. Matahari 2 Part 4 | Kisah Malam

Matahari 2 Part 4

1
269

Matahari 2 Part 4

KEJADIAN DAN KABAR YANG MENGEJUTKAN

Pov Angger

TOK.. TOK.. TOK.. TOK.. TOK..

Aku langsung terbangun dan duduk di atas kasurku.. kurang ajar.. siapa yang gedor pintu kamarku..? ga sopan banget sih..? aku itu paling gak suka kalau lagi tidur diganggu seperti ini.. pengen kutinju aja rasanya orang itu.. jiancuukkk

TOK.. TOK.. TOK.. TOK.. TOK..

Kembali pintu kamarku digedor dengan kerasnya.. bajingaannn.. ini namanya bener – bener mancing emosiku nih.. asuu’ig..

“SABAR..!!!” teriakku.. aku lalu berdiri tanpa memakai kacamataku.. setelah itu aku berjalan kearah pintu kamarku, dengan kepala yang agak pusing dan agak emosi..

Dan ketika aku membuka pintu kamarku, dua orang berdiri dengan wajah yang sangat misterius menatapku.. dua orang itu memakai jaket kulit hitam, memakai topi dan bercelana jeans.. dandanan mereka seperti detektif yang ada difilm – film.. asuuu… mau detektif atau siapapun, perduli setan sama mereka.. bajingaannn..

“Gerhana Matahari Sandi..” ucap salah orang yang berjaket kulit hitam.. dia bertanya dengan tatapan yang tajam kearahku

“iya.. ada apa ya..?” tanyaku dengan malasnya sambil membalas tatapannya..

“ikut kami sebentar..” ucap orang itu lagi..

Cuukkk.. sudah banguninnya gak sopan, sekarang malah ngajak aku keluar..? bikin tambah jengkel aja manusia ini..? dan terlihat dibelakang para detektif ini, teman – teman ku memandangku dengan tatapan yang kebingungan..

“ada apa sih..?” tanyaku dengan agak emosi..

“kami mau minta keterangan dari anda..” ucap orang itu lagi..

“keterangan..? keterangan untuk apa..?” tanyaku yang tidak ada rasa takut sedikitpun kepada mereka berdua.. terus terang aku makin jengkel dengan cara mereka yang tidak bersahabat ini..

“terlalu banyak tanya kamu..” sahut orang yang ada dibelakangnya..

“saya warga negara yang baik di negeri khayangan ini pak.. pertanyaan saya pun tidak melanggar hukum.. kalau bapak – bapak mau membawa saya keluar.. oke saya ikut.. tapi tolong jelaskan dulu, siapa bapak – bapak dan dari mana..? kalau bapak dari instansi tertentu, mana surat tugasnya..?” ucapku dengan tegasnya.. dan aku gak tau, mereka ini aparat atau hanya detektif swasta yang sedang menyelidiki sesuatu..

“sebenarnya saya gak ingin berbicara seperti ini pak.. tapi sikap bapak – bapak ini yang memaksa saya untuk berbicara seperti ini..” ucapku lagi sambil menatap mereka bergantian..

“jangan terlalu banyak bicara kamu..” ucap detektif yang dibelakang itu.. akupun langsung menatapnya dengan tajam..

“sudah – sudah.. tujuan kami kesini, hanya untuk membawa saudara keluar.. karena kami butuh keterangan dari saudara..” ucap orang yang pertama berbicara kepadaku dan kelihatannya dia pimpinannya.. dan tatapanku kualihkan kepadanya..

“anda orang terakhir yang bertemu dengan saudari Dinda Kamaliya Candrarini kan..?” ucap detektif itu..

Dan perkataan detektif itu, langsung membuatku terkejut dan terdiam.. tubuhkupun sampai merinding dibuatnya.. orang terakhir berbicara dengan Dinda..? emang ada apa dengan Dinda..? semalam kan aku mengantarkannya kekosannya dan setauku dia gak kemana – mana lagi.. terus kenapa manusia dihadapanku ini, berbicara seolah – olah ada sesuatu yang menimpa kekasih tercintaku itu..? apa ini ada hubungannya dengan mimpiku semalam yang bertemu dengan Dinda..? assuuu..

“maksud bapak ini apa..?” tanyaku dengan sangat hati – hati dan nada bicaraku agak menurun.. pikiranku was – was dan jantungku pun mulai berdebar dengan kencangnya.. cuukkk.. semoga tidak ada kejadian yang serius menimpa Dinda..

“saudari Dinda pagi ini ditemukan dengan kondisi tidak bernyawa, dipinggiran kota ini..” ucap detektif itu sambil terus menatapku..

“APA..???” ucapku dengan kerasnya dan mata yang melotot.. dan tiba – tiba tubuhku bergetar dengan hebatnya.. kedua tanganku terkepal dan emosiku perlahan menguasai kepalaku.. nafasku memberat dan gigiku mengerat.. anjinggg.. ini bercanda kan..? ini gak seriuskan..? kok bisa Dindaku pergi meninggalkan aku..? gak mungkin.. ini gak mungkin.. bangsaattt..

“jangan main – main dengan ucapanmu ya..?” ucapku dengan suara yang bergetar sambil menunjuk wajahnya..

Perduli setan dengan yang namanya kesopanan, orang ini datang dengan sangat tidak sopan dan sekarang pakai acara bercanda lagi.. bercanda yang gak lucu sama sekali.. tatapanku pun sangat tajam sekali kearah detektif itu.. tubuhku memanas, dan perlahan pandanganku mulai memerah..

“saya serius..” ucap detektif itu dan wajahnya terlihat agak kebingungan melihat perubahan ekspresi diwajahku..

“JANGAN BERCANDA..” teriakku dengan kerasnya sambil memegang kerah jaketnya.. lalu aku mendorong tubuhnya kebelakang, sampai dia tersandar didinding..

“ma.. mass..” ucapnya dengan ketakutan..

“KAMU BERCANDA KAN..?” teriakku lagi tepat diwajahnya.. dan aku angkat kerah bajunya keatas sampai kepalanya terdangak keatas..

“ANGGER..” teriak semua teman – teman kosanku, tapi aku tidak menghiraukan suara mereka.. dan detektif yang aku cengkram jaketnya ini, mencoba untuk melepaskan cengkramanku yang sangat kuat ini..

“turun kan bosku.. atau aku tembak kepalamu..” ucap detektif yang ada dibelakangku sambil menodongkan pistolnya kearah kepalaku..

“TEMBAK.. TEMBAAAKKK..” teriakku sambil menoleh kearahnya.. dan pandanganku sekarang benar – benar berwarna merah seperti darah..

Detektif itu terkejut melihat wajahku yang sangat emosi ini.. dia hanya diam sambil terus menodongkan pistolnya kearah kepalaku.. aku lalu mengalihkan pandanganku kearah detektif yang masih aku cengkram kerah jaketnya ini.. aku lalu menarik kerah jaketnya sampai wajahnya mendekat diwajahku..

“ANGGOTAMU MAU BUNUH AKU..? sebelum aku mati.. kamu dan dia yang akan aku bunuh duluan.. BAJINGAANNN…!!!” ucapku dengan suara yang berat dan tatapan yang sangat tajam sekali kearah matanya.. lalu..

Bugghhhhh..

Aku mendorongnya lagi sampai tersandar didinding..

“huppp… sa.. sabar mas..” ucap orang yang ada dicengkramanku ini..

“ngger.. ngger.. kendalikan dirimu..” ucap Dylan dengan suara yang sangat ketakutan sekali.. dan aku hanya meliriknya saja.. Dylan pun langsung terdiam dan tidak lagi mengucapkan sepatah katapun.. lalu aku menatap mata detektif itu lagi..

“kamu jawab pertanyaanku.. kamu bercandakan..?” tanyaku sekali lagi kepada detektif yang ada dihadapanku ini..

“sa.. sa.. sabar mas..” ucapnya dengan sangat ketakutan..

Aku lalu mendekatkan wajahku kewajahnya lagi dan aku tatap matanya dalam – dalam.. terlihat didalam bola matanya itu, ketakutan yang sangat luar biasa.. apa orang ini ga berbohong..? apa ini serius..?

“ANJIIIIINGGGG..” teriakku sekencang – kencangnya diwajahnya..

Bangsattt.. kenapa bisa ini terjadi..? siapa yang melakukannya kepada kekasihku tercinta.. siapa yang bunuh Dinda..? siapa yang tega melakukan hal terkutuk itu, pada mahluk yang lemah seperti Dinda..? siapaaaaa..? bajingaann laknat.. keparat…

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” kembali aku berteriak sambil mendongakkan kepalaku, tanpa melihat kearah wajah Detektif yang gemetaran ini..

Tubuhku benar – benar memanas.. aku dikuasai oleh emosi yang ada didalam tubuhku.. dan sekarang jiwa membunuhku telah bangkit dari kuburnya..

“herggg.. herggg.. herggg.. herggg.. herggg..” nafasku berat dan seperti tercekat..

“ma.. mas..” ucap detektif yang aku cengkram kerah jaketnya ini..

Dan perlahan aku merasa ada dua tangan yang memelukku dari belakang.. tangan itu meraba perutku dengan sangat lembutnya.. lalu rabaan itu naik kedadaku dan mengelus dadaku dengan sangat lembutnya.. nafasku masih terasa berat dan pandanganku masih memerah..

Lalu aku merasa tubuh orang yang memelukku ini, makin merapat dipunggungku.. dia memelukku dengan sangat erat sambil terus mengelus dadaku.. dan wajahnya terasa menempel dipunggungku..

Akupun langsung melepaskan peganganku dikerah jaket detektif ini.. diapun langsung menyingkir dari hadapanku dengan sangat ketakutan.. perlahan emosikupun mulai mereda, tapi tidak hilang.. pandanganku pun masih sedikit memerah..

Dan beberapa saat kemudian, aku merasa kepalaku sedang dicengkram seseorang.. cengkraman itu pelan, lalu agak mengeras, mengeras, makin menguat dan kuat sekali.. kepalaku seperti ditekan oleh mesin pemancang beton.. sakit dan sangat sakit sekali..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” aku berteriak sambil menjambak rambutku.. bangsaattt.. kenapa sakit kepalaku ini datang lagi..? anjingg.. dan ini lebih sakit dari yang pernah aku alami sebelumnya..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” aku berteriak lagi sampai orang yang memelukku dari belakang ini, melepaskan pelukannya..

“Angger..” terdengar suara wanita dari arah belakangku..

“ANGGER..” teriak semua teman – teman kosku..

Aku tidak menghiraukan panggilan mereka.. kesakitan yang aku rasakan ini sangat luar biasa.. entah ini karena pengaruh dari kepalaku yang sakit atau karena berita tentang kematian Dinda.. yang jelas kepalaku sangat sakit sekali..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” teriakku lagi lalu..

DUUHHGGGG..

Aku menghantamkan jidatku, ketembok yang ada dihadapanku dengan kerasnya..

“ANGGER..” teriak teman – temanku lagi..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” teriakku lagi lalu..

DUUHHGGGG..

DUUHHGGGG..

Aku menghantamkan lagi kepalaku ditembok dua kali.. tapi sakit kepalaku tidak berkurang dan justru aku merasa, urat – urat dikepalaku seperti mau pecah saja..

“MAS ANGGERRR..” teriak seseorang dan itu suara Dede Gagah..

Aku lalu menoleh kearah Dede Gagah yang berdiri didepan pintu kosanku.. pandangankupun sudah tidak memerah dan sakit dikepalaku perlahan mereda.. dan perlahan aku merasa ada cairan kental yang mengalir diantara kedua alisku lalu turun kehidungku..

“De..” ucapku dengan suara yang bergetar.. dan bersamaan cairan kental yang mengalir mendekati bibirku, air mataku juga langsung tumpah dari kedua bola mataku.. bukan karena sakit dikepalaku, tapi karena sesaknya dadaku mendengar kematian kekasihku..

“cukup mas.. cukup.. jangan sakiti dirimu lagi..” ucap Dede Gagah dengan suara yang bergetar, sambil berjalan kearahku..

“sakit de.. sakit..” ucapku dengan air mata yang mengalir dipipiku..

Dede Gagah pun langsung memelukku dengan kuatnya.. dan aku menyambutnya dengan pelukan yang kuat juga.. tangisankupun makin menjadi dipelukan Dede Gagah..

“menangislah mas.. menangislah.. tapi jangan kamu sakiti tubuhmu..” ucap Dede Gagah sambil mengelus punggungku..

“sakit didadaku ini lebih sakit dari apapun de..” ucapku dan Dede Gagah terus mengelus punggungku..

“mas..” ucap Dede Gagah dan aku langsung melepaskan pelukanku..

“kita ketempat Dinda de..” ucapku dan aku baru tersadar kalau aku belum menemui Dinda.. anjingg.. aku kan belum melihat dengan mata kepalaku sendiri keadaan Dinda.. bisa saja manusia satu itu membohongi aku lewat ketakutannya.. bangsattt..

“ke mana mas..?” tanya Dede Gagah dengan wajah yang terlihat bingung dan kasihan kepadaku….

“kekosannya lah.. bisa aja manusia ini berbohong..” ucapku sambil menunjuk detektif yang berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri..

“tapi mas..” ucap Dede terpotong..

“ayolah de.. kamu gak mau antar aku..?” ucapku dengan wajah yang sangat sedih sekali..

“i.. iya mas..” ucap Dede Gagah..

Aku dan Dede Gagah lalu berjalan kearah pintu kosan.. dan disana berdiri Mas Panji, Badai dan Mas Karel.. cuukkk.. aku gak sadar kalau mereka juga ada dikosanku..

“aku ikut..” ucap suara wanita dibelakangku dan aku langsung menoleh kearah suara itu..

Cuuukkk.. kenapa wanita ini datang pada saat seperti ini..? astaga.. jadi yang peluk aku dari belakang tadi itu dia..? kapan dia datang..? dan kenapa wajahnya kok terlihat sangat sedih seperti itu sih..? hiuffttt.. huuuuu.. dan aku hanya bisa menganggukan kepalaku saja.. hiuffftttt.. huuuuuu..

“kalau kalian mau lihat Dinda.. bareng sama aku..” dan tiba – tiba ada suara lagi dari depan pintu kosanku.. aku lalu menoleh kearah pintu kosan.. dan disana Om Satria berdiri sambil menatapku..

“dan untuk kalian berdua, kekantor aparat dipusat kota sekarang..” ucap Om Satria sambil menunjuk dua detektif yang masih berdiri diruang tengah ini..

“siap pak..” ucap detektif itu dengan kompaknya..

Cuukkk.. kenapa Om Satria datang pada saat seperti ini..? apa jangan – jangan.. arrgghhhhh.. sakit kepalaku mulai menyerangku lagi.. assuuu..

“cuukkkkk..” ucapku sambil mencengkram kepalaku..

Pov Gagah

Sekarang aku ada diruang tengah kosan pondok merah.. aku bersama Mas Karel, Bang Badai dan Om Panji.. Mas Karel tidur dikamarku semalam.. dia mabuk banget karena harus menghabiskan dua botol TM sendirian, untuk sambutannya sebagai keluarga besar dipondok merah.. dan itu belum termasuk putaran minuman selanjutnya bersama kami.. anjing banget..

Cara penyambutan keluarga besar pondok merah, memang sangat menganjingkan banget kok.. aku juga sempat merasakan minum dua botol TM sendirian.. dan rasanya itu enak banget.. enak banget buat injak mukanya orang, setelah minum minuman yang sangat membangsatkan itu.. anjing..

Tapi apa Mas Angger juga meminum TM waktu diberikan jaket pondok merah ya..? ah ga mungkinlah.. seteguk aja gak pernah, masa iya disuruh minum dua botol sendirian.. apa gak langsung jungkir balik mas ku itu.. hehehehe..

Oh iya.. ngomong – ngomong siapa yang digonceng Mas Angger kemarin ya..? seorang wanita berjilbab dan berkacamata yang sangat cantik sekali.. gilaaa.. wajahnya pun terlihat sangat imut sekali.. dan caranya memeluk Mas Angger dari belakangpun, sangat seksi sekali.. Mas Angger seperti sangat menikmati pelukan itu.. gila.. hahaha..

Masku memang luar biasa kok.. deretan wanita – wanita cantik sudah ada disekelilingnya.. Kak Angelia, Mba Kaila, Bulan dan sebelumnya juga ada Clara.. sekarang malah ada lagi wanita baru yang tidak kalah cantik didekatnya.. anjing – anjing.. terus siapa lagi wanita cantik yang gak aku ketahui ya..? hahahaha.. (untuk Clara kelihatannya sekarang gak masuk hitungan deh.. karena dia kan masih ada hubungan keluarga dengan kami, walaupun keluarga yang sangat jauh..)

Aku yang kemarin menambalkan ban maxi Mas Angger, bersama Bang Badai dan dilanjut membeli minuman.. hanya bisa menggelengkan kepala saja.. hahahaha.. gila Masku itu..

“yang kemarin digonceng Angger itu siapa ya de..?” tanya Bang Badai kepadaku..

Ha.. Bang Badai ikut manggil aku de..? hehehehe.. gak apa – apa lah.. lagian aku merasa cocok sama dia.. padahal kami baru kenalan dikota ini.. hehehe..

“kenapa sih dari kemarin Abang tanya terus..?” tanyaku balik..

“penasaran aja aku sama masmu itu.. kok bisa dia dikelilingi sama wanita – wanita cantik..” ucap Bang Badai lalu dia menghisap rokoknya..

“ga usah penasaran gitu bang.. kalau Abang mau, gonceng aja pria – pria tampan..” ucap Mas Karel dengan entengnya..

“anjing.. hehehehe..” ucap Bang Badai sambil menggelengkan kepalanya..

“eh.. gimana kalau nanti kita main kekampus negeri..? disana banyak cewe yang cantik – cantik loh..” ucapku kepada Mas Karel dan Bang Badai.. dan sengaja aku ga mengajak Om Panji.. dia mana mau yang begituan.. pasti dia lebih senang duduk disini sambil melanjutkan minum bersama Pace Beni.. hehehehe..

“sepakat..” ucap Mas Karel sambil mengarahkan tinjuannya kearahku dan aku menyambutnya dengan senyuman dan tinjuan yang pelan..

“mantap itu.. disana wanitanya memang semelohai.. hahahaha..” sahut Bang Badai..

“HU.. HA..” ucapku dan Mas Karel dengan kompaknya, sambil kedua tangan kami bergantian terkepal keudara.. HU kepalan tangan kanan keatas, HA ganti kepalan tangan kiri keatas…

“hahahahaha..” lalu kami bertiga tertawa bersama..

“kalian itu yang diomongin kalau bukan masalah tawuran, pasti masalah wanita.. untuk apa sih..? untuk target selangkangan selanjutnya..?” tanya Om Panji kepada kami..

“bukan gitu om.. kita ini kan laki – laki.. wajarlah kalau mengagumi dan membicarakan tentang pesona wanita..” jawabku dengan santainya lalu aku menghisap rokokku..

“kagum ujung – ujungnya mesum..” ucap Om Panji sambil menggelengkan kepalanya..

“mesum itu cuman bumbu mas..” sahut Bang Badai..

“bumbunya mesum, bahan dasarnya kata – kata rayuan yang bajingan.. terus dimasak pakai kompor nafsu.. jadi sudah itu.. jadi rintihan kenikmatan.. hehehehe..” ucap Mas Karel dengan cueknya sambil melirikku lalu..

“HU.. HA..” ucapku dan Mas Karel dengan gerakan tangan yang kompak..

“gimana..? gimana..?” tanya Bang Badai kepadaku..

“HU.. HA..” dan sekarang aku, Mas Karel dan Bang Badai bersama – sama mengucapkan kata – kata itu dan gerakan itu dengan kompaknya..

“hahahaha..” lalu kami bertiga tertawa bersama.. sementara Om Panji hanya menggelengkan kepalanya saja..

“cocok kalian berempat itu..” ucap Om Panji sambil melirik kami bertiga bergantian..

“berempat..? kami kan bertiga om..? Om Panji masuk hitungan juga..?” tanyaku..

“bukan aku, tapi masmu Angger..” jawab Om Panji..

“wooo.. wooo.. wooo.. kok bisa Om..?” tanyaku ke Om Panji..

“kamu kayak gak tau kelakuan Masmu dikota ini de..” ucap Om Panji..

“hehehehe..” dan aku hanya tertawa..

“iya.. Angger itu diam – diam langsung main gigit..” ucap Bang Badai..

“hahahaha.. kurang ajar..” ucapku kepada Bang badai..

KRING.. KRING.. KRING..

Tiba – tiba Hp Om Panji berdering.. kami semuapun langsung diam dan tidak melanjutkan obrolan kami.. Om Panji langsung mengambil Hpnya dan mengangkatnya..

“halo om..” ucap Om Panji dengan santainya lalu menghisap rokoknya..

“……….”

“dikosan Om.. ada apa ya..?” tanya Om Panji..

“……….”

“belum.. belum ada kabar.. emang ada apa sama Dinda..?” tanya Om Panji dan wajahnya langsung terlihat sangat khawatir..

“……….”

Om Panji pun terdiam dan wajahnya terlihat sangat tegang sekali.. dan perlahan matanya terlihat berkaca – kaca..

Aku, Mas Karel dan Badai pun langsung saling berpandangan.. kami bertiga diam lalu melihat kearah Om Panji lagi.. sekarang wajahnya terlihat sangat emosi sekali dengan gigi yang mengerat.. bola mata Om Panji yang berair itu, perlahan mulai menghitam lalu meredup.. menghitam lagi lalu meredup..

Wooo.. wooo.. wooo.. Om Panji juga punya mata hitam..? gilaaaa.. terus kenapa mata hitam itu sampai keluar..? berita apa yang didengar Om panji sampai seemosi ini dan matanya sampai berkaca – kaca..? terus siapa Dinda yang dibicarakan ditelpon itu..? apa dia pacar Om Panji..? terus apa yang menimpa Dinda sampai Om Panji emosi seperti ini..? Om Panji ini kan terkenal dengan kesabarannya.. tapi kenapa sekarang bisa seperti ini..?

“……….”

“i.. iya om..” ucap Om Panji dengan terbata.. lalu Om Panji mematikan Hpnya dan menunduk.. dan seketika itu juga, suasana diruang tengah ini menjadi sangat tegang sekali..

“Jiancookkkk..” maki Om Panji sambil menunduk dengan suara yang bergetar..

“kenapa mas..?” tanya Bang Badai ke Om Panji..

Om Panji mengangkat wajahnya dan langsung berdiri.. ada apa sih ini..? kok Om Panji sesedih ini..? dan kembali aku, Bang Badai dan Mas Karel saling berpandangan lalu melihat kearah Om Panji lagi..

“Kemana om..?” tanyaku ke Om Panji..

“kita ke gedung putih..” ucap Om Panji dengan suara yang makin terdengar bergetar..

“Gedung putih kosan Mas Angger..? ada apa dengan Mas Angger Om..?” tanyaku yang terkejut dan aku langsung berdiri juga.. Mas Karel dan Bang Badai pun langsung berdiri juga..

“dia pasti akan menggila segila – gilanya..” jawab Om Panji lalu berjalan kearah sepeda motornya..

“Om.. ada apasih sebenarnya..? sampean jangan bikin saya khawatir dong..” ucapku dan Om Panji langsung melihat kearahku.. terus terang kalau sudah mendengar sesuatu tentang keluargaku, aku pasti akan sangat khawatir sekali..

“kekasih Masmu yang bernama Dinda, baru aja ditemukan tewas dipinggiran kota ini.. jasadnya sangat mengenaskan.. dia diperkosa lalu dibunuh dengan cara yang sadis..” ucap Om Panji dengan mata – yang masih berkaca – kaca..

“APA..?” ucapku terkejut.. dan tiba – tiba emosiku pun mulai naik kekepalaku.. kedua tangankupun langsung terkepal dengan kuatnya.. anjinggg..

Aku memang gak mengenal yang namanya Dinda itu.. tapi dia kekasih Mas Angger sesuai dengan ucapan Om Panji barusan.. pasti Mas Angger akan sangat terpukul, sedih dan pasti akan sangat emosi mendengar kabar ini.. aku bisa merasakan apa yang akan Mas Angger rasakan.. bajingaannn..

“kamu sama aku aja de..” ucap Mas Karel sambil berjalan duluan kearah maxi Mas Angger.. Mas Karel pun terlihat sangat emosi sekali..

“anjing.. aku ikut juga..” ucap Bang Badai dengan emosinya..

Bang Badai pun digonceng Om Panji, sedangkan aku digonceng Mas Karel.. kami berempat menuju kosan gedung putih dengan emosi yang ada dikepala..

Bangsatt.. apa Dinda ini wanita berjilbab yang digonceng Mas Angger kemarin..? wanita yang memeluk Mas Angger dengan sangat mesranya dan Mas Angger terlihat sangat bahagia itu..? gilaa.. kalau sampai Dinda itu yang tewas.. ini pasti akan terjadi hal yang sangat luar biasa.. pasti Mas Angger akan menggila segila – gilanya.. aku yang tidak mengenal Dinda aja mau menggila, apa lagi Mas Angger..

Kira – kira apa motif pembunuhan dan pemerkosaan ini..? cinta ditolak atau ada dendam pribadi..? tapi entar dulu.. kemarin sore kan Mas Angger keluar dengan Dinda.. dan pagi ini Dinda ditemukan tewas.. apa Mas Angger akan dicurigai sebagai… ahhh.. ga mungkin.. ga mungkin.. anjingggg..

Dan sekarang kamipun sudah sampai digedung putih.. didepan kosan ini tampak dua mobil sedang terparkir.. satu mobil milik Bulan dan satu mobil entah milik siapa.. bagaimana aku tau itu mobil Bulan..? karena waktu aku bertemu Bulan pertama kali dikota ini dan dimini market waktu itu, dia mengendarai mobil ini..

Dan pada saat aku turun dari maxi, seorang penghuni kosan Gedung Putih baru datang dan diantar oleh seseorang.. tapi gak tau juga sih, dia penghuni kosan ini atau tamu.. aku hanya pernah melihatnya sekali di kosan ini, waktu aku pertama kali main kesini dihari itu.. dan aku melihat orang ini masuk kedalam salah satu kamar di gedung putih..

Orang yang baru datang ini pun, hanya tersenyum kepadaku lalu masuk duluan kedalam kosan..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” terdengar teriakan Mas Angger yang begitu emosinya dari dalam kosan..

“itu suara Angger..” ucap Om Panji yang terkejut sambil melihat kearahku.. aku pun langsung berlari kearah pintu kosan..

Langkahku langsung terhenti dipintu kosan.. suasana yang sangat menegangkan diruang tengah di gedung putih ini, menyambutku dan membuat seluruh bulu kudukku berdiri.. aku merasakan aura misitis yang sangat luar biasa, memenuhi ruangan ini.. Mas Angger terlihat sangat emosi sambil menjambak rambutnya.. dan walaupun wajahnya terlihat dari samping, mata Mas Angger terlihat memerah seperti darah.. gilaaa.. Mas Angger punya mata merah seperti Bang Badai..? woooo.. dan kemarahan Mas Angger saat ini sangat mengerikan dan tidak pernah aku melihat sebelumnya.. tubuhnya bergetar dan aura membunuh seperti keluar dari tubuh Mas Angger.. gilaa.. ini gilaaaa..

Dengan kondisi Mas Angger yang emosi seperti itu, aku melihat Bulan memeluk Mas Angger dari belakang.. dia memeluk sambil mengelus dada Mas Angger.. Bulan seperti ingin menenangkan Mas Angger yang akan menggila itu..

Bulan Mahardini Darmawan

Dan orang yang baru datang tadi, tampak berdiri tidak jauh dari aku dan memunggungi aku.. dia terlihat menahan emosi ketika melihat Bulan memeluk Mas Angger.. kedua tangannya terkepal sebentar lalu diluruskan lagi.. ada apa dengan orang ini..? apa dia cemburu melihat Bulan memeluk Mas Angger..? atau dia emosi seperti kami, karena melihat kondisi Mas Angger..? assudahlah..

Aku lalu melihat kearah Mas Angger lagi..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” Mas Angger berteriak sambil menjambak rambutnya.. Mas Angger seperti merasakan sakit yang sangat luar biasa dikepalanya.. gilaa.. memang dari dulu Mas Angger kalau emosi atau sedang letih, kepalanya akan merasakan sakit.. tapi tidak seperti sekarang ini.. sakit dikepalanya itu seperti menyiksanya sekali..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” Mas Angger berteriak lagi sampai pelukan Bulan terlepas dan Bulan mundur ketakutan.. ada apa denganmu Mas..? sakit ini karena memang dari sakit kepala atau karena mendengar kematian Dinda..? kok bisa seperti ini mas..?

Dan aku masih terpaku melihat Mas Angger yang kesakitan itu.. terlihat urat – urat yang ada diwajah Mas Angger, keluar seperti akar – akar pepohonan.. gilaaaa..

“Angger..” terdengar Bulan memanggil Mas Angger..

“ANGGER..” teriak semua penghuni kosan ini..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” teriak Mas Angger lagi.. lalu..

DUUHHGGGG..

Tiba – tiba Mas Angger mengantamkan jidatnya ke tembok dengan sangat kerasnya.. bangsaatttt.. kenapa bisa seperti ini sih..? aku pun makin terkejut melihat Masku seperti ini .. dan gilanya aku ga bisa berucap apa – apa dan aku hanya diam mematung..

Tubuhku makin merinding dan emosiku naik kekepala dengan cepatnya..

“ANGGER..” teriak semua orang yang ada diruangan ini..

“AAARRGGGGHHHHHHHHH..” teriak Mas Angger lagi lalu..

DUUHHGGGG..

DUUHHGGGG..

Mas Angger menghantamkan kepalanya lagi ketembok, dan suara benturan itu seperti kepalan tangan seseorang yang menghantam dadaku.. akupun langsung merasakan kesakitan yang sangat luar biasa didadaku.. air mataku pun langsung menetes melihat semua ini..

“MAS ANGGERRR..” teriak ku dengan kerasnya..

Mas Angger lalu menoleh kearahku dengan wajah yang terlihat sangat menyedihkan sekali.. jidatnya pun mengeluarkan cairan darah yang sangat kental.. darah itu sampai menetes mendekati hidungnya.. gilaaaa.. darah Mas Angger seperti sebuah cambukan api yang sangat keras didadaku.. sakit dan perih yang kurasakan.. bangsaaattt..

“De..” ucap Mas Angger kepadaku dengan suara yang sangat menyedihkan sekali.. dan itu bersamaan dengan air matanya yang menetes dikedua pipinya.. anjinggg.. tetesan air mata Mas Angger ini malah seperti tombak yang menusuk dadaku tembus kepunggungku.. bajingaaannn..

“cukup mas.. cukup.. jangan sakiti dirimu lagi..” ucap ku dengan suara yang bergetar.. aku lalu berjalan mendekati Mas Angger..

“sakit de.. sakit..” ucapnya dengan air mata yang semakin menetes dipipinya..

Akupun langsung memeluknya dengan erat dan Mas Angger membalas pelukanku juga dengan eratnya.. tubuh Mas Angger bergetar dengan hebatnya.. hawa panaspun menyelimuti seluruh tubuh Mas Angger..

“menangislah mas.. menangislah.. tapi jangan kamu sakiti tubuhmu..” ucapku sambil mengelus punggung Mas Angger..

“sakit didadaku ini lebih sakit dari apapun de..” ucap Mas Angger dan itu makin membuat hatiku sangat bersedih dan emosiku seperti dipermainkan saja..

“mas..” ucapku dengan suara yang bergetar dan tiba – tiba Mas Angger langsung melepaskan pelukanku..

“kita ketempat Dinda de..” ucap Mas Angger dan sekarang wajahnya tidak terlihat sesedih tadi.. wajahnya hanya terlihat khawatir, seolah – olah Dinda hanya terluka karena kecelakaan..

Kenapa wajah Mas Angger berubah dengan cepat seperti ini..? apa Mas Angger masih belum percaya dengan kematian Dinda..? atau Mas Angger tidak menerima semua kenyataan ini..? kelihatannya kesedihan Masku ini terlalu mempengaruhi pikirannya.. gilaaa…

“ke mana mas..?” tanyaku..

“kekosannya lah.. bisa aja manusia ini berbohong..” ucap Mas Angger sambil menunjuk dua orang asing yang berdiri tidak jauh dari tempat kami berdiri.. siapa dua orang ini..? dia aparat atau detektif..? apa mereka berdua yang mengabarkan tentang kematian Dinda..? asuudahlah.. lebih baik aku konsen aja dengan Mas Angger..

Anjingg.. kelihatannya Mas Angger memang ga mau mempercayai kabar ini, sebelum Mas Anger melihatnya langsung.. terus aku harus gimana..? ngantar kekosannya..? ga mungkin lah.. itu bukan menyelesaikan masalah..

“tapi mas..” ucapku terpotong..

“ayolah de.. kamu gak mau antar aku..?” ucap Mas Angger dan sekarang wajahnya terlihat mulai sedih lagi…

Astagaaa mas.. pikiranmu benar – benar kacau mas.. kesedihanmu kali ini diluar kewajaranmu mas.. kamu terpukul banget kelihatannya mas.. bagaimana nanti seandainya kamu melihat jasad Dinda mas..? apa kamu gak akan benar – benar menggila..? bangsaaatt..

Kelihatannya aku turuti aja dulu kemauan Mas Angger kali ini.. aku akan mengantarkannya kekosan Dinda.. dan itu akan mengulur waktu untuk aku memikirkan cara, supaya Mas Angger gak akan benar – benar menggila ketika nanti dia melihat jasad Dinda dirumah sakit..

“i.. iya mas..” ucap ku sambil mengangguk pelan.. dan wajah Mas Angger pun terlihat sedikit lega mendengar jawabanku.. kami berdua pun langsung berjalan kearah pintu kosan..

“aku ikut..” ucap Bulan dari arah belakang kami..

Aku dan Mas Angger lalu melihat kearah wajah Bulan yang terlihat sangat sedih itu.. Mas Angger pun langsung menganggukan kepalanya pelan..

“kalau kalian mau lihat Dinda.. bareng sama aku..” dan tiba – tiba ada suara lagi dari depan pintu kosan.. aku lalu menoleh kearah pintu kosan.. dan disana Om Satria berdiri sambil menatap Mas Angger..

“dan untuk kalian berdua, kekantor aparat dipusat kota sekarang..” ucap Om Satria sambil menunjuk dua orang misterius yang masih berdiri diruang tengah ini..

“siap pak..” ucap kedua orang yang misterius itu dengan kompaknya..

Wooo.. ada Om Satria.. baguslah.. tugasku untuk menenangkan Mas Angger pasti akan sedikit agak mudah.. Om Panji dan Mas Karel juga pasti akan membantuku, termasuk Bang Badai..

“cuukkkkk..” tiba – tiba Mas Angger memaki lalu menunduk dan menjambak rambutnya..

“mas..” ucapku lalu merangkul pundak Mas Angger..

“ngger..” ucap Bulan dan langsung berjalan kearah depan Mas Angger, lalu Bulan memegang kedua pipi Mas Angger..

“kamu gak apa – apa ngger..?” ucap Bang Badai..

“aku gak apa – apa.. kita pergi dari sini..” ucap Mas Angger sambil menahan sakit kepalanya dan mengangkat wajahnya..

Bulan yang ada dihadapan Mas Angger mengeluarkan sapu tangannya.. lalu Bulan Membersihkan darah yang ada diwajah Mas Angger dengan mata yang berkaca – kaca..

“lan..” ucap Mas Angger pelan..

“aku gak tau gimana kondisi Dinda sekarang ngger.. aku hanya gak ingin kamu terlihat menyedihkan dihadapan kekasihmu itu..” ucap Bulan dengan bibir yang bergetar, sambil membersihkan darah diwajah Mas Angger dengan sapu tangan ditangan kanannya.. lalu tangan kirinya membersihkan air mata Mas Angger..

Anjiinggg.. hanya cinta yang dapat melakukan ini.. walaupun dia tau cinta dari orang yang dicintainya, bukan untuk dirinya.. bajingaannn..

Mata Mas Angger kembali berkaca – kaca.. Bulan lalu menggeser tubuhnya dan berdiri disamping kanan Mas Angger, sementara aku disebelah kiri Mas Angger.. aku merangkul pundak Mas Angger dan Bulan merangkul pinggang Mas Angger.. kami bertiga pun melangkah kan kaki keluar dari gedung putih..

“kita naik mobilku ya..” ucap Om Satria kepada kami bertiga..

“kalian ikut juga..” ucap Om Satria kepada Om Panji, Mas Karel dan Bang Badai..

“iya Om..” sahut Om Panji..

“aku sama sibule naik motor aja ya om.. kami ikuti dari belakang..” ucap Bang Badai dan Om Satria menganggukkan kepalanya..

Om Panji dan Om Satria lalu naik didepan.. sementara aku, Bulan dan Mas Angger duduk ditengah.. dan didalam mobil ini pun suasananya tegang, setegang tegangnya.. Mas Angger yang duduk diantara aku dan Bulan, hanya menatap lurus kedepan.. tatapan yang kosong dan seperti tidak bernyawa.. Bulan yang ada dikanan Mas Angger terus mengelus punggung Mas Angger..

Perjalanan yang menegangkan ini pun akhirnya sampai juga disebuah rumah sakit dipusat kota.. dan selama perjalanan pun tidak ada yang bersuara.. aku dan Bulan terdiam, sambil sesekali melirik Mas Angger.. Om Satria hanya focus kepada menyetirnya dan Om Panji juga diam sambil menikmati rokoknya..

“kita turun..” ucap Om Satria sambil melihat spion bagian tengah dan melihat kearah Mas Angger..

“oh iya Om..” ucap Mas Angger yang seperti tersadar dari lamunannya..

“ayo de.. kamu kukenalkan sama Dinda ya..” ucap Mas Angger lalu tersenyum kepadaku..

Aku pun langsung menatap mata Mas Angger yang seperti orang ling – lung saja..

Astagaaaa.. Mas Angger ga nyadar kalau kami ini lagi didepan rumah sakit kah..? apa Mas Angger mengiranya kami ini dikosan Dinda..?

“mas.” ucapku terpotong..

“turunlah de..” ucap Mas Angger.. aku lalu melirik Om Satria, Om Panji dan Bulan.. mereka bertiga langsung menganggukkan kepalanya kepadaku..

Aku pun lalu turun dari mobil diikuti oleh Mas Angger dibelakangku..

Dan ketika kami semua sudah turun dari mobil.. Mas Angger lalu melihat kearah sekeliling rumah sakit ini, sambil mengerutkan kedua alisnya..

“ini kan rumah sakit.. ngapain kita kesini..? dokter bilang Dinda gak apa – apa kok waktu aku tabrak.. jada ngapain kita kesini..?” tanya Mas Angger dan akupun bingung dengan maksud ucapan Mas Angger ini..

“maksudnya mas..?” tanyaku..

“aku tabrak Dinda beberapa hari yang lalu de.. terus aku antar kesini.. kata perawat dan dokter yang menanganinya, hanya lebam dan mungkin beberapa hari akan sembuh nyerinya..” ucap Mas Angger sambil melihat kearah sekeliling..

Ha.. Mas Angger pernah nabrak Dinda..? kapan..? kok Mas Angger ga cerita sih..? apa kejadiannya beberapa hari yang lalu..? atau pada saat aku orientasi..? bangsaatt.. adek macam apa sih aku ini..? kok aku ga tahu tentang ini..?

Aku lalu melihat kearah Om Panji.. Om Panji hanya memejamkan matanya dan mengangguk pelan kearahku..

“cuukkk.. iya – iya.. aku belum ambil kacamata Dinda..” ucap Mas Angger dan pandanganku kualih kan kearahnya lagi..

“De.. antar aku ke optic mata berseri..” ucap Mas Angger kepadaku..

Astagaaa.. ini apalagi..? hubungan semua ini dengan optic kaca mata apa..? Mas Angger mau belikan kaca mata Dinda..? aarrgghhhh.. kok makin ga jelas begini sih Mas Angger ini..

“Mas..” ucapku dengan tegasnya..

“kenapa de..? kamu gak mau antar aku..? ya udah aku berangkat sendiri aja..” ucap Mas Angger dengan sedikit emosi kepadaku lalu berjalan..

“ngger..” panggil Om Satria..

“kenapa Om..?” tanya Mas Angger sambil menoleh kearah Om Satria..

“kita kedalam..” ucap Om Satria dengan dinginnya..

“engga.. aku mau ambil kacamata Dinda..” ucap Mas Angger dengan sewotnya lalu berjalan lagi..

“ngger..” panggil Om Panji..

Mas Angger pun tidak menghiraukan panggilan Om Panji.. dan terdengar isakan tangis dari Bulan yang ada disebelahku.. anjingg.. hiuuffttt.. huuuuu..

“MAS ANGGER..!!!..” panggilku dengan kerasnya, dan ini pertama kalinya aku berteriak seperti ini memanggil Mas Angger..

Om Panji, Om Satria dan Bulanpun sampai terkejut.. Mas Angger langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya lalu menatapku..

“kita masuk kedalam mas..” ucapku dengan tegasnya.. dan entah mendapat keberanian dari mana, sampai aku berbicara tegas dan memanggil tadi dengan keras kepada Masku sendiri..

“buat apa..? ha..? buat apa kita kedalam..?” tanya Mas Angger kepadaku dan wajahnya terlihat mulai emosi lagi..

“kita lihat jasad Dinda didalam Mas..” ucapku dengan suara yang bergetar..

“apa..? jasad Dinda..? siapa yang bilang Dinda sudah gak ada de..? siapaaa…?” tanya Mas Angger sambil berjalan kearahku.. wajah Mas Angger terlihat emosi dan bola matanya juga mulai memerah lalu meredup..

“itu kenyataan dan Mas harus menerimanya.. Mas boleh bersedih, Mas boleh marah, Mas boleh emosi, Mas boleh menangis atau apapun itu terserah.. tapi aku mohon terima kenyataan ini..” ucapku dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

“aku juga emosi dan aku juga mau menggila mas.. tapi jangan sekarang.. jangan sekarang kita keluarkan kegilaan kita.. cukup kita nikmati saja kesedihan kita hari ini mas.. esok kita tumpahkan darah mereka yang membuat air mata kita hari ini menetes..” ucapku dengan tetesan air mataku..

“kamu bilang apa de..? emang apa yang terjadi dengan Dinda..? ha..? apa..?” tanya Mas Angger dengan tatapan tajamnya kearahku..

“mas..” ucapku sambil membalas tatapan Mas Angger..

“cukup ya cukup..” ucap Mas Angger dengan suara yang sangat berat sekali dan terdengar menyeramkan..

“cukup apa ngger..?” ucap seseorang wanita dari arah belakang Mas Angger.. dan pandanganku kearah wanita itu, terhalang oleh Mas Angger..

Mas Angger pun langsung membalikan tubuhnya kearah suara itu.. dan sekarang aku bisa melihat wajah wanita itu dengan sangat jelas.. seorang wanita berhijab yang sangat cantik, manis, putih dan tatapan mata yang sangat meneduhkan sekali.. walaupun matanya sembab, tapi bola matanya itu sangat meneduhkan sekali ketika menatap..

“Ra.. Rani..” ucap Mas Angger terbata.. Wanita yang dipanggil Rani itu pun hanya menatap Mas Angger

Airani Kamaliya Astami

“ke.. kenapa kamu ada disini..?” ucap Mas Angger dan tidak terdengar nada yang emosi sedikitpun, keluar dari bibir Mas Angger..

“ikut aku..” ucap mba Rani sambil memegang tangan Mas Angger..

Tidak ada penolakan atau pertanyaan dari Mas Angger.. Mas Angger hanya menunduk sebentar lalu melihat wajah mba Rani lagi..

“lan.. kamu ikut juga ya..” ucap Mba Rani ke Bulan..

“i.. iya Ran..” ucap Bulan lalu berjalan kearah Mba Rani..

Lalu Mba Rani pun berjalan sambil menggandeng Mas Angger dan Bulan berjalan disebelah Mba Rani..

“kita disini dulu..” ucap Om Satria ketika aku akan menyusul mereka bertiga..

“kenapa Om..?” tanyaku..

“ada yang mau aku omongin.. setelah itu baru kita masuk kedalam..” ucap Om Satria sambil mengeluarkan rokoknya dan membakarnya.. aku dan Om Panji pun Hanya menganggukan kepala..

“Mba Rani itu siapa Om..?” tanyaku ke Om Panji sambil mengeluarkan rokokku juga dan membakarnya..

“dia kakaknya Dinda..” jawab Om Panji lalu menghisap rokoknya..

“ooo.. dia juga teman Bulan..?” tanyaku lagi..

“iya.. mereka bersahabat dikampus negeri..” jawab Om Panji..

“ooo..” ucapku sambil menganggukan kepalaku..

“bagai mana Om..?” Om Panji bertanya ke Om Satria..

Dan obrolan pun sekarang kembali serius lagi.. aku dan Om Panji melihat kearah Om Satria..

“semalam setelah Angger mengantar Dinda Kekosannya, ada yang menelpon Dinda dan menyuruhnya keluar kosan.. Dinda seperti terhipnotis untuk mengikuti suara itu.. dan kelihatannya Dinda diculik tidak jauh dari kosannya..” ucap Om Satria..

“apa Rani ga mencegahnya Om..?” tanya Om Panji sambil menahan emosinya..

“mereka gak satu kamar dan Rani juga gak tau kalau adeknya keluar malam itu..” jawab Om Satria..

“bagaimana Om tau kalau Dinda ditelpon seseorang lalu orang yang menelpon itu menculiknya..” tanyaku..

“dari rekaman percakapannya..” jawab Om Satria..

“terus kondisi Dinda gimana om..?” tanya Om Panji..

“kondisi Dinda sama seperti Lani pacarnya Danu.. sangat mengenaskan dan ditelapak tangan kirinya, disayat menggunakan benda tajam dengan inisial ‘BD’..” jawab Om Satria dan aku langsung terkejut mendengarnya..

“cuuukkk..” gumam Om Panji dengan sangat emosinya..

“ha..? maksudnya Om..?” tanyaku..

“ini kasus kedua dikota ini gah.. dan kedua korbannya sama – sama wanita yang masih perawan..” jawab Om Satria sambil melirikku.

“kalau sudah ada dua korban dan kondisinya sama, berarti pelakunya sama dong..? emang kapan kejadian yang pertama itu Om..?” tanyaku..

“kejadiannya setahun yang lalu dan yang tertuduh kekasihnya sendiri..” jawab Om Satria..

“kok bisa..? beneran pelakunya itu kekasihnya sendiri..? terus sekarang kekasihnya itu masih berkeliaran dan mencari korban lagi..?” tanyaku lagi..

“engga.. kekasihnya sekarang ada ditahanan..” jawab Om Satria..

“berarti..” ucapku terpotong..

“kekasihnya ada diwaktu yang salah dan semua bukti mengarah kepadanya..” jawab Om Panji..

Gilaaaa.. berarti hebat sekali pelakunya itu, sampai bisa bebas berkeliaran sekarang ini dan bisa mendapatkan korban lainnya.. emang sehebat apa pelaku itu dan apa motif dari semua ini..? apa ini untuk ritual suatu kelompok..? ritual apa..? kok menyeramkan sekali.. ini pasti bukan yang terakhir dan pasti ada korban selanjutnya..

“jadi sampai sekarang belum ada jejak tentang ‘BD’ itu nyo..?” ucap seseorang yang berdiri tidak jauh dari aku.. orang itu berdiri sambil menghisap rokoknya dan tatapan matanya santai, tapi tajam sekali kearah Om Satria..

“A.. Ayah..” ucapku yang sangat terkejut dengan kehadiran Ayahku dihalaman rumah sakit ini.. dan aku langsung membuang batang rokokku yang masih panjang..

“Om Sandi..” ucap Om Panji yang juga terkejut dengan kedatangan Ayahku.. tapi tidak dengan Om Satria, beliau terlihat santai sambil menghisap rokoknya.. Om Satria seperti sudah memperkirakan tentang kedatangan Ayahku hari ini..

Gilaaa.. kapan Ayah datang dan kenapa bisa Ayah tau dengan kejadian ini..? ayah juga sampai menanyakan tentang inisial ‘BD’ yang ada ditelapak tangan Dinda.. apa ‘BD’ ini pelakunya..? waw.. ini gila.. ini gila.. Ayah dipulau seberang dan memantau situasi dikota ini.. luar biasa sekali..

Dan yang membuat aku makin terkejut, aura wajah Ayahku sekarang ini.. dingin dan sangat menakutkan.. tatapannya pun sangat mengerikan sekali.. ini berbeda sekali ketika Ayah berada dirumahku sana.. wajah beliau penuh kehangatan, kasih sayang dan cinta kepada kami semua..

Akupun langsung mendatangi Ayahku dan Ayahku langsung membuang rokoknya.. aku lalu meraih tangan kanan beliau lalu menciumnya.. Ayah lalu memelukku dan menepuk punggungku pelan..

“kapan datang yah..? dan sama siapa Ayah kesini..?” tanyaku sambil menatap wajah Ayahku..

“baru datang nak.. dan Ayah sendirian aja..” ucap Ayahku dan wajah beliau sekarang terlihat penuh kehangatan lagi setelah memelukku..

“apa Ayah datang kemari karena kejadian ini..?” tanyaku dan Ayahku hanya tersenyum sambil merangkul pundakku lalu mendekat kearah Om Panji dan Om Satria..

Ayahku menyalami dan memeluk Om Satria.. setelah itu Om Panji salim kepada Ayahku..

“jadi.?” Tanya Ayahku ke Om Satria..

“belum ada satupun petunjuk nyo..” ucap Om Satria..

Ayahpun kembali mengambil rokoknya dikantong lalu mengambil koreknya dan membakarnya..

“gila ya.. sudah dua kejadian dan belum ada satupun, orang yang mengetahui siapa itu ‘BD’ dan siapa dibalik ini semua..” ucap Ayahku setelah mengeluarkan asap rokok dari mulutnya..

“itulah kenapa aku bilang ini sangat misterius kepadamu waktu itu nyo.. mistisnya terlalu kuat..” jawab Om Satria lalu menghisap rokoknya..

“apa om punya petunjuk..?” tanya Om Panji kepada Ayahku..

Ha..? ga salah dengar nih..? kenapa Om Panji justru tanya ke Ayahku..? emang Ayahku ini siapa..? aparat bukan, penguasa juga bukan.. gilaa.. apa Ayahku mempunyai pengaruh yang kuat dikota ini, sampai semua informasi bisa didapatkan oleh Ayah..? wooo.. wooo.. wooo.. mungkin setelah ini aku akan mengetahui pelan – pelan, tentang masa lalu Ayah yang selama ini aku cari..

“belum.. belum ada informasi juga.. hanya instingku saja yang bermain disini.. kejadian ini pasti berhubungan dengan ritual dan rencana balas dendam..” jawab Ayahku dengan dinginnya..

“ritual dan balas dendam untuk apa yah..?” tanyaku..

“untuk menumbangkan keluarga besar kita nak.. keluarga Jati..” jawab Ayahku sambil melihat kearahku..

“keluarga besar kita..? emang ada apa dengan keluarga besar kita, sampai ada orang yang ingin membalas dendam kepada kita yah..?” tanyaku dengan terkejutnya..

“Dede akan tau nanti..” ucap Ayahku sambil menepuk pundakku pelan..

“tapi yah..” ucapku terpotong..

“sekarang itu yang penting Masmu nak..” ucap Ayahku dan aku pun langsung terdiam..

Iya ya.. kondisi Mas Angger dulu yang harus diutamakan sekarang ini.. nanti setelah ini agak reda, baru aku akan mencari informasi tentang ini semua ke Om Panji dan Om Satria..

“jaga emosi Masmu nak..” ucap Ayahku dengan suara yang agak serak dan berat.. suara Ayah terdengar sangat sedih dan seperti menahan tangisnya..

“i.. iya yah..” jawabku pelan dan menunduk.. terus terang aku merasa bersalah sekali, karena aku berkata keras kepada Mas Angger tadi..

“apa penyakit Angger makin parah nyo..?” tanya Om Satria dengan kata – kata yang pelan dan sangat hati – hati..

Pertanyaan Om Satriapun langsung mengejutkan aku.. Aku langsung mengangkat wajahku dan menatap Om Satria dan Ayahku bergantian.. sementara Om Panji juga terlihat terkejut, sama seperti aku..

Sakit..? Mas Angger sakitnya makin parah..? sakit apa Mas Angger, sampai Om Satria bertanya seperti ini dan kenapa Ayah tidak pernah memberitahu aku sebelumnya..?

“pe.. penyakit Mas Angger..? Mas Angger sakit apa yah..?” tanyaku dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca – kaca..

“stadium awal kanker otak..” ucap Ayahku dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan sekali..

“st.. st.. stadium awal ka.. kanker otak..” ucapku dengan di iringi air mata yang menetes dipipiku..

Astagaaa.. kenapa Ayah tidak pernah memberitahu aku tentang semua ini..? kenapa Ayah baru sekarang berbicaranya..? dan siapa aja yang sudah tau tentang ini semua..? bajingaannn..

Bodoh.. bodoh.. bodoh sekali aku ini.. harusnya aku sadar dengan apa yang terjadi, ketika masku merasakan sakit kepalanya tanpa harus Ayah mengatakannya.. harusnya aku sadar dengan semua itu.. kenapa aku gak peka dengan Mas ku sendiri selama ini..? kenapa..?

Harusnya aku sadar ketika Mas Angger sakit kepala, ketika Mas Angger sering lupa, ketika mimic wajahnya berubah dalam waktu yang cepat, pandangannya yang kabur dan berkaca mata, serta petunjuk – petunjuk lainnya.. kenapa aku sebodoh ini sih..?

Bangsaatttt.. ini benar – benar kabar yang sangat menyakitkan bagiku.. jiwaku seperti mati mendengar kabar ini dan aku seperti tidak mempunyai gairah untuk melanjutkan hidup ini.. kenapa Mas Angger harus menanggung penyakit yang sangat mematikan itu..? kenapa..? belum reda kabar tentang kematian kekasihnya, sekarang Mas Angger harus menanggung derita yang sangat luar biasa.. bajingaannn..

#cuukkk.. hari ini terlalu banyak kejadian dan kabar yang sangat mengejutkan, yang aku terima.. bangsaaattt – bangsaattt..

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler