. Love Tamarind Part 6 | Kisah Malam

Love Tamarind Part 6

0
93
Love Tamarind

Love Tamarind Part 6

Cinta [ATM] itu Ada Saat Engkau Butuh

Aku pergi ke swalayan dekat rumah. Kepengen beli camilan ama minuman ringan. Soalnya banyak banget film yang mau aku tonton di laptop. Bukan JAV lho ya, bukan. Yah, paling juga nanti nonton dikit-dikit, hehehehe…Aku paling suka download film, tapi nontonnya yang jarang. Lucu kan?

Aku masuk ke swalayan I***maret. Ngambil keranjang, kemudian menuju ke rak makanan ringan. Dan aku nggak sengaja ketemu sama Rahma.

“Lho, Mbak Rahma?” sapaku.

“Eeh..Rian, nyari apa?”

“Cari-cari cemilan aja, buat nonton film di rumah.”

“Punya film apa? Bagi dong!”

“Ada sih Amazing Spiderman 2, Transformers 4, Divergent, banyak deh. Mbak mau?”

“Mau mau mau, boleh ngopi yak?”

“Boleh-boleh aja sih. Gimana ngopinya?”

“Ke rumah aja.”

“Ke rumahnya mbak?”

“Iya, nggak apa-apa. Kaya’ nggak pernah main ke rumah aja.”

“Ya deh.”

“Asyiiikk. Eh, iya, film India ama Korea punya?”

“Wah, kalau film India ama Korea saya sih pilih-pilih mbak, nggak asal comot download. Cari ceritanya yang sip baru download.”

“Boleh boleh, besok ke rumah ya? Apa hari ini?”

“Hari ini nggak masalah juga sih.”

“Hari ini yah. Aku tunggu deh di rumah.”

Aku lihat keranjang belanjaan Rahma penuh dengan sabun, sikat gigi, pasta gigi, sabun cuci dan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga lainnya. Sebenarnya Rahma ini anaknya manis, ia asyik juga kalau emang lagi asyik. Tapi ketika ia serius ia sudah tidak bisa dikatakan asyik lagi.

“Aku duluan ya, udah semua,” katanya.

“OK.”

Aku kemudian menuju ke lemari pendingin mencari minuman ringan. Setelah mengambil dua botol besar, kemudian aku berjalan ke kasir. Mas-mas penjaga kasirnya menghitung semua barangnya dengan barcode. Kemudian tertera jumlah nominal di layar monitor. Rahma kemudian merogoh sakunya. Ia tampak kebingungan.

“Waduh,..neng endhi yo?(aduh di mana ya)” gumamnya.

Lapo mbak? (kenapa mbak)” tanyaku.

“Koq dompetku lupa nggak aku bawa sih,” katanya.

JENG JENG! Saatnya pahlawan beraksi. Aku maju, “Aku bayarin aja deh.” Aku mengeluarkan kartu ATM kuberikan kepada mas-mas kasir.

“Waduh, Rian. Makasih lho ya, ntar aku balikin,” katanya.

Wistalah mbak, gampang urusan iku(Udahlah mbak, gampang urusan itu),” kataku.

Rahma tersenyum. Senyumnya manis, mirip Anik. Ya iyalah, kakaknya koq. Mirip tetangganya ya tambah ngeri.

Setelah acara pembayaran di kasir selesai kami pun pergi. Kami berpisah, aku ke kiri, Rahma ke kanan. Entah kenapa aku koq deg deg ser ya ngelihat Rahma. Sebenarnya Mbak Rahma ini orangnya juga cakep sih. Sama kaya’ adiknya. Apa aku jatuh cinta ama dua orang ya? Sebenarnya kami juga main sama-sama waktu kecil, soalnya setiap ada Anik pasti ada Rahma. Juga sebaliknya. Dan jujur sih, Rahma lebih care ama aku daripada adiknya sendiri.

Contohnya adalah ketika kami bermain bersama. Waktu lari dikejar ama Mbah Winih gara-gara bawa tebunya. Aku sampai terjatuh. Rahma rela kembali buat nolong aku. Aku jadi teringat lagi kenangan masa kecil itu. Dia sampai mapah aku yang mana kakiku keseleo. Ah iya, aku ingat. Agak lucu juga sih sebenarnya. Ditolong ama cewek.

Tapi kuakui Rahma ini biarpun perfeksionis ia tak pelit kalau dimintai tolong. Ketika aku kesulitan ama pelajaran dia rela koq bantuin aku. Ketika aku belajar bersama Anik, dia kadang nimbrung. Dan selalu yang ditanya aku bukan Anik. Misalnya, “Gimana Rian? Ada yang sulit?” bukan tanya ke Anik. Ah, perasaanku aja kali. Lha si Anik kan sudah pintar. Pastinya nggak mungkin tanya ke adiknya toh?

#Pov Rahma

Ketemu Rian di swalayan. Untuuuung aja ada dia. Dompetku ketinggalan soalnya. Entah tadi aku mikirin apa, oh iya mikirin soal Kimia makanya aku lupa nggak konsen. Ih dasar. Aku segera pulang ke rumah. Langkahku agak cepat. Begitu masuk aku segera meletakkan belanjaanku di meja. Aku masuk ke kamar dan iya benar. Dompet masih ada di sana. Goblook banget sih. Oh iya, habis ini Rian bakal datang.

Ya sudah deh. Berarti tinggal nunggu si Rian aja kan?

Aku segera mengambil belanjaanku tadi dan menaruhnya di tempat yang semestinya. Sabun di tempat sabun. Sabun cuci aku taruh di dekat tempat cucian, pasta gigi kubuang yang sudah habis dan kuganti yang baru. Aku juga beli sikat dan lain-lain. Aku kemudian menaruh pengepel lantai di tempat yang semestinya. Kulihat Anik tampak menyapu lantai. Rambutnya dikuncir, ia memakai baju kaos lengan pendek dan celana legging.

“Habis ini Rian ke sini lho,” kataku.

“Oh ya? Mau ngapain?” tanyanya.

“Aku mau ngopi film-film dia,” kataku.

“Oo,…emang juragan film dia, bagus-bagus filmnya,” katanya.

“Lho, kamu tahu kalau dia punya banyak film?”

“Yah, sekelas mah tahu juga kale kalau dia koleksi banyak film. Hard Disknya aja sampai 2 Tera,”

“Wah, keren ya ini anak.”

“Tapi nggak tahu isinya apa. Paling juga isinya bokep.”

“Hush sembarangan aja. Kan nggak semuanya juga neng.”

“Aku sih justru ngelihat anak laki-laki yang nggak nonton bokep itu nggak wajar mbak. Pastinya pernahlah sekalipun cuma sekali seumur hidupnya.”

“Emangnya si Rian udah punya pacar?”

“Nggak kaya’nya.”

“Tahu dari mana?”

“Yaelah mbak, Rian kan sahabat dekatku. Pastinya aku tahu dong.”

Rian, kami sejak kecil sudah main bersama. Kalau ada aku, Anik pasti ketiganya ada anak itu. Sejak kecil, mungkin karena ia satu-satunya cowok yang pernah main bersama kami, membuat dia menjadi orang yang spesial buatku. Aku sejak dulu ingin memberikan perhatian-perhatian kepadanya. Dari tanya apakah ada pelajaran yang sulit. Lebih membela dia daripada adikku dan lain-lain.

Sebenarnya aku ingin dia masuk ke sekolah SMA tempat aku belajar sekarang, tapi ia lebih memilih sekolah d mana adikku belajar di sana. Yang membuatku suka ama Rian ini salah satunya adalah ia selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dulu ketika SD aku pernah kedinginan karena lupa nggak bawa jaket, saat itu turun hujan. Dia meminjamkan jaketnya untukku hingga dia sendiri yang kedinginan. Saat aku sedang down karena nilaiku ada yang jelek dia ngasih aku semangat. Hari ini juga begitu. Dia ada di saat aku membutuhkannya.

“Assalaamualaikum!?” terdengar suara Rian.

“Waduh, itu anaknya!” Anik langsung melompat pergi ke kamar.

Aku segera pergi menyambutnya. Sebelum membuka pintu kubetulkan dulu kerudungku. Lalu pintu kubuka dan tampak Rian sudah membawa laptopnya

“Wa alaikum salam. Masuk masuk!”

Rian pun masuk. Dia permisi. Kemudian kusuruh duduk di kursi. Ia meletakkan laptop dan harddisknya di meja. Begitu dibuka langsung nyala.

“Koq bisa langsung nyala ya laptopnya, diapain itu?” tanyaku.

“Lho? Ini namanya suspend Mbak, nggak pernah pake?” katanya.

Aku menggeleng.

“Jadi suspend itu keadaan laptopnya masih menyala tapi kondisinya pakai power terkecil. Jadi ketika dibuka apa yang kita masih jalankan tadi kembali lagi kita bisa gunakan,” aku gaptek ama urusan teknologi. Eh Rian ternyata pinter juga ya.

“Ohh…gitu, aku ora ngerti ngono kuwi (aku nggak ngerti model gituan),” kataku.

“Dicopy ke mana mbak?” katanya.

“Ke sini aja,” jawabku sambil menunjuk ke dadaku.

“Hah?” Rian melongo. “Serius?”

Aku ketawa. “Ah bego kamu, diajak bercanda aja diseriusin. Bentar deh aku ambilin laptopku.”

Rian garuk-garuk kepalanya. Hihihihi, dasar anaknya sedikit lambat kalau diajak bercanda. Laptop aku ambil di kamar, begitu balik aku sudah melihat Anik berada di samping Rian tampak serius banget. Aku segera membawa laptopku dan kutaruh di sebelah laptop Rian. Dia membuka laptopku dan menyalakannya.

“Wah, aku belum punya nih,” kata Anik. “Ntar ngopi yah, kasih ke Mbak Rahma deh.”

“Iya iya,” kata Rian.

Aku pun megerubunginya. Dia tampak sedang memilih-milih folder filmnya. Si Anik kayaknya tambah dekat ke Rian. Koq aku jadi cemburu ya? Kepengen ngusir Anik rasanya.

“Nik, ambilin minum gih!” kataku.

“Ah mbak ini, aku kan masih nyapu tuh!” dia menunjuk ke pekerjaannya yang tertunda.

“Yee, kalau nyapu ya nyapu jangan lihat-lihat laptop,” kataku.

“Bentar aja koq,”

“Udah sana, ambilin minum!” perintahku.

Ia cemberut trus pergi. Akhirnya aku bisa sendirian ama Rian. Aku kemudian milih-milih filmnya apa aja trus Rian memindahkannya ke Hard Disk miliknya. Setelah itu dari HardDisk portable itu dipindah ke laptopku. Anik membawa dua gelas dan satu botol minuman bersoda. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Sementara mengcopy kita ngobrol sebentar.

“Kamu nanti mau ke-IPS apa IPA, Yan?” tanyaku.

“Wah, kaya’nya mau ke-IPS aja deh. Hehehe, otakku nggak secanggih kalian. Tapi ku usahain aja deh, bisa IPA,” jawabnya.

“Emang nanti mau kuliah di mana?” tanyaku.

“Sebenarnya kepengen kuliah di ITS atau di UNAIR mbak,” jawabnya. “Enaknya di mana ya mbak?”

“Lha? Yo terserah kowe. Aku seh mau ke UNAIR aja.”

“Oh ya?”

“Kepengen ngambil jurusan kedokteran.”

“Wah, mahal mbak pastinya.”

“Aku mau ngejar beasiswa, Yan. Kalau dapet aku bisa kuliah gratis di sana. Syaratnya cukup berat soalnya. Aku harus jadi ranking satu terus. Dan raportku nggak boleh ada merahnya. Makanya itu buat ngejar beasiswa ini aku nggak boleh jelek nilainya.”

“Ohh…pantesan Mbak ini kalau nggak dapat juara sampai mewek. Ternyata karena ini, ya?”

Aku mengangguk.

Aku lanjut bertanya, “Kamu sekolahnya gimana? Masih ada masalah soal pelajaran. Biar mbak bantu kalau ada.”

“Wah, makasih mbak. Ada sih macam matematika ama Kimia itu. Bikin pusing.”

“Sebenarnya gampang koq, tinggal kamu saja yang mesti memperhatikan. Kamunya waktu diterangkan ama gurumu gimana lho?”

“Yah, diterangkan sih biasa-biasa aja mbak. Denger. Merhatikan tapi kalau sudah ketemu soalnya, serasa bingung ‘Ini yang diterangin tadi sebelah mana ya?'”

“Itu artinya kamu nggak merhatikan. Ya udah, lain kali belajar aja di sini. Mbak akan ngajarin.”

“Bener nih mbak?”

“Iya, beneran.”

Ibu datang dari dapur. “Lho, Rian?!”

“Bu Ika,” Rian berdiri.

“Halah, nggak usah berdiri duduk aja. Lanjutkan! Aku kira tadi siapa,” kata ibuku. Beliau kemudian pergi keluar.

Dari arah luar Anik masuk lagi. Ia sudah selesai menyapunya lalu ia duduk di samping Rian lagi.

“Udah selesai nih,” kata Rian.

“Koq cepet ya?” tanyaku.

“Kalau dari Hard Disk ke laptop sih ya cepet,” jawabnya.

“Gimana tadi pesenanku?” tanya Anik.

“Beres, udah aku taruh di laptopnya Mbakmu,” jawab Rian.

“Siipp!”

Rian mencopot Hard Disknya, ia beres-beres. Sepertinya ia mau pamit.

“Lho, udah mau pergi?” tanyaku.

“Yah, kalau aku nggak pergi kapan aku nonton ini filmnya? Mumpung weekend,” jawabnya.

“Ya udah deh,” kataku.

“Pergi dulu ya,” Rian mengepalkan tangannya dan di arahkan ke diriku. Aku menempelkan tinjuku ke tangan itu. Anik juga. Cara tos yang aneh. Tapi ini sudah lama kami lakukan sejak kecil. Yahh…kami sih anggap wajar aja sih. Setelah Rian pergi aku masuk ke kamarku.

“Mbak, ntar pinjem lho ya,” kata Anik.

“Iya, iya, bawel,” kataku.

Aku masuk kamar dan menikmati apa yang barusan dicopy oleh Rian tadi. Aku buka-buka folder filmnya. Wah, keren-keren nih filmnya. Tapi apa ini? Koq ada folder dengan judul yang aneh. JAV. Apa itu? Film baru? Aku coba buka. Nggak jelas filenya. Banyak. Kuplay salah satunya.

Film mulai, ada cewek cakep. Seperti model gitu pake pakaian sexy. Heh? Film apaan ini? Adegan selanjutnya yang aku nggak sangka. Si cewek ciuman ama cowok, trus si cowok grepe-grepe gitu ke dada si cewek. Nggak cuma itu, si ceweknya ngelusin itunya si cowok. Idiiiiihh…ini mah film bokep! Aku langsung matiin. Duh…berdebar-debar aku nontonnya. Si Rian, tadi nggak sengaja kecopy film ini. Hihihihi…bener apa yang dibilang Anik, cowok itu pasti punya film ini. Wajar sih, dia lagi penasaran, lagi puber. Kuhapus nggak ya? Aku sembunyiin aja deh, siapa tahu suatu saat butuh.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler