. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 22 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 22

0
252

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 22

Masih ingat cerita Gilang ML sama Bu Wita yang dia jadi pihak dominan? Sehari setelah kejadian itu, Gilang pulang ke apartemen dia. Waktu itu jadwal Gilang bersama Regina jadi sekitar jam 7 malam, Regina datang ke apartemen untuk menginap. Regina mengecup bibir Gilang terus mandi.

Waktu Regina mandi, Gilang dapat kiriman gambar dari Bu Wita. Waktu dibuka Gilang kaget. Gambar yang dikirim adalah foto dada Bu Wita. Gilang panik tapi senang. Panik karena takut Regina lihat. Gilang melirik ke pintu kamar mandi dan Regina masih di dalam. Gilang membesarkan gambar payudara Bu Wita di HP-nya dan ternyata payudara Bu Wita memar.

“Biru-biru gara-gara kamu,” isi pesan Bu Wita.

Gilang mengirimkan balasan meminta maaf. Lalu Gilang berpikir. Selama dia bersama Regina, mereka belum ML. Selain karena Gilang yang terlalu bawa santai, Regina juga seperti agak malu-malu. Gilang mau mencoba metode agresif seperti yang dia lakukan pada Bu Wita.

Maka, sebelum Regina keluar dari kamar mandi, Gilang buru-buru buka baju. Dia berdiri telanjang di depan pintu kamar mandi dan menunggu di sana. Waktu Regina beres mandi dan keluar, dia menjerit kaget.

Gilang langsung menarik handuk Regina sampai terlepas dan memperlihatkan tubuhnya yang telanjang.

F*uck, pikir Gilang. Ternyata berlaku agresif begini membuatnya jauh lebih terangsang.

Regina masih terkejut. Gilang tidak membuang waktu. Dia langsung menyambar badan Regina dan menciumnya. Regina memberontak sebentar tapi balas mencium Gilang. Gilang menekan tubuh Regina ke pintu kamar mandi. Mereka berciuman dengan ganas. Bibir dan lidah bergerak-gerak liar.

Gilang meremas pantat Regina dan Regina membalas dengan meremas pantatnya. Regina ternyata bisa main buas juga. Regina mendorong Gilang sampai dia menabrak meja di dapur. Gilang membalik posisi dan menaikkan Regina ke atas meja. Tanpa ba bi bu, Gilang menyodok vagina Regina dengan penisnya yang sudah tegang maksimal.

Regina merintih kesakitan dan mendorong Gilang. Tapi Gilang tidak berhenti. Dia memaksakan penisnya ke vagina Regina. Keras, boi! Kepala jenderal saja susah masuk. Regina mendorong Gilang dengan kaki dan Gilang mundur.

Regina melompat turun sambil memegang vaginanya. Dia berjongkok kesakitan.

“Sakit, ya?”

Regina tidak menjawab. Dia berdiri, masuk ke kamar, dan menutup pintu lalu dikunci.

Yah, marah.

Regina keluar dengan baju lengkap lalu pergi keluar apartemen.

Minggat.

Gilang memutuskan untuk memberi Regina waktu.

Besoknya, waktunya Gilang ketemu si JE. Mereka janjian ketemu buat makan siang di daerah utara di restoran timur tengah. Gilang menyempatkan untuk makan siang dengan JE di sela kesibukan rapat dia.

JE waktu itu datang sendiri. Rambutnya diikat dan pakai baju tanpa lengan. Buat Gilang, JE lebih cantik dari biasanya karena makeup dia minimalis. Beda dengan waktu dia kerja, makeupnya full dan total. Mungkin karena disorot lampu dan kamera, makeupnya perlu lebih tebal.

Mereka bersapaan lalu memesan makanan dan mengobrol. JE ini orangnya supel tapi Gilang merasa kalau dia tidak mau membagikan soal kehidupan pribadi dia pada sembarang orang. Gilang masih berstatus orang asing dan rekan kerja, belum teman, jadi JE bicara seolah memilah-milah informasi apa yang dia mau kasih ke Gilang. Gilang juga merasa kesulitan mencari celah untuk membuat JE lebih nyaman dengan dia supaya Gilang bisa mengaitkan obrolan mereka ke arah esek-esek.

Topik obrolan berputar di masalah kerjaan dan masalah umum, seperti cuaca dan ekonomi. JE menanggapi Gilang dengan sopan dan baik. Gilang merasa kalau ilmu JE jauh lebih tinggi ketimbang ilmu dia ataupun perempuan-perempuan lain yang dia pernah coba dobrak pertahanannya.

Waktu mereka membicarakan pekerjaan, Gilang menanyakan soal film terbaru apa yang akan JE bintangi. JE bilang sedang ada beberapa proyek yang kerja sama dengan luar negeri. Di situ Gilang coba masukkan teknik SSI-nya.

“Susah enggak, sih, buat aktris Indonesia menembus Hollywood? Maksud saya, Indonesia punya nilai dan norma sendiri dalam bikin film. Beda sama mereka. Kayak nudity atau kekerasannya.”

“Iya, beda. Aktris kita mesti lebih fleksibel kalau mau kerja bareng orang luar.”

“Fleksibel dalam arti misalnya mau nudity?”

“Bisa. Bisa juga kaya berperan sebagai gay. Atau buat artis baru yang sedang cari nama, dia jangan sok-sok idealis enggak mau merankan peran stereotipe kayak orang Asia yang genius, atau cupu, atau gitulah.”

Sh*t, nudity-nya enggak dibahas.

“Kamu sendiri enggak keberatan jadi orang fleksibel?”

“Kurang lebih.”

“Meski harus nudity?” Gilang membelokkan lagi ke topik nudity.

“Kalau berhubungan dengan ceritanya dan masuk akal, kenapa enggak. Cuma enggak banyak, kok, sutradara yang minta nudity. Sekarang lebih banyak yang minta jadi gay.”

JE membelokkan lagi topiknya.

Obrolan bergulir lagi dan Gilang menemukan celah lagi ketika JE keceplosan ngomong kalau dia kemarin jalan sama cowoknya.

“Kalau artis itu harus pacaran sama artis lagi atau sama pengusaha, ya?” tanya Gilang.

“Emang kenapa? Mau punya pacar artis?” JE tertawa.

“Enggak. Eh, tapi boleh juga. Eh, tapi… gimana ya…..”

“Apa, sih?”

“Konsep pacaran… bukan. Konsep komitmen itu buat saya masih abu-abu. Saya belum bisa komitmen.”

“Kok, bisa abu-abu?”

“Komitmen itu berat dan manusia itu dibuat untuk tidak berkomitmen.”

“Gimana gimana?”

“Manusia itu, kan, juga hewan. Hewan mana yang setia sama satu pasangannya?”

“Lumba-lumba, berang-berang, penguin.”

Gilang tidak menyangka JE akan menjawab begitu.

“Tapi kebanyakan, kan, enggak. Monyet, deh, yang DNA-nya 99% sama kayak manusia. Ada monyet yang setia? Enggak ada.”

“Terus?”

“Jadi ketika kita nikah dan berjanji setia sampai mati, kita lagi menyalahi takdir.”

JE tertawa. “Bisa jadi. Tapi, kan, bedanya kita punya akal. Hewan enggak.”

“Justru karena punya akal kita itu harusnya berdamai dengan sisi alamiah kita, bukan malah dilawan.”

“Jadi kamu penganut poligami, dong?”

“Open relationship lebih tepatnya,” oke, Gilang sudah pada jalurnya untuk masuk ke esek-esek.

“Enggak bisa. Siapa yang mau ada di hubungan begitu?”

“Enggak ada,” Gilang tertawa. “Tapi seharusnya open relationship itu menjadi panduan pernikahan, loh. Atau bahkan waktu pacaran sekalipun.”

“Kenapa?”

“Waktu pacaran, kita berkomitmen sama pacar kita untuk setia. Betul? Tapi, kan, enggak ada jaminan kalau kita bakal nikah sama pacar kita. Jadi ngapain setia sama pacar kita doang sementara kita bisa cari alternatif lain.”

“Itu, mah, bukan pacaran namanya.”

“Betul. Makanya kalau kita suka sama orang, ya, kita bilang suka saja. Jalan berdua. Tapi jangan saling larang untuk berhubungan dengan orang lain. Karena kita, kan, cari partner hidup. Kalau sama orang ituuu aja, ya, kita enggak akan dapat perbandingan.”

“Kalau sudah ketemu sama orang yang tepat terus nikah, masa harus terus open relationship?”

“Ya, bagusnya, sih, masih begitu. Mohon maaf, bukan maksudnya menyamaratakan semua laki-laki, tapi hampir semua laki-laki itu enggak bisa setia. Paling enggak, setelah nikah, laki-laki pasti ngelirik kalau ada cewek lewat. Mending kalau enggak diapa-apain, kalau enggak kuat? Selingkuh. Jadi mending ada di open relationship. Aman. Perempuan juga sama.”

“Sama gimana?”

“Tahu enggak berapa persen laki-laki di dunia ini yang bisa bikin istrinya orgasme? Enggak sampai 20. Kalau kamu misalkan kebagian suami yang enggak jago di ranjang tapi cinta setengah mati, solusinya bukan cerai cari lagi suami yang jago. Solusinya adalah cari sex buddy. Itu tujuan open relationship.”

JE diam. Dia tampak berpikir.

“Dengan open relationship, tingkat perceraian kecil. Lihat di Jepang. Cowok-cowoknya sering ke bar-bar yang ada ceweknya. Pulang tetap sama istri. Karena terkadang yang dicari manusia itu bukan cuma cinta dan seks. Tapi manusia mencari keintiman antar sesama manusia lain yang itu kadang bisa didapat dari seseorang yang bukan pasangan kita. Yang penting, habis itu kita kembali ke pasangan dan tetap mencintai dia apa adanya.”

JE tersenyum.

“Kenapa?”

“Enggak bakalan ada orang yang berpikir kayak kamu di sini.”

KRAK. Usaha meyakinkan Gilang patah dengan kalimat itu.

Tapi enggak apa-apa. Ini bukan gagal, tapi keberhasilan yang tertunda. Mereka berpisah dan Gilang kembali kerja.

Setelah makan siang itu, sebisa mungkin Gilang akan merekomendasikan JE sebagai brand ambassador setiap produk yang ditangani kantornya. Enggak selalu berhasil, tapi kebanyakan ada walaupun acaranya off air. Setiap ketemu JE, si Gilang pasti membicarakan soal sex buddy dan open relationship walaupun cuma sekilas dan satu kali. Mudah-mudahan ide itu menempel di kepalanya. Sampai sekitar enam bulan berlalu, hasilnya belum tampak.

Selama enam bulan itu, Gilang tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana rasanya menggenjot JE. Saking horny-nya, Gilang jadi sering masturbasi. Kebetulan waktu itu Regina masih ngambek dan sulit dihubungi. Suatu hari, Gilang yang sudah kelewat terangsang dan tidak puas hanya dengan masturbasi dan menggenjot Bu Wita, bertekad untuk menjebol gawang Regina.

Gilang datang ke kosan Regina dan akhirnya dia dimaafkan. Alasan Regina marah adalah, waktu diserang sama Gilang, Regina merasa dilecehkan sebagai perempuan dan dia paling tidak suka dilecehkan. Gilang minta maaf berkali-kali.

Setelah itu Regina bilang kalau dia mengerti bahwa Gilang pasti mau ML karena mereka sudah sering tidur berdua tanpa busana. Tapi Regina tidak mau diserang seperti kemarin. Akhirnya Regina mau pulang ke apartemen Gilang lagi. Di sana, mereka tidur tanpa baju lagi. Walaupun horny, Gilang bersabar. Jangan sampai Regina marah lagi dan menghancurkan rencananya.

Keberuntungan datang pagi harinya. Regina meminta Gilang untuk bolos kerja. Gilang mengiyakan. Regina pamit pergi dulu sebentar dan kembali membawa makanan, minuman, dan sebungkus kondom.

“Yuk, pelan-pelan. Sakit banget soalnya.”

Gilang girang bukan main. Akhirnya penungguannya terbayarkan.

Habis sarapan, Gilang dan Regina duduk telanjang di kasur. Mereka mulai dengan ciuman yang lembut. Lama-lama, tangan Gilang mulai memainkan payudara Regina. Putingnya disentuh dengan halus sambil berciuman. Regina merebahkan badannya dan menarik Gilang untuk berciuman lebih lama. Regina mengambil tangan Gilang dan menempelkannya di vaginanya. Lalu dia menyuruh Gilang untuk menggosok vaginanya. Gilang menurut.

Gilang mengusap lembut vagina Regina lalu dia gosok perlahan. Lalu dia mulai tancap gas secara bertahap. Regina yang diam, berubah mendesah, lama-lama suaranya yang keenakan memenuhi kamar. Tangan Gilang basah dan dia menyelipkan satu jari ke dalam vagina. Hangat. Gilang mengocok vagina Regina dan membuatnya mendesah lebih keras.

Regina menarik tangan Gilang dari vaginanya dan menyuruh Gilang memakai kondom. Gilang menurut. Dengan bimbingan Regina, Gilang mendekatkan penisnya ke vagina dan dia dorong masuk perlahan. Masih keras. Regina merintih sakit. Gilang berhenti dan menunggu aba-aba. Regina menyuruhnya bergerak lagi. Keras tapi sudah sedikit masuk. Gilang berhenti. Lalu dia maju lagi. Sekarang sudah hampir setengah penis yang masuk. Regina mengernyitkan kening dan menggigit bibirnya kesakitan. Gilang melihatnya malah tambah terangsang, jadi dia genjot dengan satu kali gerakan dan masuk semua.

Regina menjerit kesakitan tapi tidak lama. Dia diam. Gilang mulai maju mundur. Pelan-pelan karena sempit. Badan Regina bergetar. Gilang tidak tahu apa dia kesakitan atau keenakan, tapi dia tidak mau berhenti. Gilang mulai bergerak dengan kecepatan stabil. Regina mendesah. Fix, dia keenakan. Gilang perlahan menaikkan kecepatan dan ketika penisnya sudah lancar keluar masuk, dia genjot dengan serius.

Sepanjang permainan, Regina memeluk Gilang erat dan mendesah begitu keras. Gilang tidak bertahan lama. Karena sempit, penisnya terasa begitu enak dan duar! Keluar di kondom di dalam vagina Regina yang hangat dan sempit. Rasanya berbeda dengan rasa-rasa yang lain.

Habis itu mereka tidur sampai siang dan waktu bangun, Regina mengajak ML lagi. Biar lancar katanya. Gilang tidak menolak. Hari itu mereka menghabiskan empat sesi ML.

Keesokan harinya, kantor Gilang kedatangan tamu dari Jepang. Mereka datang untuk mengembangkan produk makanan terbaru dan akan dipasarkan di sebuah film anak-anak yang akan tayang di TV. Salah satu tim Jepang itu seorang perempuan berusia 24 tahun bernama Hinako. Di antara semua orang Jepang, cuma dia yang fasih berbahasa Inggris. Wajah Hinako ini tidak usah saya jelaskan, saya tempel saja di gambar di bawah. Berhubung Gilang adalah ARO paling jago, maka dia yang ditugaskan menemani tim Jepang ini.

Ketika berkenalan dengan Hinako, Gilang tersenyum lebar. Gimana rasanya menggenjot orang Jepang?

Pic
Regina:

Hinako (yang kiri):

Bersambung

Daftar Part