. Love Tamarind Part 22 | Kisah Malam

Love Tamarind Part 22

0
38
Love Tamarind

Love Tamarind Part 22

Cinta itu Bahagia 2

Rasanya malam penganten itu…….koq udah pagi aja ya???

#PoV Rian#

“Uhh….capeeeekkk!” kata Rahma ketika masuk ke kamar.

Aku sudah merebahkan diri di kasur setelah mandi tadi. Entah tadi Rahma belum masuk kamar, katanya ada yang ingin diomongin ama ibu dan adiknya. Aku sekarang merebahkan diri. Pake kaos oblong dan boxer. Capek bener ngurus pernikahan gini.

“Lho, beib? Udah mandi?” tanyanya.

“Udah dong. Capek juga ya. Ntar ah, merebahkan diri dulu ngumpulin tenaga,” jawabku.

“Ngumpulin tenaga?”

“Ah, kaya’ nggak tahu aja mau ngapain.”

“Udah nggak sabar ya?” goda Rahma. Ia mendekatkan bibirnya ke bibirku. Kami berciuman.

“Iya dong,” jawabku.

“Aku mandi dulu ya?”

“Oke.”

Rahma segera mencopot seluruh bajunya. Lalu dengan hanya berbalut handuk ia masuk ke kamar mandi. Aku nggak melihat dia tadi telanjang, soalnya mataku terpejam. Ternyata aku ketiduran sebentar sampai aku merasakan sensasi yang hangat-hangat gimana gitu. Penisku rasanya enak tiba-tiba. Basah, geli. Aku tersadar dan melihat Rahma sudah mengelamuti senjataku di bawah sana. Ohhh….tegang deh.

“Beib?” kataku.

“Enak ya? Udah bangun?” tanyanya. Ia mengelamuti pangkal batangnya dan lidahnya menari-nari di antara kedua bolaku. Aduuhhh….lemes deh.

“Enak yang,” kataku.

“Sluurrppp…,” Rahma langsung memasukkan kepala pionku ke mulutnya dan disedotnya. Uuuhhh…..ngilu-ngilu sedap. Ia lakukan itu sambil melirik ke arahku. Lidahnya kemudian menari-nari di kepala pionku. Kemudian dimasukkan lagi ke mulutnya. Kepalanya naik turun sambil terus menyedot kemaluanku hingga pipinya kempot. Hebat nih sedotannya Rahma.

“Duh Ma…hebat banget dirimu,” kataku.

Tangan Rahma dengan lembut memberikan kocokan, nggak cepat tapi cukup untuk memberikan efek tegang dan keras kepada senjataku. OK, aku sudah sadar. Birahiku sudah naik, sudah waktunya aku bangun. Aku pegang wajahnya. Ternyata Rahma masih pakai handuk. Ia pun bangun dan merangkak ke atas tubuhku.

“Sudah siap beib?” tanyanya.

“Iya, kamu sudah membangunkanku. Atas dan bawah,” jawabku.

“Hihihihi,” Rahma tertawa geli. Handuknya dilepas. Tampaklah olehku dua buah bukit yang menggantung. Sekal dan ujungnya runcing.

“Aku baru saja melihat seorang dewi turun dari langit, Ma,” kataku.

Rahma membantuku untuk melepaskan kaosku, sekarang kami benar-benar polos, tak ada satu helai benang pun menutupi kami. Ia ambruk di atas tubuhku. Diciuminya bibirku.

“Rian, aku siap,” katanya. “Reguklah kenikmatan ini Rian!”

“Rahma, sayangku oohh…hhmmhhhh,” bibir kami saling memanggut dada kami saling berhimpit. Sensasinya luar biasa. Malam ini kami all out. Aku akan membuktikan Rahma bahwa aku komitmen kepadanya. Aku akan buktikan, kalau sekarang ini aku mencintainya. Bibirku mulai bergerak nakal menyusuri lehernya. Bau wangi sabunnya tercium, menambahkan sensasi rasa birahi kepadaku.

“Riann….hhhmmm…ohh…”

Bibirku bergerak ke bawah, menelusuri gundukan bukit kembarnya, membuat jejak-jejak kemerahan di atas kulit putihnya. Aku bisa melihat urat-uratnya yang kelihatan di seputar buah dadanya. Kini sudah ada empat cupangan terukir di sana. Hasil sebuah karya seni yang kuukir di atas kulit mulusnya. Dua insan manusia yang sedang dimabuk birahi kini berguling ke sana kemari mencari kepuasan, mencari kenikmatan menelusuri setiap lekuk tubuh lawan jenisnya.

Aku kembali mengisap puting susu Rahma. Puting susu yang membuatku mabuk kepayang. Ia telah pasrahkan apa yang menjadi miliknya selama ini kepadaku. Kini tak ada lagi perasaan canggung, malu dan sejenisnya. Sungguh apa yang ada di depannya ini adalah sebuah anugrah yang tak terkira. Tanganku sudah menjelajah kemana-mana, hanya satu tempat yang belum kujelajahi dan memang aku sisakan untuk nanti. Kakinya aku usap-usap, dari pahanya, betisnya. Aku ciumi setiap jengkal kakinya yang mulus itu. Rahma menggelepar seperti ikan yang keluar dari kolam saat jempol kakinya aku kenyot. Telapak kaki yang sangat indah, aku jilati semuanya seperti es krim.

Aku balikkan tubuhnya, punggungnya sangat halus, mulus. Lidahku kembali menggelitik garis lurus punggungnya. Kusibakkan rambutnya yang menutupi keindahan tubuhnya ini. Kuhisap kulitnya. Rahma makin mendesah. Tanganku mengusapi punggungnya hingga ke pantatnya yang padat dan menggoda. Aku tak malu-malu untuk menciumi kedua pantatnya. Kusibakkan hingga aku bisa melihat lubang pantatnya yang tertutup. Lagi aku balikkan badannya. Aku kini seperti seseorang dokter yang mengobservasi tubuh pasiennya.

“Say, kamu sedang penasaran ama tubuhku kah?” tanyanya.

“Iya, aku tak ingin melewati satu inchi pun tubuhmu. Rahma, boleh aku lihat?” aku meminta ijin.

“Silakan, aku siap apapun yang kamu lakukan,” kata Rahma. Ia memejamkan matanya. Kakinya dibuka sekarang.

Di depanku ada sebuah pemandangan yang langka. Sebuah belahan berwarna merah. Tertutup. Rambut halus tumbuh di atasnya tapi tak lebat. Aku sentuh permukaannya. Kuraba dan rambut-rambutnya aku usap. Rahma menggigit bibirya. Aku mencoba sibakkan kedua bibir kemaluanya. Terlihatlah bagian dalamnya yang berwarna merah. Ada lendir yang membasahi lubangnya. Seperti inikah bentuk memek seorang gadis yang setiap hari memakai kerudungnya? Nafasku berhembus di kemaluannya.

“Ahhh….Rian…” desah Rahma.

Bibirku maju sekarang bertemu dengan kedua bibir kemaluannya. Seolah-olah ingin mengucapkan permisi aku menciumnya. Rahma menggelinjang. Kucium lagi ia menggelinjang lagi. Bersamaan dengan itu kemaluannya makin banjir. Lidahku mulai menjilatinya.

“Aaahkkkk Riaann…hhhmmmmmsssssss….aahhkk….terus Rian….iya, di situ…..ohhhh…..aahhhh,”

Pantat Rahma bergerak makin liar. Jilatanku yang menstimulus birahinya itu makin basah dan makin membuatnya becek. Kuhisap cairan yang keluar dari kemaluannya. Tangan Rahma mulai memegangi kepalaku, tangannya menyetir kepalaku seolah-olah ingin agar aku bisa menggelitiki bagian di mana ia menekannya. Lidahku terus menjilatinya sambil menghirup cairan yang keluar dari kemaluannya.

“Riaan…sudahhh….aku nggak tahan lagi…Riaann…ohhh….ohhkk…!” Rahma menjepit kepalaku dengan kedua pahanya. Aku bisa merasakan bulu kuduk Rahma merinding. Pantatnya pun naik. Punggungnya juga. Selama tiga detik ia melengkung sambil mengapit kepalaku. Aku hentikan aktivitasku.

Rahma lalu lemas. Orgasme pertamanya dalam sejarah hidupnya.

“Luar biasa Rian….aku baru kali ini merasakannya,” katanya.

Aku sudah bersiap ingin masuk. Kepala pionku sudah berada di bibir kemaluannya.

“Rian, setelah kamu masuk nanti kamu akan menguasaiku sepenuhnya. Kamu tak menyesal memilihku?” tanya Rahma.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Sebab, hanya lubang inilah yang boleh kamu masuki selama aku menjadi istrimu. Aku akan berikan yang kamu inginkan, aku akan mematuhimu sebagai suamiku, walaupun usiaku lebih tua setahun darimu, tapi aku merasa aku adalah bagian dari tulang rusukmu,” Rahma mengusap pipiku.

“Aku sangat senang mendapatkan istri seperti dirimu Ma,” kataku. “Aku tak akan menyia-nyiakan kamu, susah senang aku akan bersamamu. Semua yang ada pada diriku juga adalah milikmu. Batangku ini juga tak akan aku masukkan ke lubang lainnya. Semuanya untukmu.”

“Rian…kamu lelaki yang baik, aku tak salah mencintaimu selama ini. Masuklah sayang. Puaskan dirimu!” katanya.

“Aku datang,”

Kepala pionku mulai masuk. Seret dan ngilu. Itulah yang terjadi ketika kemaluanku berusaha menerobosnya. Aku terus menahan, aku gerakkan maju mundur dengan perlahan-lahan, hingga kemaluan Rahma benar-benar banjir. Cairan pelumas itu pun mempermudahkan kepala pionku makin masuk, seperempat, setengah dan akhirnya, robeklah selaput dara Rahma. Rahma menjerit. Moga aja jeritannya nggak terdengar yang ada di luar kamar.

Aku melihat air mata keluar membasahi pipinya, “Rian, akhirnya aku memberikannya kepadamu. Milikku yang paling berharga.”

“Rahma….aahhhh…,” kemaluanku seperti diremas-remas oleh lubangnya. Sempit dan menghisap. Aku menariknya sebentar, lalu kembali mendorongnya hingga mentok menyentuh rahimnya.

“Riiaaann….aku akan tahan….teruskan! Buat dirimu puas. Buat dirimu puas Rian!” katanya.

Aku terus bergoyang, kutindih tubuhnya. Kupeluk. Nikmat sekali. Orang yang aku cintai. Bersamamu kita rengkuh kenikmatan bersama. Rahma, aku merasakan kenikmatan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Terima kasih Rahma, cintaku. Aku tak akan melupakan malam pertama kita.

Plok! Plok! Plok! Bunyi kedua selakangan kami beradu. Ahh…aku sudah mentok rasanya. Aku sepertinya sudah diujung. Kemaluanku makin keras.

“Rian….nikmat sekali…ahhh…oohhh…ohhh…..aaaahhh….”

“Aku mau nyampe, Ma,” kataku.

“Oh iya….?? Aku belum, Yan. Dikit lagi, yang cepet dong!” katanya.

AKu percepat pompaannya.

“Naahh…iya Rian, terus, terus….ahahhh…ohh…ahhhh….ahhh….ahhhhh…aku mau nyampe Rian!”

“Aku juga Ma, udah diujung ini!” kataku.

“Ayo sayang, keluarkan saja. Ayo hamili aku, hamili istrimu ini.”

“Ahhh…ahhh…aahhh…Ma, aku…..tak tahan lagi…ini…ini….sampeeee …!” jeritku.

“Riaaaann….aku juga…..aaaaaaaaaahhhhhhhH!”

Aku tekan kuat kuat kemaluanku hingga mentok tertelan semua. Spermaku muncrat di dalam rahimnya. Kami berpelukan erat sekali sambil saling menekan kemaluan kami.

Aku coba mengatur nafas kami. Rahma terlihat dadanya naik turun. Ia sekarang sedang tenggelam dalam lautan orgasme. Perlahan-lahan aku mencabut senjataku. Sreeett…Cepluk!

“Rian…,” desah Rahma.

Dari memeknya mengalirlah lahar putih hasil karyaku dan bonus sebercak warna merah. Aku memerawani seorang gadis. Aku merangkulnya sekarang. Kudekap dan tak ingin kulepas lagi. Kami berciuman, untuk memberikan perasaan nyaman setelah orgasme kami.

“Enak Rahma?” tanyaku.

“Nggak bisa diungkapkan dangan kata-kata Rian,” jawabnya.

“Istirahat dulu deh, habis ini kita lagi yuk?”

“Iya sayangku, terserah kamu. Mau sampai tulangku copot semua aku akan melayanimu.”

“Oh…Rahma….,” kami berciuman lagi. Kali ini aku putar tubuhnya agar miring, Aku peluk dia dari belakang sambil kemaluanku kuposisikan membelah memeknya dari pantatnya.

“Ahh…udah keras aja beib?” tanyanya.

“Harusnya gimana?”

“Ahh…masih tegang. Masukin aja nggak papa.”

Aku memegang batangku mencari celang di lubangnya. Lalu setelah ketemu aku tekan. Tak ada halangan untukku agar bisa masuk. Perlahan-lahan aku menggoyangnya. Duh, enak banget…..walaupun tadi barusan keluar, tapi otong masih tegang aja. Tubuh Rahma benar-benar menggodaku. Tangan kiriku mengobel klitorisnya sekarang. Sedangkan pusakaku sudah keluar masuk dengan posisi tubuh kami menyamping. Rahma meremas payudaranya sendiri.

Kali ini penetrasinya lebih mudah, karena kemaluannya benar-benar udah becek dengan lendir kami berdua. Tentu saja, sempit. Otongku ketika masuk serasa dicengkeram dengan kuat. Perutku memukul-mukul pantatnya. Duh, sukar diungkapkan dengan kata-kata. Enak banget. Setiap sodokan membuat pabrik yang memproduksi spermaku makin semangat kerja keras.

“Rian, udah dong, jangan dikobel ituku, bisa cepet keluar lagi aku!” keluh Rahma.

“Tapi enak kan?” tanyaku.

“Enak ya enak, tapi aku…nggak tahan…duh…aahhh…ahhhh..Riiiiaaaaannn….!” keluar deh itu Rahma.

Serrrrr…..serrr….kemaluan Rahma makin banjir aja nih. Aku mencabut kemaluanku sekarang. Aku telungkupkan dia. Seolah mengerti kemauanku, Rahma segera menungging. Kumasukkan lagi pionku ke dalam liang senggamanya yang udah belepotan cairan itu. Begitu masuk Rahma kusodok. Kali ini Rahma menjerit-jerit keenakan. Mirip jeritannya bintang film JAV yang videonya aku koleksi.

“Ma, jangan keras-keras nanti kedengaran!” bisikku.

“Tapi beneran enak Rian, ahhh…ahhh..ahhh…biarin….ahhh…toh…ini malam pengantin kita,” katanya.

Akhirnya aku tak peduli lagi, apalagi setiap benturan perut dan pantatku membuatku makin sampai ke puncak.

“Nah, tegang lagi tuh. Mau nembak ya?” tanya Rahma.

“Iya beib,” kataku.

“Tembak aja beib, aku udah keluar bolak-balik,” kata Rahma.

Dan saudara-saudara pejuhku keluar lagi. Kusemprotkan sedalam-dalamnya. Kutekan pantatnya hingga aku yakin telah menyemprot rahimnya, mengisi rahimnya dengan cikal bakal anakku. Setelah itu, barulah beneran kita kelelahan. Rahma menaikkan selimut. Dia menyelimuti tubuh kami berdua. Aku tidur memeluk dia sepeti guling dan aku tersenyum aja ketika tidur tangan Rahma menggenggam batangku, seolah-olah ia berkata, ‘Ini milikku, nggak boleh ada yang merebutnya’

#Pov Anik#

Mereka apa nggak bisa tenang sedikit sih? Iya malam pengantin, tapi suaranya sampai masuk kamarku. Bikin aku cemburu saja. Aku tutupi telingaku dengan bantal. Rian, jagalah Mbak Rahma. Aku yakin Mbak Rahma bakal setia selamanya. Kamu jangan ingat aku lagi ya. Mungkin memang benar nasehat si Yuli, aku harus melupakan Rian. Tapi aku juga udah janji kalau aku hanya akan mencintai Rian.

Aneh ah Yuli, kedengeran suara ahh…uhh…seperti ini koq ya tetep bisa tidur? Aku pun meringkuk. Kamar Rahma memang bersebelahan dengan kamarku, Yah maklum kalau gitu. Tiba-tiba Yuli merangkulku.

“Udah, dipaksa tidur aja Nik. Yah wajar malam pengantin mereka semangat kaya’ gitu,” bisiknya. Aku salah ternyata Yuli belum tidur juga. Aku tersenyum. Kini aku bisa tidur nyenyak setelah tak lagi terdengar suara mereka.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler