. MATAHARI Part 30 | Kisah Malam

MATAHARI Part 30

0
301

MATAHARI Part 30

SAKIT YANG TERDALAM

Pov Angger..

Musim dingin dikota pendidikan.. Kota pendidikan ini memang terkenal dengan hawanya yang dingin.. tapi puncaknya musim dingin dikota ini, berlangsung pada bulan juni sampai agustus..

Ketika sudah masuk musim kemarau, musim dingin selalu datang menghampiri kota yang berada di ketinggian 444 meter dpl ini.. dan itu bertepatan dengan tahun ajaran baru dan penerimaan maba seperti ini..

Kenapa bisa seperti itu..? karena pada saat itu, matahari berada di belahan bumi bagian utara.. udara dingin dan kering dari belahan bumi bagian selatan, bergerak mengalir ke utara.. karena itulah wilayah negeri yang berada di sisi selatan (pulau ini) paling terkena dampak udara dingin dan kering yang datang dari negeri kangguru.. ya kota pendidikan ini salah satunya..

Dan itu sangat terasa sekali malam ini.. aku tidur sampai mengenakan kaos kaki dan sepatuku, untuk menahan hawa dingin yang terasa disekujur tubuhku.. bajingaann.. emang sekarang jam berapa sih..? akupun langsung melihat jam tanganku.. cuukkk.. jam tiga dini hari, makanya kok dingin sekali.. tapi kenapa aku bangunnya secepat ini sih..? padahal aku tadi susah banget loh memejamkan mataku..

Bagaimana ga susah memejamkan mata, kalau aku disuguhi dengan isakan tangis Bulan yang sangat menyayat hati itu..? dan aku baru bisa tertidur, setelah tangis Bulan tidak terdengar lagi.. Bulan..? kok ga kedengaran lagi tangisnya..? apa dia sudah tidur..? akupun langsung membalikan tubuhku dan melihat kearah tempat Bulan tidur… cuukkk.. dia gak ada.. kemana dia..? kok aku gak tau kalau dia pergi..? jiancuukk.. aku kira dia tadi tertidur, makanya aku juga memejamkan mataku.. tapi ternyata dia pergi.. bajingaannn..

Akupun langsung meraih kacamataku dan memakainya.. setelah itu aku melihat sekeliling ruangan ini.. semua panitia keamanan tertidur dengan nyenyaknya.. dan Bulan juga tidak terlihat diantara teman – teman panitia keamanan yang tertidur itu.. aku lalu berdiri dan berjalan ke arah luar ruang keamanan, dengan kedua tanganku masuk kedalam jaket.. huuuu.. dingin banget hawanya..

Dan ketika diluar ruang keamanan, aku melihat kearah sekelilingku untuk mencari Bulan.. suasananya benar – benar sangat sepi.. semua panitia tidak ada yang terlihat di luar ruangan.. kelihatannya mereka semua tertidur juga..

Pandanganku pun tertuju dipojok luar ruangan ini dan ditempat yang gelap.. aku melihat bayangan bara rokok yang menyala.. aku lalu mendekat kearah yang kupandang itu.. dan disana aku melihat Bulan duduk dikursi panjang, sambil menyandarkan punggungnya didinding.. dia seperti sangat menikmati kepulan asap dibibirnya itu..

Bulan Mahardini Darmawan

Aku lalu duduk tepat disebelahnya dan aku diam sambil menatap lurus kedepan.. aku tau Bulan marah dan kecewa kepadaku.. mungkin dia tau ketika aku datang dan berciuman dengan Dinda tadi..

Aku sengaja tidak menegurnya, ketika dia sedang menikmati rokoknya ini.. karena itu pasti akan percuma saja.. dia pasti akan lebih marah dan mungkin akan lebih jauh lagi perginya.. apa ga gila, kalau dini hari seperti ini Bulan berjalan keluar sana..

Dan kami diam seperti ini cukup lama.. Bulanpun sudah menghabiskan tiga batang rokoknya, selama aku duduk disebelahnya.. cuukkk.. kalau dihitung sejak aku belum duduk disini, sudah berapa batang rokok yang dihisapnya..? tapi aku tetap diam dan tidak bersuara..

Dan ketika batang rokok keempatnya sudah habis.. perlahan Bulan langsung menyandarkan kepala bagian sampingnya dibahuku..

“maaf ngger.. maaf kalau aku seperti ini.. harusnya aku gak berhak marah sama kamu.. karena kita tidak terikat oleh hubungan apapun..” ucap Bulan yang seperti sebuah tamparan yang sangat keras dipipiku..

Akupun hanya terdiam mendengarkan perkataan Bulan ini.. aku lalu mengangkat tangan kananku, dan merangkul pundak Bulan yang kepalanya masih bersandar di bahuku.. setelah itu aku mengelus rambut bagian sampingnya dengan sangat pelan..

“kamu tau lan.. bahu laki – laki itu diciptakan, agar wanitanya bisa bersandar.. dan ketika bersedih, wanitanya bisa menangis dibahu laki – lakinya itu.. tapi laki – laki sejati itu, tidak akan membiarkan wanitanya menangis dibahunya.. harusnya dengan bahunya itu, dia memberikan kenyamanan bukan kesedihan..”

“dan sekarang aku baru tau, aku bukan termasuk laki – laki sejati itu..” ucapku sambil terus membelai rambut Bulan..

“kamu tau ngger.. seumur hidupku, baru kali ini aku merasakan jatuh cinta didalam hatiku.. dan itu sangat dalam sekali.. dan aku yakin, aku tidak akan salah meletakkan hatiku ini kepada laki – laki yang bahunya aku sandari ini.. dia laki – laki sejati.. hanya aku saja yang terlalu bodoh, karena cintaku yang sudah terlalu dalam kepadanya.. harusnya aku menyadari, aku itu bukan siapa – siapanya.. dan harusnya aku tidak menunjukkan air mataku dihadapannya..” ucap Bulan dengan kata – kata yang dibuat sangat santai sekali..

“itulah kenapa aku menyebut diriku bukan laki – laki sejati.. karena aku hanya bisa memberikan air mata untuk orang yang mencintai aku.. dan bukan hanya satu, banyak air mata yang menetes karena ketidak tegasanku dengan perasaanku ini.. aku terlalu jahat dengan cintaku lan.. jahat banget..” ucapku sambil menatap lurus kedepan dan tetap mengelus rambut Bulan..

Lalu perlahan aku merasa tubuh Bulan sedikit bergetar.. dia seperti sedang menahan tangisnya..

“aku lelah ngger.. lelah banget.. boleh aku tidur dipangkuanmu..?” ucap Bulan dengan bibir yang bergetar..

Aku tidak menjawab perkataan Bulan ini.. aku hanya menariknya pelan sampai kepalanya berada dipahaku.. lalu Bulan menggerakkan sedikit kepalanya untuk mencari posisi yang nyaman.. setelah itu dia diam dan tidak bersuara lagi.. dan kembali aku mengelus rambutnya dengan sangat lembut sekali.. dan tidak lama kemudian, dengkuran halus pun terdengar dari bibir Bulan..

Cuukkk.. wanita ini sangat mencintaiku.. tapi apa yang ku berikan..? hanya kesedihan yang mendalam.. dan ternyata, di tidak tidur dari tadi karena dia menungguku.. dia menungguku untuk menemaninya tidur.. dia menunggu supaya bisa tidur dipahaku, sambil aku mengelus rambutnya.. gilaaa.. dan akupun langsung menyandarkan kepalaku dinding lalu aku memejamkan kedua mataku berlahan..

Dan ketika beberapa saat aku terpejam, aku terbangun karena aroma teh hangat yang masuk kedalam hidungku.. akupun langsung membuka mataku dan melihat kearah depanku.. beberapa panitia tampak sudah memulai aktifitasnya masing – masing.. dan aku langsung melihat jam tanganku.. jam lima..? gilaa.. aku tidur dua jam..? kok rasanya aku baru memejamkan mata beberapa saat ya..?

Oh iya.. dimana Bulan..? kan dia tadi tidur dipahaku..? kok sekarang ga ada..? kemana lagi sih dia..?

“minum ngger..” ucap seorang wanita dari arah sampingku dan aku baru menyadari kalau dia duduk disebelahku dari tadi.. gilaaaa.. dan wanita itu adalah Airani Kamaliya Astami..

Airani Kamaliya Astami

Ini sudah hari ketiga pelaksaan orientasi dan Rani selalu membawakan aku teh hangat seperti ini terus, setiap pagi hari.. gilaaaa..

“terimakasih Ran..” ucapku sambil mengambil minuman itu dari tangannya.. setelah itu aku menyeruputnya sambil memandang wajah cantik dan senyum manisnya..

Dan rasa minuman teh cinta ini pun, tidak pernah berubah.. nikmat banget rasanya. Cara menyeduhkannya pun pasti masih sama.. dibuatnya dicampur sayang, diaduk dengan rindu dan disuguhkan dengan cinta.. bajingaannn..

“aku pergi dulu ya ngger..” ucap Rani lalu berdiri dan aku langsung memegang gelas ini dengan tangan kiri, dan tangan kananku langsung menahan ujung jaket dibagian tangannya.. kali ini aku sudah gak kuat menahan diriku.. aku bingung dengan sikapnya yang datang hanya menyerahkan teh hangat ini setiap pagi, lalu pergi begitu saja.. aku ingin berbicara dengannya sedikit lama lagi.. dan aku sengaja memegang ujung jaketnya.. karena kalau aku pegang tangannya, dia pasti akan menolaknya..

Ranipun tidak menepis pegangan tanganku, diujung jaketnya itu.. dia hanya menatapku saja sambil tersenyum…

“aku mau kamu duduk sebentar saja Ran.. cuma sebentar..” ucapku sambil menatapnya dan tetap memegang ujung jaketnya..

“ngger..” ucap Rani sambil memandangku dengan tatapan lembutnya lalu tersenyum..

“Ran..” ucapku memohon kepadanya dan dia hanya menggelengkan kepalanya pelan..

Cuukkk.. akupun langsung melepaskan pegangan tanganku ini.. dan Rani hanya tersenyum lalu berjalan meninggalkan aku dengan teh cinta buatannya.. apa sih maksudnya Rani dengan semua ini..? apa dia hanya ingin membuatku penasaran..? atau dia hanya ingin meracuni aku dengan cinta, lewat teh buatannya ini..? aarrgghhh..

Akupun meminum lagi teh cinta ini sampai habis.. setelah itu aku berdiri dan berjalan kearah ruang keamanan.. dan didalam sana, panitia keamanan masih banyak yang tertidur.. karena hari ini hari terakhir, maba berkumpul dikampus jam tujuh pagi nanti.. jadi teman – teman masih bisa menikmati istirahatnya..

Dan aku melihat Bulan tertidur di atas tasku lagi dengan posisi favoritnya.. tidur menyamping.. sejak kapan dia pindah tidur kesini..? dan kenapa ga ngajak aku sekalian..? aku lalu duduk disebelah Bulan sama seperti kemarin pagi, sambil melepas kaca mataku dan kuletakkan disamping tempat dudukku.. dan perlahan tubuh Bulan mulai meringkuk karena hawa dingin pagi ini.. akupun langsung membuka jaketku dan menutupi tubuhnya yang sebenarnya juga memakai jaket.. tapi sudahlah.. mungkin hawanya terlalu dingin sampai jaket yang dikenanakannya itu, masih kurang tebal menahan hawa dingin ini..

Dan sekarang aku yang menggigil kedinginan.. kaos yang aku pakai ini seolah ditertawakan oleh hawa dingin yang menyelimuti ruangan ini.. hehehe.. jiancuukkk..

Lalu perlahan aku mulai merebahkan tubuhku dan aku tidur dengan posisi menghadap keatas.. kedua tanganku pun langsung aku lipatkan dikedua dadaku.. huuuuuu.. dinginnya pakai banget cuukkk..

Dan tiba – tiba, Bulan yang memunggungi aku langsung membalikkan tubuhnya dan menghadap kearahku.. lalu jaketku yang menutupi tubuhnya, sebagaian ditutupkan ditubuhku dan sebagian lagi tetap ditubuhnya.. lalu telapak tangan kanannya, langsung diletakkan didadaku tertutup oleh jaketku..

Dan.. kemaluanku langsung berdiri dengan tegak setegak tegaknya.. bajingaannn.. kok aku bisa terangsang seperti ini sih..? jiancuukkk.. dan wajahnya yang menatap wajahku dari samping itu, langsung dirapatkan dan..

CUUPPP..

Bulan langsung mengecup pipi kananku dengan lembutnya..

Bajingaaaannn.. dan itu membuat aku makin terangsang dengan hebatnya.. gilaaaa.. kenapa baru sekarang ini aku merasakan terangsang seperti ini, ketika Bulan memelukku dari samping.. kenapa kemarin pagi tidak..? apa karena hawa dingin dipagi ini, lebih dingin dari kemarin.. guendeng ancene og..

Aku lalu melirik Bulan, yang wajahnya tepat ada disamping wajahku.. matanya terpejam dan dengkuran halus terdengar lagi dari bibir manisnya yang terbuka sedikit.. aku lalu menatap langit – langit ruangan keamanan ini..

Cuukkkk.. gimana aku bisa tidur kalau begini..? hawa dingin ini seolah menarik hawa nafsuku, keluar dari tubuhku.. bajingaann.. sabar ngger.. sabar.. kamu gak boleh melakukan hal yang gila.. walaupun seandainya aku mengajak Bulan untuk sedikit melakukan gerakan kehangatan, dia pasti tidak akan menolaknya.. tapi aku gak mau melakukan itu.. biarlah aku tersiksa dengan kemaluanku yang berdiri tegak ini..

Akupun mencoba untuk memejamkan lagi mataku, tetapi tetap tidak bisa.. sedangkan Bulan makin tertidur dengan lelapnya dan makin mengeratkan rangkulannya ditubuhku.. nenennya yang menempel dilenganku pun, makin membakar hawa nafsuku.. assuuu.. assuuu..

Detik berganti menit dan berganti jam.. mata ini semakin tidak bisa diajak kompromi, dan tidak bisa terpejam.. dan setelah cukup lama aku tersiksa dengan suasana seperti ini, Bulanpun membuka matanya.. lalu..

CUUPPP..

Dia mengecup pipiku lagi.. jiancuukkk.. kenapa dia memancing aku terus sih..? dia gak tau apa kalau aku ini sangat tersiksa sekali..?

“terimakasih ya..” ucap Bulan ditelingaku..

“untuk apa..?” tanyaku sambil tetap melihat langit – langit ruangan ini..

“terimakasih karena kamu menjagaku..” ucapnya..

“siapa yang jaga kamu..? ini kan memang tempat tidurku dari malam pertama orientasi..” ucapku dan masih tidak melihat kearah wajahnya..

“aku tau itu.. dan yang lebih aku ketahui, kamu sudah melawan nafsumu untuk tidak menyentuhku..” ucap Bulan sambil tangannya yang ada didadaku digerakan perlahan..

Cuukkk.. malah diraba lagi dadaku..

“sudahlah.. ayo kita bangun.. sudah jam enam ini..” ucapku sambil melihat kearah jam tanganku..

Bulan tidak menjawab pertanyaanku.. tangannya yang meraba dadaku, malah diletakkan dipipi kiriku lalu ditariknya sampai aku menoleh kearahnya.. dan..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Bulan langsung melumat bibirku dengan sangat lembut dan pelan sekali..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Lalu..

MUACCHHHHH..

Dia menggigit pelan bibirku lalu dilepaskannya.. setelah itu dia menatapku lagi..

“terimakasih..” ucapnya dengan pandangan yang sangat sayu lalu dia bangun dari tidurnya dan duduk berselonjor..

Jiancuukkkk.. sudah bikin aku terangsang, dia malah melumat bibirku.. terus sekarang dia bangun dengan cueknya.. bajingaannn.. ini bukan saja menyiksa hatiku, tapi juga menyiksa nafsuku.. kurang ajar..

Dan bertepatan dengan Bulan yang duduk, satu persatu panitia keamanan bangun dari tidur mereka..

“mandi yu..” ucap Bulan sambil menoleh kearahku..

“bareng..?” tanyaku menggodanya dan untuk mencairkan suasana hati kami berdua..

“maunya itu loh..” ucap Bulan dengan manjanya sambil mencubit pelan pipi kananku.. cuukkk.. bisa juga Bulan manja cuukkk.. assuuu..

“pasti maulah kalau diajak..” candaku lagi..

“beneran mau..?” ucap Bulan sambil menggeser tubuhnya dan menghadap kearahku, lalu duduk bersila disamping tubuhku..

“hehehehe.. bercanda kok..” ucapku lalu tersenyum kepadanya..

“beneran juga gak apa..” ucap Bulan lalu berdiri dengan cueknya.. assuuuu..

Dan Bulan lalu membawa tasnya, dan berjalan kearah luar ruangan.. dan mungkin dia akan kekamar mandi..

Lalu tiba – tiba, coordinator keamanan datang dari arah pintu ruangan ini..

“kok masih pada nyantai sih..? maba sudah ada yang datang itu, kita kekurangan orang dilapangan..” ucap coordinator keamanan sambil menatap kami satu persatu..

“oh iya mas..” ucapku lalu aku meraih kacamataku dan memakainya.. kemudian aku memakai jaket panitia orientasi, dan berjalan keluar ruangan beserta belasan panitia yang baru bangun juga..

Dan bener saja, ketika kami sampai dilapangan, maba sudah mulai banyak berdatangan dan berkumpul ditengah lapangan.. sedangkan panitia dari bagian lain, juga sudah menempati posisi mereka masing – masing..

Aku dan belasan teman – teman panitia keamanan inipun, langsung berpencar keposisi masing – masing yang telah ditentukan..

“molor terus.. mentang – mentang tidur dikelonin Bulan..” ucap Rogi yang datang dari arah belakangku, ketika aku berjaga disudut jalan..

“iya.. apalagi dapat kecupan dari Bulan.. apa ga tambah nyeyak itu tidurnya..” ucap Dylan disebelah Rogi..

Jiancuukkk.. ternyata mereka melihat Bulan waktu memelukku dan mengecupku..? gilaaa.. terus siapa lagi yang melihat..? jangan sampai Dinda, Rani, Lia atau Kaila yang melihat juga.. bisa tambah gila aku.. assuuu..

“cuukkk.. kalian ngintip ya..?” ucapku sambil memasang wajah yang meledek kearah mereka berdua.. dan sengaja aku mengajak mereka bercanda.. supaya mereka berdua tidak mencerca aku dengan pertanyaan – pertanyaan, yang bisa membuat bisul tumbuh subur diujung hidung yang tak mancung..

“yang ngintip siapa..? aku tadi itu mau bangunin kamu, mau ajak sarapan.. ehhh malah kecup – kecupan sama Bulan..” sahut Dylan..

“terus setelah kamu ngelihat aku dan Bulan begitu, kamu ngapain lan..?” tanyaku dengan santainya..

“cuukkk.. pasti arah pembicaraanmu.. aku pergi dari ruang keamanan, kekamar mandi terus aku colli.. gitu kan maksudmu..” ucap Dylan dengan sinisnya..

“mana aku tau..” jawabku dengan cueknya..

“pikiranmu salah kali ini ngger.. aku bukan kekamar mandi.. tapi aku cari Rogi, terus aku suruh Rogi yang coliin batangku yang kekar ini.. puas kamu..” ucap Dylan sambil matanya melotot..

“gak puas aku cuukkk.. kenapa kamu bawa – bawa aku..? gila aja aku mau coliin batangmu yang imut, dan dipenuhi komedo – komedo yang isinya sudah mengeras itu.. bangsaatt..” omel Rogi kepada Dylan..

“cuukkk.. kamu kira batangku itu dihidung, jadi banyak komedonya..? assuuu.. terus hidungku dimana..?” sahut Dylan sambil melihat kearah Rogi..

“hidungmu ya diselangkanganmu.. jadi kalau kamu mau ngendus, kamu majukan pinggangmu kedepan.. hahahahahaha..” ucap Rogi lalu tertawa dengan kerasnya..

“bangsattt.. bangsattt..” ucap Dylan sambil menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan kami berdua..

“mau kemana kamu lan..?” tanyaku..

“mau mencetin komedo di batangku.. puas kamu..?” ucap Dylan sambil terus berjalan..

“hahahahaha..” aku dan Rogi lalu tertawa bersama..

Dan setelah Dylan pergi, Rogi menepuk pundakku pelan..

“jangan terlalu banyak bermain hati ngger.. karena bukan kamu aja yang sakit, tapi semua yang ada disekelilingmu..” ucap Rogi dan dia langsung berjalan meninggalkan aku..

Cuukkk.. pakai diingatin lagi sama Rogi.. aku itu sudah nyadar, kalau bukan hanya aku saja yang tersakiti.. tapi semua wanita – wanita yang ada disekelilingku.. tapi mau gimana lagi..? aku hanya bisa menikmati semua ini,.. dan aku masih memikirkan cara, gimana supaya semua mendapatkan jalan terbaik.. susah sih.. tapi bukan berarti gak bisa..

Dan kembali aku menatap kearah para maba yang sudah berkumpul bersama kelompok – kelompoknya.. dan mereka sedang sarapan pagi.. lalu setelah itu olahraga sebentar, dan dilanjut mempersiapkan kelompoknya untuk membuat pertunjukan dipenutupan orientasi nanti sore..

Dan dari kejauhan, aku melihat Kalia dan Lia sedang berbicara didekat panggung utama.. mereka berdua tampak sibuk untuk mempersiapkan acara selanjutnya.. huuuu.. kangen juga aku dengan senyum manis Lia dan senyum manja Kaila.. kapan aku melihatnya lagi..? apa mereka berdua mau tersenyum untukku lagi..? aarrgghhhhh..

Satu persatu kegiatan hari ini aku ikuti dengan menghindari kelima wanita itu.. bukan karena apasih.. aku ingin mengistirahatkan sejenak hatiku hari ini.. aku ingin fokus dulu dengan tugas dipanitia keamanan.. esok hari, baru aku akan memikirkan jalan yang akan aku lewati..

Dan sore hari ketika selesai upacara penutupan, kami semua berkumpul dilapangan untuk mengikuti kegiatan malam keakraban..

Satu persatu kelompok maba mulai menampilkan pertujukan.. dan pada malam hari setelah istirahat ibadah, semua peserta berkumpul lagi untuk melihat pertunjukan dari bintang tamu.. dan ketika giliran bintang tamu akan menampilkan pertunjukannya, Lia dan Kaila maju keatas panggung..

“oh iya.. dari kemarin kami berdua hanya mengisi acara saja ya..” ucap Lia membuka ucapannya diatas panggung..

“mungkin sekarang kami berdua ingin menampilkan sedikit pertunjukan untuk semua yang ada disini..” sahut Kaila..

“wooooo…” teriak semua penonton lalu mereka semua bertepuk tangan bersama..

PROKKKK.. PROKKK.. PROKKK.. PROKKKK..

“kami berdua akan berduet dan akan menyanyikan sebuah lagu..” ucap Lia sambil melihat kearahku yang berdiri tidak jauh dari panggung..

Lalu salah satu panitia laki – laki bagian perlengkapan, maju sambil membawa gitar.. dan rupanya dia yang akan mengiringi Lia dan Kaila bernyanyi saat ini.. dan setelah orang itu memainkan gitarnya, Lia dan Kaila mulai menyanyikan sebuah lagu yang membuat panas telingaku.. mereka berdua menyanyikan lagu itu sambil melirikku bergantian

 

cuukkkk.. kenapa lagu ini lagi sih yang terdengar..? kenapa juga mereka menyanyikan lagu itu..? mau nyindir aku..? yang ninggalin mereka itu siapa..? kan mereka yang meninggalkan aku, walaupun itu kesalahanku sih.. tapi kenapa bisa mereka berdua kompak seperti itu..? apa mereka memang niat membuat hatiku menangis..? bajingaaannn..

Dan satu yang makin membuat kupingku panas sampai kedalam hatiku, yaitu ketika mereka berdua mengucapkan syair,

Tetep tak dongakno mugo urip mulyo.. (tetap ku doakan semoga hidup bahagia..)
Isoku mung nyuwun mugo ora getun.. (bisaku hanya meminta semoga tidak menyesal..)
Cekap semanten, maturnuwun..(cukup sampai di sini, terima kasih..)

Mereka berdua mengucapkan syair itu sambil melihatku bersama – sama.. kan jiancuukk banget kalau begitu..

Dan diacara orientasi kali ini, kembali hatiku dibuat menangis oleh kedua wanita itu.. tapi aku tetap menikmati kepedihan ini.. dan ketika mereka berdua selesai menyanyikan lagi itu, aku langsung berjalan kearah belakang panggung sambil mengemut permen didalam mulutku..

Aku ingin menenangkan diriku sebentar saja.. dan aku duduk disebuah taman, sambil terus menikmati batang permenku ini.. suasana yang remang – remang yang disinari bulan purnama, dan suara bintang tamu yang terdengar dari tempat dudukku ini.. membuat aku semakin larut didalam pikiranku..

Gilaaa.. diorientasi ini aku makin gila dengan kecupan – kecupanku dibibir Bulan dan Dinda.. tapi diorientasi ini juga, aku disuguhi wajah – wajah sedih dari Kaila, Lia dan Bulan.. selain itu juga, diorientasi ini aku menemukan sebuah ketenangan dari teh cinta buatan Rani.. aku menikmati semua itu.. kadang hatiku berbahagia, kadang hatiku bersedih dan kadang hatiku terluka.. dan semua karena cinta.. bajingaannn..

Dan ketika aku larut dengan semua pikiranku, tiba – tiba seorang wanita berhijab duduk disampingku.. dia adalah Rani.. bidadariku.. dan dia datang ketika hatiku sedang dilanda kekacauan..

“kamu itu termasuk orang yang hebat loh ngger.. kalau aku diposisimu, mungkin aku akan gila..” ucap Rani sambil menatap lurus kedepan dan tidak melihat kearahku..

“tidak ada orang hebat, yang bisanya hanya membuat orang lain menangis dan bersedih.. aku itu orang jahat Ran..” ucapku sambil memegang batang permenku..

“menangis, bahagia dan bersedih, itu pilihan ngger.. kalau kamu sudah berani bermain cinta.. kamu harus paham resikonya itu..” ucap Rani dengan suaranya yang terdengar lembut sekali..

“aku paham itu Ran.. dan bukan itu yang aku pikirkan.. tapi mereka yang aku buat bersedih dan menangis..” ucapku dan aku tidak melihat kearahnya..

“mencintai satu orang yang dicintai banyak cinta.. itu juga salah satu dari bagian resiko mencintai loh ngger.. jadi jangan menyalahkan cinta kalau tidak bisa meraihnya.. cinta yang berasal dari dalam hati, itu pasti akan tulus..” ucap Rani dengan santainya..

“dan harusnya orang yang dicintai itu sadar diri, dan bukannya menebar pesona dimana – mana.. iya kalau membagikan pesona bahagia..? kalau pesona kesedihan.. kan bangsat banget orang itu..?” ucapku lalu menunduk sejenak sambil membuang batang permenku..

“hihihihi.. susah ya kalau punya pesona yang seperti itu..? padahal kan tujuannya baik, tapi sayang.. kalau sudah hati yang bermain, semua akan salah..” ucap Rani dan aku langsung melihatnya..

“kenapa kamu tertawa Ran..? kamu senang ya kalau aku seperti ini..?” tanyaku sambil melihat wajahnya..

“aku gak tertawain kamu kok.. aku tertawain diriku sendiri..” ucap Rani sambil membalas tatapanku..

“kenapa..?” tanyaku dengan herannya..

“karena aku duduk sama orang, yang harusnya dia bisa menyelesaikan ini semua dengan ketenangannya.. tapi dia malah larut dalam kebingungannya.. dan bodohnya aku, aku malah tidak bisa membantu menenangkannya..” ucap Rani lalu berdiri..

“kamu mau kemana Ran..?” tanyaku ketika dia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya..

“pergi.. siapa tau dengan kepergianku, dia malah mendapatkan ketenangannya itu..” ucap Rani sambil menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku..

Akupun langsung berdiri sambil terus menatapnya..

“boleh aku mendapatkan ketenanganku..?” tanyaku dan Rani langsung membalikan tubuhnya kearahku, sambil mengerutkan kedua alisnya..

“boleh aku memelukmu..?” tanyaku dan wajahnya langsung terlihat terkejut dan kebingungan..

Aku lalu mendekati Rani dan tanpa persetujuannya.. aku langsung memeluknya dengan erat.. Rani tidak menolak pelukanku, tapi dia juga tidak membalas pelukanku.. dia hanya diam dan berdiri mematung..

“biarkan aku menikmati ketenangan ini sejenak ya Ran.. setelah ini, kalau kamu mau pergi silahkan.. aku tidak akan menahanmu, walapun kamu juga akan meninggalkan aku seperti orang – orang yang aku sakiti..” ucapku sambil terus memeluknya..

Dan perlahan.. aku merasakan kedua tangan Rani mulai membalas pelukanku dan tangannya mengelus punggungku pelan..

Cuukkk.. inilah ketenangan yang aku cari selama ini.. tapi kenapa aku malah bermain hati dengan yang lain..? ada apa denganku..? aku bodoh apa dungu..? jiancuukkk..

Dan tiba – tiba, aku melihat Bulan berdiri tidak jauh dari tempat aku memeluk Rani.. dia menatapku dengan wajah yang sangat sedih sekali, dan ketika dia tau aku menatapnya.. dia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.. bajingaannn..

Dan aku hanya tetap berdiri sambil tetap memeluk Rani.. gilaaa.. ketenangan yang aku temukan, malah menjadikan kesedihan bagi orang lain.. assuuuu..

Dan setelah cukup lama kami berpelukan, Ranipun langsung melepaskan pelukannya ditubuhku dan aku juga melepasnya dengan sangat berat hati..

“ketenangan itu hanya ada didalam dirimu ngger.. kamu akan menemukannya, ketika kamu sudah ikhlas melepaskan sesuatu yang memang bukan milikmu.. jangan terlalu khawatir ketika kamu melepaskannya.. sesuatu itu akan mendapatkan kebahagiaannya sendiri, walau awalnya sakit..” ucap Rani sambil menatapku dan dia langsung membalikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan aku..

Cuukkk.. dalam banget kata – kata Rani ini.. gilaaa.. gilaaa.. tapi aku ga bisa melakukan apa yang dikatakan Rani itu.. aku masih bisa belum bisa melepaskan sesuatu itu dengan ikhlas.. karena iblis cinta ini, benar – benar mengikat hatiku.. jiancuukkk..

Dan setelah aku menenangkan diriku sejenak, aku lalu melangkah kan kakiku menuju lapangan lagi.. dan aku kembali berdiri diposisiku sebelum aku pergi tadi..

Dan sekarang, setelah aku menenangkan diri tadi.. aku melihat Lia sedang berbicara dengan panitia yang mengirinya bernyanyi tadi.. Lia terlihat berbicara dengan sangat mesra kepada laki – laki itu.. sedangkan disebelahnya, Kaila mengobrol dengan seorang panitia laki – laki yang lain, dan dia terlihat sangat manja sekali.. cuukkk..

Dan dibagian lain.. terlihat Bulan sedang berdiri bersama Upik disebelahnya, dengan kepalanya menyandar dibahu Upik dan Upik memeluk pundak Bulan.. bajingaannn.. sejak kapan Upik ada disini..? apa dia gak jadi panitia dikampus teknik kuru..? bangsaatt..

Tiba – tiba hatiku terasa sakit sekali.. sakit, perih dan menangis.. apa ini yang dimakan cemburu ya..? sakit tapi gak berdarah.. perih tapi gak terluka.. menangis tapi tak keluar air mata.. apa ini yang mereka rasakan ketika aku dekat dengan Dinda..? assuuuu.. jahat.. ternyata aku jahat banget.. dan aku pantas untuk mendapatkan semua balasan dari semua yang pernah aku lakukan kepada mereka.. aku sakit cuukk.. sakit.. sakit yang terdalam.. jiancuukkk..

Pov Gagah

Bangsaattt.. ini adalah kegiatan terbangsat yang pernah aku ikuti.. kami semua diperlakukan seperti binatang saja.. tidak ada prikemanusiaan disini.. mereka semua buas seperti binatang yang kelaparan, ketika membantai kami.. apa memang seperti ini ya orientasi itu..? bukannya orientasi itu kegiatan pengenalan kampus..? tapi kenapa kenalannya dengan injakan, tendangan dan pukulan..? apa memang seperti itu kehidupan kampus..?

Darah seperti tidak berharga disini.. luka dan lebam diwajah kamipun, seperti riasan diwajah cantik seorang wanita.. tidak ada yang kaget melihat luka, lebam dan darah yang ada diwajah kami ini.. semua seperti biasa saja.. bajingaannn..

Dan yang membuatku makin jengkel.. sikap dari teman – teman pondok merah kepadaku.. benar memang mereka tidak menyentuhku, tapi kenapa mereka membiarkan kekerasan yang diluar batas ini..? mereka seolah gak perduli dengan pembantaian ini.. dan mereka malah terlibat dengan membantai maba yang lain.. tidak ada yang menguatkan aku atau menyapa aku ketika aku kesakitan.. hanya Om Panji dan Bang Badai yang menegurku, itupun dihari pertama.. mereka berdua hanya mengingatkanku untuk bersabar dan mengikuti proses orientasi ini dengan baik.. hanya itu saja.. selebihnya.. mereka seolah tidak mengenalku.. apa ini rasa persaudaraan dari pondok merah itu..? apa ini yang dinamakan kebersamaan..? tai kucinglah semua itu..

Tapi aku masih bisa bersabar sampai detik ini.. entah apa yang bisa membuat aku bisa sesabar seperti ini.. kalau dipulau seberang sana, jangankan luka dan berdarah.. ada yang berani melirikku dengan tatapan aneh saja, langsung aku bantai.. apalagi sampai menyentuhku.. bisa kukirim ke UGD orang itu.. anjing.. anjing..

Dan sekarang, sudah hari ketiga orientasi ini berlangsung.. mulai pagi tadi, kekerasan sudah mulai berkurang.. hanya bentakan – bentakan saja yang kami terima sampai siang ini.. gak tau lagi kalau sore nanti.. mungkin kalau panitia keamanan itu kumat gilanya, kami bisa dibantai lagi..

Dan disiang hari ini pun aku, Baco, Amir, Jumbo dan Mas Karel sedang istirahat didepan perpustakaan.. sedangkan teman – teman maba yang lain, sedang berkeliling untuk meminta tanda tangan dari para panitia.. mereka semua ketakutan, kalau tidak mendapatkan tanda tangan sesuai dengan perintah para panitia.. hukumannya katanya keras sekali.. he.. he.. anjing..

“kamu cari tanda tangan panitia sana co..” ucap Jumbo kepada Baco..

“buat apa..? dijual juga gak laku..” ucap Baco sambil mengelus lebam dimata kirinya..

“anjing.. enaknya kamu ngomong.. kamu mau lebamnya nambah dimata kananmu..?” tanya Jumbo sambil mengelus bibirnya yang terluka..

“jangankan dimata kanan dan kiriku.. seluruh wajahku ini lebam, ga ada yang namanya gentar sedikitpun dihatiku..” ucap Baco sambil menahan emosinya..

“sabar co.. sabar.. tinggal besok aja orientasi ini selesai..” ucap Amir menenangkan Baco, sambil menyentuh pelipisnya yang terluka..

“iya.. terus tinggal balas dendamnya aja kita.. gimana Gah..?” ucap Baco kepadaku dengan tatapan yang terlihat sangat dendam sekali..

“tergantung Mas Karel aja aku itu..” ucapku melemparkan kepada Mas Karel, yang duduk sambil menyandarkan kelapanya dikursi.. dia terlihat santai walau wajahnya babak belur..

“sekarangkah..?” tanya Mas Karel dengan santainya, sambil menggerakkan kedua alisnya kepada kami semua..

“ayooo..” ucap kami berempat secara bersamaan..

“hehehehe.. bercanda kok..” ucap Mas Karel dengan tetap santainya..

“anjing kamu rel.. sudah semangat aku ini..” ucap Amir kepada Mas Karel..

Semua sahabatku ini sudah berkenalan dengan Mas Karel.. dan mereka bertiga memanggil Mas Karel dengan sebutan namanya saja.. karena kan hanya aku aja adek sepupunya disini..

“iya.. kurang ajar kamu itu rel..” sahut Jumbo..

“gak nikmat kalau sekarang.. nanti aja setelah upacara penutupan.. itu pasti rasanya special banget.. gimana Gah..?” ucap Mas Karel dengan entengnya..

“aku sih terserah aja Mas.. yang penting aku mau membantai Boy.. dia orang pertama yang menginjak perutku, waktu hari pertama orientasi..” ucapku sambil melihat kearah Mas Karel..

“janganlah.. dia itu bagianku Gah.. kamu yang lain aja.. yang badannya besar itu loh..” ucap Mas Karel..

“ooooo.. jangan sentuh yang badannya besar itu ya.. dia bagianku.. dia yang robohkan aku pertama kali..” sahut Jumbo..

“anjing.. enak banget ya kita bagi lawannya.. kayak bagi – bagi memek yang gurih aja.. hehehehe..” ucap Mas Karel lalu tertawa dengan santainya..

“anjing.. bocor juga mulutnya Karel ini..” ucap Amir sambil menggelengkan kepalanya..

“iya.. bocor – bocor bangsat..” sahut Baco..

Oh iya.. berkumpulnya kami berlima ini, seperti ada yang kurang.. apalagi kalau bukan tentang rokok dan putaran minuman.. kalau kumpulnya hanya seperti ini, kami seperti anak – anak TK yang baru masuk ajaran baru.. lugu, polos dan kebingungan.. hehehe.. tapi mau gimana lagi, peraturan orientasinya jelas kok.. jangankan minuman.. rokok saja sangat dilarang ditempat ini kok, tapi khusus untuk maba loh ya.. sedangkan panitia keamanan, dengan cueknya mengepulkan asap rokok dari mulut mereka sambil mengeluarkan bau alcohol.. kan ga adil banget kalau gitu.. bajingaann..

“kecut banget mulutku..” ucap Baco..

“iya.. kecut banget..” sahut jumbo..

“ya udah.. saling lumat aja kalian berdua.. siapa tau, kekecutan dimulut kalian berdua.. bisa menjadi manis.. semanis lumatan bibir kalian yang menyatu..” ucap Amir dengan dibuat seromantis mungkin..

Jumbo dan Baco langsung melihat kearah Amir.. mereka berdua terlihat pasrah sambil menggelengkan kepala mereka.. mereka sudah gak bisa lagi berucap apa – apa.. mungkin hatinya saja yang bisa menjerit.. bangsaattt..

“eh.. ada Yunda Clara tuh kesini..” ucap Jumbo yang tiba – tiba melihat kearah seorang wanita yang berjalan kearah kami..

“musuhmu gah.. hehehehe..” ucap Amir lalu tertawa..

“kenapa gak kamu lumat aja sih bibirnya dia itu, biar dia gak sinis terus sama kamu gah..” ucap Baco kepadaku.. dan Mas Karel langsung melihat kearah kami semua, dengan tatapan yang agak gak enak..

Kenapa Mas Karel ini..? apa dia suka sama Yunda Clara..? kok seperti ini tatapannya..? terus kenapa Yunda Clara ini berjalan kearah kami..? dia mau ngomel sama aku lagi..? gak puaskah selama tiga hari ini dia mengomel terus..?

Dan tiga hari ini.. semua rencanaku untuk bersenang – senang dengan Yunda Clara dan Yunda Mala, gagal total.. jangankan senang – senang, kesempatan untuk mendekatkan diri aja gak bisa.. dan semua gara – gara perlakuan keras dan kasar dari para panitia keamanan yang bajingan itu.. anjing.. anjing.. hiuuffttt.. huuuu..

“siap – siap Gah..” bisik Amir kepadaku..

“siap – siap diomelin.. hihihihi..” sahut Baco dengan suara yang sangat pelan, ketika Yunda Clara sudah makin dekat dengan tempat duduk kami..

Kami semua langsung terdiam sambil melihat kearah yang lain.. lalu Yunda Clara berdiri didekat kami.. akupun langsung melihat kearah wajahnya yang selalu terlihat ketus itu.. dan hanya aku yang melihat wajahnya.. Baco, Amir, Jumbo dan Mas Karel, masih melihat kearah yang lain.. aku lalu menarik nafasku dalam – dalam dan bersiap mendengar omelannya lagi..

Clara Jasmeen Salsabila

“kamu gak bosan ya dihajar terus sama panitia keamanan..?” ucap Yunda Clara kepada Mas Karel lalu melirikku.. kami semuapun langsung melihat kearah Mas Karel.. loh.. kok Yunda Clara kenal sama Mas Karel..? kok bisa..? kan Mas Karel bukan kelompok kami.. kenal dimana mereka berdua ini..?

“santai aja Yunda..” ucap Mas Karel sambil tetap pada posisinya yang duduk dengan kepala bersandar pada kursi beton ini..

“gak usah Yunda – Yunda’an.. kamu mau aku adukan sama Papah Mamahmu..?” ucap Yunda Clara dengan sedikit emosi..

Anjing.. mereka ini sebenarnya punya hubungan apasih..? kok Yunda Clara kenal sama Pakde Rendi dan Bude Gabby..? mereka sepupuan..? kalau sepupu kok aku gak kenal sih..?

“kenapasih ra..? kamu itu sebenarnya mau negur aku atau negur Gagah..?” ucap Mas Karel yang sekarang memanggil Yunda Clara dengan sebutan nama aja..

Loh… beneran nih mereka sepupuan.. gilaa.. aku, Baco, Jumbo dan Amirpun langsung saling berpandangan.. eh entar dulu, Mas Karel tadi bilang apa..? negur Mas Karel atau negur aku..? kenapa Mas Karel ngomong gitu sih..? apa gara – gara kami tadi bicarakan tentang Yunda Clara, jadi Mas Karel marah sama kami..?

“apa sih kamu itu mas.. kamu mau ikut – ikutan dia yang keras kepala itu..? kamu itu ngeselin sekarang..” ucap Yunda Clara sambil melirikku lagi.. lalu membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kami..

(aku jelaskan disini.. aku dan Mas Karel, kurang lebih aja umurnya.. kalau Clara itu umurnya kira – kira dua tahun diatas kami.. tapi orang tua Clara itu, Adek dari ibunya Pakde Rendi.. jadi setua apapun Clara, dia harus memanggil Mas Karel dengan sebutan Mas.. seperti aku ini.. itu budaya didaerahku loh ya..)

Anjing.. kok sekarang dia manggilnya Mas Karel..? mereka ini sepupuan atau jangan – jangan mereka pacaran..? bajingaannn..

“Mas.. Yunda Clara itu siapa Mas..?” tanyaku dengan ekpresi terkejut..

“Yunda Clara ya Clara gah..” ucap Mas Karel dengan santainya..

“maskudnya gimana sih Mas..?” tanyaku dengan wajah yang masih binngung..

“dia itu anaknya Tante Clara.. adek sepupunya Papahku..” jawab Mas Karel sambil menatapku..

“anjing.. kok Mas Karel ga ngomong dari kemarin sih..?” ucapku dengan ekpresi yang sangat terkejut..

“kamu gak tanya..” ucap Mas Karel lalu melihat kearah depan lagi..

“tapi kan harusnya Mas ngomong dari kemarin..” ucapku..

“buat apa..?” tanya Mas Karel dengan sangat santainya..

“buat apa lagi.. kami kan jadi ga enak sama Mas Karel.. dari kemarin kami bicarain Yunda Clara terus..” ucapku sambil melihat kearah Baco, Jumbo dan Amir yang terlihat agak gak enak dengan Mas Karel..

“santai aja..” jawab Mas Karel..

“enak banget jawabnya.. tapi aku kok gak kenal Yunda Clara sih Mas..? atau aku lupa..?” tanyaku..

“kamu pasti lupa sama Clara Gah.. soalnya kamu terakhir ketemu sama dia waktu kecil, sebelum dia berangkat kenegeri kangguru..” ucap Mas Karel sambil melirikku..

Anjinggg.. akupun langsung mencoba mengingat nama itu.. Clara.. Clara.. Clara..

“apa..? dia itu Clara yang cengeng itu..?” ucapku yang terkejut, ketika mengingat kalau dia itu Clara sepupu Mas Karel yang dulu sering kami buat menangis..

“iya..” jawab Mas Karel singkat..

“kalau Clara itu, aku ingat mas.. tapi kapan dia balik dari negeri kangguru mas..?” tanyaku lagi..

“waktu daftar dikampus ini lah..” jawab Mas Karel singkat.. anjing.. memang ngeselin kok ngomong sama Mas Karel ini.. dia itu orangnya santai dan cuek.. jadi kalau ngomong itu seperlunya aja.. kurang ajar..

“kenapa dia ketus sama aku terus ya mas..? apa dia dendam sama aku, karena waktu kecil dulu sering aku buat nangis..?” tanyaku yang makin penasaran dengan Yunda Clara..

“engga.. dia ga ingat sama kamu kok.. baru tadi pagi setelah aku bicara sama dia, baru dia ingat sama kamu..” ucap Mas Karel dan sekarang bicaranya sudah agak panjang..

“kalau dia baru ingat, kenapa dia dari kemarin ketus sama aku..? dan setelah ingat, kenapa masih ketus terus..?” tanyaku lagi..

“dia itu sebenarnya gak ketus.. tapi dia perhatian sama kamu..” jawab Mas Karel..

“perhatian sama aku..? dia naksir aku..?”

“anjing.. pikiranmu itu memek terus gah.. gah..” ucap Mas Karel sambil menggelengkan kepalanya..

“ya gak gitu juga mas.. kalau orang perhatian itukan pasti ada maksudnya.. jadi kenapa dia perhatian sama aku..?” tanyaku lagi..

“kalau masalah itu, lebih baik kamu tanya aja sama dia langsung..” ucap Mas Karel..

“kepada seluruh maba.. harap berkumpul dilapangan sesuai dengan kelompoknya masing – masing..” tiba – tiba terdengar suara dari atas panggung.. dan kami semua langsung berdiri..

“jangan dilawan kalau dia ketus gah.. dia orangnya baik kok.. kamu pasti ingat kebaikannya waktu dulu, walaupun dia cengeng..” ucap Mas Karel lalu mengarahkan kepalan tinjuannya kearahku..

“iya Mas..” ucapku sambil meninju pelan kepalan tangan Mas Karel..

Lalu kami semua berjalan kearah lapangan dan masuk kekelompok masing – masing.. aku berdiri dibarisan paling depan dikelompokku, karena aku ketua kelompok.. dan dari tempatku berdiri ini, aku bisa dekat sekali melihat Yunda Clara yang berdiri didepan kelompok tujuh..

“setelah ini, kita istirahat ibadah siang.. jangan ada yang membuat gara – gara sama panitia keamanan ya.. aku sudah bosan melihat kalian dihajar terus sama panitia keamanan..” ucap Yunda Clara dan sekarang suaranya terdengar lembut gak seperti tadi pagi dan kemarin – kemarin..

Anjing.. kenapa gak kemarin – kemarin dia lembut begini sih..? kalau begini kan enak juga aku melihat wajahnya.. tapi ngomong – ngomong, perubahan wajahnya drastis banget loh.. dulu waktu terakahir ketemu, dia cantik sih.. tapi cengengnya itu loh yang bikin cantiknya berkurang.. dan sekarang, wajahnya makin cantik.. apalagi kalau dia gak ketus seperti ini.. gilaaaa..

Dan setelah obrolan yang singkat itu, kami semua langsung melakukan kegiatan ibadah dan dilanjut makan siang.. dan ketika selesai makan siang, kami masih punya waktu untuk beristirahat sebelum kami melakukan kegiatan didalam aula..

“kita bisa ngobrol sebentar..?” tiba – tiba Yunda Clara mendatangi aku dengan suara yang datar..

“iya Yunda..” dan aku menjawabnya dengan sangat santai sekali..

Kemudian Yunda Clara berjalan kearah depan perpustakaan yang terlihat sepi.. lalu duduk dikursi beton yang aku duduki bersama sahabatku tadi..

“duduklah..” Yunda Clara yang melihatku masih berdiri..

“iya Yunda..” jawabku lalu duduk disebelahnya dengan agak berjarak..

Kami pun duduk berdampingan dengan pandangan lurus kedepan, kearah semua maba yang duduk dan beristirahat di tengah lapangan.. suasana siang ini pun, sedikit berawan dan hawanya juga sangat dingin..

“kalian mau nampilin apa untuk malam keakraban besok..?” tanya Yunda Clara sambil tetap memandang kearah depan..

“belum tau Yunda.. nanti baru dibicarakan sama teman – teman..” jawabku..

“tampilin sesuatu yang beda.. jangan cuman penampilan biasa, seperti maba tahun – tahun yang dulu.. baca pusi, nari, ngeband, akustikan, stand up comedi dan sejenisnya yang sudah umum..” ucap Yunda Clara dan ucapannya masih terdengar datar..

“iya.. nanti kami pikirkan Yunda.. terimakasih sarannya..” ucapku.. dan suasana obrolan pun, terasa kaku sekali.. kami seperti tidak pernah saling mengenal waktu kecil dulu..

Lalu kami sama – sama terdiam.. Yunda Clarapun langsung mengangkat kedua tangannya dan dilipatkan kedadanya..

“hiuuffttt… huuuuuu..” terdengar tarikan nafas panjang dan dikeluarkan dengan perlahan dari bibir Yunda Clara..

“maaf Yunda..” ucapku sambil tetap menatap lurus kedepan..

“untuk apa..?” tanyanya sambil melihat kearahku dan tetap melipatkan kedua tangannya didada..

“aku mungkin pernah membuat kesalahan, sampai Yunda Clara marah ketika bertemu dengan aku, dihari pembekalan orientasi sampai hari ini..” ucapku dan Yunda Clara langsung melihat kearah depan lagi.

“aku juga minta maaf karena ketus sama kamu..” ucap Yunda Clara dengan suara yang sangat pelan..

“sudahlah Yunda.. besok orientasi sudah mau berakhir.. gak enak kalau begini terus suasananya..” ucapku dan aku tidak menyinggung sama sekali, tentang masa kecil kami..

“iya.. tapi ngomong – ngomong, kamu bukan adeknya Badai kan..?” tanya Yunda Clara sambil melihat kearahku lagi..

“Bang Badai..? kenapa Yunda Clara tanya gitu..?” tanyaku dan aku langsung melihat kearah Yunda Clara..

“engga apa – apa.. cuman temannya bohong aja.. dia bilang kamu adeknya Badai..” ucap Yunda Clara dan kami saling menatap.. dan terlihat dari tatapannya, dia seperti ada masalah dengan Bang Badai..

“astagaaaaa… jadi kalian berdua ada masalah ya..? awalnya aku kira Bang Badai sama Yunda Clara, mau ngerjain aku diorientasi ini.. tapi ternyata kalian malah ada masalah.. terus kenapa aku yang jadi korbannya..?” tanyaku sambil mengerutkan kedua alisku dan menatap mata Yunda Clara..

“ihhh.. tatapanmu dari dulu kok ga berubah sih Gah..? ngeselin banget..” ucap Yunda Clara yang dengan refleknya mendorong pipiku pelan.. dan rupanya dia gak sadar melakukan itu.. dan wajahku yang terdorong sedikit, langsung aku arahkan dan menatap wajah Yunda Clara dengan sedikit tersenyum..

“ma.. maaf ya le..” ucap Yunda Clara dan dia menyebutku le panggilan untuk maba, bukan namaku seperti yang reflek dia ucapkan barusan..

“ternyata kamu masih ingat aku ya mbeng..?” tanyaku kepadanya dan aku memanggilnya mbeng.. itu julukanku kepada Clara waktu kecil dulu.. dan Mas Angger selalu membela Clara kalau sudah aku olok seperti itu.. (mbeng = gembeng = cengeng)

“iihhhhhh.. jahat banget sih kamu itu.. dasar mbeling..” ucap Clara lalu mencubit pinggangku dengan jengkelnya.. dan Clara selalu memanggilku dengan sebutan mbeling ketika aku membuatnya menangis.. (mbeling = nakal)

“hahahahaha.. iya.. iya.. maaf.. maaf..” ucapku sambil menahan tangan Clara yang mencubit pinggangku ini.. dan akhirnya.. setelah tiga hari pelaksanaan orientasi ini, aku bisa juga tertawa dengan lepas..

“kamu itu gak berubah dari dulu.. selalu aja buat aku jengkel..” ucapnya sambil menarik tangannya dari pinggangku, dan kembali melipatkan kedua tangannya didada..

“tapi kamu berubah loh.. kalau dulu kamu itu cengeng, sekarang enggak..” ucapku menggoda Clara..

“tau ah..” ucapnya meraju sambil memanyunkan bibirnya.. anjingg.. satu lagi yang berubah ra.. kamu tambah cantik banget.. boleh gak aku cium bibir manyunmu yang seksi itu.. hahahahaha..

“kamu belum jawab pertanyaanku ra.. kenapa kamu jadikan aku, korban permasalahanmu dengan Bang Badai..?” tanyaku yang tiba – tiba teringat dengan masalah yang tadi.. dan aku sekarang memanggilnya dengan sebutan nama saja..

“jangan salahkan aku lah.. salahkan Kenzie sama Badai itu.. mereka yang titipin kamu ke aku..” ucap Clara dengan ketusnya.. tapi sekarang, ketusnya ketus – ketus manja gitu.. hehehehe..

Eits entar dulu.. aku dititipin Mas Kenzie dan Bang Badai ke Clara..? untuk apa..? supaya bisa menenangkan aku ketika aku emosi..? gilaaa.. rupanya aku salah sangka dengan semua penghuni pondok merah beberapa hari ini.. dibalik kecuekan mereka beberapa hari ini terhadapku.. ternyata mereka sangat memperhatikan diriku, lewat orang lain.. bajingaaannn..

“anjing.. dititipin..? emang aku barang apa..? atau aku anak kecil yang dititpin kepengasuh..?” tanyaku dan sengaja bercanda seperti ini, untuk menghilangkan rasa bersalahku karena sudah berpikiran jelek kepada teman – teman kosku..

Dan aku juga sudah sangat santai dan ceplas – ceplos berbicara dengan Clara, tanpa ada sekat penghalang lagi..

“kurang ajar.. jadi kamu bilang aku pengasuh..?” ucap Clara sambil berkacak pinggang..

“jangan marah mbeng..” ucapku dengan cueknya..

“ihhhh.. jahat..” ucapnya lalu..

Buhhgggg..

Clara memukul otot lengan sampingku dengan tinjuannya yang manja..

“ihh.. kamu itu.. hilang cengengmu kok malah jadi sadis gini sih..?” ucapku sambil menggelengkan kepalaku dan mengelus otot lengan atasku, yang ditinjunya tadi..

“biarin..” ucapnya sambil melotot..

“sudah ah.. jangan alihkan pembicaraan.. jawab dulu pertanyaanku..” ucapku sambil menatap matanya..

“aku mau jawab.. tapi jawab dulu pertanyaanku..” ucapnya sambil membalas tatapanku..

“apa..?” tanyaku..

“Angger yang berkaca mata itu Masmu..? dia berteman dengan Badai Juga..?” tanya Clara dengan wajah yang sangat serius..

“iya.. memang kenapa..?” ucapku sambil mengerutkan kedua alisku..

“iihhhh.. nyebelin bangeett.. kamu, Badai, sama Angger.. sama aja.. semua nyebelinn..” ucap Clara lalu berdiri dan berjalan meninggalkan aku..

Anjing.. ada apanih dengan Clara..? kok dia kelihatan kesel gitu..? apa masalahnya dengan Bang Badai..? kenapa juga Mas Angger dibawa – bawa..? apa mereka terlibat cinta segitiga..?

Wooo.. wooo.. wooo.. Mas Angger sekarang gila.. kemarin Bulan yang kelihatannya suka dengan Mas Angger, lalu Mba Kaila, dan Mba Angelia tentunya.. sekarang Clara.. nanti siapa lagi..? hahahaha.. luar biasa Masku itu.. bajingaaann.. hahahahaha..

Oke.. oke.. mungkin Mas Angger sekarang merasa bingung dengan wanita disekitarnya.. tapi tenang Mas.. ada aku.. Gagah Irawan Sandi.. adekmu ini akan membimbingmu dengan masalah percintaan ini mas.. tenang aja.. nanti aku ajarin juga cara mencicipi wanita – wanita cantik itu.. hahahahaha.. bangsaatttt..

Akupun lalu berdiri dari kursi beton ini dan berjalan kearah lapangan.. dan ketika aku berjalan, aku berpapasan dengan seorang panitia orientasi yang menjadi salah satu incaranku.. siapa lagi kalau bukan Yunda Mala..

Nirmala Allisya Maheswari

“siang Yunda..” ucapku sambil menganggukan kepalaku..

“hai Gah..” ucap Yunda Mala lalu tersenyum dengan manisnya.. gilaaa.. simanis ini kenal dengan aku..? dia tau namaku..? hahahaha.. keren juga dong aku..

Ga usah sombong kamu gah.. lihat papan namamu.. dia pasti tau namamu karena melihat namamu dipapan nama itu.. bangsat.. hahahahaha..

“aku kepanggung dulu ya Gah..” ucap Yunda Mala Lagi lalu tersenyum lagi..

Cuukkk.. senyummu mengalihkan duniaku Yunda.. boleh gak aku memiliki hati pemilik senyum indah itu.. hahahaha.. asyikkk..

Dan aku hanya menganggukan kepalaku sambil tersenyum.. setelah itu Yunda Mala berjalan kearah panggung..

“WOIII.. SINI KAMU..” teriak seseorang dari arah ujung gedung.. dan aku langsung menoleh kearah suara itu.. dan disana, sibangsat Boy berdiri sambil berkacak pinggang.. dia terlihat emosi ketika memanggilku tadi.. anjingg.. apa lagi kesalahanku..?

Akupun langsung berjalan kearahnya.. dan ketika aku sudah dekat dengannya, si Boy langsung menarik kerah kemejaku dan menarikku kearah gedung yang lainnya.. dan disana.. belasan teman – temannya sedang berpesta minuman.. bajingaannn..

Dan ketika aku sudah sampai diantara teman – temannya..

BUUHGGG..

Perutku langsung ditinju oleh Boy dengan kerasnya..

“HUUPPPPPP..” ucapku menahan sakitnya pukulan itu, karena aku belum siap dengan serangannya.. dan ketika aku akan menunduk karena menahan sakitnya pukulan itu..

BUUHGGG..

“ARRGGHHHHHH..” teriakku kesakitan, karena sebuah pukulan mengarah dari arah depan kepelipisku, dengan sangat kuatnya.. dan darah pun langsung keluar dari pelipisku ini dan akupun langsung oleng.. lalu..

BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG..

Pukulan, injakan dan tendangan mendarat disekujur tubuhku.. mereka semua langsung mengeroyokku dengan membabi buta.. aku diserang dari segala arah, tanpa persiapan sama sekali dan tidak dibiarkan untuk bernafas sejenak.. aku terus melindungi wajahku dengan kedua lenganku.. tapi karena serangannya cukup cepat dan sangat banyak.. beberapa pukulan masuk dengan telaknya diwajahku.. kepala belakang, punggung, bokong, wajah, dada perut, tangan, kaki dan semua bagian tubuhku.. tidak ada yang luput dari serangan mereka..

BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG..

Aku dihajar sampai aku tersandung dan aku roboh ditanah.. serangan mereka pun tidak berhenti ketika aku tertidur ditanah.. justru serangan mereka makin menggila.. mereka semua langsung menginjak – ijak seluruh tubuhku ini.. aku yang kesakitan ini, tidak bisa bersuara sama sekali.. jangan kan mengerang kesakitan, bernafas saja aku kesusahan.. bangsaatttt..

BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG.. BUUHGGG..

Dan setelah mereka semua puas menginjak injak seluruh tubuhku, dan aku terlihat lemas tak berdaya.. mereka semua langsung menghentikan serangannya.. mereka lalu tertawa bersama – sama, ketika melihatku berdarah – darah dan tergeletak ditanah.. bajingaannn.. darah pun keluar hamper dari seluruh wajahku.. akupun sampai memuntahkan darah karena serangan brutal ini..

“HAHAHAHAHAHAHAHA..” tawa mereka terdengar dengan kerasnya..

Lalu sebuah telapak sepatu mendarat diwajahku..

BUHHGGG..

Dan injakan itu ditahannya di wajahku..

“kamu mau jadi jagoan dikampus ini..? kamu mau jadi playboy, dengan menggangu panitia cewe yang cantik – cantik itu..?” ucap orang itu dan terdengar kalau itu suara dari siboy.. dan dia berbicara sambil menguatkan injakannya diwajahku..

Anjing.. ini sudah lebih dari kelewatan.. aku bukan dianggapnya binatang lagi kalau seperti ini.. aku seperti mahluk yang sangat hina dihadapan mereka, sampai mereka bebas melakukan hal ini kepadaku.. bangsaatttt.. kalian salah.. kalian salah sekali.. kalian harus aku bantai sekarang juga.. bajingaaannn..

Dan aku yang sudah tergeletak dengan bersimbah darah inipun, langsung menggigil karena emosiku yang tiba – tiba membakar seluruh tubuhku.. kaki dan tanganku bergetar dengan hebatnya.. dan hawa membunuh langsung berteriak dikepalaku.. aroma darahku yang menggenang disamping wajahku inipun, semakin membuat aku emosi..

“bunuh mereka.. bunuh mereka.. bunuh mereka..” bisik sesosok mahluk ditelingaku..

Boy yang merasakan getaran ditubuhku, karena kakinya masih diwajahku.. langsung dengan cepatnya, mengangkat kakinya itu dan mundur kebelakang..

Akupun langsung duduk dengan kepala menunduk.. tidak ada lagi terdengar tawa dari mereka semua.. lalu aku berdiri perlahan dengan kedua tanganku terkepal dan aku masih menunduk.. lalu perlahan tatapan mataku yang melihat kearah bawah ini pun, langsung menghitam..

“bangsaaatttt..” gumamku dengan suara yang parau dan bergetar..

Dan ketika aku akan mengangkat wajahku, dari bawah kedua ketiakku.. masuk tangan kanan dan kiri seseorang dengan lembutnya lalu memelukku dengan eratnya.. lalu tangan ini perlahan mengelus dadaku dengan lembutnya.. dadanya menempel dipunggungku dan wajah sampingnya juga menempel dipunggungku..

Lembut dan sangat perlahan sekali, elusan tangan ini didadaku.. dan itu langsung meredakan emosiku yang siap meledak ini.. gilaa.. siapa wanita yang memelukku ini..? kenapa bisa emosiku yang meledak – ledak ini, bisa mereda sebelum aku luapkan..? dan akupun langsung memejamkan kedua mataku..

Aku merasakan ketenangan dari pelukan dibelakang tubuhku ini.. tenang dan damai.. dan ketika emosi yang menguasai kepalaku itu pergi.. akupun langsung membuka kedua mataku.. pandanganku agak kabur, karena kedua kelopak mataku bengkak dan bola mataku tertutup darah dari kedua pelipisku.. aku lalu menutup mataku lagi.. dan aku langsung membersihkan darah yang menutup pandanganku, dengan kedua telapak tanganku.. setelah itu aku membuka mataku lagi..

Pandanganku sedikit agak terang.. dan para bajingan yang ada dihadapanku ini pun, hanya melihatku tanpa melakukan gerakan apapun.. dan kedua tangan yang memelukku dari belakang ini, masih terus mengelus dadaku..

Lalu perlahan pelukan ini terlepas, dan wanita yang memelukku ini.. langsung berjalan kesamping kananku.. aku tidak melihat kearahnya sedikitpun.. pandanganku masih tertuju kearah para bajingan – bajingan itu..

“cukup.. kalau kalian gak bubar.. kalian akan terbantai disini..” ucap wanita itu dengan suara yang sangat tenang, pelan tapi tegas.. satu persatu bajingan itupun, langsung membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan kami berdua..

Inikan suara Yunda Mala.. Nirmala Allisya Maheswari.. gilaa.. siapa dia sebenarnya..? kenapa dia bisa menaklukkan emosiku dengan cepat..? didunia ini wanita yang bisa meredakan emosiku dengan cepat.. hanya Eyang Anjani, Bunda dan Adekku Bening.. selain itu tidak ada.. kalau laki – lakinya Ayah dan Mas Angger tentunya..

Tapi kenapa Yunda Mala juga bisa meredakan emosiku ini..? gilaa.. ini gila.. lalu perlahan telapak tangan kananku, digenggamnya dengan tangan kirinya lalu ditariknya perlahan.. dan dengan langkah gontai aku mengikuti tarikan tangan Yunda Mala ini..

Entah dibawanya kemana aku pergi.. yang jelas, setiap kami melewati panitia dan maba.. mereka semua langsung melihat kearah wajahku yang babak belur dan berdarah – darah ini.. aku pun sempat melewati Bang Badai dan Mas Kenzie yang berjaga diujung gedung.. mereka berdua tampak melotot dan tidak berbicara apapun.. aku hanya tersenyum kecil ketika melewati mereka berdua.. dan sepertinya Bang Badai sangaaatt emosi sekali..

Dan langkah kamipun terhenti didepan ruangan kesehatan.. Yunda Mala langsung melepaskan pegangannya ditanganku..

“kamu tunggu disini.. aku mau ambil obat untuk lukamu..” ucap Yunda Mala tanpa melihat kearahku.. lalu ketika Yunda Mala akan masuk keruangan kesehatan..

“Yunda..” ucapku memanggilnya dan Yunda Mala langsung membalikan tubuhnya kearahku..

“cukup sudah Yunda menenangkan emosiku.. dan jangan obati lukaku ini..” ucapku sambil menatap mata Yunda Mala..

“kenapa..?” tanyanya..

“aku mau menikmati sejenak lukaku ini.. setelah itu, baru aku bersihkan luka ini sendiri..” ucapku dengan dinginnya..

“diam dan tunggu disini.. biar aku saja yang obatin..” ucap Yunda Mala lalu membalikan tubuhnya lagi.. aku pun langsung memegang tangan kirinya dengan tangan kananku.. lalu aku menariknya pelan sampai tubuhnya berbalik lagi kearahku..

“kalau Yunda membersihkan lukaku, aku pastikan bukan hanya lukaku saja yang akan Yunda bersihkan.. tapi luka bajingan – bajingan yang mengeroyok aku tadi dan pasti akan lebih parah dari wajahku ini..” ucapku sambil menatap kedua matanya.. dan perlahan kedua matanya berkaca – kaca..

Akupun langsung melepaskan pengan tanganku ditangan Yunda Mala, dan aku langsung membalikkan tubuhku lalu berjalan meninggalkan Yunda Mala yang mulai menetekan air matanya..

“kamu itu ternyata memang keras kepala..” ucap Yunda Mala berbicara dibelakangku.. dan aku tidak menghiraukannya.. aku terus berjalan dengan darah yang terus menetes dari wajahku..

Aku berjalan dengan wajah yang sangat dingin dan tanpa ekspresi kesakitan sedikitpun.. orang – orang yang aku lewati, sampai mundur dan ketakutan.. lalu aku berjalan kearah kamar mandi dan aku langsung masuk lalu menutup pintu kamar mandinya..

Bangsaattt.. ini parah.. ini parah banget.. walaupun emosiku mereda, tapi bukan berarti aku menerima semua perlakuan para bajingan itu.. justru ketika sudah tenang begini.. jiwa membantaiku bisa lebih mematikan..

Aku lalu melepas papan nama yang rusak dan dipenuhi dengan ceceran darahku ini, dari dadaku.. lalu aku menggantungkannya dipintu kamar mandi..

Dan dengan menggunakan kemeja putih yang memerah karena darah.. aku mengguyur seluruh kepalaku..

Perih lukaku ini..? engak.. engga perih sama sekali.. tapi didalam dadaku yang terasa sangat perih..

Sakit..? engga.. engak sama sekali.. justru batinku yang terasa sakit dan seperti diinjak injak..

Terus..? gak ada.. ga ada yang perlu diratapi.. sekarang waktunya untuk menegakkan kepalaku ini.. aku ini ksatria ayahku yang lahir pada saat gerhana bulan purnama.. kalau masalah luka dan tetesan darah ini, itu hal yang kecil.. kecil sekali..

Yang besar itu harga diri, sesuai pesan Bundaku tersayang dihari itu.. “egomu ini harus diturunkan, bukannya harga diri” jadi ketika harga diri telah dinjak injak, hanya darah penawarnya.. darah yang kental..

Aku lalu memajamkan kedua mataku sambil menikmati aliran air yang menyentuh luka – lukaku ini.. setelah itu aku membasuh lagi wajahku, untuk mengurangi darah yang keluar dan menutupi wajahku.. setelah itu aku mengguyur lagi kepalaku berkali – kali..

Seluruh pakaian yang aku kenakan inipun, basah kuyub.. kemeja putihku kotor dan hitam kemerahan.. celana hitamku basah karena terkena air bercampur dengan darah..

Setelah itu aku memakai kembali papan nama yang rusak itu didadaku.. lalu keluar dari kamar mandi menuju kelapangan.. dan ketika aku sampai dilapangan, semua mata tertuju kearahku.. dan suasana langsung hening dan tidak ada yang bersuara satupun.. penghuni pondok merah yang melihatku, hanya tertunduk sambil mengepalkan kedua tangan mereka.. Mas Panji yang melihat kondisiku ini pun hanya memandangku sambil menghisap rokoknya..

Aku terus berjalan menuju kelompokku dengan santainya.. dan ketika aku melewati kelompok lima, Mas Karel langsung maju kedepan kelompoknya dan mengarahkan kepalan tangannya kearahku.. akupun langsung meninju kepalan tangan Mas Karel pelan sambil terus berjalan..

Clara yang berdiri didepan kelompokku pun langsung memandangku dengan mata yang berkaca – kaca sambil menutup mulutnya.. dan ketika aku sudah berdiri didepan kelompokku.. ketiga sahabatku langsung menunduk dan seperti tidak tega melihat kondisiku..

“ka.. ka.. kamu kenapa Gah..?” ucap Clara dengan terbata dan tetesan air mata mulai membasahi pipinya..

Gagah Irawan Sandi

“aku gak apa ra.. jadi jangan teteskan air matamu.. atau air matamu itu, makin membuat lukaku perih dan aku bisa membunuh orang sekarang juga..” ucapku dengan dinginnya.. dan Clara langsung menundukan kepalanya dan menangis sesenggukan.. anjing.. ini nih yang buat aku sakit, sakit yang terdalam.. ketika melihat wajah – wajah sedih dari semua orang yang aku sayangi dan menyayangi aku.. sakitnya itu lebih sakit dari pada pukulan para bajingan itu.. bangsaatt..

#cuukkk.. sakit yang terdalam ini, membuat jiwaku ingin berontak dan ingin melampiaskan semua amarahnya.. kekentalan darahku yang keluar dari tubuhku, akan aku balas dengan kekentalan darah mereka.. SALAM KENTAL..!!!

Bersambung

Daftar Part