. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 8 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 8

0
305

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 8

Keesokan harinya Gilang dibangunkan Linda. Linda, A, dan B sudah rapi. Tinggal Gilang yang belum. Gilang mandi dan ketika keluar dari kamar mandi, dia melihat sudah ada sarapan pagi di meja makan. A dan B sudah duduk manis sementara Linda sedang membuat jeruk peras di dapur. Gilang duduk lalu melihat Tante Yuli masuk dari luar. Mulai sekarang kita panggil Bu Yuli pakai Tante, ya, biar lebih terasa.

Tante Yuli juga sudah cantik. Dia pakai baju terusan putih dengan tali bra yang kelihatan. Gilang senyum pada Tante Yuli dan dibalas dengan senyuman juga. Kemudian makanlah mereka. Waktu sarapan Gilang sering curi-curi pandang ke Tante Yuli. Tante Yuli sepertinya merasa kalau dia dilihati dan kadang suka salah tingkah.

Habis sarapan, A dan B pamit pulang. Mereka akan diantar sama Linda pakai mobil karena tidak ada kendaraan umum yang lewat rumahnya. Sementara itu Gilang pakai motor. Semua pamitan dan Gilang sengaja salaman sama si Tante belakangan. Dia ambil tangannya terus cium tangan kayak anak SD. Tapi betul-betul dicium pake bibir dan agak lama. Habis itu Gilang senyum ke Tante Yuli. Baru, deh, dia naik motor terus pulang. Eh, tapi belum selesai. Beberapa meter maju, si Gilang putar balik ke rumah Tante Yuli lagi. Tante Yuli heran lihat Gilang kembali ke rumah.

“Ada yang ketinggalan?” tanya Tante Yuli.

“Enggak, Tante, cuma ada yang kelupaan,” Gilang turun dari motor dan melepas helmnya. “Soal semalam maaf, ya, Tante. Saya kayaknya enggak sopan ngomong soal begituan sama Tante. Tapi pas kemarin ngobrol, kok, saya ngerasa kalau Tante itu orangnya nyaman banget dan kayak teman. Soalnya saya belakangan sering agak galau gitu, Tante, mikirin begituan. Tapi enggak mungkin, dong, cerita ke orang tua. Nanti saya digampar teflon. Mau cerita ke teman nanti dikira genit. Makanya cerita ke Tante. Soalnya Tante orangnya open minded. Maaf, ya, Tante.”

“Iya, enggak apa-apa. Memang enggak banyak, kok, orang yang bisa diajak ngobrol begitu.”

“Iya, Tante. Makasih. Jangan bilang ke Linda, ya. Malu saya.”

“Iya. Nanti kalau mau ada yang dicurhatin lagi boleh, kok,” kata Tante Yuli.

“Siap. Tante juga kalau lagi kangen Om terus Om enggak pulang boleh, kok, kontak saya. Nanti kita ngobrol,” kata Gilang santai sesantai-santainya santai.

“Iya,” kata Tante Yuli sambil ketawa. Tukaran nomor HP-lah mereka.

Gilang pamit lagi dan pulang dengan puas.

Sesampainya di rumah, Gilang langsung duduk di depan komputer buat bikin skripsi. Meskipun dia sedang dalam misi ngewe sebanyak-banyaknya, prioritas dia tetap cari kerja cepat. Makanya harus segera lulus.

Dua hari dia diam di rumah buat selesaikan skripsi, janjian sama dosen lalu bimbingan di kampus. Dia sengaja tidak kontak Ica karena sedang butuh fokus. Di kampus pun mereka tidak bertemu karena Ica sedang ada kuliah sedangkan Gilang cuma ketemu dosen. Gilang segera pulang dan mengerjakan revisian. Tengah malam selesai, dia tidur sebentar, bangun siang, terus ngelamun. Lalu dia terpikir Linda. Iseng-iseng dia SMS Linda buat ajak nonton.

“Siapa saja? Ayo, sih, lagi senggang juga,” jawab Linda.

“Baru ajak kamu doang, sih. Mau curhat soalnya. Tapi kalau mau ajak yang lain juga enggak apa-apa,” balas Gilang. Padahal dia tidak ada yang mau dicurhatin. Cuma mau speak-speak setan.

“Oh, ya, sudah, berdua saja.”

Lancar, pikir Gilang, tinggal cari topik curhat. Dia mandi, dandan yang ganteng, terus genjot motor ke mal tempat nonton. Linda sudah sampai. Si Linda ini enggak begitu cantik. Tapi enggak jelek. Kalau dikasih nilai, si Linda ini 7, Ica 6. Jadi Gilang lebih senang sama Linda. Cuma badan Linda gemuk. Enggak gemuk sampai gendut, sih. Yah, model-model Meghan Trainor atau Adele, deh. Jadi bukan gendut yang enggak sehat. Makanya Gilang suka langsung horny baru membayangkan isi baju Linda.

Mereka nonton berdua. Di tengah nonton, Gilang sengaja kalau ajak Linda bicara mulutnya didekatkan ke kuping Linda terus bisik-bisik. Dalihnya, sih, supaya enggak ribut, padahal dia pengin skinship sama Linda. Jadi pas Gilang bisik-bisik, tangannya menarik tangan Linda, terus bibirnya didekatkan ke telinga sampai menyentuh sedikit-sedikit.

Selesai nonton mereka makan fast food. Pas lagi makan, Gilang dapat SMS dari Ica.

“Ka, kangen. Kemana saja, sih?”

“Ada, Ca. Sori, ya. Sibuk skripsi. Lagian saya memang sengaja lagi ngehindarin kamu.”

“Kok, gitu?”

“Saya belum yakin bisa nahan diri kalau ketemu kamu lagi. Salah-salah nanti saya minta gituan lagi.”

“Kan, kemarin sudah diobrolin.”

“Iya, sih. Tapi tetap kayak ada yang ganjal, Ca. Takut nodain kamu.”

“Enggak apa-apa, Ka. Kan, udah Ica bilang. Kalaupun nanti terjadi hal-hal itu Ica siapain pengamannya, kok.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Ya, sudah, mau kapan?”

“Nanti sore juga boleh.”

“Malam, deh. Sekalian nginap. Oke?”

“Oke.”

Gilang nyengir kuda. Slot seks sudah diamankan. Sekarang fokus Linda.

“Mau curhat apa?” tanya Linda.

Matilah, Gilang lupa cari topik curhat. Dia ngulur waktu sambil ngunyah ayam goreng. “Enggak jadi, ah…. Pikir-pikir malu juga.”

“Ih, ngeselin, kan, sudah saya luangin waktu juga.”

“Ya, enggak gitu, Lin.”

“Eh, tapi kata Mama kamu punya pacar, kan? Kenapa enggak curhat ke pacar?”

Gilang dapat ide. “Ya, soalnya yang saya mau curhatin itu pacar saya ini.”

“Oh. Kenapa memang si pacar?”

“Itu dia… malu,” Gilang ngulur waktu lagi.

“Pulang, nih, lama-lama.”

“Eh, iya, iya. Jadi gini… saya lagi agak ill feel sama cewek saya. Soalnya dia sudah pernah gituan sama mantannya.”

“Terus?” kata Linda. Gilang memerhatikan ekspresi wajahnya dan Linda memasang tampang santai.

“Saya jadi agak sedikit canggung soalnya, kan, saya belum pernah. Terus dia sadar kalau saya canggung jadi dia tanya apa saya juga mau sama dia. Kagetlah saya.”

“Lah? Kenapa kaget? Oh, iya, kamu, mah, saleh, ya, anaknya?”

Malu Gilang dibilang begitu. Sudah berapa lama dia meninggalkan salat? Sampai lupa.

“Bukan gitu juga, sih. Sekarang saya mau tanya dulu. Kamu pernah enggak have sex sama pacar?”

“Belum.”

“Kenapa? Alasan agama? Jujur jawabnya.”

Linda diam lama. “Seks itu sakral, Lang. Bukan buat diobral. Kalau kita have sex sama seseorang, kita jadi punya ikatan batin sama dia. Menurut aku, sih, gitu.”

“Nah, sama. Makanya saya enggak mau.”

“Iya. Setuju. Terus kamu mau gimana?”

“Itu yang saya bingung. Pernah enggak kamu pengin banget cium pacar? Atau horny banget kalau lagi berdua? Jujur.”

Linda diam agak lama. “Pernah.”

“Terus kamu gimana?”

“Ya, kalau sampai ciuman, sih, sering. Tapi kalau lebih dari itu ditahan-tahan.”

“Itu yang enggak sehat katanya, Lin.” Gilang mulai bullshit dari sini. “Saya punya sepupu S3 psikologi di Jerman. Dia bilang mereka yang suka tahan-tahan dari hubungan badan sama pasangan, terus menikah, maka kemungkinan selingkuhya 90 persen lebih besar.”

“Kenapa?”

“Karena pas menikah terus merasakan seks, dia baru tahu enaknya. Kemungkinan besar dia bakal cari sensasi seks yang berbeda di luar pernikahan.”

“Asli?”

“Ya, kata penelitian, sih, gitu.”

“Lah, itu artis banyak yang cerai.”

Dong. Gilang sempat mati kutu. “Artis, mah, beda pergaulan. Memang sudah enggak sehat mereka, mah, pergaulannya juga. Ini, mah, buat orang biasa kayak kita.”

“Terus harus kayak gimana, dong?”

“Ya, jadi kita harus ngerasain seks dulu sebelum nikah.”

Linda diam. “Masa?”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu belum have sex sama pacar?”

“Saya mikir jauh. Semisal saya nikah sama dia terus saya belum nyobain seks sama orang lain, saya khawatir bakal selingkuh. Karena saya tahu saya orangnya lemah sama begituan. Kalau saya enggak nikah sama dia, harusnya saya enggak ada beban buat seks sama dia, tapi jatuhnya saya nodain dia, dong. Jadi kata sepupu saya, kita harus cari teman yang sepemikiran dan have sex-nya sama dia. Sama teman yang enggak punya ketertarikan sama kita. Supaya enggak ada ikatan batin yang bikin salah satu dari kita minta tanggung jawab.”

Ekspresi Linda mulai berubah. “Kamu ngajakin aku ngeseks?”

“Bukaaan,” Gilang ketahuan. “Kan, curhat. Cuma cari teman dengan pemikiran sama.”

Linda diam lagi. Ayam gorengnya tidak disentuh.

“Kata kamu pemikiran begitu gimana, Lin?” tanya Gilang.

“Masuk akal, sih.”

“Kan.”

“Tapi memang kamu mau sama aku?”

“Lah, memang kamu mau sama aku?”

“Enggak, sih.”

“Itu dia. Memang harus nyari yang sama-sama enggak mau. Jadi cuma murni seks doang. No feeling.”

“Friends with benefit, ya?”

“Ho oh. Tapi ini bukan berarti saya ngajak kamu, ya. Cuma curhat.”

“Iya.”

Dan mereka berpisah. Gilang enggak tahu kalau taktik dia itu bekerja atau tidak. Yang jelas dia sudah berusaha. Gilang merasa lelah ngomong begitu dengan Linda. Waktunya istirahat. Waktunya ketemu Ica.

Buat berikutnya kita ke Cecil dulu sedikit, ya, biar saya enggak lupa dengan kisahnya.

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler