. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 7 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 7

0
345

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 7

Kejadian dengan Ica membuat Gilang evaluasi serius. Apa yang salah dari omongannya ketika dia ajak Ica wikwik? Seingat Gilang, dia tidak mengucapkan satu kata pun yang menjurus ke pacaran. Sampai pusing dia mikirin itu dan akhirnya memutuskan bahwa dia harus lebih hati-hati lagi. Plus, karena Gilang jadi slek dengan Regina gara-gara Ica, Gilang memutuskan untuk tidak mengincar lagi anak kampus. Masalahnya sekarang Gilang mau tidak mau sudah jadi pacar Ica dan kabar itu beredar ke seluruh kampus.

Gilang sumpah tidak ada rasa sama Ica. Kejadian malam itu pure sange. Tidak lebih. Ica mukanya tidak jelek, sih, badannya juga B saja. Sebetulnya kalau Gilang jalan sama dia enggak malu-maluin amat. Cuma, ya, karena incaran dari awal Gilang itu si Regina, dia kecewa.

Tapi kemudian Gilang mencoba mencari sisi positifnya. Kalau dia punya pacar maka rutinitas ngewe tiap hari bisa dilakukan kembali. Jempol. Berhubung dia dan Regina jadi jauh, Gilang bertekad akan menghabisi Ica. Peduli amat dia dibilang cowok berengsek. Habis dia sudah apes.

Suatu hari, Gilang main di kosan Ica agak lama. Niatnya mencari titik ketertarikan sama Ica. Tapi tidak ketemu. Gilang cuma suka sama Ica kalau mereka lagi ciuman dan buka baju. Seharian itu Gilang menciumi Ica, memainkan dada dan vagina, membiarkan Ica mengulum jenderalnya sampai berkali-kali. Tapi tidak sampai ML. Gilang merasa si Ica masih agak takut buat ML. Karena Gilang sudah niat akan memakai Ica sampai puas, dia harus cari cara supaya Ica mau wikwik. Dia dapat ide.

Setelah makan siang yang agak telat karena jenderal Gilang kelamaan dikulum, sesi kelima apa keenam dimulai lagi. Ica sudah tahu kalau Gilang duduk di belakangnya lalu memeluk dan mencium leher, berarti dia minta jatah. Langsunglah Ica buka baju tanpa diberi komando. Mereka, seperti biasa, rebahan di kasur dengan Gilang di atas. Tidak ada satu senti pun di tubuh Ica yang belum pernah Gilang jelajahi dengan lidah. Kecual vagina. Masih belum siap dia menatap organ itu dari dekat. Ketika Gilang sedang memasukkan jarinya ke vagina Ica dan dikocok-kocok, si jenderal tidak kuat minta dimasukkan. Di sinilah Gilang melancarkan serangan.

“Ca, kalau saya sampai nempelin penis ke vagina kamu ingetin, ya,” kata Gilang.

“Kenapa, Ka?”

“Saya enggak mau kita sampai ML.”

“Kenapa?”

“Soalnya saya enggak mau ngerusak badan kamu. Karena kita, kan, belum tentu nikah.”

Ica diam lalu mengangguk. Gilang kemudian mengocok lagi vagina Ica sampai dia meronta-ronta keenakan. Lalu dia dengan sengaja menempelkan si jenderal di vagina Ica.

“Ka. Nempel.”

“Sori.”

Gilang menjauh lagi. Mereka berpelukan sambil ciuman dan Gilang nempelin lagi penisnya dengan sengaja. “Aduh,” kata Gilang.

“Kenapa?”

“Enggak kuat,” Gilang melepas pelukan dan duduk menjauh. “Sudahan saja.”

“Loh, tapi Kaka belum keluar.”

“Iya. Tapi takut enggak tahan terus saya masukkin.”

Ica diam lama. Gilang pura-pura pasang tidak enak.

“Aku sudah enggak virgin, kok, Ka.”

Gilang nyengir dalam hati. “Sama siapa?”

“Sama mantan aku di SMA.”

“Terus perasaan kamu gimana?”

“Ya… ada nyeselnya, sih.”

“Itu dia. Kalau misalkan kita ML terus nanti harus putus, kan, kamu tambah nyesel.”

“Enggak.”

“Kok, enggak.”

“Soalnya Ica sayang Kaka. Jadi kalaupun kita harus putus, Ica enggak bakalan nyesel.”

Gilang makin bahagia. “Beneran?”

“Memang Kaka mau ngajak putus?”

“Ya, enggak. Tapi, kan, kita masih muda. Kamu masih muda. Siapa yang tahu minggu depan kamu suka sama orang lain.”

“Enggak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Tapi pakai kondom. Saya enggak mau kenapa-kenapa.”

Ica senyum. “Iya, Ka. Khawatir banget, sih. Pertama kali, ya?”

“Iya. Kan, saya sudah cerita kalau ciuman saja belum pernah.”

“Iya. Ya, sudah, sekarang diemut dulu sampai keluar. Nanti beli kondom, ya.”

“Malu enggak, sih, kalau beli?”

“Ih. Ya, sudah, nanti Ica yang beli,” lalu Ica mengulum penis Gilang.

Sukses, cuuk!

Karena senang, Gilang jadi terangsang dua kali lipat dari biasanya. Lidah Ica seperti disihir jadi lebih nikmat mengenai penisnya. Tak lama, Gilang tidak kuat menahan muntahan jenderal. “Ca, mau keluar!”

Ica mau menarik kepalanya tapi Gilang menahannya. Dia mau crot di mulut. Ica kaget ketika sperma menyembur di mulut. Dia menelan sedikit dan terbatuk. Tapi Gilang tetap menahan kepalanya di penis dan menggerakkan pinggangnya maju mundur. Rasanya luar biasa. Ini sensasi baru lagi buat Gilang.

Setelah selesai, dia melepaskan kepala Ica dan jatuh keenakan. Ica lari ke kamar mandi untuk berkumur dan keluar dengan tampang bete. “Jangan di mulut, Ka. Enggak enak rasanya.”

“Oh. Sori. Habis enak banget. Di mana bolehnya?”

“Di badan saja kayak biasa.”

“Di muka, deh.”

“Ya, sudah. Di muka.”

Sukses besar!

Gilang pulang sekitar jam tiga dengan bahagia. Biarlah Regina lepas dari genggaman. Yang pasti dia bisa dapat seks tiap hari. Lalu dia sedikit down ketika memikirkan bahwa Ica adalah partner yang kurang hot. Memang dasar lelaki yang tidak bisa puas, Gilang memikirkan target baru untuk dikejar. Kemudian di otaknya terbersit satu nama, Linda, temannya sejak SMA. Mereka dulu satu ekskul drama di SMA dan masih sering ngobrol. Gilang ingat sekali kalau si Linda ini semok. Tampilannya, waktu Gilang tunjukkan fotonya ke saya, persis seperti Meghan Trainor. Cuma kulitnya enggak seputih itu. Membayangkannya Gilang senyam senyum sendiri. Dan Gilang memutuskan kalau Linda itu adalah target berikutnya.

Untuk bisa bertemu dengan Linda, Gilang harus pergi ke SMA lamanya. Kebetulan hari itu ekskul drama sedang latihan. Gilang tidak tahu apa Linda ada di sana atau tidak, yang jelas dia mau coba ke sana. Jadi dia tidak jadi pulang dan menggenjot motornya ke SMA. Memang dasar jodoh enggak kemana, Linda ada di SMA. Dia dan beberapa alumni lain sedang menonton anak-anak ekskul drama latihan.

Gilang disambut dengan baik karena dia sudah lama tidak datang. Langsunglah dia duduk di samping Linda. Kalau niat kita sudah mesum pasti perasaan jadi beda dan dengan cuma duduk sebelahan saja libido Gilang naik dan jenderal jadi setengah berdiri.

“Rumah kamu masih di daerah D itu, kan?” tanya Gilang.

“Masih, lah. Mau pindah kemana?”

“Sudah lama enggak ke sana.”

“Iya. Si Mamah suka nanya. Biasanya Gilang sama teman-teman kamu suka nginap. Pada kemana? Aku jawab sibuk ngampuslah.”

Linda ini anak orang kaya. Bapaknya Jaksa dan ibunya punya franchise salon yang sukses. Rumahnya ada di daerah pegunungan dan luas sekali. Karena dia anak semata wayang, dia dimanja sekali sampai-sampai dia dibuatkan satu bangunan khusus di belakang rumah buat kamarnya. Kamarnya dua lantai. Lantai bawah untuk nonton TV, lantai atas buat tidur. Anak-anak drama suka nginap di sana kalau lagi ada keperluan ramai-ramai.

“Iya, ah, nanti nginap di sana lagi. Boleh enggak?”

“Boleh. Mau sekarang juga boleh.”

“Asli? Ya, sudah, sekarang saja.”

“Boleh. Tuh, si A sama si B juga mau nginap. Bareng saja.”

Cih, padahal mau nginap sendirian. Tapi, ya, mana mungkin. Akhirnya Gilang dan A juga B memutuskan untuk menginap di rumah Linda. Tidak lupa, Gilang mengirimkan SMS ke orang rumahnya kalau dia tidak akan pulang. Jawaban ibunya adalah: “Jangan lupa salat.” Gilang tidak mengacuhkan pesan itu.

A dan B ini perempuan. Jadi laki-laki yang nginap hari itu cuma Gilang saja. Sesampainya di rumah Linda, Gilang disambut sama ibu Linda. Ibu Linda ini masih muda. Muda banget malah. Badannya tinggi, langsing berisi, tapi kulitnya sudah agak bergelambir. Ciri khas ibu-ibulah. Nanti saya share fotonya. Ibunya langsung akrab sama Gilang karena memang anak-anak drama sering nginap di sana. Dan karena Bapak Linda kerja di Jakarta, beliau jarang di rumah dan teman-teman Lindalah yang suka temani ibunya ngobrol. Ibu Linda ini kita namakan Yuli.

Habis kangen-kangenan sama Bu Yuli, Gilang, A, dan B meluncur ke kamar Linda. Ternyata kamarnya lagi direnovasi, jadi kamar yang asalnya di atas diturunkan ke bawah untuk sementara. Katanya Linda mau buat kamar mandi pribadi di atas. Dasar orang kaya. Karena cuma ada satu kamar, Gilang jadi tidak bisa tidur di sana. Dia harus tidur di ruang tengah rumah utama.

Gilang, Linda, A, dan B ngobrol sampai tengah malam. Ketika ngantuk, A dan B langsung rebahan di karpet. Gilang memutuskan untuk tidur juga. Speak-speak iblisnya harus menunggu karena dia tidak dapat momen berdua dengan Linda.

Ruang tengah rumah utama Linda luas dengan sofa putih tebal yang nyaman kalau ditiduri. Gilang akan tidur di sana. Sebetulnya ada kamar tamu tapi tidak ada TV dan Gilang mau nonton TV. Ruang tengah itu berdampingan dengan ruang makan. Waktu Gilang siap-siap tidur, Linda membawakan sebotol air dingin buat minum Gilang, terus dia hilang lagi ke kamar tamu dan mengambilkan bantal selimut. Dan dia kembali ke kamarnya.

Gilang menonton TV sambil mencari-cari cara untuk bisa ngewe dengan Linda. Lagi berpikir keras, Bu Yuli keluar kamar terus ke dapur. Dia lihat Gilang dan mengajaknya ngobrol.

“Sori, ya, Lang, kamarnya Linda lagi direnov.”

“Iya, Tante, enggak apa-apa.”

“Kok, anak-anak jarang ke sini sekarang? Pada sibuk pacaran, ya?”

“Sudah pada jauh, Tante. Kuliahnya ada yang di luar kota, di luar negeri.”

“Kalau kamu gimana? Sudah punya pacar?”

“Ada Tante.”

“Hebat. Linda juga sempat pacaran tapi enggak lama. Kayaknya cowoknya matre. Jadi Tante suruh putus.”

“Tante, mah, curigaan terus. Perasaan dulu juga Linda pernah punya pacar terus disuruh putus gara-gara Tante bilang dia matre.”

“Ya, habis memang iya. Cowok yang dekati dia matre semua. Yang enggak matre, ya, yang kayak kamu. Tapi kamu, mah, enggak mungkin pacaran sama Linda.”

Memang enggak mungkin. Gilang cuma mau nyodok saja.

“Om enggak pulang, Tante?”

“Sudah dua minggu enggak pulang,” Bu Yuli duduk di dapur.

“Enggak kangen, Tante?”

“Sudah biasa.”

Entah apa yang merasuki Gilang, dia tiba-tiba berkata. “Tante… mau tanya… tapi agak dewasa sedikit.”

“Apa?”

“Tante sama Om masih suka… gitu?”

Bu Yuli tertawa. “Ya, ampun, anak kecil.”

“Enggak, Tante. Saya ada obrolan sama sepupu-sepupu saya katanya orang yang sudah nikah lama suka jarang gituan karena berbagai alasan. Padahal menurut saya, seks itu harus dijaga. Soalnya ikatan batin kita sama seseorang itu dibangun di sana.”

“Uduh, ngomongnya kayak pakar.”

“Serius, Tante. Itu alasannya kenapa saya enggak mau diajak begituan sama pacar saya.”

“Kenapa?”

“Karena, satu: saya enggak mau merusak masa depan dia, dua: karena saya takut nanti saya bakal terikat batinnya sama dia dan enggak mau putus. Padahal di usia saya gini, kan, kita rentan gonta ganti pacar.”

Bu Yuli terbahak-bahak. Mungkin dia takjub bisa ngomongin hal begini sama anak kuliahan.

“Iya, sih, tapi kamu benar. Tante sama Om sudah jarang. Bukannya enggak mau, tapi mungkin kita sampai di titik jenuh. Makanya Om jarang pulang. Dia punya simpanan di ibukota.”

“Hah?”

“Serius. Linda juga tahu. Cuma main-main tapi. Kalau sudah capek dia pulang ke sini. Tapi cowok, kan, gitu tabiatnya. Enggak akan bisa setia. Nafsunya harus disalurkan. Kita sebagai istri cuma bisa memastikan dia tetap pulang ke rumah.”

“Kalau gitu Tante juga main cowok saja. Kan, banyak, tuh, arisan berondong.”

“Enggak, ah. Enggak kenal sama cowoknya.”

“Tante, saya punya rahasia. Saya sempat, loh, terpikir buat sewa PSK. Soalnya, kan, kayak Tante bilang, nafsu harus disalurkan. Nah, saya ini, mohon maaf, enggak bisa masturbasi. Jadi suka bingung harus gimana kalau lagi pengin.”

“Nah, loh, terus gimana?”

“Ya, suka uring-uringan sendiri. Mau sama pacar takut. Sewa PSK selain enggak punya uang takut mereka penyakitan. Enaknya, mah, sama yang kenal, ya, Tante. Ya, sama kayak Tante bilang.”

“Sudah, ah, sana tidur,” Bu Yuli berjalan menuju kamar.

Gilang rebahan di kursi dan tepat sebelum Bu Yuli masuk kamar, dia bilang, “Tante. Tante cantik banget hari ini. Mungkin karena jarang ketemu, ya, tapi, kok, kayak lebih bercahaya, ya?”

Bu Yuli diam lama sambil ngelihatin Gilang. Lalu dia senyum dan masuk kamar, “Tidur!”

Gilang tersenyum. Waktu itu dia tidak berpikir apa-apa. Setelah dewasa kini dia baru sadar kalau yang dia mainkan waktu itu adalah permainan pikiran. Dia meninggalkan pesan di otak Bu Yuli yang akan terbawa tidur. Pesannya apa? Obrolan seks dengan orang yang bukan pasangan dan pujian Gilang.

Kira-kira kalau sudah dikasih pesan otak kayak begitu, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Bersambung…

Daftar part

Cerita Terpopuler