. Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 1 | Kisah Malam

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 1

0
366

Mengalahkan Gadis Bagian 2 Part 1

Prolog

“Ardiiiii, sini nak habiskan dulu makannya, jangan lari-larian dulu dong.”

“Iyaa Bundaaaa.”

Seorang anak lelaki berusia dua tahunan terlihat berlari kecil menghampiri seorang wanita yang dia panggil Bunda tadi, lalu membuka mulutnya ketika sang wanita menyuapkan sendok yang telah berisi nasi dan sayur ke mulutnya. Langkah-langkah kecilnya yang menggemaskan membuat orang-orang di sekitar yang melihatnya tersenyum simpul.

Ardi Putra Septianto nama anak itu. Ardi, yang tak lain adalah akronim dari nama kedua orang tuanya, Ara dan Budi. Seorang anak lelaki yang baru berusia 2,5 tahun. Wanita yang dipanggil Bunda tadi tentu saja adalah Ara. Tangannya memegang sebuah piring dengan sisa makanan yang tinggal beberapa suap saja.

“Ayo Kakak dihabiskan dulu maemnya, nanti baru main lagi sama Dek Tika.”

“Iya Ayah.”

Budi tersenyum mendengar jawaban menggemaskan dari anaknya. Terasa semakin lengkap hidupnya dengan kehadiran Ardi. Anak yang begitu menggemaskan, tumbuh sebagai seorang anak yang periang. Dari kecil sudah terlihat bahwa dia mewarisi paras sang ayah. Ardi anak yang penurut, tidak cengeng, dan juga penyayang.

Sedari tadi pagi saat mereka sampai di rumah Wijaya, Ardi tak henti-hentinya bermain dengan adik sepupunya, Antika Maula Wijaya. Kalau ditanyakan ke orang tuanya, kenapa namanya Antika, selalu dijawab oleh sang ayah kalau itu adalah singkatan dari anak Sakti dan Kamila. Antika, atau sapaan akrabnya Tika, masih berusia satu tahun, seorang bayi perempuan yang begitu cantik dan manis, secantik dan semanis ibunya.

Kakek dan nenek kedua batita ini tersenyum bahagia melihat keluarganya berkumpul. Wijaya yang sudah memasuki masa pensiun, kini menghabiskan waktunya di rumah bersama kedua cucunya. Ardi pun juga hampir setiap hari di rumah ini, karena saat Budi dan Ara bekerja selalu dititipkan di rumah ini. Selain Wijaya dan Aini, tentu saja ada Mila yang juga mengurusi Tika.

Dulu, selama bertahun-tahun setelah kecelakaan yang menimpa kakak Ara, mereka bedua hanya memiliki Ara seorang. Namun kini keluarga mereka sudah bertambah banyak. Ara sudah menikah dan memiliki seorang anak. Sakti, yang ternyata adalah anak kandung dari Wijaya, juga sudah menikah dan memiliki seorang anak. Sudah lengkap rasanya hidup mereka, dan kini mereka hanya ingin menjalani masa tuanya dengan nyaman dan tenang, sambil mengamati tumbuh kembang cucu-cucunya itu.

Budi sedang duduk bercengkerama dengan Sakti. Dua orang yang sudah saling mengenal sejak bangku kuliah, memproklamirkan diri mereka sebagai sahabat, nyatanya mereka kini menjadi saudara ipar. Hidup memang ada-ada saja jalannya. Karena adanya peristiwa malam tahun berdarah 3 tahun silam, mereka akhirnya tahu siapa jati diri Sakti yang sesungguhnya. Semua tentu terkejut, termasuk Sakti sendiri. Namun kenyataan ini diterima oleh Sakti dengan penuh kebahagiaan, karena akhirnya dia bisa merasakan hangatnya kasih sayang sebuah keluarga, yang tak pernah dia dapatkan dari seorang Baktiawan Mahendra.

Peristiwa kelam itu memang sudah 3 tahun berlalu. Peristiwa yang sempat menjadi headline di berbagai media, tentang keberhasilan polisi mengungkap jaringan narkoba dan juga mafia yang ada di Jogja. Masyarakat pada akhirnya begitu memuja muji kinerja kepolisian yang setahu mereka telah menghancurkan gembong mafia yang selama ini sangat meresahkan. Muncul berbagai dukungan masyarakat dari berbagai media sosial, seolah ingin ikut mewartakan berita gembira ini ke seluruh pelosok negeri, bahkan kalau bisa sampai ke penjuru dunia.

Sejak kejadian itu pula, angka kriminalitas yang ada di Jogja menurun dengan sangat drastis. Para penjahat yang tersisa, yang boleh dibilang level-level pemula, begitu takut untuk beraksi karena nama besar kepolisian, hingga akhirnya mereka hanya pernah berani melakukan aksi kecil-kecilan saja.

Dari pengembangan kasus malam tahun baru berdarah itu juga, kepolisian berhasil menemukan oknum-oknum anggota mereka yang terlibat dalam organisasi gelap pimpinan Baktiawan dan Fuadi itu. Hukumannya jelas, diberhentikan dengan tidak hormat, beberapa diantaranya di penjara, dan lebih banyak lagi berakhir di panti rehabilitasi.

Fuadi sendiri telah diadili. Dia sudah dipecat dengan tidak hormat dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Dia ditempatkan di sebuah penjara di sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan pulau Jawa dengan pengamanan maksimum dan fasilitas minimum. Di usianya yang sudah kepala 5, kini dia harus menjalani sisa hidupnya di pulau terpencil itu.

Hanya yang disayangkan, kematian Baktiawan sampai sekarang belum mampu diungkap oleh pihak kepolisian. Kematian yang terjadi di siang bolong, dengan pengawalan ketat di pintu kamarnya, seolah menjadi tamparan telak bagi kepolisian. Pembunuhan yang benar-benar sangat rapi, karena sama sekali tak ditemukan jejak atau petunjuk apapun.

Peredaran narkoba, yang notabene adalah salah satu bisnis andalan Baktiawan dan Fuadi di wilayah Jogja kabarnya juga berhasil ditekan oleh kepolisian. Hal ini tentu saja disambut baik oleh warga di kota ini, dan juga warga-warga dari daerah lain yang berharap di daerahnya juga bisa dilakukan operasi sapu bersih terhadap benda-benda yang bisa meracuni masa depan generasi muda itu.

Hampir semua orang larut dalam euforia ini, namun tidak dengan Budi. Meskipun ikut senang dan berharap semua bisa lebih baik, Budi tetap bersikap waspada diantara kesehariannya yang terlihat biasa-biasa saja. Budi tak mau sampai terlena dan lengah. Dia selalu teringat pesan yang dia terima sebulan setelah kejadian itu dari seseorang, untuk tetap waspada menjaga diri sendiri dan juga keluarganya, karena semua ini belum sepenuhnya berakhir, this is not over yet.

*****

Di sebuah ruang kerja yang tertata rapi dengan gaya elegan, seorang pria muda sedang duduk menghadap laptopnya. Pria itu nampak serius mencermati setiap angka yang tertera di layar monitor. Sesekali senyum tipis tersungging di bibirnya. Seorang pria lagi, yang duduk di seberang mejanya nampak santai menikmati setiap hembusan asap yang memenuhi rongga paru-parunya.

“Gimana? Perkembangannya sesuai yang diharapkan?”

“Hmm, lumayan, masih sesuai dengan rencana kita. Nampaknya mereka memang benar-benar tak menyadari ya.”

“Haha, mereka masih terlalu larut dalam euforia, sampai tak memperhatikan hal-hal yang detail seperti ini. You’re such a great planner Bas.”

“Yah, nggak rugi kan si Bakti nyekolahin gue dari kecil di London, haha.”

“Trus, itu si Steve sama David gimana? Gue perhatiin 3 tahun ini nggak ngapa-ngapain mereka, kerjaannya cuma nyabu ama ngewe doang.”

“Lo nggak tahu aja bro, selama ini mereka berdua udah ngelakuin beberapa job dari gue kok. Jadi ya biarin mereka aja mereka santai dulu, selow aja, take it easy bro.”

Job apaan? Kok gue nggak tahu?”

“Haha, lo kan lagi sibuk kemarin ngurusin pembubaran Vanquish lo itu. Tunggu aja bentar lagi, lo bakal lihat hasil kerja mereka berdua.”

“Iya tuh, tinggal dibubarin aja pake acara ini itu segala, ribet. Eh tapi, mereka lagi dimana? Kok nggak kelihatan dari tadi.”

“Lagi menjalankan misi.”

“Misi apaan?”

“Ah kepo amat sih lo kayak emak-emak pasar, entar lu juga tahu Yo.”

“Halah kayak pernah ke pasar aja lo ngomong emak-emak pasar.”

“Hahaha.”

Bastian menyudahi aktivitas dengan laptopnya. Dia kemudian mengajak Rio ke balkon apartemennya untuk menikmati sebotol sampanye. Baru saja Bastian memeriksa hasil dari bisnis mereka bulan lalu. Semua masih sesuai dengan target yang telah dia tetapkan. Setelah kematian Baktiawan, yang merupakan ayah kandungnya, secara otomatis Bastian kini menguasai semua aset milik ayahnya itu. Semua aset baik bisnis properti dan bisnis-bisnis lainnya, juga termasuk bisnis gelap mereka.

Bastian memang lebih piawai dibandingkan ayahnya, itu diakui oleh Rio. Bagaimana Bastian menjalankan bisnisnya dengan begitu baik, bahkan kini dia merambah bisnis perhotelan pula, mengakuisisi banyak hotel bintang lima di kota-kota besar sekaligus membuka cabang-cabang baru di lokasi yang tak kalah strategisnya.

Bastian juga membuka banyak bar dan Man’s Executive Spa di berbagai kota besar di negeri ini. Segala macam fasilitas unggulan disediakan disana. Semua itu tentunya dia bangun dengan ijin resmi dari berbagai instansi, juga masyarakat sekitar tempat berdirinya bar dan Spa tersebut. Semua terlihat berjalan dengan normal, seperti tak ada aktivitas yang aneh.

Semua bisnis yang dijalankan oleh Bastian, selalu berjalan dengan mulus tanpa ada satupun kendala. Kemampuan manajerialnya patut untuk diperhitungkan. Para karyawan yang semula panik dan gelisah saat mendengar berita kematian dan kasus yang menimpa Baktiawan, kini bisa bernafas lega, karena selain pekerjaan mereka aman, semua karyawan itu bahkan menerima kenaikan gaji yang cukup signifikan.

Bastian juga menjanjikan semua karyawannya memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan karir, tak peduli itu karyawan senior ataupun junior, selama mampu membuat perubahan positif untuk perusahaan, kenaikan gaji, promosi jabatan dan bonus yang sangat besar menanti mereka.

Hal ini pun bukanlah janji-janji manis semata, karena sejak Bastian mengambil alih tampuk kepemimpinan perusahaan ayahnya itu, sudah ada beberapa orang yang menerima apa yang telah dijanjikannya. Tentu saja hal ini memacu karyawan lainnya untuk bisa bekerja sebaik mungkin, bahkan berlomba untuk berinovasi memberikan ide-ide brilian kepada Bastian, yang pada akhirnya mampu membuat perusahaannya menjadi perusahaan yang diperhitungkan di setiap bidang usaha yang digelutinya.

Memiliki atasan seperti Bastian menumbuhkan sendiri loyalitas dalam diri karyawannya, karena mereka merasa dihargai untuk setiap jerih payahnya. Meskipun jika ada kesalahan hukuman pasti diberikan sesuai dengan aturan dan tingkat kesalahannya, namun itu semua terhapus begitu saja dengan perlakuan Bastian yang dinilai sangat adil dan obyektif pada semua karyawannya, hal yang tidak pernah mereka dapatkan dari pimpinan sebelumnya.

Penghargaan dan pengakuan yang diberikan oleh setiap karyawan membuat mereka kembali bersemangat. Bahkan karyawan-karyawan yang sudah tua dan dianggap sudah lewat masa produktifnya pun seolah menemukan kembali gairah dalam bekerja, yang selama ini telah mati dibawah tangan besi Baktiawan. Kini tangan dingin Bastian telah merubah semua itu. Semua karyawan menyukai kepemimpinannya tanpa terkecuali. Sepertinya mereka bahkan rela mati untuk melindungi sang putera mahkota yang baru saja naik tahta.

Ceklek. Tiba-tiba pintu apartemennya terbuka. Rio menoleh heran mencari tahu siapa yang datang, sedangkan Bastian hanya tersenyum saja karena sudah tahu siapa yang datang, bahkan dia memang sudah menunggunya.

“Hai boss, hai Bang Rio.”

“Oh Martha. Wuiih bawa siapa nih?”

“Ini ada temen Martha, tuh si boss yang minta.”

Rio menolehkan pandangannya ke Bastian yang masih asyik dengan gelas sampanyenya. Rio pun menggelengkan kepalanya. Yah, mau udah jadi boss seperti sekarang pun, bajingan tetaplah bajingan. Bastian pun kemudian beranjak dari duduknya, menghadap ke gadis-gadis yang sudah ditunggunya.

So girl, are you ready to party?”

“Ssii… siap boss.”

Bastian tersenyum menghampiri gadis-gadis itu. Sempurna. Sesuai dengan apa yang dia pesankan ke Martha kemarin. Gadis-gadis muda berkulit kuning langsat khas Asia, rambut hitam legam kontras dengan warna kulitnya, buah dada yang ranum, pantat yang sekal, dan tentu saja rela menyerahkan kegadisannya untuk sejumlah uang yang belum tentu bisa mereka dapatkan dengan bekerja bertahun-tahun. Oh iya, satu lagi, gadis-gadis itu memenuhi permintaan Bastian untuk memakai seragam sekolah mereka.

“Lo mau ikutan apa cuma mau bengong dan nonton doang Yo?” tanya Bastian pada Rio yang masih terbengong melihat gadis-gadis cantik itu.

“Eh, ikutan lah, ngapain juga gue nontonin lo ngentot.”

“Hahaha…”

*****

Sepasang anak kecil tengah berlarian di sebuah tanah rerumputan yang cukup luas. Di area itu nampak beberapa tumpukan ban mobil bekas, drum bekas, dan beberapa papan yang penuh dengan bercak berwarna-warni, yang disusun secara acak. Di seputaran tempat itu juga tumbuh pepohonan yang tak begitu tinggi, serta semak-semak dan tanaman perdu.

“Zainal, Andin, mainnya jangan jauh-jauh ya nak.”

“Iya Ma.”

“Iya Bu.”

Kedua anak itu menjawab bersamaan, lalu melanjutkan lagi aktivitas mereka. Sementara wanita yang baru saja memanggil keduanya kembali membantu sang suami untuk mempersiapkan tempat itu sebelum nantinya dibuka jam 10 pagi ini.

“Udah biarin aja mereka main-main Ma, namanya juga anak-anak.”

“Hehe iya Pa, kalau udah lari-larian gitu rada susah dibilangin emang.”

“Gimana, udah beres disitu?”

“Udah kok Pa, Papa gimana?”

“Ini juga udah beres, udah siap semua, tinggal nunggu pengunjung aja.”

Pria itu kemudian memasang tanda open di pintu lalu kembali menghampiri istrinya. Terlihat dari raut wajah istrinya nampak cukup kelelahan, padahal sebenarnya tak terlalu banyak yang dilakukan karena sebagian persiapan sudah dikerjakan oleh para anak buahnya.

“Capek ya Ma?”

“Lumayan sih Pa.”

“Emang tadi Mama ngapain aja? Perasaan nggak ngapa-ngapain deh.”

“Yee, capeknya bukan karena ini Pa, tapi gara-gara papa semalam tuh.”

“Haha, kenapa Ma? Kan udah biasa tho?”

“Biasa apanya? Nggak ah, Papa semalam beda, nggak kayak biasanya.”

“Itulah Marto yang sesungguhnya Ma, jadi Mama siap-siap aja ya kalau Marto yang sesungguhnya keluar lagi kayak semalam, haha.”

“Haha, untung keluarnya nggak tiap hari ya Pa, bisa nggak kerja Mama kalau Papa kayak gitu tiap malem.”

Marto tergelak mendengar celotehan istrinya, Safitri. Tak salah memang apa yang dibilang oleh Fitri, entah kenapa tadi malam Marto begitu bernafsu menyetubuhi istrinya itu, staminanya seolah tak ada habisnya, mereka baru menyelesaikan pertarungan panasnya saat subuh tiba. Selama 3 tahun menikah memang hubungan ranjang rutin mereka lakukan meski tak sepanas semalam, karena Marto sadar keesokan harinya Fitri harus tetap bekerja seperti biasanya.

Dia kembali mengenang masa-masa 3 tahun yang lalu, saat setelah peristiwa malam tahun baru berdarah dimana puluhan nyawa melayang oleh tangannya, dia melamar Fitri. Marto yang saat itu tak memiliki pekerjaan tak menghalangi Fitri untuk tetap menerimanya. Dan ternyata setelah menikah, Marto dan Fitri mendapat hadiah yang luar biasa dari Wijaya dan keluarganya.

Atas jasanya menyelamatkan keluarga Wijaya di peristiwa berdarah itu, Wijaya memberikan modal yang cukup besar bagi Marto untuk membuka usaha. Selain itu, bank tempat Budi bekerja juga memberinya pinjaman dengan bunga yang sangat ringan untuk menambah modal usahanya. Marto sebelumnya masih kebingungan untuk memulai usaha apa, namun berkat diskusinya bersama Wijaya dan Budi dia mantap untuk membuka sebuah arena permainan paintball di kawasan Kaliurang. Semua urusan mengenai perijinan tentu dengan sangat mudah didapatkan oleh Marto berkat bantuan dari Wijaya.

Kini, arena permainan paintball yang dia beri nama Mafia Paintball itu sudah cukup sukses. Dua setengah tahun berdiri, dia sudah memiliki banyak pelanggan dari berbagai kalangan, tentu saja dengan bantuan promosi dari keluarga Wijaya. Fasilitas yang ada di Mafia Paintball ini pun cukup lengkap serta arena bermainnya yang luas, sehingga semakin hari Marto semakin memiliki banyak pelanggan.

Usaha sukses, rumah tangga pun begitu. Meskipun di usia pernikahan mereka yang hampir memasuki tahun ketiga mereka tak memiliki anak lagi, namun hal ini karena pilihan Marto sendiri. Fitri pernah bertanya kenapa Marto tak ingin memiliki anak lagi dari pernikahan mereka dan bahkan menyuruh Fitri untuk disterilkan, Marto hanya menjawab kini di rumah mereka sudah ada dua orang anak, yaitu Andin anak Fitri dan juga Zainal anak Yani, jadi rasanya tak perlu menambah lagi, karena Marto sudah mereka seperti anak kandung sendiri.

Fitri sempat bingung dengan jawaban Marto. Seorang pria normalnya pasti memiliki keinginan untuk bisa meneruskan garis keturunannya, tapi Marto justru sebaliknya. Namun Fitri percaya saja, yang penting baginya Marto bisa menganggap Andin sebagai anaknya sendiri. Marto sebenarnya punya alasan lain, yang belum mau dia sampaikan kepada Fitri, karena dia sendiri belum terlalu yakin akan hal itu.

Yani memang pada akhirnya tinggal bersama dengan Marto dan Fitri. Dia kini menjadi asisten rumah tangga di kediaman Marto dan Fitri. Marto yang merasa berhutang sangat banyak kepada Yani akhirnya memenuhi janjinya untuk mengajak Yani dan juga menyekolahkan Zainal. Meskipun sudah sangat terlambat untuk masuk sekolah karena usianya saat itu sudah 9 tahun, namun berkat kecerdasannya yang diatas anak-anak seusianya membuat Zainal tak kesulitan mencari sekolah.

Zainal bahkan diikutkan kelas akselerasi oleh sekolahnya, sehingga dalam dua setengah tahun ini dia sudah sampai ke kelas 5, dan sebentar lagi menuju kelas 6. Kecerdasan luar biasa Zainal tentu saja membuat bangga Marto dan Fitri, juga Yani. Terlebih lagi, Zainal tak pernah sungkan untuk mengajari orang lain, terutama Andin yang sudah dianggapnya sebagai adik.

Usia kedua anak ini yang hanya terpaut 3 tahun membuat mereka cepat akrab, bahkan selama ini sepertinya tak pernah Marto maupun Fitri dan Yani mendengar kedua anak itu bertengkar. Terlihat sekali bagaimana Zainal yang selama ini hidup hanya berdua dengan Yani dan tak memiliki teman main yang sebaya, begitu gembira dan bahagia akhirnya bisa memiliki teman, sahabat dan adik seperti Andin. Andin sendiri sangat senang memiliki seorang kakak yang sangat baik dan bisa melindungnya seperti Zainal.

Membayangkan itu membuat Marto tersenyum sendiri. Masa lalunya yang kelam sudah dia tinggalkan. Kini bersama keluarga barunya dia ingin menatap masa depan yang lebih baik lagi. Bersama dengan istri yang begitu dicintainya, anak-anak yang membuatnya sangat bangga, rekan-rekan yang selalu mendukungnya, membuat hidupnya begitu lengkap.

Fitri menangkap senyuman dari suaminya itu. Tak perlu dia bertanya karena sudah tahu apa jawaban dari suaminya nanti. Sudah berkali-kali Marto seperti itu, melamun cukup lama lalu tersenyum, dan setiap ditanya jawabannya selalu sama. Dia pun merasa demikian. Kini hidupnya kembali lengkap dengan hadirnya Marto dalam kesehariannya. Ditambah lagi seorang anak laki-laki yang dengan begitu mudahnya dekat dengan anaknya.

Fitri pun sudah menganggap Zainal seperti anak sendiri, dan tak terlalu membedakan perlakuan antara keduanya. Yang membuat Fitri semakin bangga adalah bahwa Zainal yang meskipun sudah dianggap seperti anak sendiri, tapi dia menyadari posisinya. bahwa dirinya tetap adalah anak dari pembantu Fitri sehingga tidak pernah meminta macam-macam.

Yani yang kini hadir di keluarganya pun dirasa sangat-sangat membantunya. Terlebih lagi ibu mertua dari pernikahan pertamanya kini sudah semakin tua, sehingga pekerjaan rumah yang biasa dilakukannya kini semua ditangani oleh Yani dengan sangat baik. Kehidupan yang begitu lengkap dan bahagia.

Namun sayangnya, apa yang dirasakan Fitri tidaklah sesempurna kelihatannya, dan sampai saat ini dia tak pernah bisa untuk membaginya dengan Marto. Ya, masih ada sebuah rahasia dibalik semua kejujurannya selama ini kepada Marto, yang tak lain adalah hubungan gelapnya dengan sang atasan.

Seperti halnya saat ini, dia memang lelah, sangat letih. Namun letihnya Fitri bukan hanya karena permainan Marto semalam saja, namun karena siang harinya, dia, bersama dengan seorang rekan kerjanya yang lain sesama polwan, dibuat tak berdaya oleh keperkasaan sang atasan.

Selama siang hingga sore hari itu, Fitri dan rekannya, serta atasannya tidak lah berada di kantor, namun berada di rumah sang atasan. Mereka bertiga bertempur habis-habisan, hingga Fitri dan rekannya merasa begitu lemas bagaikan tulang-tulangnya dilolosi. Sore hari setelah sempat beristirahat sebentar barulah dia pulang, dan malam harinya sang suami meminta jatahnya.

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, semalam rasanya Marto menjadi begitu perkasa. Harusnya dia senang, namun hal itu malah menjadi siksaan tersendiri untuk Fitri yang sebelumnnya sudah sangat lelah. Meski begitu Fitri tetap berusaha untuk melayani sang suami sebaik mungkin sampai akhirnya benar-benar lemas tak berdaya.

“Eh iya Pa, nanti jam 11 Mama balik ya, Mbak Yani katanya minta diantar ke carrefour, mau belanja bulanan.”

“Oh iya nggak apa-apa Ma, sekalian sama anak-anak kan?”

“Iya Pa. Trus Papa pulangnya gimana nanti?”

“Gampang lah, palingan kan pulangnya malem, soalnya kalau weekend gini kan ada aja yang pengen main malem disini Ma. Kalau Mama nggak bisa jemput nanti biar Papa diantar sama anak-anak aja.”

“Ya udah deh kalau gitu Pa.”

Sebenarnya bukan tujuan utama Fitri untuk mengantar Yani belanja, karena janjian mereka pun masih nanti sore. Fitri hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang benar-benar kelelahan setelah dihajar habis-habisan oleh dua lelaki yang perkasa. Dia berharap nantinya tidak lagi sampai seperti ini, dalam sehari semalam harus melayani kedua lelaki itu ketika nafsu mereka sedang tinggi-tingginya, seperti kemarin.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler