. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 20 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 20

0
266

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 20

Janji Bu Wita soal promosi Gilang terwujud beberapa hari kemudian ketika bulan berganti. Di hari yang sama, Bu Wita ada tugas luar kota sama tim lain selama lima hari disusul cuti sembilan hari jadi dia tidak ada di kantor. Tapi Bu Wita menitipkan surat promosi Gilang ke HRD. Maka di hari Kamis, Gilang dipanggil ke HRD untuk tanda tangan surat promosi dan kontrak baru. Gilang kaget plus senang ketika melihat nominal gajinya yang baru.

Gilang tidak bilang berapa nominalnya ke saya tapi dia cerita kalau dengan gajinya yang baru itu dia bisa membiayai kuliah adiknya penuh sampai selesai, memberi adiknya uang jajan yang cukup, mengirimkan uang rutin ke ibunya, dan pindah dari kos-kosan ke apartemen studio di daerah K. Selain itu dia juga mampu menabung cukup besar dan menyisihkan uang sekitar dua juta untuk investasi di saham.

Tentunya dengan gaji baru dia dapat tanggung jawab baru. Dia ditugasi tiga proyek besar dan harus melatih ARO baru sampai lihai seperti Bang Boi dulu melatih Gilang. Tapi karena Gilang jago mengatur jadwal, dia tidak merasa kewalahan sama sekali. Bahkan dia bisa pulang kerja tanpa lembur.

Waktu dia pindahan dari kos-kosan ke apartemen, Gilang menghubungi Regina. Alibinya minta dibantu pindahan tapi tentu saja alasan sebenarnya adalah ingin bertemu. Regina membantu beres-beres kosan sampai ikut naik mobil pindahan sampai ke apartemen. Regina juga menemani Gilang membeli perlengkapan apartemen dan memilihkan sofa juga TV. Selesai siapkan sofa dan pasang TV, mereka pesan makanan (kalau enggak salah nasi goreng waktu itu, kata Gilang) terus nonton film bajakan di TV baru Gilang sampai malam.

Sepanjang menonton, Regina gelayutan sama Gilang. Dia taruh kepalanya di pundak Gilang, tangan mereka berpegangan. Selesai menonton Regina minta menginap karena malam sudah lumayan larut. Gilang membolehkan. Regina tidur di kasur dan Gilang tidur di sofa baru. Gilang pengin banget ngapa-ngapain Regina tapi dia mau main sabar kali ini. Gilang ingat kalau Regina punya trust issue sama laki-laki karena ayahnya selingkuh. Jadi kalau dia buru-buru sikat habis pasti Regina menolak dan kacau semuanya. Lagipula, Gilang jadi merasa sedikit suka sama Regina.

Paginya Gilang lebih telat dari Regina dan Regina sudah rapi. Dia pamit pulang tanpa banyak bicara. Gilang membiarkannya terus sibuk teleponan sama orang rumah. Besoknya, Gilang masuk kerja dan sibuk sama kerjaan sampai-sampai dia lupa untuk menghubungi Regina. Ternyata Regina menelepon duluan.

“Heh.”

“Yes, Regina?”

“Besok ke mana habis ngantor?”

“Enggak ke mana-mana.”

“Aku ke apartemen kamu besok.”

“Oke.”

Telepon ditutup tanpa say goodbye. Gilang merasa kalau Regina judes lagi sama persis seperti waktu dia tahu kalau dia ngapa-ngapain Ica waktu jaman kuliah dulu.

Esok hari datang dan Gilang pulang lebih cepat ke apartemen. Dia sedikit gugup menunggu Regina. Habis magrib kira-kira jam tujuh kurang sedikit, Regina datang dengan muka kusut.

“Kenapa?”

“Kita ini apa, sih?”

Buset.

“Aku tanya kita ini apa? Aku bantuin kamu segala macem. Kita sering pergi berdua pegangan tangan. Kemarin kita nonton sambil nempel-nempel. Semalam aku nginap di sini. Kamu anggap aku itu apa?”

Gilang tegang. Ini pertanyaan menjebak banget dan Gilang tidak tahu jawabannya.

“Kamu suka sama aku? Atau kamu cuma mau mainin aku?”

“Suka,” jawab Gilang cepat. Dia memang suka sama Regina.

Regina diam. Mukanya jadi salah tingkah. Mungkin dia tidak menyangka Gilang akan menjawab itu. “Ya, sudah, kalau gitu….”

“Ya, sudah gimana?”

“Aku nginap lagi malam ini.”

Argumen selesai di situ. Mereka baikan lagi. Pesan makan dari luar lagi. Nonton film lagi sampai akhirnya mereka harus tidur. Ketika Gilang mau tidur di soda, Regina menyuruhnya untuk naik ke kasur. Gilang menolak keras sekali tapi Regina galak dan akhirnya mereka tidur sekasur.

Gilang merasa canggung tidur sekasur dengan Regina. Kalau Regina adalah perempuan-perempuan lain, pasti sudah Gilang garap. Masalahnya si Gilang ada perasaan sama Regina dan tidak mau membuatnya benci padanya. Jadi Gilang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menyentuh Regina.

“Lang.”

“Yes?” Gilang kaget.

“Kenapa, sih, kamu beda sama aku?”

“Beda?”

“Kamu waktu nginap sama Ica enggak sampai dua malam langsung ciuman. Kenapa sama aku beda perlakuannya?”

Gilang diam lama sekali sebelum menjawab. “Soalnya… soalnya saya suka serius sama kamu.”

Rupanya jawaban jujur itu adalah jawaban yang benar. Regina diam lagi dan tidur. Tapi lama kelamaan dia makin mendekat dan makin menempel pada Gilang. Tepat jam dua belas malam, Gilang dan Regina tidur berpelukan. Lalu Gilang memberanikan diri mencium Regina. Dibalas. Gilang meneruskan mencium Regina sampai mereka sama-sama ngantuk dan tidur.

Paginya, Regina pulang dengan wajah riang. Gilang juga tersenyum. Hari itu hari Rabu dan pulang kerja Regina mampir lagi ke apartemen. Dia pun menginap lagi. Malamnya mereka tidur sekasur dan berciuman lagi. Gilang mencoba peruntungannya memegang dada Regina tapi ditolak dengan halus. Regina memegang tangan Gilang dan meletakkannya di pinggang. Tidak masalah. Regina adalah proyek jangka panjang yang pasti membuahkan hasil. Tapi tentu saja dia tidak boleh terburu-buru. Pelan asal selamat, pikirnya.

Di hari Kamis, Bu Wita masuk kerja. Dia menyapa Gilang waktu datang ke kantor dan tersenyum. Gilang tersenyum balik. Dia ingat janji mereka untuk rapat internal setiap Senin dan Kamis. Jadi Gilang menyempatkan diri membeli kondom di sela rapat-rapat dia dengan klien dan EO.

Jam lima sore kantor mulai sepi. Jam setengah enam cuma tinggal tiga orang yang ada di kantor. Tepat pas azan magrib, Bu Wita memanggil Gilang ke ruangannya.

“Kunci.”

Gilang mengunci pintu kantor Bu Wita.

“Lama banget kamu enggak masuk-masuk.”

“Belum pada pulang, Bu.”

“Lama kalau nunggu pada pulang. Jam lima saja kamu masuk sini. Ibu sudah tulis, kok, di jadwal tiap Senin sama Kamis kita meeting.”

Di kantor Gilang ada program kalender yang bisa dilihat semua karyawan. Jadi semua orang menuliskan jadwal di sana untuk saling memberi tahu kegiatan dan jadwal mereka.

“Oh, siap, Bu,” Gilang nyengir dan mengeluarkan kondom dari sakunya.

“Kerja dulu. Gimana proyek kamu?”

Mereka meeting betulan dulu selama satu jam. Baru setelah selesai semua, Bu Wita berdiri dari kursinya lalu mendekati Gilang. Bu Wita yang selalu pakai baju syari panjang mengangkat bajunya sampai ke pinggang lalu mencopot celana dalamnya. Gilang langsung tegang. Jenderal langsung bangkit berdiri.

Gilang masih duduk di kursi ketika Bu Wita mendekatinya dan menciumnya. Gilang kangen banget sama bibir Bu Wita. Gilang langsung menggarap payudara Bu Wita, memeluknya, lalu meremas pantatnya. Bu Wita berlutut di depan Gilang dan membuka ikat pinggang Gilang. Bu Wita tersenyum nakal. Itu! Itu adalah pemandangan Bu Wita yang paling disukai Gilang. Cantik banget! Bikin Gilang makin terangsang dua ratus kali lipat!

Bu Wita memelorotkan celana Gilang dan menciumi penisnya dari luar celana dalam. Barulah dia membukanya dan mengulum si jenderal. Gilang sampai gemetar dibuat Bu Wita. Lidahnya pro dan sedotannya mantap. Bu Wita mengambil satu kondom, membuka plastiknya dan memasangkannya di penis Gilang. Lalu dia berdiri, dan naik ke atas Gilang di kursi.

“Pengin coba posisi ini dari dulu,” katanya.

Gilang diam saja. Bu Wita membimbing penis Gilang ke vaginanya dan masuk dengan sedikit perlawanan. Gilang berpegangan ke pegangan kursi ketika Bu Wita menyempitkan vaginanya. Anjing! Enak banget!

Bu Wita naik turun. Gilang belum pernah posisi begitu dan sedikit tidak nyaman. Tapi sensasinya luar biasa. Gilang membuka beberapa kancing baju Bu Wita dan mengangkat branya. Payudaranya yang indah tampak di mata Gilang dan dia langsung menjilat habis-habisan. Gerakan Bu Wita makin kencang dan ganas. Gilang kini berpegangan pada payudara Bu Wita. Bu Wita mencengkeram baju Gilang. Kepalanya ditengadahkan. Dia ngos-ngosan dan mendesah. Crot duar dan blar. Gilang selesai.

Bu Wita belum selesai tapi dia berdiri dan memakai celananya lagi. Katanya orgasme Bu Wita bisa lain kali. Gilang tidak masalah. Dia, sih, sudah kecapekan. Bu Wita pulang seperti tidak terjadi apa-apa dan Gilang nangkring di kantor sampai sejam karena dia masih kehabisan energi oleh Bu Wita yang agresif. Barulah dia pulang ketika jalanan ibukota sudah tidak macet.

Besoknya hari Jumat dan Gilang berencana pulang setelah lama tidak ke rumah tempatnya lahir. Dia teringat janjinya dengan Tante Yuli. Iseng, Gilang mengirimkan pesan pada Tante Yuli untuk memberitahunya dia akan pulang. Tante Yuli langsung membalas dan menyuruhnya untuk ke apartemen Tante Yuli segera setelah dia tiba di Kota Kelahiran. Gilang bilang mungkin dia akan sampai tengah malam.

“Enggak apa-apa. Ditunggu.”

Gilang nyengir kuda.

Malam itu dia pulang pakai kereta dan tiba sekitar jam sebelas malam. Dia langsung menumpang taksi ke apartemen Tante Yuli. Tante Yuli sudah menunggu Gilang dengan lingerie yang mengilat dan seksi. Gilang bersorak dalam hati.

“Kirain sudah punya pacar di sana,” kata Tante Yuli.

“Sudah, sih, Tante.”

“Pantas lupa sama yang di sini.”

“Enggaklah, Tante. Mana mungkin bisa lupa.”

Gilang bahkan belum masuk ke apartemen tapi Tante Yuli langsung menciumnya. Begitu masuk, Tante Yuli sudah siapkan makanan. Gilang makan dulu dan ijin mandi. Sehabis mandi baru, deh.

Tante Yuli sudah menunggu di kasur. Gilang belum pakai baju jadi dia langsung lompat ke kasur dan mencium Tante Yuli. Tante Yuli membalas ciumannya dengan santai. Setelah ciuman beberapa menit, Gilang berlutut di atas Tante Yuli dan mendekatkan penisnya yang masih setengah duduk ke mukanya. Tante Yuli mengulum penisnya. Dem. Enak juga walaupun Bu Wita masih lebih pro. Gilang jadi suka membanding-bandingkan. Kuluman Tante Yuli lebih tidak beraturan tapi nilai plusnya adalah Tante Yuli suka menjilati bagian kepala dengan teknik yang bikin Gilang merem melek. Itu yang Gilang suka. Setelah penis berdiri total, Gilang memasang kondom dan membuka baju Tante Yuli. Tante Yuli dibalikkan dan Gilang tusuk dia dari belakang.

Gilang memegang kendali permainan. Dia mengatur gerakannya dari pelan, ke cepat, ke pelan lagi dan menikmati desahan Tante Yuli yang naik turun suaranya. Kadang-kadang Gilang memejamkan mata membayangkan Regina atau Bu Wita. Baru dia buka mata lagi dan menikmati tubuh Tante Yuli. Tante Yuli terlentang dan Gilang menggenjotnya gaya man on top. Tante Yuli mendesah keras tanpa ditahan-tahan. Gilang meremas payudaranya kuat-kuat ketika penisnya jebol. Gilang mendesah nikmat. Lalu dia mencabut penisnya, melepas kondom yang berisi sperma, kemudian menyodorkan penisnya yang basah ke Tante Yuli. Tanpa pikir panjang, Tante Yuli melumat habis penis Gilang sampai bersih. Habis itu mereka tidur.

Paginya, Gilang bangun duluan, dan seperti laki-laki pada umumnya, penisnya suka bangun kalau pagi-pagi. Jadi dia ambil kondom, membalut si jenderal, lalu memasukkan penisnya ke vagina Tante Yuli yang masih tidur. Tante Yuli bangun dengan kaget tapi langsung menyambut permainan Gilang. Sayangnya permainan pagi itu tidak lama. Baru berapa kali genjot, Gilang sudah bobol.

Sekitar jam tujuh pagi Gilang pamit dan pulang ke rumah. Tidak lupa dia janji ke Tante Yuli kalau dia akan menghubunginya kalau dia pulang lagi.

“Pokoknya harus pulang tiap minggu. Nanti Tante kasih uang kalau kamu kurang.”

Uang, sih, bukan masalah, pikir Gilang. Gilang akhirnya berjanji dan akan pulang tiap minggu. Habis itu dia ke rumah, ketemu adik dan ibu, membawa mereka jalan-jalan dan melihat-lihat mobil. Tadinya Gilang mau beli mobil tapi setelah pikir panjang, tidak diperlukan. Enggak jadi, deh, beli mobil. Jadinya mengganti motor adiknya yang sudah usang.

Gilang kembali ke Ibukota pakai kereta lagi dan selama perjalanan dia tersenyum. Jadwalnya seminggu ke depan sudah padat.

Senin: ngewe Bu Wita
Selasa Rabu: (mencoba) ngewe Regina
Kamis: ngewe Bu Wita
Jumat (malam): ngewe Tante Yuli
Sabtu (pagi): ngewe Tante Yuli
Minggu: istirahat sama keluarga.

HAHAHAHA.

Dan masa-masa itu adalah masa-masa emas Gilang. Selama enam tahun dia menjalani rutinitas seksnya seperti itu. Di update berikutnya kita percepat sedikit ceritanya. Bu Wita dan Tante Yuli kita kurangi adegan seksnya. Ada satu cerita ML Bu Wita yang menarik dan ini akan saya ceritakan. Juga cerita soal bagaimana akhirnya Regina ditembus Gilang. Selebihnya cerita mereka akan saya tinggalkan.

Sedikit gambaran, habis ini Gilang akan bertemu lagi dengan si artis JE. Terus dia akan ketemu sama orang Jepang yang kita sebut saja namanya Hinako. Teruuus, kisah dia sama Sandra. Baru, deh, habis itu kita masuk ke inti cerita gimana awal mulanya Gilang jadi tukang ojek online dan hubungannya dengan dokter cantik kita si Cecil.

Dari sini saya mau bahas teknik pendekatan Gilang.

Jadi, teknik Gilang ini sebetulnya ada teorinya. Saya belajar ini di kelas selling. Di sana saya diajarkan empat tahap dalam memengaruhi pikiran seseorang: 1. Identifying idea, 2. Deconstructing idea, 3. Idea inception, 4. Idea strengthening.

Nah, di tahap 1 itu kita siapkan dulu ide apa yang mau kita kasih ke orang. Setelah siap, kita coba lempar ke target untuk tahu pendapat dia soal ide itu kayak gimana. Misalkan kita mau tahu pikiran dia soal seks, maka kita lempar dulu pembicaraan soal seks. Dari situ kita identifikasi apakah dia pro atau tidak ke ide seks itu. Juga kita identifikasi seberapa kuat dia berpegang pada nilai yang dia punya.

Contoh: Bu Wita. Bu Wita ini berpakaian syari dan tentunya rajin salat. Jadi Gilang lempar dulu idenya ke Bu Wita untuk tahu gimana pendapat dia soal seks. Caranya dengan menanyakan soal pernikahannya yang dia kaitkan ke sex buddy. Karena semua orang pasti punya nilai yang dianut. Nilai-nilai yang dianut mereka ini sudah terbentuk lama sejak mereka muda dan inilah yang harus dipatahkan.

Baru setelah itu dia jelaskan apa itu sex buddy. Ini poin nomor 2. Gilang memakai cerita sepupunya yang S2 psikologi untuk meyakinkan bahwa ide sex buddy itu adalah hal yang wajar. Ini namanya tahap dekonstruksi keyakinan. Kita patahkan nilai-nilai yang mereka punya dengan menceritakan bukti yang meyakinkan, makanya Gilang pakai cerita sepupu S2 di Belanda. Orang akan lebih mudah percaya kalau apa yang kita katakan itu dikutip dari seseorang yang lebih pintar. Makanya quote-quote dari orang ternama dipakai buat memotivasi orang sehari-hari. (Sering, kan, kita lihat ada quote dari Dalai Llama atau Einstein, misalkan.)

Ketika Bu Wita mengatakan kalau itu dosa, Gilang setuju. Di tahap setuju inilah masuk ke nomor 3. Kita harus setuju dulu dengan apa yang target katakan. Karena kalau kita langsung lawan maka target kita akan jadi defensif dan ide kita enggak akan masuk. Pertama setuju dulu baru kita counter dengan beberapa cerita yang membuktikan bahwa sex buddy itu adalah hal yang baik. Ini namanya penanaman ide.

Yang terakhir, kita harus sering ungkit-ungkit soal ide kita ke target. Supaya itu makin sering terngiang-ngiang dan terbiasa. Setelah terbiasa maka akan jadi terasa wajar. Itu namanya penguatan ide.

Teori ini biasanya makan waktu. Bahkan waktu jualan pun idealnya membutuhkan waktu dua sampai tiga kali pertemuan. Makanya Gilang seringnya tidak langsung gol. Nah, si Gilang ini belajar semua ilmu itu secara otodidak. Kenapa dia bisa berhasil? Ternyata kuncinya ada di kepercayaan diri dan gaya bicara. Makin PD dan makin jago kita merangkai kata, makin lancar kita mengubah pikiran seseorang.

Sekian.

Nanti kita bahas soal gagalnya Gilang.

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler