. Lembaran Yang Baru Part 01 | Kisah Malam

Lembaran Yang Baru Part 01

0
315

Part 01 –  Intro

“Ttttttiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn….”

Suara klakson mobil2 dibelakang membangunkan lamunanku, suara klakson yang terdengar sangat lama bersuara tanpa henti mengisyaratkan emosi/ketidak sabaran pengemudinya karena haknya sebagai pengguna jalan terhalang oleh sesuatu. Dan yang menghalangi hak mereka adalah sebuah motor di barisan terdepan persimpangan yang tidak melanjutkan perjalanan walaupun traffic light sudah berwarna hijau. Ya, itu motorku , motor sport 150 CC keluaran terbaru yang masih kredit sampai 20 bulan kedepan. Sesegera mungkin aku melanjutkan perjalanan melewati persimpangan yang di minggu sore ini cukup padat.

Perkenalkan namaku Rega Widyono, keluargaku memanggilku “Ega” atau “Ga” saja. Umur seperempat abad. Pekerjaan saat ini, aku akan magang di sebuah perusahaan di kota ini. Setelah sebulan ini disibukkan dengan ujian, tes kesehatan dan interview akhirnya aku diterima di perusahaan tersebut dengan masa percobaan 3 bulan.

Fisik badanku bisa dibilang standard fisik cowok di negara ini, tinggi badanku tidak tinggi tidak juga pendek sekitar 172 M. Berat badan juga tidak gemuk dan tidak kurus. Kalau ngomongin tingkat ketamvanan, aku sendiri tidak bisa memastikan berada dalam kategori mana wajahku, ada yang bilang aku ganteng, ada yang bilang aku manis, ada yg bilang mukaku serem.

Di minggu sore ini aku sedang menuju tempat reuni SMP di sebuah gedung ternama di kota ini. Tepat seminggu yang lalu aku dapat sms dari salah satu teman yang menginfokan adanya acara reuni. Aku pun bimbang untuk bisa hadir, karena sudah sekitar kurang lebih 10 Tahun tidak ketemu atau berhubungan dengan temen2 SMP.

Sebenarnya acara reuni ini berlangsung rutin setiap tahun diadakan. Tapi baru di tahun ini aku bisa hadir, karena semenjak aku lulus SMP , bunda menikah lagi dengan pria yang berdomisili di kota sebelah, bunda akhirnya ikut suami barunya, sehingga aku melalui masa SMA dan kuliah di kota sebelah. Dan sekarang akhirnya setelah sekian lama , aku kembali ke kota masa kecilku. karena perusahaan tempatku magang ada di kota ini.

Sebuah acara reuni bisa jadi kesempatan besar bagiku untuk bisa berbaur lagi di kota ini. Sedikit keraguan dalam hatiku datang ke acara tersebut, karena dulu waktu smp aku termasuk anak yg kurang popular dan kurang pergaulan serta terpinggirkan.

Untungnya dulu masa2 SMP belum ada Bullying, jadi masa SMP bisa terlewati tanpa ada kejadian2 yang menyeramkan. Berbeda dengan masa SMA yang penuh dengan tantangan dan perjuangan bagi aku yang susah dalam pergaulan. Tapi aku harus bersyukur atas semua kejadian menyedihkan di waktu awal2 SMA, karena berkat itu semua aku bisa berubah menjadi seperti sekarang, tentunya ini semua berkat bantuanmu .

“I miss you..” dalam hatiku.

Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan kalau aku sudah telat 30 Menit. Kutambah lagi kecepatan motorku, meliuk-liuk di keramaian kemacetan di kota yang masuk dalam 5 kota paling macet sedunia. Bayangin sedunia men?. Gimana nggak stress orang2 disini melalui kemacetan seperti ini setiap hari. Belum lagi jalanan yang banyak yang rusak, kami tiap tahun disuruh taat bayar pajak kendaraan, tapi… ah sudahlah,,, memang suka bikin gemes para penguasa di negeri ini.

Gedung tempat acara reuni sudah keliatan di depan. Tinggal melewati satu lagi traffic light dan aku akan sampai di tujuan. Eh tapi,,

05 < – – indikator traffic light

Pada bagian atas tiang traffic light Ada indicator countdown berwarna hijau yang menandakan tinggal seberapa lama lagi traffic light akan berubah menjadi merah. Bagaikan suatu instruksi dari komandan kepada seluruh prajuritnya yang harus dan wajib ditaati, semua kendaraan harus berhenti ketika indikator berubah menjadi merah.

04 < – -indikator traffic light

Melihat tanda tersebut, kutarik gas lebih cepat, berharap masih bisa Melewati traffic light tanpa harus menunggu semenit dua menit lagi.

03 < – -indikator traffic light

Semakin dekat dengan tempat acara, semakin banyak pertanyaan2 di otakku, seperti apa mereka setelah 10 tahun tidak berjumpa, apakah aku masih bisa mengingat nama2 mereka, apakah mereka masih mengingatku, apakah aku bisa berbaur dengan mereka, apakah mereka bisa menerimaku. Apa seharusnya aku tidak datang saja. Beradaptasi di tempat baru adalah kelemahanku. Sulit sekali memulai sesuatu yang baru, aku tidak mudah berhadapan dengan orang2 yang belum aku kenal atau yang belum mengenalku.

02 < – -indikator traffic light

“Ahhhhhhhhh,,” aku harus lupakan pikiran2 negatif di otakku.
“ini cuman acara reuni” aku akan pasrah dengan apa yang akan aku hadapi setelah melewati traffic light didepan.

01 < – -indikator traffic light

Hari ini reuni dengan teman2 lama namun nyatanya seperti baru pertama kali bertemu. Kemudian besok berusaha beradaptasi bersama orang2 baru ditempat magang. Dua hari ini akan menjadi titik awal lembaran baru di hidupku.

00 < – -indikator traffic light

.
.

90 < – -indikator traffic light

Indikator traffic light sudah berubah merah, bagaikan adegan slowmotion pada perlombaan moto GP sebelum sang juara melalui garis finish.

Tapi

Seperti yang sudah2, tak selamanya semua berjalan sesuai ekspetasi. Kulihat posisi motorku belum sama sekali melewati traffic light.

“sial..”

Sudah kepalang tanggung pikirku dalam hati. Nekat aku terobos traffic light, Kulihat motor dari arah sebelah kanan tak kalah lebih kencang dr motorku, kecepatan motor itu bagaikan pebalap moto gp yang memacu motornya sekencang mungkin selepas start untuk bisa berada di posisi terdepan mendahuluin pebalap2 lain. dan akhirnya……

 

“Ttttttiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn……”

Halaman Utama : Lembaran Yang Baru

BERSAMBUNG – Lembaran Yang Baru Part 01 | Lembaran Yang Baru Part 01 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 02 ) | ( Part 02 ) Selanjutnya