. Kesempurnaan Part 35 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 35

0
352
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 35

Kamu Cantik Malam Ini

“Kak?”

“Hmm…?”

Aku menjawab panggilan Rahma sambil tiduran di sofa dengan malasnya. Minggu pagi yang selalu menjadi waktu bermalas-malasan paling nikmat setelah semalam tutup kafe lebih malam. Aku membalas chat dari Gadis sambil senyum-senyum, mengabaikan panggilan dari adik ku sendiri.

“Kak?”

“Apaan sih?”

“Liat sini…” pintanya tapi tak kunjung aku turuti karena obrolan ku dengan Gadis melalui media sosial ini jauh lebih menarik dari sekedar melihat ke arahnya. Masih dengan senyum-senyum aku balas setiap chat dari Gadis.

“Kakak…” kali ini panggilan Rahma berubah menjadi sangat lembut, ada yang aneh, dan aku langsung melihat ke arahnya.

“Serius banget siii?” tanyanya lagi dengan manja sambil berusaha mengintip layar HP ku, tentu saja aku langsung menutupnya. Aku lalu menyentuh keningnya dengan punggung tangan ku.

“Apaan sih?” gantian dia yang bertanya begitu.

“Kamu kenapa?”

“Aku kenapa?”

“Ga pantes ngomong halus begitu, hahaha.”

“Tega banget siiih ngomong gitu…”

“Hahaha…”

“Kalau Gadis pantes ya?” tanyanya.

“Mba Gadis,” balas ku membenarkan. Bercanda sih maksudnya.

“Ogah, males, ntar aja kalau udah resmi.”

“Masih lama kalau itu mah…”

“Iya lah, dia aja sekarang baru kelas tiga, dua puluh tahun aja belum ada, belum kuliah, eh ngomong-ngomong kapan kakak mau bilang ke mama?”

“Bilang apaan?”

“Ya hubungan kalian lah, perlu aku yang cerita ke mama?”

“Jangan lah, ntar aja itu, nanti kakak pasti juga cerita…”

“Tapi kakak serius kan sama Gadis?”

“Seriuslah, mang kenapa?”

“Awas aja kalau main-main doang…”

“Enggak ade…”

“Ya makanya buruan cerita, mama sama Gadis juga deket kan, jadi aku yakin ga akan ada masalah, yang ada mama pasti akan seneng, bahagia, ga lama lagi bakalan punya mantu…”

“Tadi setuju kalau masih lama… sekarang bilang ga lama lagi…”

“Iya maksud aku paling enggak sudah ada bayangan sama siapanya…”

“Iya entar kakak ngomong, pokoknya jangan kamu yang bilang.”

“Iya…”

~*~*~*~*~*~

“Mas Adi.”

Sebuah chat masuk ke HP ku melalui media sosial. Mba Sintya? Ngapain dia malam-malam gini chat ya? Aku sedang bermalas-malasan di kamar ku. Hari ini hari senin dan kafe libur. Mulai dari beberapa waktu yang lalu aku memang membuat perarturan kalau kafe libur di hari senin. Hari di mana omset kafe paling sedikit. Hari di mana pengunjung paling sepi. Dan sekarang sudah jam sembilan lewat saat aku mendapatkan chat dari mba Sintya.

“Tumbenan manggil mas, hehehe,” balas ku sambil bertanya-tanya, tapi tetap tidak menanyakan kenapa dia chat aku malam-malam seperti ini.

“Ga apa-apa, kan kamu bos aku… eh mas…”

“Hahaha, mba Sintya suda aku anggep seperti kakak sendiri, jadi ga perlu manggil mas… hehehe, kenapa mba?”

Dia kembali memanggil ku dengan panggilan mas tapi tidak langsung mengutarakan maksudnya. Aku jadi semakin penasaran.

Mba Sintya is typing…

Tulisan itu terlihat untuk beberapa saat di layar HP ku namun tidak kunjung datang balasan dari nya. Semakin lama aku semakin penasaran. Aku sudah hampir mau menekan icon telephone sebelum sebuah balasan dari dirinya masuk.

“Anu mas… aku tadi seharian ngerjain skripsi di rumah temen, rumah temen ku di ciledug, nah tadi pas mau pulang aku udah pesen ojol berkali-kali tapi di cancel terus mas sama abang driver nya… ehmm… kalau ga ngerepotin aku boleh minta tolong ga mas… L” balas mba Sintya panjang lebar dengan di akhiri emoticon sedih. Weleh. Susah ini sih nolaknya. Tapi rumah temennya di ciledug. Rumah ku cinere. Rumah mba Sintya di pondok cabe. Sekarang sudah jam sembilan malam.

“Aku jemput ya mba, hehehe, masih kaku aja sih,” balas ku menawarkan diri. Setelah berfikir singkat dengan kecepatan cahaya aku merasa kasihan dengan mba Sintya, dan tidak mungkin aku menolah permintaan tolongnya. Bagaimanapun dulu mba Sintya juga pernah berjasa kepada ku dengan sesekali ngemong aku saat papa dan mama kerja. Jadi kalau tidak sekarang kapan lagi aku membalas jasanya.

“Hehehe, kan takut ngerepotin mas, makasih yah…” balasnya. Meskipun hanya melalu chat tapi aku yakin mba Sintya pasti merasa tidak enak.

“Santai aja mba, oh iya, kirim location yak,” balas ku. Aku lalu bersiap-siap seadanya dan pamit ke mama kalau mau keluar rumah sebentar. Pas akan berangkat aku kembali mengecek HP ku dan sudah mendapatkan balasan dari mba Sintya berupa koordinat location tempat dimana sekarang dia berada.

~*~*~*~*~*~

Ternyata rumah temennya mba Sintya itu di Ciledug ujung. Pantes dia merasa tidak enak. Dan aku butuh waktu hampir satu jam untuk bisa menemukan rumah temannya itu. sekarang sudah jam sepuluh lewat. Aku menunggu di depan rumah temannya itu saat mba Sintya berpamitan. Untung aku tadi inisiatif membawakan jaket untuk mba Sintya, dan helm juga tentunya.

“Maaf yaah, jauuh jemputnya,” ucap mba Sintya saat motor ku sudah mulai bergerak menyusuri jalanan sempit, gang perkampungan yang baru pertama kali aku lewati ini.

“Santai aja lagi mba, mba Sintya kan dulu juga pernah beberapa kali jagain aku kalau papa mama kerja, jadi kapan lagi aku bisa balas budi? Hehehe.”

“Hahaha, masih inget aja?”

“Inget lah…” motor ku sudah masuk ke jalan raya dan aku mengendarainya dengan kecepatan sedang, sehingga aku harus sedikit berteriak saat membalas ucapannya.

“Tapi waktu itu aku seneng, soalnya bisa sambil main sama kamu…” teriaknya.

“Aku juga seneng mba…” balas ku dengan berteriak juga. Motor melaju semakin. Membelah jalan raya Ciledug yang sudah mulai sepi malam hari ini. Udara malam semakin terasa. Hawa dingin menembus jaket yang aku kenakan, dan sadar tidak sadar aku merasakan sepasang tangan berpegangan pada pinggang ku.

~*~*~*~*~*~

“Mampir dulu yah, aku buatin kopi, biar ga ngantuk bawa motornya,” ucap mba Sintya sambil menahan pintu gerbang rumahnya tetap terbuka mengharapkan aku memasukkan motor ku ke pekarangan rumahnya. Rumah mba Sintya berada di daerah pondok cabe. Agak sedikit masuk ke dalam dari jalan raya pondok cabe. Rumah sangat sederhana. Menempel pada jalan, hanya ada ruang sempit di depan rumahnya untuk menaruh motor, dan sebagian lagi sudah menjadi teras. Tidak ada carport ataupun pekarangan.

“Udah malem mba, apa ga apa-apa?” tanya ku balik. Sekarang sudah jam setengah sebelas lewat. Karena jalanan sudah sepi dan sudah tau arah, tadi aku hanya butuh waktu setengah jam dari ciledug ke pondok cabe.

“Jadi ada apa-apa kalau kamu kenapa-napa di jalan gara-gara ngantuk.”

“Aduh amit-amit…”

“Makanya… udah masukin aja motornya, ga apa-apa,” ucapnya lagi meyakinkan ku. Dan entah kenapa aku jadi seperti seekor kerbau yang di cocok hidungnya, nurut gitu aja saat diperintah mba Sintya untuk memasukkan motor ku.

“Nanti kalau di tanya papa bilang aja abis jemput dari ngerjain skripsi gitu yah,” ucap mba Sintya sambil berbisik. Aku agak kaget sebenernya ketika di minta seperti itu karena kesannya aku seperti mengajak main orang hingga larut malam seperti ini.

Mba Sintya pun masuk dan meminta ku untuk duduk di teras depan saja. Aku menurut. Aku duduk. Dan melihat-lihat ke sekitar. Depan belakang, kiri kanan semuanya sudah penuh dengan rumah. Pagar rumah mba Sintya ini bawahnya tembok sedangkan atasnya tiang besi yang di pasangi plastik mika berwarna gelap. Sedangkan pada bagian pintu pagar yang terbuat dari besi tertutup plastik mika full besi dari atas hingga bawah. Dari posisi duduk ku ini yang terlihat hanya genteng dari rumah-rumah tetangga.

“Papa masih inget sama tante Fatma ga?” terdengar suara mba Sintya dari dalam rumah yang terdengar semakin mendekat. Tidak lama kemudian dari balik pintu muncul dua orang yang salah satunya adalah mba Sintya sendiri dan seorang pria tua yang aku yakin ini adalah papa nya. Aduh, aku lupa lagi siapa namanya. Kan malu kalau lupa sama nama tetangga lama.

“Tebak ini siapanya?” tanya mba Sintya lagi.

“Anaknya ya?” tanya balik bapak tua itu, dan aku masih belum ingat siapa nama bapak itu.

“Hehehe, betul, tadi aku abis ngerjain skripsi pah, order ojol di cancel terus, untung ada Adi, aman deh Tya ampe rumah, hihihi, dan Adi ini yang punya kafe tempat kerja Tya yang sekarang pah…”

“Walaah sudah besar ya kamu sekarang? Udah punya bisnis lagi, Om ingetnya dulu itu kamu masih suka di gendong-gendong sama Tya, hahaha,” ucap bapak itu. Dan aku baru tahu kalau panggilan mba Sintya di rumah adalah Tya.

“Hehehe, iya om, udah lama banget ya…”

“Makasih ya sudah jemput Tya, tadi om belum pulang kerja, om ga punya anak cowok jadi ga ada yang bisa di andelin, jadi ya gini deh ngerepotin orang lain…”

“Ah ga ngerepotin om, biasa aja…”

“Hehehe, oh iya, om bela sungkawa ya buat almarhum papa kamu, waktu itu om sekeluarga ga ada di jakarta jadi ga bisa ngelayat…”

“Iya om makasih, ga apa-apa, doanya saja dan sekalian mohon maaf kalau papa dulu masih ada salah-salah sama om sekeluarga,” ucap ku panjang lebar ke si om yang aku masih belum ingat namanya.

“Iya, pasti lah, ngomong-ngomong si Adi nya di buatin minum dulu dong Ty…”

“Iya ini juga mau di buatin minum pah…” balas mba Sintya.

“Hehehe, ya udah kamu kalau mau duduk-duduk dulu ga apa-apa, anggep rumah sendiri ya, keluarga om sama keluarga kamu dulu itu udah kaya keluarga sendiri, jadi jangan sungkan ya, om tinggal masuk dulu,” ucap papanya mba Sintya pada ku. Aku mengiyakan dan mengangguk sambil tersenyum. Mba Sintya juga tersenyum dan meminta ku untuk menunggu sebentar.

~*~*~*~*~*~

Aku harus menunggu selama lima belas menit hingga mba Sintya balik lagi dari dalam rumahnya. Sebenarnya dia tadi sudah keluar dengan secangkir kopi tapi kemudian masuk lagi ke dalam ruma, mau bersih-bersih dulu katanya. Entah mandi atau tidak. Tapi saat saat dia balik sekarang ini wajahnya nampak lebih segar dan aroma tubuhnya lebih wangi.

“Mandi?” tanya ku.

“Hehehe, iya, gerah soalnya,” balasnya sambil tersenyum. Malam sudah semakin larut, tapi dia sepertinya tidak risih sama sekali dengan keberadaan ku di rumahnya. Mba Sintya lalu duduk di samping kiri ku, dekat dengan tembok samping rumahnya, sedangkan aku di sisi yang dekat dengan pintu rumah. Tempat duduk yang kami duduki semacam kursi sofa panjang namun pinggirannya kayu, sehingga tidak ada pembatas sama sekali di antara kami berdua.

Aroma wangi tubuh mba Sintya tercium jelas oleh hidung. Mba Sintya mengenakan baju tidur berupa celana panjang dan kemeja putih bermotif bunga warna warna merah muda. Rambutnya diikat ke atas menampakkan lehernya yang putih. Baju tidurnya agak sedikit kebesaran sehingga membuat kerahnya terkesan terlalu rendah, begitu juga kacing bajunya yang sedikit renggang membuat sesekali aku bisa mengintip putihnya kulit daging kenyal yang ada di dadanya.

“Papanya sudah tidur?” tanya ku dengan tololnya. Pertanyaan yang terkesan seperti memastikan apakah suasana aman atau tidak.

“Belum kayaknya, tapi udah masuk kamar sih? Kenapa? Mau ngobrol?”

“Ah enggak, hehehe, cuma nanya aja sih, sebenernya agak ga enak juga namu tapi kemaleman seperti ini.”

“Kamu itu judulnya bukan namu, tapi nolongin aku, justru aku sama papa yang ga enak udah ngerepotin kamu…”

“Dibahas lagi…”

“Lagian kamunya juga ga enakan sih mas…”

“Jadi keterusan manggil mas tuh, panggil nama aja kali, aku kan lebih mudah dari mba Tya…”

“Tapi kamu cowok kan?”

“Hahaha, iya lah, masa nanya gitu?” balas ku sambil tertawa.

“Ya makanya, berarti ga ada salahnya dong manggil kamu mas?

“Salah sih enggak, tapi malah jadi gimana gitu kesannya.”

“Gimana gitu gimana? Justru aku seneng ada yang bisa aku panggil mas.”

“Kenapa?”

“Kenapa ya? Susah sih dijelasinnya, kaya semacam ada yang bisa aku andelin buat ngapa-ngapain gitu… terus jadi kaya ada yang bisa ngejagain juga…” balas mba Sintya sambil menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya. Celana tidur yang dikenakan itu otomatis ngepres pada paha dan pinggulnya yang berukuran extra-large itu, demikian juga garis celana dalamnya yang tercetak dengan jelas.

“Makanya…”

“Apah?”

“Punya pacar…”

“Hahaha, cariin…”

“Maunya yang seperti apa?”

“Kamu… hihihi…”

“Aku? Aku kan sudah punya Gadis…”

“Hahaha, kan aku bilangnya seperti kamu, bukan kamunya…”

“Oh iya ya, jadi malu…”

“Ty…” tiba-tiba terdengar suara dari dalam saat aku dan mba Sintya sedang asik ngobrol. Roman-romannya udah disuruh pulang nih pikir ku. mba Sintya langsung beranjak masuk ke dalam rumah. Tapi tidak sampai satu menit sudah balik lagi.

“Udah di suruh pulang ya?” tanya ku sambil menyeruput dalam-dalam kopi yang tadi dihidangkan agar segerap habis.

“Hihihi, enggak kali, papa cuma bilang udah mau tidur, kalau masih mau ngobrol ya ngobrol aja, kalau mau pulang nanti ga usah bangunin papa, gitu katanya…”

“Oh, kirain, hehehe,” dan aku langsung duduk kembali ke sofa panjang itu setelah sebelumnya sudah sempat bangun.

Aku duduk, mba Sintya juga duduk. Tapi posisi duduk kami sekarang semakin mendekat, meskipun tidak saling menempel, tapi lebih dekat dari pada yang sebelumnya. Aku duduk lurus ke depan dengan kedua paha yang terbuka, khas laki-laki, sedngkan mba Sintya sedikit miring ke arah ku dengan bahu kanan yang bertumpu pada sandaran sofa, kedua kakinya mengatup rapat dengan manisnya.

“Jadi si om udah percaya nih?” tanya ku iseng.

“Hah? Percaya kenapa deh?”

“Iya, si om kayanya udah ga khawatir anak ceweknya diajakin ngobrol berduaan, malam-malam seperti ini lagi.”

“Hihihi, kamu nya ngelindungin sih mas, jadi papa percaya.”

“Padahal baru ngejemput sekali doang tapi udah dipuji terus-terusan, kalau anter jemput tiap hari disuruh nginep kali ya aku?”

“Itu mah mau kamu mas…”

“Siapa tahu rejeki, hahaha.”

“Rejeki-rejeki… inget Gadis…” balas mba Sintya sambil mencubit pelan lengan ku.

“Kan nginep doang…”

“Hihihi, iya-iya, tapi beneran makasih loh mas udah dijemput, kalau ga kan mau ga mau aku harus nginep di tempat temene ku, males banget besok baliknya,” ucap mba Sintya dengan manjanya lalu tiba-tiba memeluk lengan ku. Waduh, ini mba Sintya sepertinya terbawa suasana pakai meluk segala, tapi aku tidak enak juga kalau harus menarik tangan ku. Tidak enak apa takut kehilangan yang enak-enak?

“Eh, berarti kalau aku meluk mba Sintya, itu termasuk bagian dari melindungi dong ya?” tanya ku lagi dengan iseng. Siapa tahu rejeki beneran pikir ku. Hahaha. Namanya pria, secinta mati apapun sama satu wanita, nalurinya tidak akan melepaskan peluang terhadap wanita lain yang ada di depan mata.

“Nakal ih! Bilangin Gadis loh,” jawab mba Sintya dengan jutek namun tidak merubah posisinya sama sekali, ke dua tangannya masih setengah memeluk lengan kiri ku.

“Gadis kayanya bakalan seneng-seneng aja tuh aku berbuat baik sama orang lain.”

“Bisa aja ngelesnya, pokoknya ga boleh nakal,” balasnya melarang ku tapi dia sendiri justru menyandarkan kepalanya pada bahu kiri ku. Dan sekarang aku bisa sedikit merasakan kenyalnya gundukan daging yang ada di dadanya itu karena sesekali benda yang membulat itu menekan pada lengan ku.

“Besok aku mau ijin sama om… siapa namanya aku lupa?” tanya ku dengan garingnya.

“Benny…”

“Iya om Benny…”

“Ijin apah?”

“Ijin ngelindungin anak ceweknya tiap hari, tiap saat.”

“Ngelindunginnya seperti apa?” tanyanya dengan ekspresi bertanya-tanya sambil mendongakkan kepalanya ke arah ku. Matanya terlihat sayu.

“Seperti ini…” ucap ku sambil melepaskan gelendotan manjanya di lengan ku lalu merangkulnya dari samping.

“Iihhh… dibilang ga boleh nakal…” protesnya manja tapi tidak ada perlawanan sedikit pun, hanya cubitan lemah yang mendarat di perut ku.

“Om Benny pasti ngijinin kok kalau aku ngelindungin kamu seperti ini…” ucap ku lagi sambil semakin mengeratkan pelukan ku padanya. Mba Sintya tertunduk, entah karena malu atau karena apa.

“Naluri papa untuk anak gadisnya memang tidak pernah salah sih, kalau papa ngijinin berarti papa percaya,” ucapnya.

“Kamu cantik malam ini,” bisik ku mesra ke telingannya, naluri kelelakian ku mengatakan aku harus membisikan kalimat itu.

“Nakal…” protesnya lagi dengan suara yang teramat sangat pelan.

“Kamu percaya kan?”

“Percaya apa?” tanyanya balik.

“Percaya kalau om Benny udah mempercayakan anaknya ini ke aku?”

“Ehm… iya mas aku percaya…” balasnya lemah, dan pasrah.

Aku lalu menarik mba Sintya agar bangkit dan berpindah tempat, pindah duduk di depan ku. Kursi sofa ini cukup lebar ke depan jadi memungkinkan untuk dua orang duduk depan depan belakang seperti aku dan mba Sintya sekarang ini. Hanya saja aku harus duduk lebih tegak. Mba Sintya duduk di antara dua paha ku. Aku menggenggam ke dua pergelangan tangannya lalu mendarat pada perut ratanya.

“Termasuk juga kalau aku meluk kamu seperti ini om Benny pasti tidak masalah karena karena beliau sudah percaya,” ucap ku lembut tepat di belakang daun telingannya. Aku yakin hembusan angin karena ucapan ku akan terasa pada bulu romanya. Mba Sintya sedikit menggeliat dan mendongakkan kepala tapi sekali lagi tidak ada tanda-tanda penolakan dari tubuhnya.

“I-iya mas, papa pasti ga masalah, karen mas kan niatnya mau ngejagain aku…” ucap mba Sintya manja sambil menyandarkan tubuh mungil namun berpinggul aduhay itu pada dada ku.

“Kalau aku buka baju kamu seperti ini, om Benny ngijinin ga ya?” tanya ku memancing psikologinya sambil melepas satu kancing paling atas dari baju tidurnya.

“Mas nakal banget sih…”

“Di ijinin ga?”

“Kayanya di ijinin mas, karena papa udah percaya sama mas…”

“Kalau di ijinin artinya?” pancing ku lagi.

“Mas boleh ngelakuinnya…” ucapnya pasrah. Aku sebenarnya bingung kenapa dia menjawab seperti itu. apakah dia menikmati role play ini? Atau dia benar-benar terbawa suasana? Bodo amad.

Aku lalu membuka lagi satu persatu kancing bajunya hingga terlepas semua. Untungnya plastik mika yang menempel pada pagar rumahnya berbahan gelap dan tinggi, sehingga kalau dari luar tidak akan bisa melihat aktifitas apa yang sedang terjadi di dalam. Baju tidur itu sudah terbuba bagian depannya. Tubuh atas bagiang depan dari mba Sintya kini hanya terlindungi oleh dua mangkuk bh yang mungkin hanya menutupi sebagian dari bukit kembar dari pemiliknya.

“Berarti sekarang bukan aku yang nakal, tapi om Benny…” ucap ku.

“Kenapa?”

“Karena om Benny udah kasih ijin buat anak ceweknya di nakalin sama orang…”

“Ahhh… papa itu ga nakal mas, tapi papa itu percaya sama mas…”

“Kalau om Benny udah percaya, berarti kamu sekarang ada di bawah wewenang ku ya.”

“Iya mas, aku nurut semua kata mas…”

Aku tersenyum tapi juga semakin bingung, apakah yang diucapkan oleh mba Sintya barusan itu adalah sejujurnya atau hanya untuk permainan kali ini saja. Tapi aku tidak mau banyak ambil pusing. Nikmatin saja.

“Aku mau liat tubuh indah mu, tanpa sehelai benang pun,” bisik ku mesra di telinganya.

“Ahh… tapi kan ini tempat terbuka mas…”

“Terus? Kan papa udah percaya…”

“Iya papa udah percaya, selama ada mas aku pasti aman,” balas mba Sintya lalu bangkit dan berdiri di hadapan ku. Dia lalu membuka bajunya dengan gerakan lambat dan sensual. Kali ini hanya bh saja yang melindungi tubuh atasnya. Jujur jantung ku saat ini sangat berdebar. Meskipun jika duduk mba Sintya tidak terlihat dari luar, namun jika dia berdiri seperti sekarang ini dan ada orang yang lewat maka bagian atas tubuh atas nya akan terlihat. Untungnya malam sudah semakin larut dan tidak ada orang yang lewat. Rumah depan pun tidak ada yang tingkat, jadi sejauh ini aman, meskipun adrenalin ku terpacu dengan sangat cepat.

Mba Sintya lalu memegangi pinggiran celana berbahan kolor itu dan menariknya ke bawah. Sama seperti saat membuka baju tadi, gerakannya pelan dan erotis. Matanya sayu dan pasrah menatap ku. Mba Sintya lalu membuang celana itu ke lantai begitu saja. Lekukan tubuhnya sangat sempurna. Ukuran payudara mba Sintya sebenarnya standard-standard saja, tapi yang selama ini membuat ku kagum adalah justru dari pinggang, lalu pinggul, hingga pahanya yang padat dan berisi hingga membuat pantatnya membulat dengan indahnya.

Aku tersenyum sambil menepuk paha kiri ku. Mba Sintya paham. Dia lalu duduk di paha kiri ku, aku sekarang memangkunya. Aku lalu melumat bibir sensualnya. Mba Sintya membalasnya. Kami saling melumat. Tangan ku tidak tinggal diam. Jari jemari ku dengan lincah membelai setiap inchi permukaan tubuhnya. Jantung ku semakin berdebar. Aku bermesraan dengan seorang wanita setengah telanjang malam-malam di teras rumah dengan posisi pintu masih terbuka yang sewaktu-waktu orang dari dalam bisa saja keluar. Tapi justru di situ sensasinya. Aku menikmatinya.

Aku terus merabai setiap jengkal tubuh mulus mba Sintya. Begitupun juga mba Sintya yang sesekali membalas perlakuan ku dengan balik meraba tubuh ku meski masih dari luar baju yang ku kanakan. Termasuk tangannya yang beberapa kali seolah tanpa sengaja menyentuh kemaluan ku, lalu melepaskannya. Aku tersenyum.

“Pegang aja, papa ga akan marah kok…” pancing ku lagi seolah ingin membuatnya semakin nakal dan berani. Dan benar saja mba Sintya langsung meresponnya dengan meremas pelan kemaluan ku yang sudah mengeras itu dari luar celana.

“Kamu mau megang langsung?” goda ku. Mba Sintya tidak langsung menjawab. Wajahnya nampak bingung. Entah bemar-benar bingung atau bingung yang di buat-buat.

“Atau mau lihat langsung juga?” goda ku lagi. “Buka aja,” perintah ku.

Dan dengan gerakan perlahan dan seperti terpaksa mba Sintya lalu turun dari pangkuan ku. Dia lalu duduk bersimpuh tepat di depan ku. Dengan cekatan mba Sintya langsung melucuti celana ku hingga pergelangan kaki.

“Ehmm… punya mas gagah banget,” ucapnya malu-malu sambil ragu-ragu menggenggam batang kebanggan ku itu.

“Aku boleh kan mas megangnya?” tanya nya ragu-ragu.

“Megang apa?”

“Megang ini, senjatanya mas…” balasnya manja.

“Kalau udah pegang, mau ngapain?”

“Karena mas udah ngelindungin aku, gantinya aku pengen kasih mas yang enak-enak,” ucapnya sambil mengurut pelan penis ku.

“Caranya?”

“Kalau di giniin, enak ga?”

Juuhh!!

Mba Sintya bertanya sambil meludahi ujung kemaluan ku dan langsung meratakannya dengan jari lentiknya. Tidak sampai disitu, jemari lentik itu langsung mengurut-urut daging berurat yang yang berdiri tegak tapat di depan wajahnya itu dengan lembut.

“Uuhh… enak mba…”

“Mas suka?” tanya nya dan aku mengangguk.

“Hisap mba…” pinta ku.

“Hisap?”

“Iya…” balas ku meyakinkan.

Mba Sintya lalu melihat ke sekeliling. Mungkin memastikan semuanya aman, padahal dirinya sendiri sudah setengah telanjang. Posisinya masih duduk bersimppuh di depan ku dengan posisi badan sedikit condong ke depan. Posisinya ini membuat ku bisa melihat lekukan pinggulnya yang iindah itu dari atas. Belahan dadanya yang terbuka itu juga juga terlihat dengan jelas oleh ku.

Mba Sintya lalu memajukan kepalanya. Lidahnya menjulur dan memutar-mutar tepat di ujung lubang kencing ku. dicucupnya pelan saluran kecing itu tanpa rasa jijik. Badannya semakin membungkuk sehingga posisi tubuhnya setengah merangkak. Lidah lembut itu terus bermain di ujung kemaluan ku. mulutnya lalu semakin membuka lebar dan kemudian melahap batang keras itu ke dalam mulutnya.

Lidah itu menyusuri setiap permukaan kemaluan ku. bibir dan lidahnya saling memberikan kombinasi untuk memberikan kenikmatan pada ku. bibirnya terus bergerak turun hingga mendarat pada kantung zakar ku. dihisapnya kuat-kuat dua kelereng yang ada di dalamnya. Aku meringis tertahan. Mba Sintya tersenyum bangga bisa membuat ku meringis keenakan. Kepalanya lalu bergerak naik lagi dan kembali melahap batang kejantanan ku. kepalanya lalu bergerak naik turun, menghisap, menjepit, dan menggesek permukaan kemaluan ku seolah mulutnya itu adalah liang senggamanya. Aku sedang menyenggamai mulut mba Sintya.

“Mas berhak mendapatkan lebih dari ini…” ucapnya setelah menghentikan sepongannya pada kemaluan ku. Mba Sintya lalu bangun dan berdiri di samping kanan ku, di antara sofa dan pintu rumahnya. Mba Sintya mengintip ke dalam. Hanya bagian kepalanya saja yang melongok. Masih dengan posisi setengah miring dengan wajah menghadap ke dalam, dia lalu menurunkan celana dalamnya. Setelah celana dalamnya terlepas mba Sintya menoleh kebelakang atau ke arah ku. Badannya agak di condongkan lagi sehingga pantatnya yang bulat berisi itu menungging menantang ke arah ku.

“Ayo mas masukin… ahh…” pintanya manja dengan sedikit mendesah sambil menggigit kecil bibir bawahnya.

Tentu saja aku tidak menunggu lama lagi. Aku langsung bangun dan mengarahkan ujung kemaluan ku ke lubang bibir kemaluannya. Kemaluan ku masih basah oleh air liurnya tadi. Aku gesek-gesek terlebih dahulu kepala penis ku ke belahan bibir berwarna merah itu. mba Sintya mendesah pelan namun segera menutup mulutnya dnegan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk peganngan dan tumpuan pada kusen pintu rumahnya. Aku lalu mendorong pinggul ku ke depan. Lubang kenikmatan itu ternyata sudah basah dan lembab. Agak sempit tapi tidak ada halangan berarti bagi ku untuk mendobrak pertahanan kehormatannya itu.

Mba Sintya semakin menutup erat mulutnya sendiri. Wajahnya semakin menahan birahi. Matanya semakin sayu. Kepalanya sesekali melongok kembali ke dalam rumah untuk memastikan semuanya aman. Sedangkan aku beberapa kali juga melihat kebelakang takut kalau ada orang lewat yang mungkin akan melihat perbuatan mesum kami ini.

Ku cengkram pinggang mba Sintya yang ramping. Ku gunakan pinggang ramping itu sebagai pegangan guna memaju mundurkan pinggul ku. aku mulai menggenjot selangkagan mba Sintya dari belakang. Wanita yang dulu sering menjaga dan mengajak ku bermain itu kini tubuhnya aku nikmati. Wanita yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri itu kini memberikan bagian tubuhnya yang paling berharga itu untuk aku tusuk dan sodok-sodok.

“Ty…” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari dalam. Karena kaget aku hampir menarik tubuh ku dari dalam tubuh mba Sintya namun mba Sintya malah menahan tangan ku. meskipun aku tidak menggoyangkan kemaluan ku lagi namun kemaluan ku itu masih tertanam di dalam liang senggamanya.

“I-iya ma…” jawab mba Sintya dengan suara serak dan tertahan.

“Si Adi masih ada?”

“Ma-masih maa-aahh… ta-tapi bentar ahh lagiih pulang kook… ke-kenapa maaahh?” balas mba Sintya bercampur desahan. Aku sudah pasrah saja jika mamanya mba Sintya curiga dengan suara anak ceweknya dan memergoki kegiatan mesum kami.

“Enggak, kalau masih mau ngobrol itu di dapur masih ada makanan, suruh makan aja kalau mau…” balas dari dalam. Lalu hening. Mba Sintya dengan jahil malah menoleh kebelakang dan tersenyum dengan nakalnya. Matanya mengerling manja dan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.

“Buruan mas selesain aahh… di suruh mama ambilin makanan tuh, aahh…”

Aku tersenyum menanggapi godaannya. Baiklah kalau begitu. Aku langsung menggenjot memek mba Sintya dengan kuat. Ku cengkram lebih erat lagi pinggang ramping itu. sodokan ku semakin lama semakin keras, dan semakin brutal. Tubuh mba Sintya menggelepar. Badannya terhuyung maju dan mundur seirama dengan sodokan ku. kepalanya kadang mendongak, kadang menggeleng, dan satu tangannya masih menutup erat mulutnya. Membayangkan mba Sintya yang tidak bisa mendesah dengan bebas justru membuat ku semakin bernafsu.

Aku lalu menggeser tubuh ku dan mba Sintya lebih ke kiri. Dengan posisi yang sekarang ini tubuh ku dan tubuh mba Sintya sama-sama di muka pintu rumah. Posisi kamar orang tua mba Sintya sepertinya di samping ruang tamu, dengan begitu jika ada yang keluar dari kamar itu, pasti akan melihat posisi tubuh kami yang sekarang menyatu. Mba Sintya kaget dengan perlakuan ku namun kemudian bisa mengendalikan dirinya. Dia kembali menoleh dan bukannya berontak malah justru tersenyum manja.

Di dalam sana atau tepatnya di belakang ruang tamu sepertinya adalah ruang keluarga, yang kebetulan lurusan dari pintu ini terdapat sebuah cermin besar. Dari cermin itu aku bisa melihat samar-samar bagaimana tubuh sintal mba Sintya aku sodok-sodok dari belakang. Aku bisa melihat bagaimana aku menggagahi tubuh seksi miliknya itu. semakin lama aku semakin bernafsu untuk segera mendapatkan kenikmatan ini.

“Mba lihat itu?” tanya ku berbisik ke telinga mba Sintya sambil menunjuk ke arah cermin.

“Aahh… nakal banget sih kamu mas… kamu…”

“Apa?”

“Kamu aahh… nakal bangeeet senggaaahhmain… aku di depaaann pinttuuuhh kayaaahhh giniiihhh…”

Dan aku semakin mempercepat sodokan ku, sebentar lagi aku akan mencapai klimaksnya. Tubuh mba Sintya pun aku rasakan juga agak menegang. Diambilnya bajunya sendiri yang tadi tergeletak di sofa lalu digulung. Gulungan itu lalu dia masukan ke dalam mulutnya dan dia gigit kuat-kuat. Sekarang desahannya tertahan oleh baju yang menyumpal mulutnya sehingga kedua tangannya kini berpegangan erat pada kusen pintu. Tapi mba Sintya ternyata memang sudah mendapatkan orgasmenya. Meski sudah berpegangan dengan ke dua tangannya tubuhnya yang sintal itu ambruk juga ke depan karena aku yang juga hampir klimaks langsung mencabut kemaluan ku. aku lalu menarik tubuh mba Sintya yang ambruk. Ku pegang kepalanya dengan satu tangan kiri ku, sedangkan tangan kanan ku mengocok kemaluan ku sendiri tepat di depan wajahnya yang sayu itu. mba Sintya yang lemas karena orgasemenya pasrah saja dengan perlakuan ku.

Tidak lama kemudian semburan cairan putih kental meluncur deras ke arah wajahnya. Satu dua tiga semburan pertama membasahi wajahnya. Semburan selanjutnya mengarah ke dalam mulut mba Sintya karean mba Sintya berinisiatif membuka mulutnya sendiri tanpa aku suruh. Empat lima enam tujuh delapan entah berapa kali kemaluan ku menyemburkan sperma ke dalam mulutnya. Hingga saat semburan terakhir mulut mba Sintya sudah penuh dengan sperma ku. benar-benar penuh. Bahkan gigi putihnya sampai tidak terlihat. Mba Sintya memainkan cairan kental yang keluar dari lubang kencing ku itu dengan nakalnya. Beberapa saat kemudian mba Sintya menelan semua cairan itu dengan lahap. Lalu tersenyum manja dan mengerlingkan matanya. Aku membalas senyumannya dengan masih memegang belakang kepalanya dengan kedua tangan ku. aku tarik kepala itu dan ku arahkan lagi ke kemaluan ku untuk membersihkan penis ku yang sudah mulai mengecil.

[Bersambung]

Daftar Part

Cerita Terpopuler