. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 6 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 6

0
329

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 6

Oke, mari kita cerita Cecil sedikit dulu. Masih ingat, kan, kalau saya janjian sama Cecil di apartemennya? Kami janjian di hari Minggu jam dua siang. Pas saya datang ke apartemennya ternyata dia lagi di luar. Saya tunggu sekitar lima belas menit dan dia datang sambil nenteng tas olahraga besar. Dia baru pulang dari gym. Saya tanya apa tiap hari Minggu dia ke gym.

“Iya, tapi beda-beda gymnya. Kalau minggu pertama di gym apartemen cuma cardio sama angkat beban kecil-kecilan. Kalau minggu kedua latihan nyelam di kolam renang. Minggu ketiga lari paling enggak sepuluh kilo, dan kalau minggu keempat kayak gini saya squash atau badminton atau tenis atau apalah olahraga yang bareng-bareng.”

Pantas badannya sekel banget. Olahraganya gado-gado.

Apartemen dia ada di lantai sebelas dan lumayan luas buat perempuan yang tinggal sendiri. Ada dua kamar dan punya dapur besar. Waktu saya sama Cecil masuk ke apartemen, ada mbak yang datang tiap Minggu buat beres-beres. Biasanya kalau habis olahraga dia bakal langsung makan banyak dan tidur. Pengecualian hari itu, dia masak besar tapi enggak tidur karena saya datang. Saya minta maaf ganggu waktu dia tapi dia tidak masalah karena mau bikinkan asuransi buat ibunya juga.

Singkat cerita, setelah selesai saya urusi asuransinya, saya urusi juga asuransi keluarganya. Alhasil saya harus bolak balik beberapa kali buat ketemu dia dan keluarganya. Di pertemuan saya yang ketiga, dia mulai terbuka dan santai. Pertemuan seterusnya saya sudah dapat ijin buat naik ke apartemen dia di hari Minggu buat tunggu dia pulang dari gym. Jadi saya nongkrong di apartemen dia buat nyolong wifi sambil lihatin si mbak beres-beres.

Suatu hari karena Cecil pulang agak telat saya keliling apartemen dia lihat-lihat. Ada dua pigura foto di meja dekat jendela. Dua-duanya foto Cecil sama perempuan keturunan Tionghoa yang super cantik. Super. Waktu dia pulang saya tanya siapa perempuan itu.

“Teman dari kecil. Grace namanya,” jawab Cecil.

Grace adalah teman Cecil sejak kelas tiga SD. Grace ini partner in crime Cecil. Kalau Cecil orangnya cukup introvert, si Grace ini over-extrovert. Semua orang diajak ngobrol, semua diceritain, dan semua dicoba. Grace ini teman baik Cecil banget sampai-sampai dia semangat sekali kalau cerita soal dia. Cecil berubah jadi orang yang cerewet kalau berhubungan dengan Grace.

Grace, sama kayak Cecil, lahir di keluarga yang berada. Bapak Cecil dokter THT dan ibunya dosen. Bapak Grace adalah seorang profesor di kampus ibunya Cecil dan ibu Grace punya toko perlengkapan bayi yang maju. Mereka ketemu waktu Grace pindah ke SD Cecil. Mereka berteman dan mereka satu SMP, satu SMA, dan satu kuliahan. Cecil tertawa malu waktu dia bilang Grace adalah partner dia nonton bokep pertama kali waktu kelas lima SD. Karena obrolan dia sudah menjurus ke sana, maka saya tanya soal esek-esek lanjutan.

Pengalaman Cecil lebih berwarna dari pada Gilang. Cecil sudah sering nonton bokep waktu SD. Punya pacar pertama di SMP, dan ML pertama kali sama pacarnya di SMA. Karena pengalaman Cecil yang itu waktu dia masih underage jadi enggak saya share, ya. Dia juga enggak cerita detail kayak Gilang, sih, jadi enggak ada yang terlalu bisa diceritain ulang.

Lompat ke masa kuliah.

Cecil punya mimpi jadi dokter anak karena dia suka anak-anak. Grace pengin jadi dokter bedah. Bertemulah mereka dengan seorang cowok bernama Ben di kampus. Ben ini sefrekuensi dengan Cecil dan Grace jadi mereka ngegeng bertiga.

Nama Ben diingat dulu, ya. Kita kembali ke Cecil dan Grace.

Cecil dan Grace menyewa apartemen karena mereka kuliah di kampus jaket kuning. Ini pertama kalinya mereka tinggal berdua dan jauh dari orang tua. Mereka bahagia banget karena bisa bebas tanpa supervisi orang tua. Mereka sering pulang malam. Nonton bioskoplah, nongkrong di kafelah, dugemlah, pokoknya hal-hal yang anak muda banget. Suatu malam habis dugem, Grace dan Cecil minum alkohol terlalu banyak dan pulang dalam keadaan mabuk. Grace yang paling parah. Dia sampai harus dituntun jalannya kalau enggak dia sudah masuk apartemen orang lain.

Karena Cecil masih sedikit sadar, dia taruh Grace di kamar tapi terlalu malas buat jalan ke kamarnya sendiri. Jadilah dia tidur di kasur Grace. Dia terbangun karena mual dan haus. Waktu dia buka mata, ternyata Grace peluk dia waktu tidur. Cecil dengan perlahan melepas tangan Grace yang melingkar di peluknya lalu bangun. Tapi Grace menahannya. Grace menarik tangan Cecil, memaksanya untuk kembali tiduran lalu Grace memeluknya erat. Muka Cecil dan Grace cuma berjarak satu senti dan mata mereka saling tatap. Ada yang berbeda dari tatapan Grace. Lalu Grace maju dan mencium Cecil.

Cecil kaget. Dia mundur tapi Grace memeluknya lebih erat. Bibirnya menekan bibir Cecil dan entah karena efek alkohol atau setan yang lewat, Cecil akhirnya mencium Grace balik. Ini pertama kalinya Cecil mencium perempuan dan ternyata rasanya lebih enak dari ciuman sama laki-laki. Cecil mulai menikmati. Dia memeluk Grace balik dan membiarkan Grace naik ke atas tubuhnya.

Grace mulai memainkan lidahnya. Cecil menyambut baik lidah Grace. Tangan Grace masuk ke kaus Cecil dan meremas dadanya. Cecil membiarkannya dan menikmati sentuhan Grace. Grace mencium pipi Cecil, lalu menggigit lembut telinganya. Cecil mendesah. Tangan Cecil ikut meremas dada Grace dari luar baju. Ternyata begitu rasanya memegang payudara perempuan lain. Nikmat.

Mereka berciuman sampai sinar matahari menembus gorden apartemen dan alarm Grace berbunyi. Sudah jam enam. Berarti mereka berciuman selama hampir dua jam lebih.

Cecil lalu tidur di pelukan Grace. Mereka masih saling bertatapan.

“Lu mabuk, ya?” tanya Cecil.

“Semalam iya. Tapi sekarang enggak.”

Cecil ingin bertanya kenapa dia tiba-tiba menciumnya. Tapi dia urungkan niat itu, mencium bibir Grace dalam-dalam lalu bilang kalau dia haus dan pergi ambil minum. Malam itu dia bahagia tidak ada dua dan dia tidak tahu apa alasannya.

Tamat.

Nanti dilanjut. Sekarang kita balik ke cerita Gilang.

Regina yang jadi judes sama Gilang membuatnya heran. Tapi dia takut bertanya. Di kampus pun dia menghindari Ica karena Gilang takut untuk mengetahui apa Ica cerita soal insiden malam-malam itu ke Regina. Kalau iya, siapa tahu dia cerita sama orang lain juga. Gilang khawatir kalau dia bakal dapat predikat orang mesum. Jadi dia pura-pura kejadian malam itu tidak terjadi.

Gilang sekuat mungkin pergi ke arah lain kalau ada Ica. Di kelas pun dia duduk jauh-jauhan sama Regina. Sampai suatu hari ketika Gilang lagi susun skripsi di tengah hari hujan. HPnya bunyi dan dia dapat telepon dari Regina.

“Lang. Bisa ke kosan saya? Tapi jangan bilang siapa-siapa.”

Gilang menyanggupi. Hujan-hujan dia naik motor ke kosan Regina. Waktu sampai, muka Regina kecut sekali.

“Tutup pintunya,” kata Regina.

Gilang menutup pintu. Regina diam sambil menatap Gilang dengan galak. Kedua tangannya disilangkan.

“Ada apa, sih?”

“Kamu ngapain sama Ica waktu tidur di tempatnya?”

Nah, loh. Gilang speechless.

“Ngaku.”

“Memang Ica bilang apa?” tanya Gilang.

“Dia bilang kalian ciuman.”

Dag dug dag dug. Si Ica comel juga. “Ciuman?”

“Iya. Dia bilang kamu cium dia. Benar enggak?”

Gilang menyerah. “Iya.”

“Terus sekarang kamu cuekin dia apa maksudnya?”

“Aduh…,” akhirnya Gilang cerita. Memang dasar polos, Gilang bilang dia malu karena dia mengira Ica cerita sama Regina soal ciuman di kamar itu (padahal mereka lebih dari ciuman tapi karena Regina enggak tahu, Gilang tidak bilang). Terus Gilang takut Regina jadi judes gara-gara itu. Pokoknya perasaan Gilang complicated. Dia enggak mau dikira pervert sama Regina.

Regina kayak mau nangis dengarnya.

“Loh? Loh?” Gilang bingung.

“Sekarang kamu ke kamarnya. Ngomong sama dia. Jelasin kenapa kamu begini. Kasihan Ica. Kemarin dia curhat ke saya. Sana,” kata Regina. Galaknya hilang.

Gilang menurut. Dia keluar dari kamar Regina lalu ke kamar Ica. Ica membuka pintu lalu menangis.

“Kenapa, Ca?”

“Apa maksud Kaka kenapa? Ya, kalau pacar sendiri cuekin kita, gimana enggak sedih coba?” kata Ica.

Jeng, jeng, jeng. Sejak kapan Ica jadi pacar Gilang?

Di situ Gilang menyadari sesuatu. Bahwa ada miskonsepsi di masyarakat di mana kalau ada dua orang yang berciuman atau lebih, maka kedua orang itu adalah sepasang kekasih.

Masalahnya Gilang enggak suka sama Ica. Dia maunya sama Regina. Itu pun bukan buat pacaran, tapi buat wikwik doang. Gilang tidak mau pacaran.

Tidaaak!

Yah, kira-kira begitu isi hati Gilang.

Bersambung.


Daftar part

Cerita Terpopuler