. Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 10 | Kisah Malam

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 10

0
317

Kisah Dokter Anak dan Ojol Part 10

Lanjut ke Gilang yang sedang menuju ke kosan Ica. Sesampainya di daerah kosan Ica, Gilang menitipkan motornya di kosan temannya lalu berjalan ke kosan Ica. Waktu dia berjalan ke kamar Ica, Gilang melewati kamar Regina dan menyesali kenapa dia malah dapat Ica, bukan Regina. Tapi tidak lama dia memikirkannya karena dia sedang akan melakukan kegiatan yang dia sangat-sangat sukai.

Seks.

Gilang mengetuk kamar Ica. Ica membukakan pintu dengan senyum. Ica cuma pakai baju kaus pendek dan celana yang sama pendeknya. Sepertinya dia memang sudah siap.

Karena Gilang sudah tidak tahan, dia langsung duduk dan memeluk Ica. Tanpa ba bi bu, Gilang mencium Ica. Ica juga sepertinya sudah tidak sabar. Mereka berciuman lama dan intens. Lidah Gilang menelusuri mulut Ica dan tangannya langsung meraba-raba dada Ica. Ica mengambil inisiatif untuk membuka bajunya lebih dulu. Disusul bra dan disusul celana dan celana dalam. Dalam waktu singkat, Ica sudah bugil.

Gilang tidak buang waktu. Dia langsung bugil juga. “Terus, mana pengamannya?”

Ica mengambil sekotak kondom. Gilang membukanya dan menemukan empat bungkus di dalamnya. Dia tersenyum dalam hati. Berarti bisa main empat kali, pikirnya.

Hajar.

Sempat ada insiden pasang kondom terbalik tapi bisa ditanggulangi. Si jenderal bahkan sudah berdiri tegak tanpa harus dikulum. Sepertinya memang Gilang cuma mau ngewe ketemu Ica. Maka Gilang menimpa Ica lagi, menciumnya habis-habisan lalu langsung mengarahkan si jenderal ke vagina.

“Ah,” desah Ica.

Padahal belum masuk, baru nempel. Gilang belum berpengalaman jadi meleset-meleset. Ica rupanya lebih tahu dan mengambil penis Gilang, diarahkan dan cus, masuk, deh. Tapi Gilang masih belum yakin.

“Masuk, ya?”

Ica mengangguk.

Oke. Genjot.

Ica mengerang kesakitan awalnya karena vaginanya belum basah tapi lama-lama dia mendesah nikmat juga. Sensasi Ica beda dengan Rita. Ica lebih sempit dan penis Gilang seperti kesusahan untuk maju mundur. Gilang memaksakan gerakannya supaya lebih cepat dan Ica mendesis keenakan. Gilang menggenjot lebih cepat dan tidak sampai lima menit, dia crot.

Gilang berguling ke samping sambil berkeringat. Dia membuang kondom dan menatap Ica. Ica masih rebahan sambil senyum. Gilang senyum balik. Di saat itulah Gilang merasa kalau dia betul-betul tidak punya feeling sama Ica. Cuma nafsu tok. Itu pun langsung sirna sehabis ML. Memikirkan itu Gilang jadi tidak merasa semangat menjalani hubungannya dengan Ica.

Habis itu Ica memesan makan malam dan mereka makan berdua sambil nonton di komputer Ica. Agak malam, Ica mengunci pintu kamarnya lalu mencium Gilang. Dia siap untuk ronde 2. Gilang tidak nafsu sebetulnya tapi ketika si jenderal dielus, dia mau tidak mau bangun.

Gilang mencopot celananya dan membiarkan Ica mengulum si jenderal lama sekali sampai nafsunya sampai di puncak. Barulah dia melucuti baju Ica, menidurkannya, memasang pengaman dan menggenjotnya. Kali ini berlangsung lebih singkat. Mungkin cuma tiga menit. Mungkin karena sudah dikulum lama jadi jenderal sudah lemah.

Mereka tidur sambil berpelukan. Gilang tidak bisa tidur karena otaknya memikirkan Regina dan parasnya yang lebih cantik dan badannya yang lebih indah ketimbang Ica. Iseng-iseng dia buka facebook Regina dan melihat-lihat fotonya. Ada satu foto Regina yang dia sedang main ke pantai. Dia pakai kaus putih yang agak tembus pandang sampai-sampai bra hitamnya kelihatan. Gilang berhalusinasi membayangkan dia mengelus dadanya, meremas dadanya, mencium bibirnya, dan menyentuh pantatnya. Pasti lebih enak dari Ica. Tak terasa nafsunya tergelitik lagi dan si jenderal bangun dari tidur.

Lalu dia punya ide. Dia zoom foto Regina terus ditaruh di kasur tepat di samping kepala Ica. Gilang naik ke atas badan Ica lalu menatap foto Regina dengan saksama. Kemudian dia menyentuh dada Ica. Oh! Beda sensasi!

Ica bangun dan tersenyum. Dia menutup mata dan membiarkan Gilang menciumnya. Gilang melumat bibir Ica sambil memandangi foto Regina, membayangkan orang yang sedang dia cium adalah Regina. Berhasil ternyata. Nafsunya lebih terangkat.

Gilang meremas dada Ica dengan lembut dan perlahan sambil otaknya membayangkan Regina. Ica mendesah ketika penis Gilang menyentuh vaginanya. Gilang memakaikan kondom ketiga lalu memasukkan si jenderal ke vagina Ica. Rasanya beda. Kali ini Gilang menggerakkan penisnya pelan-pelan dan dengan perasaan. Ica memeluknya erat sambil mendesah seiring gerakan maju mundur Gilang.

Gilang menggeser foto Regina di HP-nya ke foto berikut. Sambil genjot sambil scrolling foto Regina. Beuh, nikmatnya jadi tiga kali lipat. Entah kenapa stamina Gilang juga naik jadi hampir sepuluh menit. Ketika crot, Gilang merasa sangat, sangat, sangat puas.

Setelah selesai, buru-buru Gilang menutup laman Facebook dan pura-pura inosen. Ica tidak menyadari apa yang dilakukan Gilang dan mereka akhirnya tidur sampai pagi.

Paginya, Gilang pulang dan bertemu Regina tapi dia tidak ada. Oh, iya, tidak lupa dia membawa pulang kondom yang masih sisa satu. Akhirnya Gilang mengambil lalu pulang untuk membereskan skripsinya. Hari itu dia dapat jadwal sidang dan dia belajar seharian. Waktu malam hampir tiba, dia dapat SMS dari Linda.

“Lang, si Mamah nanyain, tuh. Kapan kamu nginap lagi katanya.”

Gilang nyengir. “Malam ini juga boleh.”

“Ya, sudah. Sini.”

Macam dikasih lotere, Gilang ngebut menuju rumah Linda. Sesampainya di sana, ternyata cuma ada Linda dan pembantu-pembantunya. Tante Yuli lagi keluar katanya. Jadi Gilang menunggu di kamar Linda sambil nonton TV.

Sekitar jam delapan malaman, Linda minta bicara serius dengan Gilang.

“Lang, kemarin aku ngobrol sama teman aku soal… sex buddy. Tahu enggak itu apa?”

“Enggak tahu.”

“Sex buddy itu teman ngeseks.”

“Yeh, kalau dari namanya doang mah memang itu artinya.”

“Maksud aku, ada konsep yang namanya teman ngeseks. Kata teman aku, sepupunya yang tinggal di Australia punya sex buddy. Gunanya sebagai pelarian waktu sepupu dia itu bosan sama suaminya.”

“Hah?”

“Iya. Jadi sex buddy itu adalah salah satu cara untuk melanggengkan perkawinan. Katanya berumah tangga itu berat. Kadang ada jenuhnya, ada bosannya, ada kesal sama pasangannya. Nah, sex buddy itu pelarian dari yang begituan. Terus aku mikir….”

Linda diam agak lama.

“Apa?”

“Papah aku punya simpanan, loh. Makanya dia jarang pulang.”

Gilang pura-pura enggak tahu.

“Mamah juga tahu soal itu tapi Mamah enggak pernah marah. Mungkin itu kali yang disebut sex buddy.”

Gilang enggak tahu itu benar atau tidak tapi dia mengangguk saja. “Itu kali yang dimaksud teman saya yang psikolog itu.”

Linda diam lagi. Tampangnya serius kayak lagi mikir.

“Lin.”

“Hm?”

“Semisal kamu jadi sex buddy aku mau enggak?” Gilang sempat ragu mau tanya begitu tapi dia paksakan. Apa ruginyalah, toh, mereka lagi ngomongin itu.

“Kayaknya memang cuma bisa sama kamu, Lang.”

Gilang girang bukan main. “Kenapa?” sok-sokan polos.

“Soalnya kalau sama orang lain belum tentu mereka punya pemahaman yang sama dan aku enggak mungkin ngomongin ini ke orang lain.”

Gilang mengangguk. Entah apa yang terjadi tapi semuanya berjalan sesuai dengan keinginan Gilang.

“Tapi aku kayaknya belum siap buat begituan. Geli juga kalau mikirin itu.”

Duh, Gilang sedikit kecewa. Tapi dia tetap tenang. “Sama.”

“Eh, memang kamu mau sama aku? Aku, kan, gendut.”

“Lah. Kamu, mah, cantik. Memang lebih gemuk tapi enggak gendut.”

Linda geer. Pipinya memerah. “Mantan-mantan aku cuma mau duit aku doang tahu, Lang.”

“Oh, ya?”

Linda kemudian cerita bagaimana mantan dia sebelum ini sering minta ditraktir dan mantan sebelumnya lagi suka pura-pura enggak punya uang. Mereka berdua punya kesamaan yaitu senang disetirin Linda pakai mobilnya.

“Makanya aku enggak pede sama diri aku sendiri. Yah, tapi memang aku enggak cantik.”

“Cantik itu relatif, Lin. Mungkin buat mereka kamu enggak cantik tapi bagi orang lain kamu cantik, kok. Saya pikir kamu cantik. Paling enggak lebih cantik dari teman-teman kampus saya. Ada, sih, satu yang cantik banget tapi perangainya enggak bagus. Jadi buat saya engga cantik,” Gilang bohong. Ini gombalan yang dia karang sendiri.

“Kamu bilang gitu biar bisa ML sama aku saja,” kata Linda.

“Duh, ketahuan, ya?”

Lalu keduanya tertawa. Selepas itu Gilang tidak membahas soal sex buddy lagi karena dia tidak ingin terkesan terlalu bersemangat. Jam sebelas kurang, Linda mengantuk dan mau tidur. Karena kamarnya masih direnovasi, maka Gilang mengungsi lagi ke rumah utama. Di sana dia ketemu Tante Yuli.

“Asik, banget kamu di kamar berduaan sama Linda. Ngapain aja?” tanya Tante Yuli.

“Curhat, Tante,” kata Gilang.

“Soal apa?”

“Biasalah perempuan, mah, soal cinta.”

Gilang dan Tante Yuli ngobrol sampai malam. Waktu itu Tante Yuli pakai baju tidur gaun yang agak pendek jadi pahanya kelihatan. Gilang terangsang dibuatnya tapi dia tahan-tahan. Tapi matanya tidak bisa lepas dari paha Tante Yuli.

“Heh! Genit!” Tante Yuli menutup pahanya dengan bantal kursi.

“Habis Tante menggoda,” kata Gilang bercanda.

“Cowok itu memang, yah, enggak bisa kalau lihat perempuan.”

Gilang minta maaf tapi Tante Yuli terdiam lama sekali. Gilang jadi salah tingkah.

“Kamu sama pacar kamu sudah ngapain saja?”

“Belum ngapa-ngapain, Tante, kan, saya bilang enggak mau ngapa-ngapain soalnya takut.”

“Kalau gitu sama orang lain pernah ngapa-ngapain?”

“Belum, Tante. Siapa yang mau saya?”

“Sama Linda?”

“Apalagi sama dia, Tante,” Gilang deg-degan di sini. Dia kayak sedang diinterogasi dan dia takut sama Tante Yuli waktu itu.

Tante Yuli memandang Gilang dengan tatapan aneh.

“Tante kenapa, sih?”

Tante Yuli bangun dan pamit tidur. “Dah.”

“Iya.”

Tante Yuli jalan ke kamarnya tapi berhenti tengah jalan. Dia berbalik menghadap Gilang, memandangnya sebentar, lalu berjalan ke kamar lagi. Waktu buka pintu kamar dia melirik Gilang lagi dengan mata galak. Terus dia masuk kamar.

Gilang deg-degan plus tegang plus bingung. Ada apa barusan?

Pintu kamar Tante Yuli terbuka dan dia keluar. “Gilang. Sini sebentar.”

Ketegangan Gilang memuncak. Dia berjalan ke arah kamar Tante Yuli dan lututnya bergetar grogi. Gilang dibawa masuk kamar terus pintunya ditutup. Kamar Tante Yuli besar banget dan kasurnya ukuran jumbo. Cuma itu yang Gilang lihat karena Tante Yuli berdiri begitu dekat dengannya.

“Jangan bilang siapa-siapa,” kata Tante Yuli lalu tangannya memegang pipi Gilang, menariknya dan mereka berciuman.

Lemaaaaaaas. Lutut Gilang kayak mie rebus, lepek tanpa tenaga. Bibir Tante Yuli lembut dan tebal. Plus badannya wangi banget. Gilang ngos-ngosan seperti baru saja lari keliling lapangan bola. “Tante…,” kata Gilang setengah tersedak.

“Kamu sudah pernah belum?”

“Belum….”

“Mau sama Tante?”

“Mau,” kata Gilang cepat.

Tante Yuli mencium Gilang lagi. Gilang dipepet ke tembok dan Gilang menutup matanya menikmati. Tangannya tidak berani ngapa-ngapain karena ini ibunya Linda. Selain lebih tua, dia itu ibunya Linda. Gilang lagi ciuman sama ibunya teman dia. Anjiiiiiiiing! Apa yang sedang terjadi?

Tante Yuli mengambil tangan Gilang dan meletakkannya di dadanya. Empuk, coi! Empuk banget!

Tante Yuli perlahan mengangkat kaus Gilang dan membukanya. Lalu tangannya turun ke celana jins Gilang dan dicopot kancingnya. Gilang tidak melawan ketika celananya dipelorotkan. Lalu Tante Yuli membawanya ke tempat tidur. Gilang duduk lebih dulu. Di depannya, tepat di hadapannya, Tante Yuli membuka gaun tidurnya. Dia tidak pakai bra! Gilang langsung memandang ke dada Tante Yuli yang besar! Tante Yuli mendorong Gilang sampai terbaring dan menciuminya. Gilang mulai berani meraba pantat Tante Yuli, terus naik ke punggung dan meremas rambutnya. Tante Yuli mendesah dan itu bikin Gilang tidak kuat menahan nafsu. Jenderal sudah jinjit. Tante Yuli berubah posisi menjadi terlentang, Gilang naik ke atasnya dan dia memainkan dada Tante Yuli. Besarnyaaa! Itu adalah payudara terbesar yang pernah dia pegang. Sudah agak kendor tapi tetap indah!!!

Gilang menciumi puting Tante Yuli dan membuat badan Tante Yuli gemetar. Tante Yuli menyelipkan tangannya ke celana dalam Gilang dan mengambil penisnya. Diperosotkannya celana dalam Gilang dan Tante Yuli membuka celana dalamnya sendiri. Gilang didorong sampai rebahan lagi. Lalu dia duduk di atas Gilang dan memasukkan penisnya ke dalam vaginanya.

Amboooooooi! Hangatnya beda!

Dengan profesional, Tante Yuli maju mundur, naik turun, mutar-mutar, pokoknya semua gerakan. Gilang merem melek dibuatnya. Puting Gilang juga dimainkan Tante Yuli pakai jari jadi tambah gilalah Gilang.

Waktu Gilang mau crot, Tante Yuli seperti tahu itu mau terjadi dan berhenti. Dia bangun lalu mengulum penis Gilang. Crotnya tertunda lalu Tante Yuli nungging. Gilang tahu apa artinya itu. Dia memosisikan diri di belakang Tante Yuli lalu membiarkan penisnya dibimbing untuk masuk ke vagina. Gilang mulai maju mundur. Sumpah itu nikmat banget!

“Tante saya enggak pakai pengaman.”

“Tante KB, kok.”

Gilang jadi tidak segan-segan genjot Tante Yuli. Enak banget.

Waktu mau crot, Gilang berhenti. Tante Yuli terlentang dan membiarkan Gilang menggenjotnya dari atas. Satu, dua, tiga kali entupan, Gilang tidak tahan dan dor! Selesai dia dalam vagina Tante Yuli. Basah badannya sama keringat.

“Enak banget, Tante. Itu yang namanya seks?” kata Gilang sok polos.

Tante Yuli tersenyum dan memeluk Gilang sampai mereka tertidur.

Paginya Gilang mandi, bersih-bersih terus sarapan sama-sama Linda dan Tante Yuli. Tidak ada pembicaraan soal seks. Dalam hati Gilang memujinya dirinya sendiri karena sudah berhasil menjebol ibu temannya sendiri. Sementara Linda, tinggal tunggu waktu saja. Masalahnya hanya tinggal bagaimana dia menjaga supaya Linda dan Tante Yuli tidak saling tahu soal Gilang.

Bersambung…

Daftar Part