. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 2 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 2

0
424

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 2

Kata-kata Rita soal semua orang itu tidak alim menempel di kepala Gilang. Besoknya waktu makan siang di kampus, dia iseng-iseng tanya sama teman-teman dekatnya soal itu. Hasilnya, dari lima orang yang ditanya, empat orang sudah pernah kissing, salah satunya sampai grepe-grepe, dan cuma satu yang cuma pernah pegangan tangan saja. Gilang langsung mikir kalau main dia kurang jauh karena dia cupu banget.

Suatu hari sepulang salat Jumat, Gilang mampir ke kosan Rita. Mereka ngobrol dan Gilang ingat sekali kalau Rita salat dhuhur lalu mereka mesra-mesraan lagi. Pertamanya cuma nonton film sambil rangkulan. Tapi lama-lama Gilang nyosor bibir Rita dan langsung disambut baik. Sebelum mulai, Rita bilang sambil bisik-bisik, “Jangan cepat keluar kayak kemarin, yak.”

Kemarin, kan, belum ngapa-ngapain Gilang sudah jebol, jadi Rita enggak kebagian enaknya. Hari ini Gilang mau berusaha supaya sama-sama enak.

Pemanasan dimulai dengan french kiss yang santai. Gilang lagi mencoba menemukan pola yang benar dalam ciuman. Bibir Rita yang tangkas melumat bibirnya lembut. Gilang belajar di sini kalau dia tinggal mengikuti si perempuan. Kalau dia mencium dengan bibir tertutup, maka Gilang ikutan. Kalau Rita buka mulut sedikit, Gilang buka juga. Waktu Rita pakai lidah, Gilang juga pakai. Satu kali Gilang pakai lidah duluan, Rita sedikit ngerem, jadi dia ikuti irama Rita lagi.

Oh, iya, kata Gilang, kalau ciuman jangan lupa kepalanya miring ke kanan.

Setelah ciuman agak lama, mulai deh tangan Rita main. Dia masukkin tangannya ke kaus Gilang, mengelus kulitnya sampai ke punggung. Gilang sudah tidak sabar. Dia buka kausnya dan memeluk Rita supaya badannya nempel ke kulitnya. Lalu dia mendorong Rita sampai rebahan di kasur.

Rita membuka kausnya juga dan membiarkan Gilang membuka branya. Gilang belum pernah buka bra, jadi ketimbang sibuk cari kaitannya, dia turunin si tali bra sampai ke perut. Waktu memandang dada Rita, jenderalnya sempat mau menyerah dan jebol. Tapi dia tahan-tahan.

Mereka berciuman lagi. Lebih intens sekarang. Tangan Gilang sudah kemana-mana. Dari meraba habis dada Rita, dia masukkin tangan ke celana dan meremas pantatnya. Lalu dengan satu gerakan, Gilang menurunkan celana Rita. Karena Rita merespon positif, jenderal Gilang hampir jebol lagi. Ketika Rita benar-benar sudah telanjang, Gilang duduk dulu dan menatap tubuh seniornya itu. Kalau kata Rita seks itu nagih, maka di titik itulah Gilang menyadari bahwa dia benar.

Nafsu Gilang naik dua kali lipat dan dia mulai mencium Rita habis-habisan. Persetan dengan pola, pikirnya. Dia mengulum bibir Rita, menjilat dagunya, ke leher, ke dada, lalu ke puting. Rita mendesah kecil. Terus dia turun ke perut. Tangan meremas dada Rita kuat-kuat. Tapi dia berhenti di sana. Belum siap dia kalau harus mencium vagina.

Gilang naik lagi dan mencium Rita. Pinggulnya dan pinggul Rita sejajar dan Rita menjepit badan Gilang dengan kaki. Jenderal sudah tidak kuat.

“Buka celana. Mau keluar,” kata Gilang.

Rita membiarkan Gilang buka celana lalu menjepit badannya lagi. Jenderal menempel senempel-nempelnya di kulit Rita dan bikin badan Gilang gemetar. Rita memeluknya erat-erat sambil menjilati telinganya. Pinggang Rita bergerak naik turun menstimulasi jenderal.

Sudah tidak tahan, jenderal muntah di perut Rita. Setelah ngos-ngosannya habis, Gilang bertanya, “Kurang lama, ya?”

“Tapi peningkatan, lah,” kata Rita santai.

Habis itu mereka pesan makan sambil ngobrol. Gilang cerita sama Rita soal penelitian kecil-kecilannya soal orang alim dan ternyata tidak ada temannya yang belum ngapa-ngapain.

“Iya, kan? Semua orang pasti bisa, kok, diajak begituan. Tergantung yang ngajak siapa dan gimana ngajaknya.”

“Maksudnya?”

“Ya, asal bisa ngomongnya aja, Lang.”

Kemudian Rita cerita soal pengalaman seksnya yang pertama. Rupanya dia pertama kali begituan waktu SMA sama tetangganya yang sudah kuliah. Waktu itu dia diajak nonton terus tiba-tiba disosor di bioskop. Awalnya Rita marah terus minta pulang. Waktu diantar pulang pakai mobil, si senior itu bilang kalau dia minta maaf. Sebetulnya dia bukan orang begitu, Rita juga tahu karena mereka tetanggaan dari kecil. Cuma, belakangan si senior lagi suka galau karena masalah keluarga. Rita tahu karena memang keluarga si senior terkenal kurang harmonis. Jadi kadang-kadang dia suka cari semacam pelarian di mana dia bisa dapat hubungan emosional dari orang lain. Makanya dia ajak Rita main. Soal nyosor, kadang kalau sudah nyaman sama orang kita jadi pengen lebih sama orang itu. Si senior ini menganggap bahwa ciuman adalah bentuk nyaman yang paling sakti. Tapi kalau itu ganggu Rita, dia minta maaf dan dia tidak bakal mengulangi. “Tapi ciuman itu bikin saya tenang dan lupa sama masalah rumah,” kata si senior.

Rita termakan omongan itu karena merasa kasihan. Jadi kadang-kadang kalau mereka lagi berdua dan enggak ada siapa-siapa, si senior suka minta dicium. Rita mau. Awalnya cuma ciuman bibir sebentar doang. Makin lama ciumannya makin panjang. Lalu si senior main tangan. Rita yang awalnya menolak, ya, lama-lama mau juga. Sampai akhirnya mereka ML.

“Dia bohong enggak, sih?” tanya Gilang.

“Ya, bohonglah, Lang. Mana ada cari hubungan emosional pakai cara begitu. Itu, mah, dia sange terus cari alasan supaya bisa ML sama saya. Saya tahunya itu belakangan setelah sering ML sama dia. Habis itu saya agak kesal dan menjauh. Terus saya punya pacar lagi. Waktu itu saya enggak kepikiran mau ngapa-ngapain sama dia. Tapi ada satu momen di mana kita lagi berdua doang dan kita ciuman. Yah, kalau sudah ciuman, mah, jalan ke ML terbuka lebar.”

Damn, pikir Gilang, kalau mau esek-esek ternyata modalnya cuma ngomong doang. Dan kalau orang berjilbab dan tampak alim kayak Rita saja bisa jebol, apa mungkin semua orang juga begitu?

Bersambung…

Daftar Part