. Kesempurnaan Part 33 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 33

0
309
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 33

OMG!

“Oh My God! Oh My God! Oh My God!” ucap Rahma sambil berjalan mondar-mandir sambil memegangi kepalanya di depan ku dan Gadis yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah kami. Aku dan Gadis baru saja mengakui semuanya kepada Rahma tentang hubungan kami. Dan seperti itulah respon dari Rahma.

“Apaan sih de, udah kaya denger berita perang dunia aja,” ucap ku sambil menggenggam telapak tangan Gadis yang dari tadi justru malah senyum-senyum saja.

“Gila, ini sih lebih ngagetin dari pada perang dunia.”

“Lebay lu!” balas ku.

“Biarin, eh itu apa itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah ku.

“Apaan?” tanya ku balik dengan bingung tanpa merubah posisi duduk ku begitu juga dengan Gadis karena menurut ku memang tidak ada yang aneh.

“Itu, ngapain pegang-pegang tangan segala?”

“Eh, lah kenapa? Wajar kan? Hahaha,” balas ku sambil tertawa. Memang wajar menurut ku, toh Gadis nya suka-suka aja.

“Lepas!” ucap Rahma lagi. Sebenarnya aku tidak mau melepasnya, namun entah kenapa Gadis lebih berinisiatif untuk melepas. Dan sama seperti saat beberapa hari yang lalu saat masih berada di puncak gunung, Gadis menggeser duduk nya dan meminta Rahma untuk duduk di antara kami berdua.

“Sini,” pinta Gadis lagi sambil menahan senyum. Rahma pun akhirnya mau duduk juga setelah diminta beberapa kali oleh Gadis.

“Kamu kenapa sih beb…?” tanya Gadis sambil menggenggam tangan Rahma.

“Kamu, ga suka ya? Ga setuju ya aku sama kakak kamu…” tanya Gadis lagi dengan lembut. Pandangannya terhadap Rahma pun juga sangat lembut dan meneduhkan. Aku sih yakin Rahma pasti akan bergetar merasakannya.

“Enggak, bukan gitu…”

“Terus? Ada yang ngganjel…?” tanya Gadis lagi sambil mengusapi rambut Rahma yang terurai kebelakang.

“Enggak juga,” balas Rahma sambil menggeleng pelang. “Tapi, kok lo mau sih sama dia?” tanya nya dengan cepat sambil menunjuk ke arah ku. lah? Hahaha. aku langsung mengernyitkan dahi. Hahaha, ini ade gue ngapa(k) ya?

“Loh, memangnya kenapa?”

“Kan lo dulu benci banget sama dia…”

“Ya itu kan dulu sayang…”

“Itu yang bikin gue kaget, pokoknya gue harus denger semuanya.”

“Denger apaan?” potong ku.

“Ya gimana ceritanya bisa jadian…”

“Ujung-ujungnya kepo kan?” ledek ku.

“Bodo…” balasnya sewot.

“Hihihi, udah-udah, kok malah jadi berantem sih? Nanti aku sedih loh…” ucap Gadis menengahi perdebatan ku dengan Rahma yang justru kekanak-kanakan.

“Enggak berantem, cuma…”

“Detailnya gimana nanti aku ceritain berdua aja yah sayang, sesama wanita, hihihi, intinya benci sama cinta itu bates nya cuma tipis, dan ketika orang yang kamu benci itu bisa menyentuh hati kamu,” ucap Gadis sambil meletakkan jari-jari nya di dada bagian atas nya. “Maka bates itu akan lebur seketika,” lanjutnya.

“Iya-iya, maaf kalau gue tadi heboh, habisnya diem-diem gitu, apalagi pas masih di puncak, pantes dua-duaan, pasti kakak nih yang ga mau cerita, ya kan?” tuduh Rahma pada ku.

“Et dah, salah lagi, salah lagi,” balas ku sambil menepok jidad ku sendiri.

“Hihihi, bukan Adi kok, tapi memang kita berdua yang lagi iseng aja, hihihi,” balas Gadis.

“Kan, kalian berdua kan yang sekarang udah kompak banget ngisengin gue…hiks…” balas Rahma dengan pura-pura menangis.

“Hihihi, nanti gantian kita berdua yang kompakan yah buat ngerjain kakak kamu yang…”

“Yang apa?” potong ku.

“Yang baik nya bikin orang baper, hahaha, abis ini ga boleh baik sama cewek-cewek lagi, bolehnya sama aku aja, hihihihi.”

“Masa baik sama orang dilarang?”

“Mampus, rasain,” ucap Rahma mengompori. Namun tidak lama setelah itu dia justru menarik tangan kiri ku hingga mau tidak mau posisi duduk ku kembali merapat. Setelah meraih tangan kiri ku Rahma lalu meraih tangan kanan Gadis dan kemudian menggenggam kan tangan kami satu sama lain.

“Aku setuju-setuju aja kok kalau kalian memang saling sayang, seneng malah, bahagia juga, tapi sebagai gantinya karena udah ngerjain gue, pokoknya ini harus di rayain dan aku mau…”

“Wait, mintanya sama kakak kamu aja yah beb, kan dia sekarang sudah jadi bos, nanti di list ajah yah, hihihi,” balas Gadis dengan entengnya. Rahma langsung mengacungkan jempolnya dan diiringi dengan tawa mereka berdua. Haduh. Tepok jidad dua kali.

###

Setahun yang lalu aku keliling Jakarta untuk melamar pekerjaan, dan aku merasa waktu itu adalah masa-masa paling bawah dalam hidup ku. Saat itu papa belum lama meninggal dan aku harus ganti menanggung beban dan tanggung jawab beliau. Belum lagi kenyataan kalau aku harus menunda tekad ku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Tapi Tuhan masih sangat adil dengan semua berkah dan nikmatnya. Hari ini aku akan mewawancarai seseorang yang akan membantu ku bekerja di kafe ku ini.

“Permisi…” suara seorang wanita dari luar yang mengusik lamunan ku dengan semua hal yang sudah aku alami selama setahun ini. Aku langsung bangkit dan melihatnya. Seorang wanita sedang berdiri di depan pintu yang sudah terbuka nampak tersenyum kepada ku. Rambutnya diikat kebelakang. Sebuah tote bag warna biru langit menghiasi bahu kanannya yang nampak mungil. Aku seperti mengenal wanita ini, tapi siapa ya? Apa dia wanita yang di rekomendasikan mama yang akan membantu kerja di kafe ini?

“Mba Sintya?” tanya ku dengan agak kikuk sambil berjalan mendekatinya. Wanita itu juga berjalan mendekat ke arah ku.

“Adi ya?” tanyanya balik sambil mengulurkan tangannya.

“Iya, ini beneran mba Sintya?” tanya ku lagi sambil menjabat tangan mungilnya.

“Hehehe, iya ini mba, ya ampun kamu udah gede ya sekarang? Tinggi banget…” balas nya sambil sedikit mendongak karena tingginya yang hanya sebatas dagu ku. Ternyata benar wanita di depan ku ini adalah mba Sintya. Tetangga di rumah lama ku dulu. Dan dia yang akan membantu pekerjaan ku di kafe ini.

“Ya masa kecil terus, hehehe, ngomong-ngomong sudah berapa lama ya?”

“Apanya?” tanya nya balik.

“Terakhir ketemu…”

“Yang pasti waktu itu kamu masih pakai seragam merah putih, hihihi,” balas nya sambil tersenyum. Aku lalu melepaskan genggaman tangan ku padanya. Pikiran ku lalu melayang-layang ke sembilan atau sepuluh tahun yang lalu. Mungkin waktu itu umur ku baru sepuluh atau sebelas, masih SD, kelas empat atau lima aku lupa sedangkan mba Sintya sudah SMA. Yang aku ingat adalah waktu itu mba Sintya ini pindah rumah ke luar kota bersama dengan keluarganya.

“Mba Sintya SMA ya?”

“Iya, waktu itu kamu sebahu ku aja belum ada, sekarang aku yang cuma sebahu kamu, anak cowok memang cepet pertumbuhannya.”

“Hehehe, ya begitulah, duduk dulu mba, mau minum apa? Ngomong-ngomong abis dari mana ini?” tanya ku pada wanita yang dulu sering sekali aku main ke rumahnya waktu masih TK. Dan seingat ku juga dulu aku ini sering di jagain sama dia saat papa dan mama kerja.

“Apa ya? Eh aku kan kesini mau wawancara, ga usah deh, ntar malah ngerepotin.”

“Ya elah, biasa aja kali, dulu juga aku sering ngerepotin mba Sintya sama tante Ridha.”

“Masih inget kamu nama mama?”

“Hehehe, masih lah, berapa tahun itu aku dulu di asuh sama beliau?”

“Berapa ya? Lima tahunan ada kali ya, sampai kamu kelas tiga SD kayanya dan ga mau di titipin lagi.”

“Kayanya, jadi mau minum apa ini?”

“Terserah kamu saja, kopi boleh, penasaran sama kopi nya.”

“Sip, bentar ya. Btw suka kopi juga?” tanya ku dari balik meja.

“Enggak terlalu sih, sesekali aja.”

“Oh, eh iya ini mau kemana atau dari mana?”

“Tujuan ku ya ke sini lah, mau kemana lagi. Tapi abis ini nanti siangan mau kuliah.”

“Oh mba Sintya kuliah…”

“Iya, agak telat sih sebenernya tapi ya siapa tau bisa merubah nasib.”

“Ga ada kata telat mba…”

“Kamu sendiri?”

“Aku? Ga kuliah, belum, lagi mau fokus ke kafe ini dulu.”

“Tapi ada rencana kan?”

“Harusnya tahun ini, tapi ya itu tadi, mau fokus ke salah satu dulu, usaha ini udah terlanjur jalan jadi ya aku mau fokusin dulu,” balas ku sambil tersenyum kepadanya yang sesekali asik melihat ke setiap sudut kafe.

“Fokus ke cewek juga jangan lupa, biar ga nyesel nanti kalo udah merid.”

“Maksudnya?”

“Hihihi, maksud aku jangan terlalu fokus sama pekerjaan, nikamatin hidup juga perlu, salah satunya ya pacaran…” jawabnya dengan enteng. Kaget aku, aku pikir dia lagi nyindir aku yang sedang merhatiin tubuhnya. Sedikit gambaran tentang mba Sintya, badannya memang tergolong mungil. Bahunya tidak lebar seperti kebanyakan wanita. Perut dan pinggangnya ramping. Dadanya juga masih ukuran standard, tidak sebesar milih bu Pristy, namun juga masih lebih besar dari punya Gadis. hahaha. Entah kenapa perbandingan ku mengerucut pada dua wanita itu. Tapi yang membuat ku suka dengan bentuk tubuhnya adalah dari pinggul nya kebawah sampai pada lutut. Pinggul mba Sintya melengkung dengan sangat indah, pantatnya membulat dan mancung ke belakang, pahanya sedikit berisi namun masih sangat proporsional. Semua itu dibalut dengan celana jeans super ketat yang sangat menonjolkan lekuk tubuhnya. Perfect.

“Oh kirain, sudah ada kok, tenang aja mba,” balas ku dengan jujur.

“Oh ya, sering main ke sini dong?”

“Bukan sering lagi, tapi memang aku joinan sama dia untuk usaha ini, tapi lain kali aja ya aku ceritainnya, oh iya ini kopi nya,” ucap ku sambil menyerahkan secangkir kopi kepadanya.

“Waaaw keren…muda-muda tapi udah pada pinter usaha, jadi malu aku.”

“Kenapa malu? Mba kan memang masih kuliah, eh tapi sorry nih, mba Sintya kuliahnya telat masuk apa telat keluar nih?”

“Pertanyaan kamu ambigu, hihihi,” komentarnya sambil tersenyum jahil.

“Hahaha…”

“Aku telat kuliahnya, sama kaya kamu gini, kerja dulu, ga langsung kuliah, sama-sama tahu lah kita perekonomian keluarga masing-masing.”

“Lah terus kok ini mau kerja lagi? Udah selesai apa gimana?”

“Tinggal Skripsi aja kok, udah ga ada kuliah lagi, jadi dari pada banyak waktu kosong mending aku kerja aja, dan kebetulan kemarin mama kasih tahu kalau anaknya tante Fatma alias kamu butuh karyawan ya aku iseng aja siapa tahu cocok, dan kalau lihat kafe ini, aku sih berharap banget kamu nerima aku, hihihi.”

“Kenapa mangnya?”

“Enak suasananya, kerja kalau ga enak lingkungannya mana enak?”

“Iya sih.”

“Jadi gimana? Ini dari tadi sudah termasuk wawancara belum sih? Hihihi,” tanya mba Sintya sambil tertawa geli.

“Hahaha, anggep aja udah, aku kan udah tahu mba Sintya dari kecil, tapi mba, mba kan udah punya pengalaman kerja pasti sebelumnya kan, sedangkan aku cuma mampu bayar orang dengan UMR paling, mba mau?”

“Ga perlu dipikirn soal itu mah, aku ngerti kok, aku lagi butuh kerjaan tapi yang ga terlalu nguras pikiran, aku pikir kerja di kafe ini bakalan menyenangkan santai, jadi ya sama-sama untung aja.”

“Deal ya?” tembak ku pada nya sambil mengulurkan tangan.

“Deal…” balasnya sambil menjabat tangan ku.

Mba Sintya lalu kembali mengamati setiap sudut kafe ku ini sambil menyesap kopi yang ada di tangannya. Kami juga melanjutkan obrolan ke topik lain yang lebih ringan mulai dari kabar keluarga masing-masing. Mba Sintya di kursi depan meja yang cukup tinggi sehingga kedua kakinya tidak menjejak ke lantai. Satu kaki menjejak pada palang di bagian bawah kursi dan satu lagi dilipat dan menyilang pada kaki yang satunya. Dengan posisi seperti ini pahanya yang padat itu terekspos dengan jelas. Begitu juga dengan pinggulnya yang bohay itu. Ya elah, urusan dengan bu Pristy aja belum selesai ini udah muncul lagi godaan baru, semoga aku kuat ya Gadis, hahaha. Tepok jidad kali ke tiga.

###

“Jadi sudah dapet nih pengganti ku?” tanyanya sambil senyum-senyum ga jelas. Meskipun sudah tidak bekerja di kafe lagi, bu Pristy masih sering main ke sini, dan untuk yang satu ini tidak ada yang bisa mengintervensi. Seperti sore ini yang sudah nongkrong sejak jam empat tadi. Aku bekerja sendiri, mba Sintya sudah pergi ke kampus katanya dan baru akan mulai bekerja besok. Mama lagi ada banyak jahitan jadi tidak ada waktu untuk ke kafe.

“Pengganti apa dulu nih?” tanya ku balik dengan penuh curiga.

“Hahaha, pengganti semuanya, pengganti karyawan, pengganti yang ngisi hati, sama pengganti yang ngasi enak-enak, hihihi.”

“Yang terakhir enggak lah…”

“Hahaha, iya percaya, dan awas aja kalau kamu sampai berani macem-macem sama Gadis…”

“Kenapa emang?”

“Enggak, kalau kebelet tinggal bilang kok ke aku, hihihi.”

“Hahaha, kadang aku mikir lho, kenapa ibu mau melakukan semua ke seneng an ini?” tanya ku dengan tanda kutip.

“Just for fun, kamu tenang aja, aku ga akan baper kaya Gadis, hahaha, udah lewat masanya.”

“Just for fun, aja?”

“Ya, apa lagi yang mau aku kejar? Anak ga punya, suami ga ada, apa lagi?”

“Aku masih tidak enak hati aja kalau semua ini hanya untuk kesenengan.”

“Aku harus ngebuktiin apa lagi sih supaya kamu percaya?” tanya bu Pristy sambil berjalan pelan ke arah ku lalu duduk di pangkuan ku dengan posisi membelakangi. Pantat seksinya yang terbalut dengan rok span ketat itu mendarat tepat di selangkangan ku. Ditariknya ke dua tangan ku lalu diletakkan di perutnya hingga posisi ku sekarang memeluk tubuhnya sambil memangkunya. Ku singkap tanktop ketat yang di kenakannya ke atas lalu ku usap perut rata miliknya. Ku main kan jari ku pada lubang pusarnya hingga membuatnya sedikit mendesah kegelian. Kepalanya mendongak dan menyandar pada bahu kanan ku. Gerakan tangan ku pindah ke atas dan menangkup cup BH nya dan meremasnya pelan.

“Aku mau kamu punya pendamping, supaya kamu bahagia,” ucap ku sambil mengeluarkan ke dua bongkahan daging kenyal itu dari pembungkusnya. Aku mengeluarkannya dari atas yang membuat payudara yang masih kencang itu semakin mengacung indah. Putingnya yang sudah mengeras tampak menantang bagi siapapun yang melihatnya untuk menghisap dan menggigitnya.

“Aku udah bahagia kok dengan hidup ku yang sekarang.”

“Bahagia yang semu.”

“Masa?”

“Kalau kamu bahagia, kamu tidak akan meminta ku untuk melakukan ini,” ucap ku sambil memilin puting payudaranya dengan ibu jari dan jari telunjuk ku. Bukannya marah bu Pristy malah semakin mendesah keenakan. Pantat seksinya semakin menekan pada selangkangan ku dengan sesekali menggesek-geseknya ke kiri dan ke kanan.

“Lalu menurut mu siapa yang mau sama janda paruh baya seperti aku ini? Hah?” tanya bu Pristy sambil menghentikan keisengan ku pada puting payudaranya. Beliau bangkit lalu membalikan badannya dan mengangkangi ke dua paha ku sehingga membuat rok yang dikenakannya tersingkap ke atas. Tubuhnya lalu condong ke depan dan kedua tangannya memegang erat ke dua sisi kepala ku.

“Sluuurrppssshhh…”

Sebuah ciuman panjang dan ganas ku dapatkan dari nya. Ujung lidahnya menari-nari di dalam mulut ku yang dipaksa meladeni permainan panasnya. Daging tak bertulang itu mengobrak-abrik seluruh isi rongga di dalam mulut ku.

“Ada…”

“Siapa?”

“Orang yang tidak jauh dari ibu?”

“Oh ya?” tanyanya sambil membuka kaitan ikat pinggang dan celana yang aku kenakan dan langsung menariknya kebawah beserta dengan celana dalam ku sehingga kini junior ku di bawah sana berteriak kegirangan karena sebentar lagi dia akan mendapatkan sesuatu yang enak-enak.

“Ya, dulu pernah dekat dengan kamu, dan selalu menjadi penjaga mu.”

Juuh!! Juuh!!

Bu Pristy meludahi kemaluan ku dengan ludahnya dan langsung meratakannya ke seluruh permukaan penis ku dengan jari jari nya yang lembut sambil sesekali di remas dan di urutnya dengan pelan. Tidak lama kemudian bu Pristy berhenti memainkan penis ku lalu di angkatnya lagi rok ketat yang dia kenakan semakin ke atas hingga ke batas pinggangnya. Ternyata bu Pristy hanya mengenakan celana dalam yang sangat mini, bahkan saking mininya hanya bagian depannya saja yang tertutup. Bahkan dia hanya menyingkap celana dalam itu ke samping tanpa melepasnya sebelum menggenggam penis ku yang basah akibat air ludahnya dan mengarahkannya ke dalam liang senggamanya.

“Jangan bilang yang kamu maksud itu…pak Parto…aahhsshh…oouucchh…” ucapnya sambil menekan pinggulnya kebawah yang membuat penis ku langsung amblas di telan oleh bibi bawahnya. Aku merasakan kehangatan pada seluruh permukaan penis ku. Hangat namun lembab. Lembab dan licin, vaginanya ternyata sudah membanjir.

“Waktu itu beberapa kali aku memergokinyan memperhatikan kamu, dan ketika aku tanya, dia nampak salah tingkah, cup!” ucap ku sambil meremas kedua gunung kembar miliknya dan mengecup puting susunya sambil mulai menggoyangkan pinggang ku naik turun. Bu Pristy meresponnya dengan juga menggoyangkan pinggulnya maju mundur seirama dengan gerakan ku.

“Ahh ahh ahh, kalau kamu tau semua itu kenapa kamu masih tetap menggauli ku?” tanya nya sambil merapikan rambutnya dan menggelungnya keatas sedangkan tubuh bawahnya masih aktif bergoyang.

“Karena tubuh kamu ini emang pantas untuk di gauli, hehehe,” balas ku sambil terkekeh. “Jadi bagaimana?” tanya ku sambil memegangi pinggangnya untuk menambah tenaga pada goyangannya sehingga aku yakin penetrasi ku sekarang akan terasa semakin dalam dan bu Pristy pasti akan semakin merasakan nikmatnya perncintaan ini.

“Ahh ahh ahhsshhh…aku pikir-pikir lagi deh nanti…ouuchh…aahhahhahh…sekarang aku cuma mau nikmatin iniiihh…” balasnya sambil mendongak lalu menunduk dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri ku. Ke dua tangannya bertumpu pada ke dua pundak ku, sedangkan pinggulnya masih terus maju mundur bergoyang berirama meremasi setiap permukaan kejantanan ku dengan setiap inchi dinding vaginanya.

###

Bu Pristy duduk di meja pengunjung dan aku memberikannya sebuah minuman segar. Wajahnya nampak kelehan setelah pertempuran singkat kami tadi. Singkat namun tetap bisa memberikannya kepuasan. Dia sudah merapikan kembali rok dan tanktop yang tadi sempat acak-acakan oleh kenakalan ku, pun begitu juga dengan blazer yang tadi sempat di lepasnya.

“Siapa nama karyawan baru mu?”

“Sintya, kenapa?”

“Jangan macem-macem, inget udah punya Gadis, awas kamu kalau masih nakal.”

“Enggak bakal, orangnya itu tetangga ku dulu waktu di rumah yang lama, kenal sama mama juga.”

“So? Ga ada yang ga mungkin, buktinya kita?”

“Hehehe, kalau kita kan…”

“Udah dari berapa bulan yang lalu sebenernya aku udah sadar dengan perasaan Gadis ke kamu.”

“Oh ya?”

“Iya, apalagi yang dia minta aku berhenti, dia minta pembuktian, mungkin dia juga sadar kali kalau aku deket sama kamu, dan takut tante-tante seperti aku ini bakal ngerebut kamu dari nya, hahaha, dasar ABG, tapi intinya kamu jangan sakitin dia ya, soal kita, anggap saja itu semua dosa ku.”

“Ga bisa begitu lah…”

“Ya terserah kamu saja, yang penting jangan apa?”

“Nakal.”

“Pinter,” ucapnya sambil meremas selangkangan ku kembali. “Berarti aku sekarang udah ga boleh lagi ngarep mba Fatma balikan sama mas Wira dong ya?”

“Hahaha, jangan sampai.”

“Hahaha, iya, kalua kejadian yang ada anaknya pada patah hati, oiya soal pak Parto, kamu mau bantuin aku?”

“Bantuin apa?”

“Bantuin gimana caranya supaya dia ada inisiatif usaha, masa aku yang usaha duluan?”

“Jadi ibu mau?”

“Tergantung.”

“Dengan?”

“Ya usahanya lah, gimana sih?” tanyanya balik dengan sewot. Iya juga ya, hahaha.

“Oh iya ya, hehehe,” balas ku sambil nyengir.

Ya semoga saja niat baik ku ini ada jalannya. Paling tidak aku bisa membuat dua manusia yang saling hidup sendiri ini punya pasangan hidup di saat masa tua mereka yang sebentar lagi akan datang. Bu Pristy tiga puluh akhir menjelang empat puluh. Pak Parto awal lima puluh. Aku pikir tidak terlalu jauh juga. Dan yang paling penting ini adalah satu-satunya cara bagi ku untuk menjauhkan bu Pristy dari ku secara halus dan mengakhiri hubungan terlarang ini dengan baik-baik.

[Bersambung]

Daftar Part