. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 19 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 19

0
256

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 19

Sehabis quickie express di kamar hotel, Gilang dan Bu Wita turun ke venue utama buat gladi resik. Gilang ketemu lagi sama JE yang lagi di briefing soal acara untuk kedua kalinya sama tim EO. Cantik. Gilang sudah beberapa kali ketemu artis, di venue pun ada beberapa artis yang hadir, tapi JE ini yang paling bergelimang cahaya menurutnya. Gladi resik dimulai, Gilang standby di belakang kursi undangan sambil pegang timer dan gladi selesai sesuai perkiraan. Persiapan terakhir baru istirahat untuk coffee break sebelum acara dimulai.

Jam 4, acara dibuka dan undangan, tamu, wartawan, pokoknya semua orang yang menghadiri acara memenuhi venue. Video promosi berlian dengan JE sebagai artis diputar sebagai pembuka baru muncul MC, terus sambutan, dll. dll., baru perkenalan produk. Berlian yang harganya miliaran baru muncul dibawa model-model super cantik. Berlian itu tidak boleh ada di venue sampai sepuluh menit sebelum acara. Berlian itu juga punya pasukan keamanan sendiri dan tinggal di hotel entah mana. Pihak Gilang tidak tahu menahu soal berlian itu dan tiba-tiba mereka sudah datang tanpa diundang. Habis perkenalan produk berlian dimulai acara makan malam disambung acara musik. Jam sebelas malam acara selesai dan semua orang membubarkan diri.

Setelah memastikan acara ditutup dengan lancar, Gilang berjalan ke ruang makeup JE yang ada di dalam hotel. Dia ketemu manajernya dan ijin untuk bicara sama JE. Gilang diperbolehkan dan dia masuk ke ruang makeup. JE ada di sana sambil main HP sendirian. JE langsung bangung dan menyalami Gilang waktu Gilang masuk.

“Makasih, Mbak, bantuannya. Ini proyek besar pertama saya jadi saya grogi banget. Tapi Mbaknya baik dan profesional banget saya jadi terbantu banyak,” kata Gilang.

“Yang pertama? Selamat, ya, Mas. Saya salut acaranya on time dan rapi banget.”

“Telat tiga menit.”

“Di Indonesia itu sama saja kayak on time,” kata JE sambil senyum.

“Berkat Mbak juga. Ini, Mbak, saya kasih kartu nama saya. Manajer Mbak sudah punya, sih, tapi ini saya kasih secara personal supaya kalau ada permintaan apa pun bisa langsung ke saya, enggak usah lewat EO, biar lebih cepat penanganannya,” kata Gilang lalu menyerahkan kartu namanya.

“Sip. Makasih.”

Gilang keluar dari ruangan JE terus memastikan tim EO-nya sudah berbenah. Sekitar jam satu Gilang baru santai dan dia lupa kalau dia harus beli kondom buat Bu Wita. Gilang bahkan lupa sama sekali sama Bu Wita selama acara tadi. Dia mulai kelimpungan mencari harus beli kondom di mana. Akhirnya dia melobi satpam hotel untuk mengantarkannya ke minimarket. Minimarket itu ternyata lumayan jauh dari hotel. Sebagai sogokan, Gilang kasih satpam itu uang seratus ribu dan rokok plus kopi sachetan.

Sekembalinya di hotel, Gilang langsung cus ke kamar dan lemas. Bu Wita cuma pakai daster. Itu adalah pertama kalinya Gilang melihat Bu Wita tanpa pakaian syari. Rambutnya tebal dan panjang bergelombang. Gemuk, sih, tapi enggak masalah buat Gilang. Kulitnya muluuuuuus banget.

“Sudah beres?” tanya Bu Wita.

“Alhamdulillah.”

“Itu apa?” Bu Wita menunjuk kantung keresek yang dibawa Gilang.

“Oh, ini….”

“Kondom, ya?”

“Iya.”

“Mandi dulu sana.”

Gilang mandi secepat kilat. Dia harus buru-buru keburu Bu Wita eling dan tidak mau lagi ML dengan dia. Habis mandi, Gilang tidak repot-repot pakai baju. Dia keluar pakai handuk doang dan mendekati Bu Wita. Bu Wita mematikan TV dan memelorotkan handuk Gilang. Mulutnya langsung mencium si jenderal. Tidak sampai sedetik, jenderal tegak berdiri.

Mulut Bu Wita hangat dan tekniknya luar biasa. Gilang dibuat merinding dengan permainan lidahnya. Sesekali Bu Wita menjilati bagian bawah penis dan bola Gilang diemut. Gilang memegang kepala Bu Wita, menarik rambutnya dengan lembut. Bu Wita tidak protes. Gerakannya stabil dan profesional. Mantap. Mantap sekali.

Bu Wita berhenti. Dia bangun lalu membuka dasternya. Keteknya bersih! Nilai plus buat Gilang. Ketika dasternya dilempar ke kasur, Gilang lemas lagi karena Bu Wita tidak pakai dalaman. Langsung kulit. Yang spesial adalah puting Bu Wita yang sewarna dengan kulit. Aseeeem. Indah banget ini ibu-ibu!

Gilang mencium Bu Wita dan Bu Wita langsung membalas dengan lidah. Keduanya ambruk ke kasur. Bu Wita mengambil kotak kondom dan memberikannya pada Gilang, menyuruhnya untuk dipakai. Gilang pakai dan Bu Wita mengambil posisi woman on top. Masuknya agak seret. Bu Wita menaruh tangannya di puting Gilang dan memainkannya lalu badannya maju mundur.

Super. Super coi! Bu Wita memejamkan mata sambil bergerak. Payudaranya yang besar bergoyang dan Gilang tidak kuasa untuk tidak meremasnya. Dia pegang dan remas kuat-kuat sampai Bu Wita mengerang keenakan. Makin lama Bu Wita makin panas dan gerakan maju mundur berubah ke naik turun. Dia jongkok di atas Gilang dan naik turun dengan cepat.

Gilang menahan napas supaya tidak crot duluan. Tapi enak banget. Tangan Gilang yang lagi meremas payudara diambil oleh Bu Wita terus dia menahan tangan Gilang di kasur. Mereka berciuman sambil pinggul Bu Wita terus digerakkan. Gilang sudah mau crot. Bu Wita masih terus memegangi Gilang agar tidak bergerak. Agresif sekali ibu-ibu ini!

GIlang crot dan dengan keadaan dipegangi begitu rasa orgasmenya jadi dua kali lebih enak. Ketika Gilang selesai, Bu Wita masih menggenjot beberapa kali sampai akhirnya dia tertelungkup dengan badan gemetar.

Bu Wita berguling ke samping lalu rebahan. Gilang puas luar biasa.

“Kamu orang kedua berarti yang aku cobain.”

“Belum pernah sama yang lain, ya, Bu, selain suami?”

“Belum.”

“Gimana, Bu?”

“Beda.”

Gilang tidak bertanya lebih lanjut. Mereka tidur sampai pagi.

Paginya mereka harus pulang dan bersiap menuju bandara. Sebelum berangkat, terjadi quickie express di mana Bu Wita lagi-lagi mengambil posisi woman on top dan menggenjot Gilang. Eksekusi itu tidak berlangsung lebih dari lima menit karena Gilang tidak persiapan. Bu Wita pun tidak menagih lebih karena mereka sudah harus pergi.

Di pesawat, Gilang bertanya pada Bu Wita.

“Bu, kok, mau sama saya?”

Bu Wita tersenyum. “Ibu sudah curiga dari waktu kamu minta sekamar sama Ibu. Tapi Ibu biarin saja soalnya Ibu pikir kamu enggak bakal berani ngapa-ngapain. Lagian Ibu pikir Ibu juga cukup punya pertahanan kalau digoda kamu. Ibu sudah jilbaban kayak gini lumayan lama, loh.”

“Terus apa yang bikin Ibu berubah pikiran?”

“Waktu kamu cerita soal sex buddy itu, Ibu mikir kalau anak ini kayaknya suka sama aku. Terus kalau dia sampai cari bahan buat ngedeketin aku segitu niatnya, berarti ini anak serius.”

Gilang malu.

“Omongan kamu itu busuk tapi masuk akal.”

“Nyesel enggak, Bu?”

“Kalau nyesel enggak akan ada yang kedua kali, Lang.”

Gilang tersenyum puas.

Sesampainya di kantor, mereka kerja sebentar lalu pulang. Karena itu hari Kamis, Gilang diberi libur sama Bu Wita di hari Jumat karena sudah kerja luar kota. Jadi Gilang dapat libur panjang. Dengan gajinya yang sudah lumayan besar, Gilang membawa ibu dan adiknya ke Ibukota. Menyewakan hotel untuk mereka dan mereka jalan-jalan selama dua hari.

Entah takdir atau memang sudah jodohnya, waktu Gilang bawa ibu dan adiknya ke Kota Muda, di sana ada Regina. Regina diperkenalkan Gilang ke ibu dan adiknya lalu Regina jadi tour guide mereka. Sampai malam Regina menemani Gilang dan keluarga. Regina pun mengantar Gilang dan keluarga sampai hotel sebelum berpamitan.

“Cantik, Lang. Pacar?” tanya ibunya.

“Mudah-mudahan,” kata Gilang.

Besoknya ibu dan adik Gilang pulang dan Gilang menelepon Regina. Dia mengajak Regina nonton dan makan sebagai tanda terima kasih. Regina mau dan mereka jalan. Waktu nonton, Gilang memberanikan diri memegang tangan Regina dan ternyata genggamannya dibalas. Lalu mereka gandengan tangan sampai keluar dari bioskop dan masuk ke tempat makan. Setelah ngobrol lama, Gilang mengantarkan Regina sampai stasiun kereta dan melepasnya. Gilang tersenyum puas lagi. Regina sempat lepas waktu kuliah, kali ini Gilang akan serius sama dia.

Hari Senin waktu Gilang sampai ke kantor, dia dapat perlakuan tidak enak dari teman-teman ARO yang lain. Gilang bingung apa yang terjadi. Lalu dia dipanggil Bang Boi ke ruang rapat. Ternyata ada orang HRD yang bilang ke anak-anak ARO kalau Gilang dapat komisi besar dari proyek berlian kemarin. ARO yang lain iri sekali. Gilang jadi tidak enak tapi Bang Boi bilang kalau itu biasa terjadi di kantor. Bang Boi juga sering dapat perlakuan begitu. Tapi itu memang hasil kerja keras Gilang jadi kasus itu jangan diambil hati. Ketika Gilang cek rekeningnya, dia kaget ternyata komisi yang dikirimkan sebesar 20 juta rupiah.

Siangnya waktu istirahat, Gilang yang dapat rejeki tiba-tiba ingat Tuhannya. Jadi dia turun ke musala dan salat. Padahal dia belum mandi besar. Tapi, menurutnya, dari niat salat pun sudah dapat pahala.

Di musala dia ketemu salah satu ARO di tim lain. Mereka ngobrol dan temannya itu curhat ke Gilang.

“Gua bingung gua salat buat apa. Mau serajin apa pun gua salat, puasa, tahajud, tetap saja hidup gua begini-begini. Gaji, ya, segitu. Bonus, ya, segitu…. Kadang capek gua salat.”

Gilang berpikir panjang. Akhirnya setelah percakapannya itu, dia tidak pernah salat lagi.

Jam lima sore karyawan kantor mulai pergi pulang. Seorang karyawan Finance mendekati Gilang dan menyelamatinya atas komisinya yang besar. Karyawan itu adalah Sandra. Duh, asli, waktu Gilang kasih lihat foto Sandra ini saya sempat terbutakan saking cantiknya. Yang pertama melintas di otak saya waktu dikasih lihat adalah adegan Ayat-Ayat Cinta di mana Rianti Cartwright membuka cadarnya. Beuh! Iya! Sandra secantik itu! Ditambah lagi pakaiannya yang lebih syari dari Bu Wita. Pokoknya idaman sekali. Cuma sayang saya enggak dapat fotonya.

Waktu kantor mulai sepi dan Gilang mau pulang, Bu Wita memanggilnya ke ruangan.

“Ya, Bu?”

“Tutup pintunya.”

“Kenapa, Bu?”

“Jadi gitu kamu sekarang.”

“Hah? Kenapa, Bu?”

“Kemarin waktu proyek kamu rutin lapor ke Ibu setiap Senin sama Kamis. Sekarang sudah enggak ada proyek jadi enggak pernah ke Ibu lagi.”

Nah, loh.

“Habis, Bu, kalau saya sering ketemu Ibu nanti….”

“Ih, justru Ibu mau.”

“Serius, Bu?”

“Tapi enggak hari ini. Kamis saja. Pokoknya kamu setiap Senin sama Kamis habis selesai kerja ke sini dulu. Bilang sama anak-anak kamu meeting sama Ibu. Ngerti?”

Anjrit, men! Ini ibu-ibu sudah agresif, galak, nagih pula.

“Oh, siap, Bu. Kalau gitu saya siapin pengamannya.”

Bu Wita mengangguk. Bu Wita mengambil tasnya lalu berjalan melewati Gilang. Tidak lupa dia mencium Gilang sebelum keluar ruangan.

Uhuhui!

“Oh, iya, Gilang,” Bu Wita berbalik menghadap Gilang. “Bulan depan ada dua ARO baru. Soalnya bulan depan kita ada tujuh marketing campaign besar. Nanti salah satu yang baru di bawah kamu kerjanya. Kamu jadi naik posisi sama kaya Bang Boi. Besok Ibu bilang ke Bang Boi. Oke?”

Gilang tidak bisa berkata-kata. Dia cuma mengangguk.

“Ibu pulang dulu.”

“Iya, Bu. Hati-hati.”

Di situ Gilang membatin. Buat apa salat kalau tidak salat saja dia sudah dapat banyak mukjizat.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler