. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 26 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 26

0
241

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 26

Kita masuk ke bagian tiga kisah Cecil dan Gilang.

Pada suatu hari yang biasa, Cecil bangun dari tidurnya, mandi, lalu berpakaian seperti biasa. Dia sarapan pukul tujuh pagi dan berangkat jam setengah delapan menuju rumah sakit, juga seperti biasa. Sesampainya di rumah sakit, Cecil mengunjungi beberapa pasien rawat inap lalu masuk ke ruang praktik di poliklinik. Jumlah pasien yang dia tangani per harinya dibatasi hanya dua puluh orang. Dia tidak mau menangani terlalu banyak, nanti pasien-pasiennya tidak bisa ditangani dengan maksimal. Semua yang terjadi hari itu berjalan seperti hari-hari lainnya.

Sampai masuk pasiennya nomor tiga. Yang datang ke ruang praktiknya adalah seorang ibu yang sudah cukup tua dan seorang laki-laki muda menggendong bayi yang mungil sekali. Si ibu berjilbab rapi, sementara si laki-laki memakai jaket hijau berlogo ojol yang sering dilihat di jalanan. Mereka tampak berbeda karena menurut Cecil rumah sakit tempatnya praktik adalah rumah sakit yang sangat mahal untuk rumah sakit ibu dan anak. Dia sedikit heran ada sopir ojol yang membawa anaknya ke sana.

Laki-laki berpakaian ojol memberikan surat rujukan kepada Cecil. Cecil ingat bahwa ada dokter yang meneleponnya dan bilang kalau ada bayi prematur yang akan datang padanya.

“Pak Gilang? Bayi Kayla, ya?” Cecil menyebutkan nama laki-laki berjaket ojol itu setelah membaca namanya di surat rujukan.

“Iya.”

“Silakan,” Cecil menyuruh Gilang dan ibunya duduk. Dia mendengarkan dengan saksama cerita Gilang soal kondisi Kayla. Kayla sudah mau berusia sebulan dan dari pemeriksaan Cecil, bayi prematur itu sudah cukup sehat. Gilang mengeluhkan napas Kayla yang bunyi kalau sudah malam dan dia seperti susah bernapas. Cecil memeriksanya dan tidak menemukan kondisi yang mengkhawatirkan.

“Coba kalau malam diselimutinya agak banyak. Mungkin dingin. Terus kalau sudah dikasih susu, jangan lupa ditepuk-tepuk punggungnya,” kata Cecil memberi nasihat dan berbagai petunjuk lain untuk mengurus Kayla pada Gilang.

Cecil takjub melihat Gilang yang memperhatikan begitu serius dan mencatat semua perkataan Cecil di HP. Ibunya juga mendengarkan baik-baik. Keduanya begitu telaten, sabar, dan terlihat sangat sayang pada bayi Kayla. Cecil sebetulnya ingin bertanya kemana ibu Kayla tapi menahan pertanyaan itu.

Waktu Gilang dan ibunya pulang, Cecil sedikit merenung dan merasa kalau kedua orang itu akan jadi pasien yang lebih istimewa ketimbang pasien lainnya.

**

Setelah pulang dari Cecil, Gilang kembali ke rumah dengan ibunya menumpang taksi online. Sesampainya di rumah, ketika ibunya memandikan Kayla, Gilang menghitung pengeluaran dia hari ini. Tarif konsultasi Cecil 250 ribu per pertemuan, vaksin Kayla paling murah 150 ribu, ongkos taksi online bolak-balik sekitar 100 ribu, susu formula Kayla (atas anjuran Cecil) 3 juta per bulan, Cecil juga meminta Kayla dibawa untuk kontrol setiap seminggu sekali. Setelah ditotalkan, pengeluaran per bulan Gilang sekitar 8 juta.

Gilang pada saat itu sudah jadi sopir ojol sekitar 3 mingguan dan setiap harinya dia bisa bawa pulang uang 100 ribu per hari. Dikalikan satu bulan maka pemasukan dia masih sangat jauh dari cukup. Masalahnya Gilang harus kembali setiap jam sebelas ke rumah untuk membeli makan dan mengantarkannya ke ibunya. Ibunya sudah tidak bisa masak karena menjaga Kayla sementara Gilang keliling kota jadi sopir ojol. Habis kasih makan ibunya, dia jalan lagi sampai jam 3. Di jam segitu Gilang menggantikan ibunya dulu menjaga Kayla. Ibunya sudah cukup tua dan Gilang ingin dia dapat istirahat yang cukup. Sekitar jam 5 Gilang berangkat lagi dan kembali ke rumah jam 8. Gilang biasanya membelikan makan malam lagi buat ibunya dan menjaga Kayla semalaman sampai pagi. Kayla harus diberi susu setiap dua sampai tiga jam sekali. Mana tega Gilang menyuruh ibunya untuk bangun tengah malam?

Gilang menghitung sisa uang di bank yang dia kumpulkan sejak 6 tahun kerja di Ibukota. Setelah dihitung, uangnya hanya cukup untuk sebelas bulan. Gilang harus cari cara untuk dapat uang lebih.

Sebetulnya ibu Gilang yang pensiun punya uang juga tapi Gilang tidak mau ganggu uang itu. Biarlah dia yang banting tulang untuk keluarganya. Ibunya sudah masuk usia istirahat.

Besoknya ketika Gilang membonceng penumpang, HP-nya dapat pesan. Setelah penumpang turun, Gilang membuka pesan itu dan membacanya. Pesan itu datang dari Sandra. Isinya pendek saja: “Apa kabar, Mas?”

Gilang tersenyum lebar sekali membacanya. Gilang membalas dengan pendek juga: “Baik. Mbak apa kabar?”

Gilang merasa hangat di dadanya karena setelah insiden kantor, ketahuan selingkuh sana sini, dan kematian adiknya, tidak ada yang bertanya bagaimana kabar Gilang.

“Sehat. Mas, jaga kesehatan juga, ya,” balas Sandra.

Gilang membalas: “Iya, Mbak, makasih. Mbak, kalau boleh saya mau telepon nanti malam.”

Jawaban Sandra memuaskan: “Boleh. Jam 10, ya.”

Malamnya, Gilang menelepon Sandra dan menceritakan soal Kayla, Cecil, dan ibunya. Sandra mendengarkan dengan sabar.

“Coba kerjanya dibikin efisien. Misalnya cuma keluar pas jam sibuk saja. Jadi enggak banyak mondar-mandir di jalan,” saran Sandra.

Gilang mengangguk dan berjanji akan mencoba melakukannya.

“Salatnya gimana, Mas?”

Ditanya begitu Gilang sedikit malu. Jujur saja, saking sibuknya mengurus ibu dan Kayla, dia jadi meninggalkan salat lagi. Gilang tidak menjawab.

“Jujur saja, Mas. Enggak apa-apa.”

Akhirnya Gilang cerita kalau dia jarang salat.

“Sibuk, ya? Gini saja, deh, Mas. Nanti setiap jam salat, saya chat Mas Gilang. Kalau Mas sempat baca chat saya, berarti Mas ada waktu buat salat. Jadi berhenti dulu saja di masjid yang kelewatan. Chat saya enggak usah dibalas. Hemat waktu saja terus jalan lagi. Nanti kalau Mas sudah di rumah, sudah mandi dan santai, baru balas chat saya lagi.”

“Boleh lebih jujur lagi enggak, Mbak?”

“Boleh banget, Mas.”

“Saya merasa kalau salat itu enggak berguna, Mbak. Selama ini saya kerja di Ibukota selalu ketinggalan salat tapi ternyata semua berjalan baik. Ujungnya sempat kacau, sih, hidup saya. Terus waktu adik saya dioperasi karena kecelakaan, saya salat sampai nangis di musala rumah sakit. Tapi ternyata adik saya meninggal juga. Terus sebetulnya salat itu buat apa?”

“Wah, saya enggak berani jawab, Mas, kalau soal itu. Ilmunya belum sampai. Coba Mas rutinkan dulu salatnya. Mungkin ada yang berubah, mungkin enggak ada. Tapi saya berani jamin paling enggak pola hidup, Mas, lebih teratur. Gimana?”

Gilang menyanggupi.

Datanglah keesokan harinya. Gilang bangun jam 5 subuh untuk memberi susu Kayla. Jam segitu biasanya ibu Gilang belum keluar kamar karena masih salat subuh. Selesai memberi susu Kayla dan bayi itu tidur lagi, Gilang iseng mengecek HP. Ada chat dari Sandra. “Subuh, Mas” diikuti dengan emoji senyum. Gilang tidak membalas chat itu. Dia ambil wudhu dan salat.

Paginya dia berangkat dan berkeliling kota mencari uang. Jam 12 dia pulang dan makan bersama ibunya sambil main sama Kayla. Dia berangkat lagi sampai sekitar jam dua. Setelah mengantar satu penumpang, dia mengecek HP untuk mengambil lagi. Ada chat masuk dari Sandra sekitar jam setengah satu. “Dhuhur, Mas”.

Gilang mencari masjid dan salat.

Begitu terus sampai dia pulang ke rumah, mandi, dan makan malam. Chat terakhir yang masuk sekitar pukul tujuh. “Isya, Mas”. Gilang salat dan meminta ijin untuk menelepon Sandra. Sandra mengiyakan.

“Ada yang terlewat enggak?” tanya Sandra.

“Enggak ada.”

“Apa yang dirasa?”

“Enggak ada yang dirasa. Enggak ada perubahan.”

“Dicoba lagi, ya, besok.”

“Iya.”

Dua hari dilakukan dan malamnya dia menelepon Sandra lagi.

“Gimana?”

Gilang diam lama. “Perubahan dalam hidup, sih, enggak ada. Uang juga dapatnya segitu-gitu saja. Tapi saya jadi lebih… santai.”

“Maksudnya?”

“Karena beberapa kali berhenti buat salat, saya jadi enggak secapek biasanya.”

“Alhamdulillah,” jawab Sandra.

Gilang berkata pada saya bahwa dia melakukan itu selama sebulan penuh. Sandra tanpa terlewat akan mengirimkan chat setiap jam salat dan tanpa terlewat, Gilang mencari masjid untuk salat ketika dia baca chat itu di jam berapa pun. Hidupnya tidak tambah lebih baik memang, tapi pekerjaan Gilang terasa lebih ringan.

**

Cecil terbangun oleh telepon dari rumah sakit. Katanya ada pasiennya yang dibawa ke UGD. Cecil berpakaian dan menuju rumah sakit. Sesampainya di UGD, perawat mengatakan kalau pasiennya sudah dipindah ke ruang bayi. Cecil membaca data pasien dan ada nama Kayla di sana. Berarti ada Gilang di rumah sakit.

Cecil naik ke lantai tiga dan bertemu dengan Gilang di ruang tunggu. Kata Gilang, Kayla menangis tidak berhenti dan napasnya sesak-sesak. Cecil menyuruh Gilang untuk menunggu lagi sementara dia memeriksa Kayla. Tidak lama, Cecil keluar lagi dan meminta Kayla untuk dirawat dulu. Tapi dia meyakinkan Gilang bahwa tidak ada yang serius. Paling dua hari pulang, kata Cecil.

Cecil kembali ke ruang perawat untuk ngobrol dengan beberapa perawat. Dia membaca kalau Kayla dirawat pakai uang pribadi dan bukan asuransi ataupun BPJS. Ketika ditanya kenapa, satu perawat mengatakan Gilang ingin Kayla cepat ditangani jadi memutuskan untuk bayar pribadi. Tapi, kan, harganya mahal. Plus, dia, kan, cuma sopir ojol.

Cecil tidak memperpanjang soal itu.

Kayla dipulangkan sesuai jadwal. Cecil sedikit terharu melihat Gilang dan ibunya yang menyambut Kayla dengan senyum dan air mata. Mereka betul-betul sayang sama bayi itu. Cecil semakin ingin tahu kemana ibu bayi itu pergi.

Kayla kembali tiga hari kemudian untuk kontrol lanjutan. Gilang dan ibunya datang bersama seperti biasa. Gilang masih memakai jaket ojol hijaunya. Lalu tiga hari kemudian Kayla datang lagi, kali ini cuma dengan Gilang saja.

“Mana ibunya, Mas?”

“Enggak ikut. Kemarin ada syukuran di rumah saudara jadi kecapekan.”

Cecil mengangguk dan memeriksa Kayla. Bayi itu sudah sehat dan berat badannya sudah normal. Di akhir pemeriksaan, Cecil memberanikan diri menanyakan kemana ibu Kayla. Akhirnya Gilang bercerita soal kematian adiknya. Cecil sedih mendengarnya tapi sok tegar di hadapan pasien.

“Mas enggak punya asuransi? Pakai BPJS?”

“Enggak ada, Dok. Banyak cerita soal BPJS yang enggak bagus. Kalau asuransi belum tahu, deh.”

“Mending dipertimbangkan, Mas. Soalnya biaya bayi prematur cukup mahal.”

“Iya, Dok. Segera. Doakan saya narik ojolnya laris.”

Cecil tersenyum. Lalu dia mencoret biaya dokter di lembar tagihan rumah sakit dan hanya menagihkan vaksin saja untuk Gilang.

**

Gilang baru menyadari kalau Cecil tidak mau dibayar ketika dipanggil ke kasir. Kata kasir, Dokter Cecil menggratiskan biaya konsultasi dan perawatan, Gilang cuma bayar vaksin saja. Gilang kaget dan berlari kembali ke ruangan Cecil. Cecil yang baru saja menyelesaikan pasien berikutnya terkejut melihat Gilang kembali lagi.

“Kayla kenapa?”

“Bukan, Dok. Mau bilang terima kasih.”

“Oh. Biasa saja, Mas.”

“Ini luar biasa, Dok. Makasih banyak.”

Cecil tersenyum dan meminta Gilang untuk masuk. Cecil menuliskan nomor HP-nya di kertas resep obat dan memberikannya pada Gilang. “Kalau mau tanya-tanya soal apa saja yang sifatnya enggak emergency, WA saja ke sini. Jadi menghemat juga.”

Gilang rasanya ingin mencium tangan Cecil kayak anak SD ke gurunya. Dia bilang terima kasih sekali lagi dan pulang dengan bahagia.

**

Cecil pulang ke apartemen sekitar jam 7 malam setelah olahraga di gym. Seharian itu moodnya sangat, sangat, bagus. Semua itu karena Gilang kembali lagi ke ruangannya hanya untuk bilang terima kasih. Cecil merasa baru saja melakukan hal yang paling baik sejagad raya.

**

Gilang menceritakan itu semua ke Sandra malam itu. Sandra ikut senang mendengarnya.

“Apa mungkin gara-gara salat, ya?” kata Gilang.

“Enggak tahu, Mas. Mudah-mudahan.”

**

Jadwal kontrol Kayla menjadi 2 minggu sekali karena perkembangan tubuhnya yang bagus. Jadwal 2 minggu sekali ini menjadi pertemuan yang ditunggu-tunggu sekali oleh Cecil. Entah kenapa dia senang bertemu Gilang, ibunya, dan Kayla. Mereka bisa menghabiskan waktu setengah jam mengobrol di ruang praktik tiap pertemuan.

Suatu kali, ibu Gilang mengundang Cecil untuk datang ke syukuran di rumah. Cecil merasa malu diundang oleh pasien dan menolak. Ibunya memaklumi tapi berkata kalau Cecil berubah pikiran bisa langsung datang saja. Cecil mengiyakan.

**

Kehidupan Gilang mulai teratur. Tapi tetap saja dia harus memikirkan bagaimana caranya punya pemasukan lebih besar sebelum uang tabungannya terkuras habis untuk Kayla. Dia sering berkonsultasi dengan Sandra tapi belum ada solusi yang cocok.

“Nanti ada syukuran di rumah, Mbak. Hari Sabtu.”

“Oh.”

“Kok, oh, doang jawabnya?”

“Harus gimana, dong?”

“Itu tadi undangan supaya Mbak datang.”

Sandra tertawa. “Iya, insya Allah, Mas.”

**

Di apartemennya, Cecil menelepon psikiater yang sudah dia temui sejak beberapa tahun ke belakang. Dia dipertemukan dengan psikiater itu atas rekomendasi teman dokternya di rumah sakit. Cecil sering bicara dengan dia mengenai pemulihan traumanya atas kematian Grace. Psikiater itu kita panggil saja Irma. Irma ini seumur dengan Cecil dan selalu siap kapan saja untuk bicara. Jam sebelas malam, Cecil minta ijin untuk datang ke rumah Irma. Irma mengijinkan.

Di rumah Irma, Cecil bertanya padanya. “Ma… aku agak takut.”

“Takut kenapa?”

“Aku kayaknya lagi suka sama orang.”

Irma mengangguk. Dia tahu kalau suka sama orang dalam kamus Cecil belum tentu menjadi hal yang baik. Cecil bisa jadi trauma lagi kalau orang yang disukainya adalah orang yang salah.

Cecil menceritakan kalau ada pasien bernama Gilang yang mulai memenuhi otaknya. Dia tertarik sama Gilang karena melihatnya begitu sayang pada keponakan dan ibunya. Irma tidak punya solusi kecuali meminta Cecil untuk memikirkannya perlahan. Kemudian Cecil cerita soal undangan syukuran di rumah Gilang.

“Datang saja. Nanti aku ikut,” kata Irma.

“Mau?”

“Maulah. Supaya kamu enggak keliatan sendiri banget, kan. Aku juga bisa lihat gimana si Gilang ini orangnya seperti apa dan efek ke kamunya gimana.”

Cecil mengangguk setuju.

Maka di hari Sabtu, Cecil mencari nomor Gilang dari data pasien dan meneleponnya untuk bilang dia akan datang. Gilang super senang. Dia mengirimkan alamat rumahnya dan Cecil pergi dengan mobil bersama Irma.

Sesampainya di rumah Gilang, Cecil disambut oleh ibu Gilang dan Kayla. Cecil memeriksa singkat Kayla yang sudah jauh lebih sehat. Lalu dia masuk ke dalam dan bertemu Gilang. Cecil nyengir lebar sekali waktu bersalaman dengan Gilang.

“Makasih banget, Dok, sudah datang. Senang sekali Dokter bisa sempatkan waktu.”

“Iya. Tapi saya enggak bawa apa-apa. Malah bawa teman,” Cecil memperkenalkan Irma.

“Iya, Dok. Enggak apa-apa. Oh, iya, ini teman sekantor saya dulu. Dia bantu saya banget waktu saya lagi terpuruk. Sandra namanya.”

Cecil bertemu mata dengan seorang perempuan ramping dan tinggi yang mengenakan jilbab. Sepanjang acara syukuran, Cecil dan Irma ditemani ibu Gilang dan Kayla. Sementara Gilang duduk bersama Sandra mengobrol bersama tamu-tamu lainnya. Sepanjang acara itu pula Cecil tidak bisa melepaskan pandangannya dari Gilang dan Sandra. Melihat mereka bersama membuat perutnya jungkir balik.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler