. MATAHARI Part 22 | Kisah Malam

MATAHARI Part 22

0
312

MATAHARI Part 22

EMOSI

Pov Merry

Satu tahun yang lalu dipulau seberang..

“Yah.. Angger mau kuliah dikota pendidikan..” ucap Angger putra pertamaku kepada Wawang (Sandi Purnama Irawan), ketika kami sekeluarga sedang menonton televisi diruang tengah.. aku yang terkejut mendengar ucapan Angger, langsung melihat kearah putra tersayangku itu sebentar lalu aku melihat kearah Wawang.. Wawang pun hanya menatapku sambil menganggukan kepalanya sedikit dan tersenyum kepadaku.. Wawang seperti menyuruhku untuk tenang mendengar ucapan Angger itu..

“kenapa sih harus kekota itu nak..? kenapa ga dikota budaya..? kota kembang atau ibukota khayangan saja sekalian..?” tanya Wawang dengan tenangnya.. duhhh.. kenapa Wawang malah bertanya sih..? harusnya kan dia langsung melarang tanpa perlu bertanya – tanya seperti itu..?

“engga yah.. Angger mau kuliah dikampus negeri dikota pendidikan..” ucap Angger sambil membenarkan posisi kacamatanya..

Tuhkan.. Angger malah memantapkan perkataannya yang tadi.. kalau tadi Wawang melarangnya, aku yakin Angger ga akan bersuara lagi.. dan Angger pasti akan menuruti apa yang Wawang ucapkan..

Hal seperti ini sudah sering kami bicarakan.. Angger selalu meminta persetujuanku dan Wawang untuk melanjutkan pendidikannya kekota pendidikan.. dan walaupun Angger sudah sering minta persetujuan itu, tidak pernah sekalipun Wawang melarang atau menolak permohonan Angger.. Wawang hanya memberi pertimbangan Angger untuk memilih kuliah ke kota lainnya..

Terus terang aku yang paling berat melepaskan kepergian anak tersayangku ini.. bukannya aku melarang Angger untuk melanjutkan pendidikannya.. aku akan menyetujuinya dan mengijinkannya, kalau Angger kuliah selain dikota Pendidikan..

Bukan tanpa sebab aku sekhawatir ini.. aku mengenal sekali seluk beluk kota pendidikan itu seperti apa.. dan aku yakin, walaupun Wawang sudah menghabisi semua musuhnya pada waktu itu, bukan berarti Angger akan tenang kuliah tanpa ada permasalahan sedikitpun.. aku yakin pasti akan tumbuh musuh – musuh baru yang akan mengganggu Angger dan tidak menutup kemungkinan, musuh lama bangkit kembali lewat orang – orang baru atau orang lama yang tidak terpantau..

Memang banyak yang akan menjaga putraku itu ketika akan kuliah dikota pendidikan.. Keluarga Mbah Jati tidak mungkin akan melepaskan pantauan mereka terhadap Angger.. dan Wawang juga pasti akan menjaga Angger dari pulau seberang ini, lewat sahabat – sahabatnya yang masih banyak dikota pendidikan..

Tapi justru itu yang membuatku takut.. entah kenapa dipikiranku, ada sesuatu permasalahan yang sangat besar sekali yang siap menghadang Angger ketika ada dikota pendidikan.. dan pengawasan ketat dari keluarga Mbah Jati dan Wawang tidak akan sanggup untuk menjaganya..

Aku sangat takut sekali.. belum lagi kondisi kesehatan Angger yang selalu harus dalam pentauanku.. hiuuffttttt.. huuuuu…

Dan entah kenapa Angger pun berkeras untuk kuliah disana.. aku tau, Wawang pasti tidak akan sanggup untuk menolak keinginan Angger.. apalagi kalau Angger sudah punya keinginan yang kuat seperti itu, Wawang pasti akan luluh..

“tapi kenapa harus kekota pendidikan sih mas..?” tanyaku dengan sangat berat hati..

“Angger habis browsing tempat – tempat kuliah lagi Bun.. dan kelihatannya cuma kota pendidikan aja deh yang menarik hati buat Angger kuliah.. selain hawanya yang dingin, banyak almumnus SMA Angger yang kuliah disana Bun.. Angger sepertinya sudah cocok dengan kota itu, walaupun Angger belum pernah kesana..” ucap Angger sambil menatap mataku sejenak lalu menunduk..

Ya ampun nak.. Bunda ga sanggup untuk melepaskan Angger pergi kekota pendidikan itu.. tapi kalau tatapanmu seperti itu, Bunda juga gak mau membuat mu bersedih.. akupun langsung melihat kearah Wawang dan Wawang hanya mengangkat kedua pundaknya saja..

“iya Mas.. kuliah disana aja, nanti Gagah nyusul ya..” ucap anak keduaku Dede Gagah sambil bermain Hpnya..

“Dede.. kan Bunda sudah bilang berkali – kali.. kalau kumpul dengan keluarga, simpan Hp itu..” ucapku dengan tegasnya kepada Dede dan Dede langsung melihatku dengan ketakutannya..

Aku memang selalu melarang ada yang bermain Hp, ketika sedang berkumpul dengan keluarga seperti ini.. Hp itu memang bisa mendekatkan orang yang jaraknya sangat jauh, tapi Hp juga bisa menjauhkan orang yang sangat dekat.. orang yang sedang memainkan Hp ketika berkumpul seperti ini, pikirannya pasti kemana – mana.. dan tidak akan berkonsentrasi dengan orang yang ada disekitarnya..

Selain karena Dede bermain Hp tadi, kata – kata Dede yang membuatku sedikit emosi kepadanya.. yaitu ketika dia mengucapkan akan menyusul kekota pendidikan untuk kuliah disana.. duhhh.. sekarang Dedepun meminta untuk kuliah disana.. pasti setelah ini, sikembar juga akan meminta kuliah dikota pendidikan juga..

“iya Bunda.. maaf..” ucap Dede lalu menyimpan Hpnya dikantongnya..

“iya Bunda.. Mas Dede itu sukanya main Hp aja..” ucap anakku Bening..

“ho’oh..” sahut Banyu kembaran Bening..

Dan Dede langsung memelototi kedua adeknya itu..

“Yah.. Mas Dede itu loh melotot..” ucap Bening dengan manjanya ke Wawang.. dan putriku satu – satunya itu memang sangat manja kepada suamiku..

“Dede..” ucap Wawang dan Dedepun langsung tersenyum kepada kedua Adeknya lalu menundukkan kepalanya..

Setelah itu aku dan Wawang melihat kearah Dede yang masih menunduk itu..

“jadi Dede mau kuliah juga disana..?” tanyaku dan Dede langsung menganggukkan kepalanya pelan..

“terus kalian berdua..?” tanyaku lagi kepada sikembar Banyu dan Bening..

“iya Bunda…” jawab sikembar dan langsung membuatku terdiam.. aku sangat sedih sekali mendengar semua jawaban putra putriku ini..

Kenapa nak..? kenapa kalian semua mau kuliah dikota pendidikan..? bukannya Bunda tidak mengijinkan kalian untuk kuliah kesana..? tapi ada sesuatu hal yang sangat Bunda takuti, yang akan merintangi jalan kehidupan kalian disana..

Aku sadar kami semua nantinya akan berpisah, dan semua anak – anakku akan memilih jalan hidup mereka masing – masing.. dan aku juga sadar, berpisah dengan mereka ketika mereka semua akan kuliah, adalah proses pembelajaran untuk perpisahan kami yang akan lebih lama.. yaitu ketika mereka semua akan hidup dengan pasangan mereka masing – masing..

Dengan mereka berkuliah, pasti kami jarang sekali berkumpul, tapi mereka semua masih terikat dengan kami.. tapi nanti ketika mereka akan berkeluarga, mereka semua akan terikat oleh keluarga mereka masing – masing..

Aku sudah mempersiapkan diriku untuk semua itu, tapi kenapa harus kekota pendidikan..? berpisah dengan mereka saja sangat memberatkan bagiku.. apalagi berpisahnya karena mereka akan kekota pendidikan..

Ini sangat berat.. sangat berat sekali bagiku.. cukup sudah ketegangan waktu aku dan Wawang ketika masih kuliah dikota pendidikan.. cukup sudah keringat dan darah yang keluar dari kami berdua.. jangan anak – anakku lagi yang mengalaminya..

Dan pikiranku yang kalut ini, langsung membuatku emosi dan aku langsung berdiri meninggalkan suami dan anak – anakku untuk masuk kekamarku.. aku pun langsung menutup pintu kamarku dan aku langsung tidur dengan posisi tengkurap lalu menangis sejadi – jadinya..

Kenapa harus seperti ini..? apa tidak cukup aku dan Wawang yang mengalami semua ini..? kenapa anak – anakku juga harus mengalami semua ini..? kenapa..? kalau boleh jujur, semua pikiranku tentang masalah yang akan dihadapi putra putriku ini.. semua diawali oleh Mba Gadis.. kembaranku..

Ucapan Mba Gadis tentang perjalanan anak – anakku kelak yang sangat berat, selalu terbayang dikepalaku.. dan bayangan – bayangan permasalahan yang akan dihadapi anak – anakku pun, terbayang sangat mengerikan dikepalaku.. aku selalu dihantui oleh ucapan – ucapan Mba Gadis, waktu selesai pemakaman Mbah Jati belasan tahun yang lalu itu..

Kenapa aku harus menghadapi seperti ini..? kenapa aku harus menanggung kutukan mata hijau yang sangat mengerikan ini..? kenapa..? hikss.. hiksss.. hikssss…

Dan perlahan, aku merasa seseorang tidur disebelahku, lalu membelai rambutku pelan dan dilanjutkan dengan memeluk tubuhku sangat mesra sekali..

“Mey..” bisik Wawang ditelingaku sambil memelukku.. (Mey = Memey = Merry = Emery Naila Unna)

“kenapa wang..? kenapa aku harus mengalami semua ini..? tidak cukupkah kesedihanku ketika aku ditinggal oleh Mamah dan Papah ketika aku kecil dulu..? tidak cukupkah kesedihan yang aku alami ketika memperjuangkan cintaku kepadamu..? tidak cukupkah tangisku ketika melihat kematian kedua orang tuaku..? tidak cukupkah tangisku ketika melihat darahmu dan darah orang – orang yang aku cintai mengalir..? tidak cukupkah itu wang..? hikkssss.. hiksssss..” ucapku lalu aku menangis…

“dan sekarang bayangan permasalahan yang akan dihadapi putra – putri kita, akan menjadi nyata.. harus berapa banyak air mata ini akan mengalir wang..? hikss.. hikss.. hikss…” ucapku sambil terus menangis..

“mey.. aku tau ujian yang kamu hadapi ketika itu, sangat berat sekali sayang.. dan kalau aku menjadi dirimu, aku pasti tidak akan sanggup..” ucap wawang sambil memelukku dari belakang dan kedua tangannya langsung menggenggam tanganku dengan lembutnya..

“tapi kamu tau kan sayang.. dengan semua yang kamu alami, sekarang kamu menjadi wanita yang sangat kuat dan lebih kuat dari aku.. kamu adalah istri terhebat dan ibu terbaik dari putra – putri kita..” ucap Wawang sambil menarik tubuhku supaya aku tidur memiring dan Wawang tetap memelukku dari belakang..

“tapi apa anak – anak kita mampu menghadapi itu semua wang..? hikss.. hikss..” ucapku sambil menangis..

“pasti.. karena kasih sayangmu akan membuat mereka bertahan dan kuat menghadapi segala permasalahan yang ada..” ucap wawang lalu dia mengangkat wajahnya dan..

CUUPPP..

Wawang mengecup pipi kananku dengan lembutnya..

“wang.. mungkin Dede, Banyu dan Bening akan kuat.. tapi Angger..? Angger wang.. hikss… hikss…” ucapku dan tangisku makin menjadi..

“Angger itu anak yang lebih kuat mey.. kenapa kamu mengkhawatirkan dia..?” ucap Wawang lalu..

CUUPPP..

Wawang mengecup pipi kananku lagi.. aku pun langsung menarik nafasku dalam – dalam, lalu menolehkan wajahku kearah Wawang dan tangisku terhenti sesaat..

“kuat bagaimana..? Wawang ga ingat waktu Angger umur lima tahun, ketika Dede didorong anak tetangga kita yang usianya jauh lebih tua dari Angger.. kepala Dede berdarah dan itu membuat Angger begitu emosinya, sampai matanya berubah menyeramkan.. Angger menghajar anak tetangga kita sampai wajahnya dipenuhi darah.. dan tidak cukup itu saja.. Angger masih sangat emosi dan ingin membunuh anak itu dengan mengangkat batu yang sangat besar.. untung kita menghalanginya..”

“tapi apa kemarahan Angger mereda..? tidak.. justru kemarahannya makin menggila ketika mencium darah lawannya dan tubuhnya sangat panas sekali.. matanya sangat mengerikan wang.. mengerikan sekali.. aku sampai harus mengeluarkan semua tenagaku untuk memeluknya, dan semua energy mata hijauku sampai ketitik batas kemampuanku untuk meredakan kemarahannya..”

“dan akibat kemarahan yang sangat luar biasa itu, wajahnya memerah dan urat – urat diseluruh wajahnya nampak keluar.. kemarahannya yang tidak terlampiaskan sepenuhnya itu, membuat kepalanya seperti mau pecah dan dia sampai tidak sadarkan diri..”

“dan lihat hasilnya setelah itu wang.. lihat.. dia harus memakai kacamata dan dia tidak bisa berpikir terlalu berat atau emosi yang berlebihan sampai sekarang ini.. kepalanya pasti akan sakit wang.. sakit.. hikssss.. hikssss…” ucapku dan tangisku kembali pecah..

“aku tau sayang.. aku tau apa yang kamu pikirkan sama dengan yang aku pikirkan.. itu adalah kemarahan yang sangat mengerikan dari Angger dan membuatnya tidak bisa mengingat masa kecilnya itu.. tapi ingat.. di darahnya mengalir darahmu yang bisa membuatnya menenangkan dirinya sendiri..” ucap Wawang lalu..

CUUPPP..

Wawang mengecup lembut bibirku..

“tapi didarahnya juga mengalir darahmu yang panas Wang..” ucapku sambil menatap mata Wawang dan Wawang langsung membersihkan air mataku..

“dia akan bisa mengendalikan itu semua mey.. kamu harus yakin itu..” ucap wawang lalu..

CUUPPP..

Wawang mengecup bibirku lagi..

“apalagi ketika dia menemukan cintanya dan membantu dirinya untuk mengendalikan dirinya, seperti kamu yang bisa mengendalikan emosiku..” ucap Wawang lagi lalu..

CUUPPP..

“dan semua anak – anak kita pun, pasti akan membantu Angger mey..” ucap Wawang lagi dan..

CUUPPP..

Wawang mencium bibirku dengan lembutnya lagi..

“dan ingat kata Gadis waktu itu..? ‘saudaranya yang lain’ akan menantinya disana dan akan membantunya juga..” ucap Wawang lalu..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPP.. MUAACCHHH..

Wawang melumat bibirku dan mengulumnya dengan sangat lembut.. dan perlahan aku pun membalas lumatan bibir Wawang itu.. dan beberapa saat kemudian.. kami berdua melepaskan lumatan bibir kami dan saling memandang..

“Wang..” ucapku dengan bibir yang bergetar ketika Wawang mengucapkan ‘saudaranya yang lain’, mata Wawang berkaca – kaca serta bibirnya juga bergetar..

“maaf Mey..” ucap Wawang dan aku langsung membalikkan tubuhku dan aku langsung memeluk tubuh Wawang..

“sudah sayang.. sudah..” ucapku sambil memeluk tubuh Wawang yang seperti menahan emosinya..

Aku tau dia pasti akan merasa sangat terpukul ketika mengingat hal itu.. dia seperti menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dengan segala tingkahnya ketika belum menikah denganku..

“semua sudah terjadi dan kamu melakukan itu sebelum kita menikah.. aku mencintaimu Wang.. dan aku sudah mengetahui segalanya tentangmu sebelum kita menikah.. aku sudah memikirkan semuanya.. aku menerima segala kelebihan dan kekuranganmu.. dan kamu juga sudah membuktikan semuanya.. ketika kita sudah terikat dengan satu ikatan perkawinan, hanya aku yang ada dihatimu..” ucapku lalu..

CUUPPP..

Aku mengecup bibir Wawang untuk menenangkan dirinya.. aku tau dia sangat terpukul ketika dia mengingat kalau anak – anak kami memiliki ‘saudara yang lain’ dan itu anak Wawang dari wanita lain.. dia diam selama ini, karena ini untuk kebaikan semua.. dia tidak ingin merusak perkawinan dari ‘ibu anaknya’ dengan pasangannya yang lain.. walaupun itu sangat menyakitkan bagi Wawang.. Wawang harus memendam ‘kesalahannya’ itu selama bertahun – tahun, dengan air mata yang dia teteskan ketika merenung seorang diri.. aku tau kesedihan yang dia pendam selama ini dan aku tau dia sangat sakit sekali..

Aku juga sakit ketika mengetahui itu pertama kali dulu.. bohong kalau aku ga sakit.. tapi cinta kami berdua saling menguatkan dan air mata kesedihannya meluluhkan hatiku.. air mata yang ditumpahkan ketika seorang diri, dan kesedihan yang di buang bersama kepulan asap rokoknya ketika dia memikirkan semua itu.. Wawangku dengan segala cintanya dan kasih sayangnya, memendam itu sendiri dan selalu memohon maaf kepadaku setiap kami berdua.. gilaaaa..

“Mey..” ucap Wawang dengan bibir yang bergetar..

“sudahlah Wang.. jangan bahas masalah itu lagi, dan untuk masalah Angger.. kalau itu memang sudah jalannya, aku akan mengiklaskan kepergiannya kekota pendidikan..” ucapku dengan bibir yang bergetar.. lalu..

CUUPPP..

Aku mengecup bibir Wawang dan..

CUUPPP..

Wawang membalas kecupanku dipipi..

CUUPPP..

Dikening..

CUUPPP..

Dimata..

CUUPPP..

Ditelinga..

CUUPP..

Didaun telingaku..

Slurrrppppp.. dia menjilat daun telingaku sampai didalam lubang telingaku..

“wangg.. ahhhh..” desahku sambil memelukku Wawang..

“kamu memang wanita penyempurna hidupku mey..” ucap Wawang lalu..

CUUPPP..

Wawang mengecup bibirku lagi..

“aku sayang kamu mey..”

CUUPPP..

“aku cinta kamu mey..”

CUUPPP..

“wang.. aku juga sayang kamu..”

CUUPPP..

Aku membalas kecupannya..

Dan..

CUUPPP.. CUUPPP.. CUUPP.. MUAACCHHH..

Aku melumat bibir Wawang sesaat lalu melepaskan kulumanku sambil menatap matanya..

“maaf kalau aku menjadi wanita ga kuat ya sayang..” ucapku sambil menatap mata Wawang..

“siapa bilang kamu gak kuat..? bagaimanapun dan kondisi apapun.. kamu wanita yang terkuat dan terhebat yang pernah aku kenal..” ucap Wawang lalu..

CUUPPP..

Kembali Wawang mengecup bibirku..

“sekarang temuin Angger ya sayang.. dia sangat terpukul sekali ketika melihat kamu masuk kedalam kamar tadi..” ucap Wawang sambil menatap mataku..

“Angger..??” ucapku yang terkejut lalu aku mendorong dada wawang pelan sampai pelukan kami terlepas dan Wawang langsung tidur terlentang… aku baru sadar tentang Angger.. dia pasti sangat sedih sekali tadi..

“aku kekamar anak kita dulu ya wang..” ucapku lalu aku duduk dipinggir kasur, sedangkan wawang masih tertidur dikasur.. dan ketika aku berdiri..

PLAAKK..

Wawang menepuk bokongku.. ihhhh.. sempat – sempat Wawang menepuk bokongku.. kenapasih wawang ini suka sekali menepuk bokongku ini..?

“wang..” ucapku sambil menatap wajahnya yang mulai tersenyum lagi..

“jangan lama – lama ya sayang..” ucap Wawang sambil tersenyum dengan mesumnya lalu membenarkan posisi ‘kemaluannya’..

“ihhhh.. sempat – sempatnya mikir gitu.. dasar mesum..” ucapku lalu aku berjalan kearah pintu.. dan ketika aku sampai didepan pintu kamarku.. aku sempat melihat kearah wawang yang tidur terlentang dengan wajah menatap langit – langit kamar..

Tuhkan.. dia mulai memikirkan masalah itu lagi, ketika masalah itu tidak sengaja kami bahas tadi.. wajahnya terlihat sangat berpikir keras dan tatapan matanya kosong.. maaf wang, aku tinggal sebentar.. aku akan menemui Angger dulu dan setelah itu, aku akan menenangkan pikiranmu..

Aku pun melangkahkan kaki ku kearah kamar Angger.. dan ketika aku sampai dikamar anak tersayangku itu.. aku melihat dia sedang duduk didepan komputernya dan dia sedang membuka media social miliknya..

Akupun berjalan mendekati putraku itu dengan sangat pelan dan dia tidak menyadari kedatanganku ini..

Dan setelah aku berdiri tepat dibelakangnya, aku melihat dia sedang fokus melihat foto anak dari Lia dan Aldo.. Angelia.. waw.. apa Angger suka dengan Angelia..?

“wajahnya ga usah ditempatkan diberanda.. tapi ditempatkan ditempat yang lain aja..” tulis Angger dibawah kolom komentar, foto dari Angelia..

“dimana..? dihati boleh..?” Angelia membalas komentar dari Angger..

Ha..? mereka berdua ini saling menyukai..? beneran ini..? aku sih memang sedikit curiga ketika keluargaku dan keluarga Lia bertemu, untuk berkumpul seperti yang biasa kami lakukan sebulan sekali.. Angger dan Angelia sering curi – curi pandang.. aku dan Lia pernah membahas ini, dan kami berdua sepakat menyerahkan urusan ini kepada Angger dan Anggelia.. kalau mereka berdua berjodoh, aku dan Lia pasti akan akan sangat senang sekali..

“dimana aja boleh, yang penting kamu senang dan ga terganggu..” balas Angger sambil menganggukan kepalanya ketika mengetik tulisan itu..

“jawabannya bikin gemes ajanih si mas.. kalau dekat sini, sudah kucubit tuh pipinya.. hihihihi..” jawab Anggelia..

Waahhh.. beneran nih.. mereka berdua rupanya saling suka tapi mereka berdua masih malu – malu..

“ehem.. anaknya Bunda, sudah main cubit – cubitan ya..” ucapku yang langsung mengagetkan Angger dan aku langsung merangkul leher Angger dari belakang.. dan Angger langsung meminimaze jejaring social miliknya itu..

“loh kok di minimize mas.. hihihihi..” ucapku sambil tertawa.. lalu..

CUUPPP..

Aku langsung mengecup pipi Angger, untuk menenangkan dirinya yang terkejut dan malu karena aku pergoki sedang ‘bermesraan’ dengan Angelia lewat dunia maya..

“apasih bunda ini.. dia itu cuman teman aja loh..” ucap Angger sambil membenarkan posisi kaca matanya..

“emang kalau lebih dari teman kenapa mas..? ga apa – apakan..? lagian Bunda juga kenal sama Angel itu.. selain cantik dan baik, orang tuanya kan sahabat Bunda dan Ayah..” ucapku menggoda Angger dan masih tetap merangkul lehernya dari belakang..

“Bunda..” ucap Angger sambil melihat kearah wajahku yang tepat disamping wajahnya.. hidungnya pun sangat dekat sekali jaraknya dengan telingaku.. dan Angger langsung mengerutkan kedua alisnya..

“hihihihi..” aku hanya tertawa saja dan menatap layar komputernya.. mungkin anakku kaget sampai mengerutkan kedua alisnya dan menatapku dengan sangat herannya..

“Bun.. habis ngiler ya..? kok telinganya bau liur sih..?” tanya Angger dan aku langsung terkejut sambil melepaskan rangkulanku dilehernya.. aku lalu berdiri dengan tegaknya dan meraba lubang telingaku..

Duhhh.. kok bisa sih telingaku bau liur..? ya ampuunnn.. ini pasti tadi karena dijilat sama Wawang.. duuhhh.. kenapa ga kubersihkuan dulu sih tadi..? mana Angger melihatku terus lagi, aku jadi salah tingkah kan jadinya..

“apasih mas ini..? engga kok..” ucapku sambil membersihkan lubang telingaku dengan jari telunjuk dan jempolku bergantian..

“Bunda kayak anak kecil ah.. masa bobonya ngiler..” ucap Angger sambil melihat kearahku dan itu membuatku makin salah tingkah.. iihhh.. untung Angger ini masih polos.. kalau dia mewarisi sifat Wawang yang bajingan lendir, dia pasti curiga dengan bau ditelingaku ini..

“apisih mas ini..” ucapku sambil menjewer telinga Angger pelan untuk menutupi salah tingkahku..

“aduhh.. duhh.. duhhh.. Bunda ini loh..” ucap Angger sambil memegang tanganku..

Pov Purnama

Keparaaattt.. kenapa bisa aku kalah sama si Angger itu ya..? penasaran banget aku.. ngehe.. walaupun aku sempat memukulnya di akhir duel kami sampai dia terlempar dan terlentang dilantai, tapi dia masih bisa bangun.. dan yang membuat aku makin penasaran, kenapa bisa tatapan matanya menghitam, memerah lalu menghijau..? siapa dia sebenarnya..?

Dan emosiku yang memuncakpun, bisa langsung mereda ketika melihat tatapan mata Angger itu.. aku seperti takluk lewat tatapannya yang sangat mengerikan itu.. kalau dipikir, tatapannya yang berubah – ubah warnanya itu hanya sesaat, dan itu sudah membuat dia terlihat menakutkan sekali.. bagaimana kalau ketiga warna mata itu menyatu dan dilampiaskan keaku..? aku ga bisa membayangkan seandainya Bulan dan Omah tadi ga datang, mungkin aku bisa kalah dengan sangat telak sekali, atau malah aku bisa mati ditempat.. brengseekkk..

Aku kira setelah menumbangkan Panji, aku kan menjadi yang terkuat diantara pondok merah dan black house.. ternyata aku salah besar.. aku takluk dari penghuni kos – kosan yang hanya diiisi oleh anak – anak pecandu game, gedung putih.. ngenttottt..

Aku yang biasa bisa mengendalikan diri, hari ini tidak sama sekali.. emosiku pun seperti dipermainkan.. kenapa bisa aku seperti ini..? keparaaattt..

Rasa penasaranku dengan Angger selama ini pun, akhirnya bisa terbayar dengan kekalahan telakku.. ya.. bagiku ini sangat telak, apalagi terjadi dikosanku.. ngeheee…

Terus kenapa juga Upik bisa menyerang gedung putih..? bukannya aku menyesal karena Angger telah datang membalas dendam dan mengalahkan aku, bukan seperti itu.. tapi gedung putih itu kan tempat kami main dan berkumpul.. ibaratnya disana itu rumah kedua kami.. kenapa si tolol Upik itu malah menghajar mereka..? brengsek banget sih..

Dan sekarang aku hanya bisa diam dan merenungi kejadian hari ini, aku masih bingung apa yang aku lakukan setelah ini..? apa aku akan membalas Angger dan menatangnya berduel di gedung putih..? apa aku masih punya nyali untuk berduel dengannya..? ngentottlah semua..

Belum lagi pasti setelah ini, aku pasti akan mendapatkan omelan dari Omah Yanti.. ya, aku sekarang dalam perjalanan kerumah Omah Yanti.. setelah duelku tadi, aku mengendarai mobilku sendiri.. sedangkan Omah Yanti naik ke mobil Bulan..

Oh iya, kenapa bisa aku memanggil Omah ke Omah Yanti.. harusnya kan aku manggil Bude, bukannya Omah.. jawabannya simpel, karena Omah Yanti itu kakak dari mamahku.. (jawabannya ga memuaskan ya..? ngehe..)

Jadi begini.. Mamah itu kan nikahnya telat.. dan usia Mamah dengan Omah Yanti itu jaraknya jauh banget.. dan pada saat aku lahir, kedua orang tua Mamah dan Omah Yanti itu sudah gak ada.. makanya aku dan Bulan, menganggap Omah Yanti itu sebagai pengganti Omah yang tidak pernah kami lihat.. (ngehee.. kenapa bahas masalah panggilan ke Omah sih..? aku itu lagi emosi sekarang.. jadi cukupkan penjelasannya.. brengseek..)

Selain emosi, pikiranku itu sekarang juga campur aduk.. takut, marah, sedih, jengkel dan bingung jadi satu dikepalaku ini.. aku harus menyelesaikan satu – satu yang ada dikepalaku sekarang ini.. dan yang paling urgent, tentu saja Omah Yanti.. apa yang harus aku jawab ya, kalau seandainya ditanya kenapa duel sama Angger..? wahhhh.. urusan satu ini aja sudah bikin kepalaku pusing..

Tapi entar dulu, kenapa Omah Yanti selalu datang ketika aku duel dengan orang yang berhubungan dengan Keluarga Jati ya..? oh iya.. kok baru kepikiran aku ya..? waktu aku duel dengan Panji, Omah datang melerai.. sekarang, dengan Angger yang keluarga dari Panji.. Omah juga datang dan melerai.. ada apa ini..? apa hubungan Omah dengan Keluarga Jati..? aku awalnya berpikir Omah melerai duelku dengan Panji, karena kami duel dipondok merah kos milik Omah.. jadi aku berpikirnya, wajar saja Omah datang dan melerai.. tapi sekarang, aku dan Angger duelnya dikosanku.. ngeheee.. sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ini semua..

Dan akhirnya, makin banyak saja pertanyaan dikepalaku ini.. aku harus cari tau ini semua.. ini pasti ada hubungnnya denganku dan Bulan.. kenapa aku bisa berpikir seperti itu..? warna mataku yang memerah dan warna mata Bulan yang menghitam ketika emosi, ada juga di mata Angger.. brengseekkk.. kok jadi kusut seperti ini ya..?

Aku harus berpikir tenang, setenang – tenangnya.. supaya ini menjadi jelas, sejelas – jelasnya..

Dan ditengah pikiranku yang makin kemana – mana ini, mobilku pun masuk diarea perumahan elit di dekat terminal utama kota ini.. dan itu berarti, sebentar lagi aku akan sampai di rumah Omah Yanti..

Wuuuhhhh.. semoga Omah Yanti ga murka denganku dan mengirimku balik ke ibu kota khayangan.. dan setelah sampai didepan rumah Omah Yanti, aku pun langsung memarkirkan mobilku dan turun dengan perasaan yang sangat takut sekali..

Dan sebelum membuka pintu rumah Omah Yanti, aku menarik nafasku dalam – dalam lalu mengeluarkannya perlahan.. hiuufftttt.. huuuuuu..

Aku pun langsung membuka pintu rumah Omah Yanti.. dan diruang tengah, Omah Yanti sudah menantiku dengan duduk dan pandangan yang lurus kedepan.. wajah Omah yang memang terlihat sadis itu, makin terlihat mengerikan lagi.. huuuuuu.. ngenttoootttt..

Aku lalu duduk dikursi sofa tidak jauh dari Omah duduk.. dan suasana yang tegang pun langsung menyambutku diruang tamu ini.. Omah diam saja tanpa mengajakku berbicara.. dan itu makin membuat hatiku ciut, seciut – ciutnya..

Dan ga berapa lama, Bulan datang dari arah dalam rumah sambil membawa peralatan P3K.. Bulan langsung duduk didekatku sambil mengeluarkan kapas dan alcohol.. dan tanpa berbicara, adikku ini langsung menuangkan alcohol kekapas dan langsung membersihkan lukaku ini..

Keparat.. baru sadar aku kalau mukaku penuh luka.. ga sakit sih ketika adekku ini membersihkannya, tapi justru hatiku yang sangat perih menatap adekku yang sangat khawatir terhadapku ini..

Dan setelah membersihkan lukaku, adekku langsung menutup lukaku dengan dengan kapas yang telah diberi obat dan langsung diplesternya.. setelah itu Bulan masuk lagi dan tetap diam tidak mengajakku bicara sedikitpun.. ngeheeee..

“sampai kapan kamu akan seperti ini..?” tiba – tiba suara Omah terdengar dan itu seperti petir yang mengejutkan aku.. dan Omah mengatakan itu tanpa melihat kearah wajahku..

Ngentott.. padahal pertanyaanya biasa aja, tapi ini adalah pertanyaan yang sudah sering kali ditanyakan kepadaku ketika aku habis berkelahi.. dan aku selalu diam ketika pertanyaan ini dilontarkan Omah kepadaku..

“apa sampai Bulan menutup seluruh tubuhmu dengan kain putih, baru kamu akan berhenti dengan kegilaanmu ini..?” ucap Omah lagi dan itu makin membuatku terkejut.. gilaa, belum pernah Omah mengatakan hal ini kepadaku.. padahal biasanya hanya, sampai kapan kamu akan seperti ini..? itu saja.. dan kalau aku tidak menjawabnya, Omah akan masuk kamar dan keesokan harinya sudah bersikap seperti biasa lagi.. tapi kenapa hari ini Omah mengatakan hal yang sangat mengerikan seperti ini..? apa karena aku habis berduel dengan Angger dan Omah sudah tau tentang kegilaan Angger..? gila nihhh..

“Purnama akan jawab semua itu, kalau Omah menjawab satu pertanyaan Purnama..” ucapku.. loh..? ngomong apa aku ini..? ga salah nih..? gimana nanti kalau Omah langsung murka dan benar – benar mengirimkan aku ke ibu kota khayangan..? ngentttottt..

Dan Omah pun langsung melihat kearahku dengan tatapan tajam dan sangat dalam sekali..

“apa pertanyaanmu..?” ucap Omah dengan dinginnya..

Apa aku akan mengajukan pertanyaan yang ada dikepalaku ini..? kalau Omah marah gimana..? tapi kalau gak kutanyakan, aku harus bertanya apa..?

“apa hubungan keluarga besar kita dengan Keluarga Jati….?” Tanyaku dan aku mengatakan itu dengan sangat berhati – hati.. gilaaa.. akhirnya aku bisa juga mengeluarkan kata – kata ini dan itu langsung membuat Omah terdiam dan matanya makin tajam menatapku..

“kenapa Purnama harus bertanya seperti itu nak..?” tiba – tiba seorang wanita setengah baya datang dari arah pintu depan dan itu langsung mengejutkan aku..

“Ma.. Ma.. Mamah.. kapan datang..?” tanyaku dan aku langsung berdiri melihat kedatangan Mamah tersayangku ini..

“jawab pertanyaan Mamah.. kenapa Purnama menanyakan hal itu..?” tanya Mamahku dan tidak ada senyuman keluar dari bibir beliau seperti biasa ketika melihatku..

“Mamah..” ucap Bulan yang baru keluar dari ruang tengah dan dengan terkejutnya..

Mamah tetap melihatku dengan telapak tangan kirinya diarahkan ke Bulan, supaya adekku itu tidak mendekat kemamah..

Akupun langsung menunduk dan ketakutan, melihat Mamahku yang tiba – tiba datang dengan kemarahannya ini..

“Ma.. ma.. maaf Mah..” ucapku dengan bibir yang bergetar lalu menunduk..

“Mah..” tiba – tiba datang Papahku dari arah luar dan langsung merangkul Mamah.. Papahku pun seperti menenangkan Mamah yang emosi ini.. aku mengangkat wajahku sejenak lalu menunduk lagi..

“jawab pertanyaan Mamah nak..” ucap Mamahku dan aku tetap diam smbil menunduk..

Lalu terdengar langkah Mamah yang mendekati aku.. dan setelah berdiri dihadapanku..

“kenapa anak Mamah ini tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya, malah bertanya dengan pertanyaan yang gak penting seperti itu..? kenapa nak..?” ucap Mamahku pelan tapi sangat tegas..

Akupun lalu mengangkat wajahku dan menatap wajah Mamah.. entah setelah ketakutan yang luar biasa tadi, sekarang aku memiliki keberanian untuk menatap wajah Mamah..

“bagi Purnama sangat penting Mah.. karena ini sangat menganggu pikiran Purnama..” ucapku dan aku sangat lancar sekali mengucapkannya.. gila.. dapat keberanian dari mana aku ini..? lalu tiba – tiba..

PLAKKKK..

Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat dipipiku.. gilaaa.. kenapa Mamah menamparku..? belum pernah Mamah melakukan hal ini selama hidupku.. jangankan menampar, membentakku saja tidak pernah dilakukan oleh Mamah.. tapi kenapa hari ini seperti ini..? dan ini makin membuat aku berpikir keras tentang siapa itu keluarga Jati.. Mamah pasti melakukan ini karena aku menyebut keluarga Jati.. keparattt.. dan tamparan Mamah ini membuat aku membenci Keluarga Jati, dan satu orang yang paling membuatku benci.. seseorang yang bernama Angger.. aku akan membalasnya dan aku ga perduli matanya akan berubah berwarna apa.. aku akan mencari cara untuk menghancurkannya.. itu janjiku.. janji seorang Purnama yang tersakiti..

“Jenny..” teriak papahku..

“Mamah..” Bulan juga berteriak..

“dekk..” teriak Omah..

Dan mata Mamah pun langsung berkaca – kaca..

“tamparan Mamah ini ga akan menyelesaikan kenakalan Purnama.. dan pertanyaan Purnama tadi, justru membuat Purnama membenci Keluarga Jati.. terserah setelah ini Mamah berbuat apa.. yang jelas Purnama akan membalas tamparan ini dengan mengancurkan semua keluarga Jati..” ucapku dengan emosinya lalu aku keluar rumah meninggalkan Mamah yang mulai menetskan air matanya..

Keparat.. belum pernah aku berkata kasar seperti itu kepada Mamah.. dan hari ini aku membuat Mamah marah sekali dan aku berani berkata seperti itu kepada Mamah.. oke.. aku akan membalas Angger.. tunggu waktu itu akan tiba dan dia akan membayar semuanya secara tunai.. ngentottttt..

Aku lalu mengendarai mobilku dan memacunya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali.. entah kemana tujuanku.. yang jelas, aku sangat emosi kali ini.. belum pernah aku seemosi seperti saat ini.. bangsaattt..

Dan tiba – tiba mobilku berhenti disebuah kos – kosan.. loh kenapa aku berhenti dikos ini..? kenapa hatiku menuntunku kesini..?

Dan anehnya aku malah memarkirkan mobilku lalu aku turun.. setelah itu aku berjalan kearah kosan itu lalu memencet belnya..

TING.. TONG..


Mita Aurela Queensha

Dan wanita yang aku caripun, langsung muncul dan membuka pintu kosannya.. wanita yang aku cintai dan wanita yang selalu menolak cintaku, ketika aku mengungkapkan isi hatiku kepadanya.. tapi entah kenapa.. aku selalu tetap mendatanginya dan aku ingin memperjuangkan cintaku kepadanya, sampai dia menerima dan membalas cintaku

“Mas Purnama..? kenapa kamu mas..?” ucap Mita dengan wajah yang sangat khawatir melihatku wajahku diperban..

Dan aku tidak menjawab pertanyannya.. aku langsung memeluknya dengan erat.. bangsaattt… belum pernah aku seberani ini ketika aku dihadapannya.. jangankan memeluk, memegang tangannya saja aku tidak berani.. tapi hari ini, ketika aku sedang dikuasai emosi dan tidak tau harus dilampiaskan kemana.. aku justru memeluk wanita yang sangat kucintai ini..

Aku memeluknya dengan sangat erat dan mataku langsung berkaca – kaca..

“Mas..” ucap Mita pelan dan perlahan dia membalas pelukanku.. pelukannya yang terasa hangat itu langsung meredakan emosi yang menguasai kepalaku..

Dadakupun langsung bergetar dan perlahan air mataku menetes.. aku sangat bersedih sekali hari ini.. Mamah yang sangat kusayangi, menamparku dengan keras dan itu membuat hatiku sangat perih sekali.. tamparan Mamah sebenarnya ga terlalu sakit dibandingkan pukulan Angger, tapi efeknya lebih menyakitkan dari pukulan Angger atau siapapun lawan duelku selama ini.. bangsaattt..

Dan Mita yang menyadari dadaku bergetar dan isakan tangisku terdengar.. langsung membelai punggungku dan juga membelai rambut belakangku..

Dia tidak mengucapkan sepatah kata lagi.. dia hanya menenangkan aku dengan belaiannya yang sangat lembut, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan pikiranku..

Kamipun berpelukan cukup lama sekali dan tidak saling bicara.. dan setelah aku menguasai diriku dan emosiku perlahan mulai tenang.. aku melepaskan pelukanku dan aku langsung menatap mata Mita..

“maaf kalau aku telah kurang ajar dengan memelukmu.. maafkan aku..” ucapku dengan bibir yang bergetar sambil menatap mata Mita..

Dan Mita langsung memegang pipiku dan membelainya dengan lembut..

“mas kenapa sih..? kalau mas mau cerita, Mita siap dengarin kok..” ucap Mita dengan sangat lembutnya..

“engga ada apa – apa.. aku cumah butuh pelukan dari wanita yang sangat kucintai ini..” ucapku dan Mita langsung melepaskan belaiannya diwajahku..

“maaf mas..” ucap Mita dengan bibir yang bergetar..

“ga ada yang perlu di maafkan Mit.. aku hanya mengutarakan isi hatiku, dan terserah kamu bagaimana.. yang jelas, disaat emosi seperti ini.. cuman kamu yang bisa meredakannya.. wanita yang kucintai dan akan selalu kucintai..” ucapku lalu aku membalikkan tubuhku dan berjalan meninggalkannya yang berdiri mematung dan perlahan menegakkan pandangannya kearahku..

“mas.. jangan seperti ini..” ucap Mita dibelakangku.. aku lalu menghentikan langkahku dan menoleh kearah Mita..

“aku cinta kamu Mit..” ucapku lalu aku tersenyum dan aku langsung membalikkan tubuhku lagi dan pergi meninggalkannya yang perlahan mulai meneteskan air matanya..

Aku lalu menuju kosanku.. dan ketika aku sampai dikosanku.. semua penghuni kosanku sedang berkumpul diruang tengah.. dan disana juga ada Upik yang wajahnya babak belur..

Aku lalu membakar rokokku dan bergabung dengan semua kawan – kawanku yang nampak sangat tegang sekali ini..

“sudahlah ga usah dipikir tentang kejadian tadi.. aku akan membalas semua ini secepatnya..” ucapku lalu menghisap rokokku..

Dan semua temanku langsung menatapku termasuk Upik..

“tentang kejadian tadi dikos gedung putih..” ucap Upik terpotong karena aku langsung menatapnya.. Upik langsung menunduk dan dia seperti ketakutan kalau aku marah kepadanya..

“sudahlah Pik.. santai aja.. aku tau kamu menyerang kesana, pasti ada penyebabnya.. kamu sahabatku dan sebagian anak digedung putih juga sahabatku, kecuali Angger..” ucapku lalu aku melanjutkan hisapan rokokku dan Upik langsung menatapku..

“aku akan membicarakan dengan Uzi dan Aksa untuk membicarakan masalah itu.. aku akan menyelesaikan dengan mereka berdua, yang dituakan digedung putih.. dan pasti dengan cara yang baik – baik.. dan untuk Angger, aku akan secepatnya membalas semua ini..” ucapku dengan santainya..

“mana minumannya ini..? kita lanjut pestanya lagi..” ucapku.. dan seorang temanku langsung mengambil minuman.. lalu setelah itu kami semua melanjutkan pesta kami..

Pov Angger

“AARRGGGHHHHHHH..” aku memegangi kepalaku yang seakan mau pecah ini dan aku berteriak sekeras – kerasnya..

“NGGER.. KAMU GA APA – APAKAH..?” teriak Dylan diluar kamarku yang tertutup dan pintunya aku kunci dari dalam..

“NGGERR..” teriak Mas uzi dan Mas Zidan..

“ANGGEERRR..” teriak mas Aska dan beberapa temanku lainnya..

JEDUKKK.. JEDUKK.. JEDUKKK..

Aku membenturkan jidatku ini ketembok, karena aku sudah tidak kuat dengan sakitnya kepalaku yang sangat luar biasa sekali ini..

“AAARGGGHHHHHH..” aku berteriak sekencang kencangnya, bukan karena benturan jidatku.. tapi sakitnya yang kurasa dari dalam kepala.. kepalaku seperti akan meledak saja..

“JIAANNNCCOOOKKKK..” teriakku.. lalu..

JEDUKKK.. JEDUKK.. JEDUKKK..

Aku terus membenturkan kepalaku ditembok…

“NGGERRRR..” teriak teman – temanku lagi..

“DIAAAMMMMM..” teriakku dan mereka semuapun langsung terdiam.. lalu..

JEDUKKK..

Aku menghantamkan kepalaku dengan kerasnya kedinding dan kepalaku langsung berkunang – kunang lalu gelap…

Cuukkk.. aku pingsan atau aku mati ini..? kenapa kepalaku bisa sesakit ini..? apa karena aku emosi waktu menghajar Purnama tadi..? tapi kenapa bisa sakitnya luar biasa..? rasa sakit ini memang sering datang ketika aku memikirkan sesuatu, tapi ga pernah sesakit ini.. ini sangat sangat sangat sakit sekali.. kepalaku pun rasanya mau pecah saja.. jiancookkkk..

Lalu samar – samar.. suara gemercik air dari sebuah sungai terdengar merdu ditelingaku.. hembusan angin sepoi – sepoi juga terasa dikulitku.. dimana aku ini..? akupun langsung membuka mataku perlahan..

Cuukkk.. ini digubuk desa antara jati luhur dan jati bening.. ini pondok Mayang Gadis.. kenapa bisa aku ada disini..? akupun langsung duduk dipinggir balai gubuk ini.. dan ga berapa lama,seorang wanita cantik dan seorang nenek datang kearahku..

“Mayang..?” ucapku dan Mayang pun langsung tersenyum kepadaku lalu melihat kearah wanita tua disebelahnya..

“lihat Mah.. cucumu ini ganteng sekali ya..” ucap Mayang kepada wanita tua itu..

“iya dis.. dia ganteng sekali..” ucap wanita tua itu..

Cucu..? maksudnya wanita tua ini Eyangku..? ini Eyang Putri Irene, Mamah dari Bundaku..? aku memang pernah melihat foto beliau bersama Eyang Kakung Jefri.. tapi foto itu waktu beliau masih muda.. dan wajah beliau memang sangat mirip dengan wajah Bunda..

“dis.. bisa aku ngobrol berdua dengan cucuku ini..?” ucap wanita tua itu kepada Mayang Gadis..

“iya Mah.. Gadis main disungai dulu ya..” ucap Mayang Gadis sambil tersenyum dengan manjanya..

“bay ngger..” ucap Mayang pamit kepadaku lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah sungai..

“hai ngger..” ucap wanita tua itu..

“maaf.. Eyang ini..?” ucapku terpotong dan beliau langsung duduk disebelahku..

“iya.. ini Eyang Putri..” ucapnya lalu tersenyum sambil menoleh kearahku..

Akupun langsung memeluk beliau dengan eratnya dan mataku langsung berkaca – kaca..

“E.. E.. Eyang.. apa Angger ini sudah mati ya..?” tanyaku sambil memeluk beliau..

“ihh.. kok ngomongnya gitu sih sayang..? bukannya nanya kabar Eyang, malah ngomongnya serem begitu.. iiiiiii..” ucap Eyang sambil menggidikkan tubuhnya dan masih memelukku..

Kabar..? ga salah nih..? bukannya Eyang sudah lama ga ada..? masa aku nanya kabar beliau dialam sini sih..?

“ya memang kalau berbeda alam, ga boleh ditanyain kabarnya..?” ucap Eyang Irene yang seperti bisa membaca pikiranku sambil membelai rambutku.. lalu beliau melepaskan pelukannya dan menatapku sambil membelai pipiku dengan lembutnya..

“ya ga apa – apa sih Eyang.. tapi kan Angger tadi sakit, makanya Angger tanya.. Angger masih hidup atau sudah mati..?” tanyaku sambil menatap mata beliau yang sangat meneduhkan itu.. tatapan mata beliau sama seperti Bunda.. tenang dan mendamaikan..

“masih hidup lah sayang.. belum waktunya Angger itu meninggalkan dunia ini.. Angger belum menyelesaikan semua masalah yang ada didepan Angger..” ucap Eyang sambil terus membelai wajahku..

“masalah apa Eyang..? masalah cinta..? kalau itu Angger ga sanggup yang.. Angger ga sanggup..” ucapku lalu menunduk..

“hihihihi.. masa cucu Eyang ini kalah sama Eyang Kakung Jefri, yang terkenal dengan rayuan mautnya kepada wanita..” ucap Eyang Irene dan aku langsung mengangkat wajahku..

“masa sih Eyang..?” tanyaku..

“bukan hanya Eyang Jefri.. tapi Ayahmu juga.. hihihihihi..” ucap Eyang Irene lalu tertawa lagi..

“serius Yang..?” tanyaku lagi..

“iya lah ngger.. kalau mereka ga terkenal dengan rayuan mautnya, mana mungkin Eyang Jefri dan Ayahmu Sandi, bisa mendapatkan wanita secantik Eyang ini dan secantik Bundamu.. hihihihihi..” ucap Eyang Irene sambil membelai rambutku..

“tapi itukan Eyang Kakung dan Ayah.. bukannya Angger yang penakut dengan yang namanya Wanita..” ucapku lalu aku menundukkan kepalaku..

“hey.. jangan menundukkan wajahmu seperti ini, ketika bertatapan dengan seorang wanita.. didarahmu ini mengalir darah seorang pejuang bernama Van Gerrit (Ayah dari Eyang Irene).. didarahmu ini mengalir darah seorang petarung yang bernama Jati (Ayah dari Eyang Irawan).. didarahmu ini mengalir darah seorang pemberani bernama Aminoto (ayah dari Eyang Jefri).. didarahmu ini mengalir darah seorang yang sangat bijak bernama Ranajaya (Ayah dari Eyang Putri Anjani).. jadi tidak ada alasan bagimu untuk menunduk karena masalah cinta..” ucap Eyang Irene sambil menatapku dengan tatapan yang berubah menjadi tajam..

“tapi Eyang..” ucapku terpotong..

“kamu laki – laki yang sangat luar biasa sayang.. tatapan matamu ini dapat menaklukkan wanita manapun yang kamu sukai.. sekarang tinggal bagaimana cara memantapkan hatimu, untuk memilih wanita yang akan menjadi pendampingmu kelak.. wanita yang sangat beruntung dan kamu juga harus menjadi laki – laki yang beruntung, untuk mendapatkan cintanya..” ucap Eyang Irene dengan lembutnya dan sekarang tatapan mata beliau berubah menjadi hijau dan aku larut dalam tatapan mata itu..

Gilaaa.. ini warna mata apa lagi..? kenapa ada warna hijau dan ini sangat, sangat, sangat menyejukkan dan menenangkan hatiku.. gilaaaa..

Dan aku hanya diam terpaku menatap mata eyang yang menyejukkan itu.. lalu beliau merangkulku dan memelukku.. dan setelah memelukku, beliau lalu mengelus rambutku sampai mataku mengantuk dan kepalaku langsung aku sandarkan dipaha beliau..


Lalu terdengar langgam bahasa pulau ini dari mulut beliau yang sangat merdu sekali.. kepalaku yang sangat pusing tadi pun berlahan mulai menenang.. matakupun mulai terpejam dan aku terlelap sekali..

TOK.. TOK.. TOK..

BRAKK.. BRAKK.. BRAKK..

Ketukan yang keras, berubah menjadi gebrakan yang keras dari arah pintu kamarku.. aku pun langsung membuka mataku.. cuukkk.. kok aku tertidur dilantai kamarku sih..? terus siapa itu yang mengetuk pintu kamarku..? jiancookkkk..

“ANGGERRR.. ANGGERRR..” teriak seseorang dengan kerasnya dan kalau aku dengar itu suara Badai..

BRAKK.. BRAKK.. BRAKK..

“ANGGERRR.. ANGGERRR..” teriak Badai lagi..

Cuukkk.. kenapa teriak begitu sih..? dia marah sama aku kah..? atau ada masalah dengan aku..? jianncookkk..

Akupun langsung berdiri dan berjalan kearah pintu kamarku lalu membuka pintu kamarku.. dan ketika aku membuka pintu kamarku, didepan kamarku berdiri Badai, Mas Panji, Dylan, Rogi dan anak – anak kos gedung putih yang terlihat sangat panik sekali..

“ANJIIINGGGG..” maki Dylan dan Rogi keapadaku..

“BANGSAAATTT..” maki Badai dengan kerasnya..

Sementara Mas Panji dan semua gedung putih lainnya hanya menatapku dengan tajam sambil menggelengkan kepalanya..

“kalian ini kenapa sih..? kayak orang kesetanan aja..” ucapku dengan santainya lalu aku berjalan melewati mereka dengan santainya..

“bangsaattt.. dia yang bikin orang khawatir terus dia malah kayak ga ada apa – apa.. assuuu..” maki Dylan..

“mau kemana kamu ngger..?” tanya Badai yang terdengar masih emosi..

“mau beli permen.. permenku habis..” ucapku dengan santainya sambil terus berjalan kearah pintu luar kosanku dan menuju minimarket seberang kosanku..

#cuukkk.. kok sakit kepalaku yang sangat luar biasa tadi, bisa hilang ya..? apa karena aku bertemu dengan Eyang Irene..? apa tatapan Eyang Irene bisa meredakan sakit dikepalaku..? terus kenapa bisa kepalaku sakit luar biasa seperti tadi..? apa karena aku emosi waktu melawan Purnama..? cuukkk.. banyak banget pertanyaannya.. JIANCOOKKK..!!!!

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler