. Love Tamarind Part 21 | Kisah Malam

Love Tamarind Part 21

0
35
Love Tamarind

Love Tamarind Part 21

Cinta itu Bahagia 1

Engkaulah yang aku pilih
Engkaulah yang hidup bersamaku
Engkaulah yang akan mengisi hari-hariku
Engkaulah wanita yang aku cintai

Tanggal 1 November

#Pov Anik#

Aku curhat kepada Yuli. Tentang Rian, tentang Mbak Rahma, tentang pernikahan mereka. Aku curahkan semua hatiku, semua perasaanku yang selama ini terpendam. Yuli ikut terbawa suasana. Ia juga menangis.

“Nik, trus rencana lo gimana? Datang ke pernikahan Mbak Rahma?” tanya Yuli.

“Mau bagaimana lagi Yul, dia mbakku satu-satunya. Orang yang aku kagumi, orang yang aku hormati sebagai kakak, orang yang dituakan setelah ayahku pergi. Tapi di sana juga ada Rian. Orang yang aku cintai selama ini dan aku berharap banyak ama dia,” kata Anik.

“Udahlah Nik, lo harus menerima ini semua. Berat memang, Rian sudah milih Mbak Rahma. Bukannya banyak tuh yang deketin kamu selama ini? Kenapa kamu nggak move on?”

“Aku nggak bisa Yul, kenanganku ama Rian terlalu indah untuk dilupakan.”

“Anik, Anik, koq ya ada ya cewek seperti kamu. Sulit banget buat move on, kalau aku sih sudah lama move on, Nik. Seindah apapun kenangan kita ama orang ang kita suka, kita tetap harus menatap masa depan. Kamu masih punya cita-cita bukan? Udah deh, ambil cita-citamu ini, gapai. Biar tuhan yang mengatur segalanya.”

Kata-kata Yuli itu sedikit menyadarkanku. Aku selama ini selalu dalam bayang-bayang Rian. Aku masih punya cita-cita yang ingin aku gapai. Menjadi seorang reporter, penyiar tv. Itulah cita-citaku. Percuma aku kuliah selama ini kalau masih mikirin Rian, gagal move on. Tapi….Rian…

“Nik, ikhlaskan Rian, ya? Aku jadi ikut sedih lihat kamu seperti ini terus-terusan.”

“Yul, bisa nemenin aku pulang?”

“Ke Kediri?”

“Iya, aku butuh orang yang bisa kubuat pegangan. Aku takut kalau-kalau di acara mereka aku bakal pingsan.”

Yuli memelukku. “Iya, aku akan dampingi kamu.”

#Pov Rian#

“Heh, nyuk?” sapa mas Yogi di telepon.

“Ya mas?” tanyaku.

“Awakmu jik nang Suroboyo?” tanyanya.

“Ini mau pulang mas,” jawabku.

“Ealah, yang nikah kamu koq yang ribut kita semua. Tinggal tiga hari lagi lho. Ini urusan ama KUA-nya belum selesai soalnya, gara-gara orangnya ribet. Udah pulang gih, kamu juga harus nyiapin baju penganten juga.”

“Iya mas, iya. Ini lho kustarter motorku,” sambil kustarter sepeda motorku biar Mas Yogi denger.

“Oo, udah mau berangkat toh. Yo wis ati-ati, ojok sampe calon pengantin durung rabi koq ono masalah.”

“Iya mas.”

“Eh, Rian.”

“Apa mas?”

“Aku minta maaf ya.”

“Minta maaf kenapa mas?”

“Bener kata orang, siapa lagi yang harus kita percaya kalau bukan saudara sendiri. Aku dulu meragukanmu, Yan. Aku sampai nyakitin kamu. Aku minta maaf ya?”

“Halah, mas ini. Pukulan sampeyan iku kurang keras mas. Nggak kerasa sakit.”

“Weeee…mosok?”

“Pukulan sampeyan itu pukulan kasih sayang mas, aku nggak kerasa sakit.”

“J*nc*k, garai aku mbrebes wae. Wis ah, ati-ati yo!”

“Iyo mas.”

Aku tutup teleponku. Rahma, aku datang.

Tanggal 2 November

#Pov Anik#

Jadilah aku pulang naik kereta Gajayana. Yuli mendampingi aku. Kereta berangkat pagi, jadi pasti datangnya besok pagi juga. Atau paling nggak molor sampai jam 11 siang. Aku berharap-harap cemas, bingung mau ngapain nanti kalau sudah ada di rumah. Pasti sekarang ini mereka sedang sibuk.

Bagaimana ya wajah Mbak Rahma ketika jadi penganten? Pasti cantik. Aku masih memikirkan apa yang akan aku lakukan nanti di hadapan Rian. Aku cukup salut Rian mampu menaklukkan hati Mbak Rahma, tapi emang Mbak Rahma orangnya udah suka Rian dari dulu koq. Tiap aku pulang sekolah yang ditanya Rian. Gimana Rian? Sekolahnya baik nggak? Nilainya Rian gimana? Dia tadi bawa bekal ya? Gelagatnya Mbak Rahma yang suka ama Rian ini aku udah tahu. Aku mungkin belum pernah punya rasa ama Rian. Aku baru suka ama Rian ketika dia ungkapkan perasaannya kepadaku. Beda dengan Mbak Rahma, ia sudah suka ama Rian sejak dulu.

Ponselku sudah tidak ada lagi wajah Rian. Aku nggak mau nanti malah jadi perkara. Aku ingin menunjukkan kepada Rian kalau aku tidak apa-apa. Ia harus bahagia ama Mbak Rahma. Aku memandangi pemandangan sawah yang luas membentang. Padinya menguning, agaknya sebentar lagi panen. Kereta baru saja masuk Cirebon. Aku menghela nafas. Yuli menenangkan aku. Semoga aku kuat ketika melihat dia nanti.

Ponselku berbunyi. Dari Mbak Rahma, aku angkat.

“Halo?” sapaku.

“Nik, kamu jadi pulang?” tanyanya.

“Iya, ini lagi di kereta,” jawabku.

“Kamu yakin, nggak apa-apa?”

“Iya mbak, nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa. Aku nggak mungkin ngerusak acara pernikahan mbakku sendiri.”

“Jangan gitu dong, Nik. Segera pulang deh. Aku kangen berat ama kamu. Aku kepengen meluk kamu.”

“Aku juga koq mbak.”

“Kamu sama siapa?”

“Sama Yuli.”

“Yuli? Yuli anaknya pak Dhe?”

“Iya. Sekaligus dia mewakili Pak Dhe, karena nggak bisa datang, soalnya masih ada kiriman ke Lampung katanya.”

“Waahhh…udah kangen aku ama Yuli, kasih teleponnya ke dia dong. Aku mau ngobrol!”

Aku menyerahkan ponselku ke Yuli. “Dari Mbak Rahma.”

Yuli menerimanya, “Halo? Hai Rahma. Wah, lama nggak ketemu. Gimana kabar lo? Wah, tahu-tahu udah mau nikah aje. Iya….iya..he-eeh…. Hehehehe, belumlah. Tapi ada koq yang udah daftar, ngantri. Banyak. Hehehehe, kenapa?…Ohh…begitu. Iya nih, tauk tuh…..iya. Aku sama Anik koq. Makasih. Iya….Semoga aja ya. Anik? Oke. Nik, nih Mbakmu mau ngomong!” kata Yuli sambil ngasih ponselnya. Aku terima.

“Ya Mbak?” tanyaku.

“Aku sayang kamu, Nik. Nggak sabar kepengen ketemu.”

“Aku juga mbak.”

Tanggal 3 November

Nyampe juga akhirnya. Uhhh…pinggangku mau rontok rasanya. Tapi perjuangan belum berakhir. Untuk sampai ke rumah, kami masih harus naik kendaraan lagi. Karena udah capek, kami pun naik taksi aja. Dan ya emang nggak butuh waktu lama kami sudah sampai di rumah. Aku melihat tumpukan kursi-kursi udah tertata di halaman. Sudah pasang tenda juga.

Aku dan Yuli keluar dari taksi, kemudian dari bagasi aku keluarkan barang bawaanku. Yng pertama kali menyambutku adalah ibu.

“Aniiikk, ya ampun udah datang aja. Ini sama Yuli ya?” kata ibuku.

“Iya bu,” kataku.

“Ya udah, pasti capek. Mandi trus istirahat sana gih. Nik, Yuli bisa pake kamarmu aja ya?”

“Nggih bu,” jawabku.

“Ayo Yul!” ajakku.

Yuli pun mengikutiku masuk ke rumah. Tradisi kita adalah setiap pengantin wanita bakal dipingit. Artinya nggak boleh keluar rumah sampai hari akad nikah. Ya beneran. Aku di rumah langsung disambut oleh Rahma.

“Niiiikk!” ia langsung memelukku begitu tahu aku yang masuk.

“Mbak Rahma,” kataku.

Kami berdua berpelukan. Tangis kami pecah.

“Aku kangen ama kamu,” kata Mbak Rahma.

“Aku juga mbak,” kataku.

“Rahma, biarin Anik bersih-bersih dulu trus istirahat. Kangen-kangenannya habis ini aja,” kata ibuku.

Rahma pun menurut. Ia menciumi pipiku. Kami cipika-cipiki. Tapi Mbak Rahma menambahi bonus dengan mencium keningku. Mbak Rahma lalu merangkul Yuli. Yah, begitulah acara kangen-kagenan kami. Hari itu aku banyak menghabiskan waktu ngobrol ama Rahma, juga Yuli. Dari semua obrolan Mbak Rahma menghindari ngobrolin tentang Rian. Dia sepertinya faham, tak ingin menambah rasa sakit hatiku.

Tapi di rumah ini, rasanya semua kenangan itu datang lagi. Aku masih ingat Rian belajar bersamaku di meja itu. Aku masih ingat bagaimana kami berciuman di samping rumah. Semuanya jelas. Tapi sosok Rian sekarang sudah mendapatkan Mbak Rahma. Aku tak mau mengganggunya. Aku akan tahan rasa sakit ini sekuat tenaga.

#Pov Rian#

Aku berBBM ria ama teman-temanku. Mereka emang kompak kalau jahil dan usil. Aku mulai digoda mulai dari “pake jamu nggak”, “perlu pesta bujang nggak?” dan macem-macem. Iya, malam ini ada pesta bujang. Temen-temenku yang ngadain. Aneh-aneh aja. Kebanyakan sih temen-temen SMA. Temen-temen kampusku ya cuman si Erik aja yang datang, karena rumahnya ada di Jombang.

Sebelum pesta bujang aku BBM-an ama Rahma.

Aduuuhh…BBM-anku mesra banget ama Rahma. Aku berbunga-bunga. Ahhhh…

“Heh, Nyuk!” celetuk Mas Yogi.

“Opo mas?” aku terkejut.

“Senyam-senyum dewe, BBMan karo Rahma?”

“Iyo mas.”

“Hahahaha, dasar wis ora sabar ta? Yo coli kono nang jeding.(dasar udah nggak sabar ya? Ya coli sana di kamar mandi)”

“Wasem sampeyan mas,” aku langsung menggelitiki kakakku. Kami bercanda kejar-kejaran.

Si Erik dan beberapa teman-teman SMA-ku datang. Yah, seperti itulah, mereka mengadakan pesta bujang. Kita ngobrol ketawa-ketiwi, dan dari situ juga kita sampai curhat. Kemudian aku pun sampai ditanyai sama Rofiq. Rofiq ini teman sekelasku dulu waktu SMA. Dia tahu hubunganku ama Anik. Dia pun tanya, “Yan, perasaanmu sama Anik sekarang gimana? Masih tetep suka atau nggak? Jujur aja wis.”

Semuanya menoleh ke arahku menunggu jawaban. Mas Yogi koq ya ada di sini pula. Ia senang aja denger curhatan kami. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Sejujurnya beberapa waktu lalu dia nelpon aku,” jawabku.

“Heeeeeeeeehhhh????” kompak banget sih mereka.

“Trus, trus?” tanya Rofiq menyelidik.

“Trus, yaa….dia ngasih ucapan selamat. Aku undang aja dia biar dateng,” kataku.

“Goblooooookkk!” suara Mas Yogi paling kenceng.

Erik, Rofiq dan lain-lain sampe kaget.

“Kenapa mas?” tanyaku.

“Kamu itu bego banget jadi cowok, Rian.”

“Maksudnya?”

“Heh, kalau si Anik itu masih ngarep kamu gimana? Masih cinta ama kamu gimana? Koq malah nyuruh dateng sih? Edan awakmu. Mengko kalau dia semaput pas acara pernikahan gimana?” kata Mas Yogi. Aku nggak pernah mikir sampai sejauh itu. Mikirku ya wajar dong nyuruh dia datang ke acara pernikahan lha Rahma itu kan mbaknya.

“Aduh, beneran ini Yan, parah awakmu. Kalau dia sampai semaput gimana? Kita juga tahu kalau Anik itu sampai sekarang masih cinta ama kamu,” kata Rofiq.

“Hah??” aku terkejut. “Serius?”

Kon iku ora sensitif blas!(kamu itu nggak sensitif sama sekali)” kata Mas Yogi.

“Coba deh kamu buka facebooknya. Pernah lihat facebooknya nggak?” tanya Rofiq.

Aku menggeleng.

“Wooo…bener kata masmu kamu itu cowok yang bego. Buka’en saiki!(buka sekarang)” sambung Rofiq.

Aku kemudian membuka facebook pake ponselku. Aku ketik pencarian nama. Emang aku jarang gunain facebook sih. Dan keluarlah akun Anik Yuanawati. Profil fotonya ia pake jilbab dengan kacamatanya. Tersenyum tipis. Trus aku lihat status-statusnya.

Status terbarunya, baru ditulis: [Status berikut dibaca dari bawah ke atas]

Aku kemudian mundur lagi, ke waktu di mana aku mutusin dia. Di facebook ada timeline sekarang. Jadi aku bisa milih tanggal dan tahun di mana aku terakhir kali mutusin dia. Dan…oh tidak… tanganku gemetar.

Aku menjatuhkn ponselku.

“Lapo, Yan?” tanya Erik.

“Kenapa aku jahat kepada Anik? Salah apa dia coba? Itukan cuman taruhan konyol, kan?” kataku.

“Lha? kamu sendiri gimana, lho?” kata Rofiq. “Yan, kita itu tahu semua. Udah jadi rahasia umum kalau Anik naksir kamu, suka ama kamu. Semuanya juga tahu. Kita ya kaget aja kalau kamu tiba-tiba jadian ama Rahma. Tapi kan ya…itu keputusanmu.”

“Ealah Yan, Rian. Nggak sensitif blas,” kata Mas Yogi. “Yowislah, itukan udah keputusanmu. Jangan kecewain Rahma. Udah terlambat. Kamu lagian udah komitmen ama Rahma, kesampingkan Anik.”

“Gini aja Yan. Kan besok dia ada dan mestinya ada di acara nikahanmu, aku ama temen-temen bakal jaga dia. Kita akan coba hibur dia. Ah, andai saja kamu lebih sensitif, Yan,” Rofiq menimpali.

Aku mengusap wajahku. Bingung, galau, merasa bersalah. Aku kemudian ambil ponselku. Aku pergi.

“Lho, lho? Yan? Mau kemana?” tanya Mas Yogi.

“Mau nemui Anik,” kataku.

Eh, cah edan. Ojok!(Eh, anak sinting, Jangan!)” teriak Mas Yogi.

Terlambat aku udah menstarter motorku. Kemudian pergi. Di depan rumahnya sudah ada tenda. Aku nggak mungkin berhenti di sana. Aku tak ingin terlihat. Segera aku hubungi nomornya Anik. Cukup lama untuk mengangkat tapi akhirnya diangkat juga.

“Halo?” sapanya.

“Temui aku di pos kamling! Ada yang ingin aku bicarakan,” kataku.

“Rian? Ada ap…” aku tutup langsung teleponnya.

Aku menunggu di pos kamling. Dan dari kejauhan kulihat Anik keluar dari rumahnya. Aku melihat ia memakai kerudung yang lebar, pakai rok. Rok? Anik pake rok? Tumben. Dia berjalan menuju ke pos kamling tempat yang aku bilang tadi. Dia memperlambat langkahnya ketika melihatku. Setelah sampai di depanku dia berhenti.

“Nik, apa kabar?” tanyaku.

“Yah, beginilah, Yan. Katanya ada yang ingin dibicarakan?”

“Kamu bener koq Nik, kamu bener. Aku ini cowok yang bego. Cowok yang nggak sensitif.”

“Apaan sih?”

“Udahlah aku udah sadar. Aku bodoh, bego, nggak sensitif. Aku nggak peka selama ini. Bodoh emang. Aku bodoh.”

“Kamu kenapa?”

Aku langsung maju. Aku rengkuh dia dan dalam satu gerakan aku sudah mencium dia. Anik terkejut. Ia tak melawan. Nafas kami memburu. Aku tak peduli seandainya ada orang yang lewat melintasi jalanan itu. Tapi untunglah nggak ada yang melihat kami. Selain itu juga lampu jalanan mati. Air mata Anik meleleh. Setelah ciuman itu. Ia sesenggukan.

“Apa itu tadi, Rian? Kenapa?”

“Itu perasaanku yang masih sedikit tersisa untukmu. Aku tahu semuanya sekarang. Betapa hatimu sakit selama ini, kenapa kamu tak bilang? Kenapa kamu tak coba titip pesan kek ke mas-ku. Atau ke Rahma kek, ke siapa kek? Kamu juga kan tahu akun facebook-ku, nggak coba cari kek nomorku yang baru. Kamu juga harusnya tahu aku melakukan itu semua karena memang aku bodoh, o’on, udah tahu begitu kamu biarin aku begitu saja?”

Kami berdua sesenggukan sekarang.

“Maafkan aku Rian.”

“Aku yang harusnya minta maaf. Aku nggak sensitif. Aku bodoh. Dengan aku ngundang kamu ke sini sama saja nyakiti hati kamu. Aku juga bodoh, kamu tahu? Dari hatiku yang paling dalam aku masih ingat namamu, Nik. Aku juga bingung mengatakannya. Aku emang nembak Rahma, aku juga pacaran ama dia. Tapi….kenapa ketika kamu hadir namamu sekarang yang terngiang-ngiang di benakku?”

“Udahlah, Yan. Kamu besok nikah sama Mbak Rahma. Jangan ungkit-ungkit lagi.”

“Tapi Nik…”

Anik membalikkan badan.

“Rian, kisah kita sudah selesai. Kamu ada kisah baru yang harus kamu tulis sama Mbak Rahma. Aku memang cinta ama kamu sampai sekarang. Tapi kisah cinta kita memang harus berakhir di sini. Bahagiakan Mbak Rahma, dia sangat mencintaimu dengan tulus. Jangan kecewakan dia. Kalau kita jodoh, kita akan ketemu lagi di lain kesempatan.”

Anik melangkah pergi. Kata-kata Anik itu adalah kata-kata yang menusuk. Sekaligus juga pemberitahuan akan sesuatu hal, dia masih mencintaiku. Si bego ini yaitu diriku cuma bisa menyesali segala tindakan bodohnya. Membiarkan bidadarinya pergi meninggalkannya. Tapi, perkataan Anik ada benarnya. Aku sekarang ada Rahma. Aku sudah memilih dia. Dengan dirinyalah aku akan menulis masa depan. Aku pun pulang kembali ke rumah.

#Pov Anik#

Aku bisa mengeluarkan semua kata hatiku barusan. Aku sempat terkejut ketika Rian menyuruhku pergi ke pos kamling. Dia sampai menciumku segala. Oh…aku rindu ciumannya itu. Dia menyesali apa yang telah dilakukannya. Dan dia jujur. Kami sampai menangis bersama saat itu. Tapi…aku tak mau mengecewakan Mbak Rahma. Dia harus menulis masa depannya dengan Rian. Bukan dengan aku.

Aku sekarang lega. Sangat lega. Aku punya kekuatan sekarang. Punya kekuatan melihat mereka bersanding. Apakah kekuatanku itu karena aku tahu kalau Rian masih mencintaiku? Semoga saja bukan karena itu.

Tanggal 4 November

#Pov Rian

Hari pernikahan tiba. Dari semua wanita di dunia ini Rahma-lah yang paling bahagia. Aku mencoba melupakan apa yang terjadi tadi malam. Aku lihat banyak teman-temanku yang datang pula. Setelah tadi pagi aku Ijab Qabul di depan petugas KUA, kami pun resmi jadi suami istri. Aku pun berjanji kepada diriku sendiri. Aku suaminya Rahma dan aku akan benar-benar mencintai dirinya dengan sebenar-benarnya. Aku sudah komitmen ama dia. Aku tak akan mengkhianatinya.

Acara pernikahan itu meriah. Teman-teman benar-benar banyak yang mengerumuni Anik. Mereka benar-benar mencoba menghibur Anik. Mungkin dengan demikian bisa menjadi obat yang mujarab bagi dirinya. Obat yang paling mujarab daripada dia harus mencari cara sendiri.

Hari itu Rahma jadi wanita tercantik di acara resepsian. Dia memakai jilbab putih, gamis putih dengan untaian bunga melati melingkar di kepalanya. Dia luar biasa cantik. Siapapun pasti akan mengira ia adalah bidadari yang turun dari kayangan. Bulan madu? Jangan tanya bulan madu deh. Aku tak punya rencana bulan madu. Pernikahan ini aja sederhana. Yah, paling tidak aku akan nikmati kesederhanaan ini. Apalagi Rahma orangnya perfeksionis. Ia nggak suka ada sedikit saja yang kurang.

Setelah para tamu dan undangan pergi Anik menghampiri kami.

“Selamat ya mbak, aku seneng sekali,” Anik merangkul kakaknya ini.

“Makasih ya dek, udah datang jauh-jauh dari Jakarta,” kata Rahma.

Setelah mereka berpelukan giliran Anik yang berada di depanku. Mata kami menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang sama-sama kami ketahui. Aku tahu dia masih mencintaiku. Aku juga. ANik pun bicara, “Kamu, awas ya kalau sampai nyakiti Mbak Rahma. Aku nggak akan maafin kamu. Selamat atas kalian berdua.”

Anik nggak menyalamiku. Ia langsung pergi. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Rahma mengelus-elus pundakku. Ia tahu apa yang aku rasakan. Aku ingat, aku tetap komitmen ama Rahma. Selamat tinggal Anik, kisah kita memang harus berakhir.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part