. Lentera Gelap Part 5 | Kisah Malam

Lentera Gelap Part 5

0
40
Lentera Gelap

Lentera Gelap Part 5

The Gift

Hari ini aku nonton dengan Andre. Paling tidak sebagai penerimaan maafnya. Aku sudah berdandan secantik mungkin sore itu. Ayahku sampai mengerutkan dahi melihat penampilanku. Pakai celana pendek sepaha. Kaos lengan panjang, jaket jeans dan syal. Aku juga pakai kaos kaki panjang dan boots.

“Sayang, kamu akan keluar dengan baju seperti itu??” tanya ayah.

“Ayah, aku sedang kencan hari ini,” jawabku.

“Udahlah biarin namanya juga anak muda,” kata istriku.

“Nah, ibu membelaku,” kataku.

“Jangan sampai saja nanti aku dapatkan kamu hamil di luar nikah dengan baju seperti itu,” katanya.

“Ayolah ayah, siapa yang berani macam-macam sama putri detektif ini?” hiburku.

“Itu sama sekali tak menghiburku, siapa teman kencanmu itu?” tanyanya.

“Andre,” jawabku. “Dia sudah jadi pacarku ayah.”

“Andre anaknya yang pakai sepeda motor gedhe itu?”

“Iya,” jawabku. “Kami sudah jadian enam bulan ini.”

“Baru saja enam bulan,” gerutu ayahku.

Aku cemberut.

“Pulang jam berapa?” tanya ayahku.

“Jam……,” aku bingung mau jawab apa.

“Lihat arlojimu kalau bingung, gunakan arloji yang ayah belikan itu!” kata ayahku dengan tegas.

“Setengah sebelas malam, nggak lewat!” jawabku spontan.

“Jam sepuluh, tidak lewat,” kata ayah. Itu gila, bagaimana mungkin?

“Ayah, filmnya selesai jam sepuluh!” kataku.

“Baiklah, setengah sebelas tak lebih. Kalau lebih silakan tidur di luar,” kata ayahku. “Dan jangan matikan ponselmu karena ayah akan menghubungimu sewaktu-waktu. Mengerti?”

“Iya iya,” kataku. Bawel banget ayah ini.

TING TONG! Bel berbunyi. Itu pasti Andre. Aku melintasi ruang tamu, sepintas aku melirik ke bufet. Di sana ada hadiah pemberian Ray. Entah kenapa aku tersenyum melihatnya. Seolah-olah boneka salju itu berbicara kepadaku. “Hai Maria.” Aku segera membuka pintu. Andre sudah ada di depan.

“Andre!” panggil ayahku.

“Eh, iya om?” sapanya.

“Aku ingin Maria dipulangkan jam sebelum jam setengah sebelas, mengerti?” kata ayahku. “Kalau sampai jam segitu belum pulang jangan salahkan aku kalau kamu akan dikenai pasal penculikan.”

“I…iya om,” kata Andre dengan gemetar.

“Ayah ih…jahat!” kataku.

“Suka nggak suka, itu sudah keputusanku,” kata ayah. Nah, kalau sudah begitu ndak ada yang bisa melawan ayah.

“Yuk Ndre!” ajakku sambil menggandeng Andre dan kubanting pintu rumah. Sebel sama ayah.

“Maria, kamu nggak apa-apa?” tanya Andre.

“Nggak apa-apa, maafin ayah ya. Emang dia agak bawel,” kataku. “Yuk pergi!”

Akhirnya kami berdua pun meluncur di atas jalan raya dengan sepeda motor milik Andre. Tentunya pake helm juga dong. Paling tidak kencan kami nggak berantakan. Kuhabiskan malam itu dengan makan malam, jalan-jalan dan nonton bioskop. Nah, seperti biasa kalau nonton bioskop aku dan Andre pasti mengambil kesempatan. Kami pun mulai berciuman ketika film sudah mulai dan lampu dimatikan. Sengaja kami pilih tempat duduk paling pojok biar nggak ketahuan.

Setelah ciuman kegiatan Andre yang lainnya adalah grepe-grepe. Mulanya setelah bibirku dilumat dan dihisap lidahku, tangannya mulai aktif meremas-remas payudaraku dari luar kaos. Dia pun mulai menelusuri leherku, kemudian telingaku digelitikinya. Oh…aku terangsang banget. Apalagi aku kini ikut meremas-remas tangan Andre yang sudah mulai nakal menggelitiki puting susuku. Tangannya pun sudah menelusup ke balik kaosku.

“Tubuhmu hangat Mar,” bisiknya. Tangan Andre yang satunya sudah mulai turun ke pahaku dan mengusap-usap di sana.

“Ini kursi B ya?” tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara itu. Aku kenal suara ini. RAY! Dari tengah aku bisa lihat petugas sedang menyoroti dengan lampu senter.

“Eh,…eh..Ndre ada yang datang!” bisikku.

Andre buru-buru menarik tangannya dan bersikap biasa. Dan petugas bioskop menyorot lampunya ke arah kursi di sebelahku. Aku melihatnya. Ray! Iya dia, lho koq bisa duduk di sebelahku sih?

“Lho, kalian nonton juga?” sapa Ray kepada aku dan Andre.

“Yaah, kentang goreng deh!” gumam Andre.

Aku sedikit ketawa.

“Hah? Kentang goreng?” Ray kebingungan.

“Udah ah, nonton aja,” kataku.

Aneh saja sih Ray bisa duduk di sebelahku. Aku di nomor B2, Andre ada di B1. Dan lucunya dia ada di B3. Aku sekarang diapit dua cowok yang sama-sama keren tapi berbeda kepribadian. Dan seperti biasa, Ray tetap cuek. Tangan Andre mulai meremas-remas tanganku. Aku pun merapat ke bahunya. Total kami menikmati film itu sampai habis.

Setelah itu kami keluar dari gedung bioskop. Aku dan Andre jalan bergandengan ke tempat parkir. Kulihat arloji pemberian ayahku. Sudah jam sepuluh malam lebih lima belas.

“Udah malem nih, hampir setengah sebelas,” kataku.

“Iya deh aku anter pulang. Koq bisa sih si culun itu duduk di sebelah kita? Sebel,” gerutu Andre.

“Udah, lain kali aja ya say,” kataku.

Kami pun langsung pulang setelah itu.

***

NARASI RAY

Secara kebetulan saja sebenarnya aku bisa berada di gedung bioskop dan duduk di sebelah Maria. Awalnya aku hanya ingin berniat jalan-jalan saja sambil nonton bioskop. Tak tahunya bisa duduk di sebelah cewek yang aku suka. Tapi total, aku diam saja malam itu, tak bicara atau menyapa sama sekali. Namun seperti biasanya getaran-getaran hatiku kucoba untuk ingkari. Dia sudah punya cowok, kenapa aku masih menginginkan dan mengharapkan dirinya?

Setelah nonton bioskop, aku pun keluar gedung. Kucoba tuk mengikuti mereka walaupun dari jauh. Melihat mereka bergandengan, melihat mereka berjalan bersama, benar-benar membuat dadaku sesak. Aku sudah merasakan ini sebelumnya, ketika mereka jadian. Dan mereka juga memperlihatkan kemesraan mereka di mana saja. Aku juga pernah melihat mereka berciuman. Tapi masih saja di dalam ini ada perasaan bahwa aku masih harus berharap dan tetap berusaha melindungi dirinya. Aku punya firasat sesuatu akan terjadi kepada diri Maria.

Hari itu aku melepas kepergian mereka dari jauh dengan naik sepeda motor milik Andre keduanya berboncengan pergi. Langit mulai hujan rintik-rintik. Agaknya natal yang sebentar lagi ini mengingatkanku untuk harus selalu memakai baju tebal. Karena aku bisa terserang flu kalau tiap hari hujan.

Aku pasang headset dan kunyalakan music player di ponselku. Kutelusuri jalanan kota yang ramai. Ini malam minggu, pantas saja banyak muda-mudi berseliweran sambil bergandengan tangan. Aku melintasi taman dan kudapati beberapa pasangan sedang french kiss di sana. Aku cuek dan melanjutkan perjalananku. Aku mampir sebentar di pedagang kaki lima yang menjual kebab. Aku baru sadar sejak dari siang perutku belum terisi sama sekali.

Sambil menunggu kebab dimasak, aku membuka akun sosial media melalui ponselku. Hal yang pertama kali aku lakukan adalah melihat status Maria. Ada satu status yang dishare olehnya foto makanan sebelum ia nonton bioskop. Kebiasaan anak jaman sekarang foto makanan mereka. Aku tersenyum kecil. Aku pun melihat foto-foto Maria di akunnya, sebagian besar sudah aku save sih di ponselku. Damn, nggak enak juga ya jadi secret admirer gini. Tapi aku tahu diri koq, dia sudah punya cowok, dan aku hanya bisa berharap saja. Sambil berfacebook ria dan mainin twitter tak terasa kebab pun sudah selesai.

“Ini mas kebabnya sudah selesai,” kata mas-mas penjual.

Aku memberikannya uang dan kuterima kebab itu. Aku duduk di sebuah bangku yang terletak tak jauh dari tempat penjual kebab tadi. Hujan masih gerimis dan untunglah ruko ini punya bagian atap yang bisa dibuat teduh. Sambil kunikmati makanku ibu kepala panti menghubungiku. Aku segera angkat.

“Ya, Halo?” sapaku.

“Ray? Kamu di mana sudah jam segini??!”

“Maaf bu, masih hujan. Aku sudah di jalan koq,” kataku.

“Kamu sudah ibu beritahu untuk memberi kabar!” wah ngomel lagi nih sang Matron.

“Maafkan saya ibu. Sekali lagi maaf,” kataku.

“Ya sudah, jangan mampir-mampir lagi, cepat pulang!” kata beliau. Aku nggak enak juga sih sama beliau yang sudah sepuh. Setelah kebab aku habiskan segera aku pergi lagi. Walaupun harus diguyur hujan gerimis.

Aku melewati gang kecil yang mengubungkanku dengan sebuah rel kereta api. Jalanan ini jarang aku lewati kalau malam hari. Tapi hal ini aku lakukan untuk biar lebih cepat saja sampai ke panti. Dan sudah aku prediksikan, para preman yang sering mangkal di sini untuk memalak orang bakal aku hadapi. Benar saja. Dari depan dan belakangku sudah ada tiga orang berotot dengan tatto mereka di lengan serta wajah sangar mereka melotot kepadaku.

Salah seorang dari mereka membawa tongkat baseball dan menghentikan langkahku. Di bawah lampu remang-remang dan guyuran gerimis mereka menahanku. Aku masih memasukkan tanganku di dalam saku celana. Aku menatap wajah mereka satu per satu.

“Pajak, bayar pajak!” kata preman yang membawa tongkat baseball.

“Pajak apa bang?” tanyaku.

“Udahlah lu jangan belaga bego, duit! Kasih sekarang!” katanya.

“Oh, duit. Ada, tapi buat apa ngasih ke abang?” kataku.

“Lo mau dihajar, tewas di sini, atau ngasih duit?” ancamnya.

“Udah mas, kasih saja daripada keluar dari sini nggak selamat,” kata teman-temannya yang lain.

“Maaf bang, bukannya saya sombong atau saya orang yang sok jago. Tapi abang nggak bakal bisa nyentuh saya,” ujarku.

“Sombong lu!” kata sang preman. Dia langsung menyabetkan tongkat baseball-nya. Aku membungkuk. Ayunan keras dari tongkat baseball itu melintas di atas kepalaku. Kalau aku kena sudah pasti aku akan KO saat itu juga.

“Wah, anak ini jagoan juga rupanya!” kata preman yang lain.

“Gini aja deh, kalau aku bisa mengeluarkan tanganku dari saku celana untuk menghadapi kalian, aku akan berikan semua uangku. Aku punya uang 4 milyar di tabungan. Kalian bisa dapatkan semuanya,” kataku.

“Banyak bacot lo, hajar bleh!” kata sang pimpinan.

Aku berkelit, kiri, kanan menghindari pukulan. Lalu berputar menghindari tendangan. Sejujurnya mereka lambat semua. Aku dengan mudah bisa menghindari pukulan mereka. Makin lama mereka makin lambat. Sang preman bahkan susah payah untuk bisa memukulku. Aku hanya bergerak sedikit menghindar, kiri, kanan, maju satu langkah, mundur satu langkah. Tanganku masih berada di saku.

Para preman itu pun ngos-ngosan tanpa ada satu pun yang sanggup menyentuhku.

“Koq rasanya aku jadi berat gini ya?” ujar sang pemimpin.

“Iya, nggak kaya’ biasanya,” kata temannya.

“Kalian sudah lama mangkal di sini ya? Dosa kalian benar-benar kelewatan!” kataku.

“Hah? Emang, kami sudah mangkal di tempat ini. Mau apa kamu?” tanya sang pemimpin.

“Aku akan beritahukan sesuatu, tapi setelah ini kuharap kalian tak melakukan lagi kejahatan di tempat ini. Kenalilah aku, kenalilah wajahku, takutlah kepadaku. Sekarang kalian merasa berat, sangat berat. Dan kalian merasa dingin bukan? Kalian akan terbebas dari hawa dingin ini setelah kalian meminta maaf kepadaku dan bertekuk lutut. Dan jangan sampai aku memaksa,” kataku.

“Apa lo bilang? Kurrraangg….aajjjjaarrr…,” suara sang preman makin melemah tubuhnya serasa berat untuk digerakkan.

“Aku sejak kecil mempunyai kekuatan yang tak bisa aku ungkapkan. Kekuatan ini sangat besar. Aku baru menyadarinya ketika masih berusia tujuh tahun. Aku bisa membuat salju, aku bisa membuat es, aku bisa memperlambat gerak sebuah benda sehingga aku bisa bergerak lebih cepat, aku bisa memasukkan ketakutan kepada diri manusia dan aku bisa membuat orang memohon ampun kepadaku,” kataku.

Sekarang para preman itu tiba-tiba bertekuk lutut semua. Ini adalah kemampuanku. Memaksa orang untuk bertekuk lutut di hadapanku.

“A…aakk..apa ini!??” kata sang pimpinan preman.

“Aku sudah bilang, aku tak perlu mengeluarkan kedua tanganku untuk menghadapi kalian. Kalian tahu apa itu hypothermia? Sebuah keadaan di mana kalian akan mengalami hilang kesadaran akibat dari temperatur yang rendah. Sehingga kalian akan diliputi rasa takut, yang sangat mencekam. Rasa takut itu adalah kematian yang akan datang secara tiba-tiba. Aku akan berikan kalian rasa takut itu, agar kalian sadar tidak berbuat jahat seperti ini lagi. Sekarang aku akan mengeluarkan satu tanganku dan aku akan menyentuh kalian semua,” kataku.

Aku mengeluarkan tangan kananku. Tanganku sudah mengeluarkan pancaran sinar berwarna biru dan mengeluarkan uap air. Kusentuh semua preman yang berlutut itu. Mereka langsung ambruk ke tanah setelah mendapatkan sentuhan dari jari telunjukku. Lalu mereka menggigil kedinginan, tubuh mereka mengejang bahkan sebagian di antaranya menjerit. Suara gemertak geligi mereka menimbulkan gaung di gang sempit ini.

“Jangan sampai aku melihat kalian lagi!” ancamku. Setelah itu aku memasukkan tangan kananku ke saku celana lagi.

Ini adalah anugrah yang diberikan tuhan kepadaku. Aku mampu mengendalikan salju, air dan aku mampu bertahan di suhu beku. Keistimewaan ini membuatku jadi berbeda dengan anak-anak seusiaku. Maka dari itulah aku tak banyak bicara, tak banyak bergaul dengan mereka, sampai aku yakin aku bisa mengendalikan kekuatanku ini.

Aku pun mendapatkan kabar baik esok hari ketika sang Detektif Johan menyuruhku datang ke rumahnya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler