. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 28 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 28

0
266

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 28

Hubungan Gilang dengan Sandra makin dekat seiring semakin intensifnya komunikasi mereka. Pokoknya setiap hari tanpa terlewat, Sandra pasti menghubungi Gilang entah lewat telepon atau video call. Gilang merasa terbantu sekali dengan komunikasi sama Sandra karena Gilang perlu menceritakan kesusahan finansialnya. Sandra hanya bisa menyemangati dan membantu doa. Gilang memang tidak meminta bantuan apa-apa dari Sandra, dia hanya ingin didengarkan curhatnya. Seperti biasa, Sandra selalu mengingatkan Gilang supaya tidak melewatkan ibadahnya.

Karena sudah menjadi rutinitas, Gilang tetap rajin salatnya, walaupun, dia mengaku ke saya, kalau salatnya tidak pernah sepenuhnya khusyuk. Jadi buat Gilang, salat itu hanya penggugur kewajiban. Kata Sandra, kalau kita sudah mencapai khusyuk, maka salat itu jadi nikmat. Gilang belum sampai ke sana. Pelan-pelanlah, pikir Gilang.

Semakin hari, uang Gilang semakin terkikis dan penghasilan ojek online-nya cuma bisa mencukupi biaya harian. Untuk Kayla masih mepet sekali. Ibunya mulai mencurigai kalau Gilang ada kesulitan uang dan bertanya-tanya apa ada yang bisa dibantu. Jaim, Gilang bilang semuanya baik-baik saja.

Ketika suatu hari Gilang lagi bingung dan istirahat di masjid, dia iseng berdoa untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Doanya sederhana, Gilang ingin ditunjukkan satu jalan buat berusaha punya uang. Gilang merasa dia masih bergelimang dosa untuk langsung berdoa minta uang. Percaya tidak percaya, bantuan datang dalam bentuk pesan dari Cecil. Cecil bilang kalau ada bisnis sederhana yang mungkin bisa Gilang lakukan. Syaratnya, Cecil minta ketemuan dengan Gilang.

Sehabis mengantar makan malam ke ibunya dan Kayla, Gilang jalan lagi bertemu Cecil di tempat makan yang Gilang lupa, tapi tempatnya dekat dengan rumah sakit Cecil.

“Mas, uang di tabungan ada berapa?” tanya Cecil ketika Gilang datang.

“Kenapa, nih?”

“Ada bisnis yang simple tapi butuh modal yang lumayan. Tapi dijamin dapat return tiap bulan.”

“Kayak penipuan.”

“Bukan. Asli, kok, ini. Jadi ada teman saya yang ikut asosiasi rental dan punya koneksi ke perusahaan-perusahaan yang butuh mobil sewaan. Nah, kalau Mas ada uang buat beli mobil, DP-nya saja dulu, nanti beli mobil terus titip di teman saya itu. Nanti tiap bulan Mas tinggal tunggu uang sewa mobilnya masuk rekening.”

Gilang berpikir keras dan awalnys skeptis sama bisnis itu. Tapi dia percaya dengan Cecil. Akhirnya, Gilang menarik uang sekitar 25 juta dari bank dan membeli mobil T secara kredit. Gilang deg-degan waktu pertama kali melakukan ini karena bukannya menambah uang, dia malah menambah utang. Ketika mobil diantar ke rumah Gilang, Cecil juga datang dengan temannya. Nama temannya enggak usah disebut karena enggak penting. Yang pasti temannya itu langsung bawa mobil Gilang.

“Serius, nih, Dok?”

“Serius, Mas. Tenang. Pokoknya kalau dalam sebulan uang sewa mobilnya enggak masuk, saya tanggung jawab.”

Dibilang begitu Gilang percaya lagi.

Tapi dalam sebulan mobil Gilang belum dapat perusahaan yang mau sewa. Gilang mau tidak mau mengadu lagi ke Cecil. Cecil sudah mendengar kabar itu dari temannya langsung. Rupanya Cecil juga memantau perkembangan bisnis sewa mobil Gilang.

“Gini, deh, Mas. Buat sebulan ini biar yang bayar cicilan mobilnya saya saja.”

Gilang menolak tentu saja. Cecil memang bilang mau bertanggung jawab kalau tidak ada uang sewa yang masuk, tapi Gilang tidak enak dibantu begitu. Cecil memaksa dan akhirnya dia bayar kredit untuk bulan itu. Dan bulan berikutnya. Dan bulan berikutnya.

Bulan keempat, barulah kabar baik datang. Teman Cecil menghubungi Gilang bahwa ada perusahaan yang sudah menyewa mobilnya. Setelah dipotong komisi, uang sewa bersih yang jatuh ke rekening Gilang adalah 6 juta per bulan. Gilang melompat girang. Dia bilang ke ibunya dan ibunya langsung sujud syukur di lantai. Gilang menelepon Cecil tapi tidak diangkat. Gilang langsung melesat ke rumah sakit untuk menemuinya. Rupanya Cecil sedang praktik dan Gilang duduk di ruang tunggu sampai magrib ketika Cecil selesai praktik.

“Dok!” seru Gilang ketika Cecil keluar dari ruang praktik. “Dapat sewa!”

Cecil menjerit senang sambil melompat dan memeluk Gilang. Mereka ketawa-ketawa lalu sadar kalau mereka sedang di tengah rumah sakit. Malu dilihati orang, mereka merapat ke kantin. Di sana mereka ngobrol panjang lebar soal bagaimana caranya mengatur keuangan Gilang.

Berhubung sudah ada tambahan uang 6 juta untuk setahun ke depan, biaya Kayla sudah tertangani dan biaya hidup tercover separuhnya. Uang hasil narik ojek online bisa digunakan untuk yang lain lagi. Untuk keperluan itulah Cecil menelepon V, agen saya, buat berkonsultasi. Sialnya, si V ini sudah tidak aktif lagi jadi agen dan menolak ditemui. Akhirnya Cecil menelepon saya karena di polis dia ada nama saya sebagai semacam penanggung jawab V.

Di titik inilah saya ketemu sama Cecil dan Gilang di dua tempat berbeda. Masing-masing enggak tahu kalau saya gali cerita mereka buat dibagikan di sini. Lalu datanglah PK dan akhirnya saya minta ijin ke mereka dan barulah cerita ini dimulai.

Skip soal saya.

Setelah selesai diskusi dengan Cecil, Gilang pulang ke rumah tanpa narik ojek online. Ketika santai di kamar, dia melirik HP dan melihat ada sepuluh pesan dari Sandra dan dua panggilan tidak terjawab. Gilang segera menelepon Sandra dan menceritakan semua.

“Alhamdulillah. Selamat, ya, Mas.”

“Makasih, Mbak, berkat doa Mbak juga, nih.”

Lalu Gilang menceritakan soal Cecil.

“Dokter itu baik banget, ya, Mas, sama keluarga Mas.”

“Iya. Saya juga heran kenapa.”

“Suka kali sama, Mas.”

“Mana ada. Lagian kami, kan, beda keyakinan.”

“Kalau sama, Mas mau enggak sama dia.”

“Dia lebih tua jauh umurnya.”

“Tapi masih cantik, kan?”

“Iya, sih.”

Lalu Sandra diam dan pamit memutuskan telepon. Gilang baru sadar sekarang-sekarang kalau dia marah. Cowok memang enggak peka.

Besok-besok, Gilang yang lebih proaktif menghubungi Sandra supaya mencairkan suasana. Tapi dia tetap ketemuan rutin sama Cecil buat ngomongin perencanaan keuangan dan bisnis lain yang bisa dikerjakan selain ojek online.

Suatu waktu ketika Gilang pulang narik, ibunya bertanya soal dia dan Sandra.

“Enggak mau diseriusin saja si Sandra itu, Lang?” tanya ibunya.

Gilang mulai berpikir. Lalu dia bilang ke ibunya kalau dia bisa dapat tambahan penghasilan lagi, maka dia akan mendatangi Sandra untuk melamar.

Penghasilan tambahan datang sekitar sebulan kemudian ketika dia membonceng seorang pengusaha milk tea. Setelah ngobrol, Gilang mengetahui kalau orang itu membuat sendiri milk tea di rumah. Sehari bisa habis sekitar 50 gelas yang dia jual di kedai tidak permanen di pinggir jalan. Tapi sebetulnya dia mampu memproduksi 150 gelas sehari. Cuma dia tidak punya cara lain untuk menjual lebih banyak. Jadi Gilang menawarkan untuk jadi marketing milk tea itu.

Si pengusaha setuju dan Gilang langsung menuju ke Cecil untuk diskusi lagi. Cecil mengatakan ke Gilang untuk bicara dengan koperasi rumah sakit, siapa tahu milk tea itu bisa ditaruh di kantin. Gilang melakukannya dan tembus. Lalu dia punya ide lagi untuk memasukkan milk tea ke sekolah di samping rumah sakit. Tembus. Dia maju lagi ke tiga sekolah lain dan semuanya tembus.

Gilang datang lagi ke si pengusaha dan menyuruhnya untuk membuat 120 gelas setiap pagi dan akan Gilang antar ke rumah sakit dan sekolah-sekolah. Si pengusaha menyanggupi. Jadi, keesokan harinya Gilang berangkat dari rumah setengah enam pagi dan menjemput 120 gelas milk tea dari rumah pengusaha itu. Dia ikat empat dus di motornya dan membagikan setiap dus ke rumah sakit dan sekolahan. Habis itu dia narik ojek online dan sorenya kembali ke rumah sakit dan sekolah-sekolah untuk mengambil uang.

Hasilnya? Semua milk tea habis dan dari bagi hasil dengan si pengusaha, dalam sehari dia dapat uang sekitar 200 ribu. Dikalikan 22 hari dalam sebulan, Gilang dapat tambahan uang sekitar 4 juta. Gilang girang lagi. Cecil ikut senang dan Gilang, sebagai rasa terima kasih, mengajak Cecil untuk makan di restoran steak. Di sana mereka ngobrol panjang sampai restoran tutup dan Gilang mengantar Cecil pakai motornya ke apartemen.

Di titik itulah Gilang merasa kalau dia ultra nyaman dengan Cecil. Saying mereka tidak seiman, pikir Gilang. Kalau saja Cecil muslim, Gilang mungkin akan mempertimbangkan mendekatinya. Tapi sekarang dia punya Sandra.

Setelah bisnis sewa mobil dan milk tea ditambah narik ojek online berjalan lancar, Gilang melaksanakan niatnya untuk melamar Sandra. Rencana itu terealisasi sekitar dua bulan kemudian. Gilang menelepon Sandra sambil dag dig dug.

“Mbak?”

“Ya, Mas?”

“Tanggal 21 ada di rumah?”

“Ada.”

“Kalau saya ke rumah boleh?”

“Boleh.”

“Tapi sama Ibu.”

“Mau ngapain?”

“Mau melamar.”

Sandra menutup telepon. Gilang panik. Apa Sandra tidak mau dilamar? Apa dia geer menganggap hubungan mereka spesial? Ketika ditelepon lagi, Sandra tidak mengangkat telepon. Gilang makin panik. Tahunya sekitar lima menit kemudian, Sandra mengirim pesan.

“Iya, Mas, boleh kata Papa.”

Gilang nyengir kuda. Gilang memberitahu ibunya dan mereka langsung beli cincin emas buat lamaran.

**

Cecil menjadi jauh lebih ceria sejak berhubungan dengan Gilang. Dia menjadi orang yang lebih ramah dan pekerjaannya tambah nyaman. Dia merasa semakin dia membantu Gilang, semakin nyaman pula hari-harinya. Maka, Cecil mengajak Gilang untuk mampir ke apartemennya. Dia akan memasak untuk Gilang sebagai pemberian terima kasih sudah membuat hari-harinya lebih bermakna.

Gilang menyanggupi dan dia membawa ibunya ke apartemen Cecil. Tidak lupa si Kayla juga diajak dan selama mereka berkunjung di rumah Cecil, Cecil yang mengasuh Kayla dari mulai mengajak main sampai cebok. Gilang memperhatikan betapa uletnya Cecil sama anak-anak dan menyadari kalau dokter itu masih sangat cantik. Otak ngeresnya mulai aktif dan membayangkan bagaimana rupa Cecil kalau tidak pakai baju. Tapi tidak berlangsung lama karena mereka sudah harus pulang.

Waktu pulang Cecil mengantar mereka pakai mobil. Setelah ibu dan Kayla turun, Cecil dan Gilang jalan lagi untuk ketemu si pengusaha milk tea. Kebetulan waktu itu orderan milk tea rumah sakit akan bertambah dari 30 jadi 50 gelas per hari.

“Mas. Mau ngomong sesuatu boleh?”

“Boleh, Dok.”

“Kalau boleh jujur, saya merasa kalau hubungan pertemanan kita ini lebih dari sekadar teman. Maaf, ya, kalau lancang.”

“Lebih gimana, Dok?”

“Saya sebetulnya punya rasa sama, Mas.”

Gilang langsung salah tingkah.

“Tapi saya ngerti, kok, kita ini pasien dan dokter. Saya lebih tua. Beda agama.”

Gilang masih diam.

“Saya cuma mau bilang kalau hubungan ini sudah membuat saya tambah baik. Karena saya sempat jadi orang yang tidak baik-baik saja.”

“Kenapa?”

“Ada trauma. Mas membantu saya sembuh.”

Gilang diam. Cecil diam juga. Lalu pelan-pelan Cecil memegang tangan Gilang waktu mereka berhenti di lampu merah. Keduanya lalu saling pandang. Cecil mendekatkan wajahnya dan mencium Gilang. Gilang mencium balik. Mereka berciuman begitu lama dan ketika bibir mereka berpisah, Cecil megap-megap cari udara.

“Kita mampir apartemen saya lagi… boleh?”

“Iya,” Gilang setuju.

Mobil yang tadinya menuju ke rumah pengusaha milk tea berubah arah dan berhenti di parkiran apartemen Cecil. Keduanya naik lift ke apartemen Cecil sambil berpegangan tangan. Mereka masuk ke apartemen Cecil dan mengunci pintunya.

Hayo tebak mereka ngapain?

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler