. Lembaran Yang Baru Part 05 | Kisah Malam

Lembaran Yang Baru Part 05

0
321

Part 05 –  Lift Yang Bermasalah

[POV Ega]

“TINGGGGGGG”

“1ST FLOOR”

Pintu lift terbuka dan hanya Cahaya sangat terang yang bisa kulihat saat pintu lift terbuka. Sangat kontras sekali dengan cahaya di parkiran motor di basement 3, meskipun sudah diterangi banyak bohlamp yang bertebaran di setiap penjuru basement, terang cahayanya masih kalah dengan sinar cahaya ciptaan Tuhan, yaitu Matahari. Masa’ cahaya lampu dibandingkan dengan matahari,, dasar penulis idiot.

Dan disinilah aku sekarang, di komplek Pergedungan salah satu wilayah bagian di kota ini. Setelah meliuk-liuk, zig-zag, menerobos traffic light, menerobos jalur khusus suatu angkutan kota, melewati trotorar jalan, hanya demi meloloskan diri dari kemacetan kota ini, akhirnya aku sampai disisni. Kenapa aku menyebutnya komplek pergedungan? Ya karena di komplek ini terdiri dari 5 gedung atau yang lebih pantas disebut tower yang tingginya berbeda-beda, Tower nomor 3 terlihat sangat mencolok dengan bentuk atau desain yang berbeda dengan tower yang lain, dan tower 3 merupakan tower yang paling tinggi dibandingkan tower yang lain. Gedung ini mempunyai ketinggian sampai 87 Lantai. Seperti kebanyakan gedung2 tinggi di kota besar, Tower ini juga sebagian lantainya disewakan untuk perusahaan2 lain.

Dan disanalah, Di salah satu lantai tower tersebut, selama 3 bulan kedepan aku akan berjuang melewati masa magang agar aku bisa diberi kesempatan bekerja setahun lagi. “Semoga bisa,,,” batinku.

Sebelum masuk ke dalam Tower, security menyambutku ramah,

“selamat Pagi Pak,,” Ucapnya.

Dimintanya tas yang kubawa untuk diperiksa dengan menggunakan metal detector bebarengan aku melewati pintu metal detector. Kulihat disetiap tower juga diberlakukan hal yang sama. Sangat ketat sekali pengamanannya.. setelah melalui pintu kaca yang sangat besar, aku menuju meja receptionist.

Dibalik meja, ada wanita muda manis berambut panjang dengan kumis tipis diatas bibirnya, didahului dengan senyuman kemudian dia berkata,

Receptionist : “Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” sapanya ramah,

Aku : “Pagi Mbak, anu,, ini eh,,, uhm,,” Sial, aku gugup

Receptionist : “Ya..?”

Aku : “Saya mau bertemu dengan,,, Ibu Resty di lantai 68”

Receptionist : “sudah ada janji?”

Aku : “ehm,, sudah”

Receptionist : “Baik, dengan Bapak siapa?”

Aku : “saya Ega, eh maaf, Rega maksud saya”

Receptionist : “Oke, tunggu sebentar ya Pak”

Kemudian dia mengangkat telepon di mejanya, sepertinya di mencoba menghubungi Bu Resty.

Tak lama, Receptionist itu yang kutau namanya Dinda W, dari label nama di dada kirinya menaruh kembali telepon di tempatnya. Aku pun bersiap menunggu apa yang akan dikatakannya.

Receptionist : “Ibu Resty akan segera turun menjemput Bapak, mohon di tunggu di sebelah sana” sembari menunjuk sebuah tempat yang terdapat beberapa sofa.

Aku : “Terima Kasih Mbak Dinda” aku mencoba akrab, dia tampak senang aku menyebut namanya, aku pun berjalan menuju tempat yang dia tunjukkan,

Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sedikit susah beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Ada beberapa hal yang membuatku sulit cepat melakukan penyesuaian diri di lingkungan yang baru. Aku selalu takut orang2 yang baru kutemui tidak bisa menerimaku apa adanya.

Apalagi aku tipe orang tertutup dan sedikit anti sosial dan sangat kaku, aku sangat sulit membuka komunikasi dengan lawan bicaraku. Tapi pelan2 sifat itu aku hilangkan, karena menutup diri merupakan kesalahan dalam beradaptasi pada lingkungan yang baru. Aku harus PD dengan diriku sendiri.

….. : “Ada yang namanya Rega Widyono?”

Aku terbangun dari day dream saat Seorang wanita berhijab kutaksir usianya sama denganku memanggil namaku, reflek aku berdiri sambil angkat tangan. Ku dengar orang2 yang berada di tempat tsb pada tertawa melihat kelakuanku. Kemudian Wanita itu berjalan ke arahku.

….. : “Oh jadi kamu yang namanya Rega, kenalin aku Resty” Sambil menjulurkan tangannya.

[table id=Ads4D /]


Resty

Aku pun reflek menyambut tanganya, tangannya putih sekali dan mulus. Pagi itu dia memakai atasan sweater rajut warna pink sangat ketat menempel di tubuhnya. Bahakan aku bisa melihat garis bra yang timbul akibat sweater yang terlalu ketat atau karena ukuran payudaranya yang sangat super. Hal sama Nampak pada celana yang dia pakai. Celana super ketat berwarna biru langit memperlihatkan bagian pantat, paha, dan kaki yang sangat indah. Dia memakai jilbab berwarna hitam polos.

Tubuhnya yang indah di tunjang wajah yang sangat cantik dengan hidung mancung dan bibir tipisnya yang saat itu memakai lipstick warna menantang.

“Cantik sekali dia” Batinku.

Resty mempunyai tubuh yang langsing, dengan lengan yang kecil dan kaki yang jenjang seperti Meta, dengan perabotan ditubuhnya yang bisa dibilang Fantastis. Payudara membusung indah, bahkan lebih besar dari milik Linda, kutaksir ukuran 36D, dan pantat yang sangat indah. Tubuh Resty benar2 merupaka suatu keindahan. Tapi masa’ dikantor dia berpakian seperti ini? Kayak gini nih yang biasanya disebut Jilbob oleh para suhu di sebuah forum esek2 yang sering kubaca.

Cukup lama kunikmati sajian keindahan yang ada didepanku.

Aku : “Uhmm jadi anda Ibu Resty?”

Resty : “Jangan terlalu formal gitu dong, panggil Resty aja, masih imut2 gini, jangan dipanggil Ibu. usia kita sama kok” sanggahnya mencoba akrab denganku.

Bagaimana dia tahu usiaku ? apakah dia lihat CV ku.

Resty : “Yuk keatas,,” dia berkata sambil berjalan mendahuluiku, akupun mengikuti di belakangnya.

Mengikuti wangi parfum yang aromanya sangat menggairahkan, menggoda setiap lelaki yang merasakan wanginya untuk memeluk tubuhnya dari belakang. Apalagi saat dia berjalan, kulihat setiap bagian bokongnya bergerak beraturan mengikuti langkah kakinya.

Loh? seharusnya deretan pintu lift ada di sebelah kanan meja resepsionis, resty malah berjalan ke arah sebelah kiri. Resty menoleh kebelakang melihatku kebingungan dia kemudian berkata,

Resty : “kita naik lift barang aja, kalau naik lift yang itu pasti rame jam segini”

Aku hanya mengangguk. memang kulihat deretan lift itu penuh dengan orang yang sedang mengantri. Karena memang ini masih jam 9. Banyak karyawan yang baru masuk dan tamu yang berdatangan.

Lift Barang tempatnya agak jauh di bagian paling samping bangunan ini.

Resty : “kalo disini, Kegiatan loading unloading barang dilakukan setelah jam 10 Pagi Ga, tapi tidak semua orang bisa naik lift ini, hanya orang2 spesial seperti aku aja yang punya akses. Hihihihi” sambil menunjukkan sebuah kartu.

Aku hanya tersenyum saja mendengar ucapannya. Kok dia bisa special? Memang jabatannya apa,? Apa dia anak pemilik tower ini? Apa kau harus bertanya kepadanya?

