. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 27 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 27

0
228

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 27

Cecil tidak banyak bicara waktu pulang dari rumah Gilang. Irma menyetir mobil dan Cecil lebih banyak melamun melihat keluar jendela. Irma bilang kalau dia mengerti kenapa Cecil bisa tertarik sama Gilang. Gilang itu perhatian sama Kayla, baik dan tampaknya punya pengalaman hidup pahit jadi kelihatan bijak. Tapi Gilang sepertinya sudah punya pacar. Pacarnya pakai baju syari dan cantik banget. Cecil setuju dengan semua itu dan memang Cecil cuma suka sama Gilang. Dia tidak ada niatan untuk mengambil langkah lebih jauh dari itu. Lagian Gilang itu beda agama dan Cecil tahu sekali kalau di negeri ini beda agama susah sekali dicari solusinya.

Cecil mulai kerja lagi. Kayla sekarang datang ke praktiknya setiap tiga minggu sekali jadi pertemuan Cecil dan Gilang semakin jarang. Cecil sudah mulai lupa sama Gilang. Sampai suatu hari takdir mempertemukan Cecil dengan orang yang namanya V yang merupakan tim saya berjualan asuransi. Cecil dikenalkan oleh rekan dokternya ke V. V mulailah prospek Cecil soal asuransi. Waktu dijelaskan soal asuransi, Cecil sebetulnya tidak begitu menjelaskan, dia cuma iya-iya saja karena pikirannya ada di tempat lain. Cecil ingat sempat menawarkan Gilang untuk punya asuransi. Jadi setelah buka asuransi sakit kritis di V, Cecil bilang: “V, ada teman aku yang kayaknya butuh asuransi kesehatan. Nanti aku kenalkan mau?”

Agen asuransi mana yang enggak girang dibilang begitu? V semangat dan Cecil dapat alasan untuk menelepon Gilang.

**

Gilang memasuki bulan ketiganya (kalau tidak salah) jadi sopir ojol. Semakin hari dia semakin khawatir soal keuangan dia yang semakin tipis. Gilang kudu buru-buru dapat tambahan penghasilan. Ini dia ceritakan ke Sandra karena setiap malam mereka bertelepon sekitar jam sebelas ketika Gilang selesai narik ojol. Setiap kali Gilang mengeluhkan penghasilannya, jawaban Sandra selalu sama: “Mintanya jangan sama saya, Mas. Sama Allah mintanya.”

“Habis enggak ada perubahan. Padahal salat sudah rutin.”

“Belum ada, Mas. Mungkin nanti.”

Iman Gilang mulai goyah lagi. Dulu waktu dia nakal senakal-nakalnya nakal di Ibukota, uang dia mengalir terus. Sekarang setelah dia rajin ibadah, rejekinya malah mampat. Tapi dia tidak bilang itu ke Sandra. Gilang mulai sangat-sangat tertarik sama Sandra. Gilang sedang mempertimbangkan mencari hubungan serius dan Sandra adalah kandidat terkuat. Serius di sini artinya untuk menikah dan Gilang bertekad untuk berubah menjadi dirinya yang terbaik. Terbaik artinya tidak memikirkan soal esek-esek lagi. Pokoknya taubat. Kenapa dia mikir taubat? Karena Sandra pernah bilang begini: “Taubat itu berat sekali memang. Banyak yang gagal. Saya sendiri juga suka masih sering pengin berdosa. Tapi tiap mau berdosa suka ingat orang tua.”

Dibilang begitu Gilang jadi ingat ibunya dan Kayla. Buat Gilang, ibu dan Kayla adalah kryptonite. Urusan mereka dia enggak ada tawar menawar. Jantung juga dia kasih, ibaratnya.

Setelah teleponan dengan Sandra, ibunya masuk ke kamar Gilang sambil bawa Kayla. Kayla demam lagi. Setelah diobati di rumah tidak ada perubahan, Gilang dan ibunya membawa Kayla ke IGD untuk yang kesekian kalinya. Di sana mereka ditangani dokter jaga tapi tidak lama Cecil datang.

**

Cecil tidak boleh bersyukur kalau ada pasiennya yang masuk IGD, tapi dia senang waktu dapat telepon dari RS dan bilang kalau Kayla dibawa ke sana.

Cecil datang dan merawat Kayla. Tidak serius dan boleh pulang. Gilang dan ibunya berterima kasih sudah ditolong terus. Sebelum pulang, Cecil mengajak Gilang dan ibunya ngobrol di ruang tunggu.

“Mas. Berhubung Kayla, kan, risiko sakitnya masih besar jadi mungkin ke depannya juga bakal sering berobat ke RS. Jadi saya sarankan untuk ikut asuransi saja. Karena kalau BPJS nanti Kayla kena antrian yang panjang.”

Gilang mengiyakan. Besoknya, Gilang datang ke RS disela-sela narik ojolnya dan bertemu Cecil di kantin RS. Di sana Cecil sudah bersama V yang cengar-cengir senang bakal dapat nasabah baru.

V menjelaskan soal asuransi kesehatan yang dia tawarkan. Sementara Gilang mendengarkan, Cecil melihat Gilang terus. Gilang tidak ganteng-ganteng amat tapi, kok, Cecil suka, ya, sama dia?

Sebelum memutuskan untuk beli, Gilang merasa keberatan dengan asuransinya karena di perusahaan kami tidak ada asuransi rawat jalan, sementara si Kayla akan sering berobat jalan. Di situlah Cecil dapat celah.

“Memang rawat jalan lebih sering, Mas, tapi rawat inap bakal jauh lebih mahal. Gini saja, Mas, ambil yang rawat inapnya. Nanti kalau Kayla sakit dan harus ke dokter, Mas, telepon saya. Biar saya yang datang ke rumah. Jangan dibawa ke RS. Supaya bisa menekan biaya. Gimana?”

Gilang menolak awalnya karena tidak enak. Tapi didesak V dan Cecil berkeras kalau dia tidak keberatan, akhirnya Gilang membuka asuransi kesehatan untuk Kayla. Cecil tersenyum lebar karena itu artinya dia bisa ketemu Gilang lebih sering lagi.

**

Rutinitas Cecil bertambah satu. Selain kerja dan olahraga, dia rutin bertukar chat dengan Gilang. Awalnya dia menanyakan kondisi Kayla tapi berlanjut ke hal-hal yang tidak penting. Cuacalah, makananlah, filmlah, pokoknya persis seperti orang PDKT. Ini hal baru buat Cecil. Dia tidak pernah PDKT sebelumnya dan merasa dia jadi anak muda lagi. Padahal umurnya dan umur Gilang berbeda sepuluh tahun.

Cecil makin dekat dengan Gilang dan ibunya. Dia malah kenal juga sama tetangga-tetangga Gilang. Cecil yang memang introvert terpaksa menjadi lebih supel ketika ke rumah Gilang. Gilang tinggal di perumahan yang lumayan padat, jadi kalau Cecil datang biasanya dia bertemu beberapa tetangga yang kadang memanfaatkan dia untuk memeriksa anak mereka. Tentu saja tanpa bayaran.

Cecil cerita ini ke saya sambil ketawa-ketawa. Dulu Cecil sempat depresi karena kematian Grace dan harus terapi ke Irma. Ada kemajuan dalam diri Cecil ketika terapi, tapi kemajuan yang pesat justru dia rasakan ketika dia bersosialisasi dengan orang-orang di perumahan Gilang. Tapi tentu saja dia tidak membuka soal masa lalunya soal Grace, mantan suami, dan pengalaman-pengalamannya. Cecil jadi betah datang ke tempat Gilang dan kadang-kadang dia datang cuma untuk mengirimkan makanan buat ibu Gilang dan Kayla.

Suatu hari Cecil pulang agak malam karena diajak makan dulu sama ibu Gilang. Terus karena tidak enak langsung pulang setelah makan, Cecil dan Gilang ngobrol dulu di teras rumah.

“Mas itu satu-satunya laki-laki yang bawa anak ke saya tapi itu bukan anaknya. Yang single parents banyak tapi yang mengurus ponakan baru Mas doang,” kata Cecil.

“Iya, ya, Dok. Jangan sampailah ada orang yang nasibnya kayak saya.”

“Saya enggak yakin kalau saya punya anak nanti terus sayanya meninggal bakal ada keluarga saya yang rela urus anak saya kayak Mas urus Kayla.”

“Pasti ada, Dok.”

“Kalau orangnya baik kayak Mas Gilang, mungkin mau kali, ya.”

“Saya enggak baik-baik amat kali, Dok. Saya baru mulai mencoba jadi orang baik setelah adik saya meninggal kemarin itu.”

“Maksudnya?”

Gilang menceritakan soal kenakalan dia masa muda. Termasuk selingkuh dengan istri orang. Cecil mendengarkan dengan serius.

“Yah, saya juga sempat nakal, Mas.”

Tapi Cecil tidak menceritakan soal nakalnya pada Gilang.

“Kalau boleh jujur, sih, Dok, sebetulnya saya kangen juga sama masa-masa itu. Karena saya enggak bisa bohong. Seks itu enak.”

Cecil tersenyum dan dia pulang.

Kedatangan Cecil yang rutin menimbulkan gosip kalau Gilang punya pacar dokter yang, mohon maaf, Cina dan bukan Muslim. Gosip ringan saja dan tidak negatif, tapi ibu Gilang sempat tidak enak mendengar gosip itu. Ibu Gilang pun bilang ke Gilang untuk segera menikah.

Ini dia, nih, yang bikin Gilang malas hidup. Orang lagi sibuk cari uang dan urus keluarga, disuruh buru-buru nikah. Memang, sih, Gilang sedang menjajaki hubungannya dengan Sandra, tapi, kan, dia harus mantap dulu dalam berbagai hal. Keuangan, keagamaan, kemapanan hidup, dan lain sebagainya. Ini Gilang ceritakan ke Sandra suatu hari. Gilang lupa bagaimana percakapannya, yang jelas Sandra minta ijin untuk datang ke rumah Gilang. Gilang iyakan dan Sandra datang pada hari Sabtu.

Gilang sengaja tidak narik hari itu karena ada Sandra. Sandra, Gilang, dan ibunya ngobrol di ruang tamu.

“Iya, Bu, mungkin belum waktunya. Mas Gilang, kan, lagi sibuk kerja. Jodohnya juga mungkin lagi sibuk kerja. Nanti juga ketemu,” kata Sandra ketika ibunya Gilang bilang kalau dia mau anaknya cepat nikah.

Setengah jam ngobrol, tiba-tiba ada mobil yang parkir di depan rumah Gilang dan Cecil datang. Ibunya dan Gilang menyambut Cecil yang datang membawa sekotak donat. Dia kaget melihat Sandra yang duduk di ruang tamu. Sandra juga kaget melihat Cecil.

Mereka berempat ngobrol lalu Gilang pamit ke dalam karena Kayla menangis. Ibu Gilang pamit untuk salat dan tinggallah Cecil dan Sandra di ruang tamu. Mereka lihat-lihatan lama.

“Kapan datang?” tanya Cecil.

“Barusan.”

“Sengaja ke sini?”

“Iya.”

“Ada perlu apa?”

“Bertamu saja. Sudah lama cuma ngobrol lewat telepon, sekali-sekali ketemu langsung. Sekalian silaturahmi sama ibu.”

“Oh.”

“Dokter sering ke sini?”

“Tiga hari sekali.”

“Oh, ya? Ada perlu apa?”

“Buat jenguk Kayla sama, ya, ngobrol sama ibu.”

Dua-duanya diam lagi.

“Sering teleponan itu maksudnya curhat, ya?” tanya Cecil.

“Iya.”

“Oh. Gilang juga sering curhat sama saya.”

“Soal Kayla?”

“Soal sehari-hari saja. Kemarin dia buka asuransi di kenalan saya.”

“Oh… Mas Gilang enggak cerita ke saya soal itu….”

Waktu Gilang kembali ke ruang tamu sambil gendong Kayla, Cecil berdiri dan pamit.

“Kok, buru-buru, Dok?”

“Tugas dulu di RS,” kata Cecil sambil mendekati Gilang, mencium Kayla yang digendong lalu mengelus lengan Gilang. “Nanti saya telepon, ya.”

“Iya,” kata Gilang.

Habis itu Cecil pergi.

Nah, si Gilang bilang ke saya reaksi si Sandra itu biasa-biasa, tapi dari keterangan Cecil muka Sandra agak bete dan kecut. Makanya saya mau mengusahakan supaya bisa ketemu Sandra buat mengorek versi dia. Sudah dapat kontaknya dan sudah janjian. Sekalian prospek asuransi mau sekalian ngobrol soal kisah segitiga dia, Gilang, dan Cecil. Doakan, ya, pembaca semua.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler