. MATAHARI Part 21 | Kisah Malam

MATAHARI Part 21

1
280

MATAHARI Part 21

SAKIT

Cinta..? apa itu cinta..? katanya dapat membuat kedamaian disekitar kita.. katanya dapat menyatukan.. katanya dapat membahagiakan.. tapi apa yang kudapat..? air mata kesedihan dan kebencian aja dari mereka – mereka yang aku cintai..

Salah kalau aku mencintai banyak wanita..? salahnya dimana..? di liverpool..? bukan jawaban itu yang aku mau, aku lagi ga pengen bercanda.. hatiku sudah terluka dengan semua ini.. kalau memang aku salah dengan membagi cintaku, kenapa harus diciptakan berbagai jenis wanita dengan berbagai sikap dan sifat..? kenapa ga diciptakan satu jenis saja.. cantik.. iya cukup itu saja.. ga perlu ada yang semanja Lia, seimut Kaila, ‘seliar’ Kak Dana, sedingin Bulan atau bahkan sedalam tatapan mata Clara.. cukup satu saja yang diciptakan.. cantik.. entah cantik hatinya, wajahnya, perilakunya atau cantik cintanya.. jadi kalau hanya satu pilihan saja yaitu cantik, ga perlu aku membagi cintaku..

Cinta..? apa itu cinta..? apa hanya untuk membuat lara didada..? atau hanya untuk luka..? terus untuk apa cinta itu ada, kalau akhirnya yang dirasa hanya itu saja..?

Cinta..? dikota ini aku diikat olehnya dan dikota ini juga hatiku beku olehnya.. gilaaa..

Sakit.. terlalu sakit yang aku rasakan saat ini.. belum pernah aku mengalami yang namanya indahnya bercinta, dan sekali terjerumus langsung terbelah – belah lalu akhirnya kecewa.. kan bajingan kalau begitu.. terus aku harus menuntut kemana kalau sudah begini..? memang hatiku sudah membeku, tapi bukan berarti aku menerima semuanya dengan berlapang dada.. harus ada jawaban dari semua ini, tapi dimana aku mencarinya..? atau aku biarkan saja hatiku membeku seperti ini dan membiarkan waktu yang akan menjawabnya..

Hiuuttttt.. huuuu.. persetanlah dengan cinta, persetan dengan rasa dan persetan dengan kata.. aku akan menikmati ini semua sebagai pribadi yang baru, dan acuh dengan semua itu..

Tutup lembaran lama dan membuka lembaran baru, itu yang akan aku jalani sekarang.. mungkin aku tidak berbakat untuk bermain cinta, dan lebih baik aku akan fokus mengejar cita – cita.. kesimpulannya untuk kali ini.. aku, cinta, end..

Aku lalu menarik nafasku dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan.. lalu setelah merapikan pakaianku dan memakai kaca mataku, aku pun keluar kamar dan akan pergi ke kampusku untuk persiapan UHS semester dua ini..

Oh iya disemester satu kemarin, nilaiku IPku 2,80.. kecewa juga sih, karena aku menargetkan 3,00.. tapi apa daya, hanya nilai segitu yang kudapat dan semester ini aku harus menebusnya dengan lebih baik lagi..

Dan setelah aku diluar kamar, aku melihat Mas Zidan sedang duduk bersama Bulan… juhhh.. ngapain lagi sih ada Bulan disini..? sudah lebih sebulan ini aku tidak melihatnya datang kekosku atau ketika dikampus.. tapi kenapa dia hari ini datang lagi..?

Tapi biarlah.. diakan teman satu angkatan Mas Zidan dan teman satu kelasnya juga, jadi buat apa aku memikirkan itu.. lagian juga kami tidak memiliki hubungan apapun dan aku juga sudah mengunci hatiku.. jadi buat apa kuambil pusing..

Bulan Mahardini Darmawan

“mau kemana ngger..?” tanya Mas Zidan ketika aku akan melewati tempat duduk mereka..

“kekampus mas..” ucapku sambil menghentikan langkahku sebentar sambil melihat kearah Mas Zidan.. aku sempat melihat kearah Bulan yang menatapku sebentar lalu dia mengalihkan pandangannya kearah yang lain.. tatapan matanya seperti dia memendam sesuatu dan ingin disampaikan kepadaku.. tapi sudahlah, cukup.. dari pada nanti malah terkorek lagi hati ini, lebih baik aku pergi saja..

“kutinggal ya mas..” ucapku dan Mas Zidan hanya menatapku lalu melirik kearah Bulan sebentar lalu melihatku lagi..

Aku lalu melangkahkan kakiku lagi menuju pintu kosku..

“ada apasih dengan kalian berdua ini..?” ucap Mas Zidan dengan suara yang agak keras dan langsung mengejutkanku.. aku pun langsung membalikkan tubuhku dan melihat kearah Mas Zidan..

“sampean ngomong sama aku Mas..?” tanyaku..

“iyalah, mau sama siapa lagi aku bicara..?” ucap Mas Zidan lalu melirik lagi kearah Bulan..

“memang ada apa ya..?” tanyaku lagi..

“kamu pura – pura ga ngerti atau memang kamu ga ngerti sih..? kamu dan Bulan itu ada apa..?” tanyanya dan aku hanya santai saja mendengar pertanyaan Mas Zidan ini.. aku tau pasti itu arah pembicaraannya.. dan aku tadi sengaja bertanya, hanya untuk memperjelas saja..

“Zidan..” ucap Bulan sambil menatap kearah Mas Zidan..

“kenapa lan..? salah ya pertanyaanku..?” ucap Mas Zidan lalu mengeluarkan rokoknya dan membakarnya lalu menghisapnya pelan..

“kalian berdua ini aneh ya.. tatapan kalian itu terlihat seperti saling mengaggumi dan saling menyayangi, tapi sikap kalian itu berbanding terbalik dengan tatapan kalian.. kadang saling menyapa dan tersenyum, dan kadang juga saling membenci..? ada apa sih kalian ini..?” ucap Mas Zidan sambil melirik kami berdua bergantian..

“ga usah sok tau kamu dan.. siapa bilang kami saling menyayangi dan mencintai..?” tanya Bulan dengan ketusnya..

“laki – laki yang rela mengantarkan wanita untuk pulang kekosnya pada malam hari, dan wanita nya mau diantarkan pulang.. sementara mereka berdua baru saja kenal, itu apa namanya..?” tanya Mas Zidan..

“pertemanan Mas..” jawabku dengan santainya dan Bulan langsung melihatku dengan tatapan yang sangat tajam..

“pertemanan..? jadi kalau pertemanan itu ada cemburunya juga ya..?” tanya Mas Zidan..

“siapa yang cemburu..?” ucap Bulan lalu dia sekarang menatap Mas Zidan..

“mana aku tau.. makanya aku tanya kalian..” ucap Mas Zidan dengan santainya lalu dia menghisap rokoknya..

Jiancuukkk.. Mas Zidan yang memulai memancing pembicaraan ini dan dia sekarang malah bertanya tanpa merasa berdosa sama sekali..? cuukkk.. cuukkk.. cuukkk.. (entah kenapa sekarang aku ‘menyukai’ kata – kata jancuk ini..)

“sampean melihatnya terlalu pakai perasaan mas.. harusnya biasa aja..” ucapku dengan santainya lalu aku mengambil permenku dan membukanya lalu mengemutnya..

“ternyata perasaanmu lebih peka dari pada yang ‘menjalaninya’ ya dan.. padahal yang ‘menjalani’ belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan itu..” ucap Bulan dengan dinginnya tanpa melihat kearahku..

“waw.. waw.. waw.. ada percakapan cinta kah disini..? cinta seperti apa ya..? cinta segitiga ya..? Zidan ke Bulan, Bulan ke culun, dan culun pura – pura gila.. hahahahaha..” ucap seseorang yang baru datang dari arah belakangku.. aku pun langsung menoleh kearah suara itu, dan orang berbicara tadi berjalan santai masuk keruang tengah dan melewati aku..

“Upik.. jaga bicaramu ya..” ucap Bulan sambil melihat kearah Upik, orang yang baru datang itu..

Dan Upik hanya tersenyum lalu menghentikan langkahnya.. dia berdiri diantara aku yang ada didekat pintu kosan dan Bulan yang duduk diruang tengah..

“sudahlah mas.. sampean ga usah memperkeruh keadaan..” ucap Mas Zidan ke Upik lalu menghisap rokoknya lagi..

“yang memperkeruh keadaan siapa..? salah ya omonganku tadi..?” ucap Upik dengan santainya lalu dia mengeluarkan rokokknya dan mengambil sebatang lalu membakarnya..

“mending kamu diam pik.. kamu itu merusak suasana aja..” ucap Bulan lalu dia mengambil bungkusan rokok Mas Zidan dan mengambil sebatang lalu dia membakarnya dengan santai.. cuukkk.. pakai acara ikut – ikutan merokok lagi Bulan ini.. bajiangaannn.. dan ketika dia mengambil rokok tadi, dia sempat melirikku sebentar lalu dengan cueknya dia membakarnya.. apa coba maksudnya..? dia mau aku melarangnya..? jiancuukkk..

“bukannya suasana sudah rusak ya dari tadi.. hahahahaha..” ucap Upik lalu tertawa dengan kerasnya..

