. Lentera Gelap Part 12 | Kisah Malam

Lentera Gelap Part 12

0
35
Lentera Gelap

Lentera Gelap Part 12

Cinta Monyet atau Cinta Beneran?

Aku dan Agni mulai seperti sepasang kekasih. Kemana-mana selalu bersama. Aku seperti kerbau yang dicokok hidungnya, kemana-mana nurut saja. Agni mungkin lebih bisa dibilang cewek yang agresif. Mungkin dia adalah cinta pertamaku atau mungkin juga cinta monyet. Aku sendiri tak yakin. Tapi pada suatu malam dia pun mengatakannya kepadaku.

“Hei Ray! Kamu punya pacar nggak?” tanya Agni tiba-tiba. Kami sedang duduk-duduk di atas atap panti. Di saat semuanya tidur aku dan Agni berada di atas. Ini biasa kami lakukan kalau malam. Toh semuanya juga sedang tidur. Bapa Joseph, ibu kepala, suster Elizabeth jarang bangun malam, juga suster-suster yang lain.

“Koq nanya gitu?” tanyaku.

“Udah, jawab aja napa sih?”

“Blom punya, lagian masih kelas 1 SMP.”

“Yee, ntar lagi kan kamu naik ke kelas 2. Aku udah masuk SMA. Cepet juga ya ternyata perjumpaan kita.”

“Kamu nggak pernah cerita ke aku Ni, bagaimana masa lalumu sebelum bertemu denganku.”

Agni memeluk kakinya. Dia sepertinya tak ingin menceritakannya.

“Oh, kalau tak ingin cerita nggak apa-apa, aku bisa memahami koq,” kataku. Aku takut kalau dia marah.

“Nggak apa-apa. Sebenarnya, kami bertiga kabur dari sirkus.”

“Hah? Koq aku nggak tahu?”

“Ya jelaslah. Aku hanya cerita ke Bapa Joseph.”

“Oh, trus?”

“Kami anak yatim piatu sejak kecil. Kemudian kami baru sadar kami bisa menggerakkan elemen. Bisa memerintahkan mereka, bisa bicara dengan mereka. Seperti ada yang berbisik di hati nurani kami, tapi kami baru sadar bahwa itu adalah elemen-elemen yang selalu bersama dengan kami.”

“Iya, aku juga merasakannya.”

“Awalnya pihak sirkus senang dengan keahlian kami bertiga. Tidak, tidak, kami bukan bersaudara tapi nasiblah yang menghantarkan kami sampai seperti ini. Kemudian ternyata pihak sirkus malah berlaku sewenang-wenang kepada kami. Aku sendiri menyangka tuhan tak pernah menolong kami. Setiap hari kami pasti menerima cambukan dan diancam tidak akan diberi makan kalau tidak memberikan pertunjukan yang bagus. Hingga akhirnya kami pun lari. Lalu kami bertemu dengan Bapa Joseph. Beliau mengatakan bahwa tuhan tidak jahat, hanya kita yang terlalu berputus asa kepada-Nya. Kami pun akhirnya bertemu denganmu.”

Begitu ternyata ceritanya. Agni meluruskan kakinya.

“Ray, berjanjilah kepadaku!” kata Agni sambil menoleh kepadaku.

“Janji apa?”

“Berjanjilah kita selalu bersama-sama sampai nanti.”

Aku melihat wajahnya. Eh…kenapa dia menangis? Dan entah bagaimana dia memajukan wajahnya ke wajahku. Dan….bibirku pun bersentuhan lembut dengan bibirnya. Inilah ciuman pertamaku dengan seorang wanita. Seorang yang aku kagumi dan aku cintai pertama kali. Agni.

***

Yup, setelah ciuman kami hari itu, aku makin mesra ama Agni. Dan…dia sedikit feminim denganku, walaupun sebenarnya ketika bersama yang lain tidak. Setelah aku naik kelas 2 dan dia masuk SMA rasa cinta kami makin kuat. Yah, dia juga kan ada pertumbuhan. Wajahnya makin cantik. Walaupun masih terkesan tomboy.

Alex dan Troya pun tahu hubungan dan kedekatanku dengan Agni. Mereka sih bisa memaklumi. Sudah menganggap Agni sebagai kakak mereka. Kalau Agni sudah mengatakan sesuatu maka ia tak akan bisa diubah. Sifat Agni yang keras kepala mungkin juga menjadi suatu pertimbangan bagi mereka untuk tidak melawan seniornya itu.

Suatu malam aku dan Agni melakukan petting untuk pertama kalinya. Kami memilih tempat yang sedikit romantis di tepi pantai di atas perahu nelayan yang tidak terpakai. Kami memang iseng saja sebenarnya jalan-jalan ke Ancol, eh Agni malah ngajak.

Aku menciumnya, bibir kami menyatu seolah-olah sudah terkena lem kuat. Kami saling menghisap, lidah kami bertemu dan memberikan sentuhan-sentuhan birahi. Aku tak pernah tahu caranya untuk bercinta. Tapi Agni dan aku tahu apapun yang kami sentuh semuanya adalah insting. Ketika Aku cium bagian tubuhnya semisal leher, dan dia merasa enak, maka aku teruskan di sana.

“Oh…Ray,..aku cinta kamu,” itulah yang kudengar dari bibirnya. Bisikan-bisikan cintanya kepadaku ibarat sebuah embun penyejuk di pagi hari. Dan hari itu untuk pertamanya tangannya mengarahkan tanganku ke dadanya. Dadanya sekal, bulet , empuk dan kenyal. Aku tak percaya aku memegang dada wanita.

“Ni… aku cinta kamu,” kataku.

Ciumanku sekarang menurun ke dadanya. Kuhirup aroma tubuhnya yang wangi. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya, satu per satu. Kubisa lihat dadanya yang cukuplah untuk anak seusia dia. Branya sepertinya cukup pas menahan kantung susu itu. Nafas Agni naik turun. Ia bantu aku melepaskan kancing branya. Aku bisa melihat dalam cahaya remang-remang kulit putih susunya.

“Ni…aku boleh?” tanyaku.

“Iya, tentu saja,” jawabnya.

Aku sentuh putingnya dengan bibirku. Dia meremas rambutku. “Ray…cintailah aku Ray!” katanya.

Ku usapkan lidahku di tonjolan dadanya itu. Putingnya makin mengeras. Aku pun menghisapnya sebuah sentakan kecil kurasakan di punggungnya.

“Ray, rasanya geli,” katanya. “Ohh…hisap terus. Aku senang kamu adalah lelaki yang melakukannya.”

Tangan kananku sudah bergerak meremas-remas dadanya sebelah kiri. Kemudian aku pun mencaplok putingnya sebelah kiri. Dengan lahap aku gigiti, kukenyoti dan kuhisap buah dada Agni. Nikmat dan lembut. Dadanya pun kini mengkilat karena air ludahku akibat jilatanku.

Tangan Agni mulai nakal mengelus-elus kemaluanku yang sudah mengeras.

“Ni, jangan!” bisikku.

“Kenapa?” tanyanya.

“Aku…geli,” kataku.

Ia tersenyum. Kemudian dilepaskannya kancing celanaku. Dia kemudian membuka resletingnya dan merogoh isinya. Punyaku makin mengeras. Aku sedikit malu ketika ia memegang dagingku yang berurat dan tegang sekali.

“Besar ya Ray,” katanya.

“Aku malu Ni,” kataku.

“Tak perlu malu, aku mencintaimu Ray,” kata Agni. Ia menurunkan celanaku selutut. Tampak kepala pionku mengeras karena sentuhannya.

“Aahhhhh…..Niii….aduh…jangaaann!” cegahku ketika Agni tersenyum kepadaku sambil meremas-remas.

“Enakkah?” tanyanya.

“Iya, padahal cuma kamu gituin ya?”

Dia lalu mencoba cara lain dikocoknya naik turun. Aku makin tak kuasa.

“Nii…enak banget!” kataku.

“Masa’ sih? Aku cuma giniin lho,” katanya.

“Bener, udah dong, aku rasanya nggak kuat kalau digituin. Tanganmu terlalu lembut, rasanya aku melayang Ni,” kataku.

Tiba-tiba tangan satunya mengusap kepala pionku. Aduuuhhh…..nikmaattt bangeeeettt…

“Nii…aaahhhaakkk…kamu apain itu?” tanyaku.

“Aku cuma giniin aja koq, enak ya?” tanyanya.

AKu mengangguk.

“Ih, pria emang aneh. Kamu sendiri giniin gimana?”

“Nggak ada rasanya Ni, entahlah ketika kamu sentuh tadi serasa mengeras,” kataku.

“Kalau inimu masuk ke punyaku kita bisa jadi anak ya?” katanya sambil menunjuk ke selakangannya.

“Jangan Ni…akukan masih sekolah, masa’ punya anak sih?”

“Ih, siapa yang kepengen punya anak. Aku cuma tanya aja, kan kita cuman dapat pelajaran biologi kalau ininya cowok masuk ke sini. Caranya gimana kan nggak tau,” katanya sambil masih terus melakukan kocokan lembut dan mengusap-usap kepala penisku.

“Nii…kamu curang deh, masa’ punyaku aja yang kamu gituin. Punyamu juga dong!” kataku.

Akhirnya Agni menaikkan roknya. Kemudian perlahan-lahan celana dalamnya dilepas, “Nih, sentuh aja!”

Tanganku pun menyentuhnya. Ada rambutnya. Jari telunjukku kemudian bergerak ke sebuah tonjolan di belahan kemaluannya. Apakah itu namanya klitoris? Agni menggigit bibirnya sambil memejamkan mata. Lalu tiba-tiba kepalanya disandarkan ke dadaku.

Aku pun mengobel-kobel kemaluannya. Kugesek-gesek bibir kemaluannya. Agni makin mempercepat kocokannya, seiring cepatnya kobelanku.

“Ray, aku enak banget Ray….,” katanya.

“Aku juga Ni, enak banget kocokanmu,” kataku.

“Ray, udah ya kocokannya. Tempelin itumu ke ini dong!” katanya.

“Nanti hamil gimana?” tanyaku.

“Nggak sampai masuk, gesek-gesekin gitu. Mungkin lebih enak Ray,” katanya sambil menatapku dengan pendangan sayu.

Aku mengangguk. Kami berciuman hangat dulu sebelum melakukannya. Ia merebahkan dirinya di atas perahu. Dadanya masih terekspos. Sehingga aku makin terangsang. Agni melebarkan kakinya. Terlihatlah kakinya yang mulus dalam cahaya remang-remang itu. Aku tak percaya bisa melihat kemaluan wanita dari dekat seperti ini. Aku tak akan memasukkannya. Aku sudah janji kepada diriku sendiri.

Aku menggesek-gesekkan pionku di bibir kemaluannya. Lendirnya menggelitiki kemaluanku. Geli-geli nikmat. Enak sekali.

“Ohh..Raay…hhhmmmmhh…cepetin Ray, cepetin!” katanya.

Aku pun menggesek-gesekkan kemaluanku di kemaluannya. Enak banget, geli-geli nikmat. Ada sesuatu yang ingin keluar di ujung kemaluanku, seperti kebelet kencing, tapi rasanya nggak di perut. Tapi di ujung pionku. Seluruh otot-otonya tegang.

“Ray, punyamu keras banget, nikmat banget. Aku….aku…kepengen pipis Ray!” katanya.

“Nii….aku juga!” kataku.

Dan Agni pun menyemprot. Ia squirt. Mungkin itu squirt pertama kalinya. Dan bersamaan dengan itu sebuah tembakan mani melesat ke dada dan perut Agni. Nggak cuma itu mani itu juga sampai menyemprot ke wajahnya. Agni tak mempedulikannya. Aku lalu memegangi penisku yang tegang itu. Rasanya nikmat sekali. Apalagi setelah itu Agni membantuku mengocoknya. Sisa-sisa sperma meleleh ke perutnya.

Setelah itu aku hanya bisa menatap wajahnya. Ada sebuah garis lurus dari dahi ke hidungnya cairan putihku. Ia tersenyum kepadaku. Dibersihkannya cairan itu. Ia lalu bangun dan mencium bibirku.

“Terima kasih Ray,” katanya.

“Ni…, aku cinta kamu,” kataku.

“Aku juga,” jawabnya.

****

Yang terjadi selanjutnya. Aku sering bercumbu dengan Agni ketika di luar panti. Hubungan kami menjadi lebih hot walaupun tak pernah melakukan penetrasi, tapi apa yang terjadi dengan kami adalah kenangan indah. Perasaan cinta. Aku pun sampai sekarang masih merindukan momen-momen bersama dengan Agni. Hingga terjadilah peristiwa yang tak terlupakan itu.

Saat itu, empat sekawan sedang diajak oleh Bapa Joseph pergi ke kota lain untuk ceramah. Awalnya tidak ada firasat apapun. Semuanya berjalan seperti biasa, seperti kunjungan-kunjungan pada umumnya. Setelah ceramah selesai dan seluruh peserta pulang. Ada beberapa orang yang menemui kami.

“Bapa Joseph?!” sapa orang itu.

Aku saat itu sedang ada di belakang panggung. Aku hanya melihat mereka dari sana. Agni dan yang lainnya tampak sedang membantu Bapa Joseph untuk beres-beres.

“Apa yang bisa aku bantu anakku?” tanya Bapa Joseph.

“Saya March, dari Divisi Khusus ATFIP kepolisian, saya ingin bapak menyerahkan anak asuh bapak. Saya tahu apa yang mereka miliki,” kata orang itu.

“Siapa maksud Anda?” tanya Bapa Joseph.

“Anda tak perlu menyembunyikannya. Saya tahu semuanya. Dapat ijin atau tidak saya akan mengambil anak-anak berkemampuan khusus itu,” kata March. “Permisi.”

“Tunggu! Jangan ambil mereka! Aku yakin kamu pasti bermaksud jahat! Langkahi dulu mayatku!” kata Bapa Joseph.

“Maaf, tapi aku tak perlu berdebat denganmu,” kata March. Sebelum March mendorong Bapa Joseph Agni menyerangnya.

“Agni! Jangan!” cegah Bapa Joseph. “Kamu tak boleh lakukan itu. Larilah!”

“Saya tak bisa lakukan itu!” kata Agni.

“PERGI!” bentak Bapa Joseph.

“Alex, ayo!” kata Agni agak tidak tega meninggalkan Bapa Joseph. Tapi mereka sudah berjanji untuk tetap patuh kepada beliau. Aku masih berdiri mematung di belakang panggung sambil menyaksikan Bapa Joseph dari celah tirai. Nampaknya orang-orang berbaju hitam itu tidak mengetahui keberadaanku.

Setelah Agni pergi Bapa Joseph berdiri menghadang March dan teman-temannya. March lalu berusaha untuk mendorong Bapa Joseph tapi pendeta itu memukul March dengan keras sampai terhuyung. March menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku mantan petinju, jangan anggap remeh pukulanku,” ujar Bapa Joseph.

Dua orang yang bersamanya lalu menyerang Bapa Joseph, tapi dengan mudah keduanya ditumbangkan dengan satu pukulan. Ternyata kemampuan Bapa Joseph sangat luar biasa. Ia masih ingat caranya bertinju.

March berdiri lagi. Ia lalu menyerang Bapa Joseph, memukulnya tapi Bapa Joseph bisa berkelit lalu menghantam perut March. March pun roboh. Ia tak menyangka bahwa orang sebesar dia bisa dirobohkan oleh Bapa Joseph.

“Ayo, masih mau lagi?” tanya Bapa Joseph.

Bapa Joseph naik ke panggung dan sebenarnya ingin menemuiku. Aku bisa lihat ia tersenyum kepadaku karena tahu aku ada di balik panggung. Ia bisa melihatku dari celah tirai, tapi….DOR! Bapa Joseph seperti tersentak. Tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak! tidak!

Aku tidak sadar beberapa saat. Aku hanya melihat tubuh Bapa Joseph diseret oleh mereka lalu March menembak kepalanya. Sebelum menembak beliau berkata, “Ray, dengarlah nasehatku. Di luar sana ada banyak sekali hal yang tidak kamu ketahui. Kamu harus bijak dalam menggunakan kekuatanmu. Ini adalah pemberian tuhan yang tidak ternilai untukmu.”

Bapa Joseph, tidak! Jangan

“JANGAN KAU AMBIL BAPA JOSEPH DARIKU!” aku menjerit. Tiga orang itu terkejut. Mereka tak jadi mengeksekusi Bapa Joseph. Mereka melihatku keluar dari belakang panggung dengan kedua tanganku memancarkan cahaya berwarna biru menyala.

Seluruh angin dan air merasakan kepedihanku, merasakan kemarahanku, mereka bersedih, mereka juga marah. Air pun muncul dari bawah tanah, angin pun masuk ke tenda kami. Ketiga orang itu kebingungan suhu tiba-tiba menjadi dingin. Aku menjerit, menangis dan mengeluarkan seluruh emosiku yang tak bisa dibendung lagi.

Bapa Joseph selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku. Dia selalu menyayangiku. Dia selalu membimbingku untuk jadi anak yang baik. Mengajariku cara mengenal tuhan. Mengajariku cara untuk menjadi anak yang berbakti. Tapi…kenapa mereka harus menyakitinya???

Angin mengamuklah!

Air bersedihlah!

Cukup satu detik. Cukup satu detik. Tempat yang luas itu membeku. Tenda kami membeku, bahkan seluruh kainnya yang baru saja berkibar tertiup angin pun membeku. Ketiga orang yang menyakiti Bapa Joseph membeku. Mereka tak akan bergerak untuk selamanya. Tapi….kenapa Bapa Joseph juga? Aku pun menangis. Kupeluk jasadnya yang membeku itu.

“Maafkan aku Bapa, maafkan aku!” tangisku.

Saat itulah dari arah lain kulihat Agni masuk ke tenda dengan energi apinya. Ia, Alex dan Troya selamat karena dilindungi oleh api milik Agni. Kami berempat bersedih hari itu. Mulai saat itulah aku takut menggunakan kekuatanku sendiri. Ternyata inilah yang selalu di nasehati oleh Bapa Joseph agar aku bijaksana dalam menggunakannya. Kekuatannya sangat mengerikan.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler