian ikut memberikan penjelasan tentang rencana mereka.

“Kayak ruang kontrol gitu Bas? Dimana emang tempatnya?” tanya Rio yang kini lebih berhati-hati dengan omongannya.

“Iya Yo, kita punya ruangan kontrol. Tempatnya yaa salah satu kamar di depan, yang banyak komputernya itu.”

“Lha bukannya itu yang kemarin dipakai buat nge-hack? Emang bisa buat ngontrol senjata dari jarak jauh?” tanya Rio keheranan.

“Jadi menurut lu, gue ngeluarin duit sebanyak itu cuma buat nge-hack sama bikin videonya Ara doang?”

“Yaa kali, mana gue tahu lu kan nggak pernah bilang. Lagian nge-hack kemarin kan juga udah dapet duit banyak,” jawab Rio yang membuat Bastian geleng-geleng, sementara yang lain terlihat menahan tawanya.

“Kalau cuma buat nge-hack, gue nggak perlu sampai keluar duit miliaran buat beli tu komputer. Perangkat komputer dengan spesifikasi dewa gitu udah kayak yang dipakai sama NASA tahu nggak lu? Haduuh tobat gue punya temen kayak lu,” ujar Bastian sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, membuat yang lain tak bisa lagi menahan tawanya.

“Hmm, sorry nih, tapi saya jadi penasaran,” tiba-tiba Dokter Lee membuat semua terdiam dan menatap kearahnya.

“Ada apa Dok?” tanya Bastian.

“Gini, dengan semua biaya yang kalian keluarkan, dan semua yang udah dipersiapkan ini, tujuan kalian yang sebenarnya itu apa? Kok menurut saya terlalu berlebihan kalau hanya untuk balas dendamnya Pak Fuadi pada keluarga Wijaya. Saya pikir dengan menghancurkan keluarganya saja sudah cukup, tapi ini sudah kemana-mana urusannya,” ujar Dokter Lee menjelaskan maksudnya.

Sebenarnya bukan hanya Dokter Lee, namun yang lain juga memiliki pertanyaan yang sama, hanya saja mereka tak berani mengutarakannya. Bahkan seorang Arjuna pun sebenarnya juga penasaran dengan alasan mereka melakukan semua ini, karena resiko yang diambil terlalu besar hanya untuk sebuah dendam antar keluarga.

“Steve?” Bastian menatap Steve, memintanya menjelaskan. Steve kemudian menatap kearah David, dan mendapat anggukan tanda setuju untuk Steve mengatakan alasan sebenarnya. Steve menghela nafasnya sejenak sebelum mulai menjelaskan.

“Jadi begini Dok, dan mungkin yang lainnya juga. Alasan sebenarnya memang adalah balas dendam, tapi bukan hanya dendam Pak Fuadi pada keluarga Wijaya, tapi juga dendam kami kepada kelompok Vanquish.”

“Dendam kalian kepada Vanquish? Memangnya ada urusan apa kalian dengan mereka?”

“Salah satu dari mereka telah membunuh ayah kami,” jawaban Steve sontak membuat mereka terkejut, kecuali Bastian dan Fuadi.

“Tunggu tunggu, membunuh ayah kalian? Bisa tolong dijelaskan? Kalau kalian nggak keberatan sih.”

“Oke saya jelaskan. Jadi, kelompok Vanquish yang dulunya lebih fokus untuk membantu pemerintah menjaga keamanan negara ini, lama kelamaan urusan mereka semakin meluas. Mereka mulai mengambil alih kasus-kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh polisi maupun militer. Tak hanya di dalam negeri, namun juga merambah sampai keluar negeri.”

“Puncaknya adalah beberapa belas tahun yang lalu. Saat itu di Eropa akan diadakan pertemuan beberapa mafia berpengaruh disana. Salah satu agendanya adalah memperluas bisnis mereka ke kawasan Asia, dan tujuan utama mereka adalah Indonesia. Bisnis utama para mafia ini tak lain adalah narkoba, penjualan senjata ilegal dan juga judi.”

“Kabar rencana pertemuan itu akhirnya terdengar sampai kesini, dan ditugaskanlah beberapa orang anggota Vanquish untuk kesana dan menggagalkan pertemuan itu. Bisa diketahui hasilnya, seluruh anggota mafia beserta pengawalnya dibantai habis di pertemuan itu. Tak ada satupun yang hidup, semuanya mati mengenaskan, termasuk ayah kami.”

“Ayah kami sebenarnya bukan termasuk mafia, tapi sedang bertugas mengawal Al Pacho, salah seorang pimpinan mafia paling disegani di Eropa waktu itu. Ayah kami hanya berada di waktu dan tempat yang salah saja. Tapi melihat caranya dibunuh itu yang membuat kami lantas menyimpan dendam sampai sekarang.”

“Akhirnya kami berdua memutuskan untuk keluar dari SAS dan menyelidiki semua itu. Hingga pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa pelaku pembantaian itu adalah kelompok Vanquish. Lalu dari perkenalan tak sengaja kami dengan Bastian, dia menceritakan bahwa dia dan Pak Fuadi sedang memiliki dendam kepada seseorang dan berencana membalasnya.”

“Waktu itu kami bersedia membantu dengan tujuan agar dia membantu kami mendapatkan akses menuju kesini, juga termasuk selama kami tinggal disini. Namun disaat membantu Bastian dan Pak Fuadi, kami menemukan adanya hubungan keluarga Wijaya dengan salah satu anggota Vanquish yaitu Budi. Dari situlah akhirnya kami merencanakan ini semua.”

“Benar apa yang dikatakan oleh Steve Dok. Peristiwa beberapa tahun yang lalu itu juga merupakan rencana kami. Hanya yang sedikit meleset adalah, ternyata Budi meminta bantuan Jaka alias Nocturne. Itu yang tidak kami prediksi karena kami sudah mengirim Rio waktu itu. Hingga akhirnya keempat Mata Angin terdahulu harus tewas karena ulah Jaka. Padahal rencana awal Rio hanya akan melumpuhkan dan memasukkan mereka ke penjara, lalu dengan bantuan Pak Arjuna mereka akan dibebaskan,” ujar Bastian menambahkan.

“Karena itulah perlu waktu lebih dari tiga tahun untuk kembali mempersiapkan semuanya. Dan kali ini kami membuat keonaran besar-besaran serta melibatkan banyak sekali pihak tak lain adalah untuk memancing mereka semua keluar. Kalau seperti sebelumnya, hanya dengan menculik keluarga Wijaya, prediksi kami yang membantu Budi paling hanya beberapa orang saja. Kami membuat keonaran besar itu untuk menunjukkan seberapa besar kekuatan yang kami miliki sehingga mereka tidak menganggap remeh hal ini.”

“Oke, aku sudah paham dengan alasan kalian. Lalu setelah ini bagaimana? Jika kalian sudah berhasil membalas dendam kepada Vanquish, persoalan selanjutnya kalian pasti akan berhadapan dengan yang lainnya karena keonaran ini,” tanya Dokter Lee lagi, seperti ingin mengetahui sejelas-jelasnya rencana Bastian, karena bagaimanapun dia sudah terlibat sampai sejauh ini.

“Untuk itulah Dokter Lee ada disini,” jawab Bastian dengan tersenyum.

“Maksudnya? Kok aku?” Dokter Lee semakin bingung dengan jawaban Bastian.

“Sama seperti yang Dokter lakukan kepada kami selama ini. Setelah semua ini selesai, kami yang sekarang akan menghilang, kami akan berubah menjadi orang lain dengan bantuan Dokter Lee.”

“Ooh, maksudnya setelah semua ini selesai kalian memintaku untuk merubah wajah kalian semua?”

“Yup, tepat sekali.”

“Wah gila. Kalau sebanyak ini, nggak murah lho.”

“Haha, memang Dokter mintanya berapa?”

“Satu miliar perorang!”

“Satu miliar? Hahaha kecil itu Dok, iya kan Bas?” sahut Rio, tertawa sambil menatap Bastian.

“Eits, tunggu dulu. Bukan dalam Rupiah ya, tapi Poundsterling,” giliran Dokter Lee yang kini tersenyum lebar, sementara Rio hanya melongo.

“Hah?! Dokter gendheng, nawarnya nggak kira-kira nih,” ujar Rio sewot.

“Lima ratus juta Poundsterling perorang, final offer,” ujar Bastian memotong.

Deal!” Dokter Lee tersenyum lebar sambil menyalami Bastian.

“Bas, lu serius?” tanya Rio tak percaya dengan aksi tawar menawar Bastian dan Dokter Lee.

“Kenapa? Lu nggak mau? Yaa nggak apa-apa kalau lu nggak mau, lumayan bisa ngirit 9 triliun kan.”

“Yee siapa bilang gue nggak mau. Yaa mau lah, orang dibayarin.”

“Halah, kamu nggak usah aja lah Rio, paling juga nanti mati duluan.”

“Ebuset si Dokter, doainnya gitu amat? Yang ada entar situ yang mati duluan,” balas Rio sewot.

“Lha kalau saya mati duluan, kalian nggak jadi operasi plastik dong? Hahaha.”

“Udah kalian tenang aja, nggak akan ada dari kita yang mati, paling anak buah kita yang entar ditaruh di depan, hahaha.”

Gelak tawa mereka memenuhi ruangan itu. Selain keempat Mata Angin, mereka semua kompak mem-bully Rio. Selain merasa sungkan karena Rio termasuk boss mereka, sebenarnya keempat Mata Angin ini sedang merasakan kecemasan setelah mendengar penjelasan Steve dan David mengenai profil dari lawan mereka.

Mereka tak menyangka kalau orang-orang yang akan dihadapi memiliki kemampuan sehebat itu. Meskipun semua sudah dipersiapkan dengan baik oleh Bastian dan McArthur bersaudara itu, tapi tetap saja ada rasa khawatir di dalam diri mereka. Mereka tentunya berharap dapat mengakhiri ini semua sesuai dengan rencana dari Bastian, dan juga berharap Bastian mempunyai rencana cadangan bila rencananya ini gagal.

Aksi-aksi kejahatan yang dilakukan selama ini memang memberi mereka kesenangan. Bahkan beberapa kali mempermalukan polisi yang selama ini mereka benci juga menjadi kepuasan tersendiri. Namun dengan adanya kelompok Vanquish ini membuat mereka sedikit gentar, keyakinan mereka mulai goyah.

Sedang asyik bercanda tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan dari kamar Arjuna. Mereka mengenali suara itu adalah suara Sakti, sepertinya dia baru saja sadar dari pingsannya. Mengetahui hal itu membuat Arjuna dan Fuadi tersenyum lebar.

“Baiklah, rasanya diskusi kita udah cukup. Aku harus kembali ke kamar, memberi tamu kita tontonan yang menarik,” ujar Arjuna kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kamar.

“Aku juga, bidadariku menunggu di kamar,” Fuadi juga beranjak dan menuju kamarnya.

“Ton, gimana? Mau lanjut nggak nih?” tanya Rio kepada Tono.

“Lanjutlah, belum puas aku ngerjain mereka.”

“Yaudah yuk. Guys, kita cabut dulu yaa,” Rio dan Tono pun meninggalkan ruangan ini untuk menuju tempat mereka menyekap Fitri dan Wanda. Bersamaan dengan itu keempat Mata Angin juga ikut meninggalkan ruangan.

“Dok, mau lihat mereka?” tanya Bastian kepada Dokter Lee.

“Hah malas cuma ngelihat aja, mending turun nyari cewek sendiri.”

“Yaudah, bareng aja kita. Steve, Dave, kalian disini ya, bantuin ayah dan Pak Arjuna nanti. Aku sama Dokter Lee turun dulu, kalau ada apa-apa telpon aja.”

“Oke boss.”

Keempat orang itu kemudian beranjak meninggalkan ruangan dengan tujuan yang berbeda. Steve dan David hendak menuju ke ruang kontrol tempat mereka bekerja, sedangkan Bastian dan Dokter Lee menuju mobil untuk kemudian meninggalkan villa ini turun ke kota. Sesaat sebelum pergi masih sempat terdengar oleh Bastian dan Dokter Lee teriakan Sakti dari dalam. Mereka tertawa-tawa saja membahas kira-kira apa yang sedang terjadi disana, tentunya bukan hal yang menyenangkan bagi Sakti, juga bagi Wijaya dan Aini.

*****

“Jadi gimana Bud? Ada saran?”

Marto dan Ichi saat ini sudah berada di kediaman Wijaya untuk menemui Budi dan Fadli. Budi sudah menjelaskan kepada Marto mengenai perkiraannya bahwa Rio dan kawan-kawannya kemungkinan sudah memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Marto nanti malam.

“Harus dengan cara lain Mas, cara yang nggak biasanya Mas Marto lakukan, karena aku yakin Rio gadungan itu sudah memprediksinya.”

“Cara yang nggak biasa aku lakukan? Maksudmu dengan menggebrak langsung gitu?”

“Gini, aku yakin mereka memperkirakan Mas Marto akan mencari jalan lain untuk masuk ke daerah Kaliurang, dan mungkin sudah menyiapkan orang-orangnya untuk menghadang kalian disana. Jadi menurutku, kalian masuk lewat jalan utama saja.”

“Lha yaa sama aja dong Bud. Kalau disana ada penjaganya, bunuh diri juga namanya itu.”

“Itu kalau Mas Marto yang mereka lihat, kalau Ichi dan Mas Fadli? Pasti mereka belum pernah melihatnya kan? Apalagi wajah Ichi ini kan mirip orang Jepang, jadi rasanya mereka nggak akan curiga”

“Hmm, iya juga sih. Gimana menurutmu Chi?”

“Jadi maksud Mas Budi aku menyamar jadi turis dan Mas Fadli jadi supirnya gitu?” tanya Ichi memastikan.

“Iya Chi, bener banget.”

“Oke, terus yang lainnya gimana Bud? Kan bisa aja mereka diam-diam memeriksa mobil kita.”

“Yaa nyamar dong Mas, gimana kek caranya biar nggak ketahuan aslinya kalian.”

“Ah iya bener itu. Fauzi kan tubuhnya agak kecil, dandanin cewek aja, pura-puranya jadi istrinya Ichi gitu. Kalau Paidi dan Nickolai kan matanya agak sipit, dipermak dikit lah biar kayak orang Jepang,” Fadli turut memberikan sarannya.

“Hmm gitu ya. Terus aku gimana?”

“Mas Marto masukin tas aja, atau gimana gitulah.”

Edan kowe Bud, masak iya aku dimasukin tas. Mau segeda apa tasnya?”

“Lha ya nggak tahu, terserah aja Mas Marto maunya gimana. Tapi saran saya mending mulai bergerak sekarang deh, jangan kemaleman masuk kesana, entar malah dicurigai. Aku cariin pinjeman mobil dulu yang plat sini. Terus Mas Fadli pakai baju biro wisata, Sakti ada tuh kayaknya, biar lebih meyakinkan.”

“Oke deh, aku kabarin ketiga orang itu biar ke tempat Mas Marto sekarang, kita kumpul disana.”

Fadli segera menghubungi Paidi, Nickolai dan Fauzi memberitahukan rencananya ini. Fauzi sempat keberatan jika harus berdandan layaknya perempuan Jepang tapi setelah dibujuk oleh Fadli akhirnya dia mau juga. Sementara itu Marto dan Ichi sudah lebih dulu meninggalkan kediaman Wijaya untuk menyiapkan keperluan mereka. Tak lama kemudian seorang teman Budi datang dengan membawa sebuah mobil minibus silver. Fadli sudah berganti baju dan berdandan layaknya seorang tour guide dari sebuah biro wisata. Dia langsung saja menuju ke tempat Marto menggunakan mobil yang dibawa teman Budi tadi. Sedangkan Budi juga meninggalkan rumah itu, mengantar temannya terlebih dahulu kemudian pulang ke rumahnya.

Sesampainya di tempat Marto ternyata semua sudah berkumpul disana. Marto sengaja menutup tempatnya lebih cepat dan meminta semua karyawannya untuk pulang. Dari semua yang sudah berkumpul itu hanya Fauzi saya yang wajahnya nampak tak bersemangat karena tahu apa yang akan dia lakukan. Sedangkan Paidi dan Nickolai mati-matian menahan tawa membayangkan rekannya yang biasanya garang dalam bertugas itu akan didandani dan berakting layaknya seorang perempuan.

Kebetulan sekali Ichi membawa sebuah kimono pink bermotif bunga-bunga dan sebuah wig milik Wanda. Baru melihatnya saja Fauzi sudah makin pucat, apalagi kalau memakainya. Tapi dia sudah terlanjur menyanggupi permintaan dari Fadli sehingga mau tak mau menurut saja ketika Ichi mengajak masuk ke ruangan Marto untuk berganti baju dan didandani. Hampir 15 menit lamanya mereka di dalam, dan ketika keluar seketika meledaklah tawa dari Paidi dan Nickolai melihat penampilan baru Fauzi.

Entah belajar darimana tapi Ichi bisa menyulap penampilan Fauzi hingga benar-benar menyerupai seorang wanita Jepang. Fauzi yang sudah tahu akan ditertawakan hanya diam saja menahan emosinya. Kalau tidak dalam keadaan tugas mungkin dia sudah menghajar kedua temannya itu. Kemudian giliran Paidi dan Nickolai yang dipermak penampilannya oleh Ichi. Dan sama seperti Fauzi, penampilan kedua pria itu benar-benar berubah, mirip sekali dengan orang Jepang, bahkan keduanya terlihat seperti saudara kembar.

“Baiklah, sudah selesai. Nanti kalau ditanya sama petugasnya, bilang saja namaku Tanaka Matsuyama, kalau Mas Fauzi ini jadi Uziha Matsuyama, dan mereka berdua si kembar Oppai dan Ollai Matsuyama, paham ya Mas Fadli?”

“Iya Chi, paham,” jawab Fadli sambil berusaha menahan tawanya setiap kali melihat Fauzi.

“Eh tapi nanti kalau dimintai identitas gimana Chi?” tanya Marto, berjaga-jaga kalau petugas jaga itu sampai meminta identitas mereka.

“Tenang aku sudah persiapkan semua,” Ichi kemudian mengambil 4 buah paspor dari dalam tasnya, dan keempat nama yang disebutkan Ichi tadi ada di masing-masing paspor itu. Uniknya lagi foto-foto di paspor itu benar-benar mirip dengan wajah mereka.

“Kok bisa mirip gini ya Chi?” tanya Fadli heran.

“Ah sudahlah nggak perlu dibahas, yang penting aman kan. Aku juga udah nyiapin KTP buat Mas Fadli, nih,” ujar Ichi sambil menyerahkan sebuah KTP kepada Fadli.

“Nostra Prasetya? Siapa lagi ini?” tanya Fadli melihat nama yang tertera di KTP itu. Dan yang lebih membuatnya terkejut, foto di KTP itu benar-benar mirip wajahnya. Entah kapan Ichi mempersiapkan itu semua.

“Udah dibilang nggak usah dibahas. Nanti kalau kalian jadi interpol juga tahu kok. Mas Marto gimana udah siap?” tanya Ichi kepada Marto.

“Udah Chi, lumayan tas yang kamu bawa ini, jadi aku nggak usah terlalu repot nekuk-nekuk badanku.”

“Yaudah, yuk berangkat.”

Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke kawasan Kaliurang. Ichi duduk di samping Fadli yang mengemudi. Fauzi, Paidi dan Nickolai Suasana sudah mulai petang dan jalanan tak begitu padat, hingga setengah jam kemudian mereka sudah hampir sampai di gerbang loket masuk kawasan itu.

“Eh tunggu dulu, kalian semua bisa bahasa Jepang nggak?” tanya Fadli tiba-tiba.

“Hah?! Yaa nggak bisa lah Mas.”

“Waduh, gimana ini Chi?”

“Udah tenang aja. Entar Mas Fadli ngomong sama aku aja pake bahasa Jepang ngasal, abis itu Mas Fadli bilang ke petugas itu intinya kita mau cari penginapan untuk malem ini, karena kami mintanya di tempat yang dingin kayak di Kaliurang. Aku pura-pura ngobrol juga dengan Fauzi, entar Fauzi bilang Haik Haik aja yaa.”

“Iya deh, terserah kalian aja,” jawab Fauzi sekenanya. Dia masih jengkel karena terus menjadi bahan olokan Paidi dan Nickolai.

Tak lama kemudian mereka sampai di pintu loket. Seorang petugas menghentikan mobil dan terlihat membawa lembaran karcis.

“Malem Mas, mau kemana nih?” sapa petugas itu kepada Fadli. Marto yang berada di dalam mobil mengenali suara petugas itu. Dia tak lain adalah orang yang memberinya info soal dua orang polwan yang memasuki kawasan itu bersama dengan dua orang polisi muda.

“Ini Pak nganter tamu dari Jepang. Baru nyampe udah ngerepotin aja,” jawab Fadli bersandiwara.

“Ngerepotin gimana Mas?”

“Yaa gimana nggak ngerepotin, kita kan udah nyiapin hotel di bawah, eh mintanya kesini, mana udah jam segini dan belum booking lagi. Kira-kira ada villa kosong nggak ya?”

“Oh masih banyak Mas, kebetulan kan belum musim libur.”

“Wah untung aja. Eh, ada rekomendasi nggak Pak villa yang bagus?” tanya Fadli, mencoba untuk mengakrabkan diri dengan petugas itu.

“Hmm, coba aja di villa Alamanda Mas, bagus disana, cuma saya belum tahu itu udah ada yang booking apa belum. Kalau nggak coba villa Bougenville,” jawab petugas itu.

“Oke deh kalau gitu. Jadi berapa nih Pak ongkos masuknya?”

“Hmm, ini kan Mas bawa tamu orang asing, jadi biayanya beda Mas, perorang lima ratus ribu, tapi mobil sama Masnya saya gratisin deh.”

“Oh ya, bentar ya Pak,” Fadli pun kemudian berbicara dengan Ichi dengan bahasa Jepang. Entah apa yang diucapkan oleh Fadli tapi Ichi menanggapinya dengan baik. Tak lama kemudian Ichi mengeluarkan beberapa lembar dari dompetnya dan menyerahkan kepada Fadli. Sebelum menyerahkan uang itu kepada petugas, Fadli sempat menghitungnya dulu.

“Nih Pak, dibonusi seratus ribu sama si Jepang,” ucap Fadli sambil menyerahkan uang itu kepada petugas.

“Wuiih makasih Mas, hmm maaf Mas siapa namanya?”

“Nostra Pak.”

“Oh iya, Mas Nostra. Sering-sering aja bawa tamu kayak gini Mas, hehe,” ucap petugas itu sambil menyerahkan beberapa lembar karcis kepada Fadli.

“Yaudah Pak, kami naik dulu yaa.”

Fadlipun melajukan mobilnya untuk mencari villa yang dimaksud oleh petugas tadi. Setelah agak jauh dari pintu loket merekapun tertawa terpingkal-pingkal, sampai-sampai Fauzi melupakan kekesalannya kepada Paidi dan Nickolai.

“Chi, kamu kok ngasih duitnya banyak banget sih?” tanya Fadli mengingat uang sejumlah 2.100.000 Rupiah tadi.

“Halah, cuma uang palsu kok.”

“Lah, kok malah uang palsu sih? Entar kalau dia belanjain gimana? Sama aja kita ngedarin uang palsu kalau gitu?”

“Tenang aja, besok pagi juga lenyap uang itu,” jawab Ichi enteng.

“Lenyap gimana?”

“Entar, kalau udah jadi interpol kalian juga tahu,” lagi-lagi jawaban itu membuat mereka semua jengkel. Tapi akhirnya mereka tak lagi mempedulikannya, yang penting mereka sekarang bisa masuk ke kawasan ini tanpa dicurigai.

Setelah menemukan villa yang dimaksud oleh petugas loket tadi dan melakukan check in, merekapun segera bersiap. Dengan memakai pakaian serba hitam dan menutupi wajah mereka, serta membawa beberapa senjata yang sekiranya diperlukan, mereka menyelinap keluar dari villa itu untuk melakukan penelusuran di kawasan itu. Mereka sepakat untuk tidak berpencar, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tujuan mereka malam ini memang bukan untuk melakukan konfrontasi, tapi hanya mengumpulkan informasi saja. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan gerak-gerik mereka sejak keluar dari villa.

Jika Marto dan rekan-rekannya baru saja mulai, orang itu sudah selesai dan hendak turun kembali ke kota. Namun karena melihat Marto dan rekan-rekannya itu dia mengurungkan niatnya dan kembali untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh mereka. Dia tahu, tujuan mereka sama dengannya, dan dia ingin memastikan kalau mereka berenam tidak akan mendapat gangguan dari musuhnya malam ini.

***
Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Cerita Terpopuler