. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 32 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 32

0
345

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 32

Gilang melongo ditanya Cecil. Dia diam lumayan lama sampai-sampai dikira stroke sama Cecil.

“Hei,” kata Cecil.

“Jangan bercanda, Dok.”

“Cecil.”

“Iya. Jangan bercanda.”

“Ini serius,” kata Cecil.

“Pindah agama enggak semudah itu. Sudah pikir baik-baik belum?”

Cecil tersenyum. “Berarti mau ya?”

Gilang diam lagi.

“Masih wacana, Lang. Tapi….”

“Pokoknya agama itu bukan buat main-main, Dok.”

Cecil menangguk. Dia tahu kalau Gilang itu anak yang beragama walaupun, yah, dia nakal. Cecil tidak memperpanjang obrolan soal itu.

**

Perkataan Cecil membuat Gilang kepikiran lumayan lama. Pikirannya teralihkan ketika Cecil memperkenalkannya ke temannya yang fotografer. Sebut saja namanya F. F ini sudah lama berkecimpung di dunia event terutama pernikahan sebagai fotografer tapi posisinya selalu freelancer yang nebeng ke kantor orang lain. Dia ingin sekali mandiri. Setelah ngobrol dengan Gilang, mereka sepakat untuk membuat Wedding Organizer sendiri.

Dua klien pertama mereka adalah saudara dan kenalan F. F punya banyak koneksi di dunia bisnis pernikahan jadi mudah sekali untuk mengatur semua pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan. Digabung dengan skill marketing Gilang, dua proyek yang berjarak dua bulan itu berjalan tanpa ada halangan sama sekali. Bahkan mereka mulai mengukuhkan usaha mereka dan menerima orderan-orderan baru.

Selain itu, usaha milk tea Gilang melaju ke langkah berikutnya. Si pemilik usaha milk tea ingin memperluas usahanya dan dia bicara dengan seorang investor yang menyuntikkan dana untuk membuat kafe. Kita namai si pengusaha milk tea ini M. M ngobrol dengan Gilang soal si investor dan mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menyewa sebuah tempat untuk dijadikan kafe. Konsep kafenya akan menjual milk tea, makanan ringan, mie instan, dan kopi. Tempatnya kecil tapi berada di dekat perkantoran. Menurut penilikan Gilang, usaha dia akan bisa maju di sana.

Jadi usaha Gilang sudah ada beberapa:

Rental mobil (sekarang sudah naik jadi 2 mobil yang disewakan)
Distributor milk tea (sekarang Gilang membayar orang untuk menggantikan dia mengantar milk tea karena dia sibuk mengurusi bisnisnya yang lain)
Dropshipper perlengkapan bayi (ini masih dipegang Gilang karena cuma lewat HP)
Merintis wedding organizer sama F
Merintis kafe sama M (bisnis ini masih bakar duit sekitar enam bulan tapi Gilang yakin usaha ini bisa menghasilkan)
Dan tentu saja ojol (walaupun frekuensinya berkurang jadi dua kali seminggu saja)
Waktu ngobrol sama Gilang setelah usaha-usaha dia mulai jalan (dalam hati ingin prospek lanjutan supaya buka asuransi lagi), Gilang bicara soal fase kehidupan yang dia sebut sebagai Gilang Rising no.2.

“Dulu waktu di Ibukota, gue enggak pernah salat. Kerjaannya ngewe doang. Tapi kerjaan lancar-lancar saja. Jadi dulu gue mikir buat apa gue ibadah kalau tanpa ibadah pun gue bisa dapat duit. Setelah dipikir-pikir sekarang, duit gue dulu cuma masuk terus keluar, masuk keluar. Terus duit gue, ya, enggak nambah-nambah. Duit tiap bulan yang didapat ya cuma segitu-segitu saja. Walaupun besar, sih, dan bisa nabung banyak.

“Dibandingkan setelah gue rajin ibadah dan salat, uang gue datangnya dari banyak pintu. Bukan cuma satu. Jadi waktu usaha gue mulai menjamur, gue berpikir bahwa jumlah ibadah kita itu paralel dengan jumlah pintu rejeki.

“Masalahnya… gue suka khilaf. Orang kalau sudah dikasih rejeki banyak suka lupa bersyukur,” kata Gilang.

Dan itu benar adanya. Saya pernah merasakannya dan Gilang pun kena teguran yang lumayan menyakitkan.

Seiring dengan bertambahnya bisnis Gilang, Gilang tidak bisa menampikan bahwa hal itu dibantu BANGET sama Cecil yang sering sekali membukakan jalan rejeki dia. Walaupun mereka sudah jarang ML, mereka tetap sering makan bersama, tidur bersama di apartemen Cecil. Tidurnya pakai telanjang. Tapi enggak ngapa-ngapain. Semenjak dia putus dari Sandra dan memutuskan untuk memacari Cecil, Gilang jadi tidak sesange dulu sama Cecil. Dia sekarang lebih menikmati momen-momen mereka ngobrol panjang sambil berpelukan. Atau mandi bareng. Atau makan bareng. Atau nonton bareng. Yah, kalau ciuman, sih, masih. Tapi ngewe sudah tidak pernah lagi.

Salatnya pun mulai keteteran lagi. Selain karena tidak ada yang mengingatkan lagi, Gilang juga sudah mulai sibuk dengan kerjaannya. Hampir tiap Sabtu selalu ada orderan wedding, setiap hari Gilang mengurusi dropshipping perlengkapan bayi, mampir ke kafe untuk cek karyawan dan progress, merawat kontak dengan perusahaan yang merental mobilnya, dan kalau ada waktu senggang, dia harus bergantian menjaga Kayla, mengurus ibunya, dan narik ojol.

Suatu hari, Gilang dapat order wedding seorang anak pengusaha hotel. Sehabis acara selesai, ada seorang laki-laki yang menghampiri Gilang. Ketika melihat wajah laki-laki itu, Gilang tahu kalau orang itu bukan orang yang baik-baik. Gilang menyebut laki-laki itu sebagai Setan Hidup. Si Setan ini marketing di hotel-hotel si bapak yang anaknya baru menikah ini. Perilaku si Setan persis waktu Gilang dulu. Dia naik ke jabatan yang tinggi sekarang karena ngewe sama manajer-manajer cewek di dunia perhotelan. Gilang tidak menjudge, tapi dia kurang suka sama Setan karena obrolan dia tidak pernah jauh dari seks dan sejenisnya.

Nah, si Setan ini punya proposal. Dia sekarang sedang mengelola hotel di Kampung Halaman yang punya ballroom cukup besar. Dia mau hotelnya jadi venue yang selalu ditawarkan Gilang dan M kalau ada yang order jasa mereka. Imbalannya 30% dari uang venue. Menggiurkan banget. Gilang berdiskusi dengan M dan akhirnya mereka deal.

Cecil mendengar kabar itu dan kebetulan sekali dia ada rekan dokter yang mau menikahkan anaknya. Gilang masuk dan menawarkan hotel Setan. Hotelnya memang bagus dan cocok dengan kelas orang kaya. Setelah deal dengan Gilang, si dokter dipertemukan dengan Setan. Deal juga dengan Setan. Anak dokter itu ternyata akan menikah dengan anak komisaris bank yang ternama di Indonesia. Jadilah pesta pernikahan yang buesar banget. Gilang harus menggandeng WO lain untuk menghandle vendor yang bejibun jumlahnya. Setan senang sekali dapat proyek besar.

Waktu Gilang hitung-hitung keuntungan dari proyek itu, uang bersih yang masuk adalah 200 juta kurang sedikit. Gilang dan M, juga Cecil, cengar cengir.

Singkat cerita, pernikahan itu berlangsung lancar. Akad nikah jam delapan, pestanya dibagi tiga sesi: jam sebelas sampai satu, sambung jam tiga sampai lima, sambung jam tujuh sampai sembilan. Selesai pernikahan, Gilang, M, Cecil, dan Setan masih nongkrong di hotel untuk ngobrol-ngobrol sambil mengawasi venue dibereskan.

Di situ M, yang ternyata dapat komisi besar dari hotel, mengajak mereka ke suatu tempat di daerah Kampung Halaman yang agak tinggi. Katanya dia biasa ke sana setelah ada proyek besar yang jebol. Gilang, M, dan Cecil mengikuti. Mereka dibawa ke sebuah dataran tinggi yang dingin kalau malam-malam. Gilang dan Cecil beberapa kali ke daerah itu karena banyak tempat makan yang enak. Tapi mereka tidak tahu kalau ada sebuah tempat yang bangunannya berupa gudang kumuh. Tapi luarnya saja. Dalamnya ternyata tempat karaoke dan dugem.

Waktu masuk, Gilang melihat lobinya megah sekali. Ada resepsionis perempuan di sana yang pakai baju seksi sekali. Setan sudah kenal sama mereka dan ngobrol sebentar. Lalu Gilang, M, dan Cecil dibawa ke sebuah ruangan dengan TV besar, mic untuk karaoke, dan tujuh, saya ulangi, TUJUH perempuan seksi-seksi.

“Dokter enggak apa-apa, kan, jadi penonton?” tanya Setan.

M, sih, senang-senang saja dijamu begitu, tapi Gilang merasa tidak nyaman. Sebelum melanjutkan, dia menarik Cecil ke lobi dan ngobrol.

“Kalau Dokter enggak suka, kita bisa pulang saja,” kata Gilang.

Cecil, jujur saja, sudah lama tidak ngewe, jadi dia ingin ngeseks dengan Gilang, tapi dia tidak mau di tempat itu. Cecil mengajak Gilang pulang.

Gilang ijin ke Setan dan M lalu berdua pulang. Tapi Setan membekali Gilang dan Cecil dengan lima botol bir. Di perjalanan, Gilang berbohong kepada ibunya dengan bilang dia sudah selesai dan akan makan-makan dengan Cecil dan M di apartemen Cecil. Supaya ibunya tidak curiga kalau dia berlama-lama malam-malam di apartemen Cecil. Biasanya dia pakai alasan narik ojol malam-malam kalau mau menginap di Cecil, tapi karena ibunya sudah tahu hari itu Gilang ada wedding, jadi alasan itu tidak bisa dipakai.

Sesampainya di apartemen, Cecil membuka satu botol bir dan menenggaknya. Gilang tidak berpengalaman meminum bir, tapi dia mau mencoba. Maka dia membuka satu botol juga dan mulai minum. Awalnya batuk-batuk, pahit, tidak enak. Lama-lama terbiasa dan Gilang minum satu botol lagi.

Dari sini ceritanya mulai agak ngawur karena Gilang tidak begitu ingat. Dia cuma menceritakan potongan-potongan yang saya harus isi dengan asumsi sendiri. Keterangan dari Cecil pun sedikit tidak lengkap karena, yah, baca saja terus. Kira-kira begini kejadiannya:

Setelah botol kedua, Gilang mulai horny tidak tertahankan. Tapi dia jaim tidak langsung menyerang Cecil. Cecil sendiri sudah mulai mabuk. Dia pun horny. Tapi dua-duanya jaim-jaiman soalnya sudah lama mereka tidak ngewe. Karena tidak ada yang mulai, Cecil kesal. Dia jadi marah-marah soal hal yang entah apa. Gilang ikut kesal karena, selain mabuk, dia merasa tidak punya salah. Keduanya mulai bentak-bentakan. Klimaksnya adalah ketika Cecil menampar Gilang.

Gilang mengamuk. Dia lempar kursi dan mendorong Cecil sampai jatuh. Dia cekik Cecil sampai Cecil susah napas. Ajaibnya, waktu dia cekik Cecil begitu, penisnya malah naik. Cecil juga bukannya kesakitan, dia malah ngos-ngosan seperti minta nambah.

Cecil meremas penis Gilang dengan keras dan membuat Gilang mengerang kesakitan. Cengkeraman Gilang di leher Cecil melonggar. Cecil lalu menampar Gilang dan menggulingkannya ke lantai. Dia cium Gilang dengan kasar dan dia gigit bibir Gilang. Gilang memberontak. Dia menjambak Cecil tapi Cecil malah mendesah keenakan. Dia membuka baju dan branya. Cecil mengambil kedua tangan Gilang dan menaruhnya di dada. Gilang meremasnya sekuat tenaga. Cecil mengeluarkan bunyi-bunyi nikmat dan badannya mulai naik turun di atas celana Gilang.

Gilang mendorong Cecil dan berdiri. Dia mencopot celananya dan menjejalkan penisnya ke mulut Cecil. Cecil mengulum penis Gilang dan Gilang menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan keras. Cecil tersedak dan terbatuk-batuk tapi mereka tidak berhenti. Cecil meremas pantat Gilang dengan keras.

Gilang mengambil botol ketiga dan membukanya. Dia mulai minum lagi dan menyiramkan isi botolnya ke muka Cecil. Cecil makin gila. Dia bangun dan melepas celananya. Gilang dia tampar lagi sampai sempoyongan dan jatuh ke kursi. Cecil naik ke atas kursi dan menempelkan vaginanya di wajah Gilang. Gilang menjilat vagina Cecil dan memeluknya. Dua-duanya mulai melenguh dan mendesah. Cecil menggerakkan pinggulnya dan menjambak rambut Gilang. Dia menyambar botol bir dari tangan Gilang, meminumnya lalu menyiram Gilang. Gilang menyeruput bir yang tumpah ke wajahnya. Cecil mengambil botol terakhir dan membukanya. Dia meminumnya sedikit tapi segera disambar Gilang. Gilang menenggaknya sampai habis.

Ingatan Gilang berhenti di situ.

Yang Cecil ingat, Gilang jatuh ke lantai dan muntah. Dia batuk-batuk dan napasnya sesak. Gilang berdiri tapi jatuh ke kursi. Muntah sekali lagi dan ambruk ke lantai. Cecil yang setengah sadar tahu apa yang terjadi pada Gilang tapi dia tidak bisa berpikir jernih. Cecil ingat dia pakai baju dan sudah sampai di situ.

**

Hal berikutnya yang Gilang ingat adalah bangun di kamar rumah sakit. Waktu dia bangun sudah ada ibunya di samping kasurnya. Mata ibunya sembap dan merah tapi wajahnya marah. Bukan marah, deng, tapi murka.

Kepala Gilang pusing bukan main waktu dia bangun. Dia melihat ibunya yang berwajah galak.

“Bu?” tanya Gilang.

Ibunya menunjuk ke kasur sebelah dan ada Cecil di sana. Cecil juga berwajah sedih, matanya sembap dan berair.

“Kamu habis ngapain?” kata ibunya Gilang. Nadanya bukan bertanya, tapi lebih ke pernyataan.

Gilang diam.

“Kamu ingat enggak kenapa kamu dibawa ke sini?” tanya ibunya.

Gilang diam. Sumpah dia tidak ingat.

“Dokter Cecil cerita kalau kalian-,” ibunya Gilang tidak bisa melanjutkan.

Anjir, kata Gilang dalam hati. Barulah dia ingat. Dia menoleh pada Cecil yang ternyata dirawat juga. Cecil cuma bisa menangis.

“Anak Ibu yang Ibu kira baik, saleh, pintar…,” ibunya nangis lagi.

Itu pertama kalinya Gilang melihat ibunya menangis karena dia. Hatinya hancur sehancur-hancurnya hancur. Remuk. Bubuk.

“Bu-.”

Sebelum sempat Gilang bicara, ibunya menampar dan memukul kepala Gilang berkali-kali. “Ibu salah gitu, ya, mendidik kamu? Kalau Bapak masih ada mau gimana, Gilang?”

Gilang langsung menangis. “Ampun, Bu.”

Cecil turun dari kasur dan mencoba melerai. “Bu.”

“Diam, Dok. Diam,” kata ibunya galak.

Cecil mematung.

“Kayla nanti tuntunannya siapa kalau kamu kayak gini, Gilang?” ibunya sesenggukkan.

Gilang tidak bisa menjawab.

“Ibu pulang. Kayla dititip paman.”

Ibu pergi tanpa bilang apa-apa lagi dan meninggalkan Gilang dan Cecil yang menangis. Gilang malu luar biasa. Bukan cuma itu, dia juga sedih, marah, kecewa, pokoknya semua-semua. Cecil diam lamaaa sekali. Dia juga tidak tahu harus bagaimana.

Gilang tidak bicara dengan Cecil dan Cecil pun menghabiskan sepanjang waktu dalam diam. Baru beberapa hari setelah kejadian itu Gilang tahu apa yang terjadi. Setelah sesi ngewe aneh sambil mabuk, Gilang keracunan alkohol dan pingsan. Cecil membawanya ke rumah sakit terdekat. Tapi karena dia juga mabuk, Cecil lupa memakaikan baju pada Gilang. Jadi Gilang dibawa ke rumah sakit tanpa baju dan cuma pakai celana yang sudah melorot. Untungnya Cecil sudah berpakaian lengkap. Waktu sampai di rumah sakit, Cecil ikut pingsan karena kelelahan menggotong Gilang. Jadi dua-duanya dirawat di kamar yang sama. Waktu Cecil ditanya suster, nomor telepon yang dikasih adalah nomor ibu Gilang.

Cecil dan Gilang boleh pulang sekitar jam dua siang. Cecil mengantar Gilang pulang tapi Gilang melarangnya untuk ikut masuk ke rumah. Gilang berjalan dengan jantung yang blag blig blug. Waktu masuk rumah, ibunya sedang menggendong Kayla sambil menangis. Rupanya ibunya menelepon Sandra untuk menceritakan soal Gilang. Lalu Sandra bilang kalau dia dan Gilang sudah tidak tunangan. Mati, anjay, mati. Gilang belum cerita soal itu ke ibu.

Ibunya menangis parah dan Gilang langsung sungkem di kaki ibunya.

Setelah ibu dan Gilang lumayan tenang, Gilang mengakui soal perilakunya semenjak dia kuliah sampai dia bertemu Cecil. Ibunya menangis berkali-kali dan di penghujung cerita ibu tidak bilang apa-apa dan membawa Kayla ke kamar.

Gilang depresi selama dua hari. Dia malas makan, malas ngapa-ngapain. Sampai Cecil datang di hari ketiga.

**

Cecil merasa bersalah sama Gilang. Dia ijin sakit selama tiga hari dari rumah sakit. Selama itu dia diam di apartemen sendirian. Dia takut untuk cerita sama Irma apalagi sama Ben. Jadi dia berdoa sekuat hati tapi hatinya tidak tenang. Di hari kedua, dia mendengar azan yang entah kenapa terdengar lebih keras.

Tidak punya ide lain, Cecil turun dari apartemen dan melihat jemaah yang salat magrib. Dia duduk di luar masjid sampai jamaah sepi dan tinggal imam yang tinggal. Cecil memberanikan diri mendekati imam yang masih duduk di masjid dan mengajaknya bicara. Entah kenapa, curhatan Cecil langsung mengalir. Tentunya sambil menangis. Si imam yang namanya kita samarkan menjadi I itu mendengarkan dengan sabar. Cecil menceritakan semua sampai keinginannya pindah agama. Mendengar itu, I berkata:

“Bukannya melarang, tapi kalau pindah agama karena laki-laki itu, menurut saya, kurang baik. Cinta beda dengan iman. Cinta mudah hilangnya. Menurut saya iman malah lebih mudah dirawat ketimbang cinta. Apa jaminannya orang yang Mbak cintai hari ini akan terus mencintai Mbak seterusnya? Akan jauh lebih buruk kalau sekarang masuk Islam terus nanti keluar lagi karena, amit-amit, cerai. Jadi menurut saya, akan lebih bijaksana kalau Mbak mengenal Islam dulu baru berpikir untuk pindah agama.”

Cecil tidak mengharapkan jawaban itu dan akhirnya pulang dengan sedikit kecewa. Tapi waktu dia tidur malam itu, dia terbangun pagi hari dengan jawaban di kepalanya.

Cecil datang ke rumah Gilang dan bertemu dengan ibunya. Ibu Gilang tidak langsung mempersilakan Cecil masuk seperti biasanya. Mereka berbicara di teras. Di situ Cecil menyampaikan permintaan maafnya yang sebesar-besarnya dan menceritakan soal apa yang dia dan Gilang lalui, juga soal perasaannya pada Gilang.

Gilang keluar dari dalam rumah karena mendengar suara Cecil. Dia dan Cecil duduk di depan ibunya dan memberanikan diri menceritakan soal keinginan Cecil pindah agama.

“Jadi saya minta ijin ke Ibu, juga ke Gilang. Saya minta diajarin Islam. Saya pengin tahu lebih banyak. Sebelum nanti saya pindah memeluk Islam juga. Saya pengin belajar sama-sama Gilang karena saya tahu Gilang juga sedang dalam menuju perbaikan. Kalau nanti setelah dapat bimbingan dari Ibu dan Gilang, saya yakin masuk Islam, saya akan minta restu Ibu lagi. Nanti Ibu boleh nilai saya apa saya cukup baik buat Gilang.”

Dimohon-mohon sama dua orang ya mau enggak mau Ibunya Gilang luluh juga. Maka dia mengiyakan.

Dari situlah Gilang dan Cecil mulai serius. Gilang dan Cecil disuruh ikut kajian-kajian di masjid-masjid sama ibunya. Cecil memerhatikan caranya salat, cara puasa, cara mengaji dan sebagainya.

Ada satu kajian yang menyentil Gilang. Isinya soal pembagian rejeki. Kira-kira begini:

“Kenapa mereka-mereka yang hidup di Amerika sana kaya raya, sementara kita di sini yang mayoritas orang Islam pada susah? Pada mikir begitu enggak? Coba pikir begini. Ada ayat yang menyuruh manusia untuk beredar di muka bumi dan mencari rejeki. Jadi Allah sudah menyediakan rejeki di luar sana untuk diambil sama siapa saja. Tergantung usahanya. Jadi ibadah dan rejeki itu beda urusan. Hanya saja ibadah itu bisa dipakai sebagai pelumas dan pendorong kita untuk menjadi lebih rajin dan teratur. Kalau ibadah rajin apalagi kerja. Kan, begitu. Bedanya nanti kita masuk surge, mereka masuk surganya mereka. Surganya mereka ada apa enggak menurut kita?”

Kalau Cecil selalu ingat satu kajian. Dia ingat karena waktu itu dia bimbang soal apakah dia memang siap pindah agama. Dan apakah memang Islam itu agama yang tepat. Isinya begini:

“Kan, sudah ada ayat yang mengatakan lihatlah ke sekeliling dan akan kalian lihat bukti Allah di sana. Kita napas pun sudah bukti. Kalau para ilmuwan bilang itu hasil evolusi, saya tanya siapa yang membuat evolusi? Kalau ilmuwan bilang tubuh ini bergerak karena system, siapa yang bikin system itu? Allah ada di setiap aliran darah kita karena Allah yang menggerakkan itu.”

Jadi setiap Cecil bernapas atau melihat sesuatu di alam sana, dia teringat ceramah itu dan ingat Allah.

Hasilnya gimana: tanggal 21 Desember 2019 kemarin Cecil dan Gilang menikah.

Setelah itu semua bisnis Gilang masih dijalankan tapi kalau ditanya apa profesinya, Gilang bakal jawab sopir ojol. Karena buat Gilang profesi sopir ojol itu adalah jangkar supaya dia tetap bersyukur dan tidak takabur sama harta. Menjadi sopir ojol membuatnya bisa bersyukur setiap hari bisa diberi kenikmatan rejeki.

Ceritanya selesai di sini dan sebagai penutup, saya mau bilang kalau cerita ini saya bagikan karena menurut saya ini kisah menarik dan inspiratif. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan membacanya. Saya tahu kalau isu yang diangkat di cerita ini cukup sensitif dan semoga bisa diambil hikmahnya saja dalam kehidupan.

Salam.

Tamat

Daftar Part