. MATAHARI Part 29 | Kisah Malam

MATAHARI Part 29

0
266

MATAHARI Part 29

BERSABAR

Pov Badai..

Holaaa bro.. jadi panitia keamanan juga aku akhirnya.. he.. he.. bajingaann.. sebenarnya aku juga gak nyangka kalau sampai ditunjuk jadi panitia keamanan.. padahal setahuku, panitia keamanan itu dari teman – teman yang sudah semester lima aja.. tapi aku yang semester tiga sudah ditunjuk menjadi anggota keamanan.. luar biasa kok..

Dan pada saat rapat terakhir persiapan orientasi kemarin lusa.. kami mendapatkan pengarahan dari Mas Barry tentang tugas – tugas sebagai panitia keamanan.. karena Mas Barry tahun ini ditunjuk sebagai coordinator kemananan.. dan satu yang membuatku terkejut ketika rapat dengan teman – teman panitia keamanan, yaitu tentang kehadiran Haris, Faris, Boy dan anggota – anggota mereka..

Bangsat.. kenapa bisa mereka hadir dikampus ini..? dan kenapa bisa mereka menjadi panitia keamanan..? apa mereka tidak akan mengacaukan acara ini..? dan yang membuatku makin terkejut, wajah mereka terlihat santai saja seperti tidak terjadi apa – apa.. Boy dan Faris yang pernah aku bantai pun, tidak menampakkan wajah ketakutan seperti kemarin – kemarin ketika bertemu dengan aku.. bukannya aku mau penghormatan dari mereka, bukan itu maksudku.. aku bukan orang yang gila hormat bro.. tapi paling enggak mereka membangun komunikasi yang baik dengan kami semua, bukannya cuek seperti ini.. ada apa ya dengan mereka..? apa mereka sekarang sudah bangkit dan ingin membalas kekalahan mereka..? bajingaann.. kalau sampai tujuan mereka hanya untuk mengacaukan orientasi ini, aku gak akan segan untuk membantai mereka lagi.. dan ini kesempatanku membantai Haris, karena waktu itu Gagah yang membantainya..

Dan setelah mendapatkan pengarahan dari Mas Barry, kami semua langsung menuju kedepan aula untuk mengawasi maba yang akan mengikuti pengarahan tentang orientasi.. dan pada saat kami sedang mengawasi para maba, yang akan mendapatkan pengarahan orientasi pada dihari itu.. aku sempat melihat Mas Panji sedang berbicara serius dengan Angger, diluar pagar kampus teknik kita.. ada apa nih Angger main kesini..? tumben banget.. padahal kan dia jadi panitia keamanan dikampus negeri.. kenapa malah datang kekampus teknik kita..?

Dan setelah berbicara dengan Angger, Mas Panji berjalan kearah gerbang kampus teknik kita.. tapi ketika sampai digerbang, ada seseorang yang mendatangi Mas Panji lalu mengajaknya pergi.. anjing.. siapa ya orang itu..? sepertinya dia bukan orang sembarangan.. walaupun jarak kami lumayan jauh.. aku bisa melihat dari caranya berbicara dan caranya menatap, orang itu sangat santai tapi terlihat mengerikan.. dan kalau dilihat dari wajahnya, dia terlihat seperti mahasiswa yang sudah sangat senior.. Mas Panji pun seperti agak sopan dengan orang itu.. apa dia lebih senior dari Mas Panji..? apa dia senior dari kampus teknik kita..? tapi kenapa setahun ini aku tidak pernah melihatnya..? apa ini ada hubungannya dengan kehadiran Faris, Haris dan Boy dikampus ini..? kenapa banyak hal aneh yang terjadi hari ini ya..? pikiranku jadi ga enak.. asuudahlah.. lebih baik aku konsen aja dengan tugasku..

Dan kembali aku memperhatikan maba yang sedang membaca pengumuman di depan aula.. dan beberapa saat kemudian, Kenzie datang menghampiri aku..

“dai.. kumpul dulu..” ucap Kenzi kepadaku..

“loh.. barusan bukannya sudah kumpul ya..?” tanyaku kepada kenzie..

“pondok merah…” ucap Kenzie singkat dengan wajah yang terlihat sangar sekali.. bangsat nih Kenzie, tumben banget dia kelihatan sangar begini.. padahal biasanya wajahnya itu kelihatan banget ngeselin loh.. hehehehe..

Akupun berjalan bersama Kenzie menuju gedung dibelakang kampus.. dan disana, seluruh penghuni pondok merah sudah berkumpul, kecuali Gagah yang menjadi peserta orientasi.. Mas Panji pun terlihat ada disana, disebelah Pace Beni yang sedang memutar minumannya.. loh.. sejak kapan Mas Panji disini..? bukannya dia tadi jalan sama orang yang misterius didepan kampus..? anjingg.. apa diluar tadi itu hantunya Mas Panji..? bangsatt.. iiiiiiiiiii..

Dan suasana disini pun sedikit tegang.. ada apa ini..? sepertinya ada suatu kabar yang gak mengenakan disini.. aku dan Kenzie pun langsung bergabung dengan teman – teman pondok merah.. kami berdua disambut dengan segelas minuman dari Pace Beni..

“jadi gimana Mas..?” tanya Mas Agam ke Mas Panji setelah aku meminum jatahku..

“kita hari ini kedatangan tamu istimewa..” ucap Mas Panji dengan santainya lalu menghisap rokoknya..

“siapa Mas..?” tanya Mas Barry coordinator keamanan..

“Roni Kebo..” ucap Mas Panji sambil melihat kami satu persatu..

Dan semua yang ada disinipun, langsung terbelalak dan terkejut mendengar nama Roni Kebo.. anjingg.. siapa lagi Roni Kebo itu..? kok sepertinya dia orang yang sangat kuat, sampai teman – teman pondok merah terkejut seperti ini..

“serius Mas..?” tanya Mas Gibran kepada Mas Panji.. dan Mas Panji hanya menganggukan kepalanya..

“gilaa.. diakan sudah bertahun – tahun menghilang dari kehidupan kampus.. kenapa hari ini muncul lagi..?” tanya Mas Gibran dengan wajah yang masih terkejut..

“biasa.. setelah dua kaki tangannya ditumbangkan Badai dan Gagah.. dia datang untuk membalas dendam..” jawab Mas Panji..

Ha..? aku dan Gagah membantai kaki tangan Roni Kebo..? maksud Mas Panji itu Haris dan Faris..?

“maksudnya Mas Panji itu, Haris dan Faris kaki tangannya Roni Kebo..? terus siapa sih Roni Kebo itu..? kok sepertinya semua yang ada disini terkejut seperti ini..?” tanyaku ke Mas Panji..

“ya.. kaki tangannya Roni Kebo itu, Haris dan Faris.. dan Roni Kebo itu senior empat tahun diatasku.. dia juga berasal dari desa jati bening..” jawab Mas Panji lalu menghisap rokoknya lagi..

Anjing.. pantas aja Haris, Faris dan Boy datang lagi kekampus dan menjadi panitia keamanan.. rupanya ada si Roni Kebo.. apa Roni Kebo itu orang misterius yang menemui mas Panji didepan pagar kampus tadi..? gilaaa.. aku kira setelah Haris dan Faris tumbang, sudah tidak ada lagi musuh dalam selimut dikampus ini.. ternyata masih ada lagi musuh yang mungkin lebih kuat dari Haris dan Faris.. bajingaannn..

Apa Roni Kebo ini yang disebut sebagai ‘kepala’ dari perongrong pondok merah..? kalau benar dia ‘kepala’ yang disebutkan oleh orang tua yang kutemui didepan kampus setahun yang lalu itu, berarti aku harus segera bertemu dengan Roni Kebo dan aku akan mengajaknya berduel.. tapi gimana caranya berduel dengan si Roni Kebo itu ya..? masa tidak ada permalahan, aku langsung mengajaknya berduel..? lagian dimana juga aku mencari manusia satu itu..? apa dia masih didepan kampus..?

“apa cuman gara – gara itu, dia datang pada saat orientasi ini mas..?” tanya Mas Bagas ke Mas Panji..

“enggak juga.. dia meminta kepadaku, agar kita yang dari pondok merah ini.. tidak menganak emaskan Gagah yang ikut dalam orientasi..” ucap Mas Panji dan kembali kami semua terkejut mendengar hal itu..

“maksudnya gimana mas..?” tanya Mas Eric..

“dia mau semua yang terlibat didalam orientasi ini, tidak ada yang dibedakan.. panitia maupun maba.. dia maunya kalau Gagah bersalah, bukan dari pondok merah yang menghukum.. tapi siapapun panitia keamanan yang ada disitu.. dan dia juga mau, tidak ada kelompok yang mendominasi orientasi ini.. semua sama.. dan kalau aku baca dari caranya berbicara, kemungkinan orientasi tahun ini akan lebih keras dari pada tahun – tahun sebelumnya..” ucap Mas Panji..

“bajingaannn.. emang Roni Kebo mau tanggung jawab, kalau sampai terjadi apa – apa..?” ucap Mas Ian dengan geregetan..

“justru kalau kita gak mengikuti kemauannya.. dia dan kekuatannya akan mengacaukan orientasi tahun ini dan akan terjadi perang besar didalam kampus..” ucap Mas Panji..

“emang dia punya kekuatan apa mas..?” tanyaku dengan santainya..

“Haris, Faris dan Boy yang pernah kamu tumbangkan tahun lalu.. dan belum lagi kekuatannya dari bajingan – bajingan yang bersebrangan dengan pondok merah..” Jawab Mas Panji..

“bangsatt.. apa mereka masih berani berhadapan dengan kita mas..?” tanyaku memancing reaksi Mas Panji..

“pasti.. karena kalau Roni Kebo bilang perang.. mereka ga akan segan – segan untuk menyerang kita, walaupun nyawa mereka taruhannya..” jawab Mas Panji lagi..

“sekuat itu pengaruh Roni Kebo Mas..? kita kan pernah membantai semua anggotanya..” tanyaku lagi..

“bukan hanya pengaruhnya saja yang kuat.. tapi kepalan tangannya juga sangat kuat.. dan itu pasti akan membangkitkan semangat anggotanya yang pernah kamu bantai..” jawab Mas Panji sambil menatapku..

“jadi Mas Panji menyetujui permintaan dari Roni Kebo..?” tanya Kenzie..

Dan Mas Panji hanya tersenyum saja..

“kenapa ga kita serang mereka malam ini aja mas..? jadi besok kita gak terlalu pusing dengan mereka..” ucapku lalu aku membakar rokokku..

“untuk apa..? menunjukkan kalau kita itu memang menganak emas kan Gagah..?” ucap Mas Panji sambil menatapku..

“tapi kalau kita ikuti kemauannya.. pasti mereka mengincar Gagah dan bisa – bisa Gagah akan dibantai didepan kita Mas.. selain itu, ini demi keselamatan semua maba yang mengikuti orientasi ini mas..” ucap Mas Barry..

“biarkan saja..” jawab Mas Panji dengan singkatnya..

Bajingaannn.. enak banget Mas Panji jawabnya.. Gagah itu keluarganya loh.. kok dia tega bicara seperti itu..? aku aja emosi mendengar Gagah akan dibantai, apa lagi kalau aku melihat dengan kepala mataku sendiri.. bisa kuinjak kepala siapapun yang berani melakukan hal itu kepada Gagah.. belum lagi kalau dia memperlakukan semua maba seenaknya, apa gak aku bunuh itu Roni Kebo dan cecurut – cecurutnya..

“mungkin Mas Panji akan membiarkan saja.. tapi aku enggak mas..” ucapku lalu aku menghisap rokokku.. dan semua penghuni pondok merah langsung menatapku bersama..

“dan kamu akan menghadapi aku..” ucap Mas Panji sambil melirikku dengan tajamnya..

Anjingg.. kok Mas Panji jawabnya seperti ini sih..? apa dia setakut ini sama Roni Kebo, sampai dia menyetujui semua permintaan sibangsat itu..? enggak.. ga mungkin Mas Panji takut sama Roni Kebo.. Mas Panji pasti mempunyai alasan untuk diam dan menuruti kemauan Roni Kebo.. Mas Panji pasti telah menyiapkan sebuah rencana yang tidak kami duga.. tapi rencana apa itu..? bajingaannn..

“bukan hanya Badai.. tapi semua penghuni pondok merah yang berani membela Gagah, akan merasakan kepalan tanganku ini..” ucap Mas Panji sambil mengepalkan kedua tangannya..

Dan kami semuapun langsung terdiam, mendengar ucapan Mas Panji yang tegas dan keras itu..

“mungkin kalian semua berpikir, aku tega membiarkan Gagah dibantai didepan kita.. dan mungkin kalian berpikir, aku setega itu membiarkan semua maba dibantai oleh Roni Kebo dan kroninya..” ucap Mas panji lalu diam sesaat..

“Gagah itu keluargaku dan aku mengenal betul dia seperti apa.. didarahnya mengalir darah dari orang – orang terkuat didesa jati bening dan jati luhur.. aku sengaja membiarkan para bajingan itu untuk merong rong pondok merah, termasuk niat mereka menyakiti Gagah..”

“dan untuk semua maba, pasti orientasi tahun ini seperti neraka bagi mereka semua.. tapi tenang saja.. aku yakin mereka gak akan sampai kehilangan nyawanya.. ada batasan – batasan yang gak akan dilanggar oleh semua anggota Roni Kebo..”

“dan aku.. aku menunggu momen yang tepat untuk membantai mereka semua, sampai ke akarnya.. aku sudah membaca pergerakan mereka sejak dari dulu.. dan aku sudah menyiapkan ini selama bertahun – tahun.. tapi bukan sekarang saatnya.. kalian akan melihatnya nanti dan itu akan dimulai dari Gagah beserta para maba, lalu kita yang akan mengakhirinya.. kita akan menghabisi semua pemberontak itu, dan mereka tidak akan berani berbuat ulah lagi dikampus teknik kita selamanya..” ucap Mas Panji sambil melihat kearah teman – teman lalu melihat kearahku.. ucapan Mas Panji itu seperti sesuatu yang telah dipendamnya sejak lama dan sekarang dia benar – benar meluapkannya..

“apa sampean akan berduel lagi dengan Roni Kebo mas..?” tanya Mas Agam..

Apa..? Mas Panji pernah berduel dengan Roni Kebo..? siapa yang menang..? apa Roni Kebo kalah, dan sekarang dia datang lagi untuk membalas dendam atas kekalahannya..?

“enggak.. itu bukan tugasku..” ucap Mas Panji sambil menatapku..

Kenapa Mas Panji menatapku..? apa tatapannya itu berarti aku yang menggantikan dirinya untuk melawan Roni Kebo..? bukannya tadi Mas Panji bilang kita akan menghabisi para bajingan itu.. kita siapa..? aku maksudnya..? Uhhh… baiklah mas.. kalau memang aku yang ditunjuk, aku akan dengan senang hati berduel dengan Roni Kebo itu.. jangan kan menunggu nanti.. sekarang pun aku sudah siap.. bangsatt..

“kita habiskan minuman ini.. terus kita kembali lapangan..” ucap Mas Panji lalu menghisap rokoknya..

“terus bagaimana cara kita menghadapi permainan Roni Kebo Mas..?” tanyaku ketika Mas Panji mengakhiri pembicaraan ini..

“sabar..” jawab Mas Panji dengan singkatnya..

Apa..? sabar..? cuman sabar aja cara kita menghadapi permainan Roni Kebo..? bangsaaatttt.. cara apa itu..? masa selama empat hari ini kita akan terus bersabar..? sebagai pemanasannya, ga ada gesekan kecil dulu gitu..? bajingaaaannn..

Baiklah Mas.. aku akan mencoba ilmu baru itu.. ilmu sabar.. entah bisa atau tidak aku mengamalkan ilmu itu.. tapi aku akan mencobanya.. hiuufffttt.. huuuuu..

Kami semuapun langsung melanjutkan pesta itu sampai minumannya habis.. setelah itu kami semua berjalan bareng menuju kearah lapangan.. dan dengan dipimpin oleh Mas Panji.. kami semua berjalan dengan garangnya.. dan sekarang aku mulai sedikit paham permainan Mas Panji.. dia sengaja membiarkan para bajingan itu memainkan permainannya, supaya mereka merasa telah berhasil menguasai kampus, dan perang ini tidak akan terjadi diawal orientasi.. dan mungkin setelah orientasi selesai, baru akan terjadi perang itu.. dan itu artinya.. orientasi akan tetap berjalan, tanpa ada perang besar yang mengacaukannya.. itupun dengan catatan.. kami dari pondok merah yang menjadi panitia, tidak terpancing dengan permainan mereka.. ya dengan ilmu tadi.. ilmu sabar.. tapi gimana dengan Gagah dan para Maba ya..? arrgghhhhh… gilaaa.. permainan apa yang akan Roni Kebo mainkan selama empat hari ini..?

Dan kami semuapun terus berjalan kearah lapangan.. kami berjalan menatap lurus kedepan dan tanpa tersenyum.. tidak ada yang berani menegur kami, ketika kami melewati semua panitia atau para maba.. mungkin Roni Kebo belum memulai permainan ini dan dia menahan semua anggotanya.. makanya belum ada provokasi sedikitpun kepada kami.. entah siang nanti, sore, malam atau besok pagi..

Dan setelah sampai dilapangan, para maba baru sebagian kecil yang berkumpul disini.. yang lain masih didepan aula utama untuk melihat daftar pembagian nama kelompok..

“kita bubar dan tempati posisi kalian masing – masing..” ucap Mas Panji kepada kami semua..

“dan ingat.. tahan diri kalian, apapun yang terjadi..” ucap Mas Panji lalu menghisap rokoknya..

Kami semuapun langsung menggangguk dan membubarkan diri lalu berpencar keposisi kami masing – masing..

Dan kebetulan aku kebagian menjaga didepan perpustakaan bersama Kenzie..

“kamu tau tentang Roni Kebo zie..?” tanyaku kepada Kenzie lalu aku membakar rokokku..

“aku hanya tau ceritanya saja.. tapi aku belum pernah melihat secara langsung keganasannya..” ucap Kenzie dan dia juga membakar rokoknya..

“apa yang kamu tahu..?” tanyaku lagi..

“konon ceritanya.. Roni Kebo itu orang pertama yang mengacaukan kedigdayaan pondok merah.. dia datang sendiri kepondok merah dan membantai semua orang yang ada dipondok merah.. termasuk Mas Arvan yang menjadi panglima pondok merah saat itu..” ucap Kenzie lalu menghisap rokoknya..

“semua terbantai..? Mas Panji juga..?” tanyaku dengan ekspresi yang terkejut..

“engga.. jadi ketika pembantaian itu terjadi, Mas Panji baru masuk pintu kos pondok merah sebagai mahasiswa baru..” jawab Kenzie..

“terus, apa mereka berdua duel..?” tanyaku yang makin penasaran dengan cerita Kenzie..

“iya..” jawab Kenzie singkat..

“siapa yang menang..?” tanyaku lagi..

“imbang.. mereka berdua sama – sama babak belur dan tidak ada yang jadi pemenang.. padahal Roni Kebo baru membantai dua belas penghuni pondok merah.. dan kalau seandainya duel itu terjadi sebelum pembantaian penghuni pondok merah.. mungkin saja Roni Kebo yang memenangkan duel itu..” ucap Kenzie dengan tatapan yang menerawang kedepan..

Bangsaatttt.. ngeri juga dong Roni Kebo ini..? sampai dia bisa membantai semua penghuni pondok merah dan panglima perangnya saat itu.. dan lebih hebatnya lagi, dia bisa menahan imbang Mas Panji..

Dan aku tidak setuju dengan ucapan Kenzie tadi.. tentang Roni Kebo yang bisa saja memenangkan duel dengan Mas Panji, kalau duelnya sebelum pembantaian itu terjadi.. karena menurutku, Mas Panji itu sangat kuat loh diantara kami semua penghuni pondok merah.. walaupun aku gak pernah melihatnya bertarung.. tapi aku sangat yakin Mas Panji itu mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa.. dan ilmu sabarnya itu juga sangat luar biasa..

“apa setelah duel itu, Mas Panji dan Roni Kebo pernah berduel lagi..?” tanyaku dan Kenzie hanya menggelengkan kepalanya..

Anjingg.. kalau memang imbang, kenapa Mas Panji gak mau melawan Roni Kebo pada saat nanti perang besar itu terjadi..? kenapa diserahkan keaku..? gilaaa.. apa ini bagian dari ilmu sabar yang dimiliki Mas Panji..? ngga.. ngga mungkin.. ini pasti bagian dari rencana Mas Panji.. apa sebenarnya rencana Mas Panji sih..? aarrgghhh..

“jadi bagaimana rencanamu dai..?” tanya Kenzie kepadaku..

“rencana apa..?” tanyaku balik..

“kamu yang akan berduel dengan Roni Kebo kan..?” tanya Kenzie sambil melirikku..

“tau darimana kamu..?” tanyaku memancing Kenzie..

“tatapan Mas Panji tadi, ketika kita berbicara di belakang gedung sana..” ucap Kenzie..

“ohhh..” jawabku singkat lalu aku menghisap rokokku..

“jangan oohhh aja.. apa rencanamu…?” Tanya Kenzie dan sekarang dia yang penasaran dengan aku..

“gak ada.. kalau tiba waktunya duel, ya duel aja..” jawabku dengan santainya..

“bangsaatt.. sudah kuduga pasti itu jawabanmu..” ucap Kenzie sambil menatap lurus kedepan lagi..

“kamu kayak baru kenal sama aku aja zie..” ucapku lalu kembali aku menghisap rokokku..

“justru karena aku kenal sama kamu, makanya aku tanyakan rencanamu.. bukan karena apasih.. kamu itu walaupun orangnya santai, tapi cepat emosi.. dan itu akan mengacaukan semua rencana Mas Panji..” ucap Kenzie sambil melirikku lagi..

“kamu gak dengar kata Mas Panji tadi..? kita itu disuruh bersabar mengikuti alur permainan Roni Kebo.. dan kalau seandainya Roni Kebo memulai provokasinya kepada kita, dan kamu langsung menyambutnya gimana..? apa gak bubar orientasi tahun ini..?” ucap Kenzie dengan nada yang agak tinggi..

“aku akan menahan diri..” jawabku singkat..

“oke kalau kamu bisa menahan diri.. dan menurutku mereka gak mungkin akan menyentuhmu atau penghuni pondok merah secara langsung, jadi kamu bisa santai dan menahan dirimu.. tapi kalau provokasinya ke Gagah..? apa kamu bisa menahan diri..? atau Gagah bisa bersabar..? kamu gak ada pemikiran, kalau Gagah dibantai dan dia melawan saat itu juga..? apa gak langsung terjadi perang besar..?” ucap Kenzie yang langsung menyadarkan aku..

“dai.. kita bukan hanya memikirkan diri kita sendiri.. kalau aku menangkap dari ucapan Mas Panji tadi, perang akan dimulai dari Gagah baru kita yang akan menyelesaikannya.. jadi kita harus memikirkan caranya, supaya Gagah dan maba – maba lainnya bisa menahan diri selama orientasi ini berlangsung.. sementara kita berdiri dibarisan yang akan membantai para maba – maba itu, kalau mereka ada kesalahan..” ucap Kenzie lagi dan itu makin membuka pikiranku..

Anjing.. bener juga apa yang diucapin Kenzie ini.. perang besar ini memang akan terjadi, tapi kami hanya menundanya saja.. sesuai dengan omongan Mas Panji tadi.. jangan sampai orientasi ini bubar, gara – gara kami tidak bisa menahan diri.. bangsaattt.. terus gimana caranya supaya aku tidak terpancing, kalau mereka memprovokasi Gagah atau maba yang lain..? dan gimana caranya supaya Gagah atau maba yang lainnya tidak terpancing juga..? gilaaa.. gilaaa..

“Clara..” tiba – tiba Kenzie memanggil Clara yang kebetulan lewat tidak jauh dari kami..

Clara Jasmeen Salsabila

Anjing nih Kenzie.. kenapa dia malah memanggil Clara dalam situasi seperti ini sih..? gimana aku bisa berpikir, kalau ada Clara disini..? bangsatt.. bangsatt..

Dan Clara yang sedang berjalan bersama Mala yang juga panitia orientasi ini, langsung mendekat kearah kami.. duhhh.. Mala.. cantik juga temannya Clara ini.. kalau dia bukan temannya Clara, mungkin sudah kusikat dari dulu..

Woiii.. woii.. sadar woii.. saat genting seperti ini, malah memikirkan perempuan.. dasar preman selangkangan..

“kenapa Zie..?” tanya Clara sambil melihat Kenzie lalu melirikku.. duuhhh.. kelihatannya Clara masih marah sama aku.. Clara masih belum menegurku sampai saat ini dan itu bermula ketika aku bertanya tentang perasaannya ke Angger.. bajingaann..

“hai Mala..” dan Kenzie malah menegur Mala yang berdiri disamping Clara.. bajingan memang anak ini..

“hai zie..” ucap Mala dengan suara lembutnya..

Nirmala Allisya Maheswari

 

“kamu itu manggil aku karena ada urusan denganku, atau hanya ingin menggoda kami berdua..?” ucap Clara dengan ketusnya..

“loh.. kok Clara marah sih..? kan aku cuman negur Mala aja.. setelah itu baru aku bicara sama Clara..” ucap Kenzie ke Clara.. dan Mala hanya tersenyum saja..

“ya udah.. ada keperluan apa..? aku mau kekelompok tujuh ini..” ucap Clara dengan wajah yang jutek dan kembali melirikku..

Bajingaann.. sebenarnya Clara ini jutek sama Kenzie, atau jutek karena ada aku disini sih..? kenapa Clara bisa berubah seperti ini..? dimana Clara yang murah senyum dulu..? bangsaattt.. terus apa yang mau diomongin Kenzie sih..?

“kamu bina damping kelompok tujuh kan..?” tanya Kenzie..

“kan tadi sudah aku omongin..” jawab Clara dan Mala langsung mengelus punggung Clara..

“sabar ra.. kok dari tadi ketus terus sih..?” ucap Mala dengan lembutnya..

“iya nih.. ketus terus Clara sama aku.. padahal kan aku cuman mau titip aja..” ucap Kenzie lalu tersenyum kepada Clara..

“nitip apa..?” tanya Clara dengan juteknya..

“dikelompokmu ada adeknya Badai.. namanya Gagah.. tolong diawasain ya..” ucap Kenzie dan aku langsung menoleh kearah Kenzie.. bangsattt.. kenapa dia malah nyuruh Clara ngawasin Gagah..? apa coba maksudnya..? terus kenapa dibilang Gagah itu adekku..? waahhhh.. bisa salah sangka lagi ini Clara..

“adeknya..? kenapa harus kamu yang ngomong zie..? bukan kakaknya aja yang bicara sendiri..? terus kenapa harus aku awasin adeknya..? emang adeknya itu seperti anak kecil yang harus diawasin ya..? berarti sama seperti kakaknya dong.. pemikirannya masih seperti anak kecil..” ucap Clara ke Kenzie dengan sangat sinisnya..

Bangsaattt.. benerkan Clara salah sangka lagi.. terus sekarang dia malah ngatain aku anak kecil lagi.. kurang ajar.. ini bukan mengurangi masalah, tapi malah akan menambah masalah.. bajingan Kenzie ini.. sabar dai.. sabar.. gunakan ilmu sabar itu mulai dari sekarang..

“sudahlah Zie.. ngapain sih pakai titip – titip segala..” ucapku ke Kenzie dan aku tidak menghiraukan kata – kata Clara tadi.. sebenarnya aku ingin membalasnya, tapi kalau aku balas perkataan Clara tadi.. bisa – bisa malah menambah daftar panjang permasalahan yang ada diotakku..

Kenzie pun langsung melihat kearahku dan kearah Clara bergantian.. sepertinya dia baru mencium ada suatu masalah diantara aku dan Clara, dan dia baru menyadarinya..

“kasih tau temanmu itu zie.. jangan seperti anak kecil.. atau dia itu emang sebenarnya masih anak kecil ya..? hanya tubuhnya aja yang besar.. suruh sunat dulu dia.. siapa tau setelah sunat, pemikirannya jadi bertambah dewasa..” ucap Clara dengan sadisnya ke Kenzie sambil melirikku dengan ujung ekor matanya, lalu dia membalikkan tubuhnya..

Bajingaannn.. sadis sekali Clara ini bicaranya..? dia bilang aku masih seperti anak kecil..? dia bilang aku belum sunat..? kurang ajar.. dia mau lihat batangku ini kah..? dia mau merasakan batangku ini masuk kedalam mulutnya dan mekinya..? mau kubuka sekarang juga kah..? biar dia lihat batangku yang sudah disunat dan besar ini..? anjing.. anjing..

Mala yang mendengar hal itu langsung membelalakkan kedua matanya sambil menutup mulutnya..

“kita kelapangan la..” ucap Clara sambil menarik Mala pergi meninggalkan kami..

“hihihihi..” dan tanpa rasa berdosa, sibangsat Kenzie malah tertawa pelan..

“bangsat kamu zie.. nambah masalah aja kamu itu..” ucapku sambil melotot kearah Kenzie..

“sabar dai.. sabar.. aku gak tau kalau kamu ada masalah dengan Clara..” ucap Kenzie dan dia seperti menahan tawanya lagi..

“anjingg..” ucapku memaki Kenzie.. dan dia hanya tersenyum dengan wajah yang sangat menjengkelkan sekali.. bajingaaannn..

Dan aku langsung melihat kearah lapangan lagi.. semua maba telah berkumpul dilapangan.. dan aku melihat Gagah berjalan bersama ketiga sahabatnya kearah kelompoknya.. lalu setelah Gagah bergabung dengan kelompoknya, Gagahpun berkenalan dengan semua teman- temannya dikelompok tujuh.. dan gak berapa lama, Clara datang dengan wajah yang sangat ketus didepan barisan kelompok tujuh..

Dari kejauhan ini aku melihat Clara seperti sedang berdebat dengan Gagah.. gilaaa.. ini pasti gara – gara Kenzie yang menyuruh Clara mengawasi Gagah.. jadi Clara seperti tidak nyaman menjadi bina damping kelompok tujuh itu.. bajingaann.. kalau begini sih bukan mengawasi namanya, tapi menambah permasalahan.. dan bisa aja Gagah makin emosi ada dikelompok itu dan imbasnya, dia akan makin emosi ketika disentuh kelompok Roni Kebo.. bangsaatt.. bangsaattt.. kacau ini.. kacau..

“lihat tuh akibat ucapanmu zie..” ucapku kepada Kenzie ketika aku melihat Angger berdebat dengan Clara..

“mana aku tau kalau begini jadinya.. setauku kan Clara dekat sama kamu.. jadi aku titipkan Gagah supaya gak berbuat ulah dan lebih bersabar dengan orientasi ini.. ehhh.. malah kamu ada masalah sama Clara..” jawab Kenzie dengan entengnya..

“sudahlah.. percuma aja kita bahas.. sudah terjadi juga kok..” ucapku sambil terus melihat kearah kelompok tujuh..

Lalu setelah perdebatan itu, Gagah maju kedepan dan sepertinya dia ditunjuk sebagai ketua kelompok dikelompok tujuh.. hiuufffftttt.. huuuuuu.. ini seperti dilema sekali.. disatu sisi mungkin Gagah akan bisa mengontrol emosinya, karena dia ketua kelompok.. dan disisi lainnya, dia akan semakin menggila karena merasa bertanggung jawab kepada anggotanya.. bangsatt..

“SEPAKATTTT..!!!” tiba – tiba terdengar suara yang lantang dari arah kelompok tujuh.. suara mereka sangat lantang dan mereka mengucapkan itu sambil mengepalkan tangan kiri keudara.. dan kelompok tujuh pun langsung menjadi pusat perhatian dari seluruh peserta dan panitia yang ada dilapangan..

Gila nih Gagah.. ngomong apa dia sama anggota kelompoknya, sampai kelompoknya bisa sesemangat itu..? bener kata Mas Panji tadi.. Gagah akan memulai perang besar ini bersama para maba.. buktinya, dalam sekejap aja dia bisa mengobarkan semangat teman – temannya.. bajingaannn..

“kepada seluruh bina damping diharapkan berkumpul dulu didepan perpustakaan.. dan untuk calon mahasiswa baru, silahkan berdikusi dan mencatat tugas – tugas yang akan dibawa besok pagi dengan teman – teman kelompoknya.. bentuk lingkaran – lingkaran kecil didalam lapangan saja.. terimakasih..” ucap seorang panitia dari atas panggung..

Semua bina damping pun, langsung berjalan kearah depan perputakaan, tidak jauh dari tempat aku berdiri.. tapi tidak dengan Clara.. dengan wajahnya yang lebih jutek lagi, dia berjalan kearahku bukan kearah Kenzie.. bangsaatt.. bangsaattt…

“ternyata adek dan kakak sama – sama seperti anak kecil, sama – sama keras kepala dan sama – sama P E M B U A L ..” ucap Clara sambil melotot kearahku, ketika dia sudah berdiri dihadapanku ..

Bajingaannn.. apa sih yang diperdebatkan Clara dan Gagah, sampai Clara seemosi ini..? terus kenapa aku yang dijadikan pelampiasan..? marah tuh sama Kenzie yang titip, jangan sama aku.. gak lama kulumat juga bibir Clara ini.. sepertinya dia sudah lama ga merasakan belaian kasih sayang, sampai dia bisa mudah marah seperti ini.. hiuuffftttt.. huuuu.. sabar dai.. sabar.. kamu butuh kopi dai.. butuh kopi..

“kenapa kamu diam..? kamu gak bisa didik adekmu ya..? atau memang benar, kalau kalian berdua itu pemikirannya masih seperti anak kecil..?” ucap Clara dan dia masih sangat emosi..

“dai..” tiba – tiba Mas Panji memanggilku dari arah belakangku.. aku pun tidak menghiraukan ucapan Clara yang makin emosi itu, dan aku menoleh kearah Mas Panji dibelakangku..

“ya mas..” ucapku sambil melihat kearah Mas Panji..

“kita bicara sebentar..” ucap Mas Panji kepadaku..

“iya mas..” ucapku lalu Mas Panji berjalan duluan meninggalkan aku.. aku lalu melihat kearah Clara yang makin terlihat emosi..

“orang yang tidak tau tentang kebenaran dengan apa yang diucapkannya, lalu mengeluarkan emosi yang meluap – luap seperti ini…. biasanya hanya anak kecil saja yang bisa melakukannya.. jadi yang anak kecil itu, aku atau kamu..?” ucapku ke Clara dengan sangat tenang sekali sambil menatap kedua matanya.. Clara pun langsung terdiam dan tidak berkata apa – apa.. aku lalu membalikan tubuhku dengan santainya.. lalu aku berjalan menyusul Mas Panji yang sudah duduk disebelah perpustakaan..

Hiuufffttt.. huuuuu.. untung aja aku tenang tadi ngomongnya.. kalau aku sampai kebawa emosi, gimana jadinya ya..? memang luar biasa ilmu sabar itu..

“ya mas..” ucapku dan aku langsung duduk disebelah Mas Panji..

“minum dulu..” ucap Mas Panji sambil mengeluarkan dua botol gepeng vodka, dari kantong jaketnya dan menyerahkan satu kepadaku..

Duhhh.. padahal aku kepengen kopi hitam.. kenapa dikasih kopi putih..? ya sudahlah.. dinikmati aja..

“terimakasih mas..” ucapku sambil menerima botol gepeng itu dan langsung membukanya lalu meminum beberapa teguk.. setelah itu kami berdua sama – sama menikmati rokok kami masing – masing..

“kamu pasti sudah pahamkan, dengan ucapanku waktu dibelakang gedung tadi..?” tanya Mas Panji kepadaku

“belum mas..” jawabku singkat dan aku ingin mengetahui kenapa Mas Panji tidak mau berduel dengan Roni, dan malah menyuruhku untuk melawannya..

“kamu pasti bingung kenapa bukan aku yang berduel dengan Roni kan..?” tanya Mas panji lalu dia menghisap rokoknya..

“iya mas.. padahalkan Mas Panji belum mengalahkan Roni..” tanyaku sambil memainkan batang rokok diantara jemariku..

“sebenarnya aku masih penasaran sama Roni itu.. tapi gak mungkin aku melakukannya..” ucap Mas Panji dengan santainya..

“kenapa Mas..?” tanyaku..

“aku gak lama lagi dikampus ini dai.. aku sudah terlalu lama tertahan untuk melanjutkan skripsiku.. sudah cukup waktuku dikampus ini.. dan tugasku hanya mengumpulkan satu persatu puing – puing pondok merah, yang luluh lantak selama ini.. sekarang waktumu dan yang lain, untuk mengerekatkan puing – puing yang aku kumpulkan itu, sehingga menjadi kuat lagi..” jawab Mas Panji lalu dia meminum vodka gepeng yang ada ditangannya..

“apa Mas Panji gak mau berduel dengan Roni Kebo untuk terakhir kalinya, sebelum Mas Panji meninggalkan kampus teknik kita ini..?” tanyaku..

“enggak.. aku bukan type orang yang punya ambisi seperti itu..” jawab Mas Panji sambil menatap lurus kedepan..

“Mas Panji sudah menyiapkan rencana ini selama bertahun – tahun.. kenapa disaat puncaknya Mas Panji malah menyerahkan kekami..?” tanyaku lagi..

“kan sudah kubilang tadi.. sudah cukup tugasku sampai disini saja.. aku sudah sangat senang dan puas, ketika kamu dan Gagah berada dipondok merah.. kalian yang akan akan melanjutkan tugas ini.. tentunya bersama penghuni pondok merah dan dua orang yang sekarang berada diluar pondok merah.. kalian semua yang akan membawa kejayaan pondok merah lagi..” ucap Mas Panji..

“dua orang..? siapa mereka Mas..?” tanyaku..

“Angger dan Karel..” jawab Mas Panji..

“kalau Angger aku tau Mas.. tapi siapa Karel itu mas..?” tanyaku lagi..

“dia kuliah dikampus ini.. maba jurusan teknik industry dan dia adalah sepupunya Gagah dan Angger.. Ayahnya Karel dulu itu, seorang jendral perang dipondok merah.. sedangkan kakeknya Karel dulu, adalah penasehat dan bajingan yang disegani dipondok merah..” jawab Mas Panji lalu dia menegakkan tubuhnya..

Anjinggg.. berarti generasi sekarang luar biasa dong..? Angger dan gagah aja sudah luar biasa.. sekarang ditambah lagi dengan Karel.. bajingaaannn.. aku jadi ga sabar berduet dengan mereka semua, untuk membawa kejayaan itu kembali kerumahnya.. pondok merah..

“apapun yang terjadi, jaga emosimu dai.. memang itu sangat berat, dan aku sudah mengalami itu selama bertahun – tahun kuliah dikampus ini.. dan percayalah, perang itu pasti akan datang dan kamu yang kan menutaskannya..” ucap Mas Panji kepadaku..

Anjingg.. salut sekali aku dengan Mas Panji ini.. ilmu sabarnya sangat luar biasa.. bertahun – tahun dia mengamalkan ilmu itu.. dan sekarang disaat mendekati puncaknya, Mas Panji malah menyerahkan kepada kami.. gilaaa.. dia tidak mau memperlihatkan hasil perjuangannya kepada orang lain, dan dia mau mengorbankan nama besarnya untuk pondok merah.. dan itu berkali – kali loh.. bisa saja Mas Panji hari itu menumbang kan Purnama, bisa saja Mas Panji menumbangkan Haris atau Faris, dan bisa saja Mas Panji menumbangkan Roni Kebo.. tapi apa..? semua tidak dilakukannya.. apa sabarnya ga melebihi jancookk kalau gitu..? jancokkk yang rela mengorbankan harga dirinya..

“sekarang kita kelapangan..” ucap Mas Panji lagi..

“mungkin aku akan belajar menahan emosiku mas.. tapi bagaimana dengan Gagah..? Mas tau sendiri kan kalau dia sudah dirasuki kemarahannya..?” tanyaku..

“kita ingatkan aja dia.. tapi dengan cara yang sangat lembut..” ucap Mas Panji lalu melangkahkan kakinya kelapangan lagi dan aku berjalan disampingnya..

Dan ketika kami berjalan kearah lapangan, semua maba tampak berpencar untuk beristirahat.. kami berdua lalu melihat Gagah sedang bersama ketiga sahabatnya dipinggir lapangan.. Mas Panji lalu berjalan kearah Gagah yang posisinya berdiri memunggungi kami..

“gah..” panggil Mas Panji.. dan ketiga sahabat Gagah yang ada didepan Gagah dan menghadap kearah kami, tampak terkejut melihat kami berdua.. kelihatannya mereka tau kalau Mas Panji yang ada disampingku ini, panglima tempur pondok merah.. Gagahpun langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah kami.. dia terlihat terkejut dengan kedatangan kami yang tanpa senyuman ini..

“ikuti orientasi ini dengan baik sampai selesai.. jangan berbuat ulah atau melawan perintah dari semua panitia.. kalau enggak, kulempar kamu dari lantai tiga gedung sipil..” ucap Mas Panji dengan dinginnya..

Bangsattt.. katanya Mas Panji tadi mengingatkan dengan cara yang lembut..? apa ini kata – kata terlembut di keluarga mereka.. bajingaannn..

“iya Kanda..” ucap Gagah sambil mengangguk pelan.. setelah itu Mas Panji langsung menarik isapan rokoknya dalam – dalam lalu mengeluarkannya perlahan.. lalu Mas Panji meninggalkan Gagah tanpa berkata apa – apa lagi..

“dengarin kata Om mu itu gah.. atau bukan Mas Panji duluan yang bergerak.. tapi aku duluan yang injak batang lehermu..” ucapku sambil menatapnya dengan tajam.. hehehe.. itu kata – kata terlembutku loh.. bajingaannn..

Wajah Gagah pun semakin terkejut mendengar kata – kata lembut Mas Panji dan ditambah dengan kata – kataku tadi.. dan setelah itu, akupun langsung pergi juga dengan cueknya.. sorry gah, aku harus mengingatkanmu dengan cara seperti ini.. bukan karena benci, tapi karena kita sudah menjadi keluarga..

Dan keesokannya harinya atau hari pertama orientasi.. permainan kelompok Roni Kebo dimulai.. pagi buta pada saat maba baru datang.. mereka yang dipimpin Boy, menghajar satu persatu maba yang katanya telat.. padahal tidak sama sekali.. ini sih sudah biasa dalam kegiatan orientasi seperti ini.. dan bukan karena permasalahan telat yang aku pikirkan, tapi cara mereka menghajar para maba itu yang sangat kurang ajar sekali..

Mereka memperlakukan maba seperti sansak hidup saja.. mereka menendang, menginjak dan memukul setiap maba laki – laki yang baru datang.. cara mereka menyerang maba pun, bukan seperti kakak yang menghukum adeknya.. tapi seperti para penjahat yang menyambut penjahat lainnya, ketika masuk didalam penjara.. apa gak gila kalau gitu..?

Dan kami semua hanya bisa melihatnya dari dalam kampus.. kesabaran kami semua benar – benar diuji pada saat itu.. apalagi ketika Gagah yang datang, lalu diinjak perutnya oleh Roy.. aku sangat marah sekali, walaupun Gagah tidak roboh seperti ketiga sahabatnya.. tapi itu tetap membuat ilmu sabarku benar – benar diuji..

Dan dipagi buta itu.. selain diperlihatkan pertunjukan yang membuat ilmu sabarku di uji.. aku juga ditunjukan sebuah pertunjukan yang luar biasa.. seorang maba yang berwajah bule, diinjak oleh Roy dan anggotanya yang berbandar besar.. tapi maba itu tidak roboh ketika dada dan perutnya terkena injakan.. maba itu pun terlihat santai dan tatapan matanya juga terlihat mengerikan.. gilaa.. kalau saja Roy dan anggotanya tidak diingatkan Mas Panji, mungkin bisa saja maba itu membalas perlakuan yang sangat membangsatkan itu.. tapi ngomong – ngomong, siapa maba yang berwajah bule itu..? apa dia Karel sepupu Gagah..? kalau itu memang Karel, berarti kekuatan pondok merah memang sangat luar biasa..

Dan perlakuan kasar Boy dan anggotanya kepada para maba laki – laki, bukan hanya didepan pagar itu saja.. tapi ketika masuk dilapangan juga.. maba yang dianggap melakukan kesalahan dibabat oleh mereka.. Boy dan anggotanya semakin menggila.. dia menghajar maba – maba itu sampai berdarah – darah, termasuk Gagah dan maba yang berwajah bule itu.. kami dari dipondok merah juga melakukan serangan kepada para maba itu, tapi kami memakai tehnik dan tidak asal menyerang.. kami memakai hati, bukan emosi..

Dan pertunjukan dilapangan itu, memperlihatkan kekuatan bertahan dari Gagah dan anak maba berwajah bule itu.. hanya mereka berdua saja yang masih berdiri dengan tegak, walau wajah mereka berdarah – darah.. sedangkan maba yang lain, tumbang dan merintih kesakitan.. Gagah pun masih terlihat bisa menahan emosinya, sama seperti Maba berwajah bule itu.. mereka berdua berdiri dengan wajah yang masih terlihat tenang.. gilaaaaa..

Hari pertama orientasi itu, memang seperti neraka bagi para maba laki – laki.. dalam sehari, para maba – maba itu dibantai sebanyak tiga kali.. pagi, siang dan sore sebelum pulang.. itu belum dihitung maba – maba yang masuk kedalam ruang keamanan.. mereka semua lebih disiksa lagi, sampai ada yang pingsan.. gilaaa.. gilaaa..

Kami yang dari pondok merahpun, hanya bisa bersabar.. bersabar dan bersabar..

Dan hari ini adalah hari kedua orientasi.. dan hari ini lebih keras lagi para maba itu dihukumnya.. mereka semua dibuat tunduk setunduk – tunduknya.. bukan hanya tiga kali sehari para maba itu dihajar.. tapi setiap ada kesempatan, Boy dan anggotanya membantai para maba.. sedangkan Haris dan Faris, hanya memantau seperti Mas Panji, Mas Agam, Pace beni dan Mas Gibran.. bangsaattt.. dan satu yang jadi pertanyaanku, kemana Roni Kebo..? kok sampai hari kedua ini, dia tidak menampakkan batang hidungnya..? apa dia cuman menggertak saja pada saat bertemu dengan Mas Panji kemarin lusa..? tapi gak mungkin.. ini pasti bagian dari permainan mereka..

Dan lagi – lagi.. kami yang dari pondok merah, hanya bisa bersabar.. bersabar dan bersabar..

Pov Angger

Huuuu.. gak terasa sudah hari kedua berlangsungnya orientasi dikampus negeri ini.. dan itu berarti, besok sudah upacara penutupan.. kampus negeri ini melaksanakan orientasi selama tiga hari.. berbeda dengan Kampus teknik kita, yang melaksanakan selama empat hari.. tapi ngomong – ngomong, gimana kabar orientasi dikampus teknik kita ya..? gimana juga kabar Dede..? apa orientasi dikampus teknik kita sama seperti dikampus negeri..? apa mereka bersenang – senang dan menikmati orientasi seperti dikampus negeri ini..? ga mungkin kalau seperti itu.. pasti disana lebih tegang dan lebih keras dari pada di kampusku ini.. tapi aku gak perlu mengkhawatirkan Dede.. banyak yang menjaganya disana.. apa lagi Dede termasuk anak kos pondok merah.. jadi siapa yang berani menyentuh dia..?

Dan sekarang, aku sedang bersantai disebelah gedung aula utama kampus negeri.. aku beristirahat sejenak setelah mulai pagi buta sampai siang hari ini, mengawasi para maba.. mulai dari mereka datang, sarapan, olah raga pagi, permainan yang menguji kekompakan, sampai mereka masuk kedalam aula dan mengukuti materi tentang pengenalan dunia kampus..

Tubuhku lumayan letih.. bukan hanya karena padatnya kegiatan hari ini, tapi juga karena semalam aku kurang tidur.. jadi semalam itu, aku tidur larut karena membahas persiapan kegiatan kemanan untuk hari ini, bersama semua anggota keamanan.. dan setelah itu, aku tidur dengan Bulan yang berada disampingku.. kami gak berbuat apa – apa sih.. hanya tidur berdampingan dan sesekali Bulan memeluk tubuhku, yang kedinginan tadi malam.. hanya sekedar itu.. guendengan ancene og..

Dan hari ini.. sebagian kegiatan super padat itu, sudah aku jalani.. dan aku menjalani semua kegiatan itu, dengan sangat senang sekali.. dan salah satu kesenanganku, aku bisa melihat senyum Bulan, Dinda dan Rani.. tapi ada juga kesedihan yang terselip diantara kesenanganku.. dan itu tentang Kaila dan Lia, mereka berdua seperti menjaga jarak denganku.. mereka mungkin masih marah, karena Dinda membersihkan lukaku ketika aku habis berkelahi di hari itu.. jiancuukkk..

Dan setelah seharian penuh kegiatan ini berlangsung.. acara orientasi hari kedua inipun akhirnya selesai.. dan pada saat maba telah dibubarkan dan mereka telah meninggalkan kampus.. aku berjalan menuju ruang keamanan.. dan ditengah jalan, aku bertemu dengan Rogi dan Dylan..

“gimana ngger..? aman aja..?” tanya Dylan kepadaku..

“aman aja.. orientasi senyaman ini kok ga aman.. gimana sih..?” tanyaku balik ke Dylan..

“ya pasti amanlah.. kecuali Angger jadi panitia kemanan dikampus teknik kita, baru kamu tanya seperti itu lan..” sahut Rogi lalu dia menghisap rokoknya..

“cuukkk.. aku kan cuman basa – basi aja.. kenapa nge gas gitu sih kalian berdua..?” gerutu Dylan kepada kami berdua..

“yang nge gas siapa cuukkk..? kok sensitive betul sih kamu itu..?” tanyaku sambil mengambil permenku, lalu membukanya dan mengemutnya..

“mungkin sudah lama gak colli dia ngger.. makanya emosian..” ucap Rogi dengan santainya..

“assuuu.. apa hubungannya sudah lama tidak mengeluarkan pejuh sama emosian..? ga nyambung cuukkk..” ucap Dylan lalu membakar rokoknya..

“pejuh yang lama gak dikeluarin itu, seperti bisul yang sudah masak dan siap pecah.. rasanya pasti sakit sekali.. dipegang sakit, dibiarkan gak nyaman.. mau dipecahkan, nanti infeksi.. kan serba salah kalau gitu.. dan itu yang mengakibatkan emosi labil dan gampang marah..” ucap Rogi yang menurutku ga jelas arah pembicaraannya itu.. jiancuukkk..

“bangsatt.. hubungan bisul sama pejuh apa cuukkk..? tambah ga nyambung kamu itu..” omel Dylan..

“kan perumpaan lan.. kalau masalah kenapa orang bisa sakit bisul, ga usah aku jelaskanlah.. kamu kan bisulan.. sudah bisulan, gampang sange lagi.. hehehehehe..” ucap Rogi yang langsung disambut pukulan dipundak oleh Dylan..

“bangsaattt.. yang bisulan siapa cuukk..? yang gampang sange juga siapa cuuukkk..? assuuu kamu itu gi..” ucap Dylan..

“heheheheh..” dan Rogi hanya tertawa dengan wajah yang sangat mengejek kearah Dylan..

“oh iya, kalian nanti pulang..?” tanyaku mencari topik pembicaraan yang lain..

“enggak lah.. banyak persiapan yang harus disiapkan malam ini.. jadi gak mungkin kami pulang..” jawab Rogi..

“iya.. yang bisa pulang kan cuman bina damping sama bagian acara aja..” sahut Dylan..

“emang bagian acara bisa pulang..?” tanyaku lagi..

“bisa lah.. gimana sih kamu itu ngger..? kamu kan keamanan.. masa gak tau..?” ucap Rogi..

“hehehehe..” dan aku hanya tertawa lalu aku mengemut permenku lagi..

“pasti kamu cari Lia dan Kaila kan..? mereka sudah pulang tadi..” ucap Dylan dan aku hanya meliriknya saja..

“cuukkk.. enak banget hidupmu anak muda.. kamu dikelilingi oleh manusia – manusia cantik dikampus ini..” ucap Rogi kepadaku..

“engga juga..” jawabku singkat..

“engga juga gimana..? Bulan, Lia, Kaila, terus yang terbaru Dinda dan mba Rani.. kurang cantik apa mereka yang mengililingi kamu itu..?” ucap Dylan sambil melirikku..

Cuuukkk.. mereka tau juga kalau aku dekat dengan kelima wanita itu..? jiancuukkk..

“siapa bilang aku dikelilingi mereka – mereka itu..? buktinya sekarang, aku dikelilingi oleh manusia – manusia yang gampang sange dan bisulan..” ucapku mengalihkan pembicaraan..

“asssuuuu..” maki Dylan dan Rogi kepadaku secara kompaknya..

“hehehehe..” dan aku hanya tertawa melihat wajah mereka yang terlihat jengkel itu..

Dan tiba – tiba.. dari arah depan kami, Dinda berjalan sambil tersenyum dengan manisnya kearahku..

Dinda Kamaliya Candrarini

“tuh salah satu manusia cantiknya..” bisik Rogi kepadaku..

“memang culun – culun biadab Angger ini..” gerutu Dylan dengan suara yang sangat pelan..

Dan aku tidak menghiraukan kedua sahabatku ini berbicara.. percuma juga aku lawan, pasti mereka akan lebih mengorek tetang kelima wanita yang ada diospek dan disekitar kami ini.. guendengan ancene og..

“hai ngger..” ucap Dinda lalu tersenyum lagi dengan manisnya..

“hai din.. mau kemana..?” tanyaku sambil menatap wajah cantik Dinda..

“mau balik kekosan..” jawab Dinda..

“loh kok balik..?” tanyaku lagi..

“ada yang mau aku ambil dikosan ngger..” jawab Dinda..

“kalau gitu biar diantar Angger aja din.. masa malam – malam begini, kamu balik sendiri..” ucap Rogi sambil melirikku..

Cuukkk.. kok Rogi bicara seperti itu sih..? kan jadi enak akunya.. hehehehe.. sebenarnya, tadi aku sudah mau menawarkan diri.. bener kata Rogi, ga mungkin wanita jalan malam – malam sendirian..

“jangan lah.. panitia kemanan pasti capek.. terus besok juga banyak kegiatan.. biar Angger istirahat aja..” tolak Dinda lalu menunduk malu..

“ga apa – apa Din.. ayo kuantar..” ucapku dan Dinda langsung mengangkat wajahnya sambil mengangguk pelan..

“cuukkkk.. jinak – jinak merpati wanita ini ngger.. mantap itu..” bisik Dylan ke aku..

“cuukkk..” makiku pelan..

“ayolah..” ucapku sambil membalikkan tubuhku dan Dinda langsung berjalan disampingku..

“aku tinggal dulu ya..” pamitku kepada Dylan dan Rogi.. mereka berduapun hanya mengangkat jempolnya kearahku, sambil tersenyum mengejek.. jiancuukkk..

Aku dan Dinda langsung jalan bersama, kearah parkiran maxi sambil aku membuang batang permenku..

“kamu sudah makan belum din..?” tanyaku sambil melihat Dinda yang berjalan disamping kiriku..

“belum.. nanti aja kalau sudah balik dari kosan.. aku makan diruang kesehatan aja..” ucap Dinda yang masih terlihat malu – malu berjalan berdua denganku..

“katanya panitia bagian kesehatan..? kok makannya telat sih..? kamu mau sakit terus kamu yang ditolong..?” ucapku dengan santainya lalu berhenti didekat maxi..

“ihhh.. apan sih kamu itu ngger.. kok doain aku sakit sih..?” ucap Dinda sambil mencubit pelan lengan kiriku..

Cuukkkk.. bisa manja juga Dinda ini..? terus dia juga sudah berani menyentuhku.. guenndeng ancene og.. tapi biarlah dia menyentuhku, aku gak akan menegurnya.. takutnya dia malah menjauh dari aku..

“awww..” ucapku pura – pura kesakitan, ketika dicubit tangan lembut Dinda..

“maaf ngger.. maaf.. sakit ya..?” ucap Dinda.. lalu dengan refleknya mengelus bekas cubitannya tadi dilenganku, menggunakan telapak tangannya yang halus itu..

Cuukkk.. elusannya itu bikin bulu kudukku berdiri.. bajingaannnnn.. dan rasanya juga seperti hatiku yang sedang dielus oleh tangan Dinda ini.. ademmm banget..

“gak apa – apa kok Din.. hehehehe..” ucapku sambil tersenyum.. lalu tangan kananku dengan kurang ajarnya, memegang punggung tangan Dinda yang masih mengelus lengan kiriku.. cuukkk.. lembut banget sih tangan Dinda ini.. ini tangan apa adonan kue sih..? kok lembut banget.. jiancuukkk..

Dan tidak ada penolakan sama sekali dari Dinda, ketika aku memegang punggung tangan kanannya itu.. dia malah mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan yang sangat sayu..

Cuukkk.. kok makin hari, makin terlihat cantik aja Dinda ini..? boleh ga aku mengecup bibirnya malam ini..? kemarin pagi kan gagal..? masa malam ini gak bisa sih..?

Woi.. woi.. woi.. penjahat bibir.. bisa ga pikiranmu itu bersih dari acara kecup – kecupan..? sadar ngger.. sadar.. kamu mau menambah daftar panjang wanita yang melumat bibirmu..? untuk apa..? sebagai koleksi..? bangsat kamu itu ngger.. bangsat banget..

Dan teriakan dari dalam hatiku itu, berbanding terbalik dengan suasana saat ini.. wajah kami berdua saling maju perlahan dan makin mendekat.. pegangan tanganku dipunggung tangan Dindapun, makin menguat.. kami berdua sama – sama memiringkan wajah ke berlawanan arah.. lalu ketika bibir wajah kami sudah sangat dekat.. Dinda membuka sedikit bibir tipisnya sambil memejamkan matanya.. akupun memejamkan mataku juga dan…

CUUPPPP..

Bibir kami saling bertemu dan diam beberapa saat.. bibir atasnya berada diantara kedua bibirku.. dan bibir bawahku, berada diantara kedua bibir Dinda.. sentuhan bibir kami ini pun, langsung menggetarkan seluruh tubuhku sampai kedalam hatiku.. gilaaaa.. bibirnya yang sangat tipis dan lembut ini, membuatku melayang dan terbang tinggi bersama perasaanku.. lalu perlahan benih – benih cinta mulai tumbuh dan bunga – bunga cinta dihatiku pun, mulai bermekaran dengan indahnya.. cuukkkk.. jiancuukkk..

Cukup lama juga kami saling berdiam diri dengan bibir kami saling bersentuhan seperti ini.. mungkin dia bingung dengan cara berciuman itu seperti apa.. dan aku juga malu untuk melumat bibirnya.. tapi biarlah.. dengan cara seperti ini aja, sudah nikmat banget kok.. jiancuukkk..

Dan beberapa saat kemudian.. Dinda langsung menundurkan wajahnya dengan cepat.. ciuman kami terlepas, begitu juga genggaman tanganku dipunggung tangan kanannya.. dan aku langsung membuka mataku sambil menatap Dinda yang langsung tertunduk..

“ma.. ma.. maaf ngger..” ucap Dinda dengan terbata dan suasana yang nyaman tadi, langsung tegang seketika.. cuukkk.. kok langsung begini sih suasananya..?

“aku yang harusnya minta maaf din.. aku sudah kurang ajar memegang tanganmu, sampai terjadi ciuman ini..” ucapku yang gak enak dengan perubahan Dinda ini..

“udah ah.. gak usah dibahas lagi..” ucap Dinda dan sekarang suaranya sudah mulai terdengar sedikit tenang, sambil tetap menunduk..

“ya udah.. kita makan dulu ya..” ucapku yang bingung harus berbuat dan berkata apa lagi.. dan Dinda langsung menganggukan kepalanya pelan..

Aku lalu naik keatas maxi dan menyalakannya.. Dinda pun langsung naik dengan kepala yang terus menunduk dan posisinya duduk menyamping.. dan dia duduk dengan agak menjaga jarak denganku.. diapun tidak memegang pinggangku, dia hanya memegang bagian bawah jok maxi..

Lalu aku langsung menjalankan mexi keluar dari kampus..

“kita makan nasi goreng ya..” ucapku sambil menoleh kearah Dinda..

“terserah Angger aja..” ucap Dinda lalu diam lagi..

Cuukkk.. aku jadi merasa bersalah kalau begini.. guendeng ancene og..

Aku pun langsung memacu maxiku kearah alun – alun kota pendidikan.. aku mau makan di warung nasi goreng yang paling enak dikota ini.. lokasinya dibelakang mall, yang nama mallnya seperti kisah wayang.. dan jalan menuju lokasi warung nasi goreng itu, tembus juga kalau akan ke sungai yang sangat panjang dipropinsi ini..

Dan setelah sampai diwarung yang kami tuju, aku langsung memarkirkan maxiku.. kami berduapun langsung turun dan masuk kedalam warung makan itu..

“nasi goreng mawutnya dua pak sama teh hangat..” ucapku kepada penjual nasi goreng itu..

“siap mas..” ucap sang penjual lalu tersenyum kepadaku..

Kami berduapun langsung duduk dipojokan warung dan saling berhadapan.. Dindapun masih terus menunduk dihadapanku ini.. jiancuukkkk..

“sampai kapan kamu terus menuduk din..? kamu marah ya sama aku..?” tanyaku sambil menatap kearah Dinda.. Dinda pun langsung mengangkat wajahnya dan melihatku dengan wajah yang bersemu kemerahan..

“e.. e.. enggak kok.. aku ga marah..” ucap Dinda dengan terbata lagi..

“maaf din.. maaf banget..” ucapku sambil terus menatap wajahnya..

“enggak ngger.. enga usah merasa bersalah seperti itu.. akunya aja yang terlalu berlebihan dengan semua ini.. karena..” ucapnya terpotong lalu menunduk lagi..

“karena apa..?” tanyaku..

“ini pertama kalinya..” ucap Dinda dengan suara yang pelan sambil terus menunduk..

Cuukkk.. sebenarnya aku gak terlalu kaget dengan ucapan Dinda ini.. ya wajarlah kalau tadi itu ciuman pertamanya.. bersentuhan dengan laki – laki yang bukan keluarganya aja dia gak mau.. apa lagi bersentuhan bibir.. jadi wajar aja kalau dia tegang seperti ini, ketika habis berciuman dengan aku.. guendeng ancene og..

“kamu menyesal din..?” tanyaku.. dan Dinda langsung mengangkat wajahnya dan menatapku lagi..

“gak tau..” ucap Dinda sambil menggelengkan kepalanya pelan.. cuukkk.. ekspresi wajahnya kok gitu amat sih..? nggemesin bangett.. rasanya pengen aku cium aja lagi itu bibirnya.. jiancuukkk..

“kok gitu jawabannya..?” tanyaku..

“ihhhh.. sudah ah.. jangan dibahas lagi..” ucap Dinda meraju dan itu terdengar sangat manja sekali..

“iya.. iya..” ucapku sambil tersenyum..

“kenapa tersenyum..?” tanya Dinda lalu dia menggelembungkan kedua pipinya dan kedua tangannya langsung dilipatkan di dadanya.. cuukkkk.. makin cantik aja perempuan satu ini.. bajingaannn..

“dihh.. masa berhadapan dengan wanita cantik seperti ini, aku gak boleh tersenyum sih..?” ucapku sambil mengerutkan kedua alisku.. dan wajah Dinda kembali bersemu kemerahan lalu menunduk sejenak dan menatapku lagi..

“gombal..” ucap Dinda pura – pura meraju.. dan kembali aku tersenyum kepadanya..

Dan makanan pun tersaji didepan kami.. dua piring nasi goreng mawut dengan porsi yang sangat banyak, bersama dua gelas teh hangat..

“mas.. kok banyak banget porsinya..? satu porsi dimakan berdua aja, aku belum tentu bisa habisin loh.. apalagi satu porsi sendirian..” ucap Dinda yang terkejut melihat porsi nasi mawut dihadapannya..

Dan aku juga terkejut, bukan karena melihat porsi makanannya.. tapi karena Dinda memanggilku dengan sebutan Mas..

“Mas..?” ucapku dengan refleknya..

“iiihhhh.. lain yang diomongin lain juga yang dibahas.. makanannya ini loh, kok banyak banget porsinya..” ucap Dinda tanpa menjawab pertanyaanku

“i.. i.. iya udah.. sepiring berdua ya..” ucapku dengan terbata.. dan entah kenapa aku bisa terbata seperti ini.. apa aku terlalu senang karena habis mengecup bibir Dinda..? tapi kan sudah dari tadi kecupannya.. kok senangnya baru sekarang..? aahhh.. mungkin karena barusan aku dipanggil Mas oleh Dinda..

“iya udah.. yang satu dibungkus aja.. nanti buat teman – teman dikampus ya..” ucap Dinda lalu menggeser piring yang ada dihadapannya..

Cuukkk.. terus gimana sudah kalau begini..? apa aku minta piring kosong, terus membagi dua nasi mawut ini..? atau aku mengambil sendok dua, satu untuk aku dan satu untuk Dinda..? atau aku menyuapinya aja ya..? kelihatannya jawaban terakhir yang lebih enak.. hehehehehe..

Akupun langsung meraih sendokku dan menyendok nasi mawut yang ada dihadapanku ini, lalu aku suapkan kearah Dinda.. Dinda pun langsung terkejut melihat suapan nasi didekat bibirnya…

“a..” ucapku pelan.. dan Dinda langsung membuka bibir tipisnya itu perlahan, lalu dia menyantap makanan itu dari sendokku ini.. cuukkk.. kok suasana jadi semriwing begini ya..? hehehehehe..

Lalu setelah itu, aku menarik sendokku dari bibir Dinda dan Dinda menutup bibirnya lalu mengunyah dengan sangat pelan.. jiancuukkkk.. romantis banget kalau begini..

Aku lalu mengambil lagi sesendok dan aku langsung memakannya sendiri.. gilaaa.. rasa bibir Dinda bercampur dengan enaknya nasi goreng mawut ini.. dan itu menambah kelezatan makanan ini, sampai rasanya gak bisa diungkapkan dengan kata – kata.. guendeng ancene og..

“enak Mas..” ucap Dinda setelah menelan makanannya..

“iya memang enak sesendok berdua..” ucapku setelah menelan makananku..

“maksud Dinda itu, rasa nasi goreng mawutnya.. bukan sesendok berdua..” ucap Dinda dan aku langsung tertunduk malu.. assuuu.. assuuu..

Setelah itu aku langsung mengambil sesendok dan mengarahkan kearah bibir Dinda lagi.. dan dinda seperti menhan tawanya.. bajingaaannn..

“a..” ucapku dan Dinda Langsung membuka mulutnya lagi, lalu menyantap nasi goreng mawut romantis gila ini.. hahahaha.. keren ya nama nasi gorengnya..

Dan nasi goreng mawut yang porsinya banyak itu, tidak terasa kami habiskan berdua.. cuukkk.. kok cepet banget sih habisnya..? padahal kan aku masih mau suap – suapan sama Dinda lagi.. bajingaannn.. apa sepiring yang mau dibungkus tadi, aku makan juga ya..?

“din.. ini dimakan juga..?” tanyaku sambil menunjuk piring yang dipinggirkan Dinda tadi..

“jangan mas.. Dinda sudah kenyang banget.. tapi gak apa – apa sih kalau Mas mau makan sendiri..” ucap Dinda lalu tersenyum.. cuukkk.. kok Dinda jadi romantis gini sih..? dia memanggilku Mas dan menyebut dirinya bukan aku lagi, tapi Dinda.. guendeng ancene og.. apa ini pengaruh habis makan nasi goreng mawut romantis gila ini..? jiancuukk..

“ya gak gitu juga kali Din.. emang perutku ini tandon, yang muatnya banyak.?” Ucapku sambil menatap Dinda..

“hihihihihi.. kirain Mas kurang..” ucap Dinda dan tawanya sekarang sudah terdengar.. tawa yang terdengar renyah dan gurih.. uuhhhhhh..

Aku lalu mengambil permenku dikantong, lalu aku membukanya dan mengemutnya..

“mas ini kok suka banget sih ngemut permen lollipop..?” tanya Dinda..

“enak Din.. kamu mau coba..?” ucapku sambil memegang batang permenku, lalu mengarahkan kebibir Dinda.. dan dengan refleknya, Dinda langsung membuka mulutnya dan langsung mengemut permen itu.. akupun langsung melepas pegangan di batang permenku dengan ekspresi yang terkejut..

Cuuukkk.. kan aku main – main aja.. kok Dinda langsung main sambar permen yang habis aku emut itu..? kalau dia mau, aku masih ada yang baru kok.. guendeng ancene og..

Dan beberapa saat kemudian, Dinda langsung melotot lalu mengeluarkan permenku dari mulutnya.. dan menggenggam batang permen itu..

“ini kan bekas Mas emut..? kok dikasih kedinda sih..?” ucap Dinda dengan ekspresi yang sangat terkejut..

Cuukkk.. kok baru sadar dia..? lagian kenapa dia mau nyambar waktu aku tawarin tadi..? terus kenapa kalau bekas mulutku..? jijik..? bukannya makan tadi pakai sendok bekas mulutku juga..? dan bibir kami tadi kan sudah saling mengecup.. kenapa dia sekarang merasa jijik sih..?

“kenapa..? jijik..?” ucapku lalu aku mengambil permen ditangannya dan aku langsung mengemutnya..

“kok diambil lagi..?” tanya Dinda sambil melotot..

Cuukkk.. ini cewe kenapa sih..? tadi kelihatan jijik, sekarang dia marah kuambil permennya.. maunya gimana sih..?

“tadi katanya jijik.. dari pada dibuang kan sayang..” ucapku sambil memegang batang permenku..

“siapa yang mau buang..? siapa yang jijik..” ucap Dinda lalu merebut batang permen di tanganku dan langsung mengemutnya..

“lah tadi kenapa gitu tanyanya..? bekas Mas emut, kok dikasih kedinda sih..?” ucapku sambil mengikuti gaya bicaranya yang imut..

“ihhhhh..” ucap Dinda meraju sambil memegang batang permenku dan aku merebutnya lagi lalu aku mengemutnya..

“loh kok direbut lagi..?” ucap Dinda sambil melotot..

“kan punyaku..” ucapku sambil memegang batang permenku..

“jadi gak iklas ngasihnya..?” ucap Dinda sambil merebut lagi batang permenku dan mengemutnya..

Cuukkk.. ini cerita apa sih..? kok rebut – rebutan batang permen..? sudah gak punya ide lagikah @Kisanak87 ini..? bajingaaaaannn.. hahahahahaha..

Dan setelah saling rebut – rebutan batang permen ini, kamu berdua saling berpadangan.. dan Dinda memenangkan perebutan permen ini dan permen itu sekarang dikuasai sepenuhnya di mulut Dinda.. kami berduapun langsung sama – sama tertunduk malu.. loh kan.. kok bisa begini..? guendeng ancene og..

Beberapa saat kemudian, aku langsung berdiri dan membayar makanan yang sangat mengenakkan ini.. lalu dengan membawa sebungkus nasi goreng mawut, kami berdua keluar dari warung ini dengan hati yang sama – sama berbunga..

Dan kalian tau setelah Dinda naik diatas maxiku..? duduknya waktu kesini tadi yang menyamping dan berjarak, sekarang tetap menyamping tapi sudah berani merapat dan tangannya melingkar diperutku dengan eratnya.. cuuuuukkk.. nikmat mana lagi yang kau ingkari, kalau sudah seperti ini..

Aku lalu menarik gas maxi dengan kecepatan yang pelan.. aku menikmati pelukan Dinda yang hangat dimalam yang dingin dikota pendidikan ini.. nenennyapun terasa sangat kenyal dipunggungku.. guendeng ancene og..

Perjalanan balik ini pun, sengaja tidak aku lewatkan jalan yang pertama tadi.. kalau jalan pertama kami lewat alun – alun.. tapi baliknya, aku lewatkan jalan yang lumayan agak jauh.. lewat jembatan tembus stasiun, tembus balaikota, lalu melewati stadion, dan menuju kosan Dinda.. sebenarnya mau aku putar lagi sampai ke daerah alun – alun yang ada komedi putar/bianglala raksasa dikota apel sana, tapi kejauhan.. takutnya malah pagi balik kekampus.. hehehehehe..

Perjalanan ini pun terasa sangat singkat sekali.. padahal lumayan jauh loh.. apa karena pelukan hangat dari Dinda ini, jadi perjalanannya singkat banget..? guendengn ancene og..

Setelah sampai dikosan Dinda dan Dinda mengambil barang yang dibutuhkan, kami berdua langsung balik kekampus lagi.. oh iya, tadi waktu kekosan Dinda kami melewati kampus kami dan juga kampus teknik kita.. tapi khusus dikampus teknik kita, suasananya sangat sepi.. gak tau kalau didalam ruangan.. mungkin mereka lagi berpesta didalam sana..

Dan setelah sampai dikampus, aku memarkirkan maxiku ditempat yang tadi lagi.. suasana yang makin larut ini, membuat suasana sangat sepi dikampusku.. semua panitia tidak terlihat.. mungkin mereka sedang beristirahat didalam ruangan dan sebagian lagi pulang kekosan masing – masing..

Kami yang telah turun dari maxi, berdiri saling berhadapan dan saling menatap.. cuukkk.. apa adegan kecup – kecupan lagi..? jangan lah.. jangan ragu – ragu maksudnya.. hehehehehe..

Dan bener saja.. kami bertatapan cukup lama lalu wajah kami saling mendekat seperti tadi dan..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Bibir kami saling bertemu dan saling melumat.. gilaaaaa.. Dinda mengulum bibir atasku dan aku mengulum bibir bawahnya..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Lidahkupun langsung aku masukkan kedalam mulut Dinda dan Dinda langsung mengemut lidahku..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Ciuman kami makin menggila dan kedua tangan kami pun langsung saling memeluk.. aku melumat bibir Dinda sambil mengelus punggungnya.. begitu juga dengan Dinda.. dia melumat bibirku sambil mengelus punggungku..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Sambil terus melumat, sesekali kami bergantian membenarkan posisi kacamata kami masing – masing..

CUUUPPP.. CUUUPPP.. CUUUPPP.. MUACCHHHHH..

Lalu..

MUACCHHHHH..

Kami mengakhiri ciuman panjang ini, dengan sama – sama menggigit bibir lawan.. aku menggigit pelan bibir atas Dinda, dan Dinda menggigit bibir bawahku lalu kami sama – sama melepaskan ciuman panjang ini.. uhhhhhhh… nikmat banget..

Hu.. hu.. hu.. hu.. hu.. hu.. hu..

Nafas kami memburu dengan saling menatap dan masih tetap berpelukan.. lalu kami berdua menempelkan kening kami bersama.. cuukkkk.. bisa seperti ini ya..? ciuman panjang dan nikmat, serta diakhiri dengan berpelukan dan menempelkan kening seperti ini.. itu sangat menenangkan jiwa kami yang bergejolak cuukkk..

Hu.. hu.. hu.. hu.. hu.. hu.. hu..

Dengan masih posisi berpelukan seperti ini, kamipun mengatur nafas kami.. lama juga kami berpelukan dan lama juga kening kami saling menempel..

Dan ketika nafas kami sudah mulai tenang dan kami menguasai diri masing – masing.. kami melepaskan pelukan ini dan kamu langsung menunduk bersama..

“Din..” ucapku sambil mengangkat wajahku..

“ga usah dibahas..” ucap Dinda sambil mengangkat wajahnya dan menatapku dengan sayu..

“sudah malam mas.. kita istirahat ya.. besok masih banyak kegiatan yang menanti..” ucap Dinda lagi lalu membalikkan tubuhnya..

Aku langsung menarik tangan Dinda sampai dia membalikkan tubuhnya kearahku lagi.. dan aku langsung memeluk Dinda dengan sangat erat.. lalu..

CUUPPP..

Aku mengecup kening Dinda dengan sangat lembut dan Dinda sampai memejamkan kedua matanya.. dia terlihat sangat menikmati, keningnya aku kecup..

Setelah itu dia membuka kedua matanya dan aku melepaskan pelukanku.. lalu kami berdua berjalan kearah ruang kesehatan, tanpa berbicara sedikitpun.. gila.. gila.. ini maksudnya apa..? apa kami berdua cuman berpelukan dan berciuman tanpa ada ikatan sedikitpun diantara kami..? jiancuukkkk.. hubungan macam apa itu..? hubungan yang penuh nafsu..?

Engga.. engga ada nafsu disini.. disini hanya ada cinta.. cinta yang tidak terucap dari mulut kami masing – masing.. dan cinta itu sudah terikrar dilumatan bibir kami.. gila ya aku..? masa ciuman seperti itu ga ada nafsu sih..? bohong banget pastinya.. jiancuukkkk..

Kami berdua terus berjalan dengan pikiran yang sama – sama melayang entah kemana.. dan ketika sampai di ruang kesehatan.. seorang wanita berhijab, duduk dan seperti menunggu kedatangan kami dengan senyuman khas dibibirnya..

Airani Kamaliya Astami

Dan wanita itu adalah Rani.. Airani Kamaliya Astami.. bidadariku.. bangsattt.. bisa – bisanya aku menyebutnya bidadari, tapi aku mencintai adeknya dan melumat bibir adeknya.. dan bukan hanya adeknya, tapi juga beberapa wanita lainnya.. jiancuukkk.. aku benar – benar telah dirasuki oleh iblis cinta.. aku mencintai dengan sebenar – benarnya cinta.. tapi kalian tau iblis kan..? iya.. iblis itu jahat dan aku sudah sangat jahat sekali dengan cinta ini.. bajingaannn..

“sudah diambil barangnya de..?” tanya Rani kepada Dinda dengan suara yang sangat merdu dan lembut..

“sudah mba.. Dinda kedalam dulu ya..” jawab Dinda lalu tersenyum kepada Rani dan menoleh kearahku..

“terimakasih ya mas..” ucap Dinda kepadaku dan aku tidak bisa menjawab perkataan Dinda itu.. bibirku terasa terkunci dan tubuhku terasa kaku untuk digerakkan..

“Dinda masuk Mas..” ucap Dinda lalu masuk kedalam ruangan kesehatan..

Dan sekarang tinggal aku dan Rani yang ada didepan ruangan ini.. dan aku seperti sedang berhadapan dengan seorang hakim.. hakim yang menentukan kelanjutan masa depan cintaku.. tegang dan tegang sekali yang aku rasakan.. bajingaannn..

“terimakasih sudah mengantar Dinda ya ngger.. dan terimakasih sudah membuatnya tersenyum..” ucap Rani lalu tersenyum dan membalikkan tubuhnya, lalu masuk juga kedalam ruangan kesehatan..

Hiuuuffftttt… huuuuuu.. aku ga sanggup berkata apa – apa.. aku sudah gila dan aku sangat gila.. tubuhku yang menegang tadipun, langsung lemas seketika.. aku lalu membalikkan tubuhku dan berjalan dengan gontainya kearah ruangan keamanan..

Dan didepan ruangan keamanan, berdiri seorang wanita dengan tatapannya yang sangat tajam.. dia melihatku dengan wajah yang sangat emosi sekali.. lalu ketika aku sudah dekat dengannya.. wanita itu langsung membalikan tubuhnya dan masuk kedalam ruangan keamanan..

Cuukkk.. setelah merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa bersama Dinda, dan setelah merasakan ketegangan bertemu dengan Rani.. sekarang aku bertemu Bulan yang marah denganku.. jiancuukkk..

Akupun langsung masuk kedalam ruangan keamanan.. dan disana, Bulan sudah tidur dengan posisi menyamping dan dengan berbantal tas pakaianku.. akupun langsung mendekat kearah Bulan, lalu aku tidur dibelakang Bulan dengan posisi memunggungi Bulan.. dan tidak lama berselang.. isakan tangis yang sangat pelan, terdengar dari belakangku.. isakan tangis yang pelan itu, sangat terdengar keras sekali ditelingaku dan seperti merobek – robek gendang telingaku.. lirih dan lirih sekali terdengar.. bangsaatttt..

#cuukkkk.. kenapa bisa aku seperti ini sih..? terus aku harus bagaimana sekarang..? apa aku harus bersabar..? bersabar apanya..? aku yang membuat masalah dan aku juga yang harus bersabar.. kan bangsat kalau gitu.. jiancuukkk..

Bersambung

Daftar Part