Dan aku masih berdiri disini sambil menghisap permenku.. sebenarnya aku sudah ingin pergi, tapi entah kenapa.. setelah kedatangan Upik, aku ingin bertahan sebentar untuk menikmati ketegangan ini..

“kasihan sekali ya hidupmu pik.. isinya cuman mencampuri urusan orang lain aja..” ucapku sambil menggenggam permenku lalu aku menghisapnya lagi..

“bangsatt.. merana sekali hidupku ini, sampai seorang culun sepertimu mengasihani diriku..” ucap Upik sambil menatapku..

“sudahlah pik.. mending kamu balik aja..” ucap Mas Uzi keluar dari kamarnya..

“waw.. waw.. rupanya tuan rumah disini sudah mulai tidak ramah sama aku ya.. tadi Zidan yang berani berbicara sama aku, terus siculun ini bicaranya sinis.. sekarang sahabatku sendiri, malah ngusir aku.. hehehehe..” ucap Upik lalu menghisap rokoknya.. dan sekarang wajahnya terlihat mulai sedikit emosi..

“kamu sendiri yang meminta untuk diusir pik.. jadi bener kata Mas Uzi, mending kamu pergi aja..” ucap Bulan lalu menikmati rokoknya lagi..

“loh.. tenang dong manis.. kok kamu ngusir aku juga sih..? kita kan sama – sama tamu disini..” ucap Upik sambil melihat kearah Bulan lalu Upik tersenyum dengan ekspresi yang menjancukkan..

“hehe.. bangsat..” maki Bulan dengan nada yang sangat sinis lalu dia menghisap rokoknya..

“hahahahaha..” dan Upik tertawa dengan senangnya..

“ga ada malunya..” ucapku dengan santainya..

“woooo.. apa kamu bilang culun..? makin kurang ajar kamu ya..” ucap Upik sambil menatapku lalu berjalan kearahku..

Dan ketika sudah berdiri dihadapanku, tatapannya pun makin tajam menatapku.. dia terlihat sangat emosi kepadaku.. hehehe..

“terus kamu mau apa..?” tanyaku sambil menatap matanya..

“BANGSAATTT..” ucapnya sambil mendorong dadaku dengan agak kuat lalu tangan kanannya kebelakang dan dia siap untuk mengahajarku.. lalu..

TAAPPP..

Pergelangan tangan kanan Upik langsung ditahan oleh Mas Uzi.. Upik bertambah emosi lalu membalikan tubuhnya dan melayangkan tangan kirinya kearah Mas uzi.. aku yang melihat hal itu langsung menarik kerah belakang baju Upik dengan kuat, sampai dia tertarik kebelakang..

BUUMMMMM..

Upik terjengkang kebelakang dan langsung terduduk..

“ANJING..!!!!” maki Upik lalu dia berdiri dengan cepatnya dan bersiap menyerangku..

“PIKK..” teriak Bulan dan dia langsung berdiri mendekati kami..

“cukup ya.. cukup.. sekarang kamu pergi..” ucap Bulan lagi sambil menunjuk wajah Upik yang memerah karena emosinya..

“oke.. oke.. kita lihat ya nanti..” ucap Upik sambil mengangguk lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kos kami ini dengan emosinya..

“Mas Uzi..” ucap Zidan yang sudah berdiri didekat kami..

“sudah santai aja.. nanti aku yang urus si Upik..” ucap Mas Uzi dengan santainya.. tapi matanya tidak terlihat santai, dia terlihat sedang berpikir tentang kejadian yang tidak terduga ini dan bingung cara menyelesaikannya..

“kenapa sih kalian ini..? kalian takut masalah ini akan membuat Upik kesini lagi dan membuat keributan..? santai aja.. nanti aku yang temuin Upik..” ucap Bulan sambil menatap Mas Uzi dan Mas Zidan..

“sudahlah.. biar masalah ini aku sendiri yang selesaikan.. aku yang membuat Upik marah dan aku yang harus menuntaskannya..” ucapku dengan santainya lalu aku membuang batang permenku dan aku membalikkan tubuhku lalu berjalan keluar kosan..

“kamu belum tau tentang ganasnya Upik, sudah berlagak mau menyelesaikan sendiri ngger..” ucap Mas Zidan dari arah belakangku..

“kamu mau babak belur ya..?” ucap Mas Uzi menyahut dan aku langsung menghentikan langkahku lalu menatap mereka..

“darahnya Upik itu warna apasih mas..?” tanyaku sambil menatap mereka berdua..

“ngger..” ucap Mas Uzi sambil melotot..

“santai mas.. kalau masih berwarna merah, aku ga akan takut.. tapi kalau berwarna hitam.. aku berpikir dua kali untuk melawan dia..” ucapku sambil menatap Mas uzi, Mas Zidan lalu Bulan..

“angkuh..” ucap Bulan kepadaku dengan mata yang melotot lalu berjalan kearahku, dan melewati aku lalu berjalan kearah mobilnya yang terparkir didepan kosan..

“ngger.. kamu jangan sembarangan bicara kalau kamu belum mengenal Upik dan kelompoknya..” ucap Mas Uzi dari depan pintu kos..

“mungkin dia merasa jagoan Mas..” sahut Mas Zidan yang berdiri disebelahnya..

“saya bukan merasa jagoan mas, tapi orang yang buat keributan di kos orang lain.. itu yang merasa dirinya jago.. dan justru dia ga tau, siapa yang diajaknya ribut..” ucapku dengan santai nya lalu aku membalikkan tubuhku dan berjalan meninggalkan mereka.. jiancuukkk.. kenapa aku sekarang jadi emosi seperti ini sih..? kenapa aku ga bisa mengontrol tindakan dan ucapanku..? apa ini pengaruh dinginnya hatiku..? bajingaann.. akhirnya dengan emosi yang merambat dikepala, akupun berjalan kaki kekampusku..

Hari ini sengaja aku pergi kekampus untuk tidak menggunakan kendaraan.. aku ingin menikmati udara pagi kota ini, sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ini kedepannya..

Jarak kosanku dengan gerbang depan kampus memang lumayan jauh, tapi dengan memotong jalan lewat belakang.. perjalanan jadi lumayan singkat.. aku berjalan melewati jalan utama dan melewati jembatan.. setelah itu aku memasuki gerbang belakang kampusku..

Dan setelah aku berjalan lumayan lama, aku melewati gedung kuliah teknik informatika.. dan tidak jauh dari gedung informatika, aku melihat dua orang wanita duduk berdampingan disebuah taman dan berbicara dengan serius..

Kaila Zahra

Anggelia Putri Aldo

Duhhh.. kenapa disaat seperti ini aku melihat mereka berdua ya..? kenapa..? Sudah sebulan ini aku tidak melihat Kaila.. sedangkan dengan Lia, aku jarang sekali berbicara dengannya walaupun sering bertemu dikampus.. mereka berdua mungkin menghindari aku karena kejadian waktu itu, dan sekarang mereka berdua duduk bersama.. apa mungkin mereka ingin menyelesaikan masalah diantara mereka ya..? tapi sudahlah, aku tidak akan menyapa atau mendekati mereka berdua.. biarlah mereka menyelesaikan masalah diantara mereka.. dan semoga berakhir dengan terjalin lagi hubungan baik diantara mereka.. dan aku akan menjauh dari kehidupan mereka..

Aku pun terus berjalan tanpa melihat kearah mereka dan mereka juga tidak menyadari ketika aku melewati mereka.. aku terus berjalan dan berpapasan dengan sekelompok senior kami, yang dulu menjadi panitia keamanan pada saat orientasi mahasiswa baru.. dan kalau kulihat dari cara berpakaian, cara berjalan dan cara mereka menatap.. mereka seperti sekumpulan preman dikampus ini.. dan satu lagi.. ketika aku berpapasan dengan mereka, dan ketika mereka sedang berbicara dengan sesama mereka, bau minuman alkohol keluar dari mulut mereka semua.. gilaa.. mereka habis pesta..? ada juga ya tukang minum dikampus negeri ini.. dan lebih gilanya ini masih pagi.. mereka pestanya kapan..? atau mereka sarapannya minuman beralkohol..? guendeng ancene og..

Dan ketika mereka semua sudah melewati aku dan berjalan dibelakangku..

“woiii.. ada adek – adek cantik disini..” ucap salah satu dari mereka dan aku langsung menghentikan langkahku.. apa yang mereka maksud itu Lia dan Kaila..? tapi kenapa juga aku berhenti ya..? harusnya kan aku terus berjalan dan cuek saja..

Tapi entah kenapa, tubuhku dengan refleknya langsung berputar dan melihat kearah sekelompok senior itu.. mereka semua langsung membelok arah dan berjalan mendekati tempat duduk Kaila dan Lia..

Jumlah seniorku itu sekitar sembilan orang, tiga orang langsung duduk dihadapan Lia dan Kaila.. mereka duduk dikursi beton dan hanya dihalangi meja yang terbuat dari beton juga.. sedangkan enam orang senior lainnya, langsung menyebar ke samping kanan, kesamping kiri dan belakang tempat duduk Lia dan Kaila..

Akupun hanya melihat mereka semua yang mengelilingi dua wanita cantik itu, dengan jarak yang lumayan dekat..

“tumben Angelia main ke teknik informatika..? datangin Kaila lagi.. hehehe..” ucap salah satu senior yang duduk dihadapan Lia..

“emang ga boleh ya main kesini..?” ucap Lia yang terdengar ketus karena mungkin tidak suka dikelilingi seperti itu..

“Angelia kalau ekspresinya seperti ini, cantik banget ya.. hehehehe..” ucap senior yang lain lagi..

“memang kalau cantik itu, bagaimanapun ekspresinya tetap cantik aja.. hahahaha..” sahut senior yang lain dan disambut tawa oleh yang lain..

“hahahahaha..”

“maaf ya mas.. Kaila dan Angelia lagi bicara serius, jadi bisa tolong ditinggal..?” ucap Kaila yang juga terlihat jengkel itu..

“iya.. entar kami tinggal, tapi minta nomor telponnya dulu dong..” ucap salah satu senior yang duduk sambil mengeluarkan Hpnya..

“sama alamat kos atau alamat rumah ya.. hehehehe..” sahut yang duduk disebelahnya..

Duhhh.. walaupun hatiku dingin dengan mereka berdua, tapi kenapa kok aku masih cemburu sekali melihat dan mendengar hal ini..?

“kalau minta no Hp sama alamat kami berdua, kenapa ga minta kebagian data direktorat sih..?” ucap Lia dengan ketusnya lagi..

“buat apa minta kerektorat kalau disini ada orangnya.. hehehehe..” jawab senior yang memegang Hp itu lalu tertawa..

Kok maksa banget sih mereka itu..? apa aku datangi saja ya mereka itu..? tapi apa hakku untuk datang kesitu..? sudahlah.. biar aku tinggal saja.. dari pada nanti aku dikira mencampuri urusan mereka dan mereka salah tanggap.. apa ga tambah mumet kepalaku..? dan ketika aku akan membalikkan tubuhku..

“kok maksa banget sih..?” ucap Lia yang terdengar sangat jengkel..

“gitu aja marah loh Angel ini..” ucap senior yang memegang Hp dengan tangan kirinya itu lalu tangan kanannya mencolek dagu Lia..

Cuukkkk.. kok kurang ajar sekali mereka..? berani pegang – pegang lagi.. jancuukkk..

“apasih..” ucap Lia sambil menepis tangan senior itu dengan kerasnya..

“hahahahaha..” dan yang lainpun langsung tertawa..

Akupun tidak jadi membalikkan tubuhku, kakiku justru melangkah kearah mereka.. cuukkk.. kenapa aku seperti dituntun untuk mendekat kearah mereka ya..? siapa yang nuntun..? apa hatiku yang menuntunnya..?

“gitu aja marah..” ucap senior itu lalu mencolek dagu Lia lagi dan..

PLAKKKKK..

Dengan refleknya, Lia menampar senior itu dengan kerasnya.. sampai wajahnya tertoleh kekanan..

“ANJINGGG..” maki senior itu dengan kerasanya sambil meluruskan pandangannya dan menatap mata Lia..

“UUUUUUU..” teriak semua teman – temannya..

“berani sekali kamu nampar aku..?” ucap senior itu sambil menunjuk wajah Lia.. dan ketika dia akan berdiri.. aku yang berada tepat dibelakang senior itu, langsung menjambak rambut belakangnya dan..

JEDUUUKKKK..

Aku menghantamkannya dimeja beton dengan kerasnya.. lalu..

“AARRGGHHHH..” teriaknya kesakitan sambil memegang tangan kananku yang menjambak rambut belakangnya.. tapi jambakanku terlalu kuat dirambutnya.. dan..

JEDUUUKKKK..

Dan..

JEDUUUKKKK..

Aku menghantamkan jidatnya tiga kali ke meja beton itu, sampai darah keluar dari jidatnya dan kepalanya menempel dimeja beton itu..

“AAAAAAAAAAA..” teriak Lia dan Kaila lalu menutup mulut mereka..

“ANJING..” maki para teman – temannya..

Salah satu senior yang berdiri disamping kiriku pun langsung mengarahkan kepalan tangan kanannya kearah wajahku..

WUUTTTT..

Aku menunduk sambil melepaskan jambakanku di senior ini.. dan dia tidak bergerak dengan jidatnya menempel di meja beton itu.. lalu..

BUUHHHGGGG..

Aku mengarahkan kepalan tangan kananku kearah dagu senior yang mencoba memukulku ini dengan kuat, sampai dia terdanga.. lalu.. dengan cepatnya aku menegakkan tubuhku, dan kaki kananku pun langsung menginjak ujung meja beton itu untuk kujadikan tumpuan.. lalu aku meloncat dan mengarahkan kepalan tangan kiriku dari arah atas kewajahnya yang terdanga ..

BUUHHHGGGG..

BUUMMMMMM..

Dan diapun langsung terkapar dengan hidung mulut yang mengeluarkan darah ditaman yang berumput ini..

Setelah itu aku pun langsung berdiri ditaman sambil melihat kearah tujuh orang senior yang bersiap menyerangku itu..

“WOIIIIII..” teriak orang dibelakang kami dengan kerasnya dan para senior itu pun langsung menghentikan langkahnya dan melihat kearah orang yang berteriak tadi..

“KALIAN SEMUA YANG BUAT KERIBUTAN, IKUT SAYA KE REKTORAT..” ucap orang itu dengan mata yang melotot sambil menunjuk kearah kami semua.. dan dia adalah Pak Hadi, beliau itu wakil rector tiga urusan kemahasiswaan..

Dan suasana pagi yang ramai itupun langsung sunyi.. para mahasiswa yang akan berkuliah pun hanya melihat dari kejauhan dan sebagian ada yang dijalan didekat kami..

Jianccuukk.. padahal aku masih ingin melampiaskan emosiku ini.. gak tau kenapa, kali ini aku ga bisa mengontrol emosiku.. aku ingin mengeluarkannya semua dan ingin menginjak – injak para senior yang berlagak preman ini.. bajingaaann..

Tujuh orang senior itupun langsung terdiam.. mereka hanya menatap Pak Hadi lalu menatapku dengan jengkelnya.. sedangkan dua orang senior yang aku hajar tadi, satu masih terkapar ditaman dan yang satu masih terduduk dengan kepala menempel di meja beton..

Lia dan Kaila langsung berdiri sambil menatapku bersama.. wajah mereka masih terlihat syok melihat aku menghajar para senior itu.. dan mata mereka berduapun langsung berkaca – kaca..

“Pak Hadi.. bisa bicara sebentar..?” ucap seseorang yang tiba – tiba datang dan berdiri tidak jauh dari Pak Hadi.. dan dia adalah Om Satria.. Om satria berbicara dengan santai, tapi kata – katanya terdengar sangat berwibawa sekali..

Pak Hadi yang tadinya emosi, langsung terdiam dan hanya mengangguk saja..

“dan untuk kalian.. kalau masih mau lanjut perkelahiannya, jangan disini.. diluar aja ya..” ucap Om Satria sambil melihat kearah ketujuh senior itu dan mereka semua hanya terdiam saja..

Lalu Om Satria pun melirikku sebentar.. setelah itu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan aku dengan di ikuti Pak Hadi dibelakangnya..

“kamu anak gedung putih kan..?” ucap salah satu senior kepadaku..

“tunggu ya..” ucap salah satu senior yang lain..

Lalu mereka semua memapah dua orang temannya yang aku hajar tadi, dan pergi dengan emosi yang masih terlihat diwajah mereka.. aku hanya menatap mereka sambil membenarkan posisi kaca mataku..

“kenapa kamu jadi seperti ini ngger..?” ucap Lia dengan bibir yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

“kamu bukan Angger yang aku kenal..” sahut Kaila sambil menggelengkan kepalanya dan mata yang berkaca – kaca juga..

“kenapa aku jadi seperti ini, itu ga penting.. dan kenapa aku bukan seperti yang kalian kenal.. itu lebih ga penting.. yang terpenting itu, walaupun kita sudah ga sedekat dulu lagi, bukan berarti aku akan membiarkan orang lain berani kurang ajar dengan salah satu dari kalian..” ucapku dengan santainya lalu aku membalikkan tubuhku dan meninggalkan mereka berdua, yang mulai meneteskan air mata mereka dipipi masing – masing..

Aku berjalan sambil menggoyangkan kedua telapak tanganku yang terbuka.. cuukkk.. sakit juga kepalan tanganku ini.. sudah lama aku ga memukul orang.. terakhir aku memukul dan merobohkan lawanku, waktu aku menjuarai beladiri dikotaku.. setelah itu ga pernah lagi.. tapi rasa sakit dikepalan tanganku ini, tidak ada apa – apanya dengan rasa sakit yang ada dihati ku.. jiancuukkk..

“enak ya setelah dilepaskan..?” ucap seseorang yang berdiri diujung gedung yang aku lewati.. akupun langsung menghentikan langkahku dan melihat kearah asal suara itu.. dan disana, berdiri satu sosok mahluk dengan wajah yang sangat menjengkelkan sekali.. Pakde Jago..

“kenapa lagi Pakde..?” ucapku sambil menatap kearah wajahnya..

“ditanya malah tanya balik.. kebiasaan..” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya..

“emang apa yang kulepaskan..? aku ga punya peliharaan kok..” ucapku dengan santainya..

“pejuhmu.. kamu kan baru coli sama dua orang seniormu, sampai dia tumbang gitu.. hehehe..” ucap Pakde Jago seperti biasa.. terdengar menjengkelkan dan menjancukkan..

“emang kenapa sih..? Pakde mau coli juga..?” tanyaku dengan santainya..

“buat apa aku coli.. aku ada tempat pembuangan yang baik dan benar kok.. jangan samakan aku sama tukang coli yang ada disini dong.. mereka sukanya menggenggam batang dan mengocoknya dengan irama 2/2.. hahaha.. coli kok semangat.. assuuu..” ucap Pakde jago dengan sinisnya..

“lagian, aku yang punya satu aja sudah bisa ‘menikmatinya’ setiap hari.. sedangkan kamu, punya beberapa wanita yang bisa saja kamu ‘nikmati’ bergantian.. malah kamu tinggalkan dan kamu malah melampiaskan kesenior – seniormu tadi.. kamu ada kelainan ya..?” tanya Pakde jago yang langsung membuat gatal kedua lubang telingaku..

“emang ada yang salah kalau melampiaskannya sama seniorku tadi..? klimaksnya itu lebih nikmat loh pakde.. darah yang keluar, bukan pejuh.. hehehe..” ucapku dan itu langsung membuat Pakde Jago mengerutkan kedua alisnya..

“otakmu sudah mulai miring.. hatimu yang beku malah buat kamu gila.. tapi sudahlah.. hari ini kamu sudah melepaskan sisi lain dari ‘jiwamu’.. semoga kamu bisa mengendalikannya..” ucap Pakde jago dan kali ini sangat serius terdengar..

“melepaskan sisi lain dari ‘jiwaku’..? apasih maksud Pakde ini..?” dan sekarang aku dibuat bingung sama mahluk yang menjengkelkan ini..

“mana aku tau..” ucapnya dan itu makin membuatku jengkel..

“jianncoookkk..” makiku dengan mantapnya..

“hahahahaha.. sudah bisa memaki kamu..? guendeng ancen og.. mana mantap banget lagi kedengarannya.. assuuu..” ucap Pakde jago meledekku..

“kurang ajar..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“udah ah.. aku pergi aja.. dari pada aku kamu pejuhin nanti.. hahahaha..” ucap Pakde Jago lalu tertawa..

“jijik banget aku mejuhin Pakde..” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“siapa juga yang mau kamu pejuhin..? mending aku bertukar lendir sama pasanganku.. aku kan normal.. hahahahaha..” ucap Pakde Jago langsung melangkah meninggalkan aku..

“cuman gitu aja Pakde..?” ucapku sambil melihat punggungnya yang perlahan mulai menjauh..

“iyoo.. aku arep ngentu… hahahahaha..” (iya.. aku mau ngentot.. hahahaha..) ucap Pakde Jago sambil tertawa dan berbelok arah kebalik gedung dan menghilang..

Jiancookkk.. apasih maksudnya Pakde Jago ini..? kenapa dia datang cuman mau buat aku tambah bingung aja..? hiuuffttt.. huuuu.. hanya dua hal yang bisa membuat aku bingung dan ga bisa berpikir dengan jernih.. wanita dan Pakde Jago.. guendeng ancene og..

Akupun langsung melanjutkan perjalanan ke gedung kuliah teknik sipil.. dan setelah sampai diruangan tempat aku kuliah, disini suasananya sepi dibandingkan ruangan lain yang telah berkumpul mahasiswanya.. dan aku melihat sebuah pengumuman dipintu ruangan.. kuliah hari ini, tanggal ini dan jam ini.. ditiadakan, persiapakan diri kalian untuk UHS.. Ttd. Prof. Salman.. dan tanggal pengumuman ini dikeluarkan kemarin..

Jiancookkk.. kenapa aku ga baca pengumuman ini kemarin sih..? makanya Lia ada di gedung kuliah teknik informatika, rupanya jadwal kuliah ditiadakan..? kurang ajar.. kenapa juga aku ga sadar kalau Dylan juga masih tidur dikosan tadi.. bajingaann..

Dan hari ini.. marah, jengkel, emosi dan masalah.. silih berganti menyapaku.. jiancookkk..

Terus aku mau kemana ini..? mau balik kekosan malas banget.. lebih baik aku ke pondok merah aja..

Aku pun langsung melangkahkan kaki dan pergi meninggalkan ruangan kuliahku..

“ngger…” panggil seorang wanita yang duduk ditaman dekat gedung kuliah teknik sipil.. akupun langsung menghentikan langkahku dan melihat kearah wanita itu..

Angela Ardana

“Kak Dana..” ucapku sambil menatap Kak Dana yang tersenyum melihatku..

Aku pun langsung berjalan kearah Kak Dana dan aku langsung duduk dihadapan Kak Dana..

“lagi apa kak..?” tanyaku dengan santainya..

“lagi tunggu kamu..” jawabnya lalu kembali tersenyum..

“kenapa nunggu aku Kak..? harusnya tunggu dosen dong.. soalnya, masa depan kita ada dicoretan tangannya..” ucapku lalu aku tertawa.. sengaja aku tertawa, karena aku sudah bosan dengan kejenuhan hatiku saat ini..

“masa depanku ada didepanku, bukan ditangan orang lain, apa lagi ditangan dosen..” ucapnya sambil menatapku..

Cuukkk.. maksudnya apa coba..?

“hahahahaha..” dan aku hanya tertawa mendengar itu, karena aku bingung harus menjawab apa..

“tertawamu aneh..” ucap Kak dana singkat dan aku pun langsung terdiam..

Kak Dana terus menatapku dengan tatapan yang entah aku sendiri bingung menjelaskan artinya..

“Kak Dana kenapa sih..? kok natap aku aneh begitu..?” tanyaku dengan herannya..

“gak apa – apa.. emang gak boleh..?” ucap Kak Dana dan dia tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wajahku..

Duhhh.. ini ada apa sih..? jangan sampai dia menyukai aku dan mengutarakan isi hatinya.. bukannya aku ke ge’eran loh ya.. tapi aku memang merasa dia menyukai aku.. tapi semoga hanya sekedar suka dan dia tidak mengucapkannya.. karena itu pasti akan percuma.. sudah sebulan ini hatiku beku dan aku cuek dengan yang namanya wanita..

“oh cuma itu ya..? kalau gitu aku pergi ya..” ucapku lalu aku berdiri.. sengaja aku melakukan ini dan ingin secepatnya pergi dari sini, sebelum apa yang aku pikirkan dan aku takutkan akan terjadi..

“ngger..” ucap Kak Dana menahanku ketika aku membalikkan tubuhku dan akan pergi meninggalkannya..

Akupun langsung membalikkan tubuhku lagi dan menatapnya.. duhh.. tatapannya kok makin seperti itu sih..? jangan kak.. jangan kamu mengucapkan apa yang aku pikirkan dan apa yang aku takutkan, kamu nanti pasti akan kecewa dan membenciku juga.. seperti Kaila dan Lia..

Kak Dana pun langsung berdiri dan terus menatapku..

“aku mencintaimu..” ucap Kak Dana setelah berdiri dihadapanku dengan tatapan sayunya..

Tuh kan.. yang aku takutkan akhirnya terjadi.. jiannccookkk..

Astaga.. kenapa harus seperti ini sih..? baru mau satu tahun aku dikota pendidikan ini, sudah beberapa wanita yang mendekati aku dan mengungkapkan perasaannya kepadaku.. walaupun semua tidak lewat kata, tapi lewat sikap dan tatapan mereka.. aku bisa merasakan itu.. gilaaa..

Yang pertama Bulan.. memang tidak terucap kata cintanya buat aku, tapi tatapan mata dan kecupan bibirnya sudah menjelaskan semuanya.. belum lagi sikapnya yang seakan cemburu sekali ketika hari itu ada keributan antara aku, Lia dan Kaila.. duhhh…

Yang kedua Kaila.. dia juga tidak mengucapkan kata cinta.. tapi ucapannya sudah mengarah kesana dan lagu yang diputarkannya didalam kamarku waktu itu, jelas sekali mengatakan kalau dia mencintai aku.. belum lagi ketika kami berdua saling berciuman.. terus sikap manja dan tatapan matanya… jiancookkk..

Yang ketiga Clara.. kalau ini memang agak aneh.. kenapa bisa aku memikirkan kalau dia adalah salah satu wanita yang mencintai aku, padahal kami berdua belum mengenal dekat dan belum pernah mengobrol berdua.. tapi lagi – lagi, bukan melalui perkataan.. tapi tatapannya yang dalam, sangat menyentuh hatiku.. aku merasakan kalau dia mencintai aku dari tatapannya yang dalam itu.. dan terus terang, hatikupun terikat oleh tatapannya waktu itu.. bajingaannn..

Yang keempat tentu saja Kak Dana.. dan khusus wanita ini, bukan hanya cara menatap dan cara bersikap.. dia hari ini sudah mengungkapkan lewat kata – kata yang sangat mengejutkan hatiku.. terus harus bagaimana aku menjawabnya..? jiancookkk..

Aku loh bukan laki – laki yang suka tebar pesona dan sudah sebulan ini aku itu cuek aja sama mahluk yang namanya wanita.. bukannya sekarang aku suka sesama jenis, bukan.. tapi aku sudah berjanji kepada Ayah dan Bunda waktu itu, kalau aku akan mengejar cita – cita ku tanpa bermain cinta.. dan akupun baru menyadari janjiku kepada Ayah dan Bunda, setelah aku putus dari Lia.. dan untuk Lia, memang aku sengaja ga menyebut namanya diantara keempat wanita yang menyukai aku.. karena aku dan Lia sudah sempat jadian dan aku yang menembaknya..

Dan aku tegaskan sekali lagi.. hatiku saat ini beku karena cinta, bukan hanya karena aku terikat oleh janjiku atau bukan juga karena aku dipaksa oleh Ayah dan Bunda supaya tidak bermain cinta, bukan hanya seperti itu.. tapi aku malas saja bermain cinta dan hatiku ini sudah terlalu sakit.. aku tidak ingin membuat wanita – wanita ini menangis lagi karena aku.. cukup sudah semua itu, lebih baik aku fokus kepada cita – citaku.. karena ketika cita – cita dapat kuraih.. maka cintapun akan mengikuti dengan sendirinya..

Oke ngger.. cukup sudah dengan kebingunganmu.. hatimu sekarang sudah terlalu beku dan susah untuk mencair lagi.. kejar cita – citamu dan biarkan waktu yang akan menjawab dan mencairkan suasana hatimu ini, seiring nanti ketika cita – citamu teraih..

Dan sekarang aku hanya menundukkan kepalaku sejenak, lalu aku mengambil bungkusan permen lolipopku dan aku membukanya lalu aku mengemutnya..

“aku tidak bisa melarangmu untuk mencintaiku, karena mencintai itu hak pribadi manusia didunia ini.. tapi maaf, aku juga mempunyai hak untuk tidak membalas cintamu..” ucapku sambil melepaskan permen yang ada dimulutku ini, lalu memasukkan lagi dan menikmati manisnya permen ini.. dan aku mengatakan itu sambil menatap mata Kak Dana dan aku mengatakannya dengan sangat dingin, sedingin hatiku ini..

“aku tau pasti itu jawaban yang akan keluar dari bibirmu.. tapi aku tidak akan berhenti untuk mencintaimu dan aku akan mengejar cintaku sampai aku dapatkan.. karena apapun yang aku inginkan, harus aku dapatkan..” ucap Kak Dana sambil menatapku dan kali ini tatapannya begitu tajam kepadaku..

“terserahlah.. tapi aku cuma mengingatkan, mencintailah seperlunya dan membenci sekenanya.. karena perasaan cinta dan benci itu sangat mudah sekali berubahnya, semudah membalikkan telapak tangan..” ucapku sambil membalas tatapannya..

“ini salah satu yang membuat aku suka padamu.. kamu tidak mau memanfaatkan atau mempermainkan perasaan orang yang mencintaimu..” ucapnya sambil terus menatap mataku..

“hehe.. tapi hasilnya tetap saja.. aku menyakiti orang yang mencintaiku..” ucapku sambil tersenyum yang kupaksakan..

“itulah resikonya mencintai dan hanya dua pilihannya, diterima atau ditolak.. tapi aku akan tetap menikmati ini semua.. mungkin kali ini kamu akan menolakku, tapi dilain waktu aku yakin kamu akan menerimaku..” ucapnya lalu berbalik dan meninggalkan aku..

Cuukkk.. mudah sekali dia mengucapkannya.. gilaaa.. aku sudah dingin dalam mengucapkan setiap perkataanku, dia malah makin dingin membalasnya.. bajingaannn..

Aku lalu membuang permenku yang sisa batang putihnya ini, setelah itu aku membenarkan kacamata yang aku pakai.. lalu aku membalikkan tubuhku dan aku melangkahkan kakiku untuk kembali kekosanku.. aku jadi lelah dengan pikiranku.. aku mau istirahat dulu dikamarku dan membatalkan rencanaku untuk kepondok merah..

Tapi sebelumnya, aku mau sarapan dulu.. aku gak mau menyiksa tubuhku sampai sakit karena gak makan.. cukup perasaanku saja yang sakit, tubuhku harus sehat dan kuat untuk menjalani semua ini.. jiancookkk..

Aku lalu melangkahkan kakiku kekantin untuk sarapan.. walaupun sudah telat makan, yang penting perutku terisi..

Dan setelah aku sarapan.. akupun duduk dan merenung.. dan cukup lama juga aku duduk sendiri dikantin ini tanpa ada satupun teman yang menemani aku.. salahku sendiri sih, datang kekampus karena ga melihat pengumuman.. tapi kalau aku mau mengambil baiknya.. kadang sendirian itu diperlukan, bukan karena tidak membutuhkan orang lain.. tapi dengan kesendirian, aku bisa lebih tenang untuk berpikir..

Setelah dua jam aku duduk sendiri, dan mata sudah mulai tidak bisa diajak kompromi karena mengantuk.. akupun langsung membayar makanan dan minuman yang aku pesan tadi.. setelah itu aku berjalan menuju kosanku.. dan suasana pun sudah sangat panas oleh sinar matahari yang menyengat ini..

Dan ketika aku sampai dikosan, pemandangan yang mengejutkan tersaji dihadapanku.. beberapa orang temanku tampak berdarah – darah, kaca dijendela kosan dan kaca jendela kamar – kamar kosan juga pecah, pintu kamar kos dan pintu kosan tampak rusak parah.. bangsatt..

Siapa yang melakukan ini dikosan ku..? padahal kosan ini berisi anak – anak baik yang tidak suka cari keributan.. teman – teman dikosanku ini hanya suka bermain diruang tengah kosan dan menikmati wi-fi dikosan ini.. dan biasanya mereka hanya bermain game secara berkelompok.. bajingaannn.. siapa yang melakukan ya..? apa yang melakukan ini Upik..? atau senior – seniorku yang ribut denganku dikampus tadi..? kalau memang seperti itu, kenapa teman – temanku yang menjadi sasaran..? jiancuukkk..

Aku lalu masuk kedalam kosan dan teman – temanku pun langsung melihat kearahku sambil menghisap rokok mereka masing – masing..

“siapa yang melakukan ini..?” ucapku dengan tenangnya lalu duduk diantara mereka diruang tengah..

“siapa lagi kalau bukan anak – anak black house..” ucap mas Aska sambil mengisap rokoknya lalu membersihkan darah dipelipisnya..

Jiancookkk.. kenapa anak – anak black house melakukan ini..? apa Upik meminta bantuan anak – anak black house..? pengecut sekali dia.. atau ada permasalahan yang yang lain..? tapi masalah apa..? bangsattt..

Aku lalu melihat sekeliling kosan dan disalah satu dinding kosan tertulis sebuah kalimat.. “kumpulan anak – anak anjing..” kalimat itu tertulis besar dan memakai pilok berwarna hitam..

“kenapa mereka melakukan ini ya..? padahal sebagian anak – anak black house yang menyerang kesini itu sahabat – sahabat kita..” ucap Mas Julian sambil membersihkan bibirnya dari darah yang menetes..

Bajingaannn.. ini sama aja mereka cari mati namanya.. dan untuk Purnama, apa dia ikut dalam serangan ini..? apa sepengecut itu dia..? bangsattt.. mungkin ini saatnya aku menghajar bajingan – bajingan black house dan berduel dengan Purnama..

“anjing itu bisa menjadi sahabat yang baik.. dan sahabat yang baik juga bisa menjadi seperti anjing..” ucapku..

“berani sekali kamu ngomong seperti itu ngger..? coba kalau ada mereka disini.. pasti kamu diam sambil ngemut permenmu itu cuukk..” ucap Mas Alvaro dan aku hanya menatapnya saja, lalu aku menatap kearah Mas Uzi dan Mas Zidan yang wajahnya juga berdarah – darah..

Mas Uzi dan Mas Zidan menatapku dengan tatapan datar.. dan mereka tidak membicarakan sedikitpun tentang kejadian tadi pagi, tentang kedatangan si bangsat Upik.. dan itu justru makin membuat aku merasa bersalah dan emosiku perlahan naik menguasai kepalaku..

Aku lalu berdiri dan mengambil permen lolipopku.. setelah itu aku mengemutnya sambil melihat satu persatu temanku yang sangat ketakutan setelah penyerangan ini..

“mau kemana kamu ngger..? mau masuk kekamarmu..?” tanya Dylan sambil menatapku..

“ngga lan.. aku mau kekandang anjing dulu..” ucapku dengan santainya lalu melangkahkan kakiku menuju pintu kosan..

“pasti kamu ga serius dengan ucapanmu kan anak cupu..? model seperti kamu gini aja mau kekosan black house.. bisa tinggal nyawa aja kamu..” ucap Mas Eros mengejekku..

“anak – anak kos pondok merah dikampus tenik kita aja, sudah tidak berdaya sama anak – anak black house.. apalagi kita..? sudah lah.. ga usah bercanda kamu ngger..” ucap Dylan.

Aku lalu berbalik dan melihat kearahnya..

“lan.. anjing itu berani menggonggong sama orang yang tidak dikenalnya.. tapi kalau anjing itu kenal sama orang itu, anjing itu akan menjadi binatang yang penurut.. dan sekarang waktunya, aku akan berkenalan dengan anjing – anjing itu dengan caraku..” ucapku dengan santainya lalu berbalik dan berjalan keluar kosan..

Setelah itu aku berjalan kearah jalan utama untuk mencari angkot menuju ke kos black house.. suasana yang panas ini pun, semakin memanaskan emosiku saja..

“ngger..” ucap Dylan yang menyusulku dengan sepeda motornya..

“kenapa..” ucapku sambil melepaskan permenku..

“kamu serius mau keblack house..?” ucapnya dengan wajah yang bonyok – bonyok..

“kamu kira aku bercanda ya..?” ucapku dengan seriusnya..

“jangan gila kamu ngger..” ucap Dylan yang terlihat khawatir..

“lan.. mending kamu pulang aja.. dari pada kupatahkan hidungmu untuk membuktikan keseriusan ucapanku..” ucapku sambil menatapnya dengan tajam..

“cuukkk.. kok jadi begini sih kamu itu..? oke, kalau kamu tetap nekat mau kesana.. aku ikut..” ucapnya..

“kamu berani kesana..? ga takut mukamu makin bonyok..?” tanyaku..

“kamu mau kupatahkan hidungmu, supaya kamu percaya kalau aku serius..?” ucap Dylan membalas ucapanku..

“cuukkk..” makiku sambil menggelengkan kepalaku..

“sudahlah.. lagian kamu gak tau juga kan black house itu dimana..? aku antar kamu.. siapa tau nanti aku bisa balas dendam.. mukaku bonyok cuukkk..” ucap Dylan dan aku langsung menggelengkan kepalaku lagi..

“terus kalau kamu tambah bonyok dan aku juga KO gimana..?” tanyaku untuk meyakinkan keputusan Dylan yang memaksa untuk ikut denganku..

“urusan belakang cuukkk.. yang penting kita berdua sudah menorehkan nama kita disejarah.. dua orang mahasiswa kampus negeri dan bermuka lugu, berani menyerang black house yang sudah mengalahkan pondok merah..” ucap Dylan lalu tersenyum yang menjancukkan..

“jiancookk.. okelah.. tapi kalau bisa kamu diluar aja.. biar aku yang masuk sendiri ke dalam kosan black house..” ucapku lalu aku naik keatas motor Dylan..

“lihat nanti ya.. hehehe..” ucap Dylan sambil tertawa..

Cuukkk.. bisa tertawa juga orang gila ini, padahal mukanya sudah bonyok gini.. tapi aku salut sama dia, karena cuman dia aja yang berani untuk balas dendam dengan penyerangan dikos kami.. bukannya aku meremehkan semua teman – teman kos gedung putih yang ga ikut balas dendam, tapi aku sadar kalau mereka memang bukan tandingan anak – anak black house..

“sebenarnya semua teman – teman tadi mau ikut ngger.. tapi aku tahan mereka semua, aku bilang aku mau cegah kamu dan ngantar kamu kepondok merah.. makanya mereka ga jadi ikut..” ucap Dylan sambil menoleh kearahku lalu melihat kearah depan lagi..

“cuukkk..” makiku sambil menggelengkan kepalaku lagi.. tapi kenapa kok emosiku perlahan turun ya..? duhhh.. semoga setelah melihat wajah – wajah anak black house nanti, emosiku kembali naik.. bajingaann..

Dan setelah itu, kami berdua pun sama – sama diam sambil sama – sama berpikir.. cuukkk.. semoga Dylan ga ikut masuk.. kasihan dia kalau sampai wajahnya makin babak belur..

Dan akhirnya kami sampai juga dikampus kuru.. Dylan lalu membelakkan motornya dan melewati jalan samping kampus kuru.. dan ga berapa lama, motor kami berhenti didepan sebuah kosan berwarna hitam dan terlihat menyeramkan..

Cuukkk.. siang aja terlihat menyeramkan, apalagi kalau malam..? bajingaannn..

“kamu diluar aja ya lan..” ucapku sambil menepuk punggung Dylan pelan, lalu aku turun dari motornya..

“cukkk.. kalau sudah sampai disini pilihannya ada tiga aja.. aku patahin hidungmu, kamu patahin hidungku atau kita berdua sama – sama masuk kedalam sana..?” ucap Dylan dengan seriusnya..

“cuukkk.. terserah kamu lah..” ucapku lalu aku membalikkan tubuhku sambil mengambil permenku lalu membukanya dan mengemutnya..

“tunggu cuukkk..” ucap Dylan lalu dia turun dan menegejarku lalu berjalan disampingku..

“kamu beneran ini..?” tanyaku meyakinkan Dylan dan entah berapa kali aku meyakinkan Dylan dengan keputusannya yang gila ini..

“darah mereka warna apa sih..?” ucap Dylan lalu mengeluarkan rokoknya dan membakarnya seperti seorang jagoan yang akan menyerang markas musuh..

“cuukkk..” makiku lagi.. (anjing.. jadi ketagihan memaki aku.. kurang ajar..)

Dan kami pun sampai dipintu kos black house.. aku lalu membuka pintu itu dan masuk kedalam dengan jantung yang memompa dengan cepatnya.. apa aku takut..? engga.. justru ketika aku menyentuh pintu kos black house ini, emosiku perlahan mulai naik lagi..

Dan ketika aku sudah didalam kosan bersama Dylan, diruang tengah kosan itu.. puluhan anak – anak black house berkumpul dan sedang melakukan pesta minuman.. tatapan mereka pun langsung mengarah kearah kami berdua dengan tajamnya..

Purnama dan Upik yang ada ditengah – tengah mereka pun, terlihat terkejut dengan kedatanganku dikos mereka..

“waw.. siculun berani main kekosanku.. hahahahaha..” ucap Upik lalu dia bertepuk tangan dengan sangat kerasnya..

PROK.. PROK.. PROK.. PROK..

“aku pasti datanglah, apalagi cuman mendatangi kosan yang berisi laki – laki pengecut seperti ini..” ucapku sambil melepaskan permenku dan menatap mereka satu persatu..

“BANGSATT..” maki Upik lalu dia berdiri dan di ikuti oleh beberapa orang temannya.. sementara Purnama hanya duduk lalu menuangkan minuman dan meminumnya..

“cuukkk.. kalau mau berkelahi, berkelahi aja.. jangan buat mereka makin marah.. assuuu..” ucap Dylan berbisik ditelingaku..

“kamu takut..? siapa suruh ikut kedalam..” ucapku pelan..

“bajingannn..” gerutu Dylan..

Dan kembali aku menatap Upik dan teman – temannya yang berdiri..

“kalau bukan pengecut apa namanya..? cuman sekelompok laki – laki pengecut aja, yang berani menyerang kosan yang berisi anak – anak yang suka bermain game..” ucapku dengan santainya..

Purnama pun tampak terkejut mendengar ucapanku lalu melihat kearah Upik yang berdiri disampingnya.. setelah itu dia menatapku lagi..

“siapa yang nyerang kosan gedung putih..?” tanya Purnama dengan dinginnya.. cuukkk.. rupanya dia gak tau kalau anggotanya menyerang kosanku.. bajingaannn..

“kamu tanya sama pengecut yang berdiri disebelahmu..” ucapku dan Purnama langsung menggelengkan kepalanya pelan..

“terus maumu apa..?” tanya Purnama sambil menatapku..

Waw.. luar biasa juga Purnama ini.. dia tidak ikut dalam penyerangan kekosku, dan sebagai pemimpin dia tidak mau menyalahkan anggotanya.. walaupun dia baru tau, kalau anggotanya itu menyerang tanpa memberitahunya.. typical pemimpin yang bagus.. dia tidak mau membuat malu anggotanya..

“karena tadi kosanku yang diserang, sekarang aku mau menyelesaikan orang yang menyerang kosanku dikosan mereka sendiri..” ucapku lalu mengemut permenku lagi..

“bagaimana kalau duelnya sama aku aja..?” ucap Purnama dengan santainya..

“itu urusan yang berbeda.. biar aku selesaikan dulu satu masalah.. setelah aku menyelesaikan itu, baru aku duel sama kamu..” ucapku sambil memegang batang permenku..

“cuukkk.. pede kamu ya ngger..? iya kalau kamu bisa ngalahin Upik sama anggotanya yang serang kosan kita..? kalau kamu yang tumbang gimana..?” ucap Dylan berbisik..

“bisa diam gak kamu..?” ucapku sambil melirik kearah Dylan yang dari tadi mengomel saja..

“assuuu..” maki Dylan lalu diapun akhirnya diam..

“oke.. aku suka gayamu..” ucap Purnama lalu membakar rokoknya..

“siapapun yang nyerang gedung putih, berdiri..” ucap Purnama setelah dia menghisap rokoknya dan mengeluarkan asapnya.. lalu belasan anak – anak black house pun langsung berdiri sambil menatapku..

“sekarang kamu pilih, kamu duel sama siapa..?” tanya Purnama lalu dia menghisap rokoknya lagi.. Upik pun langsung menatapku dengan senyuman yang sangat menantangku..

“pilih satu cuukkk.. habisi, terus kita pulang..” bisik Dylan dan aku tidak menghiraukan bisikannya..

“aku mau lawan semua..” ucapku dengan santainya..

“assuuu.. cari mati kamu..” ucap Dylan kepadaku dengan geregetannya..

“Anjing.. sombong banget sih kamu itu..” ucap Upik lalu melangkahkan kakinya kearahku..

Akupun langsung membuang batang permenku dan melepaskan kacamataku lalu menyerahkan ke Dylan..

“assuuu.. aku ikut kesini, cuman untuk pegang kacamatamu..?” tanya Dylan sambil menatapku dengan tatapan yang menjancukan..

“terserah.. kalau kamu mau ikut, cari lawanmu sendiri.. atau kamu pilih Purnama aja..” ucapku lalu aku berjalan ketengah ruangan mendatangi Upik yang berjalan kearahku..

“assuuu..” maki Dylan dan aku tidak menghiraukannya.. aku terus berjalan kearah ruang tengah..

Aku memang kalau bertarung dikejuaraan beladiri, selalu membuka kacamataku.. dan diacara terung bebas seperti ini pun, kacamataku harus dilepas.. kan ga lucu kalau aku cidera gara – gara pecahan kaca mataku..

“kubuat tumbang kamu..” ucap Upik sambil menunjuk wajahku dan dia langsung berlari kearahku sambil mengarahkantendangan kearah dadaku…

WUUTTTT..

Aku memiringkan tubuhku kebelakang tanpa menggeser kakiku untuk menghindari tendangan Upik.. dan..

BUHHGGG..

Sebuah kepalan tangan kiriku langsung naik kearah wajah Upik dengan telaknya.. dan Upik yang baru melakukan tendangan kearahku dan masih belum berdiri dengan sempurna, langsung membuat tubuhnya limbung..

“ARRGHHHHH..” Upik kesakitan dengan tubuh yang limbung.. tapi dengan cepatnya dia langsung memutar tubuhnya dan mengarahkan kepalan tangannya kearah wajahku..

BUHHGGG..

Wajahku yang terkena pukulannya, langsung terdanga dan oleng kebelakang.. tapi aku sempat mengangkat kaki kananku dan melakukan injakan kedadanya..

BUHHGGG..

“HUUPPPPP..” Upik termundur dengan nafas yang sesak dan dia langsung memegangi dadanya..

Dan kami pun langsung saling berhadapan dan saling menatap..

“kuat juga kamu lun..” ucap Upik sambil membersihkan darah yang mulai menetes di bibirnya..

Lalu Upik maju lagi dan menyerangku dengan kedua kepalan tangannya bergantian..

TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP..

Aku memblok serangan Upik dengan menggunakan kedua lenganku dan itu makin membuat Upik bernafsu untuk menumbangkan aku..

TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP..

Dan lagi – lagi semua serangan Upik mampu aku patahkan.. dan ketika aku mendapatkan celah untuk menyerangnya, aku menggeser tubuhku kekiri sedikit.. lalu kepalan tanganku mengarah lurus dan tepat kearah mulut Upik dengan telaknya..

BUHHGGG..

“AARRGGGGHHHHH..” Upik berteriak dengan kepala terdorong kebelakang dan darah langsung keluar dari mulutnya lagi.. lalu..

BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG..

Tanpa banyak kata, aku mengarahkan kepalan tangan kanan dan kepalan tangan kiriku kearah wajah Upik bergantian.. aku sudah terlalu emosi dengan manusia ini dan aku tidak akan memberikan kesempatan dia lagi, untuk membalas seranganku sedikitpun..

BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG..

Dan setiap pukulanku yang kuarahkan kewajahnya pun, masuk dengan telaknya.. pipi, rahang, pelipis, hidung dan mulutnya, terkena kepalan tanganku.. dan darah pun mulai menutupi sebagian wajahnya..

BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG.. BUHHGGG..

Aku terus menghajarnya sampai dia termundur.. lalu aku menghentikan seranganku sejenak.. dan aku langsung memutarkan tubuhku dan mengarahkan tendangan balik kearah wajah bagian samping kirinya dengan kaki kananku..

BUHHGGG..

JEDUUKK..

BUMMMM..

Upik pun langsung tumbang kearah kanan dengan kepalanya membentur lantai dengan kerasnya.. lalu darahnyapun menggenang diwajah samping kanannya itu.. dan dia langsung mengejang dengan mata yang melotot..

Suasana diruangan ini pun langsung tegang seketika, mereka semua terkejut melihat pertarungan yang singkat ini dan aku mampu merobohkan salah satu bajingan kosan ini dengan cepat..

“huuuuuuuuuu..” aku mengeluarkan nafas panjangku..

“kan aku sudah bilang, aku mau melawan semua yang menyerang gedung putih.. bukan salah satu seperti ini.. apa ini hanya untuk sajian pembuka aja..?” ucapku sambil menatap mereka semua yang berdiri tadi.. lalu pandanganku kualihkan kearah Purnama yang masih duduk santai sambil menghisap rokoknya..

“jiancookkkk.. ternyata kamu gila juga cookkk.. hahahahaha..” ucap Dylan dibelakangku lalu dia tertawa..

“Bangsaatttt..” maki salah satu dari mereka dan belasan orang langsung maju mengelilingi aku..

“kalau begini kan seru..” ucapku sambil tersenyum dan mengepalkan kedua tanganku..

“banyak bacot..” ucap seseorang langsung maju dari arah depanku sambil mengarahkan kepalan tangannya dari arah samping dengan kuatnya..

WUUTTTT..

Aku pun langsung menunduk.. dan seranganpun langsung beruntun dari arah kanan, kiri dan belakangku..

WUUTTTT.. WUUTTTT.. TAPPPP..

Aku menghindari serangan dari arah kanan dan kiri, lalu berputar kebelakang dan mengeblok pukulan dari arah belakangku tadi.. lalu aku mengarahkan tendangan kebelakang, kearah wajah orang yang menyerangku pertama tadi..

BUHHGGGG..

Lalu aku menghantam orang dihadapanku tepat dihidungnya dengan menggunakan tangan kanan.. lalu aku tarik tangan kananku kebelakang dan dengan menggunakan sikut kananku, aku menghantam orang disebelah kananku kearah hidungnya juga..

BUHHGGGG..

Lalu aku berputar dan menyapu kepala orang disamping kiriku dengan tendangan menggunakan punggung kakiku..

BUHHGGGG..

BUMMMM.. BUMMM.. BUMMM.. BUMMM..

Empat orang langsung tumbang bersamaan, terkena serangan cepatku tadi.. jiancookkk..

Lalu aku pasang kuda – kudaku lagi sambil mengepalkan kedua tanganku kedepan, dan melirik kesemua arah.. lalu aku memutarkan tubuhku kedepan dan kebelakang, karena sisa musuhku masih mengelilingi aku dan bersiap menyerangku..

Lalu..

BUHHGGGG..

Salah satu musuh dari arah depanku terjungkal kearahku, karena di injak punggungnya oleh Dylan yang ada dibelakang mereka.. lalu Dylanpun berlari dan berdiri disampingku sambil mengepalkan kedua tangannya..

“cuukkk.. kenapa kamu gabung sih..?” tanyaku sambil tetap bersiap dengan serangan selanjutnya..

“assuuu.. memang kamu aja yang mau kelihatan keren..? aku juga dong.. malu aku kalau balik kekosan, tapi ga menumbangkan salah satu dari mereka..” ucap Dylan dengan tatapan matanya kekanan dan kekiri melihat musuh disekeliling..

“terus yang jaga kacamataku siapa..?” ucapku sambil meliriknya..

“jiancookkk..” ucap Dylan memakiku..

“cukup sudah pemanasannya.. sekarang kalian mundur semua, dia lawanku..” ucap Purnama dari tempat duduknya..

Dan belasan anggota black house yang mengelilingi aku pun langsung menegakkan tubuh mereka, dan mereka mundur satu persatu tanpa ada yang membantah satu pun.. mereka langsung bergabung dengan puluhan anggota black house lainnya, yang dari tadi hanya diam menyaksikan pertempuran ini..

“loh.. sudah nih pertempuranku..?” bisik Dylan kepadaku..

“iya.. sekarang kamu mundur sana.. jaga kacamataku lagi..” ucapku sambil menegakkan tubuh lalu menatap Purnama yang mulai berdiri sambil membuang rokoknya..

“cuukkk..” maki Dylan sambil membalikkan tubuhnya dan kembali kedekat pintu kosan black house..

“aku belum menumbangkan semua yang menyerang gedung putih..” ucapku sambil menatap Purnama yang mulai melangkah mendekati aku..

“kenapa memangnya..? kamu mau jadi pengecut juga..? seorang pengecut yang berani melawan yang bukan tandingannya..” ucap Purnama sambil terus melangkah dan langsung berdiri dihadapanku..

“kamu lawanku, bukan anggotaku..” ucap Purnama lagi yang sekarang sudah berdiri tepat dihadapanku..

“cuukkk..” makiku dan

BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Kami berdua sama – sama melakukan serangan dengan injakan kaki didada, dan kami sama – sama termundur..

“HUPPPP..” kami berdua menahan nafas lalu kami sama – sama maju lagi..

Purnama langsung mengangkat kaki kanannya dan mengarahkan kearah wajahku..

TAPPP..

Aku menahan dengan menggunakan lengan kananku lalu aku mendorongnya.. Purnama langsung menurunkan kaki kanannya, dan dibuat tumpuan untuk tendangan balik menggunakan kaki kirinya kearah wajahku lagi..

WUTTT..

Aku menunduk menghindari tendangannya diwajahku.. dan setelah kaki kirinya menginjak lantai, dia berputar lagi dan mengarahkan tendangan kaki kanannya kearah wajahku.. aku pun langsung reflek kearah kiri.. tapi rupanya itu gerakan tipuan, dan dia dengan cepatnya langsung mengarahkan kepalan tangan kirinya kearah pelipis kananku..

BUHHGGGG..

Akupun langsung oleng kekiri terkena pukulan yang begitu kerasnya dipelipis kananku.. dan pelipisku langsung robek dengan darah mengalir kedekat mataku.. jiancookkk..

Aku tertunduk sejenak lalu berdiri lagi dengan mata bagian kanan berkedut – kedut.. bajingaann..

Aku pun bersiap membalas serangan Purnama ini.. dan ketika aku akan maju, Purnama lebih dulu dan lagi – lagi dia menggunakan kaki kanannya mengarah kewajahku..

TAPPPP.. TAPPP.. TAPPP.. TAPPP..

Aku menangkis semua tendangan Purnama.. tendangan dari arah depan, tendangan lurus, tendangan balik sampai tendangan putarnya.. gilaaaaa..

Oke.. aku paham.. mungkin tendangannya ini hanya untuk mencari celah, supaya kepalan tangannya bisa menghantamku lagi..

Lalu ketika dia memutarkan tubuhnya lagi sambil mengarahkan tendangan lurus kearah wajahku, aku langsung menunduk dan memajukan tubuhku..

WUUTTTT..

Tendangannya meleset dan selangngkangannya berada dipundakku.. tangan kananku langsung memegang kerah baju belakangnya, sedangkan tangan kiriku memegang ikat pinggangnya.. lalu aku banting Purnama kelantai dengan kerasnya..

BUHHHGGGG..

BUUMMMMM..

Dia terhempas kelantai dan dia langsung menggulingkan tubuhnya tubuhnya kekanan.. dan ketika akan berdiri, aku lalu mengarahkan tendanganku kearah wajahnya..

BUHHHGGGG..

“AARRGGHHHHH..” Purnama langsung terlempar kebelakang dengan darah yang keluar dari mulutnya..

Hu.. hu.. hu.. hu..

Aku pun langsung menenangkan diriku sejenak dan membarikan kesempatan Purnama untuk berdiri.. aku mengatur nafasku sambil membersihkan pelipisku yang mengeluarkan darah terus menerus..

“bangsatt.. bisa juga kamu buat aku berdarah ya..” ucap Purnama lalu berdiri sambil membersihkan darah yang keluar dari mulutnya.. setelah itu dia menatapku dengan sangat tajam sekali..

“bukan hanya dimulutmu yang akan keluar darahnya.. tapi seluruh wajahmu..” ucapku lalu aku mengepalkan kedua tanganku kedepan lagi..

“bangsaatt..” ucapnya langsung berlari kearahku sambil menyapu kaki kiriku yang selangkah didepan kaki kananku..

Aku yang membaca gerakannya itu, langsung mengangkat kaki kiriku kebelakang.. dan aku langsung mengangkat kaki kananku mengarahkan ke wajahnya..

WUTTT..

Purnama menunduk lalu menegakkan tubuhnya dan mengarahkan pukulannya kearah wajahku..

WUTTT..

Aku memundurkan wajahku sedikit dan pukulan Purnama melewati sedikit hidungku.. lalu..

BUHHHGGG..

Kepalan tangan kiriku masuk kearah wajah Purnama sampai dia termundur, dan aku sambut lagi dengan kepalan tangan kananku kearah rahangnya dengan keras..

BUHHHGGG..

Dia pun oleng kebelakang dan aku langsung loncat sambil mengarahkan kepalan tangan kiriku kewajahnya lagi..

BUHHHGGG..

Lalu aku menundukkan wajahku dan menyapu kaki kanannya yang ga seimbang karena dia oleng kebelakang..

BUHHGGGG..

Dan ketika tubuhnya melayang dan mau roboh, aku langsung menghantam pelipisnya dengan keras..

BUHHGGGG..

BUUMMMMM..

Purnama langsung roboh dengan darah keluar dari pelipis, hidung dan mulutnya..

Bajingaaann..

Hu.. hu.. hu.. hu.. hu..

Kembali aku mengatur nafasku sambil melihat Purnama yang matanya terus memejam lalu terbuka.. diapun terlentang dilantai dengan nafas yang berat..

Cuukk.. apa dia sudah tumbang dan ga mampu berdiri lagi..? masa cuman segini aja kemampuannya..?

Dan perlahan Purnama pun langsung duduk dan menunduk.. lalu dia mengangkat wajahnya yang penuh darah itu dan dia menatapku dengan sangat mengerikan.. bola matanya memerah dan itu seperti mata Badai ketika sedang emosi.. jianncookkk.. Purnama juga memiliki mata ini..? bagaimana bisa..? aku pun terkejut dan terdiam melihat perubahan yang sangat luar biasa dari Purnama ini.. akupun sampai tidak mampu mengendalikan pikiranku..

Purnama lalu bangkit dan berdiri dengan aura yang sangat menyeramkan.. bajingaannn.. kenapa aku ga bisa mengendalikan diriku seperti aku berhadapan dengan Badai, Faris, Haris atau Mas panji ketika warna mata mereka berubah..? ada apa dengan diriku saat ini..?

Dan belum hilang kebingunganku ini… sebuah pukulan yang sangat keras langsung mendarat kearah wajahku..

BUHHGGGG..

Akupun terlempar kebelakang sampai aku roboh terlentang..

BUUMMMM..

“ANGGERRR..” teriak Dylan yang samar – samar terdengar di telingaku..

Pukulan yang sangat keras itu langsung membuat kepalaku pusing dan pandanganku berbayang.. aku pun sampai tidak mampu menggerakkan tubuhku yang terlentang dilantai ini.. jiancookk…

“hahahahaha.. kamu kalah..? kamu tumbang..? hahahahaha..” tiba – tiba sebuah suara menggema dikepalaku..

“siapa kamu..? siapa..?” ucapku yang kebingungan..

“hahahahaha.. DASAR LEMAH..” dan diapun langsung mengejekku..

“jiancookkkk..” makiku..

“nimatilah kekalahanmu ini, karena aku belum merasakan emosi yang keluar dari tubuhmu.. hahahahaha..” ucapnya lalu tertawa lagi..

“aku gak akan kalah.. aku akan membantai Purnama itu..” ucapku dengan penekanan kata yang tegas..

“percuma.. karena aku tidak merasakan sedikitpun emosi yang membakar tubuhmu..” ucapnya lagi dan kali ini, tidak ada tawa lagi darinya..

“siapa bilang aku tidak bisa emosi..? siapa..?” ucapku dengan emosinya..

“LEMAHHH..” ucapnya dengan keras..

“JIANCOOKKK..!!!..” teriakku lalu aku bangkit dari posisi terlentang dan pandanganku lurus kedepan.. aku melihat Purnama masih berdiri tidak jauh dari aku dengan mata yang masih memerah..

Aku lalu berdiri perlahan sambil terus menatap mata Purnama..

Pandanganku yang berbayang pun perlahan mulai menerang.. lalu pandanganku berubah menjadi merah dan meredup.. lalu berubah menghitam dan meredup lagi.. lalu menghijau dan meredup.. jianncookkk.. ada apa ini..? apa kepalaku pusing karena pengaruh pukulan dari Purnama tadi..?

Dan kulihat mata Purnama pun langsung berubah menjadi seperti biasa dan dia seperti terkejut menatapku..

“CUKUPPP MASSS..” teriak Bulan dari arah pintu kosan.. kami semua pun langsung melihat kearah pintu dan terlihat Bulan menatap kami dengan tatapan yang sangat tajam.. dan dibelakang Bulan, berdiri seorang wanita yang sudah tua tapi masih terlihat aura kecantikannya..

“ngger.. kamu pulang sekarang..” tiba – tiba wanita tua itu menegurku dan menyuruhku pulang..

“dan kalian semua, masuk kekamar masing – masing..” ucap wanita tua itu lagi kepada anak – anak black house..

Lalu wanita tua itu pun berjalan melewati aku tanpa melihat kearahku.. dia berjalan kearah Purnama..

“kamu sekarang kerumah Oma..” ucap Wanita itu kepada Purnama dan Purnama langsung menunduk ketakutan..

“i.. iya.. Oma..” ucap purnama sambil terus menunduk..

#cuukkk.. siapa wanita ini..? kenapa dia mengenalku dan menghentikan duelku dengan Purnama..? dan satu yang membuatku kagum kepadanya.. wanita tua itu terlihat anggun, berwibawa tapi sangat tegas sekali.. cuukkk.. tapi ngomong – ngomong, sakit juga pukulan Purnama ini.. jiancuukkkk..

Bersambung

Daftar Part