. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 31 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 31

0
224

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 31

Waktu saya iseng tanya Cecil apa yang dia sukai dari Gilang, jawabannya adalah: “Waktu pertama kali dia bawa Kayla ke rumah sakit, saya sudah mulai menaruh perhatian. Soalnya enggak banyak laki-laki muda yang bawa bayi sendirian. Saya pikir orang ini orang baik-baik karena mau menjaga anak bayi. Awalnya bertanya-tanya ke mana ibunya dan setelah tahu ceritanya, saya makin kagum. Enggak ada satu orang pun kenalan saya yang akan melakukan apa yang Gilang lakukan kalau harus mengurus anak bayi seorang diri.”

Saya bertanya ke Gilang soal apa yang dia sukai dari Cecil. Jawabannya: “Dia itu teliti sekali sama Kayla. Dan baik banget sama gue. Dan, jujur, gue sudah kepincut waktu pertama kali kita pegangan tangan sampai akhirnya lanjut ke… tahulah. Habis itu gue selalu melihat perempuan lain dengan standar Cecil. Cuma setelah ngobrol sama lu, gue jadi kepikiran. Apa gue ngerasa begini hanya gara-gara gue udah pernah tidur sama dia?”

Intermezzo saja. Lanjut ke cerita.

Sandra menepati janjinya. Dia tidak menghubungi Gilang lamaa sekali. Gilang mulai kehilangan pesan-pesan pengingat salat dari Sandra. Tapi, Gilang tetap salat walaupun tidak diingatkan. Kepalanya terasa lebih ringan setelah dia mengaku kalau dia selingkuh dengan Cecil ke Sandra. Mungkin kemarin dia merasa stres karena menyimpan rahasia itu, dan ketika terbongkar, sakitnya pun sembuh dengan cepat.

Gilang pun menyadari kalau waktu vakum dari Sandra ini bisa dia pakai buat memikirkan sebenarnya apa, sih, yang dia mau?

Gilang memfokuskan bekerja. Selain rental mobil dan milk tea juga narik ojol, Gilang bertemu dengan seorang pemilik toko online yang menjual popok dan keperluan bayi. Namanya sebut saja H. Gilang yang selalu perlu dengan kebutuhan bayi segera mendekati H buat dapat produk dengan harga miring. Waktu ngobrol, H bilang akan kasih uang harga miring kalau Gilang bisa menjaring pelanggan sebanyak mungkin. Gilang pun menawarkan diri jadi dropshipper. Maka bertambahlah satu pekerjaan Gilang: jualan perlengkapan bayi.

Tugasnya cuma posting di story instagram dan facebook soal toko itu. Nanti kalau ada yang pesan ke Gilang, Gilang minta si H yang kirim barang. Keuntungannya? Harga jual ke pelanggan Gilang yang tentukan. Kadang-kadang Gilang bisa jual dengan harga lima ribu lebih mahal dan sekali pesan biasanya dia dapat keuntungan bersih 75 ribu per minggu di awal-awal pekerjaan. Lama-lama setelah tiga minggu, omset dia jadi 2 juta lebih per minggu.

Di situ Gilang berpikir bahwa kelancaran finansial dia itu berjalan lurus dengan kerajinannya salat. Dulu waktu dia indehoy sama Cecil, dia sempat lupa salat dan rejekinya tidak bertambah-tambah. Malahan kontrak rental mobilnya sempat ada wacana tidak diperpanjang karena si perusahaan yang sewa mau punya mobil dengan tahun yang lebih muda. Tahunya malah diperpanjang sampai setahun lagi. Rencananya, setelah kontrak sewa mobil itu selesai, dia mau ganti mobil dan tambah satu mobil supaya bisa dapat omset lebih besar.

Suatu waktu ketika dia salat, dia teringat Sandra dan merasa berterima kasih sekali sudah diingatkan untuk ibadah. Eh tapi, eh tapi, yang membukakan jalannya untuk rental mobil itu, kan, Cecil. Jeng jeng. Teringatlah lagi Gilang dengan Cecil. Terus dia ingat lagi kalau yang membukakan pintu usaha milk tea Gilang pun adalah Cecil. Makin teringatlah dengan Cecil. Lalu dia ingat Kayla dan segala jasa Cecil dalam perkembangan bayi itu. Makin dalamlah nama Cecil melekat di kepala Gilang.

Gilang yang waktu itu sedang di masjid, melamun lama. Apa ini jawaban dari doa-doanya?

**

Cecil menyibukkan diri juga dengan pekerjaan. Setiap pagi dia usahakan tidak melewati kantin karena dia belum siap bertemu Gilang. Entah apa yang akan dia lakukan kalau ketemu Gilang. Gilang itu sudah tunangan dan dia dengan lancangnya minta Gilang mempertimbangkan untuk memilih dia. Which is, (gaya anak Jaksel) tidak mungkin karena faktor usia dan agama. Cecil sempat memilih untuk menyerah.

Tapi waktu dia tidur di suatu malam, Cecil mimpi Gilang dan bangun dengan air mata. Dia menyadari kalau otaknya dipenuhi Gilang. Dia menyesali dirinya sendiri kenapa bisa sampai sesuka itu sama laki-laki. Padahal seharusnya dia kesal sama semua lelaki setelah kasus David dan Grace. Jadi kenapa dia bisa sebegitu bapernya sama Gilang? Ini di luar nalar, pikir Cecil. Dia harus introspeksi diri.

Cecil tidak meminta saran dari Ben karena dia tahu Ben pasti marah-marah pada perasaan Cecil. Dia juga tidak bicara dengan Irma karena Irma sudah dengan gamblang bilang kalau Cecil sudah punya keputusan. Dan keputusan itu sudah tidak bisa diganggu gugat. Jadi Cecil kabur ke gereja.

Cecil dibesarkan secara Protestan walaupun dia sendiri mengakui kalau dia bukanlah orang yang religius. Kedatangannya ke gereja bisa dibilang cuma satu kali setahun. Waktu natal saja. Kadang-kadang natal pun dia memilih di rumah sakit. Dia itu Protestan karena ikut keluarga saja.

Nah, waktu dia pusing memikirkan hidupnya, Cecil datang ke gereja yang kebetulan letaknya tidak jauh dari apartemen. Di sana dia ikut misa malam dan setelah selesai, dia merasa perasaannya tidak tambah lebih baik. Sebelum tidur, Cecil berdoa kepada Yesus. Waktu bangun dari tidur, perasaannya masih tidak enak.

Dia terbangun sekitar jam empat dan terdengar azan subuh dari masjid yang ada di belakang apartemen. Karena sudah tidak bisa tidur, dia bikin minuman (Cecil lupa minumannya apa) dan nongkrong di balkon apartemen. Dia melihat banyak orang yang berbondong-bondong ke masjid. Cecil memerhatikan mereka sampai salat berjamaah subuh selesai dan hari berubah terang.

Sambil bekerja, Cecil kepikiran terus soal orang-orang yang salat di masjid. Lalu dia ingat kalau dulu dia sempat iseng berdoa di masjid. Kalau boleh jujur, kata Cecil, hawa gereja dan masjid itu beda. Baunya saja beda, katanya. Kalau gereka lebih tenang dan lebih adem, masjid itu sunyi (Cecil sendiri susah mendeskripsikan beda tenang dan sunyi) jadi kalau berdoa terasa lebih khusyuk.

Otak stresnya berpikir apakah dia pindah Islam saja supaya bisa sama Gilang?

Tapi langsung diempaskan oleh sisi otaknya yang lain. Apa yang akan keluarganya katakan kalau dia sampai pindah agama?

Celakanya, pikiran pindah agama it uterus menghantui Cecil selama beberapa minggu.

**

Setelah sebulan lebih tidak ada kabar dari Sandra, akhirnya Gilang memberanikan diri untuk meneleponnya. Gilang yang sudah memutuskan jalan hidupnya harus memberi tahu Sandra supaya hubungan mereka tidak menggantung.

“Assalammualaikum.”

Deg. Waktu telepon diangkat, jantung Gilang langsung tahan napas.

“Waalaikumsalam. Apa kabar?”

“Sehat, Alhamdulillah. Mas apa kabar?”

“Sehat juga. Lagi sibuk?”

“Lagi beres-beres mau pulang kerja.”

“Saya mau bicara boleh?”

“Boleh.”

Nada bicara Sandra sama seperti biasanya. Seumur hidup Gilang kenal dengan Sandra, dia belum pernah mendengar nada bicara Sandra berubah jadi naik. Jadi Gilang belum pernah melihat Sandra marah. Dan sepertinya memang tidak akan pernah melihat dia marah.

“Saya sudah berpikir lama dan panjang,” kata Gilang, “dan akhirnya saya dapat keputusan. Sebetulnya ini lebih bagus kalau diomongin sambil bertemu muka tapi saya enggak yakin kamu mau ketemu saya.”

Sandra tidak menjawab tapi dia mendengarkan.

“Pertama-tama saya mau minta maaf lagi soal apa yang sudah terjadi. Saya malu. Saya juga merasa bingung dan pusing dan stres memikirkan soal kita. Tapi ternyata… setelah beberapa minggu ini saya salat dan berdoa, sepertinya jawaban sudah datang.”

Sandra masih mendengarkan. Gilang berhenti bicara dan merasa susah mengatakan apa yang dia ingin katakan. Perutnya seperti dikocok, jantungnya lompat-lompat tidak keruan, keringat dingin mengucur, dan gejala-gejala muntah terasa.

“Sudah tahu, kok, Mas,” kata Sandra tiba-tiba.

“Eh? Gimana?”

“Sudah tahu, kok, Mas, mau ngomong apa. Kalau memang susah dikatakan, enggak usah saja. Lagian saya juga sepertinya enggak kuat dengar keputusan, Mas,” kata Sandra.

Semua gejala di tubuh Gilang serasa menguap. “Serius?”

“Iya,” suara Sandra lembuuut sekali. Gilang merasa tubuhnya meleleh mendengar suara Sandra yang selalu terdengar baik. “Boleh saya pesan-pesan sama, Mas?”

“Boleh.”

“Jangan lupa salat, ya, Mas. Sekarang, berhubung Mas sepertinya bakal menghadapi cobaan baru lagi, maka salatnya ditambah sama yang sunnah. Doanya juga diperbanyak.”

“Iya.”

“Sama… titip salam sama Dokter Cecil. Saya enggak tahu rencana Mas sama Dokter Cecil kayak gimana, tapi kalian harus pikirkan matang-matang soal masa depan. Kalian berdua orang baik. Saya yakin. Orang baik pantas bahagia. Saya doakan Mas Gilang selalu bahagia. Pokoknya harus bahagia. Mas yang semangat usahanya supaya bisa terus bahagiakan Ibu. Restu ibu itu restu Allah. Jadi titip salam juga sama Ibu.”

“Iya.”

“Terus, saya habis ini mau hapus nomor telepon Mas Gilang. Maaf, ya, Mas. Mudah-mudahan Mas enggak ada perlu sama saya. Saya mau move on dengan cepat.”

“Iya, enggak apa-apa. Saya mau ketemu orang tua kamu dulu kalau boleh. Mau minta maaf dan….”

“Enggak perlu, Mas. Biar saya yang bilang ke orang tua saya. Mas pikirkan saja Ibu dan gimana bilang sama Ibunya.”

Gilang diam.

“Kita jalan masing-masing, ya, Mas. Kalau di masa depan kita ketemu lagi, mudah-mudahan kita sudah sama-sama bahagia.”

“Amin.”

“Sudah, ya, Mas. Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Telepon disudahi dan Gilang guling-guling di masjid. Dia tidak percaya kalau dia kenal dengan orang sebaik Sandra.

Hari itu saya dan Gilang ketemu di tempat makan mie dan waktu Gilang cerita soal Sandra, dia bertanya pada saya: “Apa keputusan gue melepas Sandra itu betul, Bro?”

Saya jawab, “Enggak tahu. Tapi yang jelas sekarang jalan menuju Sandra sudah tertutup. Tinggal maju di jalan Cecil.”

“Lu tahu kalau lu siap nikah sama istri lu yang sekarang itu gimana, sih? Gimana caranya kita tahu kita sudah siap nikah atau belum?”

“Enggak akan pernah tahu,” jawab saya jujur. Jujur banget karena waktu saya menikah dengan istri, saya pun sempat bimbang. “Kita enggak akan pernah siap buat pernikahan. Tapi kalau enggak dilakukan, ya, enggak akan pernah terjadi. Pernikahan itu harus terus dirawat dan dijaga.”

Gilang tampak tidak puas dengan jawaban saya. Tapi itulah yang bisa saya kasih ke dia.

**

Cecil yang sekarang terpikirkan untuk pindah agama supaya urusan dia dengan Gilang lebih mudah, sedang kalut. Hatinya bilang, “Pindah saja, toh, agama semua juga sama saja.” Tapi hati kecilnya bilang, “Pindah agama bukan perkara kecil. Banyak yang harus dipikirkan dan repotnya bakal sangat-sangat repot. Menyesal pasti nantinya.”

Sampai-sampai Cecil malas makan karena kepikiran hal itu.

Suatu pagi waktu dia datang ke rumah sakit, dia melihat Gilang yang sedang mengantar milk tea. Karena sudah lama sekali tidak bertemu, Cecil merasa kangen sekali dan menyerah sama perasaannya. Dia menyapa Gilang. Gilang menjawab dan mereka duduk di kursi di depan rumah sakit untuk ngobrol.

Obrolan mereka tidak penting sama sekali. Topik yang agak panjang muncul di topik pekerjaan. Gilang bilang kalau dia sekarang jadi dropshipper toko perlengkapan bayi. Uang tabungannya sudah lumayan banyak dan dia berencana berbisnis sendiri. Tapi bisnisnya entah apa, Gilang belum punya ide.

“Kalau jadi event organizer mau enggak?” tanya Cecil.

“Mau. Saya dulu, kan, kerjanya semacam itu.”

Ternyata Cecil punya teman fotografer pernikahan yang kerjanya lepas. Jadi dia nempel ke satu EO ke EO lain tanpa kejelasan. Dia itu ingin sekali punya nama EO sendiri tapi dia tidak punya skillnya.

“Mau dikenalin?”

“Mau, dong.”

Cecil menyanggupi.

“Dok?”

“Cecil.”

“Eh, iya, lupa. Cecil?”

“Ya?”

“Kenapa, sih, kalau sama kamu semua urusan saya cepat sekali beresnya?”

Cecil bingung.

“Kenapa, sih, saya enggak bisa banget mencoba jauh-jauh dari kamu?”

Cecil masih bingung.

“Kenapa, sih, saya maunya sama kamuu terus?”

Cecil akhirnya berkata, “Saya lebih tua, loh.”

“Tapi, kok, saya merasa itu enggak masalah, ya?”

“Saya… non-muslim.”

Gilang yang sekarang diam.

“Lang…,” kata Cecil.

“Ya?”

“Kalau saya pindah agama… kamu mau lamar saya yang sudah nenek-nenek ini?”

Bersambuuuuung~~

Daftar Part