. Kubuka Sebuah Kostan Part 09 | Kisah Malam

Kubuka Sebuah Kostan Part 09

0
386

Episode 09 – Kubuka Sebuah Kost an


Devieta

“zal hari ini sibuk gak?” tanya devieta sambil menikmati sarapannya.

“enggak sih, cuma ntar siang mau ke warung aja,, kenapa mbak?” kata rizal yang baru saja keluar dari kamar

“jam berapa ke warung zal?” tanya devieta

“ya paling abis dhuhur lah mbak, kenapa?” kata rizal sambil berjalan mendekati devieta yang berada di mini bar, letak kamar pribadi rizal memang berhadapan dengan mini bar.

“yes, berarti bisa kan anterin mbak ke rumah temen mbak ya ntar kalo kamu berangkat” kata devieta sambil memasang muka menggoda

“dimana alamatnya mbak?” kata rizal yang ikut mengambil sepotong roti tawar di depan devieta

“di daerah mall xxx situ, di perumahan belakangnya mall itu” kata devieta

“waduh, kok jauh mbak,, lha itu gak searah sama warung lho mbak” kata rizal

“ayolah zal, anterin ya,, mbak kasi memek deh sekarang gimana?” kata devieta mencoba merayu rizal sambil membelai memeknya dari luar kain celana tidurnya

“hmm tapi kan itu mallnya di arah mana, warungnya juga arah mana,, beda arahnya tuh jauh banget lho mbak” kata rizal

“pliiisss” kata devieta yang mulai semakin liar mengegerakan jarinya di memeknya sendiri

“gimana ya…” kata rizal

“pliiiisss” kata devieta dengan mata sayunya

Sontak melihat devieta yang terus menggoda birahinya dan belum lagi kontolnya juga masih ereksi setelah bangun pagi. Kini semakin berdiri tegak melihat devieta yang terus menggoda. Dan benar saja,, roti tawarnya ia taruh lagi di meja mini bar lalu menarik tangan devieta ke dalam kamar devieta.

“kalo udah kayak gini mah, aku udah gak bisa nolak mbak,, ayo pindah kamar dulu mbak ntar ketauan ibu bisa bahaya ini” kata rizal mendekati devieta yang semakin menggoda rizal

Mengetahui devieta yang sudah berada di dalam kamar. Rizal lalu duduk di pinggir tempat tidur devieta. Dan menarik kakak sepupunya itu mendekatinya. Rizal yang sudah tidak tahan lagi dengan cepat merangkul tubuh devieta dan melumat bibir manis devieta.

Dengan masih merangkul tubuh sekal devieta, ternyata devieta sangat menikmati percumbuannya. Terlebih lagi rangsangan yang diberikan rizal kini mulai bertambah, tangan rizal mulai aktif bergerak meremas kedua payudara devieta yang besar dan kenyal itu dari luar baju tidur devieta.

Dan sekitar sepuluh menit bercumbu dengan mengadu mulut dan lidah saling membelit, devieta mulai merasakan adanya getaran di selangkangannya. Devieta semakin erat mendekap kepala rizal agar bibir dan lidahnya bisa lebih erat lagi saling membelit seakan tidak ingin mengakhiri ciumannya.

Rizal hanya diam saja melihat apa yang akan dilakukan devieta, tidak terburu-buru untuk segera menuntaskan hasratnya kepada devieta. Tanpa diminta oleh rizal, devieta kemudian melepas kaos singlet yang dikenakan oleh rizal.

Kini tinggal celana pendek rizal yang belum di lepaskan oleh devieta. Selasai melepas kaos singlet rizal, devieta kemudian menciumi kembali bibir rizal. Rizal hanya meladeni ciuman kakak sepupunya yang sudah penuh nafsu.

Puas melakukan ciuman dan lumatan dibibir rizal, devieta kemudian mencium pipi kiri dan kanan rizal yang di teruskan dengan melakukan jilatan di leher rizal. Devieta kini benar – benar sudah hanyut dengan nafsunya sendiri.

Ia benar – benar seperti wanita binal yang akan melampiaskan nafsu seksnya. Setelah menjilati seluruh leher rizal, devieta kemudian semakin turun jilatannya. Jilatan devieta semakin turun kebagian dada rizal, menjilati dadanya, dan terkadang juga menghisap dan menggigit kecil puting rizal.

Tak disangka oleh rizal jika kakak sepupunya bisa luar seperti pelacur seperti ini. Diperlakukan seperti itu rizal sedikit bereaksi. Tangan rizal kemudian memegang kepala devieta yang tertutup jilbab tidurnya.

“oooowh gilaa nakal banget sekarang kamu mbak aaah isep terus aaaaah aku sukaa mbak oooh iseep mbaaak” racau rizal

Devieta yang menjadi semakin liar itupun terus melakukan jilatanya sampai diperut rizal, dan lidahnya tidak ketinggalan memainkan pusar rizal. Puas melakukan itu devieta kemudian jongkok di depan rizal, dan mulai tangannya dengan lincah mulai melepas celana pendek rizal.

“mbak devieta makin pintar aja aaaah aaah nakal banget sekarang mmmh siapa yang ngajarin mbak bisa senakal ini” kata rizal

“ini kan demi kamu puas zal, mbak siap melakukan apapun buat kamu zal” kata devieta

Dengan perlahan seolah menikmati sesuatu yang disukainya, devieta mulai mencium kontol rizal yang masih tertutup celana dalamnya. Sedangkan celananya sudah dilepas oleh devieta.

Devieta seolah tidak terpengaruh dengan bau kontol rizal yang selalu bersih dan terawat. Ia terus menciumi kontol rizal yang masih di dalam celana dalam. Rizal mulai terangsang dengan apa yang dilakukan kakak sepupunya.

Akhirnya rizal tidak sabar untuk menunggu apa yang akan dilakukan devieta untuk membuka celana dalamnya. Rizal kemudian membuka sendiri celana dalamnya dan memelorotkan sampai lututnya. Langsung saja rizal kemudian menyodorkan kontonya yang sudah menegang keras itu kepada devieta.

“emut kontolku mbak” kata rizal sambil mengacungkan kontolnya di depan mulut devieta

Devieta yang paham kemudian segera memegang kontol rizal dan memasukkan ke mulutnya untuk dijilat dan dihisap dengan lidahnya.

“gilaaa angeeet bangeet uuuh enaaak mmmh” racau rizal

Dan kini rizal sudah tidak bisa di bendung lagi nafsunya. Dirinya kemudian memegang kepala devieta, dan perlahan mulai memompa kontolnya di mulut devieta.

devieta hanya bisa pasrah, devieta hanya mengikuti apa yang dilakukan rizal terhadapnya. Devieta membuka mulutnya selebar mungkin agar kontol rizal tidak mengenai giginya. Dengan kasar rizal terus melakukan pompaan kontolnya itu ke mulut devieta sampai menyentuh tenggorokan devieta.

Beberapa kali devieta hampir muntah karena kontol rizal terlalu dalam masuk di mulutnya. Bahkan kini air mata devieta mulai keluar karena menahan brutalnya kontol rizal memompa mulutnya. Sampai air liur devieta meleleh keluar di sela – sela bibirnya.

Puas melakukan sodokan kontol di mulut kakak sepupunya yang cantik, rizal kemudian meminta devieta berdiri. devieta seperti kerbau yang dicokok hidungnya , ia mengikuti perintah rizal kemudian berdiri.

“ayo sekarang mbak,, aku udah kangen sama memekmu yang wangi itu” kata rizal

Devieta yang paham dengan apa yang diinginkan oleh rizal segera menuju ranjang tempat tidurnya. Dan kemudian merebahkan dirinya diranjang. Tanpa diminta oleh rizal, devieta kemudian melepaskan celana kainnya dan celana dalamnya.

Devieta kemudian melepas semua pakaian yang ia kenakan dan mengeluarkan payudaranya dari bh nya. Rizal kemudian naik keranjang, kontolnya yang sudah basah dan ngaceng kemudian di tempatkan di bibir vagina devieta.

Rizal kemudian memainkan payudara devieta. Saat devieta keenakan dengan rangsangan di putingnnya, rizal kemudian memasukkan pelan-pelan kontolnya.

“aduh.. mmmh masih sakit zal… tahan sebentar zal” sambil mencoba menahan rizal.

“tahan sebentar aja mbaaak..” kata rizal

Rizal kemudian pelan-pelan menggesek vagina devieta, saat devieta lengah dengan rangsangan. rizal dengan sekuat tenaga langsung melesakkan kontolnya menembus memek devieta.

“berttttt…. aauwwhhhh” jerit devieta saat vaginanya yang sedikit kering itu di paksa menelan kontol rizal.

Rizal kemudian mulai memompa kontolnya di memek devieta. Devieta pun kini sudah tidak mengalami kesakitan saat pertama kali merasakan kontol rizal yang lebih besar dari kontol lain masuk ke dalam memeknya dulu. rizal mengocok memek devieta semakin cepat.

“oughhh…ohhhhh enak zal rizal, aku keluarrrrr zaaalll…” kata devieta

Serrrrr… serrrr… semburan orgasme devieta.
devieta lemas beberapa saat, tetapi rizal masih terus melakukan kocokannya, dan hampir 30 menit rizal melakukan itu. Dan selama itu devieta sudah mengalami orgasme ketiga kalinya.

“aaaahhh aaah aku mau keluarrr…..” kata rizal

“keluarriiiin di ahhh dalaam aaah ajaaa zaall aaaah” pinta devieta

Saat mencapai klimaksnya, rizal membenamkan kontolnya sampai menyentuh dinding rahim devieta, dan sambil mengejang mengeluarkan spermanya di dalam rahim devieta, ditambah lagi rizal meremas kuat payudara devieta

“aaaahhhhhh…… enakkk bangeet… rasain tuh pejuku mbaaak…” erang rizal sambil menyemburkan spermanya

Setelah spermanya keluar, rizal ambruk diatas tubuh devieta. Kedua insan yang masih bersaudara itu kini saling terdiam untuk beberapa saat menikmati sisa orgasmenya.

“nihh… sekarang emutt kontolku dulu mbak..” kata rizal saat tenaganya sudah mulai pulih dan melepaskan kontolnya dari cengkeraman memek devieta.

Dan devieta pun kemudian langsung jongkok menyepong kontol rizal dengan penuh nafsu. Dimainkannya lubang kencing rizal dengan lidahnya dan juga memainkan kantung telur rizal.

Setelah dirasa cukup banyak liur devieta di kontolnya. rizal kemudian meminmbak devieta untuk melebarkan kembali kakinya. Terpampanglah memek dan anus devieta.

Rizal kemudian mendekatkan kontolnya, tetapi bukan di tujukan ke memek devieta tetapi kontol itu mengarah ke pantat devieta

“sekarang pantat mbak ya” kata rizal

“iyaa nih masukin aja zal” kata devieta sembari membuka pantatnya selebar mungkin dengan kedua tangannya

“mbak emang pinter, siap ya mbak?” kata rizal

“iya zal, masukin aja” jawab devieta

Dengan sekali penetrasi kontol rizal dengan lancarnya masuk ke dalam lubang pantat devieta. Devieta memejamkan matanya dan sedikit mengerang merasakan kontol rizal menerobos lubang pantatnya yang masih sangat sempit.

Dengan posisi tengkurap di atas sofa, devieta merasakan kontol rizal mulai bergerak di dalam lubang pantatnya.

“ooooh zaaal mmmh pantat akuu mmh panas oooh pelaan zaal” erang devieta

“pantat mbak sempit banget aaaah” racau rizal

Dengan pelan kontolnya mulai mengocok pantat devieta. Devieta yang kesakitan saat di jebol pantatnya oleh rizal, semakin lama devieta juga semakin menikmati permainan rizal pada pantatnya.

“ohhh… Zaaalll.. sakiiit.. pelaan zaall.. aaahh aaaauuwh mmh…..” erang devieta.

Rizal semakin meningkatkan tempo genjotannya pada pantat kakak sepupunya yang cantik itu. Rasa pedih di pantat devieta berubah menjadi rasa kenikmatan. Dan noda darah akibat lecetnya pantat devieta tampak di batang kontol rizal.

Walaupun pantat devieta sudah pernah dijebol oleh beberapa kontol namun sempitnya lubang pantat devieta membuat pantatnya menjadi lecet bergesekkan dengan kontol rizal. Rizal semakin kencang menggenjot pantat devieta sampai akhirnya devieta orgasme duluan.

Rizal terus memompa pantatnya, sampai akhirnya rizal menumpahkan spermanya di dalam pantat devieta. Lelehan pejuh rizal keluar dari pantat devieta.

Puas menikmati tubuh kakak sepupunya dipagi hari itu, rizal meninggalkan devieta di kamarnya. Seperti biasa rizal selalu mengawali harinya dengan membersihkan seisi rumah yang terlihat berantakan.

[table id=Ads4D /]


Devieta

Citra

Della

Hari menjelang siang rizal telah dalam perjalanan mengantarkan devieta ke rumah sahabatnya yang menjadi teman sekelompok penelitian dalam pengerjaan tugas akhir devieta. Selama lebih dari satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah mewah di pinggiran kota.

Disana sudah ada dua sahabat devieta yang terbilang sangat cantik. Dua wanita yang bisa dibilang primadona di fakultasnya. Rizal yang awalnya hanya mengantar saja kini devieta memaksa rizal untuk menemaninya.

Rizal sebenarnya ingin ke warung untuk melihat pekerjaan para karyawannya, dan disisi lain juga ingin menemui siska yang sudah membuatnya nyaman.

“masuk dulu aja, warung kan ada managernya jadi aman lah kalo ditinggal juga zal” kata devieta

“tapi kan warung sekarang lagi rame – ramenya mbak” kata rizal

“kan kamu tinggal sehari juga gak masalah zal,, udah ah ayo temenin mbak masuk dulu” kata devieta

“hmmm iya deh” kata rizal

Dengan terpaksa rizal juga ikut masuk ke dalam rumah itu. Tak disangka oleh rizal rumah sebesar itu ternyata hanya ada dua orang didalamnya. Hanya dua sahabat devieta yang sibuk di depan laptop.

“siang gaes” sapa devieta

“assalamualaikum de, masuk rumah tuh salam” kata salah satu dari mereka yang memakai pakaian gamis

“tau nih, malah siang gaes” kata gadis yang lain

“iiih iya iya, asalamualaikum” kata devieta

“Waalaikumsalam, nah gitu kan adem” kata gadis berbaju gamis

“siapa tuh de?” tanya gadis yang lain saat melihat seorang cowo cukup tampan sedang berdiri di belakang devieta

“oh ini, ini adek sepupuku yang pernah aku ceritain dulu tu lho” kata devieta sambil memperkenalkan rizal

“oh ini toh orangnya, tuh del udah dateng tuh orangnya” kata gadis yang lain

“apaan sih cit” kata gadis berbaju gamis

“eh zal, ini kenalin citra temenku trus itu della.” Ujar devieta.

“mbak ngomong apa aja tentang aku ke mereka mbak,,, O iya aku rizal.” kata rizal sambil bersalaman dengan citra dan della.

Della terlihat hanya tersenyum mendengar rizal berbicara. Posisi duduk mereka saat itu devieta bersebelahan dengan citra sedangkan rizal bersebelahan dengan della.

Citra memiliki tubuh yang lumayan ramping dan tinggi dengan jilbab yang membalut kepalanya. Ukuran payudaranya pun terlihat besar dengan pakaian yang agak ketat itu.

Sedangkan della terlihat lebih pendek namun terbilang seksi. Dengan pakaian gamis dan jilbab panjangnya della terlihat anggun dan lebih pendek dari citra,

Namun mereka berdua sama – sama cantik, rizal tak heran jika kedua gadis cantik ini menjadi primadona di fakultasnya seperti yang sudah diceritakan devieta saat berada dinmobil. Devieta saat itu masih asik mengobrol, sedangkan rizal kembali memainkan hpnya karena bingung harus berbicara apa.

“zal, dari tadi kok diem aja. itu della diajak ngobrol.” Kata devieta.

“haha iya temenku diajak ngobrol dong zal.” Tambah kak citra.

Rizal tersenyum lalu memperhatikan della yang duduk disampingnya. Sekilas della juga ikut tersenyum kepada rizal. Rizal sempat terdiam melihat della tersenyum, senyuman della membuat rizal salah tingkah melihatnya.

Rizal merasakan perasaan yang tak biasa saat melihat della tersenyum manis. Perasaan yang dulu pernah ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan zahra. Namun kini hatinya masih mengarah ke siska yang telah membuatnya nyaman.

“yee malah geleng-geleng.” Kata devieta menyadarkan rizal dari lamunan.

“eh iya mbak” Kata rizal.

“kamu itu lho, disuruh ngajak ngorbrol malah geleng – geleng.” Kata devieta.

“iya aku ajak ngobrol kok” Kata rizal.

“mbak della” Kata rizal kepada della

“iya zal, kenapa?” Kata della sambil tersenyum.

“ngobrol yuk.” kata rizal.

“ayuk.” Kata della.

Rizal mengalihkan kembali pandangannya ke devieta, “tuh mbak, udah ngobrol kan?” kata rizal.

“rizaaaaaalll ih, gak gitu juga. Gimana mau dapet cewek kalo begitu” Kata devieta.

“apaan sih mbak, begitu mulu,, kayak aku gak laku aja” Kata rizal dengan mendengus kesal.

“haha rizal malu kali de, kita tinggal dulu aja yuk,,, nyari makan deket sini” kata kak citra.

“iya deh yuk cit, pake motormu ya?” Kata devieta.

“ok,, pake helmnya della aja dulu” kata citra

“eh kalian mau kemana?” tanya rizal.

“kita mau keluar dulu zal, mau beli makan di depan perumahan tu,, Kamu disini dulu ya, temenin della,, ntar aku bungkusin buat kalian berdua” Kata devieta sambil beranjak dari duduknya.

“eh kok gitu.” Protes rizal

“zal, titip temenku bentar ya,,, jangan dimesumin lho.” Kata citra yang juga mulai beranjak dari duduknya.

Mereka berdua telah pergi meninggalkan rizal dan della di di rumah citra ini. Rizal dan della saling diam selepas ditinggal mereka berdua.

Mereka berdua saling memainkan hp masing – masing dan suasana ini membuat rizal bingung harus bagaimana.

Cukup lama devieta dan citra meninggalkan mereka berdua di rumah citra. Rizal masih saja sibuk memainkan smartphonenya sambil mencuri pandang ke arah della.

Della terlihat anggun dengan balutan pakaian gamis yang ia gunakan ditambah jilbab biru muda yang membalut kepalanya menambah kesan imut pada dirinya, ia terkadang senyum-senyum sendiri sambil menatap layar hpnya. Rizal yang dilanda rasa bosan kini memberanikan diri untuk menyapanya.

“mbak.” Sapa rizal.

“iya zal kenapa?” kata della sambil meletakan hpnya di meja lalu menatap rizal.

“cantik juga mbak della kalo diperhatiin.” Batin rizal

Mereka akhirnya lanjut membicarakan tentang kuliah, musik dan hobi, bahkan sampai ke warung usaha rizal yang sudah diceritakan oleh devieta sebelumnya.

Rizal tak berani menanyakan tentang hal yang bersifat pribadi kepada della. Tak terasa mereka mengobrol hingga minuman mereka berdua telah habis.

Sadar kalau devieta dan citra sudah terlalu lama pergi mencari makan, ia melihat jam dan kini waktu sudah menunjukan pukul 5 sore dan berarti devieta dan citra telah meninggalkan mereka berdua selama hampir 3 jam untuk membeli makanan

Rizal mengambil hpnya dan menelfon devieta,

“halo mbak? Lagi dimana kok gak balik lagi kesini.” Tanya rizal saat telfonnya diangkat.

“hehe iya zal, aku udah pulang tadi sama citra,, ini mbak lagi dirumah sekarang sama citra zal” Kata devieta yang terdengar tak ada rasa bersalah meninggalkan mereka berdua.

“kok gitu sih, pulang gak bilang-bilang.” Kata rizal dengan nada yang sedikit kesal.

“jangan marah dong sepupuku yang jomblo. Kamu kalo mau pulang ya pulang aja, tapi jangan lupa anterin della dulu haha.” Kata devieta.

“aku kan gak tau rumahnya mbak, gimana sih.” Kata rizal dengan masih kesal.

“ya minta kasih tau sama della dong haha, udah dulu ya zal mbak mau mandi dulu. Eh iya, ntar kalo pulang kunci rumah citra bawa aja kesini, atau della ajak kesini juga gapapa kok,, dia sendirian tuh pasti di rumahnya.” Kata devieta yang langsung menutup telfon.

“nyebelin banget sih.” Kata rizal sambil mendengus kesal.

“kenapa zal?” kata della yang menyadari rizal sedang kesal.

“ini mbak devieta malah udah pulang duluan sama mbak citra, mana gak bilang.” Kata rizal.

“iya ini si citra juga barusan ngechat kalo dia lagi dirumahnya devieta, di rumah kamu dong berarti?” Kata della.

Rizal hanya diam dan kulihat della mulai beranjak dari kursinya,

“eh kamu mau kemana?” tanya rizal.

“emang kamu gak pulang zal, mau jaga rumahnya citra?” kata della

“ya gak lah, kamu mau pulang apa ikut ke rumah juga?” tanya rizal

“pulang aja deh zal, btw udah berani manggil pake ‘kamu’ nih?” kata della

“eh maaf mbak gak sengaja,, yaudah ayo mbak aku anter” kata rizal

“gapapa zal, mending gitu deh biar cepet akrab,, eh gak usah aku naik ojol aja” kata della

“kalo mbak naik ojol, ntar mbak devieta malah marah sama aku lho,, udah aku anterin aja” kata rizal

“gapapa nih?” tanya della

“gapapa mbak,, udah ayo pulang bareng aku aja” kata rizal

“iya nih kuncinya kamu yang bawa” kata della sambil memberikan kunci rumah citra

Rizal jalankan mobilnya untuk meninggalkan rumah citra. Rizal cukup gugup membawa della satu mobil dengannya ditambah suasana jalanan sore ini sangat macet.

Pengguna motor yang lain juga saling srobot jalan dan rizal terkadang mengerem mobilnya dengan mendadak.

Sekitar 30 menit kemudian akhirnya kami berdua telah sampai di rumah della yang berada di salah satu perumahan yang terbilang elit di kota ini.

“huh sampe juga.” Kata della saat turun dari mobil

“hehe iya, ini rumah kamu mbak?” tanya rizal sambil melihat rumahnya yang terlihat megah.

“iya zal, kenapa emang?” kata della

“eh gpp kok hehe.. Kok sepi banget kayaknya” Kata rizal.

“iya orang tuaku lagi di yaman zal, lagi ngajar disana, jadi dosen disana,, kamu mau mampir dulu?” kata della.

“mhhh besok aja kapan – kapan, udah mau maghrib juga ini” kata rizal.

“yaudah hati – hati ya, makasih udah dianter pulang.” Katanya dengan diakhiri sebuah senyuman.

Rizal hanya menganggukan kepalanya lalu menjalankan mobilnya. Saat rizal ingin menutup kaca mobil terdengar suara della memanggil dirinya “rizal.”

Rizal menurukan kembali kaca mobilnya “iya mbak?”

“mampir masjid dulu buat shalat, takutnya sampe rumah gak keburu.” Kata della mengingatkan rizal

Rizal hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu berkata,

“assalamuallaikum.”

Della hanya tersenyum kepada rizal sambil melambaikan tangannya. Rizal lalu mengendarai mobilnya untuk pulang.

Sebelum sampai rumah rizal sempatkan ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya lalu melanjutkan perjalanannya pulang.

Benar saja, jalanan saat itu jalanan sangat macet dan rizal tiba di rumah pukul setengah 8 malam.

“benar juga kata della, ternyata sampe rumah jam segini. Untung mampir masjid dulu.” Batin rizal dalam hati.

Ya, rizal hanya lah seorang hamba yang tak luput dari dosa. Kini apa yang dilakukan della dalam beberapa momen mengingatkan dia dengan zahra yang selalu memperhatikan pola hidup rizal.

Selama diperjalanan otaknya tak berhenti memikirkan della, siska, atau zahra yang mungkin bisa ia perbaiki kesalahannya.

“assalamuallaikum.” Kata rizal sambil mengetuk pintu.

“wallaikumsalam.” Terdengar jawaban dari dalam dan tak lama pintu rumah terbuka.

Ternyata devieta yang membuka pintu, “eh zal, della kamu anter pulang kan?” tanya devieta.

“nih kunci rumah mbak citra” kata rizal yang kesal melihat devieta

Rizal yang masih merasa kesal dengannya hanya diam lalu masuk ke dalam. Rizal langsung menuju kamarnya dan devieta mengikutinya hingga ke dalam. Ia duduk di kasurku,

“ditanya kok malah diem.” Katanya.

“iya mbak, mbak della aku anter pulang kok.” Kata rizal sambil melepas jam tangannya

“trus gimana? Cantik kan? Baik kan?” tanya devieta lagi.

Rizal hanya diam saja dan rizal melepas jaket yang tadi ia gunakan, lalu ia sampirkan di belakang pintu kamar.

“kamu minta nomer dia gak tadi?” devieta bertanya.

“enggak.” Kata rizal.

“ih gimana sih, bukannya minta.” Kata devieta

“haaah,,, udah kesel sama mbak jadi gak mood” kata rizal

“maaf ya zal, abisnya kamu kalo di rumah tuh kayak merenung sendirian gitu kan mbak jadi khawatir,, ya walaupun kamu sekarang sibuk sama warungmu itu tapi mbak tau kamu pasti butuh pendamping buat bantu kamu” kata devieta sambil memegang tangan rizal agar tidak terlalu marah padanya

“tapi kan gak gitu caranya mbak, aku bisa kok cari sendiri, aku butuh yang bikin aku nyaman,,, bukan dicombangin kayak gini” kata rizal

Rasa kesal rizal pun meluap saat menjelaskan perasaannya ke kakak sepupunya itu. Tapi disisi lain rizal mungkin telah membuka jalan bagi della untuk masuk ke hatinya.

“mending mbak keluar dulu deh dari kamarku” pinta rizal

Setelah devieta keluar dari kamar, rizal menutup pintu dan menguncinya. Rizal langsung mengabil smartphonenya dari tas kecil yang selalu ia bawa dan langsung ia buka. Ada chat dari siska yang mencarinya. Fajar pun membalas chat siska yang saat itu masing online.

“pak rizal tidak ke warung hari ini?”

“maaf sis, tadi nganter mbak devieta penelitian tugas akhir di rumah temannya”

“oh gitu, ya sudah pak,, saya juga ada info pak, sepertinya kalau tia mungkin agak susah pak, soalnya akhir – akhir ini dia jadi tertutup sama kami pak,, tapi kalau pak rizal mau lusa hani mau main ke rumah pak”

“hani tu yang mana ya sis?”

“yang di bagian kasir pak, yang kemarin baru putus sama rico si koki itu”

“oh itu, boleh deh sis, terus kenapa si tia jadi berubah gitu? Gak pengaruh ke pekerjaan dia kan?”

“kalo kenapanya saya gak tau pak,, tapi tidak pengaruh ke kinerja dia sih pak,, cuma sekarang jadi kurang komunikasi aja ke yang lainnya,, mungkin pak rizal bisa koreksi ada masalah apa dengan tia pak?”

“ya sudah lusa saya ke warung, abis dari warung langsung ke rumah kamu”

“baik pak”

Disela chatnya dengan siska, muncul juga notif dari nomer yang tidak ia kenal masuk ke dalam hp nya. Awalnya ia cuek dengan chat itu. Rizal masih mengorek info tentang kinerja para karyawan warungnya lewat siska.

Tapi akhirnya rizal penasaran dengan foto profil yang sangat familiar. Dan benar saja itu adalah…

“udah sampe rumah?”

“udah kok, dari tadi hehe”

“tadi solat maghrib apa enggak?”

“solat mbak, di masjid deket rumah mbak itu,, yang masjid besar warna coklat”

“oh kamu solat disana”

“kenapa mbak?”

“gapapa kok, cuma ngecek kamu solat apa enggak,, terus udah sampe rumah apa enggak”

“alhamdulilah udah semua,, btw kamu nomerku dari mana?”

“ya dari mana lagi emang”

“mbak devita ya?”

“???”

“hmmmm”

“gak boleh ya? Yaudah deh aku hapus kalo gitu”

“bukan gitu mbak, tadinya aku mau minta sendiri ke kamu,, tapi aku lupa”

“soalnya kamu grogi zal”

“mungkin mbak”

“tadi tuh aku mau ajak citra sama devieta buat cari referensi tugas akhir kita, tapi pada sibuk semua, terus sama devieta di kasih nomer kamu,, katanya biar kamu yang anter gitu”

“kapan emang mbak?”

“kalo lusa gimana?”

“wah kalo lusa gak bisa mbak, ada kerjaan soalnya”

“oiya ya warung kamu kan lagi rame ya,, terus kapan ya?”

“kalo besok mbak?”

“besok ya, bisa sih tapi jemput di kampus mau gak?”

“boleh, jam berapa?”

“hmmm aku pagi jam delapan janji ketemu dosen di kampus,, paling abis dzuhur deh gimana?”

“yaudah jam 1 aku berangkat kesana ya”

“oke zal”

Setelah cukup lama tidak ada chat masuk, rizal bersiap untuk istirahat. Saat matanya hampir terpejam tiba – tiba ada notif chat masuk ke dalam hapenya.

“???”

Emoticon kiss masuk ke dalam hapenya yang membuat rizal tersenyum dan tidur nyenyak malam itu.

Sementara di kamar devieta sedang terjadi pergumulan panas antara devieta dan citra. Tanpa sepengetahuan della yang masih awam tentang seks ternyata devieta dan citra sering melakukan hubungan badan dengan sejenisnya.

Bedanya citra masih belum pernah sama sekali melakukannya dengan seorang pria. Meski begitu keperawanannya hilang saat citra masih SMP karena jarinya sendiri

Halaman Utama : Kubuka Sebuah Kost an

BERSAMBUNG – Kubuka Sebuah Kost an Part 09 | Kubuka Sebuah Kost an Part 09 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 08 ) | ( Part 10 ) Selanjutnya