Sesampainya di depan lift, kulihat dia menempelkan kartu yang dia tunjukkan padaku sebelumnya pada suatu kotak di sebelah pintu lift. Pintu lift pun otomatis terbuka.

Memasuki lift, hanya aku dan Resty yang berada di lift tersebut. Aku dan Resty berdiri di bagian dinding lift yang berbeda, aku disebelah kanan, sedangkan dia di sebelah kiri menyisahkan ruang tengah lift barang yang cukup luas ini sebagai pemisah jarak kami. Aku berdiri menghadap pintu lift, sedangkan dia bersandar di dinding lift, menghadapku dengan kedua tangannya dilipat dibawah payudaranya yang lumayan itu.

Cukup hampa suasana saat itu, tidak ada suara sama sekali, bahkan suara lift yang naik tidak terdengar. Sesekali kulihat Resty, namun cepat kualihkan pandanganku kedepan lagi, aku salting karena dia sedang melihatku, aku seperti tahanan yang harus di jaga 24 jam. Atau aku seperti sebuah kelinci percobaan yang harus diaamati setiap saat untuk dilihat perkembangannya dari waktu ke waktu. Matanya menyorot tajam kepadaku tanpa berkedip bagaikan cctv.

“serem banget dia,,” batinku,

Kulihat display di dalam lift barang ini masih menunjukkan angka 3. Hah ? aku hanya masih naik 2 tingkat? Ini liftnya yang memang lambat, atau waktu berputar sangat lambat? Masih ada 65 Lantai lagi yang harus aku lalui bersama dengan Resty. Kurasakan penerangan di lift ini lebih gelap daripada sebelumnya.

Resty : “Kamu anaknya pendiam ya Ga!” dia memulai pembicaraan,

Aku : “ehmm iya” aku menoleh kepadanya.

Dia hanya tersenyum, Perlahan dia mendekatiku, tangannya masih disilangkan di bawah payudaranya.

“tap..tap..tap..” suara wedges hak tingginya terdengar sangat nyaring di kesunyian ini. Sampai akhirnya dia sudah sangat denganku, akupun semakin terdesak ke dinding lift,, didorongnya tubuhku dengan lengan tanganya yang masih menyilang di bawah payudaranya. aku yang terkejut dengan tindakannya yang tiba2 membuat tubuhku terdorong hingga aku bersandar ke dinding lift dan menghadap ke tubuhnya.

Apa yang akan dia lakukan kepadaku? Jantungku semakin berdetak tidak karuan, nafasku tidak teratur. Sedangkan dia terlihat sangat santai sekali. Kulihat display di lift menunjukkan masih melewati lantai 4.

“Benar2 Ada yang salah sama lift ini..” batinku..

Resty : “Gimana menurutmu tubuhku Ga?” dia berkata sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Perbedaan ketiggian membuatnya berkata dengan sedikit menghadap keatas.

Aku : “Hah..?”

Resty : :”GIMANA ?” Bentaknya

Aku : “ehhh,, anu,, aku.. tidakk., eh” bentakannya semakin membuatku gugup, gila bener,, wajahnya seperti bidadari, tapi kalau dia marah seperti saiton terkutuk.

Resty : “masih kurang lama?, masih kurang lama tadi kamu ngeliatin aku,? Ngeliatin tubuhku? Ngeliatin ini?” sambil memegang payudaranya,

“ngeliatin ini?” memegang pantatnya

Aku ketahuan? Apa dia marah karena aku melihati tubuhnya tadi? Apa ini termasuk ujian tambahan untuk bisa masuk perusahaan ini? Perusahaan macam apa ini jika ada tes seperti ini..

Yang Resty lakukan berikutnya sungguh tidak terduga,

Resty : “kalau masih belum puas melihatnya dari luar, bagaimana kalau kamu melihatnya langsung” dia mengatakannya sambil menarik sweater bagian bawahnya ke atas, hingga akhirnya lolos dari tubuhnya.

Jilbab yang dia pakai pun ikut terlepas. Resty mempunyai rambut yang panjang. Kemudian dia melepaskan jeans ketatnya.

Resty : “Sentuh susuku Ga..!, apa masih kurang jelas?” wow, susu dia bilang?

Ditariknya keatas secara paksa Bra yang menyangga payudara besarnya, terlihat payudaranya jatuh indah setelah ikut tertarik ketas. Tubuhnya hanya ditutupi panties mini yang menutupi memeknya. Sekarang dihadapanku terlihat keindahan payudara wanita,, sebuah gunung kembar ketinggian 36 MDPL :D. putting susunya kecil berwarna pink, sangat menggemaskan.

Resty : “ayo sayang, apa yang kamu tunggu,,? Kamu tidak ingin menyentuh ini?” sambil memegang payudaranya,

“Semua orang di tower ini pasti penasaran sangat pingin melihat atau menyentuh susuku ini Ga, hanya kamu yang beruntung aku beri tawaran”

Resty : “Ayo Sayang..” Suaranya dibuat mendesah sexy,

Aku hanya bisa menggeleng kepala cepat, sial.. kenapa dengannya, apa dia seorang hyper?

Melihatku hanya menggeleng kepala, membuat dia bertindak lebih jauh. Dia rapatkan badannya ke badanku. Wowww, terasa kenyal sekali. Bisa kulihat belahan susunya yang sangat indah dari sini. Kemudian Dia meraba raba raba penisku dari luar celanaku, dia pasti merasakan bahwa penisku sudah tegang dari tadi.

Resty : “Upss,, Sepertinya besar” Tangan kecilnya berhasil masuk ke dalam celanaku tanpa melepas sabuk yang kupakai. Dia elus2 pedang berhargaku. Lalu dia menurunkan celanku sedikit kebawah. Diturunkan juga CD yang kupakai,, dia melihatnya. Dia bisa melihat pedang panjangku yang berdiri lurus yang siap membelah apapun yang menghalanginya. Dia tersenyum,,

Resty : “besar sekali punyamu Ga.” Kemudian digenggamnya penisku lalu menggerakkan genggamannya maju mundur mengikuti bentuk penisku. Kulihat tangan kecilnya tidak mampu menggenggam seluruh penisku.

Ahhhhhh, enak sekali rasanya, sepertinya dia sudah jago dalam melakukan hand job, genggamannya tidak terlalu kuat. Itu yang membuat penisku terasa sangat geli luar biasa saat dia mengocoknya. Dia melakukannya sambil melihat wajahku. Aku hanya bisa menoleh keatas. Saat melihat ke atas terlihat display posisi lift yang menunjukkan masih angka 10.

“Oh C’mon Lift., really??,,, Yap, Liftnya beneran bermasalah” pikirku..

Resty : “enak sayang?”

Aku tetap saja diam, sambil merasakan sensasi geli di bagian penisku. Kemudian dia berjongkok. Apa dia mau mengulum penisku? Hanya sebentar rasa penasaranku, karena dia memang langsung mengulum penisku tanpa ragu. Nafasku jadi tidak beraturan,,, sungguh luar biasa sepongan mulutnya,,,

[table id=AdsKaisar /]

Penisku dilahap habis sampai tidak kelihatan lagi, sungguh dia melakukannya dengan sangat baik. “achhhh…achhh..haahhhh” tak kuasa aku menahan enak sungguh luar biasa saat dia menyedot penisku.

Mendengar desahanku, dia melirikku,, kulihat matanya berair karena sensasi ingin muntah, disebabkan karena penisku yang mentok sampai ke tenggorokannya. Agak kasian aku melihatnya.,,,

Hampir sekitar 10 menit dia melakukan itu,, sepertinya pertahananku mulai jebol. Aku hampir mencapai orgasme,, aku harus bagaimana? Haruskah aku memberitahunya?.,,

Aku sudah tidak sanggup lagi membendung spermaku yang ingin muncrat,, terpaksa aku keluarkan di mulutnya,, dia sedikit agak terkejut ketika penisku menyemprotkan sperma beberapa kali. Dia malah menyedot penisku , seolah ingin mengeluarkan semua tabungan spermaku hingga tidak tersisa. Lalu dia keluarkan penisku dari mulutnya,

Resty : “Gimana? enak sayang?”

Sungguh sensasi yang luar biasa, penisku berkedut kencang, badanku bergetar lalu merinding,

Resty : “sekarang gantian, setubuhi aku.. masukkan penismu yang besar ini ke memekku”

Aku masih menggelengkan kepalaku… dia tampak sedikit kecewa, karena segala usahanya agar aku menjamahnya belum berhasil juga. Kemudian dia berdiri di dekat pintu lift dan membelakanginya. Bukannya memakai pakainya kembali,, dia malah melepas CD nya.. imut sekali memeknya,,, kecil, bersih, mulus tanpa bulu,, sangat terawatt, pasti sangat sempit sekali.

Resty : “Oke kalau kamu tetap gak mau, aku akan tetap begini sampai nanti pintu lift terbuka” Hah??

Resty : “Nanti saat pintu lift terbuka, aku akan teriak sekencang mungkin kalau kamu telah memperkosaku,” ancamnya

Wooo.. apa apaan ini,, malah sebaliknya, dia yang memperkosaku.

Aku : “eh tunggu dulu dong,,, aku dari tadi tidak menyentuhmu”
Resty : “Biarin,,, menurutmu semua orang diatas akan percaya padamu?, kamu siapa Ga?

Mereka lebih percaya padaku, daripada kamu yang baru mau masuk hari pertama kerja”

Sialann,,,, dia mempunyai kartu as setumpuk, gimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Cobaan apa ini?. Apa aku harus menodai lembaran baru ini. Apa aku harus menyetubuhinya? Iya kalau dia tetap tidak akan teriak meskipun aku sudah ngentot dengannya, Huffttt

Aku : “Baiklah,,” dia tersenyumm

Resty : “Nah gitu dong sayang,,” dia mendekatiku. Dia mengalungkan tangannya ke leherku.

Aku : “apakah ini ujian berperilakuan baik seorang karyawan?” tanyaku penasaran

Resty : “Hahahahah,, Rega,,Rega.. polos sekali kamu, semakin gemes aku sama kamu.. hiiii” dia mencubit pipiku

Resty :”Anggap saja kamu sedang ospek, kamu harus menuruti segala permintaan senior”

Sialann,, tadi dia bilang gak mau dianggap tua waktu kupanggil “Bu Resty”, sekarang malah men seniorkan dirinya.

Resty : “kalau begitu kita ganti permainan ini,” Hah?

Resty : “Kalau kamu belum bisa membuatku orgasme sampai lift terbuka,, aku akan tetep teriak bahwa kamu memperkosaku” Dia tersenyum

Aku : “tidak, kamu jangan seenaknya berkata seperti itu,,,” bibirku diciumnya,

Resty : “Gausah banyak bicara,, lihat itu..” tangannya menunjuk ke arah display angka di dalam lift.

Sontak aku juga menoleh, angka di display menunjukkan bahwa posisi kami saat ini kita ada di lantai 25,

Masih banyak waktu pikirku, tapi tunggu dulu,

25

26

27

What the fuckk? Kenapa sekarang tiba2 lift ini menjadi sangat cepat,,,, melihatku panik, Resty tersenyum.

Sialannn, dasar lift idiiooott,,

Tanpa berpikir panjang, kuraih bokongnya,,

Kuangkat tubuhnya, lalu kupindahkan tubuhnya agar bersandar di dinding,,,

Dia terkejut,,

Resty : “Ya gitu honey,,, ayo adukk memekku dengan penismu yang besar itu”

kemudian kuarahkan penisku ke memeknya sekat tenaga

JLEB, penisku hanya bisa masuk ¾ nya saja,,, kulihat Resty membuka mulutnya sangat lebar sambil menoleh ke atas, aku tidak tau apa yang dirasakan,, menurutku dia pasti merasakan sakit di memeknya, kaena kurasakan memeknya sangat sempit sekali. Tak peduli dengan apa yang dirasakan Resty, ku genjot memek resty sangat kencang,,,, Resty menutup matanya.

Gila,, memekmu sangat sempit Res, penisku rasanya seperti di urut, perlahan Resty mulai mendesah, sepertinya rasa sakitnya sudah hilang, berganti dengan rasa nikmat.

Resty : “achhh.. achh,,,, ackhh,, Fuckkk, Oh yeah,, Terusin honey,, nghhh Fuckkkk Kontolmu sungguh luar biasa, Ahhhhhh”

Dia menyebut kata Kontol.. dia seperti kesetanan

Tangganya menjambak rambutku, seakan menahan sesuatu,,, payudaranya yang super itu bergerak naik turun,, mengikuti tubuhnya yang sedang kugenjot.

Kutambah penderitaannya dengan menjilati putting susunya,,

Dia bertambah blingsatan dengan apa yang aku lakukan,,,

Karena kecapek’an menggendong tubunhya kuturunkan dia,,,

Aku : “Sudah..?”

Resty : “Gila kamu ga,, sudah beberapa kali aku orgasme,,, tapi aku belum puas,”

Kulihat Display Di dinding lift sudah menunjukkan angka 57, artinya waktuku hanya tinggal 11 Lantai lagi.

Tidak ada waktu bagiku untuk berdebat dengannya,,, segera kuraih pinggulnya untuk membelakangiku,, dia reflek meletakkan tangannya ke dinding lift.

Kusodok memeknya imutnya dari belakang,

Resty : “Oh Yes,,, Honey.. Teruskan,, Achhhhh Achhh’ Fuckkkk”

Plok..plok plok.. suara yang timbul karena pinggulku menabrak bokong indahnya..

Pada posisi ini,, bisa kulihat tubuh indah Resty,,, pinggulnya kecil. Pantatnya besar,, dia benar2 tipe wanita idamanku,, tapi menurutku payudaranya agak kegedean, aku suka yang tidak terlalu besar.

Resty : “nghhh,,, fuckkk” tangan kirinya meremas payudaranya sendiri,,,,

Kulihat posisi lift sudah di lantai 65, kurang 3 lantai lagi,

Aku : “aku mau keluar Res,,,”

Resty : “keluarin dii dalem Ga,,,”

Hah ??

Beberapa genjotan kemudian akhirnya spermaku keluar di dalem memeknya,,

Berbarengan dengan hal itu Pintu Lift Terbuka

“TINGG”

Resty : “di sinilah kamu akan bekerja setiap hari Ga,,”

Lampu di dalam lift kelihatan lebih terang dari sebelumnya, Kulihat Resty masih berpakaian lengkap, semuanya masih rapi,,, make up nya masih sama seperti tadi di bawah aku menemuinya. Loh,, celanaku juga masih kupakai,. WTF

Dan lagi,, ternyata semua kejadian di lift tadi hanya terjadi di pikiranku,,

Resty : “Ga, kamu mau keluar dari lift atau enggak?”

Aku : “Eh iya Res,,” segera kulangkahkan kakiku keluar dari lift,, kulihat Resty menempelkan kartu spesialnya di BOX dekat pintu lift.

Resty : “kamu kenapa Ga,,,? Kok keringetan? Kamu sakit?”

Aku : “Enggak kok Res,, Gpp”

Resty kemudian mendekatiku, dia mengeluarkan tisu dari tasnya dannn,, mengusap dahiku yang keringetan. Sweet sekali dia,, bisa kuhirup aroma parfumnya yang segar itu,,

Oh Resty,, maukah kamu jadi ibu dari anak2ku,,,

Resty : “sudah yuk masuk.. kukenalkan dengan teman2 yang lain”. Tanganku digandengnya,,,

Halaman Utama : Lembaran Yang Baru

BERSAMBUNG – Lembaran Yang Baru Part 05 | Lembaran Yang Baru Part 05 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 04 ) | ( Part 06 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler