. MATAHARI Part 28 | Kisah Malam

MATAHARI Part 28

0
286

MATAHARI Part 28

PEMBUKAAN ORIENTASI

Pov Angger

TING.. TING.. TING.. TING.. TING.. TING.. TING.. TING..

Bunyi alarm diHp yang sangat nyaring terdengar didekat telingaku.. aku lalu meraba Hpku dengan mata yang terpejam.. dan setelah mendapatkan Hpku, aku lalu membuka mataku sedikit.. setelah itu aku mematikan alarmnya dan kembali aku memejamkan mataku lagi..

Cuukkk.. dingin banget sih hawanya.. untung aku tidur memakai kaos kaki dan jaket orientasi.. jaket orientasi..? oh iya.. sekarang kan lagi orientasi.. jiancuukk.. aku lalu membuka mataku dan aku langsung duduk dengan kaki berselonjor..

“baca nih..” tiba – tiba seseorang berbicara kepadaku sambil menyodorkan Hpnya.. Aku lalu melihat kearah orang itu dan dia adalah Dylan.. aku yang baru terbangun ini pun, masih belum sadar seratus persen..

“cuukkk.. jam berapa ini..?” tanyaku sambil mengucek kedua mataku..

“emang kamu setel alarm mu jam berapa cukkk..?” ucap seseorang lagi yang tidak jauh dari Dylan.. aku lalu melihat kearah orang itu dan dia adalah Rogi.. pandanganku yang agak kabur karena aku tidak menggunakan kacamata ini pun, langsung tertuju pada wajahnya.. samar – samar wajahnya tampak diperban dibeberapa bagian, serta bagian bibirnya tampak membengkak..

“kok kamu datang sih..? lihat kondisimu itu loh..” ucapku kepada Rogi dan dia langsung berjalan mendekati aku.. wajahnya pun semakin terlihat jelas dipandanganku..

“ahhh.. luka kecil aja ini..” ucap Rogi sambil mengelus bibirnya yang bengkak..

Cuukkk.. luka kecil kok sampai memble gitu.. bajingaannn..

“woi.. disuruh baca kok malah bicara terus itu loh..” ucap Dylan yang masih menyodorkan Hpnya kepadaku..

“berita apa sih itu..?” tanyaku dengan herannya..

“baca aja dulu..” paksa Dylan kepadaku..

Akupun langsung mengambil kaca mataku, disebelah tempat aku tidur tadi lalu memakainya.. dan kulihat disekelilingku, beberapa panitia keamanan sudah mulai bangun dari tidur mereka.. malam ini aku tidur dimarkas keamanan.. dan tidak ada Bulan disini.. entah kemana dia semalam, setelah kami saling melumat..

Dan setelah memakai kacamataku, aku lalu meraih Hp Dylan dan membaca suatu berita diaplikasi chat yang ada beritanya.. aplikasi linu namanya.. dan judul dari berita yang aku baca ini.. “kebakaran kantor pengelola ruko dikota pendidikan yang menelan korban jiwa..”

Cuukkk.. kantor pengelola ruko..? ini kantor yang aku datangi kemarin siang untuk membebaskan Rogi..? bajingaannnn.. aku yang terkejut membaca judul berita itu, langsung melihat kearah Dylan yang asyik menghisap rokoknya.. setelah itu aku melihat kearah Rogi..

“baca sampai selesai ngger..” ucap Rogi..

Aku pun lalu menunduk lagi dan membaca isi berita di Hp Dylan itu.. dan setelah aku membacanya, tubuhku langsung merinding dan aku langsung kebingungan.. gilaaa.. kebakaran itu memakan korban dua belas jiwa..? cuukkk.. mereka yang aku bantai itu mati terpanggang..? ga salah nih..? dan yang membuatku makin kebingungan, kebakaran itu berasal dari kantor ruangan pimpinan mereka, karena adanya konsleting listrik..? gilaaaa.. ini gilaaa..

“ngeri..” ucap Dylan lalu menghisap rokoknya lagi..

“ya ngeri lah.. siapa yang ga ngeri baca begini..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“bukan kebakarannya yang buat ngeri ngger.. tapi caramu membantai itu yang ngeri..” ucap Dylan lagi setelah mengeluarkan asap rokoknya..

“ha..?” ucapku yang terkejut sambil melihat kearah Dylan..

“cuukkk.. jangan lihat aku kayak gitu.. bikin takut aja..” ucap Dylan kepadaku, dan wajahnya tampak sedikit ketakutan..

“kamu kenapasih..? kayak aku setan aja, sampai kamu takut gitu..” ucapku sambil mengerutkan kedua alis mataku..

“asuuuu.. bisa ya wajah sepolos kamu gini.. membantai orang segitu sadisnya..” ucap Dylan lagi..

“kamu beraninya ngomong sekarang lan.. coba ngomongnya waktu Angger ngamuk kemarin siang.. bisa dibuat hilang biji matamu satu..” ucap Rogi dan dia langsung membakar rokoknya..

“aku juga lihat – lihat kali gi.. kalau sekarang gini, ga mungkin Angger mau hantam biji mataku..” ucap Dylan dengan kata – kata yang sedikit ketakutan..

“kalian ini ngomong apasih..?” ucapku sambil mengambil permenku lalu membukanya dan mengemutnya..

“cuukkk.. kalau mimic wajahmu begini, kamu imut banget kalau ngemut permen itu ngger.. coba kalau kemarin siang.. kamu ngemut permen terus matamu memerah.. iiiiii..” ucap Rogi lalu menggidikkan tubuhnya..

“kamu beraninya bicara sekarang gi.. coba kemarin, bisa hilang bijimu dua – dua..” ucap Dylan membalikkan kata – kata Rogi tadi..

“asssuuu.. kamu lan..” ucap Rogi lalu menghisap rokoknya..

Dan aku hanya diam mendengar kedua sahabatku ini berbicara.. aku masih bingung dengan kejadian kebakaran dikantor rentenir itu.. kok bisa ya..?

“kalian masih ada waktu kebakaran dikantor itu..?” tanyaku kepada Dylan dan Rogi..

“nggak.. tapi setelah kepergianmu dan kami masih diparkiran kantor itu, ada dua mobil datang kekantor itu.. lalu beberapa orang turun dari mobil itu dan masuk kedalam kantor.. sedangkan dua orang mendatangi kami, lalu kami disuruh pergi dari kantor itu dengan sangat sopan..” jawab Dylan..

“dengan sangat sopan..? emang kamu ada yang kenal dengan salah satu dari mereka..?” tanyaku ke Dylan.. Dylanpun langsung menggelengkan kepalanya.. lalu aku melihat kearah Rogi dan dia juga menggelengkan kepalanya..

Cuukk.. kalau gak kenal sama Rogi dan Dylan, kenapa orang – orang itu sangat sopan sekali ya..? siapa mereka itu..? apa mereka ada hubungannya dengan kebakaran dikantor rentenir itu..? arrgghhhhh..

“ayo panitia keamanan.. kita kumpul dulu.. kita briefing sebentar.. jam lima semua peserta orientasi sudah datang loh..” ucap koordinator keamanan kepada semua panitia keamanan yang ada diruangan ini..

“aku keluar dulu ya.. mau gabung panitia perlengkapan dulu..” ucap Dylan kepadaku lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu..

Rogi yang berdiri tidak jauh dari aku, langsung mengulurkan tangannya kepadaku.. aku lalu menyambut tangannya dan kubuat tumpuan untuk aku berdiri.. dan setelah aku berdiri tegak, tiba – tiba Rogi langsung memelukku..

“terimakasih ya ngger..” ucapnya dengan bibir yang bergetar sambil menepuk pundakku pelan..

“terimakasih untuk apa sih..?” tanyaku dan aku belum membalas pelukan Rogi..

“terimakasih kemarin kamu sudah datang menjemputku..” ucap Rogi dan dia mengucapkan dengan bibir yang masih bergetar.. terdengar dari nada bicaranya, Rogi seperti sedang menahan tangisnya..

“kita ini saudara gi.. jadi gak perlu kamu ucapkan kata – kata itu..” ucapku sambil membalas pelukannya dan menepuk punggungnya pelan..

“terserahlah kamu ngomong apa ngger.. yang jelas aku gak bisa membalas semuanya.. aku hanya bisa mengucapkan terimakasih..” ucap Rogi lagi..

“gi.. persaudaraan kita itu diatas segalanya.. jadi sudah ya.. jangan dibahas lagi..” ucapku menenangkan Rogi..

“woii.. jangan lama – lama kalian pelukannya.. nunggu sampai pejuh kalian keluar kah..?” ucap Dylan dari arah pintu ruangan keaman..

“hihihihihi..” terdengar tawa yang ditahan dari anggota keamanan yang ada diruangan ini..

“assuuu..” kami berduapun langsung melepaskan pelukan ini.. dan Rogi langsung tertunduk sambil kedua tangannya menyapu wajahnya..

Cuukkk.. kelihatannya Rogi nangis, tapi dia menyamarkannya dengan menunduk sambil tertawa pelan..

“hehehehe.. bangsat Dylan itu..” ucap Rogi lalu mengangkat wajahnya dan melihat kearahku.. dan matanya pun terlihat masih berkaca – kaca..

Akupun langsung tersenyum kepadanya dan Rogi langsung membalikkan tubuhnya.. tapi sebelum dia melangkahkan kakinya, Rogi menoleh kearahku lagi..

“Bulan duduk diluar dari tadi nnger.. kelihatannya dia gak tidur semalaman..” ucap Rogi kepadaku, lalu dia pun menoleh kearah pintu dan berjalan kearah Dylan yang menunggunya..

Cuukkk.. kenapa Rogi ngomong gitu ke aku sih..? emang dia ngelihat waktu aku dan Bulan saling mengulum tadi malam..? tapi kenapa juga Bulan duduk diluar..? ruangan ini masih banyak yang kosong kok.. dan kalau seandainya dia tidur diruangan ini, pasti gak ada satupun panitia keamanan yang berani ganggu dia..

Setelah Dylan dan Rogi keluar dari ruangan ini, Bulan pun masuk kedalam ruangan.. kedua tangannya dimasukkan kekantong jaket yang dikenakannya, dan rambut panjangnya terurai dipunggungnya.. wajah cantiknya pun seperti agak kelelahan, mungkin karena dia habis berpesta dan mungkin juga karena tidak tidur.. gilaaa.. kenapa sih nih anak..? tau gitu semalam aku mengajaknya tidur.. bukannya tidur berdampingan, tapi tidur diruangan ini dengan berjarak pastinya.. dan kalau aku yang mengajaknya, pasti dia tidak menolak.. guenndeng ancene og..

Bulan Mahardini Darmawan

Bulanpun langsung duduk diantara panitia keamanan, yang telah duduk dari tadi dan membuat lingkaran.. Bulanpun tidak menatapku sedikitpun.. setelah dia duduk, dia langsung menundukkan kepalanya..

Aku lalu melangkah kan kakiku dan duduk diseberang Bulan.. kemudian coordinator keamanan membuka brefing malam menjelang pagi ini.. dan setelah menjelaskan tentang rencana kegiatan pagi nanti, serta membagi tugas untuk seluruh panitia keamanan.. kami semua langsung bubar dan bersiap untuk penyambutan peserta orientasi..

Aku lalu keluar ruangan dan berdiri sambil menyandarkan punggungku didinding didekat pintu.. aku sengaja berdiri disini, menunggu Bulan keluar dari ruangan kemanan..

“kenapa ga tidur..?” tanyaku kepadanya, ketika Bulan telah muncul dari dalam ruangan..

Bulan langsung terkejut sambil melihat kearahku.. wajahnya pun terlihat memucat..

“tidur kok..” ucap Bulan lalu menunduk dan dia seperti agak takut, karena aku menatapnya dengan tajam..

“sekarang masuk lagi kedalam.. istirahatkan dulu tubuh dan pikiranmu.. nanti aku ngomong sama coordinator keamanan..” ucapku kepada Bulan dan aku tidak tersenyum sama sekali..

“ta.. tapi..” ucapnya terpotong karena aku langsung berjalan dan berdiri dihadapannya..

“kamu mau istirahat diruangan ini, atau aku antarkan kekosanmu.. dan kalau sudah kuantar kekosanmu, jangan harap kamu bisa datang kekampus selama berlangsungnya orientasi ini..” ucapku pelan tapi tegas..

“i.. iya..” ucap Bulan terbata lalu membalikkan tubuhnya..

Dan aku terus berdiri didepan ruangan ini untuk memastikan dia tidur atau tidak.. sementara Bulan terus berjalan kearah tempat yang aku tiduri tadi.. lalu setelah itu, Bulan merebahkan tubuhnya dengan tas pakaianku yang dijadikan bantal, untuk dia tidur.. dan dia tidur dengan posisi memiringkan tubuhnya..

Setelah beberapa saat kemudian, aku lalu membalikkan tubuhku dan mencari coordinator keamanan..

Setelah bertemu Coordinator keamanan dan meminta izin tentang Bulan yang sedang beristirahat, aku lalu berjalan keposisi yang telah ditentukan pada saat breafing tadi.. dan suasana dikampuspun masih gelap dengan hawa yang sangat dingin sekali..

“minum dulu ngger..” ucap seorang wanita yang datang dari arah belakangku.. suaranya sangat lembut sekali, selembut embun dipagi ini.. aku lalu membalikkan tubuhku dan melihat wanita yang berbicara tadi..

Airani Kamaliya Astami

Dan wanita itu adalah Rani.. dia berdiri dihadapanku sambil menyodorkan segelas minuman kepadaku.. wajahnya tampak cantik dan segar, dengan senyum yang mengembang dibibirnya..

“terimakasih Ran..” ucapku sambil mengambil minuman yang langsung terasa hangat ditanganku.. jemariku pun sempat menyentuh jari Rani.. dan ketika gelas ditanganku, Rani langsung melepaskan gelasnya..

Cuukkk.. kelihatannya dia gak mau bersentuhan dengan aku.. jiancuukkk.. gak mau bersentuhan tangan, tapi mau memelukku.. terserah kamu Ran.. terserah.. yang penting jangan bosan memeluk aku, ketika aku membutuhkannya.. kalau ditanya kapan saat aku membutuhkan pelukannya..? apa pada saat aku emosi atau aku sakit kepala aja..? enggak.. tapi setiap saat.. contohnya disaat sekarang yang hawanya dingin sekali ini..

Terus gimana cara pelukannya..? aku meletakkan gelasnya terus aku langsung memeluk tubuhnya gitu..? cuukkk.. iya kalau dia mau..? kalau dia langsung marah terus ilfil waktu ketemu aku lagi gimana..? guendeng ancene og..

Aku lalu menyeruput minuman hangat pemberian Rani ini sambil memandang wajah cantiknya.. cuukkk.. teh ini kok enak banget ya rasanya..? pasti ini dibuatnya dicampur sayang, diaduk dengan rindu dan disuguhkan dengan cinta.. apa gak nikmat kalau begitu..? guendeng ancene og..

“udah ya.. aku tinggal dulu..” ucap Rani lalu tersenyum kepadaku..

“gak bisa lebih lama lagi kah, aku menikmati manisnya teh ini.. sambil menikmati ciptaan sang pencipta, yang begitu indahnya dihadapanku ini..?” tanyaku sambil memandang wajah Rani..

Dan Rani hanya tersenyum lalu dia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan aku.. cuukkk.. singkat banget sih kalau ngobrol sama Rani ini..? ga bisa lama’an dikit gitu..? jahat banget sih penciptaku ini..

Akupun hanya bisa memandang bidadariku yang berjalan meninggalkan aku.. dan setelah dia sudah menghilang dari pandanganku, aku lalu membalikkan tubuhku lagi dan meminum teh hangat ini lagi..

Srruupppppp..

Uhhhhh.. nikmatnya.. hawa dingin begini, terus minumnya teh cinta.. kurang nikmat apalagi coba hidupku..? huuuu…

“hai ngger…” dan suara seorang wanita lagi yang mengejutkanku pagi ini.. aku pun langsung menoleh kearah sampingku..

Dinda Kamaliya Candrarini

Dan dia adalah Dinda Kamaliya Candrarini.. dia menyapaku dengan senyuman yang juga mengembang dibibir manisnya, seperti yang dilakukan kakaknya tadi.. Rani..

“hai din..” ucapku sambil memegang gelas teh hangat lalu aku menyeruputnya lagi.. setelah itu aku memandang lurus kedepan lagi..

“gimana lukamu..? masih perih ya..?” tanya Dinda sambil mendekatkan wajahnya kewajahku.. dan posisinya, Dinda berada disamping kananku..

“ga apa – apa.. cuman luka kecil aja kok..” ucapku tanpa melihat kearah wajah Dinda, sambil mengelus ujung bibirku yang lukanya sudah mulai mengering dengan tangan kiriku..

“luka ya luka ngger.. biar kecil juga luka namanya..” ucap Dinda dan wajahnya masih dekat dengan wajah sampingku..

“apasih Din.. biasa aja kali..” ucapku sambil meliriknya.. dan wajahnya pun tampak terlihat sangat khawatir..

“kamu itu ya.. sini aku obatin lagi..” ucap Dinda dan tanpa persetujuanku, Dinda mengeluarkan kapasnya lalu menetesi obat dan dioleskan ke bibirku..

Cuukkk.. kok jadi perhatian gini ya Dinda ini..? ada apa dengan Dinda..?

“udah ah din.. luka kecil aja ini..” ucapku sambil memiringkan wajahku kekiri menghindari sentuhan kapasnya..

“bisa diam ga..?” ucap Dinda dengan mata yang melotot..

Cuukkk.. cuukkk.. emang enak di gini’in..? kalau boleh jujur, ya memang enak sih.. tapi apa gak terlalu berlebihan..? ini hanya luka kecil loh, dibandingkan dengan luka hatiku yang perlahan mulai terbuka lagi.. tapi terserah Dinda ajalah.. aku malas terlalu memikirkan hal yang beginian, dan seperti ucapanku kemarin.. aku akan menikmati semua, apapun itu.. sakit, perih, nikmat, indah, cinta dan sayang.. semua akan aku nikmati dan aku jalani.. hasil akhirnya, kembali lagi kesemesta..

Dan sekarang.. aku hanya diam saja ketika Dinda melangkahkan kakinya kehadapanku, sambil terus mengobati luka dibibirku ini.. dan ini kedua kalinya aku menatap wajah Dinda dengan sangat dekat sekali.. awan yang sudah mulai menerangpun, semakin membuat wajah Dinda terlihat dengan jelasnya..

Bola mata yang bening dibalik kacamatanya, bibir tipis yang kemerahan, putih dan berserih kulit wajahnya, dan semua kecantikannya itu dibalut hijab hitam yang menutupi rambutnya.. cuukkk.. lama – lama aku bisa jatuh cinta juga, kalau seperti ini perlakuan Dinda ke aku.. apalagi dia membersihkan lukaku dengan sangat lembutnya..

Tidak terasa perih sama sekali dibibirku ini, ketika Dinda mengoleskan obatnya sedari tadi.. aku seakan terbius dengan kecantikan wajahnya.. cuuukkk.. jiancuukkk..

“jangan seperti ini terus ngger..” ucap Dinda yang mengejutkan aku, ketika aku menatap wajahnya.. dan dia telah selesai mengobati lukaku..

“maaf din.. maaf..” ucapku lalu aku menunduk.. apa Dinda marah ya aku menatap wajahnya..?

“jangan minta maaf kepadaku.. aku hanya mengingatkanmu saja.. permasalahan tidak akan selesai, kalau kamu menggunakan emosimu.. itu malah akan melukai dirimu sendiri..” ucap Dinda sambil meraba bibirku yang terluka..

Cuukkk.. maksudnya Dinda itu mengingatkan aku karena aku berkelahi ya..? aku kira tadi dia mengucapkan itu, karena aku menatap wajahnya.. gilaaa.. terus kenapa juga dia pakai acara meraba luka dibibirku ini..? rabaannya pun bukan hanya ditepi bibirku, tapi juga di tengah bibirku.. dan dia melakukannya sambil menatap wajahku.. jiancuukkk..

Tatapan matanya pun sangat dalam dibola mataku.. hawa yang dingin dipagi ini, semakin dingin karena tatapan mata Dinda.. gilaaaaa..

Dan entah karena terbawa suasana atau seperti apa, kami berdua diam dengan saling menatap.. aku pun memiringkan kepalaku kekanan secara perlahan, dan Dinda pun memiringkan kepalanya berlawanan arah dengan miringnya kepalaku.. lalu perlahan wajah kami mendekat dan tangan Dinda yang meraba bibirku diturunkannya..

Dekat.. dekat.. dan semakin mendekat.. bibir Dinda pun terbuka sedikit.. dan ketika bibir kami tinggal beberapa mili lagi bersentuhan, kami berdua saling memejamkan mata dan..

“tes.. tess.. selamat pagi semua panitia..” terdengar suara dari arah panggung dipinggir lapangan.. Dan suara itu pun langsung mengejutkan kami berdua..

“ehh..” ucap Dinda tersadar lalu memundurkan wajahnya begitu juga aku.. kami berdua langsung membuka kedua mata kami secara bersama – sama..

“kepada seluruh panitia, harap mempersiapkan diri diposisi masing – masing sesuai tugasnya.. karena sebentar lagi, peserta orientasi akan memasuki kampus.. terimakasih..” ucap suara itu lagi dari arah panggung..

“aku keruang kesehatan dulu ya ngger..” ucap Dinda dengan wajah yang bersemu kemerahan lalu menundukkan wajahnya..

“iya din..” jawabku singkat..

Dindapun langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan aku.. dan sepertinya dia sangat malu sekali.. cuukkk.. kenapa juga pakai acara malu..? terus kenapa tadi kami gak sempat saling mengecup ya..?

Buhhggg..

Aku langsung memukul kepala bagian samping kiriku.. cukup.. cukup.. ngapain mikir kecup – kecupan..? apa kurang kecupan dari Bulan semalam..? sekarang malah berharap dari Dinda.. kenapa ga sekalian aja berharap sama Rani, Kaila, atau Lia.. cuukkk.. S E R A K A H..

“pagi mas..” ucap seorang maba, peserta orientasi yang baru datang menyapaku..

“pagi.. langsung kelapangan ya..” ucapku sambil tersenyum dan menunjuk kearah lapangan.. setelah itu aku menyeruput lagi teh yang sudah mulai dingin ini..

Dan kami panitia diwajibkan tersenyum kepada seluruh peserta orientasi ini.. karena dikampus negeri ini, sudah tidak ada kekerasan lagi.. jangankan kekerasan, bentakan pun sudah dilarang..

Lalu satu persatu para maba itupun, mulai berdatangan dan berkumpul dilapangan.. aku yang kebagian berjaga dipertigaan jalan didalam kampus, mengarahkan para maba yang masih terus berdatangan..

Peserta orientasi tahun ini berjumlah ribuan.. dan ketika mereka semua sudah berkumpul dilapangan utama, suasana pun langsung ramai dan riuh seketika.. Lia dan Kaila yang kebagian panitia bagian acara, sudah berdiri diatas panggung dan menyapa para maba.. dan pagi yang cerah ini.. acara pertama dibuka sambutan singkat dari ketua panitia.. dan sebelum melakukan upacara pembukaan orientasi, seluruh peserta orientasi melakukan senam pagi..

Dengan lagu yang lagi ngehits tahun ini, semua maba pun bergoyang mengikuti gerakan yang dipandu lia dan Kaila.. semua maba tertawa dan bergembira di tengah lapangan sana..

“ngger.. kalau mau istirahat, istirahat aja dulu.. nanti gantian sama yang lain.. tapi jam tujuh kumpul lagi untuk upacara pembukaan..” ucap coordinator keamanan kepadaku.. aku lalu melihat jam tanganku.. jam enam pagi.. lumayan lah satu jam untuk mengecas Hpku, yang batrainya tinggal sedikit lagi tamat..

“ga apa – apa ditinggal mas..?” tanyaku..

“ga apa – apa.. santai aja ngger.. kita ini tiga hari loh dikampus.. kalau kita semua gak jaga kondisi, bisa roboh kita semua.. jadi istirahatnya digilir aja..” ucap coordinator keamanan..

“siap mas..” ucapku.. dan coordinator keamananpun langsung pergi meninggalkan aku..

Aku lalu berjalan ke ruang keamanan.. dan ketika aku sampai disana, beberapa orang panitia keamanan sudah ada yang datang lebih dulu dan mereka sedang beristirahat.. aku juga melihat Bulan tertidur diatas tasku dengan nyenyaknya..

Cuukkk.. gimana aku ambil casku yang ada didalam tas ya..? kasihan kalau membangunkan Bulan yang lagi tidur seperti ini.. dan posisi tidur Bulan masih menyamping seperti tadi.. akhirnya aku duduk dibelakang Bulan.. aku lalu menyandarkan punggungku di dinding, yang ada dibelakangku dengan kaki yang selonjor kedepan.. karena kondisi tubuhku yang masih lumayan letih dan hawa yang dingin dipagi ini, mataku pun mulai mengantuk lagi.. perlahan – lahan kedua mataku pun terpejam dengan posisi dudukku seperti ini..

Beberapa saat kemudian, aku merasa pahaku sedang tertindih sesuatu.. aku lalu membuka mataku dan melihat kearah pahaku.. dan disana, Bulan sedang tertidur dengan pahaku dijadikannya bantal.. dia tertidur menghadap kearahku..

Cuukkk.. sejak kapan Bulan pindah tidur diatas pahaku..? duhhh.. mana tidurnya nyenyak lagi.. akupun langsung menyandarkan kepalaku didinding dan mencoba memejamkan mataku lagi.. tapi matakupun tidak bisa diajak kompromi lagi.. aku sudah ga ngantuk lagi cuukkk.. sesekali aku membuka mataku dan melirik Bulan yang masih tidur terlelap.. dan perlahan aku mengangkat tangan kananku lalu menyentuh rambut Bulan yang indah itu dengan sangat pelan..

Cuukkk.. cantik Bulan ini.. cantik sekali.. hiuuffttttt.. kenapa aku harus ada disituasi seperti ini sih..? tadi tubuhku menghangat oleh teh dan senyuman dari Rani, lalu hatiku terbuai setelah mendapat perhatian dari Dinda.. dan sekarang, hatiku terpaku menatap Bulan tertidur dengan wajah cantiknya ini.. jiancuukkkk

Dan sekarang aku bukan hanya melirik wajah Bulan, tapi aku menatapnya dengan jelas sejelas – jelasnya wajah Bulan ini.. tangan kananku pun semakin berani membelai rambutnya.. dan sesekali aku menyelipkan rambutnya ketelinga kirinya..

Lalu tiba – tiba tangan kiri Bulan bergerak dan menggengam punggung tangan kananku yang membelai rambutnya.. lalu tanganku diarahkan di bibirnya.. dan..

CUUPPPP..

Sambil tetap memejamkan matanya, Bulan mengecup telapak tangan kananku.. dan rasanya.. serrrrrr.. kecupannya terasa sampai kedalam hatiku.. adem bangett.. guendeng ancene og..

“terimakasih..” gumam Bulan pelan sambil meletakkan tanganku dipipinya yang lembut dan dia tetap memegang punggung tangan kananku itu..

Jiancuukkk… mampus ga kamu ngger..? siapa suruh belai rambutnya.. sekarang dia merasa nyaman dan kamu juga mulai nyaman dengan Bulan.. terus gimana kalau sudah begini..? gimana juga dengan perasaan adekmu Gagah nanti..? cuukkk.. cuukkk..

“buka aja resletingmu ngger.. wajahnya kan dengan sama ‘peliharaanmu’.. pasti enak pagi – pagi gini dikulum sama bibir tipis betina itu.. hehehehehe..” ucap Pakde Jago yang duduk dimeja depan ruangan ini..

“cuukkk.. ngeres banget sih pikiran Pakde ini..?” ucapku menggerutu..

“bukan ngeres.. tapi memanfaatkan situasi ngger.. lagian pejuhmu kan belum pernah keluar di mulut betina..? jangankan dimulut betina, ditangan betina aja gak pernah.. apalagi ‘dibetinanya’ betina.. hahahahaha..” ucap Pakde Jago lalu tertawa dengan kerasnya..

“cukkkk..” makiku..

“ayolah ngger.. kasih hiburan lah buat pasukan coli yang membaca ceritamu ini.. kasihan mereka itu.. semakin lama cara mereka coli itu, makin menyedihkan aja..” ucap Pakde Jago merayuku..

“makin menyedihkan.? maksudnya..?” tanyaku..

“karena sudah lama gak ada adegan seksnya dicerita ini, mereka sekarang mainnya sama botol obat tetes mata.. kan menyedihkan banget kalau gitu.. hahahahahaha..” ucap Pakde Jago lalu tertawa lagi dengan kerasnya..

“emang semini itu ya punya meraka Pakde..? sampai mereka colinya pakai botol obat tetes mata.. kan kecil banget lubangnya itu..?” tanyaku dengan herannya..

“ssstttt.. jangan dipertegas ngger, nanti kamu ikutan dibully.. biarkan aku aja yang mereka bully, dengan cinta mereka yang terpendam kepadaku.. hahahahahahaha..” ucap Pakde Jago lalu tertawa lagi..

“jiancuukkkk.. hehehehehe..” ucapku lalu tersenyum..

“sudah jangan senyam – senyum aja kamu itu.. cepat buka resletingmu.. pasti betina itu, dengan senang hati mengulum ‘peliharaanmu’ itu..” ucap Pakde Jago yang kembali merayuku..

“bukain nah Pakde..” ucapku sambil memainkan kedua alis mataku..

“matamuuuu..” ucap Pakde Jago sambil bibirnya dimajukan..

“Pakde kalau ngerayu itu jangan tanggung – tanggung.. sekalian lah dibukain resletingnya celanaku ini..” ucapku lagi..

“nggilani cuukkkk…” ucap Pakde Jago lalu berdiri..

“mau kemana Pakde..?” tanyaku..

“mau pulang..” ucap Pakde jago sambil melangkahkan kakinya..

“mau cari obat tetes mata ya..?” ejekku..

“matamu..” ucap Pakde Jago sambil berlalu pergi..

“hehehehehehe..” dan aku hanya tersenyum saja..

Dan suara beberapa orang yang melangkah, langsung membangunkan aku dari tidurku.. cuukkk.. bisa juga aku tertidur.. dan Bulan pun sudah tidak tidur dipahaku lagi.. dia rupanya sudah terbangun dan entah kemana dia sekarang.. aku lalu melihat jam tanganku.. jam tujuh.. akupun langsung menegakkan tubuhku dan pergi kekamar mandi untuk cuci muka.. gila.. jadi waktu bangun jam empat tadi, aku ga cuci muka ya..? jorok banget sih..

Dan setelah dari kamar mandi, aku pun langsung ke lapangan utama untuk mengikuti upacara pembukaan orientasi dikampus negeri ini..

Pov Orang Ketiga

Sehari sebelum orientasi dikampus teknik kita.. dua orang sedang berbicara dengan santai..

“ga asyik kalau didalam orientasi itu ada yang dianak emaskan..” ucap orang pertama lalu dia menghisap rokoknya..

“ga ada yang di anak emaskan.. semua sama..” jawab orang kedua lalu dia meminum minuman dari botol gepeng yang ada ditangannya..

“ga mungkin.. pasti pada pelaksanan orientasi besok, kalian akan menjaga salah satu anak yang ada dikosan kalian itu, sampai orientasi selesai.. iyakan..? apa anak itu terlalu lemah, sampai harus kalian yang menjaga dan kalau dia berbuat salah, harus dari kalian sendiri yang menghukumnya..?” tanya orang pertama..

“kami bukan menjaga dia.. tapi kami menjaga semua panitia termasuk kelompokmu, dari anak itu..” jawab orang kedua dengan santainya..

“ucapanmu terlalu angkuh.. emang seberapa kuat dia..? kalau cuma mata hitam yang diandalkan anak itu.. aku bisa menumbangkannya..” ucap orang pertama..

“hehe..” orang kedua tersenyum dengan sinisnya sambil menggelengkan kepalanya..

“jadi setelah sekian lama kamu menghilang dari kampus ini, kamu mau datang hanya untuk bicara itu aja..?” tanya orang kedua setelah dia tersenyum dengan sinisnya tadi..

“enggak cuman itu.. tapi ada hal lain yang aku mau untuk orientasi ini..” ucapan orang pertama dengan singkatnya..

“apa sebenarnya maumu..? ga usah basa basi.. langsung aja..” ucap orang kedua dengan tegasnya..

“mauku gak banyak sih.. hanya dua saja..” ucap orang pertama sambil menatap orang kedua..

“yang pertama.. tidak ada perlakuan istimewa untuk seluruh panitia atau peserta.. semua harus sama.. kalau peserta yang satu diinjak kepalanya, peserta yang lain juga harus diinjak kepalanya juga.. kalau panitia yang satu menghukum, biarkan dia menghukum tanpa yang lain ikut campur..” ucap orang pertama lalu dia menghisap rokoknya lagi..

“yang kedua.. tidak dominasi dikelompok manapun dalam orientasi ini.. semua sama..” lanjut orang pertama..

“apa aku harus ngikutin kemauanmu ini..? untuk apa..” tanya orang kedua..

“untuk mengembalikan kejayaan kampus teknik kita yang sudah mulai memudar beberapa tahun ini.. kelompokmu kelihatannya sudah gak bertaji diluar sana.. jadi biarkan semua panitia mendidik calon – calon bajingan itu, dengan caranya masing – masing.. tidak ada yang dibedakan atau yang membedakan.. dan saranku kekamu.. ikuti saja permainan ini.. atau acara orientasi tahun ini bubar dan perang besar terjadi..” ucap orang pertama itu lalu dia pergi meninggalkan orang kedua dengan santainya..

“silahkan mainkan permainanmu, semoga kamu gak terbantai dengan permainanmu sendiri..” ucap orang kedua.. orang pertama pun langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah orang kedua.. orang kedua langsung melanjutkan minumnya.. setelah itu dia langsung meninggalkan orang pertama tadi dengan cueknya..

Pov Gagah

Anjingg.. pagi – pagi buta gini sudah bangun terus mandi lagi.. apa ga mengkerut nih bijiku..? mana sudah lama ga dikeluarin lagi isinya.. bangsat.. semoga aja isinya ga membatu.. hiuuffttttt..

Dan setelah mandi serta memakai segala perlengkapanku.. akupun langsung keluar kamar.. gilaaaa.. diruang tengah ini, hawanya makin terasa lebih dingin lagi.. sudah dingin, kepala juga gundul.. apa ga beku nih otakku.. anjing.. anjing..

Aku lalu membakar rokokku dan menghisapnya untuk sangu dijalan.. setelah itu aku lalu membuka pintu kosan dan diluar kosan sudah ada tiga orang yang menantiku.. mereka adalah Baco, Amir dan Jumbo..

“loh kalian kok disini..?” tanyaku..

“bareng aja kita masuk kampusnya gah..” ucap Amir lalu membakar rokoknya..

“kamu bawa rokok mir..?” tanyaku..

“bawa sebatang ini aja lah.. gila aja kalau bawa sebungkus.. bisa digilir aku sama panitia keamanan..” jawab amir lalu dia menghisap rokoknya..

“ohhh.. kirain bawa sebungkus..” ucapku kepada Amir lalu aku melihat kearah Jumbo dan Baco..

“kalian berdua kok diam aja..?” tanyaku..

“dingin njing..” jawab Baco sambil melipatkan kedua tangannya didada..

“join rokoknya gah..” ucap Jumbo kepadaku..

“bangsatt.. ada dikamarku kalau mau rokok..” ucapku ke Jumbo..

“ga sempat gah.. dah jam berapa ini..? join aja sudah..” ucap Jumbo..

“kamu sudah gosok gigi kan tadi..?” tanyaku lalu aku menghisap rokokku dan kuserahkan ke Jumbo..

“aku hisapnya pakai bibir njing, ga pakai gigi..” ucap Jumbo mengomel sambil mengambil rokok ditanganku..

“kalau kena gigi, uang kembali ya..” sahut Amir sambil memainkan kedua alisnya..

“mulutmu mir..” ucap Jumbo lalu menghisap rokokku dalam – dalam..

“hehehehe..” dan Amir hanya tertawa..

“join mir..” ucap Baco ke Amir..

“taik ini.. tadi kamu gak mau kusuruh bawa.. kenapa sekarang ikut – ikutan join..” ucap Amir sambil menyerahkan rokoknya ke Baco..

“cerewet kamu itu..” ucap Baco sambil mengambil rokok ditangan Amir lalu menghisapnya..

“ayo bro…” ajak beberapa maba yang lewat didepan kami..

“duluan aja..” ucapku lalu tersenyum..

“oke..” jawab maba yang lain sambil tersenyum dan mereka terus berjalan kearah luar gang..

“eh.. kelihatannya panitianya ngeri – ngeri loh gah..” ucap Amir kepadaku..

“ngeri gimana..?” tanyaku..

“tadi waktu kita masuk kegang ini aja, langsung dibentakin.. kami disuruh masuk kedalam kampus..” sahut Baco lalu dia menghisap rokoknya lagi..

“terus kenapa kalian ga masuk kedalam kampus..?” tanyaku lagi..

“kami bilang aja, mau ke pondok merah..” sahut Jumbo..

“terus..?” tanyaku..

“mereka diam aja..” sahut Amir..

“ooo.. sudah banyak belum maba yang datang dikampus tadi..?” tanyaku lagi..

“lumayan..” jawab Baco lalu kembali menikmati rokok yang ada ditangannya..

“anak dua ini kayak anjing loh.. katanya join, tapi dari tadi rokok kita dihisapnya terus gah..” ucap Amir kepadaku sambil melirik kearah Baco dan Jumbo..

“hehehehe..” Baco hanya tertawa sambil menyerahkan rokoknya ke Amir..

“bangsatt.. kami ngisap rokok kok sampai basah gini sih filternya co..?” ucap Amir sambil memencet filter rokoknya..

“bonus itu mir.. jarang – jarang kamu kena liurku.. hehehehehe..” ucap Baco lalu tertawa..

“bisa rabies aku..” ucap Amir lalu menghisap rokoknya itu..

“hahahaha.. gimana..? enak rasa bibirku..?” tanya Baco..

“juhhhhh..” Amir meludah dengan jengkelnya..

“anjiiing..” maki Baco..

“mbo.. kok kamu habisin rokokku..?” ucapku ke Jumbo..

“loh kamu mau rokokkan lagi gah..?” ucap Jumbo dengan wajah polosnya..

“mulutmu mbo..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“ya udah nih..” ucap Jumbo sambil menyerahkan rokokku yang sedikit lagi kena filternya..

“terus apanya yang kuhisap..?” tanyaku..

“hehehehehe..” dan Jumbo tertawa lalu menghisap rokokku lagi..

“kasih belalaimu aja udah mbo.. kasihan Gagah mau hisap rokok lagi itu..” ucap Baco..

“maukah gah..?” tanya Jumbo sambil membuang rokokku..

“buka sudah.. tapi kubakar dulu kepalanya..” ucapku dengan jengkelnya..

“hehehehe..” dan Jumbo hanya tertawa saja..

“berangkat kekampus yo..” ucap Amir sambil membuang rokoknya..

“yo..” sahut Baco dan Jumbo..

“eh entar dulu.. ngomong – ngmong.. kepalamu semua kok kayak pentol korek sih..?” ucapku sambil melihat kepala pelontos sahabatku ini..

“ngaca njing.. ngaca..” ucap mereka bertiga dengan kompaknya..

“hahahahaha..” dan akupun tertawa saja melihat wajah lucu mereka bertiga..

“pakai dulu perlengkapannya sebelum jalan..” ucap Amir lalu dia memakai ember yang cukup untuk ukuran kepalanya..

Anjingg.. aneh – aneh aja ini panitia.. sudah kepala digundul, kami juga disuruh memakai topi dari ember plastic.. terus dikasih tali lagi.. emang ada sumur didalam kampus sana..? apa gunanya ember dikepala ini..? untuk menampung keringat dari kepala pelontos kami..? bangsaattt..

Untuk warna ember yang dipakai pun berbeda.. yang laki – laki memakai ember berwarna merah, dengan tali rapiah berwarna biru.. sedangkan yang perempuan, ember berwarna biru dan tali rapiah berwarna merah..

Dan itu belum cukup.. kami juga harus memakai papan nama didada, terus ditambah tas yang terbuat dari karung beras dua puluh lima kilo.. bangsaaatt.. model apa sudah kalau begini.. anjing – anjing..

“ganteng betul kamu mir.. hehehehe..” ucap Baco sambil mengenakan ember dikepalanya..

“kalau aku makai apa aja tetap ganteng co.. kalau kamu itu loh.. sudah jelek pakai topi ember.. otomatis jelekmu dua kali lipat..?” ucap Amir dengan cueknya, sambil merapikan papan nama didadanya..

“anjing..” ucap Baco..

“sudah – sudah.. ayo berangkat..” ucapku..

“emberku ga cukup lagi..” ucap Jumbo sambil memasang ember yang hanya sampai dikepala atasnya aja..

“makanya beli tandon..” ucap Amir dengan cueknya..

“mulutmu mir.. mulutmu..” ucap Jumbo dengan jengkelnya..

“hihihi..” dan kami semua langsung tertawa sambil berjalan kearah luar gang menuju kampus..

Dan ketika kami sampai didepan gang..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

Didepan pagar kampus, beberapa maba tergeletak setelah dihajar oleh panitia yang berjaga.. bangsaattt.. ini orientasi masuk kuliah atau orientasi masuk penjara sih..? gilaaa.. enak banget ya mereka pukul para maba..? lagian salah apa sih para maba itu, sampai mereka dihajar seperti itu..? baajingaannn..

Kami berempatpun langsung berpandangan.. dan aku langsung menganggukan kepalaku kepada para sahabatku ini.. aku menenangkan mereka yang terlihat sangat terkejut, dengan sambutan orientasi di pagi buta ini..

“WOIII.. KAMU BEREMPAT.. KESINI..!!!!” teriak salah satu panitia keamanan kepada kami dan aku tidak mengenal orang itu..
Kami berempatpun langsung melangkahkan kaki menuju keorang yang berteriak itu.. aku sempat melihat kebagian ujung pagar kampus.. Om Panji, Mas Agam, Pace Beni dan Mas Gibran tampak berdiri disana melihat kearah kami berempat..

Dan..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

Empat orang berlari kearah kami, sambil mengarahkan injakan keperut kami.. dan panitia yang paling besar badannya, berlari kearah Jumbo.. dan

BUMMMM.. BUMMMM.. BUMMMM..

Baco, Amir dan Jumbo langsung roboh kebelakang, karena kerasnya injakan panitia itu.. sedangkan aku sempat menahan dengan kaki kananku kebelakang, sehingga aku tidak roboh.. bangsaatttt.. sakit juga injakan orang ini.. anjinggg..

“CEPAT BANGUN KALIANNN..” teriak para panitia keamanan kepada ketiga sahabatku.. ketiga sahabatku pun langsung menegakkan tubuh mereka, sambil merintih dan mengelus perut mereka.. dan ember yang dikenakan dikepala mereka tidak ada yang terlepas, karena tertahan tali didagu mereka..

Lalu masing – masing penyerang kami pun, berdiri dihadapan kami..

“kuat juga ya kamu..” ucap panitia yang ada dihadapanku dan dia menatapku dengan dinginnya.. bangsaattt.. kedua tanganku pun langsung terkepal dan ingin menghantam biji matanya.. tapi aku teringat pesan Om Panji dihari itu, untuk mengikuti orientasi ini dengan baik dan tidak melawan panitia.. aku lalu melirik Om Panji yang tidak jauh dari tempatku berdiri.. Om Panji hanya menatapku sambil menghisap rokoknya.. oke.. oke.. aku akan ikuti semua proses orientasi ini dengan menjadi anak yang baik.. tapi sekali saja mereka semua bertindak diluar batas.. aku gak akan segan membantai mereka, siapapun itu..

“WOIII.. ADA LAGI YANG DATANG..!!!” teriak salah satu panitia kepada keempat orang yang berdiri dihadapan kami ini..

Lalu orang yang berdiri dihadapanku dan orang yang berdiri dihadapan jumbo, langsung berlari kearah orang maba yang baru datang itu dan..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

Orang yang menginjak perutku tadi, mengjinjak maba itu dibagian perutnya juga.. sedangkan yang bertubuh besar sekali yang menginjak perut Jumbo tadi, menginjak dada maba itu.. dan maba itu langsung memundurkan kaki kanannya, untuk dijadikan tumpuan sama seperti aku tadi.. dan maba itu tetap berdiri dengan tegaknya.. gilaaaa.. kuat juga maba itu.. Jumbo aja sampai jatuh terkena satu injakan, dia malah berdiri tegak dengan dua injakan ditubuhnya.. anjing.. anjing..

Luar biasa sekali maba itu.. siapa dia ya..? pandanganku kewajah maba itupun, terhalang oleh kedua panitia yang menginjaknya tadi.. anjing.. penasaran banget aku sama maba itu.. kok bisa sekuat itu ya..?

“kamu nantang saya..?” tanya panitia yang menginjakku tadi, sambil mendorong dada maba itu..

“sudah.. sudah.. suruh masuk semua.. kalau mau dilanjut, didalam aja..” ucap Om Panji kepada panitia itu, dan kedua panitia itu langsung memundurkan langkahnya… cuukkk.. maksudnya Om Panji ini apa..? pembantaiannya dilanjutkan didalam gitu..? gila.. ini gila sekali loh.. bangsattt..

Dan aku langsung bisa melihat wajah maba itu dengan jelasnya.. seorang pemuda tampan dengan wajah kebulean, berdiri dengan tegaknya dan wajahnya tampak santai sekali setelah menerima dua injakan tadi.. gilaaaa.. Mas Karel..? dia Mas Karel..? Mas Karel daftar kuliah dikampus teknik kita juga..? dulu katanya dia mau kuliah di ibukota propinsi, kok sekarang malah dikampus teknik kita..? kenapa Mas Karel gak kasih kabar ke aku sih..? terus kos dimana dia..? kenapa gak dipondok merah aja..?:

Mas Karel itu sepupuku.. nama lengkapnya Karel Van Gerrit.. umur kami ga begitu jauh sebenarnya.. tapi aku memanggilnya Mas.. begitu juga Mas Angger yang usianya diatas Mas Karel, juga memanggil Mas ke Mas Karel.. kenapa bisa begitu..? karena Mas Karel menang tua dia Ayah.. Ayah Mas Karel itu, kakak sepupu Bundaku.. nama ayah Mas Karel, Rendi Van Gerrit..

Gila nih Mas Karel.. asli.. ternyata dia makin kuat aja.. dan dia itu sepupu yang paling dekat denganku.. waktu aku main kekota Mas Karel beberapa tahun yang lalu, kami berdua pernah berduet.. berduet membantai musuh Mas Karel yang sering mangkal tidak jauh dari sekolah Mas Karel.. katanya preman itu sering memalak anak – anak SMK sekolah Mas Karel.. dan terjadilah hari itu, dua anak remaja membantai lima orang preman kawasan itu.. hehehehehehe..

Kembali lagi ke orientasi.. dan setelah dua orang panitia itu mundur dan bergabung dengan semua teman – temannya panitia keamanan..

“kamu gabung sama empat orang itu, terus masuk kedalam..” ucap Om Panji ke Mas Karel.. setelah itu Om Panji langsung membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam kampus bersama Mas Agam, Pace Beni dan Mas Gibran..

Mas Karel pun langsung berjalan kearahku dengan tatapan santainya.. setelah itu dia berdiri disampingku.. tidak ada salaman diantara kami berdua ataupun tegur sapa.. kami hanya berdiri berdampingan sambil menatap lurus kearah pagar..

“kalian berlima, pasti akan bertemu dengan saya lagi..” ucap orang yang menginjakku tadi lalu tersenyum dengan bengisnya..

“suruh masuk mereka..” ucap orang itu lagi kepada teman – temannya..

Lalu pagar kampuspun dibuka, dan kami berlima masuk dengan dikawal beberapa panitia keamanan dibelakang kami..

“kenapa ga ngelawan aja tadi Mas..?” tanyaku dengan suara yang pelan ke Mas Karel yang berjalan di sampingku.. sementara Baco, Amir dan Jumbo, berjalan dibelakang kami berdua..

“belum waktunya De..” ucap Mas Karel dan Mas Karel ini memanggilku dengan sebutan Dede..

“kapan..?” tanyaku.. dan Mas Karel hanya tersenyum sambil memainkan kedua alisnya..

“hehehe.. gak sabar aku Mas..” ucapku dan Mas Karel langsung mengarahkan kepalan tangan kanannya kearahku, dan aku langsung menyambutnya dengan tinjuan pelan kearah kepalan tangan Mas Karel.. ini adalah cara tos diantara kami berdua sejak dulu..

Dan ketika sampai dilapangan.. semua maba sudah berbaris menurut kelompoknya masing – masing.. sedangkan maba yang membuat kesalahan, barisnya dipisah.. kami berlimapun disuruh masuk kedalam barisan yang membuat kesalahan..

Anjingg.. salah kami apasih..? kok sampai kami dipisahkan seperti ini..? kami juga gak telat kok.. kenapa juga didepan sana disambut dengan injakan.. bangsaattt.. bangsaattt..

Dan diatas panggung Mas Barry dari pondok merah, berdiri dengan wajah yang sangat garang sekali.. Mas Barry ini yang menjadi coordinator keamanan..

“saya hanya berpesan kepada kalian semua maba – maba yang mengikuti orientasi.. ikuti dan taati peraturan yang telah ditentukan panitia, dan jangan berulah seperti mereka.. atau kalian akan berurusan dengan kami..?” ucap Mas Barry sambil menunjuk kearah barisan kelompok kami..

Anjingg.. emang kesalahan kami apa..? kok Mas barry menunjuk barisan kami seperti itu..?

“kalian mau lihat kalau sudah berurusan dengan kami itu seperti apa..?” tanya Mas Barry sambil melihat kearah barisan kelompok yang ditengah lapangan..

“kepada seluruh panitia keamanan.. beri mereka pelajaran..” ucap Mas Barry lalu melihat kearah barisan kami..

Semua keamanan yang ada dipinggir lapangan langsung melihat kearah kami dengan bengisnya.. dan diantara mereka ada beberapa penghuni pondok merah.. Mas Bagas, Mas Eric, Mas Ian, Mas Simon, Bang Badai dan Mas kenzie.. sedangkan Om Panji, Pace Beni, Mas Agam dan Mas Gibran, hanya melihat dari kejauhan..

“BANGSAAATTT..” teriak orang yang menendangku tadi dan dia berlari kearah kami diikuti panitia keamanan yang lain.. dan..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

Puluhan panitia keamanan, menyerang barisan kami yang berjumlah puluhan maba juga..

BUUMMMM.. BUUMMMM.. BUUMMMM.. BUUMMMM.. BUUMMMM.. BUUMMMM..

Satu persatu maba yang dibarisan ini pun roboh dan kesakitan.. Gila.. brutal sekali mereka menyerang kami.. mereka menendang, memukul dan menginjak semua maba yang ada dibarisan ini tanpa pandang bulu..

Dan ketika giliranku, orang yang menginjak ku didepan pagar tadi.. langsung mengarahkan injakannya didadaku dan dilanjut dengan kepalan tangannya diwajahku..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

Bangsatt.. belum pernah aku dihajar seperti ini dan aku pasrah tidak melawan sama sekali..

BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG.. BUHHHGGG..

Dia terus menghajarku dengan membabi buta.. dan setelah wajahku terluka dan berdarah.. dia langsung menghentikan serangannya sambil menatapku dengan wajah yang sangat mengejek sekali.. anjingggg..

Kedua tanganku pun langsung terkepal, dan Mas Karel yang ada dibelakang orang itu pun langsung menggelengkan kepalanya kearahku.. bangsaattt.. dan wajah Mas Karel pun tampak berdarah – darah.. tapi dia tetap tersenyum sambil menatapku seperti menahanku untuk tidak membalas serangan ini.. bajingaannnn..

“cukupp.. sekarang keamanan, kembali lagi ketempatnya..” ucap Mas Barry dengan suara yang serak dan seperti menahan emosinya..

“kamu akan ketemu aku lagi..” ucap orang yang memukulku itu, lalu dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan aku..

Bangsat manusia satu ini.. aku punya salah apa sama dia..? kok dia dendam banget sama aku..? dia sengaja mau cari masalah sama aku..? tunggu ya.. tunggu aja pembalasanku.. anjing..

Dan aku langsung melihat sekeliling barisanku ini.. semua maba yang katanya membuat kesalahan ini tampak bergelatakan sambil merintih kesakitan, termasuk ketiga sahabatku.. Baco, Amir dan Jumbo.. hanya aku dan Mas Karel saja yang masih berdiri dengan tegaknya.. bajingaannn..

Dan tadi ketika panitia keamanan menyerang kami, teman – teman pondok merah tidak ada satupun yang menyentuhku, ketiga sahabatku atapun Mas Karel.. mereka menyerang maba lain yang memang melakukan kesalahan.. yang dihajar teman – teman pondok merah, rata – rata maba yang tidak menggundul rambutnya dan tidak memakai perlengkapan sesuai peraturan yang ada..

Dan emosiku yang naik ini pun, belum juga mereda.. aku masih tidak terima dengan perlakuan panitia keamanan, yang menghajarku dan ketiga sahabatku serta Mas Karel.. dan itu tanpa kami ketahui kesalahan kami.. kan bangsat banget kalau gitu..

Satu persatu maba yang tergelatak ini pun, langsung bangun dan berdiri sambil mengelus bagian tubuhnya yang sakit.. sedangkan maba yang tidak bisa bangun, langsung diangkut oleh panitia bagian kesehatan..

“Dede..” panggil Mas Karel kepadaku lalu tangannya terkepal kearahku.. akupun langsung meninju kepalan tangan Mas Karel sambil membersihkan darah yang mengalir dibibirku..

“sekarang kalian masuk kedalam barisan masing – masing..” perintah Mas Barry kepada seluruh maba yang ada dibarisan ini..

“dan sekali lagi saya tegaskan.. jangan buat kesalahan, atau kami akan menghukum kalian dengan cara kampus teknik kita.. selamat malam..” ucap Mas Barry sambil mengakhiri sambutannya lalu membalikkkan tubuhnya dan turun dari panggung..

Kami semuapun langsung berjalan kearah kelompok kami masing – masing.. dan Mas Karel berjalan disampingku lagi..

“Mas Panji sudah bicara semua denganku tentang orientasi ini de.. dan aku sangat menghormati Mas Panji serta teman – teman dari pondok merah.. makanya aku gak melawan..” ucap Mas Karel sambil membersihkan darah yang menetes dari pelipisnya..

“Om Panji juga sempat bicara sama aku Mas.. tapi apa kita selamanya diam seperti ini..?” tanyaku ke Mas Karel..

“gak selamanya.. cuman empat hari kok de.. ada waktunya kita membalas mereka yang sudah bertindak kelewatan terhadap kita..” ucap Mas Karel dengan santainya sambil menepuk pundakku..

Oke mas.. oke.. dan aku sudah gak sabar untuk pembalasan itu.. dan setelah sampai dibarisan kelompok lima, aku dan Mas Karel langsung melakukan tos lagi.. setelah itu Mas Karel memisahkan diri dan bergabung dengan kelompok lima.. anjingg.. kok kemarin aku ga lihat Mas Karel disini ya..? dasar manusia misterius tuh orang..

“siapa dia gah..?” tanya Baco dengan bibir yang mengelurkan darah..

“iya gah.. siapa dia..? kok kuat betul dia..? waktu didepan tadi aku diinjak sama satu orang aja jatuh, kok dia enggak..? dua orang lagi yang injak.. terus sekarang cuman kamu sama dia aja yang berdiri.. kami semua tumbang..” ucap Jumbo..

“kakak sepupuku..” jawabku singkat..

“anjingg.. kok keluargamu gila – gila gitu gah..? komandan pondok merah, Om mu.. sekarang maba yang kelihatannya bajingan itu, kakak sepupumu.. emang semua keluargamu bajingan kah dipulau ini gah..?” tanya Amir..

“engga juga..” jawabku singkat..

“anjing.. jawabanmu itu bikin gatal lubang pantatku aja..” gerutu Amir..

“kalau gatal.. suruh garuk Jumbo aja..” ucapku..

“bangsat.. sempat sempatnya kamu bully aku, padahal kondisinya begini..” maki Jumbo kepadaku dengan mata yang membiru dan hidung yang mengeluarkan darah..

Dan aku sengaja mengajak bercanda sahabatku ini, karena mereka terlihat marah dengan penyambutan yang sangat membangsatkan ini..

Dan ketika kami sudah sampai dikelompok tujuh.. seorang wanita dengan jaket panitia orientasi, menyambut kami dengan wajah yang terlihat marah sekali.. tapi dibalik matanya yang terlihat marah itu, dia seperti mengasihani kami..

Clara Jasmeen Salsabila

“jangan dilawan kalau dia ngomel ya njing..” ucap Baco kepadaku dengan suara yang pelan.. dan sekarang giliran Baco yang nenangin aku..

“iya.. kontrol mulutmu itu njing..” sahut Jumbo..

“kalau aku sih terserah Gagah aja.. mau jawab apakah kalau diomelin.. masih panas kepalaku ini.. pagi – pagi sudah sarapan injakan sama pukulan..” ucap Amir kepadaku..

“jangan dipanasin bangsat..” gumam Baco ke Amir..

Dan aku hanya diam mendengar kicauan ketiga sahabatku ini.. aku terus melangkah kedepan barisan.. sementara Baco, Amir dan Jumbo langsung masuk ke barisan..

“kenapa terlambat..?” tanya Yunda Clara dengan juteknya sambil melihat wajahku yang masih berdarah – darah ini..

“kan kumpulnya jam lima Yunda.. masih kurang lima belas menit lagi loh..” jawabku dan kubuat sesantai mungkin..

“jam mu sama jam panitia itu beda.. jangan disamakan..” ucap Yunda Clara dengan mata yang melotot..

“emang panitia pakai waktu bagian mana..?” tanyaku dengan cueknya..

“waktu bagian kampus teknik kita.. P A H A M..” ucap Yunda Clara dengan juteknya..

“yang wajar – wajar ajalah kalau buat aturan..” ucapku sambil melihat kearah yang lain..

“kamu kira kami panitia membuat aturan gak wajar..? kamu kira dengan semua tugas dan perlengkapan yang kalian persiapkan ini, itu gak wajar..? kamu kira datang dipagi buta seperti ini, dan hitungan waktu antara kalian dan panitia berbeda itu gak wajar..?” ucap Yunda Clara sambil menatapku dengan emosinya..

“semua ini akan kamu rasakan ketika akan berkuliah nanti.. kamu akan merasakan bagaimana mengerjakan tugas yang begitu rumitnya, kamu akan merasakan dikejar waktu untuk menyelesaikan semua tugas kuliah, dan kamu akan merasakan bagaimana menunggu waktu untuk sekedar berkonsultasi dengan dosen ataupun asisten dosen.. dan masih banyak hal lagi yang akan kamu rasakan, setelah berkuliah nanti..” ucap Yunda clara dan masih dengan wajah yang emosi..

“termasuk injakan perut sama pukulan diwajah..? apa nanti itu ada juga ketika kuliah..?” tanyaku sambil menatap wajah Yunda clara..

“jangan suka mengeluh anak manja.. ini kampus teknik kita..” ucap Yunda Clara sambil mendekatkan wajahnya kearahku dengan tatapan mata yang tajam.. dan terlihat matanya sedikit berkaca – kaca..

Anjingg.. siapa yang ngeluh sih..? aku itu cuman menyampaikan unek – unek dikepalaku aja.. emang salah ya ucapanku ini..? terus enak banget dia manggil aku dengan sebutan anak manja.. bajingaannn..

Lalu datang seorang wanita yang juga berpakaian panitia orientasi, dibelakang Yunda Clara dan langsung mengelus punggung Yunda Clara..

Nirmala Allisya Maheswari

“Ra..” ucap Yunda Mala dengan lembutnya sambil terus mengelus punggung Yunda Clara.. ya wanita itu Yunda Mala.. dia menegur Yunda Clara sambil menatapku dengan lembutnya dan dia memejamkan matanya sejenak kearahku.. Yunda Mala seperti menyuruhku untuk tenang dan tidak melanjutkan perdebatan ini..

“tap la..” ucap Yunda Clara sambil menoleh kerah Yunda Mala.. dan Yunda Mala hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap mata Yunda Clara..

“ihhh..” ucap Yunda Clara dengan jengkelnya sambil menundukkan kepalanya.. Yunda Mala pun kembali menatapku sambil menggelengkan kepalanya pelan..

Oke Yunda.. oke.. aku gak akan melanjutkan perdebatan ini, walaupun masih ada yang mengganjal dihatiku..

“kita bicara sebentar ya Ra..” ucap Yunda Mala ke Yunda Clara.. dan mereka pun ke pinggir lapangan dengan wajah yang sangat serius sekali..

Aku lalu membalikkan tubuhku dan menatap semua teman – teman kelompokku.. mereka semua hanya diam dan ada juga yang menunduk.. terlihat dari wajah beberapa orang yang aku tatap, wajah mereka tampak memucat.. mungkin mereka syok dengan sambutan yang keras di pagi ini..

“bro dan sist.. santai aja.. gak usah takut dengan kondisi ini.. kita ikuti orientasi ini seusai dengan aturan mereka..” ucapku sambil melihat satu persatu teman kelompokku.. dan semua langsung mengangkat wajahnya kearahku..

“keberanian itu bukan hanya ditentukan oleh kerasnya kepalan tangan.. dan ketakutan itu biasanya berlindung pada sebuah aturan.. jadi mari kita buktikan, siapa sih sebenarnya yang takut.. kita atau mereka yang mengepalkan tangannya kearah kita..” ucapku dengan tenangnya.. dan wajah mereka semuapun, langsung tersenyum sambil menganggukan kepalanya masing – masing..

Anjingg.. oke.. oke.. aku akan ikuti semua kegiatan orientasi ini sampai selesai.. tapi sekali lagi aku tegaskan, kalau mereka bertindak diluar kewajaran.. kepalan tanganku ini sendiri yang akan menumbangkan mereka.. bangsattt..

Dan setelah bebearpa saat kemudian, kami semua langsung sarapan pagi dengan bekal yang kami bawa.. dan setelah sarapan, acara dilanjutkan dengan yel – yel dan lagu – lagu tentang orientasi.. setelah itu kami semua mengikuti upara pembukaan orientasi kampus teknik kita..

#cuukkk.. orientasi telah dibuka dan kesabaran kami akan diuji.. apa kami bisa melalui ujian kesabaran kali ini..? entahlah.. tapi kedua kepalan tanganku ini masih bergetar.. kepalan tangan ini sudah tidak sabar, untuk menumbangkan bajingan – bajingan yang sudah seenaknya sendiri, memperlakukan kami dengan berlindung pada sebuah aturan.. dan itu aturan yang sangat membangsatkan.. salam kepalan tangan.. SALAM KENTAL..!!!

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler