. Matahari 2 Part 6 | Kisah Malam

Matahari 2 Part 6

1
317

Matahari 2 Part 6

EMOSI YANG TERUSIK

Pov Orang ketiga..

Didesa Jati Luhur, setelah pemakaman Dinda.. disebuah ruangan, dua orang laki – laki sedang duduk dikursi.. ruangan itu dulunya adalah ruang istirahat, orang tua yang sangat dihormati didesa itu.. Mbah Jati..

“le.. sekarang lebih baik kamu pulang kepulau seberang..” ucap seorang laki – laki sepuh yang bernama Gito..

“ngga lek.. Sandi ingin menyelidiki semua ini sampai tuntas..” ucap laki – laki lainnya yang bernama Sandi dengan santainya..

“ini bukan perangmu le.. sudah cukup pertempuranmu waktu itu, ketika kamu sudah menumbangkan Cakra..” ucap Gito lalu dia menghisap rokoknya dalam – dalam..

“justru itu yang membuat Sandi khawatir lek.. musuh kali ini kelihatannya lebih kuat dari Cakra.. Sandi khawatir dengan kondisi Angger dan Gagah, serta semua keluarga besar pondok merah.. belum lagi nanti Banyu dan Bening menyusul kekota pendidikan..” ucap Sandi sambil menatap adik Ayahnya itu..

“Ayahmu dulu juga sama seperti kamu le.. dulu Ayahmu sangat khawatir, ketika kamu sudah berhadapan dengan aliansi selatan dan kelompok utama Cakra.. Ayahmu sampai melibatkan semua jaringannya untuk melindungimu..” ucap Gito dengan tenangnya..

“dan Ayah juga turun langsung waktu perang besar dimulai kan..?” ucap Sandi..

“tapi bukan Ayahmu yang menumbangkan Cakra kan..?” ucap Gito dengan tenangnya lalu menghisap rokoknya lagi..

“apa ini berarti Angger harus menghadapi orang yang misterius itu..?” tanya Sandi..

“entahlah..” Jawab Gito..

“hiuuffttt.. huuu.. sebenarnya Sandi paham dengan maksud Paklek.. Ayah memang tidak terlibat langsung dalam penyelidikan.. Ayah hanya menyuruh jaringannya untuk melacak dimana keberadaan Cakra dan jaringan Ayah juga memantauku serta semua keluarga pondok merah.. itukan maksud Paklek..? ini beda cerita lek.. Ayah mungkin bisa melakukan itu, karena Ayah telah mengetahui tentang kekuatan Cakra.. jadi hanya jaringannya saja yang bergerak..” ucap Sandi sambil mengalihkan pandangannya ke dipan yang sudah tua, tempat dimana Mbahnya dulu beristirahat dan sekarang masih terlihat kokoh itu..

“tapi akhirnya kan kamu juga yang menemukan Cakra..” ucap Gito dan Sandi langsung terdiam mendengar ucapan sang paman..

“le.. Paklek gak melarang kamu untuk terlibat dalam perang ini dan paklek juga sadar, kamu pasti akan terlibat dalam perang ini.. silahkan mainkan peranmu disana sebagai pelindung dan penjaga pondok merah.. tapi ingat.. kamu bukan pemeran utama disini.. mainkan saja peranmu itu sesusai dengan porsimu.. masalah duel pamungkas, lihat aja nanti akhirnya.. kamu atau Angger yang akan menghadapi musuh misterius ini.. sekarang yang terpenting, lepaskan lah anak – anakmu itu.. biarkan mereka mencari Jati yang ada didiri mereka dengan cara mereka masing – masing..”

“Paklek tau kamu sangat sayang dan sangat khawatir dengan semua anak – anakmu.. tapi jangan seperti ini.. bermain cantiklah seperti Ayahmu.. lepaskan mereka tapi tetap dalam pantauanmu.. biarkan mereka menjadi anak – anak yang tangguh dan kuat seperti kamu waktu muda.. jangan biarkan mereka menjadi anak yang lemah dan bergantung pada nama besar Ayahnya.. semakin besar permasalahan yang mereka hadapi, mereka akan semakin tangguh menghadapi kerasnya dunia ini.. percayalah pada anak – anakmu itu le..” ucap Gito sambil melirik kearah Sandi lalu melihat kearah dipan juga..

“ingatlah ketika Ayahmu mendidik kamu waktu itu.. kamu terluka, kamu sekarat, kamu tergeletak dirumah sakit, kamu tergeletak dijalanan.. satu, dua, tiga bahkan puluhan orang yang mengeroyok kamu.. Ayahmu hanya membiarkan saja.. justru ibumu yang sangat marah kepada Ayahmu, kenapa membiarkan kamu terbantai seperti itu.. dan Ayahmu baru turun tangan ketika kamu sudah benar – benar terjatuh dan butuh pelukannya..”

“dan sekarang ibumu baru menyadarinya.. Ayahmu ingin menjadikan kamu sebagai anak yang kuat, anak yang perkasa, anak yang gagah dan anak yang mampu menggunakan akalnya dalam berbagai kesulitan..”

“bukannya Ayahmu raja tega le.. bukan seperti itu.. dibalik kegarangannya, Ayahmu itu sebenarnya mempunyai hati yang sangat sensitive sekali.. Ayahmu menangis ketika kamu terluka, Ayahmu tersiksa ketika kamu sekarat, Ayahmu murka ketika nyawamu diujung tanduk dan Ayahmu menggila ketika kamu sudah bersimbah darah..”

“tapi Ayahmu tidak menunjukkannya kepada siapapun, tentang kesedihannya dan tentang air matanya.. tentang amarah dan tentang kegilaannya.. walaupun kepada Ibumu sendiri le..”

“dan lihat hasilnya sekarang.. semua kesedihan dan air matanya, terbayar tuntas olehmu.. kamu sekarang menjadi Sandi yang kuat, Sandi yang perkasa, Sandi yang bijaksana dan Sandi yang bisa melindungi semua keluarganya, tanpa berlindung di nama besar Irawan Jati..” ucap Gito dengan sangat tegasnya dan Sandi hanya menghisap rokoknya dalam – dalam..

“Paklek tau kamu sangat menyayangi anak – anakmu.. tapi jangan sampai kamu dibutakan oleh sayangmu kepada anak – anakmu.. didik mereka agar menjadi seperti pohon jati.. kuat dan kokoh, tapi juga memiliki keindahan yang sangat luar biasa..” ucap Gito lagi..

Sandi pun tetap diam dan mendengarkan semua wejangan pamannya itu, lalu mematikan rokoknya diasbak… lalu setelah pamannya diam dan selesai berbicara..

“Paklek tau kan kondisi Angger..?” ucap Sandi sambil melihat kearah wajah pamannya itu..

“Paklek tau itu..” jawab Gito singkat sambil mematikan rokoknya dan membalas tatapan Sandi..

“itu salah satu alasan, kenapa Sandi gak tega melepaskan Angger dengan masalah yang sangat luar biasa sekali ini lek..” ucap Sandi dengan nada bicara yang tenang tapi sangat tegas sekali..

“itu bukan alasan le.. masalah kesehatan Angger, serahkan kepada Ibumu.. Ibumu pasti akan berusaha merawat cucu tersayangnya itu, dengan ramuan yang diturunkan Eyang Putrimu kepada Ibumu..” ucap Gito lalu mengambil cangkir kopi diatas meja dan menyeruputnya perlahan..

“permasalahannya gak semudah lek..” ucap Sandi sambil mengambil cangkir teh panas diatas meja dan menyeruputnya juga..

“jadi kapan kamu akan balik kepulau seberang..?” tanya sang Paman dan Sandi hanya melirik pamannya itu, sambil meletakkan cangkir teh panasnya diatas meja.. setelah itu dia langsung menarik nafasnya dalam – dalam..

“hiuufffttt.. huuuu…” lalu Sandi menggelengkan kepalanya pelan.. dia sadar, ucapan pamannya itu gak bisa dibantah lagi..

“seandainya Ayahmu masih hidup, mungkin saja Ayahmu akan berkata seperti yang Paklek ucapkan ini..” ucap Gito sambil mengambil rokoknya lagi dan membakarnya, lalu Gito menghisap rokoknya dalam – dalam..

Sandi pun terdiam.. dia hanya melirik pamannya lalu menegakkan duduknya..

“oh iya.. kapan anakmu itu ditatto keluarga Jati..?” tanya Gito sambil melirik kearah Sandi..

“Angger dan Gagah kan sudah ditatto lek.. sedangkan Banyu belum cukup usianya..” jawab Sandi lalu mengambil rokoknya dan membakarnya..

“bukan mereka bertiga..” ucap Gito lalu mengambil kopinya lagi dan meminumnya..

“siapa lek..? Bening..? ga mungkin lah.. selain dia belum cukup usia, Bening kan wanita.. ga mungkin dia akan di tattoo keluarga Jati..” ucap Sandi sambil menyandarkan kepalanya dikursi dan menatap kearah langit – langit kamar ini..

“bukan anak gadismu itu juga..” ucap Gito dengan cueknya..

“maksud Paklek siapa..?” tanya Sandi dengan wajah yang sedikit terkejut dan menatap Pakleknya itu.. setelah itu wajahnya terlihat tenang lagi dan melanjutkan menghisap rokoknya..

“seorang pemuda yang ada dipemakaman Dinda tadi.. pemuda yang memiliki tatapan yang sama seperti kamu..” ucap Gito sambil menoleh kearah Sandi..

“maksud Paklek Badai..?” tanya Sandi dengan nada yang dibuat setenang – tenangnya..

Gito tidak menjawabnya.. Gito hanya menatap Sandi sambil menghisap rokoknya..

“jadi Paklek tau tentang Badai..?” tanya Sandi dengan tatapan yang menyelediki..

“Paklek tau semuanya, walaupun kamu tidak menyampaikannya..” ucap Gito dengan kata – kata yang pelan tapi sangat tegas sekali..

“hiuufftttt.. huuuuu..” ucap Sandi sambil menarik kembali nafasnya dalam – dalam, lalu mengeluarkannya perlahan..

“maaf kalau Sandi belum menyampaikannya kepada Paklek.. maafkan Sandi..” ucap Sandi dengan suara yang santai tapi terdengar sedikit bergetar..

“gak ada yang perlu dimaafkan le.. Paklek sebenarnya marah sekali denganmu dan Paklek hanya bisa memendamnya saja.. Paklek masih menunggu kamu untuk menjelaskan semuanya dan Paklek tau, pasti bukan sekarang waktunya..” ucap Gito sambil terus menatap wajah Sandi..

“atau kamu sudah gak menganggap aku sebagai pengganti Ayahmu..?” tanya Gito dengan wajah yang terlihat agak marah, sedih dan kecewa..

“bukan seperti itu lek.. sandi pasti akan cerita ketika waktunya sudah tiba..” ucap Sandi yang mencoba menenangkan pamannya itu.. lalu dia melanjutkan menghisap rokoknya, dengan wajah yang sedikit tegang..

“baiklah kalau begitu.. sekarang lebih baik kamu persiapkan Badai.. Paklek mau mentattonya hari ini..” ucap Gito lalu berdiri..

“Badai belum tau kalau dia anakku lek..? bagaimana mungkin dia ditatto keluarga besar Jati..?” ucap Sandi yang mencoba menahan Pakleknya itu…

“terus harus menunggu kapan..? usianya sudah lewat untuk ditatto.. kamu jangan membuat aturan sendiri untuk ritual keluarga besar kita..” ucap Gito dengan tegasnya..

“bukan begitu Paklek.. ini bukan seperti yang Paklek pikirkan.. tunggu sampai Badai tau tentang semua ini lah.. Sandi mohon sekali, jangan sekarang ya..” mohon Sandi..

“kamu mau leluhurmu yang diatas sana bersedih..?” tanya Gito sambil melirik kearah dipan tua dan wajah Sandi langsung lesu seketika..

“Sandi sudah janji dengan Ibunya Badai, kalau Sandi tidak akan membuka masalah ini kepada Badai lek.. Ibunya sendiri yang akan membuka masalah ini kepada Badai dan keluarga besarnya..” ucap Sandi dan dia berusaha untuk tetap memegang janjinya ke Wulan dan menunda ritual keluarganya..

“yang suruh kamu membuka masalah ini ke Badai itu siapa le..? aku kan hanya menyuruhmu menyiapkan Badai untuk ditatto..” ucap Gito dengan entengnya..

“itu kan sama aja aku harus jujur dengan Badai to lek..? Badai pun pasti akan bertanya, kenapa bisa dia diminta untuk ditatto keluarga jati..” ucap Sandi..

“ya itu urusanmu..” ucap Gito lalu dia berjalan kearah pintu kamar..

“jangan gitu juga kali lek..” sahut Sandi..

“aku gak mau tau.. hari ini, Badai harus ditatto..” ucap Gito lalu keluar kamar dengan cueknya..

“assuuu’ig…” gerutu Sandi pelan, sambil menggelengkan kepalanya.. dan terlihat, emosi hatinya sedang terusik..

Pov Badai

Huuuu… hari ini hari yang penuh emosi untuk aku dan Angger.. gilaaa… entah kenapa kejadian yang menimpa Angger hari ini, jadi mengerucut kepada kehidupanku juga.. mulai dari emosi hatiku yang terusik ketika bertemu dengan Om Sandi, terus kami berdua berpelukan, terus aku disuruhnya memanggil Ayah, lalu aku ikut ke desa Jati Bening untuk pemakaman Dinda..

Bangsaattt.. bagiku ke desa Jati Bening bukan perjalanan biasa.. aku seperti melakukan perjalanan ritual.. aku seperti melakukan napak tilas perjalanan hidupku.. aku seperti memiliki ikatan yang kuat sekali dengan desa Jati Bening.. padahal aku belum pernah kedesa ini.. gilaaa.. kenapa bisa seperti itu ya..?

Begitu banyak kota dinegeri khayangan ini yang aku singgahi.. dan aku merasakan hal yang biasa aja ketika menginjak dikota – kota itu, termasuk di kota kelahiranku sendiri.. tapi kenapa aku merasakan hal yang berbeda, ketika aku menginjakkan kaki di Desa Jati Bening..?

Dan perasaanku terus terang sangat menggila ketika aku sudah turun dari mobil, dan menginjakkan kaki ditanah desa Jati Bening.. waw.. semua perasaan menyatu dikepalaku.. aku sampai gak bisa mengucapkan apapun, tentang yang ada didalam kepalaku dan dihatiku.. gilaaaa..

Dan pada saat dipemakan tadi, aku melihat dua batu nisan yang berdampingan.. kelihatannya itu makam sepasang suami istri.. lalu entah kenapa seperti ada yang menuntunku untuk duduk di dekat batu nisan itu.. dan ketika aku menyentuh salah satu batu nisan itu, hatiku bergetar dan air mataku langsung menetes dengan derasnya..

Siapa yang ada dibawah batu nisan ini..? kenapa bisa aku menangis tanpa mengenal siapa yang dikubur disini..? apa leluhurku ada ikatan dengan orang – orang didesa ini..? entahlah.. yang aku tau, nama yang tertulis di batu nisan itu.. Ranajaya.. dan kata salah satu penduduk desa yang ikut menguburkan Dinda.. makam yang aku sentuh itu, makam orang yang sangat berpengaruh didesa Jati Bening.. gilaaa..

Eitssss.. entar dulu.. Ranajaya..? kok aku sepertinya pernah dengar nama itu ya..? astagaaaaaa.. aku baru ingat sekarang.. beliau itukan buyutnya Gagah dan Anger.. Gagah pernah mengucapkan nama buyutnya itu, ketika akan berduel dengan Haris dipondok merah.. bangsaaatttt.. kok ikatan batinku dengan Angger, Gagah, Om Sandi dan buyut Ranajaya, seperti ada benang merahnya ya..? arrgghhhhhh..

Belum lagi ketika aku bertemu dengan eyangnya Angger.. Eyang Anjani.. uhhh.. hati dan perasaan ku seperti dibuat permainan aja oleh semesta.. semua yang ada di Eyang Anjani, membuat aku benar – benar terdiam dan tidak sanggup untuk berbicara.. tatapan mata beliau, sentuhan tangan beliau, pelukan beliau, belaian tangan beliau di rambutku dan semua tentang Eyang Anjani, membuat hatiku senang, sedih, bahagia, terluka dan berbagai macam perasaaan, yang membuat didalam diriku banjir air mata.. sakit yang terdalam.. anjingg..

Mungkin terkesan lebay.. kenapa aku yang baru pertama kali menginjakkan kaki didesa Jati Bening, bisa menangis seperti ini.. tapi entahlah, namanya juga perasaan.. bangsaattt..

Dan sekarang kembali ke Angger..

Gila anak itu.. Angger seperti mayat hidup ketika melihat tubuh Dinda terbaring dikamar mayat, sampai tubuh Dinda dikuburkan.. tatapan mata Angger kosong dan tubuhnya seperti tidak bernyawa.. dia seperti mayat hidup dan kondisinya pun sangat menyedihkan sekali..

Kaila, Lia, Kak Dana, Bulan, Clara dan juga Mba Rani pun, mencoba menyadarkan Angger tapi tidak ada yang bisa.. Angger tetap diam dan wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun.. matanya terbuka, kakinya bisa melangkah, dan tubuhnya bergerak.. tapi ya begitulah.. aku gak bisa ngungkapin kesedihan yang terlihat diwajah Angger.. gila.. gila..

Angger baru tersadar ketika pemakaman telah selesai.. dan kembali wajahnya bukan menampakkan seperti Angger yang aku kenal kemarin.. tatapannya mengerikan, senyumnya menakutkan dan ekpresinya sangat dingin sekali.. anjingg.. normal gak sih Angger ini..? atau jangan – jangan sudah gila lagi dia..

Semua penghuni pondok merah dan gedung putih pun, hadir didesa Jati Bening.. kami semua mencoba memberi dukungan dan semangat kepada Angger.. tapi tetap aja ga ngaruh.. para wanita yang ada disekeliling Angger aja gak bisa, apalagi batangan seperti kami.. kan bangsat banget kalau gitu..

Aku sempat berpikir.. bisa gak dukungan kehadiran kami ini, diganti dengan mengirimkan pesan ke operator.. siapa tau dukungan kami, bisa membuat Angger juara.. juara pria tersedih dan terpukul di abad ini.. arrgghhhh.. ternyata, gila nya Angger nular juga ke aku.. anjing.. anjing..

Dan kami semua sekarang sudah dirumah Eyang Anjani.. kami baru pulang dari makam dan juga tadi singgah kerumah Dinda.. penghuni pondok merah dan gedung putih pun, membaur disini.. kami semua bersiap untuk balik ke Kota Pendidikan..

Disini juga ada Om Pandu dan istrinya, orang tua dari Mas Panji.. Gilaa.. Om Pandu ini garang tapi ceplas ceplos banget orangnya.. beda dengan Ibunya Mas Panji yang agak kalem.. mungkin sifat sabar dan tenangnya Mas Panji, menurun dari Ibunya.. hehehe.. gila.. dan kata Karel, Om Pandu itu dulu panglima perang pondok merah dijamannya.. setelah Om Pandu, Papahnya Karel yang jadi panglima pondok merah.. namanya kalau gak salah, Om Rendi.. lalu setelah itu dilanjut oleh Om Sandi dan dilanjut lagi dengan Om Satria..

Luar biasa.. tiga orang sudah mantan panglima pondok merah yang aku temui.. dan beliau bertiga adalah Om Pandu, Om Sandi dan Om Satria.. dan beliau bertiga itu sangar – sangar.. aku gak bisa bayangkan, gimana gilanya mereka bertiga waktu jadi Panglima pondok merah.. pasti pondok merah berada dipuncak kejayaannya.. kalau Om Rendi aku belum pernah bertemu, tapi kalau dilihat dari gaya Karel.. Pasti Om Rendi nyantai dan lebih gila.. hehehe.. dan satu yang jadi pertanyaanku.. siapa diantara mereka yang mendapat julukan bajingan lendir.. sesuai pertanyaan gagah ke Mas panji waktu itu.. penasaran banget aku.. hehehehe..

“jadi kalian langsung balik ini..?” tanya Om Pandu kepada kami semua, lalu pandangannya diarahkan kepadaku.. pandangannya pun seperti menyelidiki aku..

Kenapa sih orang disini kok menatapku aneh seperti itu..? bukan hanya Om Pandu loh ya.. tapi hampir semua orang yang aku temui disini.. apa aku ini terlalu ganteng ya, jadi semua terpukau dengan kegantenganku..? atau ada yang aneh dengan dandanku atau gayaku..? ah persetanlah..

“iya yah..” sahut Mas Panji dengan sopannya..

“kenapa ga bermalam dulu..?” tanya Om Pandu..

“emang ada tempatnya Om..? kita kan rombongan besar..” ucap Kenzie..

“bermalam aja di pondok – pondok yang ada disawah sana..” jawab Om Pandu dengan cueknya..

“heemmm..” gerutu Kenzie pelan..

“ga usah dijelek – jelekin gitu mukamu zie..” ucap Om Pandu lalu tersenyum mengejek..

“memang sudah jelek dia om..” sahut Mas Agam..

“kok bisa ya..? perasaan dari dulu penghuni pondok merah itu ganteng – ganteng loh.. kok sekarang ada yang jelek..?” tanya Om Pandu sambil memasang wajah yang pura – pura serius..

Gila nih orang tua.. enak banget ya ngomongnya.. apa jaman mereka juga biasa saling membully sesama penghuni pondok merah..? bajingaann..

“waktu Kenzie masuk, khilaf saya yah..” ucap Mas Panji menyahut..

Bangsaattt.. tumben banget Mas Panji ikut membully disini..? biasanya dia hanya diam dan mendengarkan saja..

“jadi ceritanya aku di bully ini..?” ucap Kenzie sambil mengerutkan kedua alisnya..

“bukan membully.. cuman mau ngingatin aja, supaya kamu itu sadar diri.. hehehehe..” ucap Om Pandu lalu tertawa pelan..

Uhhh.. empuk juga ucapan Om Pandu ini.. tapi rasanya nendang banget.. hehehehe..

“astaga…” ucap Kenzie sambil menggelengkan kepalanya pelan..

“kita kedalam yo bu.. disini orangnya serem – serem..” ucap Om Pandu ke Istrinya dan Istrinya hanya tersenyum saja..

Hahahaha.. ga nyadar banget orang tua satu ini.. emang wajahnya ga serem apa..? wajahnya lebih serem tau.. untung Om pandu ini Ayahnya Mas Panji.. kalau engga, sudah aku keluarin celetukanku yang gila..

Beliau berdua lalu masuk kedalam rumah, sedangkan Mas Panji langsung mengambil rokoknya dengan cepat lalu membakarnya.. gilaa.. masa preman takut rokokan di depan orang tuanya sih..? hehehehe..

“Om Panji.. sampean sama teman – teman duluan aja baliknya.. aku masih disuruh kedesa Jati Luhur sama Ayah..” ucap Gagah yang keluar dari dalam rumah..

“oh ya udah kalau gitu..” jawab Mas Panji sambil menikmati rokoknya..

“yang perempuan ikut bareng sama sampean loh om..” Ucap Gagah lagi..

“siapa aja..?” tanya Mas Panji..

“Kak Dana, Kak Angel, Mba Kaila, Bulan, sama Clara..” jawab Gagah..

“bukannya mereka semua naik mobil ya..?” tanya Mas Gibran..

“iya.. mereka naik dua mobil.. nanti aku yang bawa satu mobilnya.. terus yang satu mobil biar Badai aja yang bawa..” ucap Mas Panji sambil melirikku..

“siap..” jawabku sambil mengeluarkan rokokku dan membakarnya..

“Bang Badai disini aja dulu.. nanti baliknya ke kota pendidikan sama aku..” ucap Gagah kepadaku..

“ha..? kenapa..?” tanyaku dengan terkejutnya..

“gak tau.. pokoknya tadi Ayah pesan ke aku, kalau ke desa Jati Luhurnya bareng sama bang Badai..” ucap Gagah sambil mengambil bungkusan rokokku dan mengambilnya sebatang lalu membakarnya..

Kenapa lagi ini..? kok aku disuruh ke desa Jati Luhur..? ada acara apa disana..? terus kenapa hanya aku dan Gagah yang disuruh kesana..?

“ada apasih de..?” tanyaku penasaran..

“gak tau bang.. pesannya cuman itu aja..” ucap Gagah..

“abang tanyanya jangan sama dede bang.. tanya sama Om Sandi aja nanti..” ucap Karel yang duduk tidak jauh dari tempat aku duduk..

“mungkin ko mo dikasih jodoh disini dai..” sahut Pace Beni..

“ha..?” ucapku yang kembali terkejut..

“iya dai.. mungkin Gagah gak mau.. jadi kamu yang gantiin.. hehehehe..” sahut Kenzie lalu tertawa..

“anjing.. emang aku pemain cadangan..?” ucapku ke Kenzie..

“kamu bukan pemain cadangan, tapi pemain pengganti dai.. hehehehe..” ucap Mas Reihan dengan polosnya..

“sama aja itu mas..” ucap Kenzie..

“bedalah.. pemain cadangan itu belum tentu main.. tapi pemain pengganti itu pasti main..” sahut Mas Reihan..

“cuukkk.. memang seperti itu..? siapa yang ngomong gitu..?” tanya Kenzie..

“aku lah yang ngomong..? kamu ga dengar zie..? gimana sih..?” ucap Mas Reihan lalu dia menghisap rokoknya..

“ya begitulah kalau orang kebanyakan hirup ee’ nya sendiri mas.. otak sama kupingnya gak nyambung..” ucapku ke Mas Reihan sambil melirik ke Kenzie..

“mulutmu dai.. namanya juga orang berak.. pasti dihirupnya lah ee’nye sendiri..” ucap Kenzie yang ga terima dengan bullyanku..

“mungkin maksudnya Badai.. untuk menetralisir pikiranmu, kamu disuruh hirup ee’ nya Badai zie.. hehehe..” ucap Mas reihan dan yang lain hanya menggelengkan kepalanya saja..

“anjing.. jijik banget.. iiiii..” ucap Kenzie sambil menggidikkan tubuhnya..

Lalu…

Duttt.. duuuttttt.. duuuuutttttttt…

Aku pun mengangkat bokongku sedikit, lalu mengeluarkan bunyi yang sangat merdu dari lubang bokongku.. dan suaranya pun seperti nada – nada yang sangat indah, tapi menghasilkan aroma yang bisa membuat kita dimaki – maki oleh orang disekeliling kita..

“jiancoookkkkk..” maki semua orang kepadaku sambil menutup hidung mereka satu persatu..

“ga ada sopannya manusia satu ini..” ucap Dylan sambil menutup hidungnya..

“lan.. ada kala disuatu masa nanti.. suara dari bokong lebih dihargai, daripada mulut ketika bersin..” ucapku dengan santainya kepada Dylan yang baru bersuara ini..

“assuuu.. emang kapan kentut akan lebih dihargai dari pada bersin..” tanya Dylan dengan herannya..

“adalah.. kamu pasti akan merasakannya nanti.. apalagi ketika bersin, kamu gak menutup mulutmu.. bisa dimasa orang banyak kamu..” ucapku lalu aku menghisap rokokku lagi..

“jiancuukkk.. sadis banget ya..” ucap Rogi yang ikut bersuara dan aku hanya tersenyum saja..

“sudah ah.. ayo bang.. ditunggu loh kita sama Ayah..” ucap Gagah kepadaku..

“ayolah.. lama – lama disini, bisa hirup ee’nya Kenzie kita..” ucapku lalu berdiri..

“anjing..” maki Kenzie kepadaku dan aku hanya tersenyum saja..

“aku tinggal dulu ya semua..” pamitku kepada semua yang ada disitu.. dan mereka semua hanya menganggukan kepala..

Aku lalu berjalan mengikuti Gagah yang berjalan kearah motor semoknya.. lalu setelah Gagah didekat motornya, dia membuang rokoknya lalu naik diatas motornya..

“yang cewe – cewe kemana de..?” tanyaku lalu aku menghisap sekali lagi batang rokokku, setelah itu aku membuang puntungnya.. lalu aku naik dibelakang Gagah..

“lagi didalam.. ngobrol sama tanteku..” ucap Gagah lalu menyalakan mesinnya dan menjalankan sisemok pelan..

“kalau Angger kemana..? kok ga kelihatan..?” tanyaku lagi..

“dikamar.. lagi sama Eyang Anjani..” ucap Gagah..

“kasian banget masmu itu..” ucapku singkat..

“iya bang.. makanya lagi diterapi sama Eyang dikamar..” jawab Gagah..

“terapi..?” tanyaku lagi..

“maksudnya di kasih wejangan sama Eyang.. biar gak merenung terus..” jawab Gagah..

“oohhh..” ucapku lalu aku diam..

Aku pun langsung memperhatikan pemandangan dikanan kiri jalan, yang kami lewati.. pemandangannya sangat indah sekali.. sawah yang menghijau dan pohon – pohon rindang disekitarnya.. lalu aku melihat juga aliran sungai yang mengalir dengan tenangnya.. gilaaa.. aku mau tinggal disini beberapa hari untuk menikmati keindahan desa ini..

Dan selama perjalanan ini.. senyum sapa dari orang yang kami lewati, menyambut kami dengan ramahnya.. rupanya hampir semua penduduk desa ini mengenal Gagah.. luar biasa..

Dan ketika perjalanan kami memasuki sebuah gapura yang bertuliskan Desa Jati Luhur.. dadaku pun kembali berdetak dengan cepatnya.. anjinggg.. kenapa seperti ini lagi ya..? kok perasaan ini sama seperti ketika aku memasuki Desa Jati Bening tadi..? ada apasih dengan diriku ini..? hiuuufffffttt.. huuuuu..

Hawa desa yang penuh dengan aura mistis ini, menyambutku dengan sangat ramah sekali.. aku seperti kembali kerumahku yang tidak pernah aku datangi.. gilaa.. bagaimana mau aku datangi..? aku aja gak mengenal desa ini.. bangsat..

Dan lagi – lagi ikatan batinku sangat kuat dengan desa ini, sama seperti didesa Jati Bening tadi.. tapi ikatan seperti apa sih..? atau jangan – jangan memang leluhurku berasal dari desa ini..? tapi dari silsilah yang mana..? Ayah..? ga mungkinlah.. Ayahku itu asli pulau seberang.. Ibu..? nah kalau ini aku gak tau.. soalnya leluhur dari Ayah ibuku berasal dari pulau ini.. tapi setauku bukan dari desa Jati Bening dan desa Jati Luhur.. gilaaa…

Perjalanan kami pun terhenti disebuah rumah tua yang sangat terawat sekali.. rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya.. padahal disekitarnya, rumah – rumahnya sudah dibangun dengan didinding bata dan berbentuk mengikuti jaman sekarang.. tapi rumah tua ini beda sekali.. terbuat dari kayu jati dan berbentuk joglo..

Aura mistispun makin kental ketika aku sudah turun dan berjalan mengikuti Gagah, untuk melangkah kearah teras rumah ini.. kelihatannya rumah ini terdiri dari tiga bagian.. ruang teras, ruang tengah dan ruang dapur.. waw.. semoga saja rumah ini tetap seperti ini, dan dipertahankan bentuknya sampai esok, esoknya lagi dan esoknya lagi..

Dan diteras.. Om Sandi sudah menunggu kedatangan kami.. Gagah dan aku pun langsung bergantian menyium tangan beliau.. setelah itu kami bertiga duduk dikursi yang ada diteras ini..

Beberapa saat kemudian, datang seorang wanita tua membawa tiga gelas minuman kepada kami.. pandangan wanita itu terus kearahku.. tuhh kan.. lagi – lagi aku ditatap seperti ini.. ada apa lagi ini..? kenapa dia menatapku seperti ini..?

“Mbah Darmi kok gitu sih lihat Bang Badai..?” tanya Gagah kepada wanita tua yang dipanggil Mbah Darmi ini..

“eh.. engga apa – apa kok..” ucap Mbah Darmi itu lalu pandangannya sekarang dialihkan kearah Gagah..

“beliau ini, adik Ayahku.. namanya lek Darmi..” ucap Om Sandi mengenalkan wanita tua itu kepadaku..

“oh iya Om.. eh yah..” ucapku yang grogi..

Aku lalu berdiri dan meraih tangan wanita tua itu dan mencium punggung tangannya..

CUUPPP..

Dan ketika aku mencium punggung tangannya, Mbah Darmi membelai rambutku dengan sangat lembutnya.. uhhhhhh.. sudahlah.. ga usah kuceritakan lagi perasaanku ya.. capek hati banget aku hari ini.. apalagi ketika aku mengangkat wajahku dan menatap wajah Mbah Darmi.. beliau mengelus wajahku pelan dengan mata yang berkaca – kaca..

“mi.. mirip..” ucapnya dengan suara yang bergetar..

Mirip..? maksudnya aku mirip dengan seseorang..? mirip siapa..? arrghhhhhhhh..

“mirip siapa mbah..?” tanya Gagah..

“mirip..” ucap Mbah Darmi terpotong..

“Lek..” panggil Om Sandi dan Mbah Darmi langsung melihat kearah Om Sandi sambil melepaskan sentuhannya diwajahku..

“iya.. aku kedalam aja..” ucap Mbah Darmi lalu masuk kedalam rumah..

Dan suasana yang penuh mistis ini menjadi makin tegang.. Anjinggg.. kenapa sih suasananya jadi begini..? sudah suasana penuh mistis, bukannya disambut dengan ketenangan malah disambut dengan ketegangan.. gilaaa.. gilaa…

Aku lalu duduk lagi dan pandanganku langsung aku arahkan ke Om Sandi.. wajahnya terlihat sedikit agak tegang dan beliau berusaha untuk mengendalikan dirinya.. ahhh.. kok makin begini sih..? beliau lalu mengambil rokoknya dan membakarnya.. lalu setelah beliau menghisap rokoknya, beliau menatapku sambil mengeluarkan asap rokoknya perlahan..

“setelah ini kamu akan ditatto keluarga Jati dai..” ucap Om Sandi kepadaku..

“HA..?” ucapku dan Gagah bersamaan..

Gagah terlihat sangat terkejut sekali.. bangsaattt.. Gagah aja terkejut, apalagi aku..? bagaimana aku gak terkejut.. ini tentang tattoo keluarga jati yang keren dan penuh aura mistis itu bro.. gilaa aja.. aku memang ingin mempunyai tattoo keren itu, tapi kata Mas Panji itu bukan tattoo sembarangan.. itu hanya untuk keturunan Mbah Jati yang sudah berusia tujuh belas tahun.. maka dari itu, hari itu juga aku menguburkan niatku untuk memiliki tattoo itu.. tapi sekarang..? tiba – tiba tawaran itu datang kepadaku.. bajingaannn..

Senang..? pasti senanglah.. siapa yang gak senang ditatto dengan gambar rajawali yang gagah itu..

Bingung..? pasti bingunglah.. aku ini siapa..? kenapa bisa aku disuruh untuk di tattoo seperti itu..? aku ada hubungan apa dengan keluarga ini..?

Jadi gimana..? mau nolak..? arrgghhhhh..

Aku pun hanya terdiam dan melongo dihadapan Om Sandi.. aku tidak sanggup untuk berbicara sepatah katapun..

“kamu itu anakku.. kamu kan sudah manggil aku Ayah..” ucap Om Sandi dengan cueknya lalu berdiri..

DUAAAAARRRRR..

Tiba – tiba gak ada mendung dan tanda – tanda mau hujan, bunyi petir menyambar dan membuatku makin terkejut.. bukan bunyi petirnya loh yang membuat aku terkejut.. tapi ucapan Om Sandi yang bilang aku ini anaknya, itu yang bikin aku terkejut setengah mati.. gilaaaa.. anak apa..? anak ketemu gede..? terus apa iya anak yang diangkat Om Sandi itu, harus ditatto keluarga Jati juga..?

“kalau kamu gak mau gak apa – apa, Ayah gak maksa.. tapi kalau kamu mau, masuklah kedalam..” ucap Om Sandi lalu menghisap rokoknya dalam – dalam dan setelah itu mematikan batang rokoknya diasbak.. setelah itu Om Sandi masuk kedalam ruang tengah..

Dan aku masih terdiam dengan keadan ini.. aku tidak menolak atau menyetujuinya.. aku hanya menatap punggung Om Sandi yang masuk kedalam ruangan tengah itu..

“wihhhh.. gila kamu bang.. hebat banget loh abang.. gak ada orang lain selain keluarga Jati yang boleh memiliki tattoo ini.. sekarang Abang malah ditawarin sama Ayah.. luar biasa..” ucap Gagah mengejutkan aku..

“bukannya hebat de.. aku ini bingung kenapa ditawarin seperti ini..?” ucapku kebingungan..

“sudahlah bang.. masuk aja.. kalau abang ditatto, berarti kita akan memiliki hubungan yang lebih terikat lagi..” ucap Gagah sambil menepuk pundakku pelan..

Akupun langsung melihat kearah Gagah dan dia langsung menganggukan kepalanya pelan.. hiuuffttt.. huuuuu..

Aku tidak menjawab lagi ucapan Gagah.. entah kenapa aku langsung menegakkan tubuhku lalu berdiri dengan kaki yang agak gemetar..

Lalu setelah pikiranku agak tenang, aku melangkahkan kaki masuk kedalam ruang tengah.. dan diruang tengah, Om Sandi sedang duduk dan melihat kearahku.. beliau tidak berbicara.. beliau hanya mengkode dengan menolehkan wajahnya, kearah sebuah kamar yang ada disebelah tempatnya duduk..

Aku lalu mengangguk pelan.. setelah itu aku berjalan kearah kamar yang ditunjuk itu.. dan jantungku pun makin berdetak cepat, ketika aku sudah ada didepan pintu kamar itu.. lalu..

TOK.. TOK.. TOK..

Aku mengetuk pintu kamar itu pelan..

“masuk..” sahut suara dari dalam kamar.. suaranya pelan tapi langsung membuat bulu kudukku berdiri..

Aku lalu membuka pintu kamar itu pelan.. dan ketika aku melangkahkan kakiku kedalam kamar.. aura yang lebih terasa mistis dan hawa yang sangat menyeramkan, menyambut kedatanganku.. bulu kudukku makin berdiri dan aku sampai berkidik dibuatnya.. iiiiii.. ngeri kali diruangan ini.. bajingaannn..

Dan satu orang tuapun, menyambutku dengan tatapan yang sangat tajam sekali.. loh.. inikan orang tua yang ada dipemakaman Dinda.. siapa beliau ini..? apa dia salah satu keturunan Jati..?

“buka kaosmu dan duduk dikasur..” ucap orang tua itu kepadaku..

Gila.. ini aku langsung buka baju..? gak kenalan dulu atau basa – basi bagaimana gitu..? arrgghhhhh.. bikin aku makin takut aja nih orang tua..

Akupun langsung membuka kaosku dan berjalan kearah kasur yang ditunjuk.. setelah itu aku duduk dan perasaanku makin tegang aja.. gilaaaaa.. apalagi ditambah dengan aroma melati yang menusuk hidung.. bajingaannnn.. keringat dinginpun sampai keluar diseluruh tubuhku..

“kamu minum dulu ini..” ucap orang tua itu sambil menyerahkan segelas minuman kepadaku..

Tanpa banyak tanya, aku meraih gelas itu dan aku langsung meminum minuman itu.. minuman itu terasa hambar.. tapi ketika minuman itu telah habis, aku merasakan ketenangan yang sangat luar biasa.. tidak ada ketegangan atau ketakutan sedikitpun didalam diriku.. pikiranku seperti melayang dan aku seperti terhipnotis oleh ketenangan ruangan kamar ini..

“sekarang berbaringlah..” ucap orang tua itu..

Akupun langsung berbaring diatas kasur.. lalu orang tua itu melakukan sebuah ritual.. entah ritual apa itu, yang jelas mulutnya sedang komat kamit.. lalu beliau mengambil dua bilah kayu.. yang satu ujungnya ada jarumnya dan yang satu tidak.. setelah itu, kayu yang ada jarumnya ditempelkan dadaku dan memukulnya dengan kayu yang satunya lagi dengan pelan..

TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK..

Irama yang terdengar ketika kayu itu memukul kayu yang ada jarumnya.. jarum itu pun mulai masuk kedalam tubuhku dan berjalan membuat ukiran – ukiran yang indah.. tidak ada rasa sakit yang terasa, ketika jarum itu tertanam dan berjalan didadaku.. aku justru merasa seperti sedang dibelai dan di nina bobokan.. mataku pun mulai mengantuk..

Lalu terdengar lagu – lagu tembang pulau ini dari bibir beliau.. suara yang merdu itu pun mulai mengantarkan aku kealam bawah sadarku.. mataku pun mulai terpejam dan aku tertidur dengan nyenyaknya..

Dan tiba – tiba aku terbangun mendengar suara kicauan burung dan hembusan angin yang sepoi – sepoi.. gilaaaa.. segar banget udara disini.. tempat apa ini..? aku lalu duduk diatas balai – balai bambu yang aku tiduri ini.. lalu aku melihat sekeliling tempat aku duduk ini.. gila.. ini teras sebuah rumah.. tapi rumah siapa..? kok suasananya tenang dan damai seperti ini..?

“selamat datang le..” ucap seseorang yang tiba – tiba muncul dan duduk tidak jauh dari aku.. orang itu sangat tua dan wajahnya mirip sekali dengan Om Sandi.. orang tua itu terlihat sangat tenang dan wajahnya sangat berwibawa sekali..

“mohon maaf.. mbah siapa ya..?” tanyaku.. Dan hatiku pun langsung bergetar ketika beliau terus menatapku.. waw.. tatapannya sama seperti Om Sandi.. apa orang tua ini leluhur Om Sandi..?

“panggil aja aku mbah Irawan..” ucap orang tua itu kepadaku..

“mbah Irawan..? Mbah ini siapa..? dan kenapa saya ada disini..?” tanyaku lagi..

“nanti kamu juga akan tau..” ucapnya dengan sangat tenang sekali..

“astagaaaa.. kenapa hari ini nasibku begini sih..?” ucapku sambil menggelengkan kepalaku..

“kenapa..? ada yang salah dengan nasibmu..?” tanya mbah Irawan..

“salah sih enggak mbah.. cuman nyesek.. nyesek nang njero dodo.. (sesak didalam dada..)” ucap Badai..

“terus kenapa..? kamu bingung dengan semua ini dan kamu mau berhenti untuk mencari tau tentang semua yang ada dipikiranmu..? pikiranmu sudah gak mampu ya le..? kalau gak mampu ya mundur alon – alon aja (mundur pelan – pelan)..” ucap mbah Irawan

“pantang bagi seorang Badai untuk lari dari semua masalah.. lagian kan saya cuman sedikit mengeluh aja, kenapa kok hari ini nasib saya seperti ini..? salah ya saya mengeluh.? mengeluhkan bukan berarti menyerah..?” ucap Badai

“gak ada yang salah dari mengeluh itu.. itu hal yang lumrah dari seorang manusia.. tapi jangan keseringan.. karena mengeluh itu ibarat sebuah batu kerikil yang ada didepanmu, ketika kamu melangkah.. dan kamu mungkin bisa terjatuh karena batu kerikil itu.. jadi semakin banyak kamu mengeluh, maka akan semakin banyak kerikil yang ada dihadapanmu.. dan itu bisa membuat kemungkinan kamu terjatuh, makin besar..” ucap Mbah Jati..

Hiufffthhhh.. huuuuu.. dalem banget ngomongnya mbah Jati ini..

“terus apa tujuan Mbah datang..?” tanyaku

“aku hanya ingin menyampaikan pesan leluhurku kepada kamu..” ucap Mbah Irawan..

“pesan..?” tanyaku dengan kua alisku yang langsung berkerut..

“ya.. sebuah pesan.. pesan tentang kehidupan.. berpeganglah pada tali kesadaran hidup.. karena itu yang akan membimbingmu selama perjalan hidupmu nanti..” ucap Mbah Irawan dan itu membuatku kembali mengerutkan kedua alisku..

“hanya itu..?” tanyaku dan Mbah Irawan hanya memandangku..

“aaarrgghhhh..” ucapku sambil menggaruk kepalaku dengan kedua tanganku.. dan lagi – lagi Mbah Irawan hanya menatapku saja..

“okelah mbah.. terimakasih.. terimakasih atas pesannya kepada saya.. tapi terus terang saya agak kecewa.. karena saya kira mbah akan menyampaikan kepada saya, kenapa saya bisa ada disini.. kenapa bisa saya mempunyai ikatan batin, dengan orang yang ada didesa Jati Bening dan orang yang ada di desa Jati Luhur.. dan kenapa bisa saya ditatto keluarga Jati..” ucapku dengan sedikit kecewa..

“semua akan kamu ketahui nanti le..seiring dengan perjalan hidupmu yang akan kamu lalui….” ucap Mbah Irawan dan aku langsung menunduk sejenak..

Hiuuffttt… huuuu.. gilaaa.. omongan singkat, padat dan membuat kepala makin cenat cenut.. akupun hanya menggelengkan kepalaku pelan, lalu ketika aku mengangkat wajahku lagi, Mbah Irawan sudah tidak ada dihadapanku..

Astagaaaa.. kemana lagi mbah Irawan itu..? kenapa bisa menghilang dengan cepat sih..? arrgghhhhh..

“le..” ucap seseorang membangunkan aku dan aku langsung membuka kedua mataku..

“Mbah Irawan..” ucapku sambil duduk dikasur..

Orang tua yang membangunkan akupun, hanya menatapku sebentar.. lalu beliau membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah meja diujung ruangan..

Anjingg.. aku mimpi toh tadi.. mimpi ketemu mbah Irawan.. tapi siapa mbah Irawan itu..? kenapa beliau hadir dimimpiku ketika aku ditatto..?

Aku lalu menunduk dan melihat ke arah dadaku.. anjiinggg.. dadaku sudah ditato broooo.. gilaaa.. keren banget lagi tattonya.. bangsaattt.. bangsaattt..

Karena terlalu senangnya, aku sampai lupa dengan semua pikiranku yang mengganjal seharian ini.. perasaanku sangat bahagia dan senang sekali.. aku seperti melihat kehidupanku yang baru, di lekukan – lekukan gambar tattoo didadaku.. gilaaaa..

Dan akupun merasa seperti makin percaya diri, dan aku seperti mempunyai semangat hidup yang sangat luar biasa.. bajingaannn..

“kalau sudah selesai.. keluarlah..” ucap orang tua yang mentattoku dan beliau sedang duduk sambil menghisap rokoknya..

“iya mbah.. terimakasih..” ucapku sambil memakai kaosku lagi..

“tapi kita belum kenalan loh..” tanyaku sambil menatap kearah orang tua itu..

“namaku Gito.. pangggil aja mbah Gito..” ucap orang tua itu singkat lalu melanjutkan menghisap rokoknya..

Anjinggg.. terus aku harus gimana ini..? mau tanya – tanya apa lagi ya..? ga usah deh.. dari pada mukaku ditato sama mbah Gito, kan gak lucu kalau gitu..

“saya pamit mbah..” ucapku..

“hem..” jawab Mbah Gito..

“terimakasih..” ucapku lagi..

“hem..” jawab Mbah Gito..

Anjing.. kalau ngomong sekali lagi.. beneran ditatto mukaku yang ganteng ini.. sudah lah.. mending aku keluar aja.. aku lalu menganggukan kepalaku.. setelah itu aku berjalan kearah pintu kamar.. dan setelah aku diluar kamar, Om Sandi tidak ada ditempat duduknya tadi.. akupun lalu menuju ke teras, tempat Gagah menungguku..

“wooo.. wooo.. wooo.. yang baru ditatto.. gilaaa.. tambah garang aja loh wajahnya Abang ini..” ucap Gagah lalu tersenyum kepadaku..

“apasih..” ucapku singkat sambil melihat sekeliling tempat ini.. dan terlihat malam mulai menyapa desa Jati Luhur ini..

“sudah malam ya de..” ucapku sambil mengambil bungkusan rokokku dan mengambilnya sebatang.. lalu setelah membakarnya dan menghisapnya, setelah itu aku duduk disebelah Gagah..

“ya malam lah.. Abang loh lama banget di tattonya..” jawab Gagah..

“oh iya..” ucapku dengan cueknya..

“hem..” jawab Gagah singkat sambil menikmati tarikan rokoknya yang dalam..

“Ayah mana de..?” tanyaku..

Anjinggg.. enak banget ya aku ngomongnya.. Ayah.. uhhhhh.. gurih banget pokoknya..

“kedesa Jati Bening.. Ayah mau pamit ke Eyang Anjani sama Mas Angger..” jawab Gagah dengan santainya..

“pamit..? mau kemana..?” tanyaku terkejut..

“mau balik kepulau seberang.. Bunda tadi telpon.. malam ini juga, Ayah disusuh balik..” jawab Gagah lalu dia menghisap rokoknya lagi..

Anjingg.. kok tiba – tiba jadi sedih dan kecewa begini ya aku..? kenapa mendengar Om Sandi balik kepulau seberang, aku jadi merasa ga ikhlas dan aku masih pengen berada didekat orang yang baru mengangkatku sebagai anak itu..? bajingaaannn..

“Ayah titip salam aja tadi..” ucap Gagah lagi..

Ahhhh.. ga butuh salamnya aku.. aku butuh ucapan perpisahan langsung dari mulut beliau dan pelukannya sebelum pergi.. bajingaannn.. ini rasanya lebih sakit dari pada ditinggal kekasih tanpa pamit, pas lagi sayang – sayangnya.. perih bro.. perihh.. bangsat banget sih..

“minum kopinya dulu bang.. dah dingin itu..” ucap Gagah yang melihatku terdiam dari tadi..

Aku lalu mengambil kopi yang sudah dingin itu, lalu aku meminumnya.. dan bangsatnya, kopi itu gak bisa menenangkan sama sekali hatiku yang kecewa dan sedih ini.. cafeinnya seolah ga mengefek, seperti biasa ketika aku meminumnya.. bukan karena karena kopinya sudah dingin.. bukan seperti itu.. tapi aku merasa sangat kecewa sekali.. aku seperti anak kecil yang ditinggal Ayahnya pergi kerja, untuk waktu yang sangat lama sekali.. dan itu tanpa dipamiti.. itu sangat mengecewakan banget loh.. tau kan bagaimana kalau anak kecil sudah kecewa banget..? bajingaannn..

KRING.. KRING.. KRING..

Tiba – tiba Hpku berbunyi dan Gagah hanya melirikku saja..

“semoga Om Sandi yang telpon.. semoga Om Sandi yang telepon.. semoga Om Sandi yang telepon..” suara dari dalam hatiku.. dan aku mengucapkannya sambil mengambil Hpku dikantong..

Dan setelah aku melihat layar Hpku.. bangsaattt.. Mas Panji yang telpon.. arrgghhhh.. tapi ga mungkin juga Om Sandi telpon.. beliau kan gak punya nomorku.. anjingg.. anjingg..

“halo mas..” ucapku menjawab panggilan telpon..

“sudah dalam perjalanan balik kamu dai..?” tanya Mas Panji..

“belum Mas.. kenapa..?” tanyaku..

“Kenzie dan Ian habis dibantai..” ucap Mas Panji dan aku langsung terkejut mendengarnya..

“siapa yang bantai Kenzie sama Ian mas..?” tanyaku dengan nada yang tinggi dan Gagah pun langsung melihatku dengan ekspresi yang terkejut..

“anak – anak Black house..” jawab Mas Panji singkat..

“anjing.. cari mati itu anak Black House.. Mas nunggu kami untuk pembalasannya kan..?” ucapku menahan emosiku yang mulai naik kekepala..

“ya.. karena ini mungkin ada kaitannya dengan Angger..” ucap Mas Panji yang makin membuatku terkejut..

“ada hubungannya dengan Angger..? kok bisa mas..?” tanyaku..

“load speaker bang..” ucap Gagah disebelahku..

“kamu sama gagah..?” tanya Mas Panji..

“iya mas..” ucapku..

Akupun langsung meload speaker Hpku..

“ada apa Om..?” tanya Gagah ketika Hpku sudah kuload speaker..

“jadi setelah sampai dikota pendidikan tadi, Kenzie dan Ian beli minuman di tempat Mbah Gundul.. dan disana mereka bertemu dengan anak – anak Black house dan satu orang anak dari Gedung Putih..” ucap Mas Panji lalu diam sejenak..

“terus kenapa bisa mereka membantai Mas Kenzie dan Mas Ian..?” tanya Gagah..

“mereka semua lagi membahas tentang kematian Dinda dan mereka juga membahas tentang BD..” jawab Mas Panji..

“anjinggg.. jadi anak – anak Black house ada dibalik ini semua..?” tanyaku dengan emoasinya..

“gak tua juga.. tapi kalau dihubungkan mungkin bisa juga.. karena BD itu bisa saja Black Devil atau Iblis Hitam..”

“Black Devil atau Iblis Hitam..? siapa mereka mas..?” tanyaku..

“Black Devil atau Iblis Hitam itu kumpulan preman dari seluruh kampus dikota ini.. mereka orang – orang pilihan dan bukan hanya mengandalkan otot saja.. mereka kejam dan sadis dalam membantai musuhnya..”

“kok aku baru dengan sekarang tentang Black Devil atau Iblis Hitam..?” tanyaku..

“karena kelompok itu sudah dihabisi, mulai dari ketuanya sampai keakarnya..”

“siapa yang bantai dan kenapa sekarang mereka sekarang muncul lagi, padahal kata sampean merekas sudah dihabisi sampai akarnya Om..?” tanya Gagah ..

“yang menghabisi ketua Black Devil atau Iblis Hitam itu generasi Om Rendi dan generasi Om Sandi.. dan yang membantai ketuanya, Om Sandi..” jawab Mas Panji pelan..

Gilaaaa.. luar biasa banget dong Om Sandi, beliau yang menghabisi ketua Black Devil atau Iblis Hitam itu..? bangsaaatt.. padahal kan kumpulan itu kata Mas Panji.. kumpulan orang – orang yang kejam dan sadis, serta menggunakan otaknya dalam membantai musuhnya.. kalau anggotanya aja sadis, bagaimana dengan ketuanya..? bajingaannn..

“A.. Ayahku..?” ucap Gagah yang seakan tidak percaya dengan ucapan Mas Panji..

“berarti kelompok itu bangkit lagi dan mereka ingin membalas dendam dengan keturunan Om Sandi dong mas..?” tanyaku..

“mungkin loh ya.. karena kita ga punya bukti..” jawab Mas Panji..

“tapi kenapa bisa anak – anak Black house dan seorang anak gedung putih, tiba – tiba bahas masalah kematian Dinda dan masalah BD..?” tanyaku lagi..

“itu yang jadi pertanyaanku juga.. dan aku masih ragu dengan keterlibatan anak – anak Black house dengan BD.. tapi yang aku pikirkan, kenapa mereka membantai Kenzie dan Ian..?” ucap Mas Panji..

“persetanlah Om.. apapun masalahnya, kalau mereka sudah berani mengusik keluarga Pondok Merah.. kita harus membalas dan membantai mereka.. tidak perduli mereka ada hubungan dengan BD atau tidak..” ucap Gagah dengan emosinya..

Uuhhh.. Gilaa.. sepertinya Gagah sangat emosi dan emosinya melebihi aku.. ada apa dengannya ya..? apa karena ini mungkin ada hubungannya dengan Angger..? atau dia punya dendam pribadi dengan anak – anak Black House..? tapi dendam seperti apa..? Gagah kan baru aja datang kekota ini dan ga mungkin ada masalah dengan anak – anak Black House.. assuudahlah.. lebih baik kami balik aja ke Kota Pendidikan sekarang..

“kami balik sekarang Mas..” ucapku menutup pembacaraan ini.. terus terang aku gak mau berlama – lama disini.. aku sudah emosi sekali saat ini..

“lebih baik begitu.. kalian langsung balik kekosan aja sekarang.. jangan bertindak duluan, sebelum ada komando..” ucap Mas Panji..

“siap..” ucapku dan Gagah dengan kompaknya..

#cuukkk.. berani sekali mereka mengusik Pondok Merah.. dan gilanya, berani sekali mereka mengusik emosi kami yang sedang terluka ini.. mereka harus menerima pembalasan dendam ini.. mereka harus terbantai.. bajingaannn..

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler