. Kesempurnaan Part 34 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 34

0
304
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 34

Sidak

Satu bulan sudah berlalu semenjak mba Sintya bekerja di kafe ku. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan Gadis dan Rahma yang sudah naik ke kelas tiga dengan nilai rapor yang sangat bagus. Aku sangat bangga dengan mereka berdua yang bisa berprestasi di sekolah masing-masing. Ujian sudah, rapor sudah dan sekarang mereka sedang menikmati liburan kenaikan kelas. Tapi anehnya bukan meminta liburan atau apa tapi mereka justru memaksa agar bisa kembali beraktifitas di kafe seperti dulu lagi. Aku sih seneng-seneng saja.

Pagi menjelang siang ini aku dan mba Sintya sudah siap dengan semuanya. Meja kursi sudah rapi, bartender untuk kopi juga sudah standby, begitu juga dengan wilayah ku di area belakang yang sudah siap siaga menerima pesanan. Ngomong-ngomong soal mba Sintya, pekerjaannya bagus, rapi, teliti, dan yang paling aku suka adalah adaptasinya yang cukup cepat. Tidak sampai sebulan dia sudah bisa menguasai urusan perminuman karena untuk makanan memang sepenuhnya menjadi tanggung jawab ku.

Sebuah mobil mewah tiba-tiba terparkir tepat di depan kafe ku. Kalau aku lihat sekilas dari nomor polisinya ini sepertinya mobil dari Gadis. Tapi tumben-tumbenan bawa mobil? Tidak lama berselang tiga pintu terbuka secara bersamaan. Dua di depan dan satu di belakang. Ada Gadis, Rahma, dan haaah? Pak Wira? Sejak kapan beliau di Indonesia? Dan ngapain juga ini ada acara dadakan sidak ke sini? Mampus gue. Ini pertama kali nya aku bertemu dengan beliau semenjak aku dan mba Gadis resmi memiliki hubungan khusus.

“Pagiii…” sapa Gadis dengan riangnya yang langsung dibalas oleh mba Sintya dengan ramah. Mba Sintya sudah tahu semua, baik hubungan ku dengan Gadis, maupun juga perihal bisnis patungan ku ini dengan Gadis. Jadi secara tidak langsung dia juga menganggap Gadis adalah bos nya juga. Aku yang sedari tadi masih di belakang langsung bergegas ke depan untuk menyambut mereka. Ada camer bo. Camer gundul mu.

“Boleh juga nih tempat ya…” ucap pak Wira sambil melihat sekeliling dengan matanya yang menyusur setiap sudut ruangan kafe.

“Iya dong pah, siapa dulu dong yang mendisainnya?”

“Emang siapa?”

“Aku lah,” jawab Gadis.

“Masa?”

“Bohong deng om…” saut Rahma.

“Hahaha, om memang ga percaya kok.”

“Ih papa mah gitu…”

“Jadi siapa?”

“Kita bertiga,” jawab ku yang merasa di kacang in sama mereka bertiga, entah mereka sengaja atau tidak.

“Eh ada kakak toh,” balas Raha dengan sok kaget. Badan segede ini masa tidak kelihatan sih batin ku.

“Mereka berdua yang punya ide ngerjain kamu barusan, aku ga ikutan,” ucap pak Wira sambil mengulurkan tangannya yang langsung aku sambut jabatan tangannya yang erat.

“Hehehe, sudah biasa pak, apa kabar? Kapan tiba di Indonesia?” tanya ku dengan sopan.

“Baik, baru kemarin.”

“Kok kamu ga bilang?” tanya ku ke Gadis.

“Aku juga ga tahu ada rencana mau pulang, tiba-tiba nongol aja.”

“Hahaha, iya emang sengaja kasih kejutan buat Gadis. Oh iya kamu apa kabar?”

“Saya baik, oh iya silahkan duduk pak, mau kopi? Udah ngopi belom? Hahaha,” canda ku sambil mengajak pak Wira, Gadis, dan Rahma di salah satu meja.

“Boleh, katanya kopi di sini enak?”

“Betul sekali pak, apalagi racikannya Gadis, ga ada lawannya.”

“Masa sih? Jadi penasaran.”

“Si papa mah suka begitu sama anak sendiri.”

“Hahaha, ya udah sana buatin jadi biar papa ga underestimate terus…”

“Iye, bawel…”

Gadis pun beranjak ke meja bartender dan bersiap menyuguhkan kopi untuk papa tercintanya ini.

“Mama ga ikut de?” tanya ku pada Rahma.

“Tadi nya mau ikut, tapi mendadak sakit perut katanya, tamu bulanan kali,” balas Rahma dengan cuek. Aku langsung melirik ke Pak Wira dan melihat beliau mengangkat alis tanda kalau sakit perut mama hanyalah sandiwara. Alasan utamanya sudah pasti adalah karena adanya Pak Wira. Rahma memang tidak tahu seputar masa lalu mereka berdua, dan sebaiknya tidak tahu karena bisa jadi akan merusak persahabatannya dengan Gadis, dan kalau itu terjadi bisa jadi juga akan berpengaruh pada hubungan ku dengan Gadis.

“Sudah berapa lama kafe ini buka?”

“Ada kali empat atau lima bulan pak, kenapa?”

“Wah, udah lumayan lama juga ya, gimana omset nya?”

“Ya alhamdulillah ada ja rejekinya, cukup lah, yang penting kan cukup.”

“Bagus lah, denger-denger ini usaha kalian bertiga?”

“Hehehe, kurang lebih begitu, saya bagian operational, Gadis bagian permodalan, dan Rahma kasih sumbang ide-ide dan konsep awal, jadi lah seperti ini.”

“Tapi lumayan lah, bagus banget ini untuk ukuran pendatang baru, poles dikit lagi pasti jadi oke punya.”

“Udah pah ngasih pujiannya, nanti dia GR,” potong Gadis yang sudah kembali dengan secangkir kopi di atas nampan yang dibawa.

“Papa ga cuma muji Adi, tapi kalian bertiga.”

“Hehehe, Gadis keren ya pah? Sering bikin ulah tapi sekalinya bikin usaha, bisa bikin papa bangga,” balas Gadis lagi dengan sombongnya. Aku hanya tersenyum saja mendengar ocehannya.

“Iya ya, papa bangga banget. Ngomong-ngomong di sini ada smoking area nya ga nih?”

“Pasti mau ngerokok,” timpal Gadis.

“Udah ada kopi mantul, ga lengkap kalau ga sambil ngerokok.”

“Papa itu udah tua, harusnya lebih jaga kesehatan…” omel Gadis.

“Papa rajin olah raga, aman, justru kamu itu yang ga pernah olah raga yang bahaya.”

“Bisa aja kalau nyari alasan!”

“Hahaha, yok,” ajak pak Wira sambil memberikan isyarat kepada ku. Tentu saja aku kaget. Pasti dia mengajak ku berbicara empat mata. Aku berdiri dengan kakunya. Gadis yang sebelumnya sewot mendadak berubah raut mukanya jadi senyum-senyum. Mateng Gue!

###

Aku dan pak Wira berpindah tempat duduk ke teras samping kafe yang memang diperuntukkan untuk smoking area. Begitu duduk beliau langsung mengeluarkan sebuah kotak yang juga langsung dibukanya. Wuih, rokok mahal batin ku, tapi karena yang mengeluarkan itu adalah bapaknya Gadis sebisa mungkin aku menjaga image ku. hahaha.

“Cobain nih, pasti belum pernah kan?”

“Hehehe, tau aja pak, tapi pasti berat ini ya?”

“Enteng kok, coba aja.”

Aku lalu mengambil sebatang tapi tidak langsung menyulutnya melainkan mengendusnya terlebih dahulu. Mencoba meresapi wangi dari sebatang rokok mahal ini. Setelah beberapa saat baru aku menyulutnya dan ya walaupun pak Wira bilang tidak berat tetap saja masih lebih berat dari rokok yang biasa aku hisap.

“Aku sudah tahu semuanya?” ucapnya tiba-tiba.

“Eh? Maksudnya?”

“Pristy sudah kasih tahu semuanya kepada ku.”

Bu Pristy? Waduh? Jangan-jangan bu Pristy udah cerita kalau aku dan dia sering melakukan itu, dan tujuan pak Wira ke sini adalah minta aku untuk bertanggung jawab? Ga mungkin ga mungkin, sepontan aku langsung menggeleng-gelengkan kepala ku sambil beberapa kali menepuk-nepuk pipi ku sendiri.

“Heh, kenapa?”

“Bu Pristy cerita apa ya pak?” tanya ku dengan was-was.

“Hahaha, ga usah takut gitu kali,” ucapnya dengan santai. Sedikit banyak aku sekarang sudah bisa sedikit bernafas lega meskipun aku masih penasaran dengan apa yang pak Wira maksud.

“Si Pristy itu cerita kalau kamu dan Gadis sekarang itu… ya aku tahu lah, aku juga pernah muda,” ucapnya. Oh, jadi maksudnya tadi adalah bu Pristy udah cerita tentang hubungan spesial ku dengan Gadis.

“Te-rus?”

“Dia juga cerita kalau kamu juga sudah tahu tentang masa lalu ku dengan mama mu, dan juga keluarga besar kita.”

“Oke…”

“Sejujurnya, aku pulang ke Indonesia itu sebenernya untuk nemuin mama mu, tapi…”

“Tapi apa?”

“Hahaha, aku ga tahu harus bilangnya gimana, aku benar-benar tidak menyangka kamu dan Gadis…”

“Pak Wira tidak setuju saya dengan Gadis?”

“Bukan-bukan, gimana ya ngejelasinya?”

“Dibikin simple saja pak…”

“Oke, jadi awalnya itu sebenernya aku maunya kamu itu jadi anak tiri ku, paham kan maksud ku? kamu suka tidak suka, percaya tidak percaya, tapi aku masih ada rasa dengan mama kamu,” ucapnya sambil garuk-garuk kepala setelah menghisap dan menghembuskan asap tebal dari dalam mulutnya.

“Ini kita bicara antar sesama lelaki ya…” lanjutnya. Aku hanya mengangguk.

“Lha tapi kalau kamu sama Gadis saja begitu, masa iya aku ga mau ngalah?”

“Hahaha,” entah kenapa aku malah tertawa. Bodo amat dibilang tidak sopan, tapi menurut ku ini sangat lucu.

“Kenapa malah ketawa? Mau kamu ga aku restuin?”

“Hehehe, ampun pak, jangan, saya sayang sama Gadis, serius deh,” balas ku sambil mengangkat ke dua jari ku.

“Jadi menurut mu gimana?”

“Kok malah nanya sama saya?”

“Kamu serius ga sama Gadis?”

“Serius pak…”

“Ya kalau serius ya sudah…”

“Bapak mau mundur?” tanya ku balik sambil menahan senyum. Kocak juga ini bapak-bapak.

“Mau gimana lagi?”

“Saya salut sama bapak, saya akuin bapak memang sangat bijak sana.”

“Demi anak, lagi pula aku tahu kamu itu anak yang baik dan gigih, pristy udah cerita semuanya, jadi ya ga ada salahnya kasih kamu kesempatan, tapi awas aja kalau kamu sampai sakitin Gadis,” ancamnya.

“Siap, saya tidak akan mengecewakan pak Wira,” balas ku sambil memberikan salam hormat.

“Kalau sampai Gadis kecewa, mama mu aku ambil.”

“Kok gitu?”

“Hahaha, aku bercanda.”

“Hahaha, saya juga ga yakin sih mama masih mau sama bapak,” balas ku meledeknya. Dan kami pun sama-sama tertawa dengan lepas. Mungkin karena terlalu kerasnya suara kami sampai terdengar ke dalam hingga membuat Gadis melihat ke arah kami dan seperti memberikan gestur bertanya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman sebagai tanda kalau semuanya baik-baik saja. Tenang aja, papa mu ini sudah jinak kok. Hahaha.

“Ngomong-ngomong bu Pristy cerita apa aja pak?” tanya ku iseng sambil menggisap rokok mahal di tangan ku ini kuat-kuat, tapi percuma, asap yang keluar hanya sedikit. Berbeda dengan pak Wira yang hanya dengan hisapan pelan tapi mantab bisa mengeluarkan banyak sekali asap. Di sini lah perbedaan antara yang newbie dengan yang pro. Hahaha.

“Hampir semuanya, dari mulai awal kamu kerja, terus awal mula Gadis bantu-bantu kerja di resto, terus awal mula Gadis kabur terus tinggal di rumah kamu, aku terima kasih banget kamu udah mau bimbing Gadis selama ini, kalau kamu bukan anak baik aku yakin Gadis mungkin sudah rusak sekarang.”

“Wah, bu Pristy sepertinya terlalu berlebihan.”

“Enggak juga, yang penting intinya kan sekarang semuanya sudah kembali dengan baik, aku tahu latar belakang keluarga mu, Gadis sudah jadi anak manis lagi, jadi kurang apa lagi?”

“Masih kurang umur pak kalau mau ngelamar anak bapak itu sekarang, hehehe.”

“Hahaha, tapi bener juga, SMA setahun lagi, kuliah empat tahun, masih ada lima atau enam tahun lagi lah kamu punya waktu untuk buktiin kalau kamu memang pantas jadi pria yang bakal menjadi pendamping Gadis.”

“Siap komendan.”

###

Aku mencuci beberapa peralatan masak ku yang masih kotor. Mba Sintya ku lihat sedang menyapu dan mengelap meja-meja kafe yang nampak berantakan. Sudah tidak ada tamu lagi. Pak Wira, Rahma, dan Gadis pun juga sudah pulang lebih dulu. Sekarang tinggal aku dan mba Sintya saja yang masih berada di kafe.

“Masih di kafe? Jangan malem-malem, jaga kesehatan, hati-hati yah pulangnya nanti,” sebuah pesan wasap masuk dari Gadis sesaat setelah aku selesai membersihkan semua peralatan yang harus aku bersihkan. Aku tersenyum membacanya. Iya aku ga akan pulang malem-malem kok, batin ku.

“Dih, senyum-senyum sendiri, gila ya?” tanya mba Sintya yang sepertinya juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

“Hahaha, ini ada wasap dari Gadis,” balas ku jujur.

“Cieee…”

“Hehehe…”

“Ya udah bales dulu deh, aku mau ke belakang dulu, udah mau pulang juga kan?”

“Iya…” jawab ku. Mba Sintya lalu pergi ke belakang, entah apa yang akan dia lakukan. Aku lalu membalas wasap dari Gadis.

“Masih, tapi udah beres semua kok, ini nafas bentar bis itu langsung pulang,” balas ku kepadanya. Dan tidak lama setelah itu mba Sintya balik dari belakang.

“Ngapain mba?” tanya ku.

“Mastiin semuanya rapi, hehehe,” balasnya.

“Lah, kebalik, masa mba Sintya yang malah menilai kerjaan ku? hahaha.”

“Karena kamu cowok.”

“Hubungannya?”

“Cowok biasanya ga rapi.”

“Terus faktanya yang mba lihat tadi?”

“Mantab, rapi banget.”

“Hahaha, kocak ah, mba Sintya malah kaya jadi bos ku.”

“Itu gunanya anak buah yang lebih tua, hihihi.”

Mba Sintya lalu duduk di depan ku, dia sepertnya juga sudah siap pulang, tapi mungkin karena aku belum pulang makanya dia agak sungkan.

“Tugas mba Sintya udah selesai semua kan? Kalau mau duluan ga apa-apa kok, aku bentar lagi juga pulang.”

“Udah sih, tapi masih pengen duduk-duduk aja renggangin otot, parah banget malam ini ramenya, tapi Alhamdulillah sih…”

“Yoi, Alhamdulillah banget, semakin rame nanti bonus mba semakin gede, hehehe.”

“Asik…” balasnya dengan riang.

“Oiya besok tepat gajian ya?” tanya ku polos.

“Hahaha, kayanya sih begitu, kalau pak bos ga lupa, hahaha,” balasnyanya bercanda.

“Ngobrol di samping aja yuk mba, pengen sebat dulu,” ajak ku padanya yang langsung di iyakan. Kami berdua pun langsung pindah duduk ke samping kafe, area outdor yang di peruntukkan untuk smoking area.

“Jadi gimana? Kerasan kerja di sini?” tanya ku begitu kami duduk. Aku langsung menyulut rokok mahal yang tadi sempat di beri oleh pak Wira secara diam-diam, ya diam-diam di belakang Gadis.

“Kerasan banget, asik kerjanya, kamu sendiri gimana menilai pekerjaan ku?” tanya nya balik.

“So far so good sih, bagi ku yang penting ga ada masalah saja, yang penting rapi, cekatan, ramah sama pengunjung, kurang apa lagi?”

“Hehehe, makasih lho ya, eh itu gaya banget rokoknya?”

“Dapet di kasih tadi, hahaha.”

“Dari camer?”

“Iya, hahaha.”

“Asiiik, udah deket banget kayanya, sayang umur kalian belum cukup, kalau udah mah mba pengen cepet-cepet liat kalian kewong.”

“Buset, live show dong?” balas ku ngasal.

“Bukan itunya, nikah maksud nya, gila kali liat kalian gituan,” balasnya sambil menepuk bahu ku.

“Kirain, emang kenapa mba mau kita cepet-cepet nikah?”

“Ga tau, seneng aja liatnya, mungkin kalian kelewat serasi.”

“Hmm… gitu ya?”

“Iya,” balasnya yang kemudian datang balasan wasap dari Gadis yang membuat perhatian ku teralihkan lagi.

“Pasti ngerokok? Papa ninggalin berapa batang tadi?” tembaknya. Anjir ketahuan. Padahal udah diem-diem ngasihnya.

“Hahaha, luar biasa ya nebaknya, ga banyak kok :p “ balas ku menggodanya.

“Tetep aja ya, eh iya, aku mau nanya sesuatu deh…”

“Apaan?”

“Tadi sama papa ngobrol apa ajaah?”

“Hahaha, kepo yaaa…” balas ku semakin meledek nya.

“Iiiihhh Adi… kasih tahu…”

“Ga mau ah…”

“Kasih tahu cepet!”

“Hahaha, besok aja ya aku ceritain langsung, malam ini kamu penasaran aja dulu. Dah ya aku mau pulang. Met bobo yaa J :* “

“Iiiihhh curang, ngeselin :p :* “
Click to expand…Aku tersenyum membaca pesannya yang terakhir. Meskipun kesal tapi tetap saja ada emoticon cium di sana. Sesuatu yang belum pernah aku dapatkan dari dirinya. Ya, aku dan Gadis bahkan belum pernah ciuman sama sekali. Entah kenapa aku tidak terlalu menginginkan itu sekarang.

“Kambuh lagi kan gilanya,” ledek mba Sintya yang melihat ku senyum-senyum sendiri.

“Hahaha, ini Gadis penasaran tadi aku ngobrol apa aja sama bapaknya.”

“Terus kamu kasih tahu?”

“Enggak, belum sih, besok aja cerita langsung, malam ini biarin aja penasaran, hehehe.”

“Dih, tega banget, penasaran banget itu pasti doi…”

“Biarin aja, hehehe,” balas ku sambil mengisap kembali rokok mahal yang ada di sela-sela jari ku.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Angin bertiap agak kencang memberikan hawa yang cukup dingin, lain dari biasanya yang selalu panas dan pengap khas udara perkotaan.

“Nanti aku anterin aja ya mba,” ucap ku yang membuatnya mengalihkan pandangan dari hp ke diri ku. Kasihan juga kalau harus melihat mba Sintya pulang sendiri naik ojol.

“Eh ga usah, biasanya juga sendiri kan?”

“Ga apa-apa mba, anggep aja bonus dari ku karena sudah sebulan bekerja

“Ada ya bonus seperti itu?”

“Ada, biar mba makin betah kerja di sini, soalnya aku males repot nyari orang lagi.”

“Hahaha, ya udah terserah kamu ajah, aku mah seneng-seneng ajah di anter sama kamuh…”

“Kenapa?”

“Kapan lagi di anter pulang sama bos…” ucapnya.

“Ganteng lagi,” tambah ku.

“Hahaha, ganteng buat Gadis, buat aku biasa aja tuh…”

“Kenapa?” tanya ku balik.

“Karena bagi ku kamu itu tetep anak kecil yang dulu cengeng yang masih ingusan dan senengnya nempel sama anak-anak cewek, ga laki banget pokoknya, hahaha.”

“Itu kan dulu mba…”

“Hihihi, ya udah yuk kalau mau nganterin, ntar kemaleman lagi,” ajaknya.

Aku dan mba Sintya lalu berdiri. Sambil berjalan ke arah parkiran motor aku iseng menanyainya.

“Oh iya mba…”

“Ya?”

“Mba sendiri, ada… pacar?” tanya ku dengan begonya. Mba Sintya menatap ku sambil mengerutkan dahinya.

“Kenapa? Mau macarin aku juga?”

“Eh, enggak… cuma pengeng tahu aja, kayanya ga pernah ada yang anter atau jemput…”

“Hihihi, canda, aku lagi sendiri, yang anter jemput ada kok tiap hari…”

“Iya tapi abang ojol…”

“Hahaha, malam ini kamu…”

“Besok-besok kalau ga buru-buru bareng aku aja mba, itung-itung mba nya bisa ngirit juga, ya kan?”

“Aku mah nurut aja apa kata bos, apalagi kalau mau di kasih fasilitas antar jemput, hihihi,” balas mba Sintya lalu menggenggam lengan kanan ku. Aku sempat kaget dengan sikapnya tapi sepertinya dia melakukan itu hanya karena jalanan yang sedikit gelap sehingga membuatnya harus mencari pegangan. Semua lampu kafe memang sudah aku matikan. Dan setelah memastikan semua terkunci dengan baik, aku dan mba Sintya pulang juga.

[Bersambung]

Daftar Part

Cerita Terpopuler