. Lentera Gelap Part 13 | Kisah Malam

Lentera Gelap Part 13

0
113
Lentera Gelap

Lentera Gelap Part 13

I Hate When You Are Weak

Seminggu lamanya aku mengurung diri di kamar. Aku masih berduka atas kepergian Bapa Joseph. Ibu kepala selalu menghiburku tiap hari. Agni, Troya dan Alex bergantian menghiburku, tapi aku tak bisa. Rasa dukaku makin dalam. Terlebih, akulah yang menyebabkan kematian beliau. Tapi berkali-kali Agni bilang, “Itu bukan salahmu.” Tetap saja itu salahku. Kemampuanku ini mengerikan. Cukup satu detik aku sudah membekukan seluruh kota hari itu. Tapi untunglah Agni bisa menormalkan lagi keadaan dengan kemampuan apinya walaupun ia kehilangan banyak energi karena melakukan itu. Untunglah penduduk kota tidak ikut membeku jadi tak ada korban jiwa lagi.

Setelah seminggu aku pun keluar dari kamar. Para suster mulai senang dengan kehadiranku. Mereka menganggap aku sudah tidak lagi berkabung dan bersedih. Tapi sebenarnya tidak. Masih ada rasa berkabung.

Agni sedikit senang melihat aku sudah keluar dari kamar. Aku pun mulai ikut makan bersama setelah sebelumnya tidak pernah sama sekali. Aku juga ikut kebaktian walaupun terlihat pasif. Lambat laun aku tak bisa membohongi perasaanku bahwa aku masih berkabung, aku masih bersedih.

Malam itu aku duduk di atap lagi. Agni menemaniku. Ia lalu memelukku.

“Sudahlah Ray, yang pergi biarkan pergi,” katanya. “Relakanlah!”

“Bukan masalah seseorang pergi atau tidak. Tapi masalahnya adalah aku yang membuatnya pergi,” kataku sambil memperlihatkan kedua telapak tanganku. “Lihatlah, kekuatan ini. Sampai kapan aku bisa mengontrolnya? Aku ingin kekuatan ini hilang saja. Kenapa sampai aku mendapatkannya?”

“Aku juga punya pemikiran seperti itu Ray,” kata Agni. “Tapi semuanya pasti ada hikmah. Kamu yakin saja.”

“Aku takut kekuatan ini nantinya malah menyakitimu. Sekarang ini cuma kamu yang paling aku sayangi Ni,” kataku.

“Oh, Ray!” Agni lalu memeluku lebih erat lagi. “Aku juga sayang kamu.”

Rasanya pelukan Agni itu sedikit memberikan rasa nyaman kepadaku. Karena memang pelukannyalah yang saat itu aku perlukan.

***

Sudah selama sebulan ini aku tak menggunakan kekuatanku. Beda dengan Agni yang masih bermain-main. Seperti bikin kembang api, atau membantu ibu asuh ketika tak ada api gara-gara tabung gas habis. Aku masih takut menggunakan kekuatanku. Sampai suatu ketika. Ada sekelompok preman yang memalak diriku. Aku dihajar hingga babak belur gara-gara nggak memberikan uang. Pulang dengan luka lebam membuat Agni marah.

“Siapa yang melakukannya? Bilang sama aku!” kata Agni.

“Sudahlah Ni, nggak usah,” kataku.

“Kamu ini gimana sih Ray, kamu itu kuat. Punya kekuatan tapi kenapa kamu lemah?!” ujar Agni. “Aku benci kamu Ray, aku benci. Mati saja sana!”

Agni marah kepadaku hari itu. Besok dan besoknya lagi. Kejadian pun terulang lagi. Aku dipalak preman yang sama, tapi aku memberikan mereka uang. Hal itu diketahui oleh Agni dan lagi-lagi ia marah kepadaku.

“Kamu itu lemah dan aku benci cowok lemah!” katanya.

Agni tidak lagi menyapaku. Tidak lagi memperlakukan aku seperti biasanya. Aku pun sedih.

“Ni,…maafkan aku!” kataku. “Aku tak ingin lagi memakai kekuatanku.”

“Kamu pengecut Ray, kamu lemah!” kata Agni.

“Kamu harus tahu alasanku tidak memakainya, aku tak ingin menyakiti orang lagi. Aku tak tahu bagaimana mengendalikannya!” kataku.

“Itu karena kamu lemah dan aku benci kamu yang lemah seperti ini! Jangan lagi memanggil namaku. Dasar lemah!” katanya.

“Agni, please!” kataku memohon.

Ribut-ribut itu membuat semua orang menonton. Seluruh penghuni panti asuhan seperti mendapatkan tontonan gratis dari kami. Aku mencoba meraih tangan Agni. Tapi dia mengeluarkan apinya dari tangannya. Segera aku melepaskan peganganku. Kucoba mengendalikan suhu panas dengan kekuatanku.

Agni menatapku tajam. “Katakan kamu mencintaiku!”

“Ni..aku..!” aku melihat semua orang. Mereka terkejut ketika Agni bicara seperti itu.

“Katakan!” bentaknya.

“Iya, aku cinta kamu!” kataku.

“Kalau begitu aku menantangmu bertarung!” katanya Agni.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalau begitu kamu tak mencintaiku,” katanya.

“Agni!” panggilku.

Tangannya kini sudah memancarkan api lagi. Dia melemparkan bola api ke arahku. Aku menangkap bola api itu dan hancur dengan kekuatan esku.

“Tunggu Ni, jangan!” pintaku.

“Lawan aku! Dasar lemah, cowok lemah!” katanya. Ia melemparkan api lagi kini aku menghindarinya malah terkena meja yang ada di pinggir ruangan. Meja itu pun terbakar. Para penghuni panti langsung mengambil pemadam kebakaran dan memadamkannya. “Lawan aku Ray! Lawan! Kamu tidak cinta aku. Kamu tidak mencintaiku!”

Ibu kepala yang melihat ribut-ribut itu segera keluar. “Ada apa ini? Agni? Ray?”

Agni lalu berlari. Ia keluar dari panti.

“Tunggu Agni!” teriakku.

“Kalau kamu mencintaiku maka kejar aku!” katanya.

“Ada masalah apa ini?” tanya ibu kepala ke Alex.

“Masalah cinta,” jawab Alex.

“Ray dan Agni?” tanya ibu kepala.

“Sejak kapan?”

“Sudah lama ibu,” kata Troya.

Aku lalu berlari mengejar Agni. “Tunggu Agni! Jangan pergi!”

Aku terus mengejar Agni. Larinya cukup cepat hingga kami berhenti di sebuah jalanan sepi.

“Agni, jangan tinggalkan aku. Aku tak punya siapa-siapa lagi!” kataku.

“Kau kira aku juga punya?”

“Agni…aku…,”

“Aku tak ingin kamu lemah Ray. Lawan aku!”

“Tidak Agni, aku tak bisa!”

Agni berbalik menghadapku. Kini matanya menyala merah. Ia benar-benar marah. Seluruh pakaiannya serasa terbakar. Dan dalam sekejap dari kedua tangan dan seluruh tubuhnya mengeluarkan api. Seluruh bajunya terbakar. Rambutnya menyala seperti api yang membara.

“Agni…jangan! Aku mohon bagaimana aku bisa melawan orang yang aku cintai?” kataku.

“Kamu lemah! Aku benci cowok lemah!” katanya. “Kalau kamu tak melawanku, aku akan membakar semua yang ada di sini hingga tak tersisa. Kamu tak tahu betapa kesepiannya diriku melihatmu berduka Ray? Kamu tak mengertikah perasaanku? Kami selalu berusaha mengerti perasaanmu, tapi kamu egois. Kamu tak tahu perasaanku.”

“Ni, tak perlu seperti ini juga kan?”

“Perlu, sangat perlu. Padamkan apiku Ray, karena aku tak akan memadamkannya kecuali dengan kekuatanmu!”

Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Dia sungguh-sungguh. Aku seperti melihat Human Torch dalam wujud seorang wanita yang membakar dirinya tanpa busana. Air mataku pun meleleh.

Angin dan air bergetar. Mereka mengerti kesedihanku. Dan mereka pun menghiburku. Walaupun mereka tak bicara tapi dengan bahasa hati aku bisa mendengarkan mereka, bisa merasakan mereka. Kini seluruh kekuatan angin dan air menyatu ke dalam tanganku. Mereka berkumpul semuanya memberikan sebuah efek yang tidak biasa. Tubuhku seperti terbungkus oleh perisai pelindung berlapis-lapis. Angin dan Air menyatu di dalam tubuhku, tanganku pun kini berwarna putih, mulutku pun mengeluarkan uap air. Aku membeku, tapi aku tak merasakan kebekuan itu.

Agni, maafkan aku. Bapa Joseph, maafkan aku. Tuhan, maafkan aku.

Aku berjalan mendekat ke Agni. Ia mulai tersenyum. Kedua telapak tanganku mengeluarkan cahaya birunya dan cahayanya makin terang. Kedua kekuatan saling menghantam sekarang. Di sisi Agni semua di sekelilingnya terbakar, sedangkan di sisiku semuanya membeku. Aku makin mendekat dan sekarang mendekapnya. Tangannya menyentuh pipiku.

“Aku mencintai dirimu yang seperti ini Ray,” katanya sambil tersenyum.

“Jangan tinggalkan aku Ni,” kataku.

“Maafkan aku, kalau tidak seperti ini kamu tidak akan jadi kuat. Karena aku benci dirimu yang lemah Ray. Aku benci. Tapi yang seperti ini aku suka, aku cinta,” katanya.

“Hentikan ini Ni, hentikan!” kataku.

“Tidak bisa Ray. Aku sudah mengeluarkan seluruh kekuatanku sampai aku membakar diriku sendiri. Tak ada yang bisa memadamkannya,” katanya.

“Aku bisa aku akan padamkan!” kataku.

Ia menggeleng. “Aku tahu kamu bisa memadamkannya, tapi aku tak akan selamat. Kamu tak akan bisa menyelamatkanku.”

Perlahan-lahan tubuhnya melepuh tangannya habis terbakar. Tidak! Jangan! Jangan lagi.

Saat itulah Alex dan Troya menyusulku. Melihat aku sedang beradu kekuatan dengan Agni mereka tak berani mendekat. Ibu kepala juga melihatku dan Agni. Ia berteriak, “Agniii! RAAY! Hentikan! Kumohon nak hentikan!”

“Sampaikan maafku ke ibu kepala ya?! Kamu harus kuat Ray, kamu harus kuat!” katanya.

“Jangan lakukan ini Agni, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?” tanyaku.

“Kamu pasti bisa. Akan ada seorang wanita yang akan mengisi hidupmu nanti. Dia pasti lebih baik dariku.”

Api pun akhirnya membakar habis tubuh Agni. Aku pun mencoba menangkap seluruh sisa-sisa abunya. Aku menangis di tempat itu. Kekuatanku pun mulai aku padamkan hingga cahaya biru di kedua tanganku pun padam. Hari itu kami semua bersedih lagi. Aku telah kehilangan cinta pertamaku untuk selama-lamanya. Agni, maafkan aku. Bahkan dengan kekuatan sebesar ini aku tak bisa menyelamatkan siapapun.

****

Itulah cerita masa laluku. Itulah sebabnya aku banyak menutup diri. Menghabiskan waktuku dengan membaca. Takut dekat dengan perempuan. Bahkan ketika aku tahu bahwa aku menyukai Maria, aku tak pernah bisa dekat dengan dirinya. Alex dan Troya menyadari bahwa mereka akan membahayakan yang lainnya kalau terus tinggal di panti asuhan. Alex kemudian membuat kelompok sendiri bersama Troya. Empat sekawan pun pecah dengan sendirinya setelah kematian Agni. Misteri tentang orang-orang yang mengejar kami pun akhirnya terkuak. Mereka adalah sekte Dark Lantern. Sekte Lentera Kegelapan yang memang ingin menghukum orang-orang yang mempunyai kekuatan iblis.

Ya, kekuatan kami memang berbahaya. Kekuatan kami luar biasa. Kekuatan kami bisa menghancurkan apapun. Pantas mereka ingin membunuh kami. Tapi kami juga manusia, kami punya hati dan kami bukan hewan yang seenaknya saja bisa diburu. Sampai sekarang pun aku tetap mengira perasaanku kepada Agni bukanlah perasan jahat. Melainkan perasaan cinta. Perasaanku kepada Bapa Joseph. Kepada teman-temanku.

Aku memang bersedih ketika Troya dibunuh oleh mereka. Karena memang kami dulu pernah menjadi kawan. Misteriku selanjutnya adalah aku harus menemukan kedua orang tuaku, dan atas alasan apa mereka membuangku. Dark Lantern, aku sudah bersumpah aku akan menghancurkannya seorang diri. Aku tak ingin membahayakan orang-orang yang aku cintai. Aku bukan lagi orang yang lemah.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part