. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 9 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 9

0
315

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 9

Koreksian sedikit soal Cecil dan Grace. Di chapter sebelumnya saya tulis mereka tinggal di apartemen. Ternyata salah. Mereka tinggal di kontrakan. Kontrakan itu bentuknya dua rumah yang nempel dan masing-masing rumah punya dua lantai. Setiap lantai dikasih dua kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan ruang TV. Cecil bilang tempat dia seperti apartemen. Saya yang salah tangkap jadi mengira dia tinggal di apartemen.

Masuk ke cerita.

Setelah Cecil cerita soal dia dan Grace ciuman untuk pertama kalinya, muka dia langsung berubah. Matanya menatap saya dengan senyum kecil. Saya hapal ekspresi seperti itu. Calon nasabah asuransi saya sering pasang tampang begitu kalau mereka sedang menguji ilmu saya. Bedanya yang Cecil tes itu adalah reaksi saya soal hubungan dia dengan Grace. Saya sempat syok sebetulnya dengar dia ciuman sama perempuan dan ciumannya bukan cuma main-main, tapi saya sok cool. Saya tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?” tanya Cecil.

“Enggak, Dok. Saya pernah ada pengalaman lucu… agak mesum juga, sih… sama teman saya yang lesbian.”

“Kayak gimana?”

Saya ceritakanlah sedikit soal pengalaman saya threesome dengan lesbian. Kalau yang sudah baca cerita saya soal Adelaide pasti ingat. Kalau yang belum, monggo dibaca kalau penasaran. Setelah diceritakan, Cecil melirik ke si Mbak yang sedang beres-beres dapur. Mereka saling senyum lalu Cecil menatap saya lagi.

“Saya bukan lesbian. Grace juga bukan. Hubungan kita agak aneh. Panjang kalau diceritakan. Tapi menarik, sih….”

“Menarik mana sama saya, Dok? Saya juga punya cerita menarik soal pengalaman hidup.”

Cecil tersenyum lebar sekali seperti merasa tertantang. “Kamu hari Minggu besok ke mana? Kalau enggak ada urusan kita berenang. Nanti kita tukar cerita.”

Saya menyanggupi.

Setelah itu saya pamit pulang bersamaan dengan si Mbak yang bantu-bantu di apartemen Cecil. Waktu kami jalan ke lift, si Mbak nyengir sama saya.

“Tadi itu si Dokter ngetes, Mas, loh.”

“Iya, Mbak. Lulus enggak saya?”

“Lulus.”

“Orangnya memang begitu, ya, Mbak?”

“Dokter itu susah percaya sama orang. Sedikit banget yang dia ceritakan soal Grace itu. Kalau Mas sudah diceritakan, berarti dia sudah merasa percaya sama Mas.”

Saya sedikit bangga. “Mbak sudah berapa lama kerja sama Dokter?”

“Hampir sepuluh tahun. Dokter juga baru cerita sama saya soal Grace di tahun kedua, Mas. Awalnya, mah, dia enggak ngobrol sama sekali.”

Oke, berarti si Cecil ini sudah tercungkil rasa percaya sama saya. Dari situlah saya mulai dapat cerita agak panjang soal hidupnya.

Minggu depan, sesuai janji, kami ketemu di kolam renang umum yang mahal. Ada dua kolam renang: yang satu untuk berenang biasa, dan satunya buat menyelam. Cecil latihan di situ selama setengah jam sementara saya cipak cipak di kolam biasa. Saya enggak jago berenang jadi cuma basah-basahan. Tujuan utamanya, selain dengar cerita, adalah melihat Cecil pakai baju renang. Saya pikir seksi, tahunya dia pakai baju renang panjang. Cuma keteknya doang yang keliatan, selebihnya kayak pakai baju biasa. Tapi keteknya bersih, sih, jadi, ya, enggak rugi-rugi amatlah.

Habis capek, saya menumpang mobil Cecil dan beli kopi lalu menuju apartemen dia. Seperti biasa saya disambut si Mbak yang sudah masak nasi goreng. Sambil makan, saya tagih janji dia buat cerita.

Cecil mengunyah dulu sebelum buka mulut. Dia agak ragu. “Saya punya trauma. Dulu saya sempat agak depresi sampai akhirnya saya konsultasi sama psikolog. Semua berhubungan sama si Grace ini. Psikolog saya menyarankan kalau saya tulis apa yang saya rasakan cuma saya enggak suka menulis, terus saya disuruh ngomong terus rekam. Saya coba tapi enggak ada kemajuan. Akhirnya saya disuruh cerita ke orang. Tapi pengalaman saya cukup enggak biasa jadi saya malu buat cerita. Tapi terus saya kepikiran buat cerita sama si Mbak. Ternyata saya membaik. Jadilah saya buka semua ke si Mbak, ke teman baik saya Ben, dan sekarang kamu. Ingat, ya, ini rahasia negara.”

Makanya kalau di sini ada yang kenal Cecil terus dibocorkan cerita ini, saya bisa mati.

Mulai, deh, dia cerita.

Grace ini cantik luar biasa. Saya sendiri enggak bisa jabarkan kecantikan dia dan saya enggak berani minta foto atau bahkan jepret foto yang ada di pigura apartemen Cecil pun saya enggak berani. Pokoknya cantik, putih karena keturunan Tionghoa, terus badannya lebih tinggi dari Cecil sedikit. Rambutnya hampir sama panjang dengan Cecil dan sama hitamnya. Kalau disandingkan dengan Cecil muda, dua-duanya pasti jadi model kampus yang bikin iri cewek-cewek lain. Cecil waktu muda juga lumayan cantik menurut saya.

Setelah insiden ciuman itu, mereka melanjutkan hari seperti biasa. Tidak ada bahasan soal ciuman itu. Cecil tidak mengungkit lagi karena dia merasa Grace sudah lupa atau tidak peduli soal itu. Maka dia juga lupakan. Tapi suatu pagi waktu Cecil lagi mandi (kamar mandi mereka pakai shower betewe), si Grace ngetuk pintu.

“Cil. Lagi mandi, ya?”

“Iya. Kenapa?”

“Ikutan, dong.”

“Idih. Ngantri.”

“Ikut, sih.”

Cecil tersenyum. Dia lalu bukakan pintu dan Grace sudah tidak pakai baju. Mohon maaf saya tidak bisa jabarkan bagaimana badan Cecil dan Grace dengan jelas karena Cecil ceritanya cuma garis besar. Beda dengan Gilang yang cerita detail, Cecil tidak menjelaskan tubuhnya dan tubuh Grace waktu muda. Tapi saya bisa bilang untuk Cecil yang bukan lesbian, badan Grace bikin dia terangsang.

Oh, iya. Grace ini juga bukan lesbian. Cecil sama Grace sama-sama pernah punya pacar dan sudah ML sama pacar mereka. Makanya Cecil juga bingung apa yang sedang terjadi dengan mereka di kontrakan itu.

Setelah dibukakan pintu, Grace masuk terus membasahi badannya di bawah shower. Cecil ikut mandi lalu Grace berputar menghadapnya, memeluk Cecil lalu menciumnya. Cecil menyambut baik dan langsung cecar bibir Grace. Tangan dia melingkar di pinggang Grace sementara tangan Grace berada di belakang kepalanya. Grace dengan lembut menyelipkan jarinya di antara rambut Cecil dan itu membuat Cecil mendesah. Betul-betul sensasi yang beda dengan yang dia rasakan sama laki-laki.

Cecil meremas pantat Grace, merasakan kulit lembutnya dengan tangan. Lalu dia naik ke pinggang. Halus banget. Grace menurunkan tangannya dan meremas dada Cecil. Cecil menahan napas. Nikmat. Enak.

Grace mencium leher Cecil, terus turun dan mengecup puting Cecil. Cecil menengadahkan kepalanya, badannya tegang, napasnya berubah cepat. Tangan Cecil memegang kepala Grace yang sedang sibuk melumat puting payudaranya. Dari kiri ke kanan dan kembali lagi. Tangan Grace meremas pantat Cecil kuat-kuat dan Cecil dibuat merinding. Grace bangkit berdiri, mencium Cecil, lalu berbisik.

“Ke kasur, yuk.”

Cecil mengangguk. Mereka pindah ke kamar Grace, membuat seprainya basah dan melanjutkan berciuman di sana. Cecil berbaring sementara Grace berada di atasnya. Cecil memejamkan mata ketika Grace menjelajahi dagunya, leher, dada, payudara, lalu perut dengan bibir dan lidahnya. Tangan Grace menggenggam erat dada Cecil. Cecil dibuat tidak berdaya. Tubuhnya tegang dan lemas sekaligus. Tangannya mencengkeram seprai dan satunya menarik rambut Grace. Dia yakin Grace kesakitan tapi dia tidak bisa berhenti. Grace juga tidak protes.

Tangan Grace menelusuri turun dan berhenti di vaginanya. Lalu dengan gerakan lembut, Grace mengusap vagina Cecil. Makin lama makin cepat dan Cecil akhirnya harus berteriak keenakan.

“Grace, Grace….”

“Sakit?”

“Enak banget.”

Grace memasukkan satu jari dan Cecil mengangkat badannya. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Dia ngos-ngosan lalu mendesah keras sebelum jatuh rebahan. Badannya bergetar. Grace memeluknya lama sampai tubuh Cecil normal kembali dan mereka berciuman. Cecil menatap mata Grace.

“Anjing, barusan itu enak banget.”

Grace tersenyum. “Entaran lu yang gituin gua, yah.”

Cecil mengangguk lalu menutup matanya. Badannya masih terasa merinding.

Itu kali kedua mereka berhubungan badan. Setelah itu semua kembali normal. Mereka ngobrol biasa, makan biasa, pokoknya seperti teman serumah yang biasa. Tidak ada obrolan soal seks atau apapun. Tapi Cecil tahu ada hubungan lebih di antara mereka. Cuma mereka tidak katakan dan tidak definisikan saja apa itu.

Cecil ingat waktu dia mau pergi kuliah dan Grace libur, Cecil mencium bibirnya seperti suami mencium istri ketika akan berangkat kerja. Lalu ciuman sebelum pergi itu menjadi kebiasaan mereka sehari-hari.

Beberapa hari kemudian, terjadi pemadaman listrik di daerahnya. Cecil dan Grace yang tidak ada kerjaan jadi ngobrol di kamar Cecil. Mereka rebahan di kasur Cecil sambil bergosip. Karena sudah mulai malam, maka kamar mereka gelap dan cahaya cuma datang dari bohlam darurat kecil di dekat pintu. Mereka ngobrol entah apa tapi kemudian Grace menagih utang Cecil. Cecil tersenyum.

“Ya, sudah, siap-siap,” kata Cecil sambil menyelipkan tangannya ke celana Grace. Dia langsung menyerang vagina Grace.

“Enggak pakai foreplay?”

“Lama,” kata Cecil lalu menggesek-gesekkan tangannya ke vagina Grace.

“Anjir, Cil, belum siap.”

Cecil mencium Grace untuk membuatnya diam lalu menggerakkan tangannya lebih keras, lebih kuat, lebih cepat. Grace mendorong tubuh Cecil dan matanya terpejam. Bibir bawahnya digigit untuk menahan nikmat yang datangnya tiba-tiba. Tangannya meremas lengan Cecil kencang sekali. Cecil menahan sakitnya, dia tidak mau merusak kenikmatan Grace. Grace membuka kedua kakinya lebih lebar, membiarkan tangan Cecil bergerak bebas di vaginanya.

Cecil tidak punya pengalaman memainkan vagina perempuan, tapi dia dokter, dia tahu bagian mana yang nikmat kalau disentuh. Grace mulai ngos-ngosan, tubuhya bergeliat-geliat tidak bisa diam, vaginanya basah hingga banjir ke celana dalam. Tangan Cecil tambah licin dan gerakannya tambah cepat.

“Anjing, enak banget! Enak banget!”

Grace lemas dan tubuhnya terlentang, Cecil langsung naik ke atasnya. Satu jari sudah berada di dalam vagina Grace. Grace membuka mata, menatap Cecil galak lalu menciumnya kuat-kuat. Tangannya mencengkeram dada Cecil kuat sekali sampai Cecil mengaduh. Tapi tidak diacuhkan, Grace sedang kesetanan oleh nikmat.

“Buka.”

“Hah?”

“Buka!” Grace menarik baju kemeja Cecil dan dua kancing terlepas. Grace menangkat bra Cecil lalu meremas dadanya lagi. “Cecil!”

Vagina Grace menjepit jari Cecil, badannya bergetar hebat, kepalanya mendongak dengan mata terpejam dan dia mendesah panjang. Tangan Grace beralih dari dada ke rambut Cecil dan menjambaknya. “Anjing lu!”

Lalu Grace terbaring lemah. Cecil duduk dan memeriksa cidera badannya. Ada luka cakaran di kedua lengan dan ada bekas kuku di payudaranya. Kepalanya juga sakit karena dijambak.

“Lu mainnya kasar.”

Grace tertawa lepas. “Sori. Habisan….”

Cecil berbaring di samping Grace. “Grace… kita ini ngapain, sih?”

Grace diam lama. “Enggak tahu. Lu bukan lesbian, kan?”

“Lah lu juga bukan, kan?”

“Terus ini apa?”

“Yaah… gua suka aja cium-cium lu. Beda sama cium cowok.”

“Lebih lembut, ya? Lebih halus. Terus, kok, lebih nikmat, ya?”

Cecil tersenyum. “Setuju.”

Grace memeluk Cecil lalu meletakkan kepalanya di leher. Dia tidur.

Lampu menyala sekitar dua jam kemudian dan mereka lapar. Mereka keluar kontrakan dan menemukan seorang laki-laki sedang duduk di kontrakan samping. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum.

“Nunggu siapa, Mas?” tanya Grace.

“Oh, saya yang tinggal di sini. Kuncinya hilang jadi sedang tunggu Bapak Kontrakan.”

“Oh. Bukannya Bapak Kontrakan lagi di luar kota, ya?”

“Masa? Pantas dari tadi ditelepon enggak diangkat. Aduh, gimana ini?”

“Kita mau makan, Mas. Ikut saja dulu. Nanti nginap di sini saja,” kata Grace.

Laki-laki itu mengangguk. Dia memperkenalkan diri sebagai Ben dan sejak hari itu mereka bertiga berteman baik.

Selesai dulu. Nanti dilanjut setelah chapter berikut kita kembali ke cerita Gilang yang mau nyodok Ica dan berusaha mendapatkan Linda. Tidak lupa menggoda Tante Yuli. Sibuk betul Gilang ini.

Bersambung…

Daftar Part