. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 21 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 21

0
272

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 21

Hari-hari indah Gilang selama enam tahun berlanjut. Gilang bilang, karena jadwal rutinnya ML dengan cewek-cewek itu, badan dia jadi lebih sehat dan mood dia jadi jauh lebih bahagia. Karena dia selalu good mood, kerjaan dia pun lancar jaya.

Suatu hari Gilang dapat tugas menangani acara fashion yang bergengsi. Di sinilah dia ketemu lagi sama si JE yang cantik nan jelita. Waktu ketemu, JE ini lupa-lupa ingat sama Gilang, tapi waktu dibilang kalau dia yang handle acara berlian di Lombok, JE langsung akrab. Acara fashion itu berlangsung seminggu dan JE hadir penuh selama seminggu. Selama itu pula Gilang melancarkan serangan PDKT.

Awalnya Gilang berlaku layaknya profesional. Dia cuma mendekati JE kalau mau bicara soal pekerjaan. Di hari ketiga, dia mulai mengisi percakapan dengan bercanda dan ngobrol kosong setiap ketemu. Hari keempat, Gilang sengaja mencari posisi di dekat JE kalau sedang acara supaya JE terbiasa lihat dia dan mengajak ngobrol. Di hari kelima, JE dan Gilang sudah seperti teman. Setiap papasan menyapa dan bercanda. Setiap duduk berdekatan, mereka ngobrol panjang. Di hari keenam, Gilang merambah mendekati kru JE dan membuat mereka nyaman sama dia. Hari ketujuh, Gilang memberanikan ijin untuk menghubungi JE via chat. JE awalnya keberatan karena dia tidak sembarangan membagikan nomor telepon. Tapi JE percaya kalau Gilang tidak akan menyalahgunakan nomor HP-nya dan akhirnya dikasih.

Gilang nakal. Besoknya dia langsung iseng chat dia ngajak makan. JE setuju. Dia mau tapi makan siang. Gilang oke-oke saja. Dia tahu JE mengajak makan siang karena itu makan yang netral. Kalau makan malam itu untuk pasangan atau pacar, dan sarapan adalah kelanjutan dari makan malam.

Sambil menunggu jadwal ketemu JE, Gilang duduk di kantornya sambil membayangkan yang macam-macam. Gimana jadinya kalau dia berhasil menembus JE? Terus membuat dia jatuh cinta sama Gilang? Terus mereka nikah? Pokoknya imajinasi yang jauuh banget.

Hari itu hari Senin dan jadwalnya ngewe Bu Wita.

Waktu masuk ke ruangan Bu Wita, mereka seperti biasa bahas pekerjaan dulu selama sepuluh menit. Di situ Gilang sudah tidak konsen. Bukan karena dia mau ML sama Bu Wita, tapi memikirkan langkah selanjutnya untuk mendekati JE.

Bu Wita merasakan kekosongan Gilang waktu mereka mulai foreplay. Waktu ciuman, Gilang biasanya memejamkan mata, ini membuka mata.

“Kamu lagi sakit?” tanya Bu Wita.

“Eh, enggak, Bu. Lagi ada pikiran aja.”

“Terus mau enggak?”

“Mau, Bu.”

“Ya, sudah, cepat. Ibu mau pulang. Buka celananya.”

Gilang memelorotkan celananya dan Bu Wita langsung mengulum penisnya. Enak. Seperti biasa, Bu Wita jago main lidah. Tapi si jenderal besar cuma berdiri setengah. Gilang terlalu sibuk memikirkan JE. Bu Wita berhenti dan melotot pada Gilang. Gilang tahu Bu Wita mulai jengkel. Jadi Gilang harus mencari cara supaya dia horny. Caranya? Dia menarik jilbab Bu Wita sampai lepas. Bu Wita kaget. Terus Gilang mengangkat Bu Wita dan menggencetnya di tembok.

“Jadi bos jangan galak-galak,” kata Gilang.

“Apaan, sih?” Bu Wita bingung. Dia mencoba membebaskan diri tapi Gilang menahannya.

“Diem lu,” Gilang mencium Bu Wita dengan kasar.

Bu Wita menampar Gilang keras-keras tapi Gilang terus menciumnya. Bu Wita menampar lagi tapi dia pun tidak melepaskan ciumannya dengan Gilang. Gilang meremas dada Bu Wita kuat-kuat dan membuatnya mendesah kesakitan.

“Gilang, sakit.”

Gilang meremas lebih kuat. Melihat Bu Wita meringis kesakitan membuatnya horny luar biasa.

“Gilang!”

Gilang memutar tubuh Bu Wita supaya dia menghadap tembok. Dengan kasar, Gilang mengangkat baju Bu Wita yang syari dan menarik celana dalamnya sampai melar.

“Gilang!”

Gilang cuek. Dia mendorong Bu Wita sampai menunduk dan menusuknya dari belakang. Tanpa kondom.

Cara itu berhasil dan Gilang jadi super nafsu. Dia menggenjot Bu Wita keras-keras dan Bu Wita meronta-ronta. Tapi lama-lama vaginanya basah dan licin. Bu Wita mendesah keenakan dan menyerah pada serangan Gilang.

Gilang mengangkat Bu Wita dan meletakkannya di lantai. Ganti posisi ke missionary. Jilbab Bu Wita sudah terlepas sepenuhnya dan baju syarinya sudah terangkat sampai dadanya kelihatan. Payudara Bu Wita yang lumayan montok bergerak naik turun seirama genjotan Gilang yang ngebut. Bu Wita memejamkan mata, menggigit bibir, dan meremas baju Gilang dengan kuat. Desahannya panjang dan nyaring.

Melihat payudara Bu Wita yang goyang-goyang, Gilang makin terangsang. Dia gigit putingnya. Bu Wita menjerit tapi menikmati. Satu payudara yang lain diremas sampai merah. Bu Wita memeluk Gilang. Gilang makin gila menggenjot. Mereka pindah dari tengah ruangan sampai mentok ke tembok. Bu Wita berpegangan ke tembok dan dia membuka matanya. Mulutnya terbuka lebar dan tiba-tiba badannya bergetar hebat. Bu Wita orgasme hebat sampai ngeces. Badannya melenting keenakan dan dia menggeliat-geliat.

Masalahnya Gilang belum selesai jadi selama Bu Wita orgasme, Gilang genjot terus. Bu Wita kelabakan. Tangannya menggapai-gapai memegang tembok, kaki kursi, rambut Gilang, karpet, pokoknya menggenggam apa pun yang bisa dipegang untuk meringankan rasa ekstasi yang begitu dahsyat.

Bu Wita sudah merem melek. Orgasmenya selesai dan Gilang masih menggenjot. Bu Wita masuk ke enak nomor dua. Dia pasrah waktu Gilang balik dan ganti ke doggy style. Gilang memegangi satu tangannya sambil menggenjot supaya Bu Wita mantap posisinya. Bu Wita orgasme kedua dan Gilang melepaskan penisnya. Bu Wita menggelepar di lantai.

Gilang mengocok penisnya dan mengarahkannya ke wajah Bu Wita. Bu Wita mengulum penis Gilang selama beberapa detik lalu Gilang menembak wajah Bu Wita dengan sperma.

Sehabis itu mereka rebahan di lantai lama sekali.

Bu Wita bangun dan mengelap sperma di mukanya. “Kamu jangan keluar di muka Ibu, dong. Bau.”

“Maaf, Bu.”

“Kenapa, sih, kamu kayak kesurupan gitu?”

“Habis Ibu terus yang dominan. Sekali-sekali saya pengen juga.”

“Ya, bilang, dong. Jangan tiba-tiba gitu.”

“Enggak enak, ya, Bu?”

“Enak, sih. Dua kali klimaks.”

“Ya, sudah nanti gitu lagi.”

“Enggak. Ibu suka jadi dominan.”

Gilang tidak memprotes. Mereka pulang habis itu.

Waktu Gilang sampai ke apartemen, dia ditelepon adiknya dan menyuruh dia pulang di akhir Minggu. Gilang setuju. Seperti biasa, waktu pulang Gilang menelepon Tante Yuli dan menyelesaikan dua ronde malam dan pagi besoknya.

Setelah dari Tante Yuli, Gilang pulang ke rumah dan dapat kabar kalau adiknya sudah punya jodoh dan mereka berniat serius menikah. Gilang dipertemukan dengan pacar adiknya yang bekerja di perusahaan bandara yang kata awalnya Angkasa. Di titik ini adiknya sudah lulus kuliah dan kerja jadi admin di perusahaan ritel. Adiknya menyuruh Gilang pulang karena mau minta ijin melangkahi menikah. Gilang masih senang tusuk sana sini jadi dia setuju dilangkahi. Dia bahkan menawarkan untuk membantu biaya pernikahan.

Singkat cerita, adiknya menikah sekitar satu tahun kemudian. Kemudian selang empat bulan menikah, adiknya hamil anak pertama. Bagi Gilang, masa-masa hidupnya kala itu adalah yang terbaik. Selain keluarganya bahagia, dia punya gaji besar dari kerjaan yang enak, punya banyak cewek untuk ditiduri, dan hidup dia layak.

Tapi ini awal dari kekacauan di hidupnya. Sebelum cerita bagaimana Gilang kehilangan pekerjaannya, saya ceritain dulu bagaimana dia menjebol Regina dan hubungan dia dengan JE di update berikutnya. Baru di update berikutnya lagi saya cerita soal Sandra si Finance and Accounting. Cecil dipinggirkan dulu, ya.

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler