. MATAHARI Part 24 | Kisah Malam

MATAHARI Part 24

2
304

MATAHARI Part 24

KISAH YANG BARU

Pov Angger

Gilaa.. kenapa aku sekarang bisa seperti ini sih..? kenapa aku ga bisa mengendalikan emosiku dan menghajar empat seniorku tadi..? ada apa dengan diriku..? setelah hatiku membeku, aku merasa darahku seperti memanas dan bawaannya ingin dilampiaskan saja.. salah satu caranya ya dengan membantai orang – orang yang membuat ulah denganku.. jiancuukkk.. kenapa bisa begini sih..?

Dan seperti biasa.. setelah membantai seniorku tadi dengan emosi yang menyala, kepalaku pun seperti mau pecah saja.. aku merasa otakku menegang dan mau meledak didalam kepalaku ini.. gilaaa.. kenapa sakit dikepalaku ini sekarang lebih sering datang, dibandingkan dulu waktu dipulau seberang ya..? dulu ketika aku memikirkan sesuatu yang berat, sakit kepalaku baru akan datang.. itupun ga terlalu sakit.. tapi kalau sekarang.. memikirkan hal yang kecil saja, terus ditambah sedikit emosi.. sakitnya sangat luar biasa sekali..

Apa aku perlu memeriksakan kedokter syaraf ya kepalaku ini..? kayaknya ga perlu deh.. seperti anak manja aja, sedikit – sedikit kedokter.. mungkin ini hanya proses agar aku bisa mengendalikan emosi dan pikiran aja.. kalau aku bisa mengendalikannya, rasa sakit ini mungkin tidak akan datang lagi..

Dan ada lagi yang jadi pertanyaan.. siapa yang mengantarkan minuman kekosan dan diserahkan ke Dylan untuk aku minum, ketika aku selesai menghantamkan kepalaku ke tembok..? apa tujuannya..? memang sih ketika selesai aku meminum minuman itu, bawaannya adem dan tenang dikepala.. apa itu sejenis ramuan..? tapi ramuan apa..? ahh.. jiancuukklaaah.. semakin banyak pertanyaan dikepala, nanti aku pusing lagi dan membenturkan kepalaku ketembok.. gilaaa.. semoga aja otakku ini ga geser.. guendeeng ancene og..

Dan setelah kepergian Badai tadi, akupun masuk kedalam kamar untuk beristirahat sejenak.. gila juga anak itu.. dia terlihat sangat khawatir sama aku, ketika aku sedang kesakitan seperti tadi pagi.. dia terlihat sangat panik waktu dikampusku tadi, sampai mau mengantarkan aku kerumah sakit.. menyesal juga aku membentaknya waktu dikampus tadi.. tapi kenapa dia sekhawatir itu ya..? apa dia suka sama aku..? hahahahaha.. jiancuukkk.. ga mungkinlah, dia dan aku kan normal.. hahahahaha.. cuukkk..

KRINGG.. KRINGG.. KRINGG..

Suara Hpku pun berbunyi dan aku langsung melihat kearah Hpku.. Ayah.. ternyata Ayah yang menelponku..akupun langsung mengangkat Hpku..

“Halo yahhh..” ucapku dengan senangnya..

“Halo.. gimana kabar anak Ayah ini..?” jawab Ayahku yang juga terdengar sangat senang sekali

“baik yah.. gimana kabar Ayah, Bunda sama Adek – Adek disana..?”

“luar biasa baik nak disini..”

“syukurlah yah.. hehehehe..”

“Mas..” ucap Ayahku terpotong..

“ya yah.. ada apa..? sepertinya ada sesuatu yang serius..”

“beneran Mas baik – baik aja..?” tanya ayahku dan sekarang suara beliau sedikit serius..

“iya yah.. emang ada apa sih..? kok Ayah khawatir sekali..?”

“bukan Ayah yang khawatir, tapi Bunda nak..” terdengar suara Bunda menyahut..

“Bundaaaaaa..” ucapku yang sangat senang sekali mendengar suara beliau yang sangat merdu itu..

“Mas.. Mas.. video call aja ya..” ucap Ayahku memotong..

“iya yah.. video call aja..” ucapku.. lalu aku mensetting Hpku menjadi video call..

“kok gelap yah..?” tanyaku..

“sabar.. ini baru mau dinyalain cameranya..:” sahut Ayahku..

“dinyalain..? emang kompor dinyalain yah..?” ucapku bercanda..

“oooo.. berani ngeledek ya sekarang..” ucap Ayahku.. lalu wajah Ayah dan Bunda disebelah Ayah, langsung terpampang dilayar HPku.. tampak Bunda sedang duduk dan merangkul leher Ayah dan kepala Bunda menggelendot dipundak Ayah..

“Bunda kenapa ngerangkul Ayah..? bikin Angger kangen dipeluk Bunda aja lohhh..” ucapku dengan manjanya dan tidak menghiraukan ucapan Ayah tadi..

“siapa suruh kuliah disana..? coba kuliah dikota ini aja.. pasti setiap hari Bunda peluk… weee…” ucap Bunda lalu memeletkan lidahnya dengan sangat manja.. uhhhhh.. jadi makin cantik aja Bunda kalau begitu.apalagi ketika mengucapkan itu, Bunda makin menggelendot dengan manjanya dipundak Ayah..

“Bunda kok gitu sih..?” ucapku dengan menampakkan wajah yang sedih..

“sudah ga usah disedih – sedihin gitu wajahnya.. sekarang jawab pertanyaan Bunda.. Mas beneran baik – baik aja..?” ucap Bundaku dan sekarang beliau menampakkan wajah yang serius, sambil menegakkan tubuh beliau dan melepaskan rangkulannya dileher Ayah..

“beneran Bun.. Angger baik – baik aja..” ucapku..

“beneran..?” ucap Bunda sambil memajukan wajahnya kelayar Hp dan Ayahku disebelahnya Bunda, hanya menatapku dengan santainya..

Bunda kok nanya nya seperti ini sih..? apa Bunda tau kalau kepalaku habis sakit..? duhhh.. kalau aku jujur kepalaku baru saja sakit luar biasa sampai aku membenturkan kepalaku ke tembok, Bunda pasti sedih dan pasti aku disuruh pulang kepulau seberang dan melanjutkan kuliah disana..

Waahhhh janganlah.. ada sesuatu hal yang harus kita sampaikan dan ada juga yang harus disembunyikan.. bukannya tidak jujur, tapi kalau untuk kebaikan bersama.. kenapa tidak..? aku tidak ingin Ayah dan Bunda kepikiran tentang kondisiku disini..

“iya Bun..” ucapku yang kubuat setenang mungkin..

“Baiklah Mas.. Bunda tidak akan memaksa Mas untuk bercerita.. tapi Bunda hanya berpesan.. saat Mas Angger merasakan kebahagiaan, Bunda tidak akan meminta Mas Anger untuk membagi kebahagiaan itu.. tapi disaat Mas Angger terluka, Bunda akan membuka kedua tangan ini untuk menyambut semua sakit dan lukanya Mas Angger.. Bunda akan memeluk dan menyembuhkan semua sakitmu, dengan kasih sayang dan pelukan Bunda nak..” ucap Bunda sambil merentangkan kedua tangannya kearahku sebentar, lalu meluruskan tangannya dan menegakkan lagi duduknya..

Maksud Bunda ini apa ya..? ini tentang sakitnya kepalaku atau sakitnya hatiku..? tapi kelihatannya Bunda merasakan keduanya sekaligus.. Bunda tau kalau kepalaku sakit dan Bunda juga tau kalau hatiku sedang sakit.. Dan perkataan Bunda itu langsung menusuk jantungku sampai tembus kepunggungku.. dadaku sesak dan air mata ini seakan mau tumpah membasahi pipiku..

Iya Bunda.. iya.. anakmu ini sedang sakit dan terluka.. anakmu ini butuh pelukan dan belaian hangat dari tangan lembutmu itu.. anakmu ini kangen tidur diatas pahamu dan kepala ini kangen akan belaian tanganmu sampai bisa tertidur pulas, dan melepas semua penat yang ada..

Maafkan anakmu ini Bun.. maafkan anakmu yang rapuh ini.. anakmu ini tidak mengingatmu ketika bahagia datang dan menari – nari dihati.. tapi ketika sedih seperti ini, dengan jancookknya anak ini malah mengingatmu dan ingin memelukmu.. bajingaannn sekali anakmu ini Bun..

“Mas.. sepintar apapun Mas Angger menyembunyikan sesuatu dari Bunda, tidak akan bisa nak.. Bunda pasti akan tau semunya, tanpa Mas Angger mengatakannya.. hati nya semua anak – anak Bunda itu ada disini nak (Bunda mengatakan itu sambil memegang dadanya, dan Ayah langsung langsung membelai rambut Bunda dengan lembutnya..) ketika hati anak – anak Bunda ada yang sakit, menangis dan bersedih.. jantung Bunda ini terasa berhenti berdetak dan hati Bunda pasti terasa seperti disayat..” ucap Bunda dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca.. dan Ayahku terus membelai rambut Bunda..

“Bunda bukan ingin membuatmu lemah dengan ucapan Bunda nak.. bukan itu tujuan Bunda.. justru Bunda ingin memperlihatkan kepadamu nak.. karena ketika Bunda sudah meneteskan air mata, laki – laki disebelah Bunda ini yang menguatkan Hati Bunda.. apa Mas Angger gak mau menjadi laki – laki yang menguatkan hati Bunda atau menguatkan hati pasangan Mas Angger kelak, seperti laki – laki disebelah Bunda ini..? ” ucap Bunda dan aku langsung menunduk sejenak..

Gilaaaaa.. Bunda selalu memberikan aku contoh bagaimana menjadi orang yang kuat dengan bantuan cinta.. cinta Bunda ke Ayah, begitu juga sebaliknya.. cinta Ayah ke Bunda.. dan cinta mereka kepada anak – anaknya.. cinta ini yang membuat keluarga kami menjadi sangat kuat dan saling melindungi..

Tapi kenapa ketika aku jauh dari keluargaku, aku jadi lemah karena cinta..? ada apa denganku..? kenapa aku harus sakit karena Lia, Kaila, Bulan, Kak Dana atau Mungkin dengan Clara.. kenapa hatiku bisa sesakit ini..? jiancookkk..

“Mas.. jangan pernah menyalahkan orang lain atas sakit dan kesedihanmu.. karena kebahagian itu berasal dari dalam hatimu.. ingat nak.. selalu ada alasan dengan apapun yang terjadi dengan dirimu.. semesta melakukan ini, supaya Mas menjadi kuat dan tangguh..”

“jadi ketika Mas sudah melakukan kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai pembelajaran hidup ini nak…. jangan pernah larut dalam kesedihan dan kesakitan hatimu.. ingatlah.. disini ada cinta yang selalu menguatkan dirimu.. dan sekarang tersenyumlah.. karena senyummu adalah hidup kami..” ucap Bunda lalu menyandarkan kepala beliau dipundak Ayahku lagi..

Cuukkk.. dan mendengar ucapan Bunda itu, hatiku seperti dibasuh dengan air pegunungan yang dingin dan menyejukkan.. air yang dibasuhkan kehatiku itupun sampai meluber naik keotakku dan mendinginkan kepalaku, sampai sisanya mau keluar lewat kedua kelopak mataku ini.. jiancookkk..

“hei.. hei.. anak Ayah ini mau nangis..” ucap Ayahku sambil tetap membelai rambut Bunda..

“engga yah..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku lalu aku menundukan kepalaku lagi..

“boleh Angger minta sesuatu..?” tanyaku sambil mengangkat wajahku..

“apa nak..?” jawab Ayahku..

“tolong kecupkan kening wanita disebelah Ayah itu.. dan tolong sampaikan.. laki – laki ini akan kuat berkat cintanya..” ucapku dengan bibir yang bergetar sambil menepuk dadaku.. Ayah dan Bunda langsung tersenyum mendengar ucapanku..

“Angger tau nak.. cuma laki – laki sejati yang bisa mengecup kening wanita hebat disebelah Ayah ini..” ucap Ayahku lalu..

CUUPPP..

Ayah mengecup lembut kening Bunda dan Bunda memejamkan matanya, menikmati kecupan laki – laki sejati itu.. jiancookkkk..

Dan setelah itu pun Bunda langsung menegakkan duduknya lalu menatapku..

“Bunda tinggal ya nak.. Bunda mau arisan dulu..” ucap Bunda kepadaku..

“iya Bun.. terimakasih atas semua cinta Bunda kepada Angger ya..” ucapku..

“Bunda akan terus memberi cinta ini kepada Mas Angger, Ayah dan semua anak – anak Bunda.. asalkan.. tidak ada lagi masalah yang diselesaikan dengan cara membenturkan kepalanya sendiri ketembok.. apapun alasannya..” ucap Bunda lalu berdiri dan meninggalkan aku yang terbengong dengan ucapan Bunda itu..

Dan Ayah hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum..

“dengarin kata Bunda itu nak..”

“kerasnya kepala Mas Angger, memang lebih keras dari keras kepala Mas Angger.. tapi bukan berarti tembok yang gak tau apa – apa yang dijadikan pelampiasan..”

“kendalikan hatimu, maka kamu akan bisa mengendalikan pikiranmu.. kerasnya kepalan tangan, memang bisa mengurangi masalah.. tapi kerasnya pikiran, bisa menuntaskan masalah..”

“emosi boleh, tapi harus tetap dikendalikan hati dan pikiranmu..” ucap Ayahku lalu tersenyum kepadaku..

“iya yah..” ucapku pelan..

“sudahlah.. jangan bersedih lagi nak.. ingatlah.. matahari itu ga selamanya tertutup mendung.. ada waktunya hujan turun, ada waktunya matahari bersinar dengan terang dan mengeringkan air hujan itu..” ucap Ayahku dan aku langsung tersenyum mendengar ucapan Ayah itu..

“oh iya nak.. Dede sudah berangkat loh tadi..” ucap Ayahku mengalihkan pembicaraan..

“loh.. katanya minggu depan yah..?” ucap terkejut..

“kelihatannya sudah kangen dia.. hehehehehe..” ucap Ayahku lalu tertawa..

“sama siapa yah..?” tanyaku..

“pura – pura gak tau lagi Mas Angger ini..” ucap Ayahku sambil menatapku dengan tatapan yang sangat santai..

“hehehehehe..” dan aku hanya tertawa sambil menggaruk kepalaku..

“Mas.. Dede itu anaknya memang lebih santai dalam menghadapi segala sesuatu.. Mas Angger pasti taulah Dede seperti apa.. tapi kalau sudah ‘liarnya’ keluar, itu yang sangat luar biasa.. Ayah harap, Mas bisa mengendalikannya..” ucap Ayahku dan sekarang ucapannya agak serius..

“semoga yah..” ucapku sambil menganggukan kepalaku pelan..

“oh iya, Ayah belikan Dede sepeda motor sport baru loh..”

“oh iya..? dipaketkan atau Ayah belikan disini..?”

“sudah Ayah paketkan beberapa hari yang lalu kerumah Paklek Gani.. nanti sepeda motor itu diantar kebandara, terus Dede bawa langsung kekota pendidikan..”

“wihhh.. mantap dong kalau gitu dong yah..” ucapku lalu tersenyum..

“Mas Anger gak mau sepeda motor yang baru juga..?” tanya Ayahku..

“engga yah.. mexinya masih mantap.. hehehehe..” ucapku

“beneran..? ducati scrambler bagus loh nak..” ucap Ayah menawari aku sepeda motor yang baru juga..

“engga yah..” ucapku menolak..

“ducati monster 1200 R.. lebih mantap nak..” ucap Ayah menawari sepeda motor yang lain..

“engga yah..” ucapku menolak lagi..

“atau ducati panigale R.. itu sepeda motor sport juga loh..” ucap Ayahku menawarkan sepeda motor yang harganya sampai M M man..

“enggak yah.. mexinya masih seksi kok.. hehehehehe..” ucapku lalu tertawa..

“hahahahaha.. iya sudah.. kalau mas berubah pikiran, kabari Ayah..” ucap Ayahku..

“siap yah.. oh iya.. Dede Gagah kos sama Angger kan..?” tanyaku..

“engga Mas.. kelihatannya Dede mau kos dipondok merah..”

“oh gitu.. ya udah kalau gitu yah.. Angger mau kepondok merah dulu, mau kasih tau Mas Panji kalau Dede kos disana..”

“oke.. hati – hati ya nak..”

“iya yah..”

“ingat.. kendalikan hati dan pikiran..”

“siap yah..” ucapku dan Ayah langsung tersenyum dan aku langsung mematikan Hpku..

Akupun langsung mengganti pakaian dan bersiap kepondok merah.. huuu.. gilaaa.. adem banget rasanya kepala ini, setelah mendengar wejangan dari Bunda dan Ayah tadi.. kepalaku pun terasa ringan sekali..

Dan setelah mengganti pakaian, aku pun langsung kepondok merah menggunakan mexiku tersayang.. oh iya, memang Dede Gagah dibelikan sepeda motor sport apasih..? sampai Ayah merayuku untuk mengganti mexi tersayangku ini.. gila aja aku mau selingkuh dari mexi ini.. walaupun dengan sepeda motor yang harganya M M man sekalipun, aku ga akan mengganti mexiku ini.. aku sudah terlanjur sayang sama mexi ini.. dia cinta pertamaku yang tidak akan terganti.. hehehehehe.. guendeng ancene og..

Dan setelah sampai didepan kos pondok merah, aura suasana yang mistis langsung terasa.. gilaaaa.. ada apa lagi ini..? kenapa bisa suasananya seperti ini ya..? ini baru diluar kosan loh ya.. apa terjadi sesuatu didalam sana..

BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG..

Aku mendengar suara baku hantam dari dalam kosan.. gilaaa siapa lagi yang baku hantam itu..? apa jangan – jangan.. Dede Gagah.. aku pun langsung memarkirkan mexi didepan pondok merah dan aku langsung masuk kedalam ruang tengah pondok merah..

Bajingan.. bener saja.. itu Dede Gagah sama Haris yang berduel.. dan ketika aku berdiri didepan pintu kosan.. aku melihat Haris mengangkat tubuh Dede Gagah dan melemparkannya kedinding..

BUHHGGGG..

BUUMMMMM..

Tubuh Dede Gagah membentur ke dinding dengan kerasnya, lalu tubuhnya jatuh menghantam lantai dan Dede Gagah tidak bergerak lagi dengan posisi tertelungkup serta wajah mencium lantai.. darahnyapun langsung menggenang disekitar wajah Dede Gagah dan aku langsung terdiam dengan emosi yang perlahan mulai naik kekepala..

“BAJINGAAANNNN..” aku mendengar suara Badai berteriak dengan kerasnya..

Emosi didalam diriku pun langsung terbakar.. tubuhku memanas dan darahku mendidih.. pandanganku menghitam lalu meredup, memerah langsung meredup, menghijau dan meredup juga.. bangsaaattt.. dan kedua tanganku pun langsung terkepal melihat Dede Gagah tertelungkup dengan bersimbah darah.. bangsaaattt.. aku harus membalasnya.. aku harus membantai Haris hari ini juga.. jianccoooookkk..

Dan ketika aku akan maju untuk menyerang Haris.. tiba – tiba saja tubuhku menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan.. bangsaattt.. kenapa dengan tubuhku ini..? apa ini pertanda emosiku memuncak dan sakit kepalaku datang lagi..? jangan datang dulu.. biarkan aku membantai Haris dulu.. setelah itu, datanglah walau sesakit apapun itu..

Jiwa ini terasa lebih sakit ketika melihat adekku dibantai seperti itu.. bukan otakku lagi, tapi jiwaku yang tersiksa.. bangsaattt..

Lalu tiba – tiba, pandanganku memutih dan aku tidak bisa melihat apapun selain warna putih saja.. akupun langsung memejamkan kedua mataku sambil menunduk..

“hey ngger..” terdengar suara seorang wanita memanggilku dan aku langsung membuka mataku sambil mengangkat wajahku..

“Ma.. Mayang..” ucapku dengan terbata ketika melihat Mayang Gadis berdiri dihadapanku.. dan juga aku melihat sekelilingku.. gilaaa.. sekarang aku ada dipinggiran sungai diantara desa jati luhur dan jati bening..

“hem..” ucap Mayang singkat sambil tersenyum kepadaku..

“kenapa aku ada disini Mayang..? kenapa..? harusnya aku dikos pondok merah dan harusnya aku membantai Haris, karena dia menumbangkan Dede Gagah..” ucapku dengan emosi yang tertahan..

“kenapa kamu harus melindungi Dede ngger..?” tanya Mayang sambil memiringkan kepalanya, dan melebarkan kedua bola matanya itu..

“kenapa..? dia adekku Mayang.. aku pasti akan melindunginya sampai nyawa ini terlepas dari raga ini Mayang..” ucapku dengan bibir yang bergetar… lalu..

DUUUAAARRRRR..

Terdengar suara petir menyambar dengan suara yang sangat keras sekali..

“terus kalau nyawamu telah pergi meninggalkan ragamu, apa kamu masih bisa melindungi Dede atau keluargamu yang lain ketika ada masalah..?” ucap Mayang sambil menegakkan kepalanya dan terus menatapku..

“itu urusan nanti Mayang.. yang jelas, biarkan sekarang aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang kakak yang melindungi adeknya..” ucapku dengan kedua tangan yang terkepal..

“dan Adekmu akan menjadi lemah lalu dia bergantung pada dirimu..? kamu mau adekmu menjadi seorang pecundang yang hanya bisa meratapi kekalahannya, dan tidak bisa berdiri dikakinya sendiri..? apa kamu mau dia menjadi seperti dirimu, yang setelah emosi lalu membenturkan kepalanya ditembok dan ga bisa berbuat apa – apa..? itu mau mu..? ” ucap Mayang dengan dinginnya..

“MAYANGGG..” ucapku dengan emosinya dan pandanganku pun langsung memerah seperti darah..

“kenapa ngger..? ada yang salah ya dengan ucapanku..? kamu aja laki – laki lemah, mau menjadi kakak yang sok kuat melindungi adeknya..” ucap Mayang lagi dan itu makin mebuat emosiku terbakar..

“AAAARGGHHHHH..” teriakku dengan pandangan yang sekarang berubah menjadi hitam pekat dan berbayang.. darahku benar – benar mendidih kali ini.. bajingaaaaannnn..

“kamu ga akan selamanya seperti ini ngger.. sebagai seorang kakak, harusnya kamu bisa memilah.. dimana kamu harus bertindak dan dimana kamu harus membiarkan adekmu untuk bangkit lalu melawan musuhnya sendiri, tanpa bantuanmu..” ucap Mayang yang tiba – tiba matanya bersinar berwarna hijau..

Dadaku pun langsung bergetar dan emosiku perlahan mereda melihat tatapan mata Mayang yang menghijau itu.. gilaaaa.. kenapa bisa aku seperti ini..? kenapa emosiku bisa perlahan mereda hanya dengan tatapan mata Mayang..? dan emosi yang memuncak dan sudah mulai menurun ini, tidak membuat kepalaku sakit sedikitpun.. kenapa bisa seperti ini..? apa karena ini halusinasiku..?

“kamu harus menjadi seorang yang bijaksana ngger.. kuasai emosimu dan biarkan juga Dede Gagah menguasai emosinya.. aku tau kamu ingin menjadi kakak yang melindungi adek – adekmu dan keluargamu.. tapi biarkan juga Dede Gagah menemukan jati dirinya sendiri dan membantumu untuk melindungi keluargamu..”

“ingat ngger.. walaupun kamu mempunyai kekuatan yang luar biasa, tapi kamu ga akan bisa menghadapi kerasnya dunia ini sendirian.. jadi biarkan saudara – saudaramu membantumu dan mulai sekarang, biarkan mereka menemukan kekuatannya sendiri..” ucap Mayang dengan matanya tetap menghijau.. dan emosiku sekarang benar – benar mereda.. gilaaaa..

“ada waktunya kamu menggunakan kekuatanmu dan ada waktunya kamu menyimpannya.. tapi yang terpenting, kamu harus menguasai dirimu dulu dan mengontrol yang ada didalam dirimu..” ucap Mayang lalu dia membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan aku..

“Mayang.. maksudnya apa ini semua..?” ucapku bertanya kepada Mayang yang terus berjalan tanpa menoleh kearahku..

“MAYANGG..” teriakku dan..

BUUMMMM..

Sebuah cahaya putih menghantam wajahku dan membuatku langsung terpejam sambil menundukkan wajahku..

Aku lalu mengangkat wajahku lagi sambil membuka mataku.. dan dihadapanku sekarang ini, Dede Gagah berdiri sambil mengangkat wajahnya pelan dengan wajah yang dipenuhi darah.. lalu aku melihat mata Dede Gagah yang berubah menjadi hitam pekat dan menyeramkan.. bajingaaannn.. mengerikan sekali tatapan Dede Gagah itu.. itu lebih mengerikan dari tatapan Mas Panji, Haris, Faris, Bulan dan Lia yang punya mata hitam.. dan itu juga lebih mengerikan dari tatapan Purnama dan Badai yang memiliki mata merah..

Siapa yang merasuki Dede Gagah ini, sampai dia berubah menyeramkan seperti itu..?

“kuasai emosimu dan biarkan juga Dede Gagah menguasai emosinya..” tiba – tiba suara Mayang Gadis menggema dikepalaku..

Aku pun akhirnya membiarkan kondisi ini terus berjalan.dan suasana yang lebih menyeramkan dan lebih kental aura mistisnya, menyelimuti ruangan tengah pondok merah ini.. suasana pun menjadi tegang dan sangat sunyi sekali..

“kamu mau tau salam kental itu seperti apa..?” ucap Dede Gagah dengan suara yang terdengar sangat menyeramkan dan menakutkan.. dan suara itu langsung membuat suasana makin menegangkan dan mengerikan..

“ka.. kamu..” ucap Haris yang terbata dan terlihat seperti ketakutan.. Dede Gagahpun hanya tersenyum dengan wajah yang siap untuk menerkam Haris.. lalu..

BUUMMMM..

Dengan menggunakan gerakan capoeira yang dipelajari waktu di pulau seberang, Dede Gagah menghajar Haris tanpa ampun.. dia menari – nari seperti seperti malaikat pencabut nyawa, yang bergembira menemukan korbannya.. tariannya dan pukulannya pun sangat indah sekali.. dan tatapan mata Dede Gagah yang menghitam pekat itu, seperti mengatakan.. darah dibalas darah.. jianccuukkk..

Dan dengan begitu brutalnya.. Dede Gagah menghajar dan menumbangkan Haris, sampai wajah Haris dipenuhi dengan darah.. cukup.. cukup.. aku harus menghentikan Dede Gagah, atau nyawa Haris akan melayang..

Dan ketika Hariss sudah terlentang dilantai dan Dede gagah akan menginjak wajahnya..

“De..” ucapku dengan pelan namun tegas.. dan ketika aku mengucapkan itu, pandangan mataku berubah menjadi hijau lalu meredup.. menghijau lagi lalu meredup..

Dedepun langsung melihat kearahku dan kaki kanannya terhenti ketika akan menyentuh wajah Haris..

Lalu kaki kanan itu diturunkan dilantai dan Dede Gagah langsung menunduk.. dan ketika Dede Gagah tadi menatapku sebentar, aku melihat wajahnya sangat terkejut.. akupun langsung mendatangi Dede Gagah yang masih menunduk.. dan aku baru menyadari, kalau ada Faris yang berdiri tidak jauh dari aku dan melihat adeknya dibantai oleh Dede Gagah..

Dan aku tidak menghiraukan si Faris itu.. aku terus melangkah mendekati Dede Gagah yang masih terus menunduk.. dan ketika aku sudah berdiri dihadapannya, Dede Gagah membuka kaosnya lalu melemparkannya dan..

“AAARRGGGGGGHHHHHHHHH..” Dede Gagah berteriak dengan sangat kerasnya.. dia seperti sedang mengeluarkan sisa – sisa emosi yang ada didalam tubuhnya..

Lalu Dede Gagah manarik nafasnya dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan.. setelah itu dia mengangkat wajahnya yang penuh darah itu dan menatapku.. gilaaaa.. belum pernah aku melihat wajah adekku babak belur seperti ini.. aku sangat kasihan sekali.. tapi apa daya, ucapan Mayang tadi pun seperti menyadarkan aku.. aku harus membiarkan adekku ini untuk menemukan jati dirinya dan menguasai emosinya sendiri lalu menumbangkan musuhnya..

Dan tatapan mata Dede Gagahpun sekarang telah berubah menjadi normal dan tidak menghitam seperti tadi.. aku menatap wajahnya serta tato keluarga jati didadanya yang terkena darah.. aku menarik nafasku pelan lalu aku memeluk adekku untuk lebih menenangkan dirinya yang masih terlihat sedikit emosi..

Aku memeluknya sangat erat sekali dan Dede Gagah pun langsung membalas pelukanku.. tubuhnya yang bergetar dan memanas, perlahan mulai mereda dan suhu tubuhnya mulai mendingin..

“slowly aja De.. slowly..” ucapku sambil menepuk pungungnya pelan, untuk terus menenangkan dirinya yang masih kebingungan dengan semua ini..

“ada apa denganku Mas..” ucap Dede Gagah dengan bibir yang bergetar..

“ada apa..? ada Gagah Irawan Sandi lah.. hehehehe..” ucapku sambil tersenyum dan melepaskan pelukanku.. aku lalu memandang wajah adekku itu..

“Mas..” ucapnya dengan bibir yang bergetar..

“sudahlah.. slowly aja De..” ucapku sambil merangkulnya dan mengajaknya berjalan kearah tempat duduk Mas Panji..

Dan aku menghentikan langkahku sejenak lalu melihat kearah Haris yang tergeletak dengan wajah yang dipenuhi darah, lalu aku melihat kearah Faris

“bro.. bawa saudaramu itu pergi dari sini, atau giliran kita yang berduel..” ucapku sambil menatap wajah Faris yang berdiri mematung itu..

Setelah itu aku mengajak Dede Gagah berjalan lagi dan kami berdua langsung duduk didekat Mas Panji yang asyik dengan isapan rokoknya.. sementara penghuni pondok merah yang lain, masih berdiri dan menatap kami dengan sangat herannya

“dia siapa ngger..?” tanya Badai kepadaku..

“ohh.. ini adekku dai.. Gagah Irawan Sandi..” ucap ku dengan santainya..

“bajingannn.. kok dia beda sama kamu..? adekmu merokok, tattoan dan suka minum.. kamu kok enggak..?” tanya Badai sambil melirik kearah Dede..

Akupun langsung melihat kearah Dede.. sebenarnya aku tau kalau dia habis minum, karena ketika aku memeluknya tadi.. selain bau darah, dari mulutnya juga tercium aroma alcohol..

“jadi kamu baru datang sehari dikota ini, sudah mabuk dan berkelahi..” ucap ku sambil menjewer pelan telinganya.. aku sengaja melakukan itu untuk mencairkan suasana yang tegang ini dan ingin ‘menghukum’ ringan adekku..

“aw.. Mas.. Mas.. ampun Mass…” ucap Dede sambil menahan tanganku yang menjewer telinganya.. sebenarnya bisa saja Dede melepaskan jeweranku ini, tapi kelihatannya dia takut denganku.. hehehehe.. dan wajah adekku ini, sudah terlihat tidak setegang tadi dan berganti dengan wajah yang memelas..

“kamu itu ya De..” ucap ku pura – pura melotot sambil tetap menjewernya..

“ampun Mas.. ampun..” ucap Dede Gagah memohon dengan melasnya..

“sudah ngger.. namanya juga anak muda..” Sahut Mas Panji..

“kok sampean bela Dede sih mas..?” ucapku sambil melepaskan jeweranku ditelinga Dede..

“entar dulu.. aku masih bingung dengan sifat kalian yang bertolak belakang itu..” ucap Badai sambil duduk dan membakar rokoknya..

“sudah Bang.. cukup.. jangan Abang panasi lagi Mas Angger.. nanti aku dijewer lagi..” ucap Dede dan dia memanggil Badai dengan sebutan Bang.. waw.. kenapa Dede Gagah memanggil Badai dengan sebutan Bang..? biasanya dia memanggil yang lebih tua dengan sebutan Mas.. tapi kenapa dengan Badai tidak..? apa Dede Gagah juga merasakan seperti aku, ketika pertama kali bertemu dengan Badai dan langsung memiliki ikatan Batin juga..? ah sudahlah…

“kalian berdua memang aneh..” ucap Badai itu sambil menggelengkan kepalanya..

“Mas Panji.. ada kapas sama obat merah ga..?” tanyaku ke Mas Panji dan tidak menghiraukan ucapan Badai..

“buat apa..?” tanya Mas Panji..

Cuukkk.. pertanyaan yang aneh.. ga jelas nih Mas Panji..

“obat merahnya buat campurin minuman kalian, terus kapasnya buat nyumpal mulutnya Dede biar ga minum lagi..” ucapku sambil mengeluarkan permenku dan membukanya lalu mengemutnya..

“asssuuu..” maki Mas Panji kepadaku.. hehehe.. bisa juga Mas Panji ini memaki ya..?

“habis sampean pertanyaannya gitu.. ya dibuat ngobatin lukanya Dede lah..” ucapku sambil melihat kearah wajah Dede Gagah yang masih mengeluarkan darah..

Dan Dede Gagah langsung berdiri dari tempat duduknya..

“mau kemana kamu De..?” tanyaku..

“mau ngobatin lukaku..” ucapnya sambil mengambil kaos yang dilemparkannya tadi..

“kerumah sakit..?” tanya Mas Panji..

“enggalah.. tapi ketempat kekasihku.. hahahahaha..” ucap Dede Gagah lalu tertawa sambil memakai kaosnya.. cuukkk.. memang luar biasa Adekku ini.. wajahnya berdarah – darah seperti itu aja, dia masih bisa santai dan masih bisa tertawa..

Lalu Dede Gagah berjalan kearah sebuah sepeda motor sport terbaru yang terparkir diruang tengah pondok merah.. waw.. itu sepeda motornya Dede..? gilaaaa.. mantap banget.. makanya kok Ayah menawari aku sepeda motor baru juga.. Ayah pasti berpikir, aku akan cemburu karena Dede dibelikan sepeda motor yang keren itu.. hehehehe..

“itu sepeda motor barumu De..?” tanyaku memastikan kepada Dede..

“iyalah Mas.. ini namanya sisemok.. hahahahaha..” ucapnya sambil menepuk tangki sisemok dengan lembut..

Hahahaha.. sisemok..? ada – ada aja nih adekku..

“wihh.. keren.. keren..” ucapku sambil menggelengkan kepalanya..

“ya udah Mas.. aku jalan jalan dulu ya..” ucapnya sambil menyetater sisemok..

BRUUUMMM.. BRUUUMMM.. BRUUUMMM..

cuukkk.. sangar sekali suaranya sisemok itu.. hahahaha

“assuuu..” maki Mas Panji kepada ke Dede Gagah..

“hehehehe..” dan dia hanya tertawa saja..

“tau kosannya kah..?” tanyaku kepada Dede Gagah..

“kan ada ini..” ucap Dede Gagah sambil menunjuk hpnya

“tinggal ya..” pamit Dede lagi..

“SALAM KENTAL..” ucap Dede Gagah dengan semangatnya.. hehehehe.. kata – kata khas dari Dede itu memang sangat luar biasa, menjengkelkan dan membuat gatal telinga yang mendengarkannya.. jinacookkk..

BRUUUUMMM..

Dede Gagah meninggalkan kami diruang tengah ini, menuju kosnya Mita.. hiuufftttt.. huuuu..

Mita.. semoga saja dia memang benar – benar mencintai adekku dan menolak Purnama, yang sangat – sangat mencintainya itu.. tapi kalau sampai Mita luluh dan jatuh ke pelukan Purnama.. bisa dipastikan ada duel berdarah antara Dede Gagah dan Purnama, atau aku sendiri yang akan berduel dengan Purnama..

“tattoo Adekmu itu keren ngger..” ucap Badai kepadaku yang asyik melamun sambil mengemut permenku ini..

“biasa aja..” ucapku sambil memegang permenku lalu mengemutnya lagi..

“biasa gimana..? itu bukan hanya keren, tapi juga seperti ada aura mistisnya..” ucap Kenzie dan aku hanya tersenyum saja..

“betul itu zie.. aku juga mau buat tatto seperti itu..” sahut Badai dan aku langsung melihat kearah Badai..

“itu bukan tattoo sembarangan dai.. itu tattoo keluarga Jati..” ucap Mas Panji lalu menghisap rokoknya lagi..

“tattoo keluarga Jati..? maksudnya..?” tanya Mas Agam sambil melihat kearahku lalu melihat kearah Mas Panji..

“setiap anak laki – laki diatas tujuh belas tahun keturunan Mbah jati.. pasti akan ditatto seperti itu..” Jawab Mas Panji dan semua penghuni kos ini, langsung menatapku bersama – sama..

Cuukkk.. pasti setelah ini ada pertanyaan, aku memiliki tattoo seperti itu juga apa engga..? waduhh.. lebih baik aku pergi saja dari kosan ini..

“kamu juga punya tattoo seperti itu ngger..?” tanya Badai kepadaku.. tuhkan.. benerkan..

Dan aku hanya berdiri sambil tersenyum lalu membuang batang permenku..

“aku balik dulu ya.. mau istirahat..” ucapku lalu aku tersenyum kepada Badai..

“anjinggg..” maki Badai.. lalu dia menggelengkan kepalanya seperti tidak percaya dengan omongan Mas Panji tadi..

Akupun langsung berjalan kearah pintu kosan.. tapi aku teringat dengan tujuan awalku kekosan ini.. aku pun menghentikan langkahku dan melihat kearah Mas Panji

“Mas.. Dede kos disini ya..? ada kamar kosong kan..?” tanyaku kepada kepada Mas Panji dan Mas Panji hanya mengangguk saja.. aku pun kembali tersenyum lalu pergi meninggalkan kosan ini..

Hiuuffffttttt.. huuuu.. kok semakin lama, semakin berat aja ya kehidupanku dikota ini.. satu persatu permasalahan datang silih berganti.. sampai kapan semua ini akan berakhir..? cuukkk.. kok berpikir berakhir..? waktuku aja masih lama dikota ini, pasti makin banyak dan makin berat aja kedepannya.. kecuali, aku terhenti ditengah jalan dan perjalananku sudah habis sebelum waktunya.. hehehehehe.. cuukkk..

Dan akupun terus menarik gas mexi untuk keluar dari gang pondok merah.. dan ketika aku akan belok kiri dan menuju jalan utama, aku melihat kearah kanan untuk memastikan tidak ada kendaraan dari arah itu.. dan..

CHIITTT…

Aku langsung menekan remku dengan cepatnya.. karena dari arah kiri, ada seorang wanita berhijab yang berjalan dan aku tidak melihatnya..

Duhgggg..

Mexiku sempat menyenggolnya dari arah belakang dan wanita itupun, langsung terjatuh kedepan dengan kaki lutut duluan yang terkena aspal..

“adduhhhhh..” teriaknya kesakitan..

Astagaaaaa… kenapa bisa aku seceroboh ini sih..? apa karena aku terlalu banyak melamun..? gilaa.. gilaa..

Akupun langsung menyetandarkan samping mexiku.. dan aku langsung turun sambil membenarkan kaca mataku yang miring, lalu membantu wanita yang masih berlutut dijalan itu untuk berdiri.. akupun dengan refleknya memegang pundak wanita yang memakai pakaian agak lebar dan menutupi seluruh tubuhnya itu..

“maaf Mba.. maaf..” ucapku sambil memegang kedua pundaknya dari arah samping tubuhnya..

Dia pun langsung menoleh kearahku dan aku juga melihat kearahnya.. kami berdua sama – sama saling bertatapan dan cukup lama kami saling menatap.. cuukkk.. cantik juga wanita ini.. tatapan matanya juga sangat lembut dan menyejukkan.. gilaaaa..

Dan ga berapa lama kemudian, wanita berhijab itu pun langsung menggoyangkan tubuhnya, seperti menolak rangkulanku.. aku pun langsung melepaskan rangkulanku, dan itu membuat dirinya mau terjatuh lagi dan dia menahannya sekuat tenaga supaya tidak jatuh lagi..

“mba ga apa – apa..?” tanyaku dan ketika aku mau menahan tubuhnya lagi, dia langsung melihat kearahku sambil menggelengkan kepalanya dan langsung menundukkan kepalanya lagi..

Huuuu.. terus gimana sudah kalau begini..? niatku kan hanya ingin membantu dan bertanggung jawab, tapi dianya gak mau disentuh dan dia kesakitan sekali..

Astagaaaa.. dan aku hanya berdiri sambil menatapnya.. jujur aku bingung kalau sudah begini.. bertemu dengan wanita yang belum aku kenal aja, aku sudah gak tau harus berbuat apa.. apalagi ada kejadian seperti ini..

Dan ketika aku menatapnya terus menerus, wanita itu terus menunduk dan meringis kesakitan..

“mba.. mba.. kita kerumah sakit ya.. kita periksa kondisi mba..” ucapku kepadanya..

Dan dia hanya diam sambil terus menunduk..

Cuukkk.. terus gimana sudah ini..? masa iya aku langsung pergi meninggalkan dia..? ga bertanggung jawab sekali aku.. bajingaann..

“tapi mba kesakitan gini loh..” ucapku dan aku mencoba menenangkan diriku supaya gak terlalu panik dan merayunya untuk kerumah sakit..

“kacamataku..” ucapnya sambil menatapku sebentar lalu menunduk lagi.. dan akhirnya keluar juga suara yang sangat lembut dari bibirnya..

Waw.. ternyata wanita ini memang cantik.. selain itu, suaranya juga sangat lembut sekali.. jiancookkk.. woii.. woii.. disaat ada masalah seperti ini, kok aku malah ngomentarin wajah dan suaranya sih..? bajingaaannn..

Tapi ngomong – ngomong.. kenapa dia malah mengkhawatirkan kaca matanya, bukan mengkhawatirkan tubuhnya..? emang kaca matanya lebih penting dari pada lututnya gitu..? guendeng ancene og.. aku pun lalu menunduk dan melihat kearah kacamatanya.. aku lalu mengambil kacamatanya dan mengeceknya.. cuukkk.. kacamatnya retak, pantas aja dia khawatir..

“oke mba.. aku akan ganti kaca mata mba, tapi kita kerumah sakit dulu ya..” ucapku dan dia hanya menggelengkan kepalanya, sambil terus menunduk dan mengulurkan tangan kanannya untuk meminta kaca matanya..

Aku pun langsung menyerahkan kaca mata yang kupegang kepada wanita itu.. dan dia langsung mengambil dan memakainya.. duhhh.. apa ga berbayang penglihatannya ya..? wanita itu pun mencoba untuk membalikkan tubuhnya dan..

“duhhhh..” ucapnya sambil tertatih dan mau jatuh lagi.. dan ketika aku ingin memeganginya.. dia lalu melihatku sebentar dengan tatapan yang sedikit tajam, sambil menggelengkan kepalanya.. lalu menunduk lagi..

“oke.. oke.. kalau mba gak mau aku antar kerumah sakit.. gimana kalau aku telpon taksi online aja, terus kerumah sakit.. biar aku ikuti dari belakang..” ucapku kepadanya dan dia hanya diam saja sambil terus menunduk..

Cuukkk.. ini cewek tunduk terus, apa ga sakit itu leher..? sudahlah.. mending aku pesan taksi online aja dulu, terus kerumah sakit.. yang penting nih cewe bisa diobatin dulu..

Dan setelah beberapa saat, sebuah mobil berhenti didekat kami.. kaca bagian depan samping kiripun terturun..

“pak Gerhana Matahari ya..?” tanya si sopir kepadaku..

“yups..” jawabku singkat sambil melihat kearah sisopir lalu aku melihat kearah wanita itu..

“mba naik ini aja ya..” ucapku kepada wanita itu lalu aku membukakan pintu depan bagian kiri.. lalu ketika aku akan membantunya berjalan, wanita itu malah menolak dan berjalan dengan tertatih – tatih lalu membuka pintu bagian tengah mobil dan naik dengan bersusah payah.. cuukkk..

Akupun langsung menutup pintu bagian depan samping kiri mobil itu sambil menggelengkan kepalaku..

“pak tolong diantar kerumah sakit dipusat kota.. nanti aku tunggu di UGD ya..” ucapku kepada si sopir..

“siap pak..” ucap sisopir dan aku memundurkan tubuhku lalu mobil itu pun berjalan duluan..

Aku lalu naik ke mexi dan mengikuti mobil itu dari belakang.. gilaaa.. kenapa bisa seperti ini sih..? kok aku ga hati – hati ya..? jiancookkk.. dan kenapa juga aku harus menabarak wanita itu..? kenapa gak nabrak yang lain aja..? bukannya aku suka dengan musibah ini atau memilih korbannya.. tapi aku bingung dengan sikapnya yang tidak mau melihatku dan berbicara kepadaku.. dia hanya mau menatapku dan berbicara sepelurnya aja.. gila ga..?

Kelihatannya aku harus duluan sampai di UGD rumah sakit dan mengkondisikannya disana.. aku lalu memacu mexiku dan mendahului taksi online itu.. dan setelah sampai di UGD rumah sakit, akupun mendatangi seorang perawat yang berjaga..

“siang mba..” ucapku pada perawat itu..

“ya pak.. ada yang bisa kami bantu..?” ucap perawat yang berhijab..

“ada kursi rodanya ga mba..? saya habis nabrak seorang wanita..” ucapku kepadanya..

“oh ada pak.. didepan sana..” ucap wanita itu sambil menunjuk kearah pintu masuk..

“oke mba..” ucapku lalu aku membalikkan tubuhku..

“pak.. lebih baik daftar dulu deh..” ucap perawat itu..

“nah itu masalahnya mba.. aku ga kenal sama wanita itu.. tunggu dia disini aja, baru sekalian daftar..” jawabku sambil menoleh kearah perawat itu..

“ohhh..” ucap perawat itu sambil menganggukan kepalanya..

“oh iya mba.. bisa gak yang menangani wanita ini, perawat dan dokter perempuan aja..” ucapku dan perawat itu langsung tersenyum kepadaku..

“pasti dia berhijab ya..?” tanyanya dan aku langsung menganggukan kepalaku..

Perawat itu pun langsung berdiri dan berbicara dengan seorang perawat lainnya, setelah itu dia berjalan kearahku..

“ayo pak..” ucap perawat itu kepadaku..

“kemana mba..?” tanyaku dengan herannya..

“pasti wanita itu gak mau bapak sentuh kan..?” ucap perawat itu lalu berjalan duluan kearah pintu dan aku langsung menyusulnya..

“kok mba tau sih..?” tanyaku ketika aku berjalan disampingnya..

“kalau bapak meminta perawat dan dokternya wanita, pasti wanita itu gak mau disentuh oleh laki – laki lain, selain keluarga dekatnya.. dan kami sering mendapatkan pasien seperti ini..” ucap perawat itu lalu mengambil kursi roda yang ada didekat pintu..

“oooo.. gitu ya..?” ucapku sambil menganggukan kepalaku..

Duh ribet juga ya..? terus kalau seandainya dia tadi pingsan gimana..? aku mengangkat tubuhnya dan kuantar kerumah sakit, terus kalau dia sadar.. apa dia gak ngamuk sama aku..? sudahlah.. jangan terlalu banyak berpikir.. entar pusing lagi kepala ini..

Dan ga berapa lama, sebuah taksi datang dan berhenti didepan UGD.. aku dan perawat tersebut lalu mendatangi taksi itu.. dan perawat itu langsung membantu wanita yang aku tabrak tadi, turun dari taksi dan menaikannya dikursi roda.. sedangkan aku langsung membayar ke sopir.. lalu perawat itu pun membawanya keruang penindakan.. dan aku hanya disuruh menunggu didepan ruang penindakan..

Bebarapa saat kemudian, perawat itu keluar sambil membawa sebuah kartu identitas dan menyerahkan kepadaku..

“tolong didaftarkan dulu ya pak..” ucap perawat itu kepadaku..

“oke..” ucapku sambil menerima kartu indentitas yang rupanya itu adalah kartu mahasiswa..

Aku lalu membaca sebentar kartu mahasiswa wanita itu..

Dinda Kamaliya Candrarini

Cuukkk.. emang cantik wanita ini.. dan ternyata wanita yang bernama Dinda Kamaliya Candrarini ini, satu kampus denganku dan satu angkatan tapi berbeda jurusan.. gilaaa.. kenapa aku gak pernah lihat wanita satu ini dikampus ya..? kemana aja dia..? atau aku yang kurang pergaulan..? terus memangnya kenapa kalau pernah ketemu..? terus kenapa juga kalau dia cantik..? apa Dinda ini akan menjadi kisahku yang baru..? apa aku jatuh cinta gitu..? taik lahh.. ga usah bicara cinta – cintaan saat ini.. jiancuukkk..

Dan setelah membaca identitas Dinda, aku lalu mengurus semua administrasinya.. aku ingin segera selesai semua dan aku mau balik kekosku.. aku sudah lelah sekali hari ini.. banyak permasalahan yang memaksa otakku berpikir keras.. aku takut otakku over lagi dalam berpikir, dan ujung – ujungnya malah tembok lagi yang kujadikan tempat menyelesaikan masalahku.. kan gak lucu kalau gitu..

Dan setelah selesai mengurus administrasinya, aku kembali menunggu didepan ruang penindakan.. dan ga berapa lama kemudian, seorang dokter wanita keluar lalu mengobrol denganku.. tidak ada yang lerlalu serius dengan lutut Dinda.. hanya lebam dan mungkin beberapa hari akan sembuh nyerinya.. dan setelah sang dokter pergi, perawat tadi keluar sambil mendorong kursi roda yang diduduki Dinda..

“nih..” ucapku ke Dinda sambil menyerahkan kartu mahasiswanya kepada dia..

Dan dia langsung menerima kartu mahasiswanya dengan tetap menunduk dan tidak bersuara sama sekali.. lalu dengan dibantu perawat tadi, kami bertiga pun keluar dari ruang UGD..

“kupesankan taksi online lagi..?” tanyaku dan kembali tidak ada jawaban dari Dinda.. cuukkk.. kok susah banget sih ngajak ngobrol wanita satu ini..? masa iya karena aku orang asing dan habis menabrak dia, jadi dia gak mau ngbrol sama aku..? atau dia marah sama aku..? ahhhh.. bisa gila juga aku lama – lama dekat Dinda ini..

Dinda lalu mengeluarkan Hpnya dan mengetik sesuatu.. aku pun mengeluarkan Hpku juga dan akan memesan taksi online untuknya..

“sudah..” ucap Dinda singkat..

Akupun terkejut dan bingung dengan perkataan Dinda barusan.. Dinda ini bicara sama aku atau sama perawat ini..? aku langsung melihat kearahnya lalu melihat kearah perawat yang masih memegang kursi roda itu.. perawat itu menahan tawanya melihat kebingunganku.. cuukkk.. siapa yang ga bingung dengan keadaan seperti ini..? Dinda jarang bicara dan sekali bicara, singkat padat dan jancuukkii..

“sudah apanya..?” tanyaku sambil mengerutkan kedua alisku..

“sudah dipesan taksinya pak..” sahut perawatnya kepadaku..

Cuukkk.. kok malah perawatnya yang jawab sih..? ihhhh.. lama – lama kesel juga aku sama Dinda ini.. apasih susahnya ngomong yang agak lengkap gitu..? aku sudah pesan taksinya.. kan enak kalau dia ngomong seperti itu.. gak perlu disingkat seperti tadi.. jiancuukkk..

Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya sebuah mobil datang menghampiri kami..

“ibu Dinda Kamaliya..” tanya sisopir yang turun dari mobilnya dan berdiri dihadapan kami.. Dinda pun hanya menganggukan kepalanya saja..

“pak tolong dibuka pintu tengahnya ya..” ucap si perawat.. sisopir lalu membuka pintu bagian tengah.. lalu siperawat mendorong kursi roda lebih dekat lagi kearah mobil, lalu membantunya naik kedalam mobil..

“terimakasih ya mba..” ucap Dinda lalu tersenyum kepada perawat itu..

“sama – sama ya mba.. nanti kalau ada keluhan langsung control aja..” ucap siperawat kepada Dinda dan Dinda kembali tersenyum dengan perawat itu.. cuukkk.. manis betul sih senyumnya.. coba kalau ini ditambah dengan sifat yang mudah diajak ngobrol, pasti banyak nilai plusnya nih si Dinda.. tapi kalau dia pendiam seperti ini, jangankan ngajak ngobrol.. mendekat saja, laki – laki pasti mikir dua kali.. gueenndeng ancene og..

Dan setelah Dinda naik lalu menutup pintu mobil, mobil itupun langsung keluar dari rumah sakit..

“mba terimakasih ya..” ucapku kepada siperawat..

“iya mas..” ucap perawat itu dan dia sekarang memanggilku dengan sebutan mas, bukan pak lagi..

“oh iya mas.. kalau type cewek seperti mba Dinda itu, jinak – jinak merpati.. mas harus lebih sabar kalau mau kenal dan dekat sama dia..” ucap perawat itu lalu tersenyum kepadaku dan dia membalikan tubuhku dan meninggalkan aku yang bingung dengan ucapannya..

Cuukkk.. maksudnya apa coba..? yang mau kenal dan dekat sama wanita pendiam seperti Dinda itu siapa..? bisa naik kolesterolku kalau sampai aku dekat sama cewe seperti dia.. guendeng ancene og..

Tapi beneran ga mau kenal..? bener ga mau dekat..? ga nyesal nih..? beneraan gak mau buka kisah baru dengan dinda..? cukup.. cukup.. cukupppp.. masih sakit hati ini, kenapa malah ditambah memikirkan hal yang engga – engga sih..? jiancuukkk..

Sekarang lebih baik aku mengejar mobil yang ditumpangi Dinda tadi.. aku pun langsung menuju maxiku lalu mengejar mobil itu.. aku ingin memastikan Dinda sampai dikosnya dan menyelesaikan satu lagi tanggunganku.. aku ingin mengganti kaca matanya yang retak itu..

Aku pun terus mengikuti mobil yang mengarah kekampus teknik kita itu.. dan mobil pun berhenti disebuah kos – kosan, tidak jauh dari kosan Barbara yang sekarang sudah tidak berpenghuni itu..

Dan didepan kosan Dinda itu.. beberapa orang teman wanitanya, menunggunya dengan wajah yang panik.. lalu setelah mobil itu berhenti, teman – temannya membantunya turun dari mobil.. aku langsung turun dari maxi dan aku parkir tidak jauh dari kosan Dinda.. setelah itu, aku membayar taksinya dan taksi itupun langsung pergi.. dan aku langsung melihat kearah Dinda yang dipapah oleh beberapa temannya..

“kok bisa ditabrak sih Din..?” tanya temannya yang memapah Dinda..

“gimana kejadiannya..?” tanya temannya yang lain..

“dimana kejadiannya..?” tanya temannya yang lain lagi dan semua tidak dijawab oleh Dinda..

“terus siapa yang nabrak kamu..?” dan pertanyaan lain lagi dari teman Dinda..

“saya mba..” ucapku dari arah belakang mereka semua.. dan mereka semua langsung menoleh kearah belakang dan melihatku dengan tatapan yang sangat tajam..

Cuukkk.. kok serem – serem gini sih tatapan mereka..?

“kok bisa itu loh..? kamu gak punya mata ya..?” salah seorang temannya bertanya kepadaku dengan mata yang melotot….

“pasti urakan nih bawa sepeda motornya.. tampangnya aja culun, tapi bawa kendaraannya ngawur..” sahut temannya yang lain lagi dengan emosinya..

“sudah.. sudah.. ihhhhh..” ucap Dinda sambil berjalan lagi dan dipapah dikanan kiri lalu merintih kesakitan..

Cuukkk.. sadis – sadis juga temannya Dinda ini.. tapi ya mau gimana lagi.. aku salah kok.. mau ngeles gimana..? aku juga gak suka mencari pembenaran atas kesalahanku.. dan aku harus menangung semua resikonya, termasuk di maki – maki oleh semua teman Dinda ini.. dan aku hanya diam sambil mengikuti mereka, sampai mereka mendudukkan Dinda dikursi teras kosan..

“maaf mba.. saya salah.. saya mau bertanggung jawab atas semua kesalahanku ini..” ucapku sambil menatap mereka satu persatu lalu aku mengeluarkan permenku dan membukanya lalu mengemutnya..

Dan mereka semua langsung mengerutkan kedua alisnya ketika aku mengemut permenku ini..

“oh iya, berapa ukuran kacamatanya..? aku mau ganti yang baru..” ucapku kepada Dinda yang menunduk itu..

“kacamatanya aja..?” tanya temannya dengan sangat judes kepadaku.. cuukk.. gatel juga telingaku kalau lama – lama dijudesin seperti ini.. bajingaann..

“terserah.. sepatunya, pakaiannya, hijabnya.. kalau perlu dalemannya juga..” ucapku yang mulai terpancing, karena aku sudah lelah seharian ini..

Dan mereka semua langsung menatapku dengan tajamnya termasuk Dinda..

“kurang ajar banget sih ngomongnya..?” ucap salah satu temannya sambil matanya melotot..

“ya terus aku harus gimana..? aku sudah minta maaf dan aku mau bertanggung jawab loh.. kalau memang ada lagi yang mau aku ganti dan ada yang perlu aku pertanggung jawabkan.. bilang aja..” ucapku dengan tegasnya..

“sombong banget.. sudah salah ngeyel lagi..” ucap temannya itu dengan nada yang begitu sinisnya..

Cuukkk.. ini untungnya perempuan yang bicara, kalau ini semua laki – laki.. kubantai satu – satu mereka disini.. bajingaannn..

“sudah.. sudah.. namanya juga musibah..” ucap Dinda menenangkan semua temannya.. dan semua temannya pun langsung terdiam sambil menggelengkan kepala mereka..

“oh iya Maya.. bisa tolong ambilkan bulpoint sama kertas..?” ucap Dinda kepada salah satu temannya..

Dan temannya yang dipanggil Maya itupun langsung masuk kedalam kosan dan ga berapa lama, dia keluar sambil membawa selembar kertas lalu diserahkan ke Dinda.. Dinda lalu menuliskan sesuatu dikertasnya itu kemudian menyerahkan kepadaku.. akupun langsung menerima dan membacanya.. cuukkk.. ukuran kacamatanya yang ditulis.. kenapa ga ngomong aja sih langsung..? aku juga pakai kaca mata, jadi aku pasti ingat kalau dia mengucapkannya.. guendeeng ancene og..

Aku lalu merobek kertas yang ada ditanganku ini menjadi dua.. mereka semua terkejut dan hanya memandangku saja..

“oke deh.. aku belikan malam ini juga.. kalau selesai malam ini juga, aku antarkan malam ini.. tapi kalau selesainya beberapa hari, aku antarkan juga.. sekarang aku pinjam bulpointnya.. aku mau catat no Hpku.. kalau ada sesuatu yang dibutuhkan terkait dengan kejadian kecelakan ini, hubungi aku aja..” ucapku sambil meminjam bulpoint ditangan Dinda, lalu mencatat no Hpku dikertas yang aku sobek tadi..

Aku sudah malas untuk mendebat teman – teman Dinda ini.. aku mau segera ke optic, untuk membeli kaca mata Dinda, setelah itu aku mau kekosan.. aku sudah capek pakai banget..

“oh iya.. sekali lagi maaf ya..” ucapku sambil menyerahkan kertas yang berisi no Hpku ke Dinda.. Dinda menerima kertas itu sambil melirikku sebentar dengan tatapan yang.. sudahlah.. lalu aku membalikkan tubuhku dan aku pergi sambil mengemut permenku ini..

Cuukkkk.. hiuuuffftttt.. huuuuuu….

Pov Gagah

Anjing.. kenapa aku harus melalui ujian yang sangat berat, ketika baru hari pertama aku berada dikota ini..? kalau masalah perkelahian dengan Haris tadi itu, ga seberapa sakitnya.. tapi dengan Mita..? gilaaaaa.. sakitnya itu terasa banget dihatiku..

Gimana ga sakit.. siapa yang tahan ditinggal dalam keadaan seperti ini..? disaat lagi jeru – jerunya (dalam – dalamnya), pergi bersama laki – laki sebangsat Purnama itu..? apa ga anjing kalau gitu..?

Kenangan yang aku lewati dengan Mita itu ga sehari dua hari loh ya..? susah, senang, tangis, bahagia, sampai sange pun, sudah kami lewati bersama.. dan sekarang.. pas aku lagi sayang – sayangnya, dia malah sayang sama laki – laki lain.. bangsat ga kalau gitu..?

Terus aku harus gimana sekarang..? apa tak dongakno mugo uripe mulyo..? (apa kudoakan supaya kehidupannya lebih baik..?)

Bangsaatt.. enak banget ya jadi Mita itu.. sudah menyelingkuhi, malah aku doakan yang baik – baik.. anjinnggg.. terus yang doakan aku siapa..?

 

 

Mungkin memang ini jalannya dan aku harus memilih jalan lain untuk kehidupan cintaku.. tapi apa aku akan sanggup hidup tanpa cinta Mita..? apa aku harus larut dengan semua ini..? apa aku harus terus menangis..? apa aku harus bersedih dan menyesali semua ini..? bangsaattt..

Bagiku aku sekarang bukan apa – apanya Mita lagi.. dan itu sudah cukup.. cukup.. dan cukup.. aku gak boleh tenggelam dengan semua ini.. enak banget dong dia, sudah menghianati aku dan bahagia sama laki – laki lain.. akunya malah terpuruk..

Tapi masa iya aku terpuruk sih..? enggak lah.. Gagah nih.. Gagah.. hilang memek satu, masih banyak memek lain yang bisa aku nikmati.. (bangsatt.. kasar banget ya kalau sudah putus sama pasangan kita itu.. ga ingat kalau dulu pas lagi berduaan..? menyanjungnya itu bisa setinggi langit.. giliran sudah putus malah di memek – memekin.. anjinggg.. tapi gak apa – apakan kalau aku emosi seperti ini..? salah ya kalau aku seperti ini..? masa iya aku harus nangis terus sih..? biarlah aku nikmati rasa emosiku ini sejenak.. dan memang ini realita dalam kehidupan bro.. kalau lagi pacaran, itu pasti saling menatap dengan cinta dan yang keluar dari mulut masing – masing pasangan, kata – kata lembut dan mesra.. tapi kalau sudah putus, apalagi diselingkuhin.. juuhhh.. jangankan berpandangan dengan cinta, melihat fotonya difrofil media sosialnya aja.. rasanya mau pergi kedukun, terus minta supaya perutnya dibuat besar.. biar dikira sudah berisi dan ditinggal sama pasangannya.. hahahahaha.. anjingg..)

Sudah Gah cukup sedihnya.. sekarang waktunya bangkit.. cukup lah sedihnya sehari aja.. sekarang cari lagi cinta pada wanita – wanita yang lain.. kata orang, kota pendidikan ini banyak sekali wanita cantiknya.. jadi buat apa menikmati keterpurukan itu, sekarang waktunya berpetualang disini.. tutuplah cinta dengan Mita dan buka cinta untuk wanita lain.. (anjing.. enak banget ya ngomongnya..? padahal dihati ini, ambyar seambyar – ambyarnya.. paling besok – besok kalau keingat lagi, sedih lagi, nangis lagi, terus mabuk lagi.. bangsaatttt..)

Akupun memacu sisemok dengan kencangnya.. entah jalan mana yang kutuju.. dan keinginanku satu, aku ingin mencari toko yang menjual minuman dikota ini.. dan setelah bertanya pada beberapa orang yang sedang berpesta di pinggir jalan, akhirnya aku pun menemukan toko yang aku cari..

Aku pun memarkirkan sisemok didepan toko itu dan masuk kedalam toko tersebut..

“ada vodka gepeng gak pakde..?” tanyaku pada seseorang yang duduk dimeja dan sedang menghitung uang.. orang itupun menghentikan kegiatannya dan melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepalaku..

“kenapa wajahmu itu le..?” tanya penjual minuman itu kepadaku..

“biasa pakde.. uji beton.. hehehehe..” ucapku sambil tertawa lalu aku mengambil rokokku dan membakarnya lalu menghisapnya dengan santai..

“hahahahaha.. bahasa itu sudah lama gak pernah aku dengar.. terakhir yang berbicara itu, si bajingan lendir.. hahahahaha..” dan penjual itu pun tertawa dengan kerasnya..

“woooo.. bajingan lendir..? ngeri juga julukannya.. emang itu julukan preman yang suka main selangkangan ya pakde..?” tanyaku sambil membersihkan darah yang masih menetes dari pelipisku….

“pokoknya manusia itu luar biasa le.. selain dia bajingannya kampus teknik kita, dia juga habis – habisin cewek cantik yang kuliah dikota ini.. assuuuu.. hahahahaha..” ucap penjual itu sambil mengenang orang yang dia sebut sebagai bajingan lendir tadi..

“woooo.. ada ya orang yang kayak gitu pakde..?” tanyaku lagi..

“ada.. tapi sudah lama dia pergi dari kota ini.. setelah dia selesai kuliah, dia kembali kekotanya..” ucap penjual itu dan dia terlihat sedih..

“kenapa pakde sedih..?” tanyaku lalu aku menghisap rokokku lagi..

“karena dia orang baik..” jawabnya singkat..

Haa..? orang baik..? ga salah dengar nih aku..? ada ya gitu bajingan yang suka main perempuan, terus dia orang baik..? aneh – aneh aja nih penjual.. hehehehe..

“oh iya pakde, pakde bilang tadi orang itu kuliah dikampus teknik kita..? beneran gitu..?” tanyaku..

“iya.. dia bajingannya kampus teknik kita dan juga panglima tempur pondok merah dijamannya..” ucap pakde itu sambil menatapku..

Woooo.. pondok merah..? kosku sekarang..? luar biasa sekali berarti orang itu.. kelihatannya setelah ini, aku harus tanya ke Om Panji tentang si bajingan lendir itu.. entah kenapa aku sangat tertarik dengan kisah si bajingan lendir itu.. siapa tau setelah mendengar ceritanya, aku mendapatkan sedikit ilmu tentang bajingan lendir.. hahahaha..

“oh iya pakde, vodka gepengnya tiga ya.. sama rokoknya dua..” ucapku sambil mengeluarkan dompetku dan mengambil beberapa lembar uang merah..

“oke le.. tapi ngomong – ngomong.. kamu baru ya dikota ini..?” tanya penjual itu sambil mengambilkan barang yang aku beli..

“iya pakde.. aku orang baru dikota ini..” ucapku.. lalu aku mengambil minuman dan rokok dari tangan penjual itu..

“berapa ini pakde..?” tanyaku.. dan setelah penjual itu menyebut harganya, akupun langsung membayarnya..

“oh iya le.. namaku Gundul.. orang – orang sini memanggilku Mbah Gundul..” ucapnya sambil menjulurkan tangannya kepadaku..

“oh iya mbah.. namaku Gagah.. Gagah Irawan Sandi..” ucapku sambil menjabat tangannya.. dan Mbah Gundul langsung terkejut ketika mendengar aku menyebut namaku..

“ka.. kamu kos dimana..?” tanyanya terbata sambil melepaskan jabatan tangannya dan wajahnya masih tampak terkejut sekali..

Ada apa sama Mbah Gundul ini..? kok dia kaget dengar namaku..? apa nama ku memang sesuai dengan tampangku..? hehehehehe..

“pondok merah Mbah..” ucapku sambil tersenyum dan membalikkan tubuhku.. dan aku meninggalkan Mbah Gundul yang masih terbengong – bengong..

Aneh tuh penjual.. kenapa dia menatap aku dengan tatapan terbengong seperti itu..? apa wajahku ini memang ganteng sekali..? atau jangan – jangan dia mau membandingkan aku sama si bajingan lendir..? wooo.. no.. no.. no.. jangan sampai aku disamakan dengan si bajingan lendir itu.. hehehehehe..

Akupun naik ke semok lagi dan menjalankannya.. tapi ngomong – ngomong, darah ini masih aja terus menetes loh.. kelihatannya aku harus membersihkan, terus aku tutup luka ini.. terus siapa yang membersihkannya..? ya aku sendirilah.. masa orang lain sih.. manja banget..

Akupun singgah disebuah minimarket yang tidak jauh dari toko Mbah Gundul.. aku lalu membeli kapas, alcohol, plester dan obat luka.. setelah itu aku berjalan menuju pintu keluar dari mini market.. dan ketika aku sudah di pintu keluar dari mini market, aku melihat seorang wanita mau masuk ke mini market ini.. dia berjalan menunduk, dan itu yang membuat kami berdua langsung saling menghalangi.. aku yang melangkah kekanan, dia arah kananku juga, aku lalu kekiri dan dia juga kearah kiriku juga.. dan begitu seterusnya..

Lalu perlahan wanita itupun mengangkat wajahnya dan menatapku.. woooo.. gilaaa.. cantik sekali wanita ini.. memang benar kata orang.. kota ini memang diisi oleh wanita – wanita yang cantik.. bajingaaann..

Kami pun saling bertatapan sejenak.. dan tatapannya pun langsung menggetarkan hatiku.. anjing.. kok sepertinya tatapan ini ga asing ya..? tatapan ini sama seperti ketika aku menatap Bang dai dan Purnama.. gilaaaa.. masa iya setiap orang yang aku tatap dikota ini, harus seperti ini sih..? aneh banget..

Dan setelah beberapa saat kami bertatapan, wanita itupun langsung mengerutkan kedua alisnya..

“maaf mba..” ucapku lalu tersenyum dan wanita itu masih terus melihatku dengan kedua alisnya mengerut..

“maaf mba.. maaf kalau aku menghalangi jalannya mba..” ucapku lagi dan wanita itupun langsung menggoyangkan wajahnya pelan seperti tersadar dari lamunan..

“oh iya ga apa – apa..” ucapnya dengan suara yang sangat merdu sekali, lalu melihat kearah yang lain sebentar lalu melihatku lagi..

Aku lalu menggeser tubuhku kekiri untuk memberikan dia jalan masuk kemini market ini..

“silahkan mba..” ucapku mempersilahkan dia lewat..

“oh iya.. terimakasih..” ucapnya sambil menatapku sebentar lalu berjalan melewati aku.. aku pun memperhatikan dia yang melewati aku.. tau apa yang kulihat..? bokongnya bro.. woooo.. semok banget.. hahahahahaha.. anjinggg..

Aku lalu mengalihkan pandanganku kedepan lagi dan berjalan keluar mini market.. dan baru selangkah aku berjalan..

“duuhhh.. bodoh.. bisanya aku ga bawa dompet ya..? ihhhhhhh..” ucap seorang wanita dengan kesalnya dibelakangku.. aku pun langsung menghentikan langkahku dan membalikkan tubuhku.. dan bertepatan dia juga membalikan tubuhnya dan melangkah keluar dari mini market ini..

BUHHGGG..

Tubuh kami bertabrakan dan kedua tanganku dengan refleknya langsung naik kedadanya.. anjinggg.. empuk banget brooo.. gilaaa.. nenennya yang lumayan besar itu ada ditelapak tanganku.. bajingaannnn..

Telapak tangan kiriku kosong, sedangkan telapak tangan kanan memegang ujung plastic bungkusan obat.. tapi tetap saja, telapak tangan kananku bisa memegang buah dada yang kenyal itu.. hahahahaha.. enaknyaaa.. anjinggg..

“he..” ucapnya langsung melotot dan dengan refleknya memundurkan tubuhnya.. dan itu membuat pegangan tanganku didadanya terlepas..

“maaf mba.. maaf.. aku tadi mau nahan tubuhnya mba biar ga nabrak aku..” ucapku, dan sekarang kedua telapakku menyatu dan memohon maaf kepadanya..

“nahan kok didada.. kamu sengaja ya..?” ucapnya dengan mata yang melotot..

“maaf mba.. maaf.. beneran aku ga sengaja..” ucapku menenangkannya.. dan tiba – tiba darahku menetes lagi dipelipis..

“hey.. wajahmu kenapa itu..?” tiba – tiba dia menunjuk pelipisku yang dari tadi meneteskan darah ini..

Woooo.. kok dia perhatian sama aku ya..? dia kok ga marah lagi karena buah dadanya aku pegang..? apa dia sudah terjerat sama pandangan mataku yang istimewa ini..? hahahahaha.. bangsaatttt..

“oh.. biasa mba.. tadi kejedot dipintu kamar mandi..” ucapku sambil memegang pelipisku yang banyak mengeluarkan darah ini..

“kejedot pintu kamar mandi..? ga salah nih..? itu kejedot apa dijedotin..?” tanyanya sambil mengerutkan kedua alis matanya..

“mba ini cerewet banget sih..? aku kira mba tadi mau menawarkan bantuan untuk bersihkan lukaku.. kok malah banyak pertanyaan itu loh..” ucapku dengan cueknya..

Dia pun langsung terbengong mendengar ucapanku yang ceplas – ceplos ini..

TEKKK..

Aku memainkan jempolku dan jari manisku sampai berbunyi tepat diwajahnya itu..

“ehhh..” dan diapun langsung tersadar sambil memejamkan matanya sebentar..

“mba kenapasih..? kok bengong seperti itu..?” tanyaku..

“gimana gak bengong, kita baru pertama ketemu.. kamu sudah minta aku bersihin lukamu..” ucapnya sambil membalas tatapanku..

“ohh.. gitu.. jadi gak mau ya..? ya udah deh..” ucapku dengan cueknya lalu aku membalikkan tubuhku dan berjalan kearah sisemok yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri ini..

Gila juga ya aku.. ya wajar aja sih dia bengong begitu.. baru pertama ketemu sudah aku pegang buah dadanya, walaupun ga sengaja.. terus ditambah aku minta tolong bersihkan lukaku.. hahahahaha.. apa ga anjing kalau gitu..? hahahaha..

“wooiii.. sini aku obatin..” ucap wanita itu dan langsung mengagetkan aku.. aku pun langsung membalikan tubuhku dan menatapnya..

“nah gitu dong.. hehehehe..” ucapku lalu aku berjalan mendekatinya..

“gila juga ya kamu itu.. aku kira kamu nolak atau mau basa – basi apa dulu gitu kek..” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya..

“dihh.. kalau sama wanita cantik kayak mba gitu, ga usah pakai basa – basi.. kesempatan itu ga mungkin datang dua kali mba.. hehehehehe..” ucapku dan aku tertawa lagi..

“hemmmm..” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya lagi..

“kita duduk situ..” ucapnya sambil menunjuk sebuah kursi disamping mini market..

Kami berduapun langsung berjalan kearah kursi itu dan kami duduk saling berhadapan.. aku lalu meletakkan bungkusan obat merah diatas meja..

“duduk sebelah sini aja.. kejauhan kalau didepan..” ucap wanita itu dan aku pun langsung berdiri, lalu duduk disebelahnya..

“oh iya mba.. namaku Gagah.. Gagah Irawan Sandi..” ucapku sambil mengulurkan tangan kananku kearahnya yang duduk disebelah kiriku..

“Bulan.. Bulan Mahardini Darmawan..” ucapnya sambil menjabat tanganku dengan tangannya yang putih dan lembut itu..

Bulan Mahardini Darmawan

“woooo.. aku kira bulan itu hanya cantik kalau dilihat dari kejauhan, ternyata.. Bulan itu makin cantik kalau kita sudah ada dikekatnya seperti ini..” ucapku sambil menatap wajahnya yang cantik itu..

Dan wajahnya yang putih, langsung memerah terkena rayuanku dan tatapan istimewaku ini.. hahahahahaha.. salam kental dari aku mba.. hahahahaha..

“apasih kamu itu..” ucapnya sambil mendorong pelan pipiku..

“aduh.. duh..” ucapku berpura – pura kesakitan sambil memegang pipiku yang didorongnya tadi..

“maaf.. maaf..” ucapnya dan dia langsung memegang punggung tanganku yang lagi memegang pipiku ini..

“hehehe.. gak apa – apa kok mba.. sakitnya sudah hilang sama pegangan tangan mba ini..” ucapku sambil memainkan kedua alis mataku..

“uuhhh.. dasar..” ucapnya sambil menurunkan tangannya yang memegang punggung tanganku..

“hehehe..” dan aku tersenyum saja sambil terus memandang wajah cantiknya..

“ini obatnya ya..?” tanya Bulan sambil menunjuk bungkusan plastic yang ada dimeja..

“bukan.. tapi ini..” ucapku sambil menunjuk telapak tangannya.. dan dia langsung mengerutkan kedua alisnya itu lagi..

“sentuhan tangan ini yang akan mengobati lukaku ini..” ucapku sambil menunjuk dadaku.. loh yang luka itu wajah apa hati sih..? hahahahaha.. modusnya tingkat dewa nih.. hahahahaha..

“apasih kamu itu.. ga jelas..” ucapnya sambil membuka bungkusan plastic obat yang aku beli tadi, dengan malu – malu gimana gitu.. hehehehehe..

Lalu Bulan pun mulai menetesi alcohol kekapas dan langsung membersihkan luka disekitar wajahku dengan sangat pelan.. uhhhh.. dan aku langsung memejamkan mataku sejenak lalu melihat wajahnya yang sangat cantik dan sangat dekat denganku ini..

“pasti perih ya..?” tanya Bulan sambil menghentikan kegiatannya dan menatapku..

“engga kok..” ucapku sambil menatap matanya.. dan Bulan langsung salah tingkah dengan tatapan mataku..

“masa..” ucapnya sambil menekan dengan keras lukaku dengan kapas tadi.. dia melakukan itu untuk menutupi salah tingkahnya karena aku terus menatapnya..

“wooo.. wooo.. wooo.. sabar non..” ucapku sambil menahan tangan kanannya itu.. (non = nona = panggilanku untuk Bulan)

“gila ya aku ini.. baru kenal sama kamu.. kamu sudah pegang nenenku dan aku balas dengan membersihkan lukamu.. dan sekarang kamu malah pegang tanganku seperti ini, akunya gak marah..” ucap Bulan melihatku sebentar lalu melihat kearah yang lain..

“maaf kalau lancang non..” ucapku sambil melepaskan pegangan tanganku ditangan Bulan..

“sudahlah.. kita lanjutkan lagi..” ucap Bulan lalu membersihkan lukaku lagi.. dan kali ini kami sama – sama diam.. Bulan membersihkan lukaku sambil sesekali menatap mataku.. dan aku juga sesekali membalas tatapannya lalu aku memejamkan mataku..

“sudah..” ucapnya sambil menempelkan kapas yang telah diolesi obat dan ditutup dengan plster..

“makasih ya..” ucapku lalu tersenyum..

“iya..” ucapnya lalu berdiri..

“boleh aku antar pulang..?” tanyaku lalu aku berdiri juga..

“ga usah.. aku naik mobil kok..” ucapnya sambil menunjuk mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mini market.. lalu Bulan berjalan kearah mobilnya dengan goyangan bokong semoknya, yang mengundangku untuk menjamahnya.. hahahahaha.. anjinggg..

“kapan kita ketemu lagi non..?” tanyaku ketika dia membuka pintu mobilnya..

“gak tau..” ucapnya sambil menaikkan kedua bahunya.

“semoga gak lama lagi ya.. kan jodoh itu gak akan kemana.. pasti nanti ketemu juga akhirnya..” ucapku lalu aku tersenyum..

Dan Bulan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu dia masuk kedalam mobilnya.. setelah itu dia pun pergi meninggalkan aku, yang hanya bisa memegang plesteran yang dipasangnya tadi.. anjing.. hehehehe..

Aku lalu berjalan kearah si semok dan naik keatasnya.. bungkusan minuman yang aku gantungkan distang sisemok pun, seperti memaksaku untuk segera membuka dan menikmatinya..

Aku lalu menjalankan sisemok.. dan lagi – lagi entah kemana jalan yang aku tuju.. yang jelas, arah sisemok ini mengarah kedaerah yang sangat sepi sekali.. dan tiba – tiba aku berhenti disebuah kawasan sepi, yang posisi konturnya agak tinggi dari kota pendidikan ini..

Aku lalu turun dari sisemok dan duduk di pinggiran beton yang menghadap kearah kota pendidikan.. gilaaa.. indah banget pemandangan kota ini dari sini ya.. dan suasana yang mulai gelap, mendatangi tempat ini.. lampu – lampu dari arah kota pun mulai terlihat menyala dan sangat indah sekali.. semilir angin dan bunyi ranting – ranting pohon disekitarku, membuat suasana menjadi tenang dan damai…

Aku pun langsung membuka bungkusan minuman dan mengambil sebotol.. lalu aku meminumnya setengah dan meletakkan botolnya disampingku.. dan aku langsung membakar rokokku lalu menikmatinya..

Pikiranku pun langsung melayang, memikirkan apa yang terjadi dengan diriku seharian ini.. gilaaaa.. cepat banget ya cinta itu pergi bersama Mita.. dan cinta itu cepat juga datangnya, lewat tatapan mata Bulan tadi.. tapi apa benar secepat ini aku menemukan pengganti Mita..? apa aku benar mencintai Bulan..? atau Bulan hanya sebagai pelarian sakit hatiku ini aja..?

Entahlah.. yang jelas aku akan menikmati semua perjalanan hidupku dikota ini.. kota yang membuat aku jatuh cinta, ketika pertama kali aku menginjakan kakiku disini tadi.. kota yang dingin, tenang dan menenangkan.. seperti tatapan mata Bulan..

#cuukkk.. perjalanan masih panjang dan ini awal dari semua kisahku yang baru.. kisah yang akan aku catatkan di dalam hidupku.. kisah yang pasti akan ada darah, cinta, sayang, rindu, benci, dendam, penghianatan dan persaudaraan.. dan aku akan menikmatinya semua.. salam kental..!!!

Bersambung

Daftar Part