. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 29 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 29

0
253

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 29

Kalimat pertama yang dikatakan Gilang waktu dia cerita soal apa yang terjadi di apartemen Cecil adalah: “Man, bayangkan seks yang paling enak yang pernah lu rasain. Ini rasanya lebih dari itu.”

Waktu pintu apartemen Cecil ditutup, Gilang dan Cecil tidak langsung saling caplok. Mereka diam dulu di depan pintu. Cecil menaruh kunci di meja di dekat pintu dan Gilang mencopot jaket ojolnya lalu di simpan di meja makan. Mereka saling lihat dulu beberapa detik. Cecil yang mulai duluan. Dia mengambil tangan Gilang lalu meletakkannya di pinggang. Cecil maju dan mencium Gilang. Gilang membalas. Setiap perempuan punya rasa yang berbeda di bibir mereka. Itu kata Gilang dan saya setuju. Kata Gilang, bibir Cecil lembut seperti puding. Rasanya stroberi. Karena waktu itu mungkin Cecil pakai lipstick rasa stroberi. Yang jelas Gilang tidak bisa lupa sama rasanya.

Mereka berciuman lumayan lama tapi intensitasnya tidak meningkat. Cecil melumat bibir Gilang perlahan dengan kedua tangan di leher Gilang. Gilang tetap memegang pinggang Cecil dan tidak menggerayang ke bawah. Ini sudah bukan lagi soal nafsu, pikir Gilang, ini sudah lebih dari itu. Dan ternyata waktu saya ajak ngobrol Cecil, dia juga merasakan yang sama. Kali pertama dia mencium Gilang, bukan nafsu yang bicara.

Gilang memasukkan lidahnya ke dalam mulut Cecil dan disambut dengan baik. Cecil mulai menyelipkan jari-jarinya ke rambut Gilang dan menarik kepalanya untuk menempel lebih lekat. Ketika Gilang sudah mulai tidak bisa mengontrol tangannya, dia meraba pantat Cecil. Keras dan padat. Di sinilah jenderal Gilang yang sudah lama tidak bertugas langsung berdiri tegak hingga ke titik maksimal. Cecil merasakannya juga karena dia menurunkan tangannya dan mengusap penis Gilang.

Gilang menaruh satu tangan di payudara Cecil. Dia mengusapnya dari luar baju Cecil, merasakan bentuk dan teksturnya. Cecil berhenti mencium lalu dia menatap Gilang. Cecil mencopot kacamatanya lalu memegang tangan Gilang dan membimbingnya masuk ke kamar.

Cecil menutup pintu kamar tidur dan membuka bajunya. Gilang menelan ludahnya melihat Cecil hanya memakai bra. Perutnya rata dan membentuk otot. Cecil adalah perempuan dengan fisik terbaik yang pernah Gilang lihat. Gilang berlutut dan mencium perut Cecil. Keras, Boy. Cecil memegang kepala Gilang dan memejamkan matanya, menikmati lidah Gilang di kulitnya. Tangannya menarik kaus Gilang sampai lepas dan dia mendorong Gilang sampai ke kasur. Cecil mencium Gilang dan naik ke pangkuannya.

Gilang merebahkan badan dan membiarkan Cecil berada di atas. Bibir mereka masih bertarung dengan lidah masing-masing. Rambut Cecil yang panjang menutupi wajah Gilang dan tercium wangi yang enak. Gilang mengusap punggung Cecil dan merasakan kelembutan kulitnya. Cecil merawat tubuhnya dengan sangat apik.

Cecil membuka kancing celana Gilang dengan satu tangan. Lihai. Gilang membiarkan Cecil mencopot celananya, sampai ke celana dalam. Gilang pun tidak mau kalah. Dia membuka celana Cecil dan terpana melihat tubuhnya yang sempurna. Gilang meremas payudara Cecil kuat-kuat. Payudaranya kenyal sekali dan ukurannya, buat Gilang, pas untuk digenggam. Putingnya, yang paling Gilang suka, kecil dan sewarna dengan kulitnya yang pucat.

Cecil mendesah enak dan mereka berciuman lagi. Gilang memutar posisi sehingga dia berada di atas. Satu jarinya menyentuh vagina Cecil dan merasakan bahwa Cecil sudah basah sekali. Tapi dia tidak buru-buru. Foreplaynya masih sangat enak.

Tapi Cecilnya yang tidak tahan. Dia memegang penis Gilang dan menggosoknya lembut. Gilang merasa kalau penisnya yang jarang dibelai sudah melemah dan siap crot. Gilang menahan napasnya. Cecil membimbing penis Gilang ke penisnya. Gilang memasukkannya perlahan. Sempit dan hangat. Cecil memejamkan matanya ketika penis Gilang masuk lebih dalam. Ketika seluruh penis Gilang masuk, Cecil melepaskan napas panjang yang membuat Gilang semakin terangsang. Gilang mengangkat tubuhnya untuk melihat tubuh sempurna Cecil lebih jauh. Mereka berpegangan tangan lalu Gilang mulai menggenjot.

Suara Cecil yang tidak pernah Gilang dengar sebelumnya memenuhi kamar dan membuat begitu bernafsu. Gilang tidak buru-buru menggenjot. Seperti kue yang super enak, Gilang mau pengalaman ini berlangsung selama mungkin.

Tapi vagina Cecil sempit dan hangat dan enak sekali. Gilang harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak crot lebih cepat dari yang dia inginkan.

“Fuck…,” desah Cecil.

Gilang membenamkan wajahnya di leher Cecil ketika penisnya sudah siap meledak.

“Sedikit lagi,” kata Gilang.

“Jangan di dalam.”

Gilang mencabut penisnya dengan cepat dan menjepitnya di antara perutnya dan perut Cecil. Jenderal muntah di situ.

Itu adalah seks tersingkat Gilang tapi paling memuaskan. Dia sempat khawatir kalau Cecil tidak menikmati karena terlalu cepat. Tapi ketika dia mengintip wajahnya, Cecil tersenyum sambil memejamkan mata. Lalu mereka berdua tertidur.

**

Cecil terbangun sekitar dua jam setelah seksnya yang fenomenal dengan Gilang. Hari sudah hampir malam. Ketika Cecil membuka mata, Gilang tidak ada di kasur. Cecil duduk di kasur dan melihat Gilang sedang salat di dekat kasur. Dia pakai selimut buat sejadah. Cecil tidak berani mengganggu. Dia mengambil kaus oblong dan celana pendek dari lemari lalu keluar kamar. Dia membuat dua kopi susu sambil menunggu Gilang selesai salat.

Gilang keluar persis ketika kopi susu yang dibuat Cecil jadi. Cecil menaruh kopi susu di meja makan dan mereka duduk. Keduanya saling tatap lumayan lama.

“Tadi saya numpang mandi, Dok,” kata Gilang.

“Iya.”

Diam lagi.

Cecil merasa sedikit tidak enak sudah ML dengan Gilang. Setahu Cecil, Gilang anak yang alim. Tapi dari penilaian seksnya barusan, Cecil yakin kalau itu bukan kali pertama Gilang.

“Lucu kalau dipikir. Habis begituan saya salat magrib,” kata Gilang sambil senyum.

“Bukan yang pertama, ya?”

Gilang menggeleng. “Saya bukan orang baik-baik, Dok.”

“Cecil saja panggilnya.”

Gilang tersenyum.

“Saya tanggal 21 ini mau tunangan.”

Perut Cecil serasa diulek. Jantungnya langsung dag dig dug. “Sama Sandra?”

“Iya.”

Cecil mulai merasa matanya memanas dan siap menangis. Tapi dia tidak mau menangis di depan Gilang. Gilang juga memasang tampang yang aneh. Campuran sedih, bersalah, dan entah apa lagi.

Gilang bangun dan memakai jaketnya. “Saya pulang, Dok.”

Cecil mengangguk. Dia membukakan pintu buat Gilang dan menguncinya setelah Gilang keluar. Lalu dengan napasnya yang entah kenapa ngos-ngosan, Cecil mengambil HP dan menelepon Irma. Setelah itu dia menelepon Ben dan istrinya.

Ben tinggal di Bali waktu itu dan ketika mendengar Cecil mau curhat, Ben dan istrinya langsung beli tiket untuk ke Kota Kelahiran. Irma menawarkan diri untuk langsung datang tapi Cecil larang. Dia suruh Irma datang kalau Ben dan istrinya sudah sampai.

Habis menelepon, Cecil merasakan air mata turun ke pipi dengan deras. Tapi dia tidak sesenggukan. Entah air mata apa yang sedang dia tangiskan. Cecil buru-buru masuk ke kamar mandi dan menyiram badannya dengan air dingin.

**

Besok paginya sekitar jam 9, Ben, istrinya, dan Irma sudah berkumpul di apartemen Cecil. Si Mbak yang suka bersih-bersih apartemen Cecil liburkan dulu. Dia tidak mau ada gangguan. Cecil langsung to the point dan menjelaskan apa yang terjadi kemarin antara dia dan Gilang.

Ben yang langsung berkomentar pedas. “Lu sama cowok enggak pernah hoki. Sial terus. Lu enggak ingat Grace?”

Mendengar itu Cecil ingin sekali menampar Ben. Tapi dia tahan. Dia tahu Ben bermaksud baik. Jadi Cecil cuma diam mendengar Ben marah-marah soal dia dan Gilang sambil mondar mandir di apartemen.

“Lu juga. Irma, kan, nama lu? Kan, lu konselor dia. Ngomong sesuatu. Jangan diam aja,” Ben ikut membentak Irma.

Irma dengan santai mengangkat kedua bahunya. “Aku di sini buat dengar curhatan Cecil, bukan nyuruh-nyuruh dia. Apalagi pakai marah-marah.”

Beda memang kalau psikolog, pikir Cecil, reaksinya beda dengan Ben.

Ben duduk lagi. Cecil menoleh pada Irma.

“Aku enggak akan judge kamu apa-apa, Cil. Aku itu tugasnya membantu kamu sembuh dari trauma masa lalu, bukan mendikte kamu soal percintaan masa sekarang. Plus, aku yakin kamu sudah punya keputusan yang enggak bisa diganggu gugat sama aku atau sama Ben. Aku enggak bisa kasih kamu saran cara bersikap sama si Gilang ini. Atau masalah-masalah yang kamu pikirkan sekarang. Mungkin Ben bisa bantu,” kata Irma santai.

“Memang yang lu mau apa?” tanya Ben.

Cecil diam lama sekali sebelum akhirnya menjawab, “Mau Gilang.”

Irma benar. Pada saat itu Cecil sudah bulat tekad ingin mendapatkan Gilang. Masalahnya Gilang sudah mau tunangan. Masalah 2: dia jauh lebih tua. Masalah 3: mereka beda agama.

**

Setelah kejadian di apartemen Cecil, Gilang sebisa mungkin tidak menghubungi atau menemui Cecil. Dia masih takut akan khilaf dan ingin lagi merasakan badan Cecil. Dia ingat Sandra dan berniat menahan diri. Masalahnya, setiap hari dia harus mengantar milk tea ke rumah sakit Cecil. Ini dia yang sulit. Setiap pagi Gilang kayak orang dikejar setan. Datang ke RS ngebut, parkir, lari bawa dus milk tea, taruh di kantin, terus kabur lagi ke parkiran. Begitu terus sampai tiga hari. Di hari ketiga. Dia ketemu Cecil di parkiran. Amsyong, pikir Gilang. Penisnya langsung naik melihat Cecil.

Mau tidak mau mereka jadi ngobrol sebentar. Terus entah apa yang dibicarakan, mereka jadi ciuman di mobil. Lama pula ciumannya.

Dua hari kemudian Gilang berhasil tidak bertemu Cecil. Di RS dia buru-buru, dan waktu Cecil ke rumah, Gilang sedang narik.

Eh, besoknya ketemu. Waktu Gilang pulang ke rumah, Cecil ada di sana lagi pamitan sama ibunya. Kayla muntah kata ibunya dan khawatir jadi telepon Cecil. Waktu itu jam delapan malam. Waktu ibunya masuk untuk cek Kayla, Cecil dan Gilang ciuman lagi di ruang tamu. Lama juga. Kali itu malah pakai acara Cecil mengocok penis Gilang. Walaupun enggak sampai duar, sih, tapi tetap saja bikin Gilang kacau.

Yang paling parah adalah ketika tanggal 21 datang.

Gilang, ibunya dan Kayla, dan pamannya berangkat pakai mobil rental ke Ibukota. Tujuannya sudah jelas untuk melamar Sandra. Tapi sepanjang jalan ketika menyetir, otak Gilang terus ke Cecil. Ke wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih mulus, payudaranya yang pas, perutnya yang keras, pantatnya yang kencang, kakinya yang bagus, vaginanya yang sempit, hangat, dan enak.

Sampai ke tol menuju Ibukota, Gilang tidak kuat. Dia harus berhenti di rest area dan berlari ke toilet masjid. Di sana dia coli sambil membayangkan Cecil. Ketika mengocok penis, dia dapat ide. Dia video call Cecil.

“Kamu di mana?”

“Maaf, Dok. Maaf banget ini, mah. Darurat.”

“Ada apa?”

“Mau minta lihat toket.”

“Apa?”

“Toket.”

“Toket siapa?”

“Dokter.”

“Gila.”

“Please.”

Cecil waktu itu lagi di gym. Dia buru-buru masuk ke toilet dan membuka kausnya. Dia mengangkat kaus dan branya untuk memperlihatkan payudaranya ke Gilang. Gilang mengocok lebih hebat dan akhirnya crot di toilet masjid rest area.

“Maaf, ya, Dok. Makasih.”

Cecil bingung. Dia tidak keberatan, sih, cuma bingung saja karena dia tahu Gilang sedang on the way lamaran.

**

Rumah Sandra ternyata lumayan besar. Ada kolam ikan besar di bagian tengah. Waktu keluarga Gilang datang, mereka disambut oleh kedua orang tua Sandra yang ternyata lebih muda dari ibunya. Ketika melihat Sandra, Gilang merasa berdosa karena otaknya terus kepikiran Cecil. Bahkan, ya, bahkan, ketika dia ngobrol, penisnya setengah tegang membayangkan payudara Cecil yang tadi dia perlihatkan lewat video call.

Ajaibnya, lamaran berjalan lancar. Orang tua Sandra menerima dengan tangan terbuka. Tapi tanggal pernikahan belum ditetapkan karena ternyata Sandra punya kakak perempuan yang belum menikah. Kakaknya sudah punya pacar dan mereka sudah tunangan sebetulnya, tapi pernikahan menunggu kelulusan pacar si kakak yang sedang S3. Gilang, sih, tidak masalah. Makin banyak waktu untuk membereskan masalah dengan Cecil.

Sandra mengantar Gilang dan keluarga membeli oleh-oleh dan mereka pamit pulang ke Kota Kelahiran.

Tebak apa yang pertama kali Gilang lakukan sesampainya di rumah. Yes. Menghubungi Cecil.

**

Cecil mengangkat telepon Gilang tepat ketika baru menginjakkan kaki di apartemen. Gilang mengajaknya bertemu dan Cecil menyuruhnya untuk datang ke apartemen. Waktu itu jam sembilan malam kurang lebih.

Gilang tiba sekitar jam sepuluh dan tanpa basa-basi, Gilang mencium Cecil.

“Maaf, Dok. Seharian saya enggak bisa stop mikirin, Dokter.”

Cecil tersenyum. Mereka lalu berciuman sekali lagi dan Cecil membawa Gilang ke kamar. Mereka rebahan di kasur dan tanpa melakukan apa-apa, mereka tidur sambil berpelukan.

**

Besoknya Gilang telepon saya minta ketemu buat curhat. Isi curhatnya kita tunda ke update berikutnya.

Bersambung

Daftar Part