. MATAHARI Part 32 | Kisah Malam

MATAHARI Part 32

2
333

MATAHARI Part 32

AMBYAR

Pov Angger

Cuukkk.. ga pernah terbayangkan sedikitpun didalam pikiranku, kalau aku akan terlibat dalam peperangan dikampus teknik kita ini.. peperangan yang sangat luar biasa dan baru pertama kali aku mengikuti peperangan seperti ini .. walaupun aku gak terlalu berperan dalam pertempuran ini, tapi bagiku itu sudah sangat membuat aku senang.. karena aku bisa melihat kebangkitan pondok merah didepan mataku sendiri….

Aku datang kekampus teknik kita ini, karena ditelpon oleh Mas Panji dan aku dipaksa harus datang.. awalnya aku juga bingung, kenapa dipaksa seperti itu.. tapi setelah terjadi pertempuran ini, aku baru tau tujuan Mas Panji menelponku.. sebenarnya aku malas datang kekampus ini, karena tubuhku masih letih setelah upacara penutupan orientasi dikampus negeri semalam.. dan bukan hanya tubuhku yang letih, tapi pikiran dan hatiku juga.. (tapi cukup sampai disitu aja, ga usah dulu bahas wanita – wanita yang ada disekelillingku…

Dan pada saat aku datang siang tadi.. aku sempat menahan emosiku yang akan meledak, karena melihat wajah Dede yang bonyok setelah dikeroyok oleh anggota Faris dan Haris kemarin sore.. walaupun aku melihat wajah Dede dari agak jauh, bekas luka dan lebamnya bisa jelas.. untung Mas Panji menahanku, menenangkan dan menjelaskan semua tentang rencana untuk pertempuran besar itu .. kalau engga, aku pasti akan langsung mendatangi tempat berkumpulnya anggota Haris dan Faris.. dan akan aku akan bantai siapapun yang kutemui disana.. jiancuukkk..

Banyak hal yang membuat aku terkejut, ketika aku masuk kedalam kampus teknik kita tadi.. yang pertama tentu saja tentang aku, yang boleh masuk kedalam area orientasi ini.. padahal setahuku, yang boleh masuk ke area kampus teknik kita selama orientasi ini, hanyalah panitia, maba dan pengisi acara malam kekraban.. selain itu tidak boleh.. tapi entah apa yang diucapkan Mas Panji kepada panitia yang penjaga gerbang, sampai panitia yang berjaga digerbang itu membukakan pintunya untuk aku masuk..

Keterkejutanku lainnya.. ketika aku melihat Amir, Baco dan Jumbo yang kuliah dikampus teknik kita.. mereka bertiga itu sahabat kental Dede Gagah, waktu masih SMK dipulau seberang sana.. dan keterjutanku makin menambah, setelah melihat Mas Karel ada dibarisan maba.. aku kira Mas Karel kuliah diibukota propinsi sana, menyusul Mba Tania.. tapi ternyata Mas Karel malah kuliah dikampus teknik kita.. guendeng ancene og..

Dan untuk peperangan tadi, semua seperti sudah direncanakan.. rencana yang sangat matang tentunya.. peperangan yang dimulai dari kelompok Dede Gagah dan diakhiri oleh anggota pondok merah..

Cara Dede Gagah dalam memulai peperangan pun, sangat cantik sekali.. dimulai dengan aksi gilanya merokok dipanggung, bermain music yang menggugah semangat para maba, dihajarnya salah satu panitia oleh Mas Karel lalu dengan kompaknya para maba melindungi Mas Karel, lalu Dede Gagah berorasi dengan semangatnya.. itu sangat cantik sekali menurutku..

Belum lagi permainan cantik dari pondok merah, ketika Dede Gagah meloncat kepanggung dan menyerang kelompok Haris dan Faris.. semua penghuni pondok merah hanya memberikan jalan untuk Dede Gagah, Mas Karel, Amir, Baco dan Jumbo untuk menyerang kelompok Haris dan Faris.. setelah Dede gagah dan teman – temannya lewat.. penghuni pondok merah dan panitia yang loyal dengan pondok merah, langsung membuat pagar betis dan menggiring para maba masuk kedalam aula.. rencana yang bagus sekali.. kalau sandainya semua maba ini terlibat.. gak tau bagaimana nasib kelompok Haris dan Faris..

Dan setelah memastikan semua maba ada didalam aula.. penghuni pondok merah memberi tanggung jawab kepada para panitia yang loyal dengan pondok merah, untuk menjaga para maba itu.. lalu penghuni pondok merah menyusul Dede Gagah, untuk menhancurkan para pasukan Haris dan Faris..

Dan aku pun sempat ikut dengan menumbangkan beberapa anggota dari Haris dan Faris.. tujuanku hanya untuk memberi semangat kepada Dede Gagah, agar dia menuntaskan dendamnya dan mengancurkan kelompok yang berani mengusiknya dan mengusik pondok merah..

Dan ketika perang itu sampai dipuncaknya, semua anggota Haris dan Faris telah ditumbangkan.. tinggal Haris dan Faris yang masih tersisa.. Faris melawan Dede dan Haris melawan Mas Karel.. pertarungan yang awalnya ga seimbang, karena Faris dan Haris menggunakan kekuatan mata hitam.. dan setelah Dede Gagah menggunakan kekuatan Mata Hitamnya juga, dia bisa mengimbangi bahkan menumbangkan Faris dengan kondisi yang mengenaskan..

Dan untuk Mas Karel, aku ga menyangka kalau Mas Karel memiliki mata biru.. kekuatan apa lagi itu..? dan dari mana asalnya..? kekuatan dari mata biru Mas Karel itu sangat luar biasa.. dia bisa mengalahkan Haris yang menggunakan mata hitamnya itu, dengan cara yang sadis dan mengerikan.. apa pertempuran selesai sampai disitu..? tidak.. justru puncaknya ketika seorang yang bernama Roni Kebo datang dan berduel dengan Badai.. duel yang sangat mengerikan, antara mata hitam dan mata merah..

Cuukkk.. memang pertarungan yang sangat luar biasa…

Dan akhirnya, pertarungan selesai ketika matahari akan terbenam.. semua maba masih didalam aula dan kami yang ada dibarisan pondok merah, langsung digiring kedalam sebuah ruangan dikampus teknik kita oleh Om Satria.. suasana disekitar kampus dan lapangan utama kampus teknik kita pun, sangat sepi dan steril.. tidak ada manusia satupun yang terlihat.. lalu datang beberapa bus masuk kedalam lapangan utama kampus teknik kita dan mengangkut semua anggota Haris dan Faris yang terkapar termasuk Roni Kebo.. bercak – bercak darah sisa pertarunganpun, dibersihkan dengan sangat cepat.. satu jam kemudian, setelah beberapa bus itu keluar dari kampus teknik kita.. lalu lalang didepan kampus teknik kita mulai terlihat.. maba – maba mulai dikeluarkan dari aula gedung utama dan sisa panitia yang ada dikampus, langsung kembali keposisi masing – masing.. gilaaa.. cantik sekali permainannya..

Dan sekarang, setelah semua maba berkumpul di lapangan utama kampus teknik kita, mereka semua langsung diberi makan malam sambil beristirahat sejenak.. dan satu jam lagi.. bintang tamu yang akan mengisi acara penutupan orientasi kampus teknik kita, akan datang dan menampilkan hiburan bagi para maba dan panitia yang ada dikampus teknik kita.. lalu beberapa panitia naik ketas panggung.. para panitia itu bergantian berbicara, untuk mencairkan suasana yang masih terasa sedikit tegang diwajah – wajah para maba..

Dede gagah pun telah masuk kedalam barisan kelompoknya, setelah lukanya dibersihkan oleh seorang wanita cantik yang memakai jaket panitia.. dan wanita itu pembawa acara kegiatan malam keakraban bersama Clara.. gilaa.. cepat banget Dede Gagah ini mendapatkan perhatian dari seorang wanita cantik.. guendeng ancene og.. tapi ngomong – ngomong tentang Clara, kami belum bertatap muka dari tadi.. dan aku hanya melihatnya dari kejauhan, ketika dia membawakan acara malam keakraban diatas panggung.. dia tau gak ya, kalau aku ada disini..? asuudahlah.. ga usah mikir wanita dulu, pusing kepala ini.. hehehe.. jiancuukkk..

Dan para penghuni pondok merah pun, telah menyebar dibelakang barisan maba, samping maba, didekat pagar dan didekat gerbang utama.. dan mereka tetap menggunakan jaket berwarna merah..

Oh iya.. aku juga sekarang menggunakan jaket pondok merah.. jaket ini diberikan Mas Panji ketika perang tadi belum dimulai.. pada saat semua penghuni pondok merah sedang berkumpul, dan mereka sedang mengganti jaket orientasi dengan jaket pondok merah.. Mas Panji mengangkat aku sebagai keluarga besar pondok merah dihadapan semua anggotanya.. lalu setelah itu memakaikan jaket merah ini kepadaku.. cuukkk.. bangga juga aku ketika memakai jaket ini.. hehehehe..

Dan sekarang.. aku berdiri didepan gedung tempat pembantaian tadi.. aku bersama Mas Panji, Mas Agam, Pace Beni, dan Mas Gibran.. selain itu tidak ada manusia disini.. dan disini sangat sepi sekali.. tidak ada panitia atau maba yang berkumpul disini.. mungkin karena masih ada hawa – hawa pembantaian yang terasa, jadi tidak ada yang berani kemari.. padahal tempat ini sudah bersih dan lebih bersih dari pada sebelum pertempuran tadi terjadi..

Dan dari tempat kami berdiri ini, aku bisa melihat semua maba dari arah belakang mereka.. dan disini pun, posisinya sangat bagus untuk melihat panggung yang besar didepan sana..

Akupun langsung memperhatikan satu persatu maba yang duduk didepan sana.. aku mau mencari Dede Gagah diantara barisan para maba itu.. aku hanya mau memastikan, apa dia betah atau mau buat ulah lagi yang akan mengejutkan kami semua.. hehehe.. selain itu juga.. aku mau cari seorang wanita, yang tatapan matanya membuat aku kangen kepadanya.. cuukkk.. kok kepikiran dia lagi sih..? ahhh.. guendeng ancene og..

“dikelompok tujuh dia..” tiba – tiba ada suara wanita dari arah belakangku dan aku langsung terkejut sambil membalikkan tubuhku..

Cuukkk..Clara.. wanita yang aku kangeni tatapan matanya dan sekarang dia ada disini, berdiri dan sedang berbicara kepadaku.. gilaaaa.. gilaaa.. sejak kapan dia berdiri dibelakangku..? dari mana aja dia dari tadi..? kok baru kelihatan setelah perang selesai..? gila.. tapi ngomong – ngomong.. dia beneran makin cantik aja loh.. padahal kami berdua baru bertatapan muka, dua kali ini.. tapi aku merasa dia memang makin cantik aja.. apalagi ketika tersenyum seperti sekarang ini.. guendeng ancene og..

“hai ra..” ucapku sambil menatap wajah cantik Clara..

Clara Jasmeen Salsabila

“biasa aja kali ngger..” ucap Clara lalu menunduk malu..

“biasa apanya ra..?” tanyaku..

“biasa aja ngelihatnya.. kayak belum pernah lihat cewe cantik aja..” ucap Mas Gibran dan aku langsung tersenyum kearah Mas Gibran.. dan Mas Panji hanya menggelangkan kepalanya saja, lalu melihat kearah maba lagi..

“bisa ngobrol sebentar ga ngger..?” tanya Clara sambil mengangkat wajahnya dan melihatku lagi..

“bukannya kita ini lagi ngobrol ya..?” tanyaku..

“maksudnya ngobrol berdua.. masa gitu aja gak paham sih ngger..?” ucap Mas Agam menyahut.. dan Clara pun kembali tertunduk malu..

Cuukkk.. ini orang – orang kenapa sih..? senang banget nyahutin ombrolan orang lain..

“kita kesitu aja yo ra..” ucapku sambil menunjuk kearah ujung bangunan ini, dan disana suasananya sedikit agak remang – remang..

“iya..” ucap Clara sambil mengangkat wajahnya lalu mengangguk..

“mas aku kesitu dulu ya..” ucapku ke Mas Panji sambil menunjuk kearah ujung bangunan ini..

“hem..” jawab Mas Panji singkat..

Aku dan Clara pun, langsung berjalan kearah ujung bangunan yang ada kursi betonnya.. dan kami berdua langsung duduk berdampingan.. setelah itu kami berdua diam beberapa saat..

“kok kamu tau kalau aku mencari orang dan orangnya ada dikelompok tujuh..?” ucapku membuka obrolan kami ini.. dan kami berdua menghadap lurus kedepan..

“ya taulah ngger.. aku kan bina dampingnya..” jawab Clara..

“emang kamu tau siapa yang kucari..?” tanyaku sambil melirik Clara..

“Gagah Irawan Sandi kan..?” ucap Clara yang menyebut nama Dede dengan lengkapnya..

“loh emang kamu kenal sama dia..?” tanyaku dengan herannya..

“ya taulah.. si mbeling itukan adekmu..” ucap Clara dan aku langsung menolehkan wajahku kearah Clara yang menatap lurus kedepan..

Cuukkk.. yang manggil Dede Gagah dengan sebutan itu kan cuman…

“ihhh.. kubo kok gitu sih..? lupa ya sama aku..?” ucap Clara dengan Manjanya sambil membalas tatapanku..

Kubo and the Two Strings.. Film yang terkenal dijaman kami kecil dulu.. Kubo itu pemeran utama dalam film itu.. dan aku pernah menonton Film itu dibioskop, ketika aku liburan kepulau ini.. waktu itu aku diajak Pakde Rendi, Bude Gabby, Mba Tania anak pertama Pakde Rendi, Mas Karel anak kedua Pakde Rendi, dan Dede Gagah.. oh iya satu lagi.. satu orang anak perempuan yang cengeng banget, keponakan Pakde Rendi.. nama anak perempuan itu kalau gak salah Clara.. cuukkk.. apa ini Clara si gembeng..? bajingaaannn..

“kamu Clara Gembeng..?” tanyaku dengan ekspresi yang terkejut dan menatap wajahnya..

“iihhhh.. Kubo jahat.. padahalkan dulu Kubo gak pernah manggil aku gitu.. kok sekarang malah ikutan si mbeling panggil gitu sih..?” ucap Clara lalu menatap lurus kedepan, sambil melipatkan kedua tangannya didada.. cuukkk.. manja banget sih Clara ini..

“maaf ra.. maaf..” ucapku sambil terus menatap wajahnya itu..

Cuukkk.. pantas aja waktu ketemu pertama kali dihari itu, Clara menatapku dengan sangat dalam.. bajingaan.. jadi dia menatap seperti itu, karena dia mencoba mengingatku yang belasan tahun gak ketemu..? engga.. engga mungkin.. tatapan nya beda hari itu.. tatapan hari itu tatapan cinta dan ga mungkin aku salah.. aku aja sampai larut dengan tatapannya seperti itu kok.. guendeng ancene og..

Dan menurutku.. Clara pasti baru mengingatku, ketika sudah mengenal Dede Gagah beberapa hari ini.. dan pasti mereka berdua juga sudah mengobrol tentang aku..

Terus gimana kalau sudah begini..? ya tentu saja harus dicoret dari daftar wanita – wanita yang ada dihatiku.. Clara gak mungkin aku tempatkan bersama para wanita itu.. dia masih ada hubungan keluarga dengan aku, walaupun jauh banget sih hubungannya.. dan itu bisa mengurangi sedikit beban yang ada dipikiranku.. hehehehe.. jiancuukkk.. sombong banget ya aku..? berasa orang ganteng yang banyak pilihan wanitanya saja.. assuu.. asuu..

“eh iya ra.. gimana kabarnya..? kapan kamu balik kenegeri ini..?” ucapku untuk mencairkan suasana diantara kami ini.. ya walaupun Clara bersikap seperti biasa dan dia malah bersikap manja seperti ini.. tapi akunya yang gak biasa, apalagi aku sempat ada rasa dengannya.. kan gila banget kalau gitu..

“baik aja ngger.. aku tuh udah dinegeri ini, semenjak daftar dikampus teknik kita..” ucap Clara sambil melirikku.. lalu kami berdua sama – sama diam lagu.. dan sekarang aku bingung apalagi yang mau aku tanyakan, dan Clarapun perlahan terlihat salah tingkah..

“kamu dari mana aja, kok baru muncul..?” tanyaku lagi sekenanya, karena aku bingung mau ngobrol apalagi..

“aku tuh didalam aula dari tadi.. setelah Gagah loncat dari panggung dan berlari kearah kelompok Haris dan Faris, aku ditarik temanku kedalam aula.. gilaa ya.. kok bisa ada tawuran macam itu dikampus teknik kita.. memangsih perkelahian menjadi hal yang biasa dikampus ini, orientasinya aja keras banget.. tapi aku gak pernah menyangka akan terjadi perkelahian yang seperti tadi..” ucap Clara dan sepertinya dia trauma melihat pertempuran tadi..

“emang kamu bisa lihat perkelahian tadi ya..? katanya didalam aula..?” tanyaku dan sekarang sudah mulai mengalir berbicaranya..

“memang aku gak lihat.. lagian mana berani aku lihat.. tapi teriakan – teriakan kalian semua itu, kedengaran tau dari dalam aula.. untungnya kami bisa nenangin para maba yang didalam aula..” ucap Clara dengan wajah yang terlihat masih agak ketakutan..

“kamu, Mas Karel, Gagah.. memang gila ya..? apalagi Mas Karel dan Gagah.. iiiiii..” ucap Clara sambil menggidikkan tubuhnya..

“mereka berdua gila kan pasti ada alasannya ra..” ucapku sambil bersandar dikursi dan menatap kedepan lagi, sambil membuka permenku dan mengemutnya..

“iya juga sih.. perlakuan panitia tahun ini memang kelawatan banget.. aku aja sampai kasihan kalau lihat Gagah dan Mas Karel dihajar seperti itu.. kayak bukan lagi acara orientasi aja..” ucap Clara dengan tatapan yang lurus kedepan..

“nah kamu tau itu..” ucapku sambil memegang batang permenku lalu mengemutnya lagi..

“tapi gak gitu juga kali bo.. pembalasan kalian sadis banget..” ucap Clara sambil melirikku..

“namanya pembalasan itu pasti sadis.. kalau mau jadian, itu baru manis.. hehehe..” ucapku sedikit bercanda dengan Clara..

“iihhh.. kubo.. sudah mulai pinter ngarayu ya.?” Ucap Clara dan sekarang dia yang balik bercanda denganku.. asuuu..

“hehe.. yang ngerayu siapa ra..?” tanyaku sambil melihat wajahnya lalu aku tersenyum..

“itu tadi apa kalau bukan merayu..” ucap Clara sambil memajukan wajahnya kearahku..

“canda kali ra..” ucapku sambil menghadap lurus kedepan lagi, dan aku menyandarkan punggungku dikursi beton sambil mengemut permenku lagi..

Clara pun menyandarkan tubuhnya dikursi beton, sambil menatap lurus kedepan juga.. kami kembali sama – sama diam, sambil melihat keremangan malam yang ada didepan kami.. dan dimalam ini juga, bulan purnama masih menampakkan wujudnya.. dan setelah beberapa saat, Clara memiringkan kepalanya dan menyandarkan dipundakku.. cuukkk.. bisa begini ya..?

“waktu pertamakali kita ketemu dikampus ini.. kamu ngerasain apa yang kurasa ga bo..?” tanya Clara dengan suara lembutnya, sambil tetap menyandarkan kepalanya dipundakku..

Cuuukkk.. kenapa juga dia bertanya seperti ini..? apa dia sengaja memancingku, supaya aku jujur dengan perasaanku..? engga – engga.. ini gak boleh aku biarkan.. tapi gimana aku jawabnya..?

“hiuufftttt.. huuuuuu..” dan aku hanya menarik nafasku dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan..

“lucu ya bo..? untungnya kita cepat menyadari.. kalau engga, gimana reaksi Gagah sama Mas Karel kalau tau kita saling…” ucapnya terpotong..

“saling apa..? bukannya kamu kekasihnya Badai ya..?” ucapku dan Clara langsung menegakkan kepalanya sambil melihat kearahku.. dan sengaja aku berbicara seperti ini, supaya kami berdua tidak larut dengan obrolan yang sudah mulai menjurus keperasaan kami ini.. jiancuukkk..

“ra.. kita ke panggung utama yo.. entar lagi, bintang tamunya datang loh..” ucap seorang wanita cantik, yang tiba – tiba datang dan berdiri didekat kami duduk ini.. cuukkk.. inikan wanita yang bersihin lukanya Dede tadi..

“eh iya iya..” ucap Clara terkejut lalu berdiri dan aku juga ikut berdiri..

Clara pun langsung melirik kearahku dengan tatapan yang masih seperti tidak puas saja.. guendenga ancene og..

“oh iya la.. ini Angger, dia Masnya Gagah..” ucap Clara sambil mengenalkan aku kepada wanita cantik itu.. dan wanita cantik bernama Mala itu, hanya tersenyum kepada Clara.. lalu dia melihat kearahku..

“oh iya Mas.. saya Mala.. Nirmala Allisya Maheswari..” ucap Wanita bernama Mala itu, sambil menjulurkan tangannya kepadaku..

“Angger la.. ga usah pakai Mas..” ucapku sambil menjabat tangannya..

“hehehehe..” dan Mala hanya tersenyum saja..

Nirmala Allisya Maheswari

“ya udah.. kami tinggal dulu ya ngger..” ucap Clara dengan dinginnya kepadaku, dan dia sekarang memanggilku dengan sebutan namaku lagi.. bukan kubo lagi.. asuu.. assuuu

“oh iya ra..” ucapku kepada Clara sambil menatap wajahnya dan dia langsung melihat kearah yang lain.. cuukkk.. maksudnya gimana sih Clara ini..? kok begitu ekspresinya sama aku..? bajingaannn..

“tinggal ya ngger..” pamit Mala kepadaku..

“iya la..” ucapku sambil menganggukan kepalaku dan tersenyum kepada Mala..

Mereka berdua langsung pergi meninggalkan aku.. dan aku langsung berjalan kearah Mas Panji tadi berdiri.. dan rupanya hanya tinggal Mas Panji sendiri disini.. Mas Agam, Pace Beni dan Mas Gibran pergi entah kemana..

“loh.. kok sendiri mas..? kemana yang lain..?” tanyaku kepada Mas Panji..

“mereka kedepan panggung.. soalnya bintang tamu mau main..” ucap Mas Panji lalu menghisap rokoknya..

“emang siapa bintang tamunya..?” tanyaku..

“the godfather of brokenheart..” ucap Mas Panji sambil melihat kearahku dan memainkan kedua alisnya..

“jinacuukkkk.. hahahahaha..” ucapku memaki lalu aku tertawa dengan kearasnya..

“kamu lagi ambyarkan..? ayo kita kedepan sana.. kita ambyar bareng..” kata Mas Panji lalu tersenyum kepadaku dan melangkahkan kakinya kearah lapangan..

oyi tok wes..” sahutku dengan semangatnya sambil berjalan menyusul Mas Panji.. (oyi to wes = oke aja pokoknya bro..)

Hahahaha.. bajingaann.. kekerasan hari ini akan ditutup dengan lagu yang akan membuat hati ini makin ambyar, seambyar – ambyarnya.. jiancuukkk..

Pov Gagah

Anjing.. setelah pertarungan tadi.. kami semua digiring kedalam sebuah ruangan digedung belakang rektorat.. dan yang menggiring kami, orang tua yang usianya kurang lebih dengan Ayahku.. dan ketika aku bertanya dengan Mas Angger, Mas Angger bilang orang tua itu sahabat Ayah ketika kuliah dulu.. namanya Om Satria..

Kami semua dikumpulkan didalam sebuah ruangan dan tanpa berbicara apa – apa.. kami hanya diberi ramuan misterius dan kami minum secara bergantian.. gilaa.. ramuan misterius itu yang buat Om Satria..? beneran ini..? gak mungkin lah.. tapi siapa ya..? asuudahlah..

Dan setelah memberi kami minuman itu, Om Satria langsung pergi dari tempat ini.. dan kami masih berdiam diri didalam ruangan ini beberapa saat.. dan didalam ruangan ini, yang wajahnya babak belur.. aku, Bang Badai, Mas Karel, Amir, Jumbo, dan Baco.. sementara para penghuni pondok merah yang lain, hanya luka – luka kecil dan berdarah tapi ga parah.. hanya dua orang saja yang wajahnya tidak terluka sama sekali.. Om Panji dan Mas Angger.. tapi entar dulu, walaupun wajah Mas Angger ga terluka dan berdarah.. bibir sampingnya seperti ada bekas luka dan mengering.. sepertinya Mas Angger habis berkelahi, tapi dengan siapa..? bajingaannn.. aku harus cari tau ini.. dan aku gak akan berharap Mas Angger cerita, karena itu pasti ga mungkin..

Lalu beberapa saat kemudian.. Mala masuk bersama beberapa panitia bagian kesehatan.. para panitia bagian kesehatan itu langsung mengobati Bang Badai, Mas Karel, Amir, Jumbo, dan Baco.. dan Mala langsung duduk disebelahku dan mengobati lukaku.. sebenarnya kami semua tidak mau diobati seperti ini.. tapi karena tatapan tajam Om Panji dan Mas Angger, kami berenam pun hanya bisa diam dan pasrah ketika wajah kami diobati..

Mala yang membersihkan dan mengobati lukaku, menatapku dengan mata yang berkaca – kaca.. dia terlihat sangat khawatir denganku.. anjing.. kenapa Mala bisa begini sih..? dia suka sama aku ya..? kalau suka ya udah.. aku juga suka kok.. hehehehe.. masa disukai wanita secantik Mala, aku ga mau..? gila aja.. padahal, sebelum Mala menyukai aku, aku sudah menjadikannya sebagai target hatiku.. hehehehe.. gimana..? keren gak aku..? hahahahaha.. anjing.. anjing..

Dan ketika tangan halus Mala menyentuh kulitku, hatiku pun makin adem aja.. tadi ketika emosiku sedang memuncak dan aku sudah membantai lawanku.. tepukan hangat Mas Angger dipundakku, membuat emosiku turun berlahan.. apalagi ketika Mas Angger menatapku, dengan tatapan yang kadang – kadang keluar cahaya hijaunya.. emosiku langsung mereda, sereda – redanya.. gilaaa…

Dan sekarang, emosiku yang sudah mereda ini.. makin terasa adem dengan sentuhan Mala diseluruh wajahku.. tatapan matanya pun semakin membuat aku tenang.. gila nih cewe.. selain cantik, dia bisa membawa ketenangan hati ini.. apa gak idaman banget kalau gitu..

Dan setelah kepergian Mala dan panitia kesehatan, kami keluar dari ruangan ini.. aku, Mas Karel, Baco, Amir dan Jumbo, kembali kekelompok kami yang sudah berkumpul dilapangan utama.. sedangkan Mas Angger dan para penghuni pondok merah, berkumpul sejenak sebelum mereka bubar dan menempati posisi masing – masing..

Aku yang balik kekelompokku, disambut tepukan tangan yang meriah dari para teman – teman maba.. gilaa.. gila.. tapi sambutan dari Clara yang gak meriah, dia terlihat marah denganku.. kurang ajar nih gembeng.. untung ada teman – temanku, kalau enggak.. sudah kubuat mewek lagi dia.. hehehehe..

“kita bicara sebentar disana..” ucap Clara ketika aku baru duduk bersama teman – temanku.. dan suaranya terdengar ketus sekali..

“siap – siap..” ucap Baco dengan suara yang pelan..

“mati dalam kamu gah.. hihihihi..” ucap Amir kepadaku lalu tertawa dengan sangat pelannya..

Dan Jumbo cuman memajukan bibirnya kepadaku, seperti gerakan orang yang berciuman.. dan itu kode dari Jumbo, kalau aku disuruh melumat bibir Clara kalau dia mengomel.. bangsatt.. enak banget nyuruh aku melumat bibir Clara.. kalau cewe yang lain sih aku terima tantangan itu, kalau Clara..? uhhhh.. bisa diadukan ke Pakde Rendi aku.. terus Pakde Rendi ngomong sama Bundaku.. apa bibir ini gak langsung dijewer sama Bunda..? belum pernah kan ngerasain bibir dijewer..? anjing banget itu pasti rasanya..

Akupun langsung mengkuti Clara yang berjalan kearah belakang gedung rektorat.. dan setelah sampai dibelakang gedung rektorat yang sepi, Clara langsung membalikkan tubuhnya secara tiba – tiba.. dan aku hampir saja menabraknya.. nih cewe enak banget stopnya.. coba pakai retting dulu kek.. mentang – mentang perempuan itu gak pernah salah, jadi bisa berbuat seenaknya aja.. kalau gak ingat masih ada hubungan saudara, sudah kulumat habis itu bibirnya.. bajingaann..

“kamu itu ya.. senang betul berkelahi.. pakai acara merokok dipanggung lagi.. terus mulutmu bau minuman lagi.. kamu sengaja cari keributan..?” ucap Clara yang langsung mengomel sambil melipatkan kedua tangannya didada..

“katanya Yunda penampilannya disuruh beda..? tapi kenapa sekarang malah marah sih..?” ucapku dengan santainya..

“beda..? jadi menurutmu, kegilaanmu tadi itu beda..?” ucap Clara sambil matanya melotot..

“iya.. kerenkan..?” tanyaku sambil memainkan kedua alis mataku yang terluka ini..

“kamu itu gila..” ucap Clara lalu dia menurunkan kedua tangannya kebawah, setelah itu dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan aku dengan wajah yang sangat jengkel..

Lohh.. gitu aja..? jadi dia ngajak aku cuman mau ngomong seperti itu, terus pergi..? banjingaaannn.. kalau kata Ade Banyu, ini sudah kampret sekalian sempaknya.. bangsat ga..?

Perempuan.. perempuan itu mahluk yang paling susah ditebak.. kadang dia marah, tapi sebenarnya dia perhatian.. kadang dia bilang tidak, sebenarnya berharap.. kadang bilang iya, sebenarnya melarang.. dan banyak kadang – kadang lain yang membuat biji ini langsung gatal.. dan intinya.. kita para laki – laki ini, tidak akan pernah bisa benar dan menang dari para perempuan itu.. itu yang kurasakan loh ya, gak tau kalau laki – laki yang lain.. hehehe.. anjing..

“kamu itu ya gah.. sudah tau Clara itu seperti itu.. kenapa dilawanin sih kalau dia lagi marah..?” tiba – tiba dari arah sampingku, ada seorang wanita berbicara dan dia adalah Mala..

Akupun langsung mengeluarkan bungkusan rokokku dari kantong belakangku.. bungkusan rokok yang sudah gak berbentuk, karena terkena injakan dari lawan – lawanku tadi.. aku lalu mengambil sebatang dan mengantongi lagi bungkusan rokokku itu.. lalu aku menekan batang rokokku sambil aku putar, supaya berbentuk bulat lagi.. setelah itu aku membakarnya dan menghisapnya dalam – dalam.. keren gak bro..? hehehehehe.. anjingg..

“aku kan menjawab apa adanya..” ucapku setelah mengeluarkan asap rokok yang didalam mulutku..

“apasih susahnya mendengar itu..? perempuan itu kalau marah gak akan lama kok, apalagi marahnya karena perhatian..” ucap Mala sambil berjalan mendekati aku..

“itulah salah satu kejelekanku la.. aku itu gak bisa diam ketika seseorang mengomeli aku, padahal belum tentu yang aku lakuin ini salah..” ucapku lalu aku menghisap rokokku lagi..

“bagimu gak salah gah.. tapi bagi orang lain..?” tanya Mala dengan suara yang terdengar lembut dan tidak terkesan mengomel..

“itu sih terserah orang.. hidup – hidupku.. kenapa harus orang lain yang menilai..?” ucapku sekenanya saja..

“karena manusia itu gak selamanya hidup sendiri gah.. ada kalanya manusia itu bergantung dengan manusia yang lain..” ucap Mala sambil menatapku dengan tatapan yang.. sudahlah..

“kalau gitu aku bisa menggantungkan hatiku kekamu dong..?” ucapku sambil memajukan wajahku, mendekat kearah wajah Mala..

Mala hanya tersenyum tanpa menghindar, ketika wajahku mendekat kewajahnya.. anjingg.. nantangin aku nih ceritanya..? apa kulumat aja ya bibir Mala yang tipis ini..? dan tiba – tiba Mala membalikkan tubuhnya.. akupun langsung membuang rokokku yang masih panjang dan aku langsung memegang tangan kirinya lalu menariknya sampai menghadap kearahku.. lalu kedua tanganku memegang pinggang Mala dan aku merapatkan tubuhku kearahnya.. dan..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Aku langsung melumat bibir Mala yang tipis ini.. entah mendapat keberanian dari mana aku ini, sampai berani senekat ini melumat bibir Mala.. dan bibirnya yang dingin itu, terasa hangat dilumatan bibirkuku..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Aku melumat bibir bawah Mala sambil sesekali menghisapnya.. Mala pun tidak menghindar atau menolak lumatan bibirku ini.. dan perlahan kedua tangan Mala memegang kedua pipiku dan lumatan kami semakin dalam..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Bibir Mala pun mulai menghisap bibir atasku.. dan hisapan bibir Mala itu, langsung membuat seluruh tubuhku bergetar.. aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika saling melumat dengan Mala ini.. hisapannya dibibir atasku yang diselingi dengan jilatan ringan dibibirku.. membuat bulu kudukku berdiri.. Mala tidak jijik sedikitpun melumat bibirku yang sebagian terluka ini..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Tanganku yang ada dipinggang Mala, perlahan mulai menyusur kebelakang tubuhnya.. lalu aku meraba punggungnya dengan sangat pelan..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Ciuman ini pun makin memanas di hawa yang makin dingin dikota ini.. aku lalu melangkahkan kaki kearah ruang kosong diseberang belakang gedung rektorat.. Mala pun berjalan mundur sambil terus melumat bibirku..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Lumatan dan rabaan dipunggung Mala, membuat Mala Makin menghisap bibir atasku.. lalu kami melepaskan sejenak kuluman ini dan kami berdua sama – sama mengambil nafas sebentar..

Hu.. hu.. hu.. hu..

Nafas kami sama – sama memburu dengan saling menatap.. mataku dan matanya bercumbu sayang.. lalu setelah itu aku memajukan lagi bibirku dan..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPPP.. MUACCHHHHH..

Dan beberapa saat kemudian..

MUACCHHHHH..

Mala menggigit lumayan kuat pada bibir atasku dan itu membuatku sampai memejamkan kedua mataku, karena perihnya lukaku yang terkena gigitan Mala itu.. lalu aku membuka lagi kedua mataku dan menatap mata Mala yang perlahan berkaca – kaca..

Anjing.. kenapa nih Mala..? kok tiba – tiba mau menangis..? apa dia marah karena aku habis melumat bibirnya..? tapi dia tadikan menikmati bahkan membalas lumatanku..? terus kenapa matanya sekarang berkaca – kaca..? bajingaann..

“kenapa la..?” tanyaku sambil tetap memeluk tubuhnya dan Mala juga memeluk tubuhku.. wajah kami pun sangat dekat sekali..

Mala tidak menjawab pertanyaanku.. dia hanya melepaskan pelukannya, lalu meraba wajahku pelan dengan jemarinya.. perlahan air matanya mulai mentes seiring jemarinya yang meraba dibagian bibirku.. dan aku tetap memeluknya dengan pertanyaan yang memenuhi kepalaku..

Mala lalu menutup mulutnya dengan tangan kiri, ketika isakan tangisnya mulai keluar dari bibirnya.. dan pemandangan sesuatu dijemari tangan kirinya itu, langsung membuat aku melepaskan pelukanku.. emosiku yang sudah mereda ini, perlahan merambat kekepalaku lagi..

Bangsaaattt.. itu yang melingkar dijari manisnya, cincin tunangan..? beneran nih..? Mala sudah punya tunangan..? tapi kenapa dia mau memelukku, ketika aku sedang emosi yang menggila kemarin..? kenapa juga dia perhatian banget sama aku..? terus kenapa dia mau aku cium sekarang ini, kalau dia sudah bertunangan..? bajingan ga..

Dan sekarang, emosiku benar – benar menguasai kepalaku.. kenapa perasaanku dipermainkan oleh Mala..? baru saja hatiku dipatahkan oleh Mita, sekarang malah ditabur garam oleh Mala.. perih dan sakit sekali yang kurasa..

Dan bodohnya aku, aku mudah sekali jatuh cinta dengan seorang wanita.. tapi ketika sakit.. justru akan parah.. bangsaatt.. bangsaattt..

“ma.. ma.. maaf gah..” ucap Mala dengan derain air matanya..

“aku kira dengan berdua denganmu, aku akan menikmati indahnya bunga – bunga cinta ditaman yang indah.. tapi ternyata, aku malah terbakar di padang ilalang yang luas..” ucapku sambil menatap matanya dan menahan emsoiku untuk meluap..

“maaf gah.. maaf.. bukan itu maksudku.. hikss.. hikss..:” ucap Mala lalu meangis sesenggukan..

“sudah lah la.. ga ada yang perlu dimaafkan.. aku aja yang terlalu bodoh dan mudah terbawa perasaan..” ucapku dengan bibir yang bergetar..

“gah..” ucap Mala dengan pandangan sayunya dan tetsean air matanya yang tidak berhenti membasahi pipinya..

“terimakasih ya la.. terimakasih karena cinta yang membangsatkan ini.. aku akan menikmati semuanya.. tanpa bergantung pada siapapun..” ucapku lalu aku membalikkkan tubuhku dan berjalan meninggalkan mala yang terus menangis..

“gah..hikss.. hikss.” Panggil Mala dan aku tidak menghiraukannya..

Bangsaattt.. kenapa semesta mengirim Mala kepadaku, kalau hanya untuk menambah luka didadaku..? apa tidak cukup sakit yang sudah diberikan lewat Mita..? apa aku ga boleh menikmati yang namanya cinta..? apa aku hanya ditakdirkan untuk menikmati tubuh wanita, tanpa harus ada ikatan cinta.. bangsat banget kalau gitu..

Dan aku terus berjalan kearah lapangan dengan emosi dikepalaku..

Dan ketika aku sampai disebelah gedung rektorat, Clara berdiri ditengah jalan dan menghalangi jalanku.. Clara menatapku dengan tatapan yang datar..

“kenapa ra..? kamu mau buat aku marah juga..?” ucapku sambil menatap kedua matanya..

Clara hanya diam lalu dia mendekat kearahku dan langsung memeluk tubuhku dengan erat.. hiuufftttt.. huuuu.. lalu Clara mengelus punggungku dan mencoba menurunkan emosi yang ada dikepalaku.. aku hanya diam mematung dengan tatapan yang kosong.. memang sih emosiku perlahan turun di pelukan Clara ini.. tapi hatiku masih panas aja.. pelukan Clara ini berbeda dengan pelukan Mala ketika aku emosi kemarin sore.. pelukan Mala bisa menangkan seluruh tubuhku sampai kedalam hatiku.. tapi semenjak malam ini, apa bisa pelukan Mala bisa menenangkan aku..? bajingaaannn..

“aku tau apa yang dilakuin Mala itu pasti nyakitin banget.. tapi aku tau juga, Mala melakukan ini pasti ada suatu alasannya.. aku temannya gah.. dan bukannya aku membela dia, bukan seperti itu.. aku juga sedih melihat kamu seperti ini.. dan setahuku, mbeling yang aku peluk ini.. orang yang bisa menyelesaikan masalah hatinya, dengan ketenangannya dalam berpikir.. dia hanya larut sesaat, setelah itu berlari dengan kepala yang tegak..” ucap Clara sambil terus memelukku dan membelai punggungku..

“makasih ra..” jawabku singkat.. dan aku tidak memperpanjang perkataanya tadi dan aku juga tidak membalas pelukannya.. bukannya aku marah dengannya, aku hanya masih bingung dengan keadaan ini.. aku masih belum bisa berpikir dengan jernih.. dan aku malah ingin menikmati sejenak kesakitan yang ada didalam hatiku ini..

Clara pun langsung melepaskan pelukannya dan kedua telapak tangannya langsung memegang kedua pipiku..

“wajahmu jangan seperti ini gah.. kamu bikin aku mau nangis aja..” ucap Clara dengan mata yang berkaca – kaca..

“hehe.. kamu kan memang cengeng..” ucapku sambil melihat kearah yang lain.. aku gak ingin Clara menyaksikan kesedihan yang masih keluar dari mataku ini..

“gah..” ucap Clara sambil membelai pipiku..

“udah ah ra.. itu loh bintang tamu mau main..” ucapku yang ingin mengakhiri pembicaraan ini..

“ya udah deh..” ucap Clara sambil melepaskan pegangannya dikedua pipiku..

mbeling jangan sedih ya..” ucap Clara yang mencoba menghiburku terus.. memang aneh wanita satu ini.. tadi dia marah sama aku, sekarang dia malah perhatian banget..

Dan aku hanya memanggukkan kepalaku saja.. lalu aku berjalan lagi ketengah lapangan.. dan ditengah lapangan, maba – maba sudah menjadi satu dan ga terpisah secara perkelompok seperti pada saat orientasi.. sekarang semua sudah membaur menjadi satu..

Dan ketika aku berjalan ketengah lapangan.. aku melihat Bang Badai, Om Panji dan Mas Angger berdiri dipinggir lapangan..

“gah..” panggil Bang Badai kepadaku..

Anjingg.. tumben banget Bang Badai manggil aku.. coba kemarin – kemarin waktu orientasi.. jangankan manggil, ngomong aja cuman sekali.. itupun mengancamku untuk mengikuti proses orientasi ini dengan baik.. selebihnya wajahnya selalu burem kalau melihat kearahku.. bajingannn.. terus kenapa sekarang malah pakai senyum – senyum gitu.. bangsaatt..

Dia gak tau apa kalau hatiku lagi panas..? untung berdiri sama Mas Angger dan Om Panji, kalau Bang Badai sendiri.. gak bakalan aku kesana.. kurang ajar.. dan akhirnya akupun melangkahkan kakiku dengan malasnya kearah mereka bertiga..

“kok jelek betul wajahmu itu gah..?” tanya Bang Badai lalu tersenyum mengejek kepadaku, ketika aku sudah didekat mereka bertiga..

“taik..” gerutuku sambil melihat kearah panggung..

“jangan diganggu dai.. lagi sensitive hatinya itu..” ucap Mas Angger bersuara.. sedangkan Om Panji hanya menghisap rokoknya dengan cueknya..

“eleh.. masalah hati aja kok sampai gitu.. kayak perempuan cuman satu aja didunia ini..” ucap Bang Badai dengan entengnya..

“hahahaha.. ngomongnya biasa aja bang.. jangan pakai hati gitu dong..” ucapku membalas ucapannya.. dan tertawaku sengaja kubuat dengan nada yang mengejek..

“maksudmu apa gah..?” tanya Bang Badai sambil matanya melotot..

“cuman laki – laki yang pernah dikecewain sama perempuan aja, yang bisa bicara seperti itu tadi..” ucapku dengan cueknya..

“hahahahaha..” Om Panji dan Mas Angger langsung tertawa bersama..

“kurang ajar..” ucap Bang Badai sambil memeteng leherku..

“aahhhh.. beraninya main fisik nih..” ucapku sambil menahan petengan Bang Badai yang sebenarnya gak terlalu kuat ini..

“kurang ajar memang kamu itu..” ucap Bang Badai dengan tangan kiri memeteng leherku dan tangan kanannya langsung mengacak – ngacak rambutku yang gundul.. kurang ajar.. yang dikacak – kacak apa kalau ga ada rambutnya..? bajingaann..

Dan tiba – tiba dari arah panggung, terdengar suara Mala dan Clara membuka kembali malam keakraban ini.. dan Bang Badai langsung melepaskan petengannya dileherku dan aku langsung menegakkan tubuhku sambil melihat kearah yang lain.. kenapa jadi malas begini ya aku melihat kearah panggung..? apa karena hatiku masih jengkel ya..? bajingann..

Dan kejengkelanku makin menjadi.. ketika melihat salah satu bintang tamu, memulai penampilannya malam ini.. kenapa bisa aku jengkel.. karena yang akan bernyanyi itu Mita.. ya Mita Aurela Queensha.. bajingan.. disaat aku seperti ini, malah hadir wanita yang gak pengen aku harapkan kedatangannya..

Kenapa bisa dia ada dikampus ini dan kenapa dia yang harus menjadi salah satu bintang tamunya..? memang gak ada penyanyi yang lain gitu..? anjinggg.. dan kelihatannya malam ini, aku bukan hanya makan hati.. tapi sekalian ampela dan empedunya.. bangsaattt

Memangsih suara Mita sangat merdu ketika dia bernyanyi.. dan kami berdua dulu sering karaoke bersama, ketika kami masih sama – sama dipulau seberang.. dan selalu diakhiri dengan ‘karaoke’ yang lain tentunya.. bangsatt.. sempat – sempatnya aku mikir begituan ya..? anjing.. anjing..

Dan ketika Mita sudah berdiri sambil memegang gitar ditangannya.. Mas Angger sempat melihatku sebentar, lalu dia melihat kearah panggung lagi..

Mita Aurela Queensha

“untukmu yang selalu menjaga hatiku..” ucapnya singkat sambil memegang sebuah kalung yang ada dilehernya.. anjingg.. maksudnya apa coba..? itukan kalung pemberian dari aku..? kenapa masih dipakainya..? apa Purnama ga bisa membelikannya kalung yang lain..? anjing.. anjing.. terus kenapa juga dia mengatakan itu..? untukmu yang selalu menjaga hatiku..? menjaga tai kucing..? terserahlah kamu mau ngomong apa.. bajingan..

Dan suara merdu Mita pun terdengar seperti menyayat – nyayat hatiku.. lagu itu seperti menambah luka terdalam dihatiku.. mati dalam aku njing.. mati dalam.. dan lirik lagu itu gak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.. apa memang lagu itu buat aku..? ngga lah.. pasti buat sibajingan Purnama itu..

“kalau bisa selesaikanlah secepatnya de.. lebih cepat, lebih baik.. terserah hasil akhirnya seperti apa..” ucap Mas Angger sambil menepuk pundakku dengan pelan.. ini juga Mas Angger, ngapain sih ngomong begini..? maksudnya aku disuruh nemuin Mita untuk memperjelas hubungan kami..? mau lanjut atau putus, gitu..? males banget.. emang kalau Mas Angger diposisiku seperti ini, dia akan melakukan apa yang dikatakannya itu..?

Akupun langsung melihat kearah Mas Angger.. dan tatapan mata Mas Angger, akhirnya memaksaku untuk menganggukkan kepalaku.. gilaaa.. gilaa.. aku itu paling ga bisa kalau melawan perintah mas ku ini.. sesakit apapun, pasti aku akan menjalankan apa yang diucapkan Mas Angger..

Dan setelah Mita mengakhiri beberapa lagunya, akhirnya aku melangkahkan kaki kearah panggung.. bangsaatt.. malas banget sebenarnya aku ini.. tadi sudah dikecewain Mala, dan sekarang aku akan berbicara dengan Mita.. orang yang sudah mengecewakan aku juga.. kalau bukan Mas Angger tadi yang bicara, ga mungkin aku akan menemui Mita saat ini..

Dan ketika aku berada didekat panggung, aku berpapasan dengan Mala dan Clara.. mereka berdua akan naik panggung, karena Mita sudah mulai turun dari panggung itu.. dan ketika Mala melihat kearahku, aku langsung memalingkan wajahku kearah yang lain..

Mereka pun langsung naik ketas panggung.. dan beberapa saat kemudian, seseorang wanita melewati aku karena aku berdiri memunggungi arah panggung.. dan dia adalah Mita.. dia berjalan dengan seorang laki – laki yang sedang membawa gitarnya.. dan pria itu bukan Purnama.. entah siapa dia.. kekasih barunya, temannya atau siapanya.. aku gak perduli..

“mit..” panggilku dan Mita langsung menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya kearahku..

“Ga.. Ga.. Gagah..” ucapnya terbata dan matanya langsung berkaca – kaca.. anjing.. ngapain lebay banget sih.. biasa aja kali.. dan lagi – lagi aku melihat kearah yang lain..

“Mit..” panggil laki – laki disebelahnya..

“oh iya mas.. bisa kemobil duluan..? aku masih ada keperluan sedikit..” ucap Mita kepada laki – laki itu..

“oke.. jangan lama – lama ya.. satu jam lagi, kamu ada jadwal manggung dicafe tengah kota..” ucap Laki – laki itu..

“iya mas..” ucap Mita sambil menganggukkan kepalanya..

“mas duluan ya..” ucap Laki – laki itu berpamitan kepadaku, lalu dia tersenyum kepadaku.. anjing ini, pakai senyum – senyum lagi.. mau kumakan kah..? bangsaattt..

“oh iya Mas..” ucapku kepadanya, lalu membalas senyumannya dengan sangat kupaksakan.. lalu laki – laki itupun melangkah pergi..

“dia Mas Aldi.. dia yang mengaturkan semua jadwal manggungku..” ucap Mita kepadaku..

Anjing.. emang apa urusanku..? mau aldi, alda, aldu, alde.. yang penting bukan Aldo.. kalau Aldo itu sahabat ayahku, Papahnya Kak Angelia.. aaahhhh.. kok malah bahas nama aldi sih.. bajingann..

“aku mau ngomong sebentar sama kamu..” ucapku sambil menatap kearah Mita, lalu melihat kearah yang lain lagi.. akupun langsung ke pokok pembicaraan, tanpa basa -basi..

“iya..” ucap Mita menyahut..

“kita bicara disana aja..” ucapku sambil menujuk pos security yang ada didekat gerbang utama.. kenapa aku mau ngobrol disana..? jadi setelah aku selesai ngobrol dengan Mita, aku gak perlu mengantarnya kegerbang lagi.. karena gerbangnya berdekatan dengan Pos security.. enak to..? enak matamu itu..

Kami pun berjalan beriringan.. dan kami berdua melewati tempat Mas Angger, Bang Badai Dan Om Panji berdiri tadi.. mereka bertigapun seolah – olah tidak melihat kearahku.. kurang ajar..

Dan kami berjalan kesamping pos security yang tempatnya agak terlindung.. lalu setelah itu kami berdua berdiri berhadapan, tapi aku ga terlalu focus melihat kearah wajahnya.. aku sesekali melihat kearah yang lain..

Hiuuffffffttt.. huuuuuu..

Terdengar Mita menarik nafasnya dalam – dalam lalu mengeluarkannya perlahan..

“apa yang mau kamu bicarain gah..?” ucap Mita dengan suara yang sangat berat sekali..

Akupun langsung terdiam beberapa saat.. anjing.. kenapa dengan aku ini ya..? kenapa aku berat mau ngomong sama Mita, kalau aku ingin akhiri semua ini..? walapun aku kecewa dengan Mita, bagaimanapun juga dia cinta pertamaku.. bohong kalau aku sudah ga mencintai Mita.. didalam hati ini masih ada rasa dengannya.. bukan karena aku tersakiti oleh Mala loh ya.. bukan.. ini memang dari dalam hatiku.. tapi aku gak bisa mempertahankan semua ini, aku sudah sangat kecewa dengan Mita.. aku lalu menarik nafasku dalam – dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.. lalu setelah menguatkan hatiku sekuat kuatnya..

“aku ingin memperjelas tentang status hubungan kita Mit.. aku gak ingin kita berdua masih tergantung dengan perasaan kita masing – masing.. aku ingin semua ini berakhir..” ucapku sambil menatap matanya sebentar lalu aku melihat kearah yang lain lagi.. hiiffuuuutt.. huuuuu.. anjingg..

Mita pun langsung terdiam, dia tidak tampak terkejut sama sekali dengan ucapanku.. dia hanya menunduk sebentar sambil menggelengkan kepalanya, lalu melihat kearahku lagi.. anjing.. kelihatannya dia memang menginginkan ini semua.. untung saja aku mengambil keputusan ini.. kalau engga..? pasti akan ada yang mengganjal dihatiku, walaupun aku sudah mendapatkan penggantinya kelak..

“aku sudah menyangka kamu akan berbicara seperti ini gah.. dan aku sudah mempersiapkan hati ini sejak kita bertemu terakhir waktu itu.. tapi entah kenapa, hatiku masih belum bisa menerima ini gah..” ucap Mita dengan mata yang berkaca – kaca.. bajingaannn.. aargghhh.. kenapa harus berkata seperti ini sih..? tinggal ngomong, aku dan kamu end.. gitu aja kok ribet banget.. atau tinggal ngomong iya aja, kan beres..

“ada yang salah dengan semua ini gah.. ada yang salah dan harus diperbaiki..” ucap Mita sambil menggelengkan kepalanya dan perlahan air matanya pun mulai menetes..

“terus sekarang mau menyalahkan siapa..? dia yang meninggalkan kamu atau dirimu sendiri yang masih berharap kepadanya..?” ucapku sambil menatap matanya..

“kenapa kamu seperti ini gah..? kenapa..? apa kamu sudah mempunyai kekasih hati yang lain, jadi kamu mau mengakhiri hubungan yang sudah lama terjalin ini..?” ucap Mita lagi dan itu langsung membuat kepalaku cenut – cenut..

“ayolah Mit.. kamu yang sudah gak butuh akukan..? kok sekarang malah aku yang menjadi terdakwa disini..? kamu sehat..?” ucapku dan terus terang hatiku menangis, ketika mengucapkan ini.. sampai suaraku pun terdengar bergetar..

“Menjalin suatu hubungan itu bukan hanya tentang sayang dan cinta Mit.. tapi juga tentang menjaga hati ini, menjaga dari hati yang lain..” ucapku lagi sambil menatap matanya..

“jangan bicara tentang menjaga hati didepanku gah.. jangan.. jangan bicara seperti itu.. kamu taukan.. aku masih berdiri didepanmu, ketika kamu bermain hati dengan banyak wanita.. apa aku berpaling..? enggak kan..? apa aku mengakhiri hubungan denganmu..? engga juga kan..? kamu tau karena apa..? karena cinta ini menguatkan hatiku.. dan kamu sekarang berbicara seolah – olah aku telah menghianati hatimu..” ucap Mita dengan suaranya yang mendayu dan sangat sedih sekali.. suara Mita dari tadi pun memang tidak pernah terdengar keras atau emosi.. tapi pelan dan langsung menusuk jantungku.. bajingaann..

“aku memang gak sesuci yang kamu pikirkan Mit.., tapi hatiku tidak pernah berpaling darimu selama kita bersama dulu..” ucapku sambil menahan emosiku..

“sudah berapa kali kamu ucapkan itu kepadaku gah..? sudah berapa kali..? dan aku selalu percaya dengan ucapanmu itu.. tapi sudahlah.. kelihatannya kamu memang ingin mengakhiri semua ini..” ucap Mita dan dia langsung melihat kearah yang lain.. lalu dia membersihkan sisa air mata yang mengalir dipipinya..

Anjinggg.. anjinggg.. anjingg.. hiuffftttt.. hanya memaki saja yang bisa aku katakan didalam hatiku ini.. dan kembali kami diam beberapa saat..

“oke.. aku setuju kita mengakhiri hubungan kita.. karena bagiku, titik tertinggi dari mencintai itu mengikhlaskan..” ucap Mita dengan suara yang bergetar dan seperti menahan tangisnya lagi..

Bajingaannn.. kok sakit ya aku dengarnya..? padahal kan ini yang pengen aku dengar keluar dari bibir Mita.. tapi kenapa kok aku malah sakit seperti ini..? bukannya aku harus senang ya..? senang seperti apa..? senang diatas tangisan hatiku..? matamu itu..

Dan aku langsung terdiam dan tidak bisa membalas ucapan Mita tadi.. bibir ini seperti sangat berat sekali untuk aku gerakkan..

“aku masih belum percaya loh.. dewe ra dadi siji.. (sendiri gak jadi satu)” ucap Mita dengan nada yang sangat menyiksa batin..

“tapi mau gimana lagi.. yowis ben tak lakoni nganti sak kuat kuate ati.. (ya sudah ku jalani sampai se kuat kuatnya hati..)” ucap Mita dengan sedihnya lalu dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan aku yang hanya bisa menatapnya pergi..

Dan perlahan, air mata yang memenuhi hatiku.. naik dan menumpahkan sedikit kebola mataku.. mataku berkaca – kaca dengan keadaan yang sangat menyakitkan ini.. hiuuffttt.. huuuuu..

“oke teman – teman.. sekarang kita akan menyambut bintang tamu utama kita malam ini.. dan beliau adalah rajanya lagu – lagu patah hati.. siapa lagi kalau bukan the godfather of brokenheart..” ucap Clara yang terdengar dari arah panggung..

“WOOOOOOO…” teriak semua orang yang ada dilapangan..

PROKKK.. PROKKK.. PROKKK.. PROKKK..

Anjing.. lengkap sudah deritaku hari ini.. setelah tadi darahku mengalir akibat pertarungan yang luar biasa.. lalu dilanjut lagi dengan luka dalam akibat dua wanita yang menyakiti hatiku secara beruntun.. sekarang semua luka diluar dan dalam tubuhku ini.. akan dibasuh oleh lagu – lagu dari the godfather of brokenheart..

Ayolah gah.. jangan larut dengan kesedihan ini.. kamu bukan orang yang mudah larut dengan kesedihan.. kamu memang butuh menikmati kesedihan itu, tapi jangan lama – lama.. sudah cukuplah dengan mata yang berkaca – kaca.. ga perlu diteteskan air mata itu.. tegakkan kepalamu dan lihatlah semesta itu.. tunjukan kepadanya kalau ujian ini sudah bisa kamu lewati.. tersenyumlah kepada semesta.. senyumanmu itu pasti akan menguncangnya.. karena apa..? karena kamu Gagah Irawan Sandi..

Akupun lalu mengambil bungkusan rokok dikantongku.. lalu aku mengambil sebatang dan membentuknya menjadi bulat lagi.. setelah itu aku membakarnya dan menghisapnya..

Aku lalu berjalan kearah Om Panji, Mas Angger dan Bang Badai.. dan ketika aku sudah berada didekat mereka, tidak adalagi sambutan yang mengejekku.. mereka bertiga hanya menatapku sebentar, lalu melihat kearah panggung itu lagi.

“idolamu itu de..” ucap Mas Angger tanpa melihat kearahku..

“kalau itu idolamu, kita maju yoookk..” ucap Bang Badai sambil melihat kearahku.. dan aku hanya diam saja sambil menghisap rokokku..

“ayolah..” ucap Mas Angger sambil merangkul leherku.. dan kami bertiga berjalan kearah barisan paling depan.. kami meninggalkan Om Panji yang bergabung dengan Pace Beni, Mas Agam dan Mas Gibran..

Dan ketika kami sudah beridiri dibarisan paling depan.. Mas Angger berbisik kepadaku..

“kalau kamu mau sedih.. sedihlah.. ungkapkan semmua kesedihanmu kepada Father de.. tapi ingat.. hanya malam ini saja..” ucap Mas Angger kepadaku.. dan aku hanya tersenyum saja..

Dan gak lama kemudian.. Father berjalan ketengah panggung sambil memegang miknya..

“selamat malam kaum muda kota pendidikan.. saya sangat bangga sekali, karena masih banyak kaum muda yang mencintai budaya negeri sendiri..” ucap Father membuka penampilannya malam ini..

“tapi kenapa saya melihat banyak kesedihan malam ini..? kalian sedih ya..? kalian nangis..? atau mata kalian kesikut sama sikut temannya disebelah..? hahahaha.. yo lagu pertama layang kangen..” ucap Father dengan suara khasnya..

Lalu ketika Father mulai menyanyikan lagunya, semua yang ada dilapangan ini menggoyangkan tubuh mereka.. hanya aku saja yang masih tetap diam sambil menikmati rokokku.. aku menikmati semua lagu ini dengan caraku sendiri.. diam dan merokok.. itu saja..

“kamu gak goyang gah..? ga asik baget..” ucap Bang Badai yang wajahnya terlihat berkeringatan, akibat terus bergoyang menikmati music Father..

“entar aja Bang..” ucapku sambil lalu mengisap rokokku

Layang kangen, banyu langit, kalung emas, cidro, suket teki dan beberapa lagu lainnya, sudah di nyanyikan oleh Father.. dan ketika Father akan menyanyikan lagu terakhirnya..

“tolong didengarkan ya.. harusnya itu bukan kalian yang sedih, tapi dia yang meninggalkan kamu yang harusnya bersedih.. karena orang yang meninggalkan cinta yang mencintainya, adalah cinta yang mempermainkan cintanya..” ucap Father yang langsung membuatku terkejut dan melihat kearahnya..

“kamu boleh sedih, kamu boleh patah hati.. tapi jangan patah semangat.. kamu ditinggal lari pacarmu..? ya dijogetin aja.. yoo…” ucap Father yang langsung membuat semangatku menggelora..

Bang Badai pun langsung mengangkat tubuhku dipundaknya..

“Bang.. Bang..” ucapku sambil membuang rokokku dan menyeimbangkan tubuhku dipundak Bang Badai..

“udah nikmati aja..” ucap Bang Badai sambil memegang kedua lututku..

“lagu terakhir.. pamer bojo..” ucap Father dengan semangatnya..

Dudu klambi anyar sing nang njero lemariku.. Nanging bojo anyar sing mbok pamerke neng aku..
Dudu wangi mawar sing tak sawang neng mripatku.. Nanging kowe lali nglarani wong koyo aku..
Neng opo seneng aku yen mung gawe laraku.. Pamer bojo anyar neng ngarepku

Father menyanyikan lagu itu tanpa diiringi oleh suara music.. dan suaranya pun langsung menyapa hatiku yang masih terasa sedih ini..

Dan ketika Father mulai bernyanyi dan diiringi oleh musiknya.. akupun langsung merentangkan kedua tanganku dan bergoyang mengikuti irama music ini.. anjinggg.. ini lagunya benar – benar dari hati broo.. broo.. aku pun bergoyang sambil memejamkan kedua mataku..

Dan ketika sampai dilrik cendol dawet lalu dilanjut dengan lirik

Seng tak sayang ilang.. Seng tak sayang ilang..
Seng tak sayang ilang.. Seng tak sayang ilang..

Itu makin membuat aku menggoyangkan tubuhku dengan semangatnya.. aku melepaskan semua kesedihanku dilagu ini..

“Disaat aku sayang – sayangnya malah ditinggal.. bosoookkkkk..” terdengar teriakan dari arah belakangku dan entah siapa yang berteriak itu.. aku hanya terus bergoyang menikmati lagu ini, diatas pundak Bang Badai yang juga bergoyang dengan semangatnya..

jiancookkk.. teles kebes netes eluh sak sempakke cuukkk.. (jiancookk.. basah menetes air mata sekalian sempaknya cuukk…)” suara teriakan lagi dari arah sampingku.. bangsatt.. rupanya semua yang ada disini ambyar bro….

“bang.. kita itu menang tawuran, tapi kalah mencari pasangan.. bajingaaannn..” makiku sambil melihat kearah Bang Badai..

“hahahaha.. bangsat.. oh iya.. teriakin Father gah.. bilang sama Father, kita ini bad boys..” ucap Bang Badai dengan semangatnya dibawahku..

“anjingg.. bukan bad boys Bang.. tapi sad boys.. bajingaann..” ucapku memaki sambil menggelengkan kepalaku..

“salah ya.. hahahaha.. digoyang lagi gah..” ucap Bang Badai sambil memegang kedua lututku lalu menggoyangkan tubuhnya kekanan dan kekiri..

“kalian berdua itu memang sama – sama koplak..” ucap Mas Angger sambil mengangkat kedua tangannya keatas.. tubuhnya sih ga joget, cuman jempolnya aja yang goyang – goyang.. aneh mas ku itu.. tapi terlihat Mas Angger sangat menikmati pertunjukan ini dari tadi..

#cuukkk.. didalam tubuh yang kekar terdapat pula jiwa yang ambyaaarrr…!!! dan cukup malam ini aku merasakan ke ambyaranku.. esok aku akan hadir dengan semangat baru.. semangat lewat kepalan tanganku dan lewat teriakanku.. SALAM KENTALL..!!!

Bersambung

Daftar Part