. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 23 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 23

0
247

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 23

Bu Wita memanggil Gilang ke ruangannya pada suatu siang untuk mengatakan bahwa dia akan menjadi perantara antara kantor dengan tim marketing dari Jepang yang beranggotakan empat orang. Gilang tentu menyanggupi. Sekitar pukul tiga sore, datanglah keempat orang Jepang itu diantar oleh Bang Bob dan sopir. Bang Bob membawa keempat orang Jepang itu ke ruang rapat dan memanggil Gilang dan Bu Wita.

Di antara empat orang itu, cuma satu yang bisa bahasa Inggris. Hinako namanya. Wajahnya sudah saya kasih lihat di update sebelumnya, ya, dan menurut saya dia cantik dan lugu. Bu Wita memperkenalkan diri dan mengatakan kalau orang yang akan bertanggung jawab pada proyek mereka adalah Gilang. Gilang cukup jago berbahasa Inggris jadi dia oke-oke saja ketika ditinggal sama Bu Wita.

Singkat cerita, proyek orang Jepang ini akan berlangsung selama dua minggu di Ibukota. Mereka tinggal di hotel yang huruf depannya M dan setiap hari ditemani Gilang. Komunikasi Gilang terfokus pada Hinako karena cuma dengan dialah Gilang bisa nyambung.

Hari pertama dan kedua Hinako di Ibukota, mereka full urus-urus kerjaan. Hari ketiga, tim dapat waktu kosong di siang hari dan cuma ada jadwal makan malam sama rekanan proyek. Jadi dari pagi sampai sore, Gilang mengajak mereka semua ke Taman Satwa, tempat rekreasi yang kita naik mobil buat lihat-lihat hewan itu, loh.

Gilang membawa mobil inventaris kantor dan membawa tim Jepang liburan. Hinako duduk di depan dan mereka ngobrol sepanjang jalan. Karena sedikit macet, semua tim tertidur dan cuma Hinako yang masih bangun. Hinako tidak bisa tidur karena asik ngobrol sama Gilang.

Di sinilah Gilang mencoba mempraktikan jurusnya. Dia mau tahu apa jurus dia ampuh sama orang asing atau tidak. Percakapannya ditulis pakai bahasa Indonesia saja, ya, biar gampang dimengerti.

“Indonesia ini negara beragama tapi manner orang Jepang lebih beragama dari Indonesia,” kata Gilang. Gilang lupa apa awalnya sampai dia bisa ngobrol begini. Yang jelas mereka jadi ngomongin budaya.

“Kita itu negara yang canggungan, Gilang. Kita enggak enakan sama orang lain jadi kesannya kayak menghormati sesama. Padahal kita pada intinya pemalu saja.”

“Apapun itu, yang jelas negara kamu lebih teratur. Macet, tuh, kalau di sini.”

“Di Jepang juga macet. Tapi lebih bersih dan… apa, ya….”

“Nah, kan.”

“Tapi orang sini ramah-ramah banget, loh.”

“Orang sini itu banyak palsunya. Di depan ramah di belakang ngomongin. Sorry to say, tapi banyak orang di Indonesia, terutama di Ibukota, yang munafik.”

“Maksudnya?”

“Ngaku beragama tapi kelakuan kayak setan.”

Hinako tertawa.

“Asli. Kami banyak mengagungkan agama tapi tetap saja banyak seks, narkoba, atau mabuk.”

“Itu perbedaannya kali, ya. Karena di negara kami enggak begitu mengenal agama, yang begituan jadinya bukan masalah.”

“Itu dia bedanya Indonesia dengan negara maju lain. Indonesia itu kaya, pintar, tapi terkungkung. Kalau saja bisa open-minded, Indonesia bisa ngalahin Jepang.”

“Jadi kamu orangnya open-minded?”

“Sebisa mungkin.”

“Kamu Muslim, kan?”

“Yes.”

“Enggak boleh seks, mabuk, dong.”

“Mabuk saya enggak, seks saya iya.”

“Waw.”

“Agama, terkadang, membatasi pengalaman. Kita hidup satu kali di dunia ini dan cuma punya waktu yang sangat-sangat sebentar.”

“Gimana?”

“Dalam satu hari ada berapa jam?”

“24.”

“Tidur berapa lama?”

“Delapan?”

“Kerja berapa jam?”

“Delapan.”

“Makan dalam satu hari berapa jam?”

“Satu atau dua?”

“Sisa enam jam. Belum kalau kita mau ke toilet atau lagi di perjalanan. Waktu kita cuma sedikit di dunia. Jadi alasan saya enggak mabuk adalah karena saya enggak mau menghabiskan waktu itu buat teler dan enggak sadar. Beda dengan seks. Itu adalah pengalaman yang cuma bisa dirasakan sekarang, hari ini.”

“Jadi kamu suka seks?”

“Orang yang enggak suka seks itu kayak orang yang cuma makan es krim yang rasanya itu-itu doang. Padahal rasa es krim di dunia itu banyak.”

“Orang Jepang enggak suka seks.”

“Masa? Bukannya film porno Jepang banyak?”

“Maksudnya seks antar pasangan. Orang Jepang lebih suka kerja.”

“Kalau kamu?”

“Suka.”

“Kenapa?”

“Karena aku open-minded.”

Gilang sengaja menatap Hinako agak lama. Lalu dia bilang, “Pernah have sex sama orang luar negeri?”

Hinako tertawa.

Gilang berhenti di situ. Dia tidak mau terlalu agresif. Yang jelas ide soal seks sudah dilempar. Biarlah mengeram di otak Hinako.

Setelah itu selama beberapa hari mereka disibukkan oleh pekerjaan. Di sela-sela waktu itu, Gilang mencoba mendekati JE lagi. Kebetulan proyek Jepang ini sedang cari brand ambassador. Sebetulnya kandidat artis sudah ada dan JE tidak masuk pertimbangan, tapi Gilang bilang ke JE kalau dia masuk ke kandidiat. Makanya JE mau waktu diajak makan. Kali ini makan malam.

Gilang ketemu JE di kedai kopi yang gambarnya hijau yang super beken. Di sana Gilang basa basi soal proyek dan bagaimana nanti acaranya. Omong kosong saja buat pembuka topik, padahal si JE enggak akan dipakai sama kantor Gilang. Baru setelah itu masuk ke topik yang segar-segar.

“Gimana sama pacar?” tanya Gilang.

“Gitulah.”

“Saya lagi dekat sama orang Jepang.”

“Wah? Siapa?”

“Teman kantor. Ada ide enggak cara buat dia mau sama saya?”

“Tunggu. Mau dijadiin pacar atau cuma one night stand? Kamu, kan, orangnya gitu.”

“Yang mana saja boleh. Dia di Indo enggak lama soalnya. Kalau enggak dapat jadi pacar, ya, jadi one night stand juga okelah.”

JE tertawa.

“Serius ini. Ada ide?”

“Semua cewek sama, Lang. Ya, dimanisin saja. Kasih pujian, kasih perhatian lebih, kalau waktunya tepat kasih hadiah. Sering komunikasi.”

Gilang mengangguk-angguk. “Kamu cantik hari ini.”

JE tertawa ngakak. “Apaan, sih?”

“Latihan. Geer enggak?”

“Geer. Tapi jijik.”

Mereka berpisah malam itu. Sesampainya Gilang di apartemen, sebelum ML sama Regina, dia kirim pesan ke JE mengatakan terima kasih atas saran yang diberikan. Di ujung pesan, Gilang menambahkan PS: Kayaknya kamu artis paling baik dan paling cantik yang pernah saya temui. Kamu ada celanya enggak, sih?

JE membalas: Jangan PDKT-in saya.

Gilang senyum terus menggenjot Regina. Skip saja, ya, Reginanya.

Kembali ke kerjaan, Gilang dan Hinako makin dekat. Waktu dua minggu terasa cepat berlalu. Selama pekerjaan, Gilang melakukan apa yang JE sarankan. Gilang sering bilang kalau Hinako adalah perempuan Jepang yang paling manis, dia cantik hari ini, bahasa Inggrisnya bagus, kulitnya bersih, cara bicaranya lugas, pokoknya dipuji-puji bangetlah.

Sampai akhirnya tiba di ujung proyek. Dua hari sebelum tim Jepang pulang, mereka adakan semacam syukuran acara lancar dengan makan-makan di restoran hotel. Bu Wita dan Bang Bob itu juga di acara itu. Setelah acara selesai, Bang Bob dan Bu Wita pulang duluan. Gilang pulang terakhir karena harus bayar acara makan-makan mereka. Tim Jepang sudah pamit untuk masuk kamar. Gilang menahan Hinako dan memintanya untuk menemaninya minum sebelum pulang. Waktu itu jam sembilan malam dan Hinako menyetujui untuk ngobrol dengan Gilang.

Mereka pindah dari restoran ke bar. Hinako memesan alkohol yang saya lupa namanya (ada grasshoppernya kalau enggak salah nama minumannya), dan Gilang pesan jus jeruk. Di situ mereka ngobrol sampai sekitar jam sebelas.

“Gimana sejauh ini pengalaman di Indonesia?”

“Bagus. Kantor kalian kerjanya oke banget.”

“Berarti nanti kalau ada acara di sini lagi ajak kami lagi, dong.”

“Pasti.”

“Sama saya lagi yang urusinya.”

“Iya.”

“Sudah punya pacar?”

Hinako tertawa. Tidak menyangka akan ditanya begitu. “Belum. Kenapa?”

“Enggak percaya orang kayak kamu belum punya pacar.”

“Lagi nyari, sih. Kamu mau jadi pacar saya?”

“Mau banget. Cuma LDR-nya kejauhan.”

“Iya, ya.”

“Kalau jadi pacar semalam ini bisa?”

Hinako ngakak.

“Ini asli.”

“Kalian orang Indonesia itu aneh. Mengaku sopan dan alim. Religius pula. Tapi obrolannya begini.”

“Sudah dibilang kami ini munafik.”

“Kamu serius?”

“Serius.”

“Kalau kamu orang Jepang, besoknya kamu sudah bukan teman saya lagi. Kita baru berani ngomong begini kalau sudah sahabat banget. Bahkan itu pun jarang yang berani kayak kamu.”

Gilang cuma tersenyum.

“Why me?”

“Karena selama kerja sama kamu aku merasa nyaman. Saya single jadi kadang kalau nyaman sama orang lain saya suka ketagihan sama kedekatan itu. Bukan suka buat jadi istri, ya, tapi kadang sebagai orang biasa yang walaupun open-minded dan berprinsip open relationship, saya juga pengin dapat keintiman sama orang lain. Itu saya dapat dari kamu.”

“Intimacy?”

“Intimacy. Itu perasaan yang enggak bisa didapat dari sembarang orang. Mungkin saya geer, tapi saya rasa kamu juga dapat perasaan itu dari saya.”

Hinako nyengir lebar banget.

“Kan?”

Hinako masih nyengir.

“Well. Gimana? Boleh saya nginap?”

Hinako tertawa lalu mengangguk. “Saya juga pengin dipeluk.”

Gol. Yah, paling enggak awalnya. Proses panjangnya gimana mereka bisa dekat waktu di proyek saya enggak jabarkan, ya. Yang jelas tahapannya sama, kok. Gilang sebisa mungkin setiap bertemu Hinako pasti mengulang-ulang topik seks, open-mindedness, sama intimacy.

Selesai dari bar, Hinako membawa Gilang ke kamarnya. Gilang sudah persiapan mental jadi tidak grogi, tapi tetap saja jantungnya jumpalitan di dada. Hinako menyuruh Gilang duduk di kasur sementara dia bersih-bersih di kamar mandi. Selesai dari kamar mandi, Hinako cuma pakai kaus pendek bergambar Sesame Street dengan celana pendek warna krem. Gilang ingat banget pakaiannya karena Hinako adalah korban yang tidak terlupakan.

Hinako duduk di samping Gilang dan mereka ngobrol sedikit. Lalu Gilang mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Hinako. Hinako memejamkan mata dan mereka berciuman. Hinako jago banget ciumannya. Waktu bibir mereka nempel, Hinako langsung pakai lidah. Gilang mengimbangi. Bu Wita sepuluh kali lebih agresif ketimbang Hinako tapi entah kenapa Gilang lebih ngos-ngosan sama dia. Mungkin karena Hinako orang Jepang, deg-degannya beda.

Mereka main dengan tempo sedang. Gilang membuka kemejanya dan membuka kaus Hinako. Dia sudah tidak pakai bra. Payudaranya kecil saja, cuma cukup digenggam dengan lembut, tapi kulitnya putih susu. Gilang ingat Hinako punya tahi lalat di dekat puting kanannya. Gilang memainkan payudara Hinako dengan tangan. Dengan lembut dia memutar-mutar putingnya dan membuat Hinako mendesah pelan. Gilang merebahkan Hinako dan memelorotkan celananya. Celana dalam Hinako berwarna putih dan Gilang tarik sampai copot. Vaginanya dicukur habis dan wangi. Gilang belum pernah menemukan vagina wangi. Wanginya seperti wangi buah jeruk. Gilang jadi pengin cium vagina Hinako.

Gilang menunduk dan mencium vagina Hinako. Hinako menggeliat. Lalu dia mencium klitoris Hinako. Cewek Jepang itu makin menggeliat. Gilang menjilat seluruh bagian vagina Hinako dan perempuan itu menjerit keenakan. Kedua tangan Gilang meremas dada Hinako sementara lidahnya bermain di vagina. Suara Hinako makin kencang dan akhirnya dia menarik badannya. Hinako duduk dan mencium Gilang dengan agresif. Gilang mencopot celananya dan menarik kepala Hinako ke penisnya. Hinako langsung mencaplok penis Gilang dan maju mundur dengan cepat.

Gilang harus menahan napas supaya penisnya tidak kebobolan. Enak banget. Selain kulumannya yang maju mundur, tangan Hinako juga bermain dengan lincah. Gilang sampai menunduk saking enaknya.

Gilang tidak tahan lama-lama dikulum. Dia menarik Hinako berdiri dan menciumnya. Hinako didorong sampai rebahan dan Gilang mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Hinako. Sudah becek dan masuk tanpa perlawanan. Vaginanya tidak sesempit Regina tapi terasa lebih hangat. Hinako memejamkan mata dan mengerang enak.

Gilang mulai menggenjot. Pertama-tama dengan gerakan lambat, tapi Hinako memegang pantatnya dan memaksanya menggenjot dengan kecepatan tinggi. Hinako mendesah cepat seiring gerakan Gilang yang makin ngebut. Mau keluar. Gilang buru-buru cabut penisnya dan berhenti dulu. Dia mencium Hinako dan membalik badannya. Gaya tusuk belakang. Gilang langsung pakai gigi lima dan Hinako berteriak-teriak keenakan. Tangannya sibuk mencari pegangan dan mereka mulai berkeringat.

Gilang mencabut penisnya lagi ketika mau crot. Dia mencium Hinako selama beberapa detik untuk menenangkan diri. Setelah siap, Gilang merebahkan Hinako lagi, mengangkat kedua kakinya ke pundak lalu menggenjot. Hinako makin kencang suaranya. Dia memiringkan badan. Gilang agak kagok tapi akhirnya dapat posisi enak. Genjotannya makin cepat. Hinako menggeleng-gelengkan kepala saking enaknya. Lalu Gilang sudah tidak bisa menahan lagi.

Gilang mencabut penisnya lalu meletakkannya di antara payudara Hinako. Hinako menjepit penis Gilang dan Gilang bergerak maju mundur. Baru beberapa kali, penisnya ambyar dan cairan putih mengenai wajah Hinako yang mulus.

Gilang ambruk di kasur. Sementara Hinako membersihkan sperma, dia menggerutu. “Padahal aku sebentar lagi klimaks.”

Gilang tersenyum. “Maaf, ya.”

Gilang mau-mau saja ronde dua. Tapi dia sudah tidak kuat. Mereka tertidur sampai pagi.

Pagi harinya Gilang terbangun lebih dulu dan mandi. Setelah mandi, dia memeriksa HP-nya. Ada enam panggilan tak terjawab dari Bu Wita. Bu Wita meneleponnya dari tengah malam sampai jam tiga subuh. Karena HP Gilang dalam mode diam, jadi suaranya tidak keluar. Selain panggilan tak terjawab, ada dua pesan dari Bu Wita. Yang pertama isinya pemberitahuan kalau Bu Wita tidak akan masuk kerja hari itu.

Yang kedua berbunyi:
Bajingan kamu. Istri orang digoda. Kamu tahu dia sudah punya suami sama anak. Berengsek. Gua bunuh dasar anjing.

JENG JENG JENG

Bersambung

Daftar Part