. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 14 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 14

0
264

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 14

Sejak kejadian seks di mobil itu, Cecil dan David jadi lebih dekat dan lebih genit. Setiap kali mereka papasan di rumah sakit, David mencubit pantat Cecil atau meremas dadanya kalau tidak ada yang lihat. Cecil juga suka meremas penis David diam-diam. Lalu kalau ada kesempatan mereka akan ML di mobil. Hari-hari Cecil menjadi lebih berwarna.

Suatu hari di malam Lebaran (kalau tidak salah. Cecil katanya lupa-lupa ingat. Mungkin Lebaran karena waktu itu dia dapat libur dan kalender sedang tanggal merah panjang), dia dan Grace berada di kontrakan. Seperti biasa, kalau mereka sedang nganggur, pasti mereka ciuman, ciuman pakai lidah, lalu berlanjut telanjang-telanjangan dan saling jilat menjilat. Kali ini giliran Grace yang memberikan service.

Cecil merebahkan badannya dan memejamkan mata untuk menikmati lidah dan jemari Grace yang menggerayangi seluruh tubuhnya. Nikmat. Nikmat sekali. Hingga pikiran soal David muncul di benaknya.

“Grace.”

“Hm?”

“Mau pakai dildo, dong.”

“Oh. Oke.”

Grace menurut. Dia mengambil dildo yang didapat dari Singapura, memakainya di pinggang dan siap menusuk. Cecil mengambil posisi nungging dan ketika Grace memasukkan dildonya, Cecil mengerang keenakan. Nikmatnya menjadi lima kali lipat. Cecil mengambil tangan Grace dan memaksanya untuk bergerak lebih cepat. Cecil menggigit bibir bawahnya lalu dia menjerit dan jatuh berguling. Tangannya ditaruh di vagina ketika cairan merembes keluar.

Grace, puas karena telah berhasil melaksanakan tugasnya, mencopot dildo lalu rebahan di samping Cecil. “Tumben mau pakai dildo. Gua sampai lupa kalau kita punya beginian.”

Lalu Cecil menatapnya dengan wajah bersalah. “Gua mau bilang tapi jangan marah.”

“Apa?”

“Gua udah ngewe sama David.”

Grace diam sedetik tapi tersenyum kemudian. “Anjir, lonte lu,” katanya sambil ketawa.

“Lu enggak marah?”

“Ngapain? Mau bahas soal hubungan kita lagi?”

“Enggak, sih. Tapi kalau gua lagi sama David, gua kayak merasa bersalah sama lu.”

“Kita enggak pacaran, Cecil! Ah, enggak mau lagi gua ngewe sama lu!” Grace keluar dari kamar dan membanting pintu.

“Loh, kok, marah?” Cecil mengejar Grace.

Grace sedang pakai baju lalu keluar dari kontrakan. “Mau ke mana?” tanya Cecil.

“Pergi. Males gua ngomong sama lu.”

Cecil membiarkan Grace pergi.

Paginya, Grace tidak pulang. Ketika ditanya melalui pesan, Grace menjawab kalau dia sudah di rumah sakit. Paling tidak Grace tidak kenapa-kenapa pikir Cecil. Cecil bekerja hari itu dan pulang besok paginya. Grace tidak ada. Cecil mengiriminya pesan dan Grace menjawab kalau dia sudah pulang tadi siang lalu sekarang dia sudah di rumah sakit lagi.

Hari berikutnya juga sama. Cecil tidak ketemu dengan Grace. Wajar, sih, toh, mereka sedang jaga di rumah sakit untuk profesi spesialis.

Kesibukan Cecil mulai padat lagi. Selain jaga rumah sakit dan tugas kampus, dia juga ikut berbagai pelatihan dan seminar. Karena semua kegiatan dia di rumah sakit, maka hari-harinya ditemani oleh David.

Di masa-masa akhir profesi spesialisnya, David mengatakan pada Cecil kalau dia ingin mulai serius. Cecil juga merasa kalau hubungan mereka sudah sangat-sangat siap untuk jenjang itu. Maka mereka berjanji untuk saling datang ke rumah masing-masing dan bertemu orang tua.

Hari itu datang di pertengahan tahun depannya. Pertama, Cecil bertemu orang tua David karena dia asli Ibukota. Lalu sorenya mereka berkendara ke Kota Kelahiran untuk bertemu orang tua Cecil. Semua berjalan lancar tapi belum ada wacana pernikahan. Masih banyak tugas kampus yang menunggu.

David yang setahun lebih tua jadi lebih sibuk. Cecil mulai sering ditinggal-tinggal. Suatu hari Cecil pulang ke rumah dan bertemu dengan Grace.

“Hei,” kata Cecil.

“Hoi.”

“Kita udah kayak apaan aja jarang banget ketemu.”

“Apa boleh buat, ya? Gimana RS?”

“Gitu, deh. Lu?”

“Gua vakum.”

“Hah?”

“Gua mau ke Kalimantan.”

“Ngapain?”

“Ada pengabdian di sana. Jadi relawan dulu.”

“Terus S2 lu gimana?”

“Nanti lanjut lagi.”

“Kapan pergi?”

“Belum tahu, sih, tapi kayaknya dekat-dekat ini.”

Cecil agak sedih mendengar Grace akan meninggalkan pendidikannya. Tapi dia tidak mau berargumen. Mereka nonton TV seperti biasa dan Cecil mulai memeluk Grace. Ketika dia mau mencium Grace, Grace menguap. “Ngantuk, Cil. Bobo, ah.”

“Ikut.”

“Pengin tidur sendiri dulu. Biar kasurnya luas. Badan pegal-pegal.”

Cecil membiarkan Grace tidur. Bete, sih, tapi dia memang kelihatan lelah.

Hari-hari berikutnya sibuk sekali buat Cecil sehingga pertemuannya dengan Grace sangatlah sedikit. Ketika akhirnya gelar spesialis didapat, barulah Cecil bertemu Grace yang menyelamatinya. Di hari yang sama, David datang kepadanya, berlutut di satu kaki dan memberinya cincin pertunangan. Seisi rumah sakit heboh dan menyelamati Cecil. Hari yang indah pokoknya.

Beberapa hari kemudian, Cecil diterima di rumah sakit Kota Kelahiran. Selain itu tanggal keberangkatan Grace juga sudah ditentukan. Grace akan lebih dulu pindah ke Kalimantan sebelum Cecil pulang ke Kota Kelahiran.

Suatu hari setelah berkencan dengan David, Cecil pulang ke kontrakan dan melihat Grace keluar dari kontrakan Ben. Ben melihat Cecil dengan tatapan sedih lalu masuk. Grace tersenyum pada Cecil dan mereka berdua masuk ke kontrakan.

“Grace. Berhubung lu bakal pergi duluan, kita beresin kontrakan, ya. Besok David bakal ke sini buat bantuin kita.”

“Oke. Jam berapa?”

“Kayaknya jam sepuluhan. Tapi jam segitu gua mau ketemu dosen dulu. Dia biar suruh beres-beres saja duluan.”

“Oh, siap. Gua ada di rumah, kok. Entar biar gua yang temani.”

Besoknya Cecil menyelesaikan urusannya dengan dosen. Sekitar jam satu siang dia kembali ke kontrakan dan sudah ada David yang beres-beres di sana.

“Mana Grace?”

“Katanya enggak enak badan.”

Cecil mengetuk pintu kamar Grace lalu masuk. Grace sedang tiduran di kasur ditutupi selimut.

“Grace? Sakit?”

Grace menggeleng.

“Kok, selimutan?”

Grace diam.

“Kenapa, sih?”

“Mens. Hari pertama.”

Cecil mengangguk lalu membiarkan Grace tidur.

Setelah selesai packing. David pulang. Grace belum keluar kamar dan Cecil bosan sendirian saja. Dia main ke kontrakan Ben. Ketika dibukakan pintu, Ben tampak kusut.

“Kok, semua orang kusut hari ini?”

Ben cuma senyum. “Mana pacar lu?”

“Pulang.”

“Lu yakin mau nikah sama dia?”

“Yakin. Kenapa?”

“Enggak. Bahagia, ya.”

Cecil bingung tapi tidak bertanya lebih lanjut.

Tibalah hari kepergian Grace. Cecil, David, dan Ben mengantar Grace ke bandara. Grace cipika cipiki pada Cecil, berpelukan pada Ben, tapi dia tidak berpamitan pada David. Ya, karena baru kenal wajar kalau dia tidak dekat dengan David.

Beberapa hari berikutnya Cecil kembali ke Kota Kelahiran dan bekerja. Sebulan setelahnya, dia menikah dengan David. Betapa sedihnya Cecil ketika Grace bilang dia tidak bisa datang karena tidak bisa meninggalkan Kalimantan. Ben juga tidak bisa datang karena kebetulan – kebetulan sekali – hari pernikahan Cecil bertepatan dengan hari pertunangannya dengan Alina.

Ya, sudahlah.

Cecil menikmati masa-masa indah menikah dengan David. Satu masalah saja. David bekerja di Ibukota sementara Cecil di Kota Kelahiran. Tapi tidak masalah. David pulang seminggu sekali dan sebulan sekali Cecil ke Jakarta.

Di bulan keempat menikah, Cecil hamil. Sayang kehamilannya harus berumur pendek karena keguguran. Di tahun kedua pernikahan Cecil hamil lagi. Kali ini pun dia harus keguguran. Hingga empat kali dia hamil dan keguguran. Tapi ketika diperiksa ke dokter kandungan, tidak ada yang salah pada tubuh Cecil dan David. Mungkin belum dikasih Tuhan, pikir Cecil.

Tahun keenam mereka menikah, Cecil membeli rumah sebagai hadiah pernikahan untuk David. Rumahnya tidak mewah tapi menurut saya besar banget. David begitu senang sampai-sampai dia mengambil cuti sepuluh hari.

Hidup Cecil sudah nyaman sekali hingga ada kabar dari Ben.

“Cil. Lu lagi di mana?”

“Di rumah. Kenapa?”

“Lagi duduk atau berdiri?”

“Berdiri.”

“Duduk dulu coba.”

“Apaan, sih?”

“Duduk aja. Udah?”

“Udah.”

“Grace meninggal.”

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler