. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 24 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 24

0
249

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 24

Membaca pesan dari Bu Wita yang seperti itu membuat Gilang sakit kepala. Sepulang dari hotel Hinako, dia tidak masuk kerja tiga hari karena meriang. Dia dirawat sama Regina di apartemen sampai dia ditelepon Bang Bob di hari keempat. Bang Bob menyuruhnya masuk karena proyek Gilang harus segera diurus. Gilang, yang masih tidak enak badan, mau tidak mau berangkat ke kantor.

Langkahnya berat sekali buat masuk gedung kantor. Jantungnya koprol bolak balik dan pandangan rasanya berputar. Waktu dia masuk, orang kantor bersikap seperti biasa. Mungkin berita soal Bu Wita belum tersebar ke karyawan. Tapi Bu Wita masih belum masuk kerja. Waktu ditanya ke HRD, Bu Wita tidak mengajukan cuti dan hanya menghilang setelah mengabari kalau dia tidak akan masuk sementara waktu.

Gilang menjadi lumayan tenang ketika kondisi kantornya tidak ada perubahan. Dia bekerja seperti biasa mengurusi proyek sampai hari selesai. Pulang ke apartemen, dia dan Regina berniat ML lagi. Gilang menggenjot Regina tiga ronde untuk melupakan kasus Bu Wita. Selesai ML si Gilang mual-mual dan demam lagi. Dia bed rest semalaman. Paginya Gilang ijin datang ke kantor agak siang. Waktu mandi dan kencing, Gilang merasa si jenderal perih dan panas. Terus ada cairan lengket yang keluar dari lubang jenderal. Buset. Apa lagi ini?

Gilang bekerja seperti biasa dan Bu Wita belum ada. Seharian Gilang harus bertahan dengan gatal di penis yang berkepanjangan. Tidak nyaman dengan itu, Gilang cus ke dokter kelamin. Setelah diperiksa, kata dokter rasa sakit dan cairan itu berasal dari infeksi yang disebabkan perilaku seks yang tidak sehat. Bisa menular kalau Gilang nyelup jenderal ke pasangan. Berarti Gilang mesti puasa seks. Dia pulang berbekal obat antibiotik yang harus habis dalam lima hari.

Malamnya Gilang bilang soal kondisinya ke Regina dan Regina merasa bersalah. Setahu Regina, cuma dia pasangan ML Gilang jadi dia pikir penyebab sakitnya adalah dia. Regina meminta maaf berkali-kali dan menjadwalkan periksa dokter besok harinya.

Pagi hari, Gilang kembali kerja. Dia kaget waktu datang ke kantor dan melihat ada Bu Wita di dalam ruangannya. Gilang terlalu takut untuk mengajaknya bicara. Sampai selesai kerja, Gilang menghindari Bu Wita.

Malamnya Gilang dapat kabar dari Regina kalau tidak ada bakteri di vaginanya. Jadi kemungkinan dia kena infeksi dari si Hinako. Cantik-cantik tapi badannya kotor, pikir Gilang.

Di hari Senin yang sibuk, ada rapat besar di kantor Gilang yang dipimpin Bu Wita. Selesai rapat, Bu Wita memberitahukan pengumuman mendadak. Bu Wita akan resign dari kantor dua hari lagi. Semua syok dan kaget. Orang HRD marah-marah karena Bu Wita menyalahi SOP. Tapi Bu Wita keukeuh. Agak sore menjelang, Gilang memberanikan diri masuk ke ruangan Bu Wita dan menanyakan apa yang terjadi.

Bu Wita cerita kalau waktu itu anaknya main-main HP Bu Wita dan membuka galeri foto. Lalu dia melihat gambar payudara Bu Wita yang memar dan menanyakannya ke suaminya. Suaminya melihat kalau gambar itu ada di folder WA dan mengecek kepada siapa Bu Wita mengirimkannya. Muncullah nama Gilang.

“Suami ancam kalau Ibu enggak keluar dia mau gugat cerai.”

Gilang terdiam. Dia minta maaf tapi Bu Wita bilang itu bukan salahnya. Memang benar bukan salah dia. Tapi bagaimanapun Gilang menjadi faktor keretakan rumah tangga Bu Wita.

Dua hari kemudian Bu Wita resign mendadak dan Bang Bob diserahkan tugas untuk menjalankan kantor. Di kepemimpinan Bang Bob, kantor berjalan terombang-ambing. Bang Bob ARO yang super, tapi dia bukan orang yang bisa mengatur administrasi dan jalan berbisnis. Banyak sekali masalah yang menggunung dan membuat repot semua divisi. Dari mulai proyek yang mundur, invoice yang salah alamat dan terlambat dikirim, penagihan yang lambat, dan banyak lagi masalah lainnya.

Gilang yang dekat sekali dengan Bang Bob ikut mengurusi kantor yang kacau balau. Akibatnya ada dua proyek Gilang yang mandek. Dia dimaki-maki klien dan salah satunya hengkang. Bang Bob tidak marah karena dia sendiri sedang kewalahan. Tapi Gilang berhasil membereskan satu per satu masalah kantor dan membuat semuanya berjalan lumayan lancar lagi. Sampai suatu hari kantor mereka kena tuntut klien karena menyalahi klausa kontrak. Salah satu ARO junior salah menjelaskan suatu proyek dan ketika proyeknya jalan, isi proyek tidak sesuai dengan yang dimau klien. Isi proyek jauh berbeda dengan isi kontrak. Bang Bob memecat si ARO tanpa investigasi karena pusing dan sibuk membereskan kasus itu.

Gilang jadi super sibuk sampai-sampai dia jarang pulang di bawah jam dua belas malam. Di tengah kesibukannya, suatu hari dia berjalan melewati musala dan melihat ada Sandra yang sedang salat. Gilang membatin. Sudah lama sekali dia tidak salat. Apa mungkin ini adalah hukuman bagi dia karena meninggalkan ibadah?

Tapi tetap Gilang tidak jadi rajin salat. Dia pikir, waktu enggak salat dia sempat berjaya dan hidup enak, kalau sekarang ketika dia terpuruk dia salat, apa enggak dibilang munafik sama Allah. Jadi tidak salat saja sekalian.

Selama sekitar empat bulan membenahi kantor, Bang Bob diserang di kantor oleh orang tua ARO yang marah karena anaknya dipecat tanpa alasan. Bang Bob dan paman si ARO junior itu berkelahi di ruangan sampai dipolisikan. Bang Bob kena pasal kekerasan dan dibui selama seminggu. Gilang makin stres.

Di bulan kelima, Presiden Direktur yang tidak pernah pulang ke Indonesia akhirnya datang ke kantor dan mengambil alih komando. Gilang yang tahu semua masalah menjadi tangan kanannya. Dalam waktu sebulan, semua masalah terselesaikan dan kantor berjalan normal kembali. Presdir berangkat lagi ke Vietnam dan meninggalkan kantor di tangan Bang Bob yang sudah dibebaskan. Kerjaan Gilang jauh berkurang menjadi tinggal dua: mengurusi satu proyek yang sudah hampir selesai, dan mewawancarai beberapa kandidat ARO. Setelah kedua proyek itu beres, Gilang ambruk diserang tifus.

Gilang dirawat di rumah sakit berinisial S dan mengambil kamar VIP yang paling tinggi. Persetan duit, pikirnya, dia pengin istirahat total. Selama kurang lebih sepuluh hari Gilang dirawat, dia ditunggui Regina. Di hari kedua, Sandra menjenguk Gilang waktu Regina sedang kerja.

“Gimana, Mas, badannya?” tanya Sandra. Gilang ingat sekali waktu itu Sandra mengenakan hijab panjang berwarna hitam dengan gaun panjang ungu. Sandra cantik sekali. Cuma sayang saya enggak punya fotonya. Mungkin nanti kalau Gilang kasih saya bagikan di sini.

“Ya, gitu, Mbak. Masih suka demam.”

“Ada yang nungguin di sini?”

“Ada teman yang nunggu.”

“Ini. Aku kayaknya enggak usah kasih uang buat sumbangan kali, ya, soalnya gaji Mas lebih gede dari aku. Tapi ini aja buat isi waktu,” Sandra meletakkan dua buku di meja samping ranjang Gilang. Yang satu tentang doa-doa waktu musibah, satu lagi soal bisnis dan cara menyeimbangkannya dengan kehidupan pribadi.

Gilang pulang di hari kesebelas dan istirahat dua hari. Baru dia kerja lagi. Waktu kerja, dia berniat pulang ke Kampung Halaman untuk melepas penat. Seperti biasa, dia hubungi Tante Yuli. Tebak siapa yang angkat teleponnya? Linda. Linda langsung maki-maki Gilang.

“Bejat kamu. Sumpah. Anjing tahi babi. Papah stroke gara-gara dia baca chat kamu sama Mamah. Anjing. Enggak usah telepon Mamah lagi. Atau nanti aku sebar kamu ngentot sama ibu-ibu di Facebook. Ngerti kamu, Setan?”

Gilang membeku di telepon. Bu Wita ketahuan selingkuh sama Gilang, sekarang Tante Yuli juga. Dan suami Tante Yuli, papanya Linda, stroke karena tahu mereka selingkuh. Di sana Gilang berpikir bahwa suami Tante Yuli, kan, selingkuh juga? Tapi dia diam saja.

Gilang pulang ke rumah dan bertemu keluarganya. Waktu itu adiknya sedang mengandung delapan bulan. Gilang dapat kabar kalau adik dan suaminya akan pergi ke Kalimantan karena suaminya ada kerjaan di sana. Mereka akan berangkat Senin siang.

Senin siang, Gilang pakai kereta api menuju Ibukota. Di tengah perjalanan, Gilang dapat telepon kalau adiknya kecelakaan di jalan tol. Gilang panik. Dia menelepon kantor ijin tidak masuk dan membeli tiket pulang hari itu juga.

Gilang menuju ke rumah sakit dan bertemu ibunya. Ibunya yang sudah pensiun menangis sesenggukkan karena suami adiknya meninggal dalam tabrakan. Adiknya sendiri sekarang sedang dioperasi. Kabar terbarunya, si anak harus diangkat prematur dari rahim dan dalam penanganan intensif. Adiknya sendiri masih dalam penanganan operasi.

Gilang dan ibunya serta keluarga suami adiknya menginap di RS sampai subuh. Sambil menunggu, Gilang menemukan buku pemberian Sandra. Dia pun membaca salah satunya.

Ada satu kutipan di buku doa-doa waktu musibah yang dia ingat sekali.

“Seorang manusia sesungguhnya penuh dengan ketidaksempurnaan. Bukan hanya ia selalu lupa pada Rabbnya ketika sehat, ia pun lupa pada-Nya ketika sakit.”

Gilang menyadari kalau dulu dia berpikir ngapain salat karena waktu tidak salat saja dia sukses. Orang-orang banyak yang tidak salat bahkan tidak Islam saja sukses. Ngapain salat? Ditambah, kalau Gilang hanya salat waktu susah, memang Allah akan mengampuninya?

Di buku itu dibilang, kalau tidak salah, Allah adalah satu-satunya zat yang boleh kita minta pamrih. Jadi kita boleh ibadah segetol mungkin ketika ada maunya saja. Enggak masalah. Karena kasih sayang Allah itu luas. Tapi tetap ibadah yang wajib jangan ditinggal.

Membaca itu, Gilang langsung mengambil air wudhu dan salat malam. Dia berdoa sampai menangis meminta keselamatan adiknya. Selesai salat, dia kembali ke ruang tunggu dan dapat kabar kalau adiknya meninggal di ruang operasi.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler