. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 30 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 30

0
231

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 30

Gilang terbangun sekitar jam tiga subuh di kasur Cecil. Ini pertama kalinya dia bangun di samping perempuan dengan baju lengkap. Biasanya dia bangun tidur sama cewek itu pasti habis wikwik. Kali ini berbeda. Plus, tidurnya nyenyak luar biasa. Cecil masih tidur dengan pulas di sampingnya. Gilang berniat pulang ke rumah. Dia turun dari kasur dan menuju pintu kamar tapi dipanggil Cecil.

“Sori. Kebangun, ya?” tanya Gilang.

Cecil yang mengantuk duduk di kasur. “Kemalaman. Nginap di sini saja.”

“Kasihan Ibu sama Kayla cuma berdua di rumah.”

Cecil mengangguk. Dia turun dari kasur lalu membukakan pintu buat Gilang. Gilang keluar dari apartemen Cecil terus masuk ke lift. Dalam lift dia merenung. Cecil yang ngantuk-ngantuk begitu kecantikannya, kok, seperti bertambah 200%? Tanpa terasa si jenderal sudah tegak berdiri. Gilang menekan tombol lantai Cecil dan lift naik lagi. Gilang mengetuk pintu Cecil dan dibukakan.

“Enggak jadi pulang?”

“Mau….”

Cecil tersenyum lalu mempersilakan Gilang masuk. Mereka berjalan ke kamar dan ke kasur. Cecil menyambut Gilang yang menciumnya. Mereka rebahan sambil berciuman. Tangan Gilang tidak butuh waktu lama sampai meraba-raba punggung Cecil, turun ke pinggang, ke pantatnya yang kenyal dan pahanya yang keras berotot. Kulitnya masih terasa luar biasa mulus. Semua kesempurnaan Cecil untuk Gilang itulah yang membuatnya tidak bisa bertahan lama-lama dengan Cecil.

Cecil membuka kaus Gilang lalu membuka bajunya sendiri. Branya warna hitam. Gilang meremas payudara Cecil lalu Gilang mengembuskan napas berat. Gila. Gilang lemah banget kalau sama Cecil. Setiap senti badan dan setiap desahan napas Cecil membuatnya bernafsu tanpa kendali. Tapi dia tidak bisa buru-buru dan grasak grusuk seperti ke perempuan lain. Gilang ingin terus menikmati setiap jengkal dan setiap momen bersama Cecil, berharap momen itu tidak ada akhirnya.

Lidah mereka bermain di dalam mulut. Gilang mencopot bra Cecil dan menikmatinya dengan kedua tangannya. Diremas, dielus, diputar-putar putingnya. Cecil meremas pantat Gilang dan menariknya lebih dekat sehingga kulit mereka saling menempel. Rambut hitam dan bergelombang Cecil yang harum membuat Gilang semakin gila. Dia melepas celananya lalu merangkak naik, menyejajarkan penisnya dengan mulut Cecil. Cecil menerima pesan itu dan mengulum penis Gilang.

“Anjir,” gumam Gilang sambil meremas ujung kasur. Luar biasa enak. Dari sekian banyak perempuan yang pernah mengulum penisnya, Cecil yang paling nikmat. Tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.

Cecil menyeruput ujung penis Gilang, lalu mengulumnya dalam-dalam dan lidahnya mengitari penis Gilang yang sudah tegang maksimal. Dia menarik mulutnya, menjilat batang penis dan turun ke testis. Gilang bergidik tidak terkendali. Jenderal sudah siap menyerah. Gilang menahan kepala Cecil supaya tidak menyerah penisnya lagi. Cecil mendorong Gilang supaya rebahan dan dia mencopot celananya.

Cecil menunduk dan mencium Gilang. Satu tangan di samping kepala Gilang, dan satu tangan lainnya menngarahkan penis Gilang ke penisnya. Gilang tidak berdaya. Dia bahkan tidak punya keinginan untuk bergerak. Ketika penisnya masuk ke vagina Cecil, tubuhnya terasa panas dan dia memejamkan mata.

Cecil ikut menutup mata, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan desahan nikmat yang panjang. Cecil bergerak maju mundur dengan pelan. Gilang meremas payudara Cecil untuk menahan diri dari crot duluan. Cecil bergerak lebih cepat dan lebih teratur. Suaranya mulai terdengar keras.

“Fuck, fuck,” desah Cecil.

Tangan Gilang berpindah ke pinggang Cecil dan membuatnya bergerak naik turun. Desahan Cecil berubah menjadi suara nyaring. Cecil mencakar dada Gilang saking nikmatnya. Gilang akhirnya memutuskan untuk tidak terus berada di bawah. Dia menggulingkan Cecil dan menggenjotnya dari atas. Satu tangan menahan satu kaki Cecil agar terangkat dekat ke wajahnya. Dia menggenjot dengan kecepatan stabil.

Tidak lama, paling sekitar lima menit setelah itu, Gilang mencabut penisnya dan melepaskan muntahannya di paha Cecil. Gilang ngos-ngosan tapi rupanya Cecil masih sedikit belum puas. Dia bangun dan memeluk Gilang sambil menciumnya. Dia duduk di paha Gilang dan menggesek-gesekkan vaginanya.

“Diam, ya,” kata Cecil.

Gilang diam sementara Cecil bergerak maju mundur menggesekkan vaginanya ke kulit Gilang. Cecil merem melek dan mendesah. Melihatnya Gilang horny lagi. Keajaiban datang dan penisnya naik sedikit lagi. Cecil merasakannya.

“Mau masuk lagi?”

“Mau.”

Walaupun tidak berdiri penuh, penis Gilang berhasil masuk lagi ke vagina Cecil. Cecil mulai bergerak naik turun. Baru beberapa detik, jenderal sudah tidak tahan. Gilang mendorong Cecil tapi Cecil bertahan.

“Sebentar, sebentar,” kata Cecil dan dia menjerit enak.

Gilang menahan napas dan ketika Cecil jatuh ke kasur, barulah dia melepaskan crot kedua di perut Cecil.

Keduanya diam lama. Baru ketika ada pesan masuk ke HP Gilang, mereka bergerak. Cecil menarik selimut dan bersandar di kasur. Gilang mengambil HP-nya dan melihat ada pesan dari Sandra yang menyuruhnya salat subuh.

Gilang mengembuskan napas berat. Cecil tahu siapa yang mengirim pesan tapi dia tidak bilang apa-apa.

Gilang berpakaian lalu berdiri menatap Cecil lama.

Cecil tersenyum. “Enggak usah diomongin sekarang. Pulang dulu.”

**

Gilang pulang. Bilang ke ibunya kalau dia habis narik malam dan mau langsung tidur. Hari itu adalah hari pertama dari sekian lama Gilang tidak salat subuh dan akhirnya tidak salat seharian.

Hari itu pula Gilang menelepon saya untuk ketemuan. Di titk ini saya dan Gilang sudah sering ketemu. Selain untuk urusan asuransi, kami juga sering makan di berbagai warteg sambil ngobrol di sela-sela pekerjaan kami.

Kali itu Gilang mengajukan pertanyaan yang sangat relatable buat saya: “Pernah enggak, sih, kepikiran cewek sampai enggak bisa ngapa-ngapain sepanjang hari? Maunya sama diaaa terus. Ngeweee terus. Tapi bukan ngewenya yang dicari. Tapi keintimannya. Pas dipeluknya, pas diciumnya, pas lihat matanya.”

“Pernah,” saya jawab dengan jujur. “Saya punya mantan yang sampai sekarang masih bikin saya pusing. Kadang-kadang kalau lagi ingat suka kepikiran buat cari dia lagi terus berkhayal gimana rasanya bisa sama dia lagi.”

“Terus gimana?”

“Ya, kan, saya sudah nikah. Ya, saya ignore aja perasaan itu.”

Gilang kayak kecewa dengan jawaban saya. Saya tahu kalau si Gilang itu lagi bimbang soal Cecil dan Sandra. Dari yang dia ceritakan, Gilang serius sama Sandra, tapi di sisi lain Cecil mempunya efek yang luar biasa dahsyat buat dia.

“Seksnya, Lang,” kata saya.

“Kenapa dengan seksnya?”

“Alasan kenapa saya enggak bisa lupain mantan saya itu soalnya saya pernah ML sama dia dan pakai perasaan yang menurut saya cukup dalam. Itu yang bikin saya suka susah move on dan suka mau balik ke masa lalu.”

Gilang setuju. Buatnya seks dengan Cecil berbeda dengan seks dengan perempuan lain.

“Kalau disuruh milih, saya bakal milih Cecil,” kata saya bercanda. Jujur tapinya soalnya saya suka sama cewek yang putih mulus macam Cecil. Sandra juga cantik, sih, tapi cewek kayak dia bukan buat dientup, tapi buat dijadiin istri, haha.

“Setuju,” kata Gilang. Saya kaget. Saya tidak menyangka kalau dia bakal memilih Cecil yang jauh lebih tua dan berbeda agama.

**

Di sisi lain, Cecil yang sudah menyerah ngobrol sama Ben dan Irma, mulai memikirkan soal hidupnya tanpa berkonsultasi. Masalah ini harus dia hadapi sendirian. Karena Irma benar, dia sudah tahu apa yang dia mau. Tinggal eksekusinya.

Satu poin yang Cecil yakin sekali dalam hidupnya adalah: dia tidak mau membagi Gilang dengan siapa pun.

Cecil mampir ke gereja. Sudah lama sekali dia tidak ke gereja. Dia berdoa di sana minta dibukakan jalan. Sepulang dari gereja, dia mendengar azan dari masjid di dekat apartemen. Iseng, dia berjalan ke masjid dan melihat orang-orang yang salat berjamaah di sana. Setelah bapak-bapak yang salat berjamaah selesai, Cecil iseng masuk ke dalam masjid dan duduk di sana.

Dia diam lumayan lama lalu memejamkan mata. Dia berdoa minta dibukakan jalan.

**

Hari-hari Gilang serasa kacau balau. Narik ojol sering gagal dapat penumpang bahkan sempat nyasar beberapa kali. Orderan milk tea, walaupun masih stabil, tapi Gilang merasa bosan. Ada kabar dari mobil rentalnya soal servis berkala. Gilang malas sekali mengurusi semuanya. Dia tidak ada hasrat untuk melakukan apa pun. Otaknya berputar di Cecil, Cecil, dan Cecil.

Bahkan ketika dia ngobrol dengan Sandra lewat video call, telepon, chat, pikiran Gilang tetap nyangkut di Cecil.

Selama sekitar dua bulanan dia hidup tidak keruan, datanglah Sandra ke rumah. Dia sepertinya punya feeling kalau ada sesuatu yang salah dengan Gilang. Kebetulan Gilang lagi tidak enak badan dan mereka bertemu di rumah Gilang.

Gilang merasa malu bertemu Sandra. Apalagi waktu melihat Sandra mengenakan cincin yang diserahkan waktu lamaran. Setelah ngobrol ngalor ngidul selama beberapa saat, Sandra bilang, “Mas, kalau ada yang mau dibilang, bilang saja.”

Kata-katanya sederhana tapi berefek besar buat Gilang dan psikisnya yang sedang kacau. Gilang menangis di depan Sandra. Tapi Gilang belum bisa bilang soal Cecil ke Sandra. Malu, takut, dan segala macam.

“Pelan-pelan saja, Mas. Enggak usah hari ini,” kata Sandra menenangkan.

Sandra pamit hari itu juga untuk pulang ke Ibukota. Gilang makin stres. Dalam stresnya ini, Gilang semakin lupa dengan ibadahnya. Kerjanya sembarangan. Tidur tidak tentu. Otaknya terus-terusan memikirkan Cecil dan Sandra.

Lagi-lagi, karena sudah tidak tahan dengan pikirannya yang dipenuhi Cecil, dia datang ke RS waktu Cecil praktik dan masuk ke ruang praktik dia waktu istirahat.

“Ada apa?” tanya Cecil.

Gilang sudah kayak orang kerasukan pokoknya. “Kepikiran terus. Enggak bisa lepas.”

Cecil tahu apa yang harus dilakukan. Dia berdiri, membuka semua kancing kemejanya dan menyuruh Gilang memfotonya. Gilang menurut. Dia pamit lalu ke toilet. Dia coli di sana. Baru dia bisa fokus kerja lagi.

Pulang ke rumah, Gilang merasa dia diguna-guna Cecil. Belum pernah dia merasa setergila-gila ini sama perempuan. Iseng, dia bertanya ke ibunya apa ada orang pintar di sekitar komplek. Ada, katanya. Sebut saja Pak M. Pak M ini sering didatangi orang-orang yang mau jadi calon pejabat, minta petunjuk dan doa-doa.

Suatu hari, Gilang datang ke Pak M untuk bertanya apa ada guna-guna atau pelet yang menempel di Gilang. Kata Pak M, sambil tertawa, “Enggak ada, Mas. Memang kenapa?”

Gilang cerita soal dia yang enggak bisa mengeluarkan Cecil dari otaknya (walaupun dia tidak menyebutkan nama Cecil). Pak M tertawa lagi. “Itu jatuh cinta namanya.”

Gilang makin pusing.

**

Makin lama, Cecil makin sering mengirimkan foto telanjang ke Gilang dan Gilang secara rutin coli sambil melihat foto kalau dia tidak bisa ketemu Cecil. Semakin lama pula Gilang semakin pusing memikirkan Sandra.

Suatu malam, Gilang datang ke apartemen Cecil malam-malam dan bilang kalau dia horny tidak tertahankan. Sialnya Cecil lagi datang bulan. Jadi Cecil mengocok penis Gilang sampai crot. Di situ Gilang menceritakan soal Sandra dan pertunangannya ke Cecil. Bagaimana Cecil membuat dunia Gilang menjadi kacau balau.

Cecil terdiam mendengarnya. Setelah Gilang selesai, Cecil masih diam.

“Maaf, ya, Dok. Saya juga enggak ngerti kenapa saya begini,” kata Gilang.

“Panggil Cecil saja, Lang. Kita sudah ngewe sering tapi masih panggil Dok, Dok, terus.”

“Sori. Kebiasaan.”

“Kamu maunya gimana?”

“Maunya?”

“Mau sama Sandra?”

Gilang tidak bisa menjawab.

“Aku mau jujur-jujuran,” Cecil mulai bicara. “Aku merasa kalau kamu ini orang yang tepat. Bukan…. Yang aku mau. Makanya… makanya aku mau kamu apa-apain. Padahal… aku punya trauma sama laki-laki.”

Cecil menceritakan soal dia, Grace, dan David. Lalu dia juga cerita soal pertemuan dia, Ben, istri Ben, dan Irma beberapa hari lalu ketika dia dan Gilang pertama kali tidur sama-sama. Gilang mendengarnya dengan tegang.

“Jadi…,” kata Cecil mengakhiri ceritanya dengan kata yang menggantung.

Gilang menunggu Cecil untuk menyelesaikan kalimatnya tapi Cecil malah diam. Gilang yang akhirnya bicara, “Saya juga bukan orang baik-baik, Dok. Tahu, kan, saya pernah bilang.”

Giliran Gilang yang cerita soal masa lalunya yang fakboi.

Cecil tersenyum lalu tertawa kecil ketika mendengarnya. Setelah selesai cerita, keduanya diam.

“Terus kita mau gimana?” tanya Cecil.

Gilang tidak menjawab.

“Aku lebih tua. Terus kamu enggak pernah bisa panggil nama aku,” kata Cecil setengah bercanda dan membuat Gilang tersenyum.

Gilang menggelengkan kepala.

Cecil tersenyum tapi matanya berair dan menangis. Buru-buru dia menyeka air matanya.

“Dok…,” Gilang tidak enak melihat Cecil menangis.

“Sori. Aku itu bukan orang yang lemah. Aku belum pernah nangis di depan laki-laki. Tapi…,” Cecil menangis betulan sekarang, “tapi aku tahu kalau aku mau kamu banget, Lang. Sampai-sampai sakit…,” Cecil menepuk dadanya pelan tapi dengan tenaga, “sakit kalau mikirin kamu sudah tunangan….”

Gilang ikut sedih.

“Aku tahu kamu sudah tunangan. Aku tahu sudah merusak masa depan yang sedang kamu rencanakan. Tapi maaf, sumpah, ini, mah. Aku maunya kamu,” Cecil menangis sesenggukkan tapi dia masih berusaha tersenyum supaya terlihat kuat oleh Gilang.

Gilang tidak bisa berkata-kata.

“Aku ngerti kalau pada akhirnya kamu bakal tetap memilih Sandra…,” Cecil masih berusaha tersenyum tapi terus menangis. “Tapi… mungkin enggak… mungkin… mungkin enggak, sih,…. Apa ada kemungkinan yang paling kecil sekali pun… kamu bakal milih aku?”

Gilang serasa pengin nyemplung ke jurang paling dalam. Enggak usah naik lagi, deh. Biar saja di sana. Pertanyaan Cecil itu… Gilang tahu jawabannya, tapi dia tidak bisa menjawab. Ya, pikir saja. Cecil lebih tua jauh, sekitar sembilan atau sepuluh tahun lebih tua. Mereka berbeda agama. Dan Gilang sudah tunangan sama Sandra. Sandra itu seiman, berjilbab, orang tuanya baik-baik, dan secara logika Gilang harusnya menikah sama Sandra. NO QUESTIONS ASKED!

Tapi ketika dia naik motor pulang ke rumah dari apartemen Cecil, Gilang mendengar hatinya yang paling kecil berkata kalau dia juga maunya sama Cecil saja.

Sampai di rumah, Gilang mandi terus ngobrol sama ibunya. Di tengah obrolan, Gilang pengin sekali menceritakan soal kegelisahannya. Tapi dia terlalu takut sampai akhirnya tidak jadi bercerita.

Gilang, seperti biasa kalau terlalu stres, dia demam tinggi. Kata dokter dia tifus dan harus diopname. Dia dirawat inap, untungnya, bukan di RS Cecil. Gilang menghindari menghubungi Cecil dan Sandra. Sialnya, ibunya menelepon Sandra dan Sandra datang menjenguk di hari ketiga dan menginap di RS.

Ibu Gilang, tahu ada Sandra yang menjaga Gilang, pulang untuk mengurus Kayla.

Jam sembilan malam ketika lampu RS sudah dimatikan, Gilang menatap Sandra yang sedang salat. Lamaaaa sekali. Gilang pengin sekali mengatakan apa yang membuat otaknya penuh belakangan ini. Tapi terlalu takut dan malu. Ketika Sandra selesai salat, dia melipat alat salat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Gilang. Dengan lembut, Sandra menatap Gilang sambil senyum.

“Mas, boleh diceritakan sekarang apa yang ada di pikiran, Mas?” tanya Sandra.

Dag dug dag dug dag dug duar. Jantung Gilang berdegup kencang sekali.

“Sebetulnya saya pikir saya tahu apa yang sebenarnya Mas pikirkan. Tapi takut salah. Jadi bakal lebih baik kalau Mas yang bilang.”

Gilang keringat dingin.

Sandra menatap Gilang lamaaa banget dan mereka saling lihat-lihatan. Gilang masih belum bisa berkata-kata.

Mata Sandra berkaca-kaca. Tangannya melap air matanya sebelum jatuh. Sandra tersenyum. “Mas….”

Gilang menahan napas.

“Dokter Cecil, ya?” tanya Sandra.

Semua pertahanan Gilang hancur lebur. Sandra melihat perubahan di wajah Gilang dan menyadari kalau dia benar. Sandra menangis di depan Gilang.

“Sudah ngapain saja?” tanya Sandra sambil menangis. Mukanya ditutup kedua tangan.

Gilang tidak bisa bilang.

“Saya dengar dari teman kantor kalau Mas juga pernah ada affair sama Bu Wita. Betul, Mas?”

Gilang diam.

“Saya percaya sama teman kantor tapi saya yakin Mas sudah berubah sekarang. Tapi waktu ngobrol sama Ibu, kata Ibu, Mas sekarang jadi sering sama Dokter Cecil. Kata Ibu, sih, ngurusin kerjaan. Tapi, kok, hati saya ragu kalau Mas sama Dokter Cecil cuma teman…. Mas sudah ngapain saja sama dia?”

Gilang tidak bisa jawab apa pun. Dia sibuk menyeka air mata.

Sandra menatapnya dalam-dalam. “Apa saya harus begitu juga?”

Gilang bingung.

“Jawab, Mas.”

“Apa?”

“Apa saya juga harus buka baju depan Mas terus kasih keperawanan saya supaya Mas bisa serius sama saya?”

Gilang serasa dipukul kanan kiri sama petinju. Gilang jadi ikut menangis. Dia turun dari kasur dan berlutut di depan Sandra. Sambil menangis, dia memeluk kaki Sandra dan meminta maaf. Berkali-kali dia meminta maaf. Sesenggukkan Gilang menangis di kaki Sandra sambil terus menerus mengucap maaf.

Sandra menepuk-nepuk punggung Gilang dan satu tangannya mengusap rambut. “Kenapa Mas yang jadi nangis lebih kencang?”

Gilang tahu Sandra bercanda tapi dia tidak tertawa. Sandra masih terus mengusap punggung Gilang.

“Besok pagi saya pulang, ya, Mas,” suara Sandra menjadi lembut lagi seperti biasanya. “Mas jangan lupa salatnya, ya. Jangan ditinggalin barang satu waktu pun. Terus berdoa pokoknya. Jangan hubungi saya dulu. Saya butuh waktu sendirian. Nanti, kalau Mas sudah tenang, sudah mantap, baru telepon saya. Bilang ke saya apa keputusan Mas Gilang. Tapi mohon maaf. Saya enggak janji kalau nanti saya akan angkat teleponnya atau enggak. Saya enggak tahu apa nanti saya sudah bisa ikhlas atau belum. Tapi telepon saja. Mungkin saya duluan yang telepon Mas Gilang. Ketahuilah kalau saya yang hari ini sayang sama Mas Gilang.”

“Saya juga sayang,” kata Gilang.

“Iya,” Sandra mengangguk.

Sandra membantu Gilang naik ke kasurnya lagi dan dia menutup mata untuk tidur.

Besoknya, kata Ibu, Sandra pamit pulang sekitar jam 6 pagi. Katanya dia tidak mau membangunkan Gilang jadi dia pamit ke Ibu saja. Gilang mengangguk. Dia sudah jauh lebih tenang dan bisa berpikir dengan jernih.

“Saya belum salat subuh, Bu. Kalau salat sekarang boleh?” waktu itu jam delapan pagi.

“Boleh. Salat saja,” kata Ibu.

Gilang belum pernah salat sekhusyuk itu dalam hidupnya.

Ceritanya hampir selesaaaai.

Cerita orang aslinya sendiri sudah rampung di tanggal 21 Desember 2019 kemarin jadi ane mau beresin ni cerita buru buru juga.

Di sini ane pengen banget ketemu Sandra buat ngobrol soal apa yang dia lakuin sepulang dari RS. Apa yang dirasain Sandra. Pokoknya cari tau lebih banyak, deh. Cuma sayang enggak bisa ketemu orangnya haha.

Diusahakan 2 chapter lagi selesai! Semangat!

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler