. Kesempurnaan Part 43 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 43

0
372
Kesempurnaan Part 43

Kesempurnaan Part 43

Mama Sayang Kalian Berdua

Aku terbangun saat mama membuka tirai jendela kamar ku. Kesiangan lagi kesiangan lagi. Memang sih semalem kafe cukup rame dan sampai larut malam, tapi kalau tiap hari tidur malam dan bangun siang seperti ini terus-terusan ga baik juga untuk kesehatan. Tapi mau bagaimana? Untung mama sabar ngurusin aku sama Rahma. Hehehe.

“Kelewat lagi kan subuh nya kak…” ucap mama sambil merapikan beberapa baju yang aku gantung di balik pintu yang sudah entah dari kapan tercantol di sana. Di bawa nya baju-baju itu masih dengan merapikan beberapa barang-barang yang ada di kamar ku yang selalu berantakan.

“Maaf ma…”

“Minta maaf sama Allah sana…”

“Lah…mati dong kakak?” tanya ku dengan polosnya.

“Heh! Ngomongnya itu lho…”

“Kan tadi disuruh minta maaf…”

“Maksudnya berdoa sambil minta maaf…

“Oh…kirain hahaha.”

“Cuci muka sana, terus sarapan.”

“Iya ma, eh Rahma tadi ke sekolah naik apa jadinya?”

“Dijemput sama Gadis.”

“Oh…”

“Kenapa?”

“Ga apa-apa mah, seneng aja mereka semakin akur, ga kaya dulu waktu awal kenal,” kena ku pada mereka berdua yang dulu tidak pernah aku memperebutkan aku. Aku? Hahaha. Perhatian ku sih lebih tepatnya.

“Hahaha, mama jadi keinget dulu mereka adu debat mulu, yang satu jadiin kakak pelarian dari rumahnya, yang satu ketakutan kakak satu-satunya yang paling ganteng ini ada yang ambil, hihihi,” ucap mama.

“Ah masa sih ma kakak ganteng? Iya ya? Eh iya deng ganteng banget,” ucap ku sambil pura-pura ngaca.

“Huuu…baru dipuji gitu aja udah GR…”

“Ga apa-apa GR yang penting yang muji mama sendiri, hehehe,” balas ku smabil merentangkan tangan. Mama langsung berhenti dan menghampiri ku. Kami berpelukan hangat. Sangat hangat. Dan aku sangat bahagia. Meski papa sudah tidak ada lagi, keberadaan mama di sini sudah lebih dari cukup.

“Hari ini kamu mau kemana kak?” tanya mama.

“Pagi sampai sore sih tidak ada acara ma, kenapa?” tanya ku balik.

“Kalau sore ada?”

“Benernya ada sih, kenapa deh?”

“Temenin mama jalan ya nanti siang, suntuk nih, hihihi,” jawab mama masih dalam posisi memeluk ku namun tidak se erat tadi. Hanya tangannya saja yang masih nyangkut di pinggang ku.

“Mama mau kemana? Salon? Ngemall?”

“Kemana aja yang penting jalan, makan siang di luar doang juga ga apa-apa…”

“Asiaaap mama ku tersayang yang paling cantik sedunia, hahaha,” canda ku.

“Halah gombal…”

“Yeee bener…kebetulan kafe kakak belakangan ini lagi rame-rame nya, hari ini kakak bakalan temenin mama kemana aja dan akan senengin mama. Mau belanja? Perawatan di salon? Kakak siap bayarin, hahaha.”

“Halah, gitu aja belagu…”

“Pokoknya hari ini kakak akan nyenengin mama…”

“Hihihi, iya iya, percaya deh kalau kakak sekarang udah bisa nyenengin mama, makasih yaaa…muach…,” mama menarik kepala ku turun dan langsung mencium kening ku. “Ya udah sarapan dulu sana, udah mama siapin tuh,” lanjutnya lagi lalu melepaskan pelukannya. Aku mengiyakan karena sejujurnya aku sendiri juga sudah sangat lapar.

###

Di depan ku sudah tersaji berbagai macam makanan khas daerah jawa barat. Ya, aku dan mama akhirnya makan siang di luar. Tepatnya di mall dimana kafe ke dua ku akan buka. Sekalian liat-liat kata mama. Dan aku sekarang berada di salah satu restoran khas daerah yang ada di dalamnya. Akhir-akhr ini keuangan keluarga memang semakin membaik. Sebagai bentuk rasa syukur ya tidak ada salahnya kalau sekali-kali nyenengin orang tua pikir ku.

“Kak…” ucap mama disela-sela makan kami.

“Ya ma?”

“Kamu sama Gadis baik-baik aja kan hubungannya?”

“Kenapa nanya begitu?”

“Enggak, kadang mama kepikiran aja, kalian kan sebelumnya…trus tiba-tiba harus jadi seperti sekarang, kemungkinan kalian akan jaga jarak kan pasti ada kak…”

“Mama tenang aja kalau soal itu, aman…”

“Bener?” tanya mama lagi dengan lembut sambil menggenggam tangan ku. Mungkin karena keseringan berhubungan dengan wanita yang lebih tua, entah kenapa tiba-tiba jantung ku berdebar saat bersentuhan dengan mama meskioun itu hanya sebatas kulit pergelangan tangan. Aku pun langsung menarik tangan ku karena reflek.

“Eh, kenapa?”

“Malu ah ma, ntar di kira kakak lagi sama tante-tante kan repot…”

“Dih, masa iya mikir sampe kesana, wajar kali ibu megang tangan anaknya.”

“Tapi Adi cowok ma dan Adi malu…”

“Hihihi, beginilah repotnya punya anak cowok, dipegang tangannya aja malu, gimana kalau mama cium pipi kamu di depan temen-temen kamu? Hihihi.”

“Kalau sekalian cium sih ga apa-apa mah, hahaha.”

“Hahaha dasar, jadi gimana pertanyaan mama tadi?”

“Ya…bener, Adi sama Gadis baik-baik aja kok, mama ga usah kuatir soal itu.”

“Alhamdulillah kalau gitu, mama lega dengernya.”

Sosok ayu dan wajah cantik mama memang selalu membuat ku tenang. Apa lagi kalau bisa membuatnya senang dan tenang seperti ini membuat ku lebih bahagia lagi. Memang tidak ada yang lebih berarti lagi di dunia ini selain mama setelah kepergian papa. Bahkan pak Wira sendiri yang pada kenyataannya adalah ayah biologis ku tidak membuat ku lantas menjadikannya orang yang berarti.

“Malah bengong!!” ucap mama mengagetkan ku.

“Hehehe.”

“Mikirin apa sih?”

“Ah enggak…”

“Ayo cerita…” paksa mama sambil menarik tangan ku lagi.

“Ih mama apaan sih, hahaha, malu ah ma…”

“Biarin aja, pokoknya mama ga akan lepas sebelum kakak cerita.”

“Hahaha, iya-iya kakak cerita, tapi lepasin dulu…” pinta ku. Mama pun lalu melepaskan tangan ku dari genggamannya.

Aku lalu diam sejenak. Mencoba berfikir apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk mebahas masalah ini. Aku ragu untuk menanyakannya, tapi kalau tidak sekarang aku tidak tau akan ada kesempatan sebaik ini lagi atau tidak.

“Apa?”

“Ehmm…biar adil, sebenernya kakak pengen tahu bagaimana hubungan mama dengan pak Wira sekarang.”

“Hihihi, oh itu, ih kakak kepo deh…itu kan urusan mama…hihihi,” jawab mama yang malah meledek ku.

“Lah tadi mama nanya soal Gadis, masa nanya balik gitu dibilang kepo?”

“Karena orang tua wajib tau masalah anaknya, tapi anak tidak wajib tau masalah orang tuanya,” jawabnya dengan enteng.

“Curang amat!”

“Makanya jadi orang tua…”

“Hahaha, lucu ma…”

“Makasi…”

“Jadi beneran ga mau gantian cerita?”

“Cerita apa? Ga ada yang perlu diceritain kok…”

“Berarti ga ada apa-apa ya? Ga ada kelanjutannya?”

“Kamu maunya ada lanjutannya atau tidak?” tanya mama. Aku menatap wajah mama dengan lekat.

“Aku maunya yang penting mama bahagia, lanjut atau tidak yang penting nomor dua.”

“Bener? Emang kamu tidak cemburu mama balikan sama…”

“Kenapa musti cemburu?”

“Ya…siapa tau kamu ga pengen mama khianatin almarhum papa…”

“Dikit sih…tapi ya udah lah…”

“Ga bisa ya udah lah gitu lah kak, kamu musti tegas, kamu laki-laki, di keluarga kita sekarang kamu kepala keluarganya, mama ikut keputusan kamu, keputusan Rahma juga, karena kamu tau?” tanya mama.

“Tau apa?”

“Anak tidak wajib menanggung kebahagiaan orang tuanya, tapi orang tua wajib memastikan kebahagiaan anaknya, sekarang mama tanya, kalau mama balik sama mas Wira, kamu sama Rahma bahagia atau tidak?” tanya mama dengan tegas. Aku bisa melihat sorot keseriusan dari bola mata indahnya.

“Maaa…”

“Jawab aja kak, mama siap dengan apapun keputusan anak-anak mama,” ucap mama sambil tersenyum dengan manisnya.

“Insyaallah kakak bahagia, begitu juga dengan Rahma.”

“Mama sayang sama kalian berdua.”

“Kakak sama Rahma lebih sayang lagi sama mama.”

“Makasih ya sayang…” ucap mama gemas sambil mencubit pipi ku. Lagi-lagi aku reflek menghindar. Kalau ada yang melihat pasti ngiranya ada dua kemungkinan. Kalau bukan gigolo ya anak mama banget aku ini.

###

Selesai makan siang aku nemenin mama muter-muter mall dengan tanpa tujuan yang jelas. Apakah semua wanita seperti itu ya? Menghabiskan waktu berjam-jam jam keliling mall, lihat-lihat baju, pernak pernik, dan tidak ada yang di beli. Entahlah. Tapi pada akhirnya mama membeli baju sebuah baju setelah aku paksa. Masa udah muter-muter lama ga ada yang dibeli. Lalu kami pulang sekitar jam empat sore.

“Eh iya mah…”

“Kenapa?” tanya mama saat kami sudah tiba di rumah dan menyerahkan helm yang dia kenakan tadi kepada ku. Aku hampir saja lupa kalau hari ini aku udah janji mau nemenin mba Ai untuk lihat-lihat ke coffee maker langganan ku. Dan setelah aku check di HP ku ternyata dia sudah beberapa kali mengirimkan pesan WA, menanyakan kepastian jadi atau tidaknya.

“Anu ma, kakak baru aja inget kalau sore ini ada janji, kakak langsung jalan lagi ya…”

“Sama Ratna?” tembak mama.

“Bukan, ini temen mau minta temenin beli mesin kopi.”

“Ooohhh…bener bukan Ratna?”

“Iya ma, bukan, Ratna mulu sih?”

“Hihihi, ya udah hati-hati ya…”

“Iya ma…”

Tidak menunggu lama aku pun langsung jalan lagi menuju kantor mba Ai. Sebelum ini mba Ai nanya kalau aku jemput dia ke kantor atau langsung ketemuan saja di TKP. Aku jawab aku jemput aja karena kantornya yang masih di area Jakarta Selatan jadi tidak terlalu memberatkan buat ku. Kata ayah dulu kalau mau bantu orang jangan setengah-setengah.

Tepat jam lima sore aku sampai di depan kantor mba Ai. Aku check lagi pesan terakhir darinya adalah sebuah ucapan terima kasih disertai dengan emoticon senyum. Aku lalu membalasnya dengan memberinya kabar kalau aku sudah standby di depan kantornya. Tidak sampai semenit datang lagi balasan dari dia minta untuk tunggu sepuluh menitan.

“Haiii…” sapa seorang wanita dari arah depan. Ternyata mba Ai sudah turun. Tidak sampai sepuluh menit ternyata. Baguslah.

“Hai juga mba…” balas ku.

“Maaf ya nunggu, udah lama?”

“Belum sih, ya pas aku wa tadi.”

“Langsung jalan?”

“Ayo…”

“Eh tapi aku ga ada helm nih.”

“Tenang, aku bawa dua kok…”

“Ihh Adi baik banget…”

“Hahaha…”

“Ya udah yuk…”

Aku lalu memberikan helm ke mba Ai. Dia memakainya tapi kesulitan mengaitkan tali helm nya. Setelah minta ijin terlebih dahulu aku bantu dia dan klik, kaitan talinya terpasang dengan sempurna.

“Makasih,” ucapnya sambil tersenyum.

Mba Ai lalu naik. Tapi motor ku baru maju beberapa meter atau tepatnya hampir melewati gerbang kantornya sebuah motor gede yang berjalan dari arah dalam berhenti tepat di depan motor ku dan menghalangi ku. Kaca helm full face terbuka dan menatap ke arah ku, atau mba Ai aku tidak tau. Tapi kalau sekilas aku liat itu adalah mas Ega. Jiah…

“Woi jangan ngalangin jalan dong!!” teriak mba Ai dari belakang. Hadeh mulai lagi pikir ku. Mas Ega dengan santai lalu membuka helm nya.

“Mau kemana kalian?” tanyanya sambil senyum-senyum cengengesan.

“Bukan urusan elo!!” balas mba Ai.

“Ya ya ya, bukan urusan gue.”

“Udah minggir sih, gue mau lewat,” ucap mba Ai lagi.

“Itu depan macet non, mau keluar ya berhenti dulu lah,” balas mas Ega.”

“Ya udah cepet, ga usah pake buka helm segala!!”

“Kan kati elo ngajak gue ngomong…”

“Hiiih, nyembelin sumpah!!” ucap mba Ai yang udah kesel aja. Walah, malah bad mood dia. Mas Ega nya hanya ketawa-ketawa lalu menggunakan helm nya kembali.

“Tante nya di jagain ya Di,” ucap mas Ega samar-samar lalu menjalankan motor gede nya.

“Eh, apa lo bilang?” teriak mba Ai lagi.

“Udah mba udah, sabar…” lerai ku.

“Ga bisa dong, abisnya itu orang ngeselin mulu.”

“Sabar, ga boleh kesel sama orang, nanti cinta loh, hehehe,” canda ku.

“Amit-amit,” ucap mba Ai sambil mengetuk pahanya sendiri tiga kali. Aku hanya tersenyum saja dan menjalan kan motor ku menuju tujuan kami. Intermezo sore-sore pikir ku. Masa mudanya dulu kayanya terlalu kaku.

###

“Ini tempat jualan mesin kopi tapi udah kaya kafe sendiri ya,” ucap mba Ai saat kami sudah masuk ke dalam area toko. Toko ini memang unik sih. Selain jualan alat penyeduh kopi, tapi jualan kopi itu sendiri. Udah gitu suasananya juga nyaman banget. Mirip kafe-kafe kekinian. Kafe kekinian itu seperti apa? Ya seperti itulah. Aku juga susah jelasinnya.

“Coffee maker mba…”

“Hihihi, iya iya, kang kopi protes aja…”

“Hehehe.”

“Tapi bener kan, emang nyaman banget, kafe baru kita di design kaya gini aja…”

“Ya ga bisa lah mba…”

“Kenapa?”

“Kalau kita design kaya gini kesan pertama orang kafe kita tidak punya identitas sendiri. Bisa jadi orang yang datang ke kafe nanti udah pernah ke sini terus di pikiran dia ah ini kafe ikut-ikutan konsepnya.”

“Terus masalahnya dimana?”

“Pecinta kopi sejati biasanya punya idelaisme tinggi mba, dan idealisme ini juga mempengaruhi minat beli orang itu, bisa saja orang itu awalnya mau mampir ke kafe kita, tapi pas udah nyobain atau bahkan baru mau masuk udah ngerasa kalau kafe kita konsep nya ikut-ikutan, dari situ aja kita jadi ga punya unique identity.”

“Wiiihhh…hebat analisanya, kamu kuliah marketing aja…”

“Hahaha, kalau harus kuliah aku mau kuliah tata boga mba Ai…”

“Kenapa?”

“Kan emang udah cita-cita jadi koki, konsep awal kafe ku kan emang tempat makan, terus di recokin sama Gadis dan Rahma jadi tempat makan plus ngopi.”

“Recokin yang positive kan…”

“Hehehe, iya sih…jadi mau beli yang mana nih mba?” tanya ku pada mba Ai balik ke topik awal, beli coffee maker.

“Hmmm…aku milih baju aja bingung, apalagi milih ginian, kamu aja deh yang pilihin, budget di bawah dua juta ya, hihihi,” ucap mba Ai santai lalu berjalan ke arah barista dan terlihat akan memesan sesuatu. Dia lalu duduk di bangku yang lumayan tinggi dan menyilangkan kakinya. Aku menghela nafas sebentar lalu mengikutinya dan duduk di samping nya. Entah kenapa aku paling suka dengan posisi duduk wanita seperti itu.

“Udah dapet?” tanyanya.

“Belum…”

“Mau pesen minum juga?”

“Boleh…”

“Mau apa? Espresso?”

“Ehmm…ga ah, terlalu berat, Americano ise aja mas,” ucap ku pada mas-mas baristanya.

“Cowok itu kebanyakan kalo minum kopi pasti yang pait ya?” ucap mba Ai.

“Karena mereka sudah punya wanita yang manis yang menhiasi hidupnya, semacam penyeimbang gitu lah, hahaha,” canda ku.

“Aiiih…ya begini ngaku ga punya pacar? Boong banget…”

“Emang kapan aku pernah ngaku ga punya pacar ke mba Ai?”

“Tapi pernah ngaku ke Rere kan?”

“Loh, ngapain mba Rere cerita-cerita ke mba Ai?”

“Eh, oh iya ya ups…hihihi, ya biasalah ciwik-ciwik kan suka cerita apa aja…”

“Hmm…jadi curiga mba Rere udah cerita apa lagi soal aku…”

“Ya pokoknya semua yang udah kamu obrolin ke dia waktu kamu anterin dia pulang itu aku tau semua…”

“Waduh…”

“Hihihi…tenang aja ga usah panih gitu ah, konsumsi pribadi kok…”

“Ya tapi kan tetep aja jadi malu mba…hehehe…”

“Ngapain malu? Kalian sama-sama single kan, ya kalau mau usaha ya sah-sah aja…eh jadi gimana mesin kopi mana yang pas buat kado ke papa aku?”

“Masih nimbang-nimbang dulu sih, eh tapi emang mba Rere beneran single ya?”

“Entar kemaleman kalau kelamaan mikirnya, hmm…single ga yaah…hihihi.”

“Emang sengaja dilamain mikirnya biar lamaan dikit bareng mba Ai nya, hahaha.”

“Aiihhh…ganjennya, bilangin Rere loh…”

“Hehehe, ya bilangin aja ga apa-apa orang ga ada apa-apa juga…”

“Tapi kan kamu lagi usaha…”

“Usaha apa sih…?” jawab ku mengelak namun aku tidak bisa menutupi ketersipuan di wajah ku.

“Udah ga usah malu-malu gitu ah, nanti aku bantuin deh…”

“Bantuin apa sih mba…lagian mana pantes aku sama mba Rere?”

“Kenapa ga pantes?”

“Ya ngerasa ga pantes aja sih.”

“Tuh kamu aja ga bisa jelasin ga pantesnya di mana.”

“Ya terserah mba Ai aja deh, hahaha,” balas ku mengalah.

“Hihihi, bener ya…”

“Iya…”

Pas berakhirnya dengan perdebatan singkat tadi pesanan ku tiba. Segelas Americano Ice, bahasa indonesianya es kopi hitam. Untuk kopi hitam, atau kopi tanpa gula seperti ini aku memang lebih suka yang dingin seperti ini, tapi kadang juga suka yang panas juga. Kalau mba Ai sendiri pesan ice latte. Ya seperti kebanyakan wanita lainya, minum kopi sukanya yang manis-manis, dan ada wipe cream nya pula. Bagi ku yang seperti itu rasa kopinya tinggal sepuluh persen doang. Sisanya yang gula dan krim.

“Mba…”

“Hehem?”

“Mba Ai sama mas Ega kenapa sih?” tanya ku yang jadi teringat dengan kejadian tadi sore.

“Hahaha, penasaran ya?”

“Iya, hehehe…”

“Aku juga bingung kenapa kita berdua bisa kaya gitu, hahaha.”

“Kok gitu?”

“Ya makanya aku tadi bilang ga tau kenapa bisa begitu.”

“Tapi kan pasti ada penyebabnya.”

“Hmm…apa ya penyebabnya…bentar aku mikir dulu…”

“Udah kaya ujian aja…”

“Hehehe.”

“Kalau memang ada masalah mending di bicarain aja mba…”

“Hihihi, kok kamu jadi perhatian gitu sama kita?”

“Sebenernya lucu sih mba kalian berdua itu, kalau lagi berantem saut-sautnya kocak, tapi kan kita ga tau tingkat kesabaran seseorang, takutnya nanti ada yang beneran tersinggung dan marah beneran kan repot.”

“Iya sih…ah tapi dianya aja yang cowok ga pernah mau ngalah, ngapain aku duluan yang ngajakin damai?”

“Tapi kan mba lebih tua, eh…”

“Kok kamu tau aku lebih tua?”

“Hehehe, enghh itu…”

“Hayo siapa yang cerita?”

“Ga ada mba…cuma nyimpulin aja, kan tadi mas Ega ngeledekinnya tante jadi aku simpulin kalau sindiran itu karena mba Ai lebih tua.”

“Masuk akal sih, tapi kayanya ada yang cerita-cerita, Rere ya? Atau mba Sintya?”

“Bukan keduanya mba…suer…”

“Iya iya, lagian emang lebih tua kok, ga malu kan jalan sama mba-mba hampir kepala tiga?”

“Ya enggak lah, seneng malah jalan sama mba Ai yang cantik ini…”

“Halah gombal…jadi ya gitu deh…masalah personal ga ada kok sebenernya, cuma ya itu ga tau kenapa ada aja yang mulai perselisihan, ya kalau dianya aja jual yang gue beli dong…”

“Hahaha, udah kaya pasar aja jual beli.”

Mba Ai lalu memperhatikan HP nya. Sekarang suda hampir jam tujuh malam. Tidak terasa sudah hampir satu jam aku dan mba Ai ada di tempat ini. setelah menimbang-nimbang dengan budget yang ada aku sudah mendapatkan pilihan untuk mba Ai.

“Eh Di…”

“Ya?”

“Denger-denger mama kamu itu single parent ya?”

“Iya mba, tau dari siapa?”

“Ratna ayng cerita kapan itu…”

“Ratna?”

“Iya, kenapa?”

“Hahaha, ga apa-apa, heran aja secepat itu kah kalian para wanita bertukar cerita?”

“Hehehe, tapi ga apa-apa kan Di? Jangan marah sama Ratna loh…”

“Iya mba, tenang aja, lagi pula itu bukan cerita soal aib kan…”

“Terus, katanya kamu sekarang cowok sendiri di rumah?”

“Yup…”

“Jadi kepala keluarga dong?”

“Ga juga mba, apa-apa masih mama kok, tapi kadang untuk beberapa hal mama serahin keputusannya ke aku sih.”

“Wah hebat ya kamu…”

“Hebat apanya mba?”

“Tanggung jawab itu kan ga mudah…berarti nanti kalau kamu udah berkeluarga kamu ga akan kaget lagi…”

“Hahaha, jauh banget mikirnya.”

“Kan kalau Adi…seandainya…”

“Mba sendiri udah ada rencana menikah?”

“Hahaha, udah, tapi calonnya yang belum ada.”

“Mas Ega aja mba, kan ganteng, mapan, karirnya juga oke kayanya.”

“Iya sama si Ega aja ya, trus abis nikah kita gontok-gontokan tiap hari di rumah, hahaha.”

“Hahaha, ya siapa tau abis nikah langsung keluar romantis dan kasih sayangnya mba…”

“Ga ada yang tau sih kalau itu.”

Tepat setelah mba Ai selesai bicara giliran HP ku yang muncul notifikasi tanda ada sesuatu yang masuk. Sebuah pesan WA dari…mba Rere. Aku langsung membukanya dan, loh kok? Aku lantas menatap ke arah mba Ai namun dianya tidak sadar.

“Mba?”

“Ya?”

“Mba Rere tau kalau aku lagi sama mba?”

“Loh bukannya minggu kemarin aku minta tolongnya di depan semua ya, ya pasti tau lah…”

“Iya ya, oke pertanyaannya diganti deh, mba Rere tau kalau sekarang…aku lagi sama mba?”

“Hihihi, iya tau, barusan wa nanyain tadi kok jam pulangnya on time banget? Emang jadi nyari mesin kopi sama kamu? Aku jawab aja jadi, ni orangnya masih di samping, hehehe, kenapa? Tenang si Rere ga akan mikir aneh-aneh kok…aman…”

“Oalah, ya ga apa-apa juga sih, kaget aja, dan ini loh…” aku menunjukkan isi pesan wa dari mba Rere ke mba Ai.

“Hihihi, gercep juga dia…” ucap mba Ai sambil tersenyum. Aku sendiri hanya garuk-garuk kepala.

[Bersambung]

Daftar Part

Cerita Terpopuler