. Lentera Gelap Part 7 | Kisah Malam

Lentera Gelap Part 7

0
35
Lentera Gelap

Lentera Gelap Part 7

Pembunuhan

Dark Lantern. Makin aku menyelidikinya makin membuatku berada di dalam kegelapan. Seberapun aku berfikir bahwa ini adalah cerita fiksi, semakin aku tenggelam kepada realitas bahwa sekte ini benar adanya. Aku pun jadi teringat dengan sebuah nama William van Bosch. Apa hubungannya dengan Thomas van Bosch?

Aku pun kembali ke tempat Inspektur James. Dan sepertinya ia kembali senang melihatku ada di sana.

“Ah, Piere. Bagaimana kabarmu?” sapanya.

“Aku baik-baik saja. Aku ingin kembali membuka file tujuh belas tahun yang lalu tentang mayat yang identitasnya bernama William van Bosch,” kataku.

“Itu sudah lama sekali. Ada di ruang arsip. Kamu tahu sendiri kalau tiga tahun kasus itu tidak disentuh lagi, bisa ditutup oleh pengadilan,” kata James. “Jadi, kamu punya titik temu?”

“Sedikit, tapi aku sangka apa yang aku kejar kali ini lebih gelap. Aku bisa merasakannya bahwa insting detektifku mendeteksi bahwa perkara yang aku tangani kali ini tidak mudah,” kataku.

“Tak usah banyak bicara, ayo ikut!” ajak James.

Aku pun diantarkan olehnya menuju ruang arsip. Ruang arsip ini ada di lantai bawah. Di sana ada tumpukan arsip dari kasus-kasus dua puluh tahun terakhir. Setiap kasus yang sudah kadaluwarsa file-filenya akan dibakar. Semuanya akan disimpan ke dalam database sebagai arsip yang akan tersimpan selama-lamanya. Databanknya lumayan besar, kami masih bingung cara untuk bisa menyimpan data yang sangat banyak ini.

Kami akhirnya sampai ke sebuah rak. James kemudian mengambil sebuah kardus dan memberikannya kepadaku. “Semua ada di sini. Silakan ambil yang kamu butuhkan.”

“Terima kasih,” kataku.

“Tak perlu Piere, kita sudah teman akrab,” katanya.

Aku akan berbalik ketika James mencegahku, “Piere, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”

“Apa?” tanyaku.

“Tentang 8 Miles,” jawabnya.

“Ya?”

“8 Miles yang aku ingat adalah sebuah pesta darah yang terjadi di sebuah tempat bernama 8 Miles. Disebut 8 Miles karena di sini orang-orang sering berkumpul untuk sebuah acara komunitas. Entah bagaimana akhirnya mereka saling bunuh dan para pelakunya tak ditemukan. Pesta darah yang mengerikan. Kasusnya jauh sebelum kita berada di kepolisian,” kata James.

“Di mana 8 Miles itu?”

“Aku akan BBM alamatnya. Tapi kuharap kamu hati-hati. Kalau yang kamu selidiki ini saling berkaitan satu sama lainnya, bukan tak mungkin nyawamu bisa celaka, apalagi keluargamu. Kalau kamu butuh apapun segera hubungi aku!”

“Tentu saja James, tentu saja.”

Kami pun kembali ke tempat semula. Aku menenteng kardus berisi kertas-kertas arsip tentang pembunuhan Willian van Bosch. Saat itulah ada seorang polisi langsung menemui James.

“Lapor pak!” katanya.

“Ada apa?”

“Ada enam preman menyerahkan diri,” jawabnya.

“Hah? Mana mereka?” tanya James.

Aku jadi tertarik. Akhirnya ikut mereka ke ruang interogasi. Di dalamnya ada enam orang preman yang badannya menggigil dan dibalut selimut. James langsung masuk ke sana dan bertanya-tanya kepada mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya James.

“Kami baru saja melihat iblis. Mengerikan. Kami semua dibuat beku. Sekarang kami tobat, kami tak mau lagi untuk memalak orang. Tolong pak, tangkap kami, tangkap kami! Hiiiii….brrrrr,” ujar salah seorang preman sambil menggigil.

Aneh memang, mereka sepertinya sangat ketakutan bahkan sampai menggigil. Awalnya aku hanya menganggap mereka cuma akting agar diterima permohonan maafnya sehingga hukumannya ringan. Tapi aku salah sangka. Hingga aku lihat sendiri apa yang akan terjadi nanti dengan mata kepalaku sendiri.

Hujan kembali turun kini makin deras daripada kemarin. Saat aku keluar dari kantor polisi hingga ke mobil, aku bersusah payah memasukkan berkas itu ke dalam mobilku. Setelah itu aku pun melajukan mobilku. Seperti biasa, jalanan macet. Namun perhatianku beralih ketika melihat seseorang dikejar oleh beberapa orang lainnya. Yang satu pakaiannya biasa, kaos dan celana jeans. Sedangkan yang lainnya memakai jas, kemeja dan dasi. Mirip agen rahasia saja. Eh, tapi buat apa mereka mengejar satu orang itu?

Rasa penasarankulah yang mengakibatkan aku langsung membanting stir mobilku menepi. Belasan bunyi klakson langsung menyerangku. “Persetan!” pikirku. Aku tak pedulikan dan segera kuparkir mobilku. Dengan cepat aku keluar dari mobil dan langsung mengejar kelima orang yang sedang kejar-kejaran tersebut. Salah satunya kulihat membawa pistol. Ah, sial, kenapa aku tak membawa senjata itu di saat begini. Tapi itu tak menyurutkan lariku untuk mengejar mereka.

Mereka naik ke jembatan penyeberangan. Aku pun mengejar mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang seru. Dan orang yang dikejar pun larinya lebih cepat dari kami semuanya. Kemudian setelah turun dari jembatan penyeberangan ia langsung berbelok ke sebuah gang kecil. Dua orang lainnya berpencar untuk mengepungnya sepertinya. Aku tetap mengejar lurus sampai masuk gang.

Cepat sekali mereka larinya. Aku sudah tak melihat mereka lagi di ujung gang. Aku terus berlari hingga akhirnya aku sudah menyusul mereka. Tapi, pemandangan yang aku lihat setelah itu sungguh tak enak dilihat. Orang yang dikejar tadi tampak sudah dikelilingi oleh empat orang yang mengejarnya.

“Tolong! Tolong! Aku tidak bersalah! Tolong!” teriak orang itu.

“Hei tunggu!” kataku.

Mereka menoleh ke arahku. Tapi tiba-tiba ada orang lain yang sudah ada di tempat itu. Sejak kapan? Dia sudah menghadang jalanku. Orangnya memakai stelan hitam, dasi hitam dan memakai kacamata hitam.

“Maaf detektif, kurasa sebaiknya Anda tak perlu ikut campur dalam hal ini,” kata orang itu.

“Siapa Anda? Apa yang kalian lakukan??” tanyaku.

Dia mengeluarkan kartu pengenal. Ada lambang kepolisian bhayangkara. Divisi Khusus?? Orang itu bernama Robert Ghana Dewa. Aku melihat orang yang dikejar itu tiba-tiba diberondong peluru. “HEI!”

DOR! DOR! DOR! DOR! entah berapa kali peluru bersarang di tubuhnya sekarang. Keempat orang yang mengejarnya tadi sudah menghabisi dirinya.

“Tenang, tenang, detektif. Tenang, orang itu adalah orang berbahaya. Dia sudah jadi buronan kepolisian sejak lama. Lihatlah!” Robert mengeluarkan tabletnya dan memberikan visualisasi tentang DPO.

“Tapi kenapa harus dieksekusi seperti itu?” tanyaku.

“Temui aku besok detektif, kamu akan aku beritahu apa sebabnya. Untuk sementara ini kamu tahan dirimu dan sabar. Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu,” kata Robert. Aku mulai mengerti apa yang dibicarakannya ketika dia memberikan sebuah kartu nama dan sebuah lambang yang tidak asing. Dark Lantern. “Ini kartu namaku. Permisi.”

Menyuruhku tenang setelah melihat pembunuhan di depan mataku?? Yang benar saja!

“Hei, hei tunggu!” kataku.

“Tenang saja, sebentar lagi polisi datang untuk membereskannya,” katanya.

Aku lalu segera mendekati orang yang ditembak oleh keempat orang tadi. Keempat orang tadi dengan tatapan dingin melihatku. Aku mendekat ke arah mereka tapi mereka menghalangi. Aku melihat sesuatu yang tak semestinya aku lihat. Orang yang ditembak tadi, kulitnya…kenapa kulitnya seperti batu?? Bahkan wajahnya separuh manusia separuh batu. Apa-apaan ini???

Polisi datang tak lama setelah itu. Kulihat James juga ikut di TKP. Aku melabrak James.

“James, apa-apaan ini siapa mereka?” tanyaku. Ketika menunggu James di TKP. Aku bisa melihat mayat orang yang di tembak oleh keempat orang tadi, separuh tubuhnya berubah menjadi batu.

“Mereka divisi khusus. Namanya ATFIP (Asault Team For Inhuman Phenomenon),” kata James. “Aku tak punya wewenang untuk menghalangi aksi mereka.”

“Tapi mereka membunuh tersangkanya!” kataku. “Tersangkanya tidak bersenjata James!”

“Kamu kira aku punya wewenang?! Aku juga tak suka dengan mereka Piere!” James balas membentakku.

Aku pun lesu. Tak percaya terhadap apa yang terjadi.

“Maaf, tapi sebaiknya kamu pulang saja, tenangkan dirimu, aku juga akan melakukannya,” kata James. Aku juga bisa melihat raut wajah ketidak senangannya. Ia tentunya tak rela main hakim sendiri bisa ada di wilayah kerjanya. Ini sama sekali tak bisa dibiarkan. Baiklah, aku akan menemui Robert besok dan meminta penjelasannya.

***

Besoknya aku pun janjian dengan Robert bertemu di taman. Robert sudah menungguku sambil menyeruput kopi. Dia juga mengunyah sepotong roti, yang ia celupkan ke gelas kopinya. Melihatku datang ia mempersilakanku duduk.

“Detektif Johan, maaf kalau kemarin sambutannya tidak menarik. Tapi inilah pekerjaan kami. Membunuh orang,” ujarnya.

“Bagaimana kalian bisa berbuat seperti itu?” tanyaku.

“Sebenarnya divisi ini didirikan bersamaan dengan densus 88. Dan bedanya adalah kalau Densus 88 mengurusi terorisme, kami mengurusi orang-orang sinting,” jawab Robert.

“Orang-orang sinting?”

“Ya, orang-orang dengan kemampuan khusus, mengendalikan elemen, unsur bumi dan lain-lain.”

“Kalian gila, bagaimana mungkin ada orang-orang seperti itu?”

“Anda bisa bilang saya gila setelah engkau melihat mayat itu?? Detektif. Mereka bukan manusia biasa, mereka berbahaya dan mereka akan menyakiti siapa saja.”

“Tapi mereka manusia.”

“Manusia yang sudah terkontaminasi Detektif, kami menyebutnya terkontaminasi oleh iblis. Mungkin Anda tak percaya, tapi suatu ketika nanti saya akan mengajak Anda untuk meringkus salah satu dari mereka. Dan anda akan lihat sendiri bagaimana mereka sebenarnya. Yang barusan kami bunuh adalah Troya punya kekuatan elemen bumi. Dia bisa merubah dirinya menjadi batu. Korbannya dua orang tua kakek nenek tidak berdosa, seorang sopir truk, dan belasan anak-anak, karena dia menggunakan kekuatannya. Apakah kamu ingin anak-anakmu terlukai oleh orang-orang seperti mereka? Coba pahami ini baik-baik.

“Tindakan kami memang tidak mudah difahami oleh orang-orang pada umumnya, tapi apa yang kami lakukan adalah tindakan pencegahan agar tak terjadi hal yang lebih buruk. Bagaimana kalau orang-orang seperti mereka terjun ke dunia politik hingga kemudian membunuh presiden? Tentunya kita tak akan mau hal itu terjadi, benar bukan detektif?”

Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

“Kopi?” dia menawarkan secangkir kopi yang ada di bangku. “Maaf kalau sudah dingin.”

Seorang dengan jas hitam datang sambil membisikkan sesuatu kepada Robert. Wajah Robert yang sedikit tanpa ekspresi itu kini berubah serius. Ia mengangguk. Diusap rambutnya yang sudah mulai jarang tumbuh itu.

“Permisi detektif, ternyata perjumpaan kita singkat. Silakan dinikmati kopinya, aku ada urusan penting,” kata Robert.

Setelah itu ia dan temannya melangkah pergi meninggalkanku seorang diri di taman. Robert melewati tempat sampah dan membuang kopi dan rotinya ke tempat itu. Aku melirik kopi yang ada di samping tempatku duduk. Aku lalu menampar kopi itu hingga berhamburan di tanah. Fuck!

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler