. Lentera Gelap Part 14 | Kisah Malam

Lentera Gelap Part 14

0
70
Lentera Gelap

Lentera Gelap Part 14

The Woman

Mengejar orang yang bernama Tina Einsburgh ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Aku mulai yakin bahwa apa yang aku selidiki juga diselidiki oleh Divisi ATFIP. Mereka beberapa kali mengikuti jejakku untuk menemukan wanita dengan identitas Tina Einsburgh. Siapa dia sebenarnya, kenapa divisi semacam ATFIP juga mencarinya? Aku pun jadi lebih yakin lagi bahwa ATFIP adalah kelompok sekte Dark Lantern. Tapi bagaimana mungkin mereka bisa sampai berada di divisi kepolisian? Siapa yang memasukkannya?

Kasusnya makin menarik. Aku tahu aku sangat bersemangat. Tapi aku harus berpura-pura bahwa aku sedang suntuk menangani kasus ini agar tak membuat setiap orang curiga kepadaku bahwa permainan nyawa sedang berlangsung, dan bisa-bisa keluargaku juga terkena korbannya. Mereka bisa mendapatkan rekaman CCTV itu udah cukup bagiku bahwa mereka punya hak akses tak terbatas. Dan aku membencinya.

Aku pun mulai masuk ke dalam permainan gelap. Aku tak menyadari bahwa aku makin masuk ke dalamnya hingga relung-relung jiwaku menyelami kegelapan tanpa cahaya. Aku pun mulai takut, bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini? Aku sungguh tak menyangka urusan seorang anak tujuh belas tahun bisa serumit ini.

Saat aku menggapai dalam kegelapan, aku pun menemukan sebuah titik cahaya. Seseorang bernama Tina Einsburgh menghubungiku. Dan aku kira dia cuma membual. Namun saat aku serius mencari kebenaran tentang dirinya, dia mengatakan mengetahui apa yang aku cari. Emailnya memang misterius dan menyuruhku untuk ketemu di sebuah hotel.

Aku tidak siap dengan semua ini, bagaimana kalau ini cuma jebakan? Bagaimana kalau ini cuma tipuan? Siap atau tidak, inilah yang akan aku lakukan. Aku sudah mempersiapkan senjataku, pistol Glock, dua magz. Hari itu tanpa banyak cing-cong aku segera pergi ke hotel yang dimaksudkan.

Hari itu tanggal 20 Desember. Lima hari menjelang natal. Orang-orang sudah sibuk memasang pohon natal dan pernak-perniknya. Pegawai tahunan yang menyamar menjadi Sinterklas pun sudah menempati posisinya berpose sebagai sinterklas. Aku belum mempersiapkannya, setidaknya dengan kasus yang masih aku selidiki ini akan sulit merayakan natal.

Hotel itu cukup mewah. Entah apa yang akan aku hadapi di tempat ini. Aku sudah masuk di tempat itu. Ia menyuruhku untuk pergi ke restoran dan duduk di meja nomor 15. Cukup mudah aku menemukan meja nomor 15 karena sudah bisa terlihat begitu aku masuk ke dalam restoran itu. Belum ada orang. Dan aku pun duduk menunggu kira-kira apa yang akan terjadi?

Lima menit, lima belas menit, setengah jam, satu jam aku pun bosan dengan anggur yang sudah aku pesan. Akhirnya aku merasa ini pasti cuma gurauan orang-orang iseng. Hebat juga sampai memesankan meja untukku. Tapi sebelum aku beranjak sang pelayan menyerahkan sebuah nampan yang ditutup kepadaku.

“Maaf tuan, ada pesanan untuk Anda silakan di ambil,” kata sang pelayan.

“Maksudnya?” tanyaku. Ia membuka nampan itu.

Aku langsung menyaksikan sebuah kertas bertuliskan sesuatu “Maaf, aku harus melihatmu aman dulu. Kamu diikuti tapi aku sudah beresan mereka. Sekarang pergi ke kamar 307.” Apa-apaan ini? Baiklah aku coba ikuti permainannya ia mau apa sebenarnya. Aku benci sekali misteri ini. Aku mengeluarkan tip kepada pelayan namun ditolaknya. Katanya sudah dibayar. What?

Aku makin gila dengan ini. Siapa yang mempermainkan aku sekarang ini?

Aku pun segera masuk ke dalam hotel. Di meja lobi aku bertanya letak kamar nomor 307. Sang pegawai memberitahu bahwa letaknya ada di lantai tiga. Aku pun segera masuk ke dalam lift. Setelah lift naik dan sampai di lantai tiga aku keluar. Sepi sekali. Aku berjalan menelusuri karpet berwarna merah bercorak. Ku perhatikan tulisan angka kamarnya. Adakah yang bernomor 307? Aku pun mendapatinya.

“Hmm? Permisi?” sapaku sambil mengetuk pintunya.

Pintu pun dibuka. Seorang perempuan cantik berambut lurus dengan wajah oriental menyambutku. What the heck?

“Masuklah tuan detektif,” katanya.

Dia tak salah. Dia memanggilku detektif. Akhirnya aku masuk. Tapi aku lirik dirinya memberikan tag Do Not Distrub. Dia mengambil remote dan musik pun dimainkan. Perempuan itu memakai baju yang seksi. Dia memakai lingerie dan g-string. Bentar, apa-apaan ini? Dia langsung menciumku, dasiku ditariknya.

“Nona apa yang…kamu lakukan?” tanyaku gelagapan.

“Ikuti saja!” katanya.

Aku kemudian didorongnya hingga terjerembab ke atas ranjang. Wanita ini pun mulai berjoget seirama iringan musik. Dia lalu mulai melucuti kancingku satu per satu. Dia mengambil senjataku, eh?? dia menjilati senjataku (senjata beneran). Pistol glockku itu kemudian di lemparkan ke lantai. Juga dengan kedua magz-nya. Ia mengambil ponselku, lalu ditaruh di atas meja. Pakaianku dilepaskan semua, bahkan aku sekarang sudah bugil dan dia memborgolku. Tak cukup itu ia pun mengusap-usapkan payudaranya ke wajahku.

Dia membelai kepalaku kemudian menggigit-gigit kecil telingaku.

“Detektif, apa hubunganmu dengan Dark Lantern? Kenapa mereka mengikutimu?” bisik wanita itu.

“Aku tak tahu kalau mereka mengikutiku,” bisikku.

“Jangan bodoh detektif, kamu bertemu dengan mereka beberapa kali. Aku tahu siapa Robert!” bisik wanita itu. “Tenang aja, dia wanita suruhanku, bukan diriku yang sebenarnya. Dia akan bicara seperti aku bicara. Dia akan memberikanmu kepuasan jadi kamu nikmati saja. Yang menyaksikan aksi stripease itu bukan saja aku, tapi mereka, jadi berlakulah natural!”

“Aku akan coba,” bisikku.

Sang wanita kemudian mulai menciumiku, mulai dari bibirku, leher lalu dia menjilati putingku. Lidahnya menari-nari di sana, merangsangku, syaraf-syaraf birahiku pun mulai naik. Dia tahu saja kalau batangku mulai mengeras. Kemudian dikocoknya lembut.

“Katakan kepadaku detektif, kenapa kamu sangat tertarik kepadaku?” tanya sang wanita.

“A..ada sss…seorang klien,” jawabku.

“Klien? Siapa? Dari mana?” tanyanya.

“Seorang anak yatim dari …ppanti asuhan…,” kataku. Gila enak bener kocokan wanita ini ke penisku. “Ohhh…fuck!”

“Kamu bisa request mau diapakan, selama kamu bisa menjawab seluruh pertanyaanku,” kata sang wanita.

“Suck me!” kataku.

Sang wanita langsung menurunkan kepalanya. Dalam sekejap dia sudah mengulum penisku. Kepalanya sudah naik turun memberikan stimulus yang memabukkan. Gilaaa enak banget.

“Detektif, jawab! Siapa?” kata sang wanita.

“Ray, seorang anak dari panti asuhan Kasih Ibu,” jawabku.

“Apa dia pernah bertemu dengan Robert?” tanya sang wanita.

“Belum,” kataku.

“Apakah kamu tahu tentang Ray?”

“Ohh…aku hanya tahu dia…..hmmm….teman putriku dan dia meminta bantuanku. Dia juga mau mmm…mmemmbayar mahal untuk bertemu deng…an…orang tuanya,” kataku.

“Ray…,” bisik sang wanita.

“Kamu tahu anak itu?” tanyaku.

“Aku ingin memintamu detektif, tolong lakukan satu hal untukku,” kata sang wanita.

“Ohh…hhmmm…i…iya,” kataku. Sang wanita itu sekarang menyedot-nyedot telurku. “Cukup…let’s fuck right now!”

Sang wanita lalu menungging. Dia membelakangiku. Menurutku sudah terlanjur makan saja sekalian. Lagian, aku tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi terborgol seperti ini. Kepala penisku sekarang sudah berada di bibir vagina pelacur ini. Aku agak ragu, dia bersih apa nggak nih? Aku tak ingin kena AIDS juga dong.

“Tak perlu takut, dia bersih. Aku sengaja pilihkan wanita yang paling terbaik dan paling sehat. Dia aman,” kata sang wanita.

Aku pun tak ragu-ragu lagi. Sang wanita membantuku menggesek-gesek lubang kemaluannya. Lalu ia mundurkan pantatnya. Dan SLEBBB…uuhggg…batangku meluncur. Seret sekali. Aku bisa merasakan kemaluanku hangat sekali di dalamnya.

“Ohh…aahh…,” desah sang wanita.

“Jadi, apa hubungamu dengan Ray? Kamu belum jawab,” kataku.

“Aku…adalah…ibunya, aku…sss…senga…ja menn…nitipkan…diri….nya ke pan….ti asuhan itu!” kata sang wanita terbata-bata karena ia kerja dua kali. Menjadi penghubung tuannya dan merasakan kenikmatan sex. Goyangannya makin liar. Enak juga pantat pelacur ini.

“Jadi uang…itu….kamu yang mengghhirim?” tanyaku.

“I..iyaaa…sebbbaghii..aann…suamikkuu…,” jawabnya.

“Jjjadi…kedua orang tuanya ….Rrrayy….mmmasss…ih…hidup?” tanyaku.

“I…iyyyyaaahh…ohhh…aahhh…aaaahhh….hhmm,” ujar sang wanita.

Gila bokong wanita ini berputar-putar. Ingin matahin batangku??? Aku pun makin cepat menggoyang pantatku.

“Bbbaik…laah…detekkktiiifff…ccukuuuuppppppp!” kata sang wanita disusul dia menekan pantatnya kuat kuat ke penisku.

Aku pun mengeluarkan mani yang tidak sedikit menyemprotkan semuanya ke dalam rahimnya. Sang wanita pun ambruk di depanku dan dari lubang kemaluannya kulihat lendir hasil jerih payahku. Aku pun terkapar hari itu di dalam kamar hotel. Tidur dalam keadaan terborgol.

Ketika bangun borgolku sudah terlepas dan aku terlentang di atas kasur. Wanita itu tidur di sampingku sambil memelukku. Aku lalu bangun, kemudian memunguti satu-per-satu pakaianku dan memakainya kembali. Wanita itu kemudian terbangun, karena suara ributku.

“Tuan detektif, dia berkata akan menghubungimu secepatnya, pesan terakhirnya tolong lindungi Ray,” kata wanita itu. “Kau hebat tuan detektif.”

Aku menoleh ke arahnya. Dia sudah tertidur lagi. Dasar pelacur. Aku segera membenahi pakaianku dan keluar dari kamar.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler