. Kesempurnaan Part 30 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 30

0
310
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 30

Semua Untuk Gadis

Aku harus mulai mencari karyawan untuk kafe ku ini. Paling tidak satu orang lagi saja karena yang satu lagi aku berencana untuk mengkaryakan mama. Dari pada menjahit, akan labih baik untuk fisik nya bila bekerja di kafe ini. Selain itu aku juga bisa jadi lebih dekat dengan mama.

Rahma dan Gadis terpaksa aku berhentikan. Sebentar lagi kenaikan kelas dan tentu saja sekolah adalah yang nomor satu. Belajar adalah menjadi prioritas utama. Paling sabtu dan minggu saja kalau mereka mau membantu, aku ijinkan. Sedangkan kalau hari biasa, aku mau mereka berdua fokus ke pelajaran di sekolah saja.

Mama menyambut positif keputusan ku. Dan memang keputusan itu adalah keputusan yang paling masuk akal. Omset di kafe ini memang belum lah seberapa meskipun angkanya lumayan juga, tapi kalau harus sekolah kedua anak itu yang dipertaruhkan maka tidak seimbang juga. Bu Pristy juga mendukung keputusan ku. Ke dua anak itu harus fokus ke sekolah masing-masing.

Ngomong-ngomong tentang bu Pristy, aku tidak menyangka aku dan beliau akan bisa seperti itu lagi. Hahaha. Terkadang kalau sudah berurusan dengan selangkangan prinsip seseorang pun bisa goyah, termasuk prinsip ku sendiri yang sebelumnya bertekad untuk mengakhiri affair di antara diri ku dan diri nya. Tapi sayang, prinsip tinggalah prinsip. Selangkangan lebih nikmat dari pada mempertahan kan prinsip. Toh adanya hubungan ini pun tidak ada yang merasa di rugikan.

Kenaikan kelas sudah dekat, berarti tahun ajaran baru juga sebentar lagi. Begitu juga dengan universitas-universitas yang sudah mulai membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru. Tapi entah kenapa semangat ku yang sebelumnya membara untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perkuliahan lama-lama luntur dan mungkin sekarang tinggal ampasnya saja. Mungkin hanya tinggal sepuluh persen saja, atau bahkan mungkin tidak sampai.

“Kamu yakin ga mau mulai tahun ini aja kak? Kalau nunggu tahun depan lagi keburu tambah males lho,” ucap mama pada ku yang siang ini kami berdua sudah berada di kafe, tentunya dengan beberapa pelanggan yang sedang menikmati santap siangnya. Karena mama tidak mengerti kopi, maka untuk sementara mama yang bertugas memasak, sedangkan aku yang mengerjakan semua urusan selain masak, mulai dari minuman termasuk kopi, rangkap sebagai pelayan, begitu juga sebagai kasir.

“Habis gimana ya ma, kafe ini kalau ga di tekuni juga sayang banget, ini peluang terbesar kakak untuk sekarang ini, kalau kuliah kan masih bisa nanti-nanti.”
“Iya sih mama juga tahu, tapi takutnya kalau nanti-nanti kamu nya tambah ga semangat, motifasi juga udah ga ada.”
“Kalau usaha ini berhasil, kakak ga usah kuliah pun kakak juga bisa sukses mah. Administrasi kakak bisa belajar otodidak. Masak, bikin inovasi makanan juga kakak bisa belajar sendiri, jadi ngapain? Menurut kakak sih kafe ini adalah peluang terbesar kita untuk bisa mengubah nasib menjadi lebih baik. Bukan berarti nasib kita sekarang ga baik, kakak sekarang bahagia bisa hidub bareng mama dan Rahma apapun kondisinya, tapi kalau kakak bisa bahagiain mama, bisa kuliahin Rahma tahun depan, itu bakal jadi kebahagiaan tersendiri buat kakak, hehehe.”

“Hihihi, iya sayang, mama percaya, kamu ini bener-bener deh mirip…”

“Mirip siapa mah?”

“Ya mirip papa mu lah, mirip siapa lagi, hahaha.”

“Oh, hahaha, ya iyalah kakak kan anaknya.”

Dan obrolan singkat siang ini yang penuh dengan makna ini berakhir sudah. Beberapa keputusan penting sudah aku ambil. Sekarang tinggal bagaimana aku akan mengimplementasikannya. Mencari satu orang baru untuk bekerja di sini dan lebih fokus lagi mengembangkan bisnis ini. Kuliah? Nanti saja di pikir lagi.

###

“Selesai sudah, semoga banyak yang melamar,” ucap ku pelan setelah selesai menempelkan selebaran yang berisikan lowongan pekerjaan di kafe ku ini. Cukup lulusan SMA, good looking, giat, jujur, mau belajar, dan tekun. Simpel saja persyaratan yang aku ajukan.

Setelah selesai aku lalu masuk ke dalam kafe untuk memppersiapkan semua. Perlengkapan perang ku untuk sementara ini adalah mesin kopi. Untuk sementara waktu aku yang kan menjadi barista nya, sedangkan mama yang akan bekerja di belakang alias dapur. Semoga saja cita rasa dari kopi racikan ku sama dengan yang biasa di buat oleh Gadis ataupun Rahma karena sebenarnya untuk urusan ini mereka berdua lebih pro ketimbang aku.

Meja kursi aku tata dengan rapi. Rak dan lemari yang berisikan buku bacaa yang aku sediakan untuk di baca aku atur dengan sedemikian rupa agar membuat suasana kafe menjadi semakin nyaman termasuk juga beberapa perabotan pun juga aku tata dengan penuh perhitungan.

“Lowongan kerja di depan masih kosong mas?” tanya seseorang saat aku sedang merapikan beberapa buku yang posisinya sedikit berantakan. Aku menoleh dan langsung mengernyitkan dahi begitu tahu siapa yang menanyakan itu kepada ku.

“Hei… malah bengong, itu lowongan di depan masih berlaku ga?”

“Ya masih lah, tapi ngapain bu Pristy nanyain itu?” tanya ku balik pada bu Pristy. Yang bertanya kepada ku itu memang bu Pristy.

“Mau ngelamar kerja, hehehe.”

“Hahaha, jangan bercanda ah bu, saya lagi sibuk nih, kalau mau pesen makan saya ambil menu nya dulu ya.”

“Siapa yang bercanda sih? Emangnya ga boleh ya?”

“Bukan ga boleh, tapi ngapain?”

“Biar bisa deket sama kamu, hihihi,” balasnya sambil tertawa geli. Padahal ga ada yang lucu.

“Ga perlu jadi pelayan di sini bu kalau cuma biar bisa deket sama saya mah…”

“Aku… masih terlihat menarik kan?” tanya nya sambil salah satu tangannya berkacak pinggang layaknya seorang model.

“Memangnya kenapa?” tanya ku balik.

“Ya kan salah satu persyaratannya harus goo looking…”

“Hahaha, jujur ga kalah kok kalau harus di adu dengan Gadis ataupun Rahma.”

“Nah kan, berarti masih memenuhi syarat dong…”

“Tapi…”

“Berarti aku berhak dong ngelamar kerja di sini, kalau soal umur, salah sendiri kamu ga cantumin umur maksimal, week…” ucapnya lagi sambil berdiri merapat di depan ku. Tangan kanannya melingkar di pinggang ku sedangkan dadanya yang montok menekan erat ke dada ku. Dagunya lalu mendarat di bahu kiri ku.

“Jadi gimana pak Adi, Pristy, boleh kan bekerja di sini?” tanya nya lagi sambil tangan kiri nya meraba selangkangan ku.

Aku tidak bisa menjawabnya karena grogi. Dan saat itu juga aku baru ingat kalau di dapur belakang juga ada mama. Aku langsung mendorong pelan bu Pristy agar sedikit menjauh. Aku haya takut apa yang sedang kami lakukan ini terlihat oleh mama.

“Ada mama di belakang bu,” ucap ku dengan rasa tidak enak.

“Hihihi, ya bagus, aku bilang langsung ke mba Fatma aja deh, hehehe.”

Dengan melewati ku begitu saja bu Pristy berjalan menuju dapur sambil jemari tangannya yang halus dan lentik itu masih sempat-sempatnya mengusap kemaluan ku dari luar. Haduh ga kebayang deh kalau misal mama setuju dengan keisengan bu Pristy. Bukan apa-apa, aku takut malah tidak fokus dengan usaha ini karena… kemungkinan affair ku dengannya seperti dulu akan terulang kembali. Hanya saja posisinya sekarang terbalik. Aku yang akan jadi atasannya.

###

Apa yang aku takutkan kemarin akhirnya menjadi kenyataan. Aku tidak tahu apa yang bu Pristy ucapkan ke mama, tapi mama tidak ada masalah jika bu Pristy ikut membantu pekerjaan ku di kafe ini. Mama sama sekali tidak curiga kalau anak laki nya ini sudah di manfaatkan oleh teman wanitanya itu. Mama tidak sadar bahwa anak cowoknya ini sudah di jadikan alat pemuas nafsu oleh tante yang satu itu. Mama tidak tahu kalau anak nya yang paling ganteng itu sudah menjadi korban. Korban yang menikmati keadaan.

Hari ini bu Pristy mengenakan celana jeans warna hitam yang sangat ketat membalut pantatnya yang sangat bulat itu. Untuk atasan bu Pristy mengenakan kaos berwarna biru tua yang dulu memang sengaja aku aku beli sebagai seragam di kafe ini. Pada bagian dadanya terdapat logo sebagai identitas dari kafe ini. Masalahnya kaos itu juga sangat ketat membalut bagian atas tubuh bu Pristy. Tentu saja press body, ukuran kaos itu adalah untuk Gadis dan Rahma yang mana selain badan mereka yang masih sangat langsing, payudara mereka berdua juga memang belum berkembang dengan sempurna. Hahaha, jadi malu mengomentari ukuran payudara adik sendiri. Tapi yang pasti untuk urusan yang satu ini, mereka berdua bukan lah lawan dari bu Pristy. Lawan yang pas untuk bu Pristy itu hanya mama. Dan pikiran ku makin lama makin absurd.

“Pak, jadi ini bagaimana?” panggil bu Pristy kepada ku yang dengan isengnya memanggil ku dengan panggilan pak yang sebetulnya sudah aku larang sebelumnya namun memang dasar bu Pristy yang selalu iseng kepada ku.

Bu Pristy sedang berada di depan meja barista dengan beberapa macam jenis kopi yang siap untuk di racik. Beliau masih dengan semangat mempelajari teknik-teknik membuat kopi. Padahal sekarang sudah jam sepuluh lewat. Kafe sudah sepi, mungkin karena hari kerja jadi tidak ada yang nongkrong hingga larut malam. Mama sudah pulang dari jam sembilan tadi. Jadi sekarang yang ada di kafe ini hanya tinggal berdua saja. Aku lalu menghampirinya.

“Dibilang ga usah panggil pak, hmm…”

“Hihihi, biarin, namanya atasan kan harus dihormati. Kalau manggil nama, itu ga sopan.”

Aku pun langsung menghampirinya. Berdiri tepat di belakangnya dengan ke dua tangan ku yang memegang ke dua pergelangan tangannya dari belakang sehingga posisi ku sekarang memeluknya dari belakang. Aku lalu memandu lengan halus itu untuk menakar seberapa banyak kopi yang di perlukan dan bahan campuran lainnya kedalam drink shaker. Seberapa takarannya pun sebenarnya juga baru aku pelajari dari Gadis dan Rahma tempo hari. Dan sekarang aku harus mengajari wanita cantik dan bohay yang satu ini.

Entah karena aku yang grogi atau bu Pristy yang kaku, kocokan tangan dan tangannya tidak seirama dan bisa di bilang percobaan pertama ini tidak berhasil. Ada raut muka kesedihan yang terlihat dari wajahnya. Hahaha. Dasar wanita. Gitu aja sedih. Kalau gagal yang coba lagi.

“Mungkin akan lebih baik kalau ibu coba kocok sendiri, kalau berdua malah ga seirama jadinya malah ga ke campur sempurna.”

“Iihh nama aku kan Pristy pak, ngapain panggil ibu segala sih?”

“Iyee, bawel ah, mau belajar ga?” omel ku padanya. Masa bodo dia dulu adalah bekas bos ku.

“Hihihi, jadi Pristy ngocoknya sendiri nih pak? Begini?” tanya nya.

“Iya kamu coba sendiri saja, irama nya seperti tadi ya,” balas ku sambil bersandar pada meja bartender dan berdiri menghadap ke arahnya.

“Lagi bapak pakai bantuin segala sih, pakai peluk-peluk dari belakang lagi, Pristy kan kalau ngocokin punya bapak juga sendiri, ops…hihihi,” candanya sudah mulai nakal.

“Abisnya ini kamu menggoda sih,” balas ku santai sambil meremas bongkahan pantatnya yang membulat itu.

“Iihhh bapaka makin genit aja, awas nanti ada yang lihat lho pak dari luar,” ucapnya melarang ku namun dari wajahnya malah keluar sebuah senyuman yang menggoda. Aku pun langsung berjalan ke pintu depan dan menutupnya. Tidak lupa aku memasang papan bertuliskan close pertanda kafe ini sudah tidak menerima pelanggan lagi. Terakhir aku mematikan lampu utama agar suasana di dalam kafe tidak terlalu terang dan tidak terlihat dari luar. Hanya lampu berukuran kecil saja yang menjadi penerang ruangan ini. Suasana yang remang membuat aktifitas yang berada di dalam kafe tidak akan terlalu terlihat dari luar.

“Sekarang kafe sudah tutup, tidak akan ada lagi pelanggan yang datang, jadi aku tidak kuatir lagi akan ada yang ngelihat kalau aku peluk kamu seperti ini kan?” goda ku pada nya. aku berdiri di belakangnya sambil menempelkan ujung selangkangan ku pada bongkahan pantat seksinya. Sedangkan tangan ku mendarat di pinggang ramping nya lalu merambat ke atas, menelusuri ketiaknya yang membuatnya sedikit menggelinjang, lalu bergerak maju ke depan dan menangkup sepasang buah dada yang sekal itu.

“Bapak nakal ih tangannya!” protesnya namun tidak berusaha menghindar, justru malah mendorong pantatnya kebelakang sehingga menekan pada selangkangan ku.

Kaos yang dikenakannya benar-benar ketat. Cetakan bra yang dikenakannya terlihat sangat jelas. Sudah aku putuskan untuk melarangnya menggunakan kaos ini lagi besok. Entah kenapa aku tidak rela kalau ada pengunjung laki-laki yang ikut melihat keseksian tubuh bu Pristy.

“Besok baju ini jangan di pakai lagi ya.”

“Emang kenapa pak?”

“Nanti para pengunjungnya pada ga fokus.”

“Pengunjungnya atau bapak nih?”

“Dua-duanya, tapi kalau aku yang ga fokus ga apa-apa.”

“Oh gitu ya pak?”

“Iya, termasuk kalau aku mau masukin tangan ku ke sini juga ga apa-apa kan?” tanya ku sambil menyusupkan ke dua tangan ku ke dalam kaos ketatnya melalui bawah sekaligus menarik kaos itu ke atas.

“Aahhh… bapak mau apa?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya melainkan terus menarik kaos itu ke atas hingga melewati kepalanya. Sekarang bagian atas tubuh bu Pristy hanya tertutup dengan bra saja. Aku lalu mencium dan menjilati tengkuk bu Pristy sambil sesekali memberikan tiupan ringan pada daun telinganya.

“Aahhh geli pak, jangan…”

“Ini baju kekecilan buat kamu, besok jangan di pakai lagi ya…” ucap ku sambil tangan ku yang kembali bergeriliya ke arah buah dadanya. Dengan dua kali gerakan lembut aku mengeluarkan dua daging kenyal itu dari pembungkusnya melalui atas. Kini dua bukit kembar itu terlihat semakin mancung dan menantang. Aku langsung mengusap dua pucuknya yang sudah mengeras itu yang langsung membuat bu Pristy mendesah lembut.

“Ahhsshh… iya pak, ga aku pakai lagi, terus besok aku pakai baju apa? Terus baju yang ini di apain?”

“Besok aku beliin baju lagi, kalau baju ini boleh kamu pakai kalau lagi sama aku saja seperti sekarang ini,” balas ku sambil mengusap dua pentil berwarna kecoklatan itu dengan lembut dan teratur. Kadang aku memilinnya dengan lembut, kadang aku mencubitnya, dan kadang aku juga menyentilnya pelan.

“Ahhh aahhh paak sshhhshh…”

“Abis belajar nge-shake kopi langsung belajar nge-shake punya ku ya.”

“Punya bapak maksudnya apa?” tanya nya polos namun badannya masih menggeliat karena rangsangan yang aku berikan.

“Yang ini…” balas ku sambil menarik tangan kirinya menuju selangkangan ku dan meremaskannya.

“Kalau yang ini sih, ga perlu belajar lagi pak, Pristy udah bisa sendiri kok…” ucapnya dengan manja.

“Oh ya?”

“Bapak mau coba?” tanya nya sambil meletakan drink shaker ke atas meja dan berbalik ke arah ku. kini aku bisa melihat dua bongkahan daging kenyal yang menempal pada dada nya itu beserta dengan ujungnya yang sangat menggairahakan. Baru aku ingin menundukkan kepala ku untuk menyosornya namun sudah di tahannya.

“Bapak genit ih,” ledeknya. Aku hanya tersenyum garing.

“Bapak diem aja yah, nih saya buktiin kalau saya bisa ngocokin punya bapak, nikmatin aja yah bos kuuhh…”

Bu Pristy lalu berlutut di depan ku. Beliau lalu sedikit mendorong ku hingga aku bersandar pada lemari di belakang ku. Bu Pristy langsung membuka ikat pinggang ku beserta kaitan di celana ku dan langsung menariknya ke bawah. Setelah terbuka dan senjata ku terpamapang di depannya beliau tersenyum sebentar lalu menggenggam batang yang sudah mulai mengeras itu.

“Tapi kalau bapak muncrat nya cepet, saya ga tanggung jawab yah, hihihi,” goda nya dengan manja.

“Aahh… uuhhh… enak banget sepongan mu Pris…” racau ku yang langsung merasakan sensasi yang meskipun sudah sering aku rasakan namun tetap saja aku selalu melayang-layang di buatnya.

“Hhehhehhe… hennaaghhan ghaak?” mungkin maksudnya enak kan pak? Iya enak banget. Apalagi sambil melihat lirikan matanya yang terlihat nakal dan binal.

“Ohh… sedotan mu enak banget Pris, apalagi sambil megangin kepala mu kayak gini,” balas ku sambil memegangi kepalanya dan membantunya bergerak maju mundur seirama dengan keluar masuknya penis ku ke dalam rongga mulutnya.

“Haghaghaghaghag… haayyooo hhahhuughin hhehiihh hahaamm hahi hhaahkkk… hheghann hehhiihh hhuuaahhh hhhaghiii…” ucap nya lebih tidak jelas lagi yang meminta ku untuk memasukkan penis ku lebih dalam lagi ke dalam rongga mulut nya dan menekannya lebih kuat.

Tanpa di suruh dua kali aku pun melakukannya. Ku pegangi area telinga dan belakang kepalanya dari sisi kiri dan kanan dengan ke dua tangan ku. dengan memegang kepalanya erat-erat aku menarik kepala itu maju mundur berlawanan arah dengan pergerakan pinggul ku. jadi saat aku menari kepala itu maka aku mendorong pinggul ku kuat-kuat hingga penis ku menabrak jauh ke dalam tenggorokannya. Mata bu Pristy terlihat memerah namun beliau terlihat berusaha menikmatinya. Begitu juga dengan ku yang sangat menikmati adegan ini.

Karena empotan dan sedotan yang di berikan oleh bibirnya, aku benar-benar tidak bisa bertahan lama. Tidak sampai lima menit aku sudah mendapatkan klimaks ku. klimaks paling cepat yang pernah aku dapatkan. Bermili-mili bibit Adi junior menyembur dengan derasnya masuk memenuhi rongga di mulutnya. Sebagian langsung tertelan dan sebagian lagi masih tertampung pada mulutnya. Bu Prsity nampak semakin menggoda saat dengan nakalnya beliau justru memainkan gumpalan cairan putih kental itu dengan lidahnya. Bukannya langsung menelannya atau membuangnya, dengan tanpa rasa jijik sedikit pun beliau malah terlihat mengemut cairan itu dan membiarkannya berada di dalam mulutnya. Terkadang membuatnya terlihat akan luber dan menetes melalui sela bibirnya namun kemudian menghisapnya kembali lalu dengan sekali telan semua sperma ku itu di telannya.

Bu Pristy lalu memegangi penis ku yang meskipun masih besar namun sudah tidak sekeras tadi. Beliau tersenyum manja ke arah ku. di kocoknya lagi penis ku dengan pelan. Lalu lidahnya kembali menari-nari di kepala batang berurat itu.

“Kira-kira ini masih bisa keras lagi ga yah pak?” tanyanya dengan manja lalu berdiri, namun tangannya tidak lepas dari penis ku.

“Memangnya kenapa?”

“Ehm… punya Pristy gatel nih pak abis mainin punya bapak, bapak mau nolongin Pristy ga?” tanya nya lagi dengan suara yang semakin manja.

“Nolongin gimana?” tanya ku dengan nada sangat acuh.

“Tolong garukin punya Pristy yang gatel ini pakai punya bapak yang berurat ini yah pak… uuhhh pasti enaak… aahhhsshh…” balasnya sambil mendesah pelan sambil berbarlik lalu dengan sedikit menungging bu Pristy melepaskan kaitan celana jeasnnya dan dengan gerakan yang super erotis beliau menarik celana beserta celana dalamnya itu hingga sebatas lutut hingga sekarang terpampang bulatan pantat indah itu tanpa ada sedikitpun penutup. Dan yang semakin membuat ku terpesona lagi adalah belahan bibir vaginanya yang berwarna agak kemerahan itu juga terlihat dengan jelas. Penis ku pun kembali mengeras dan membuatnya tersenyum.

###

duaminggukemudian

“Pokoknya gue ga mau kalau tante kerja di kafe lagi,” ucap Gadis pada ku. Kami sedang duduk berdua di sebuah warung baso pinggir jalan sepulang sekolah tadi. Hari ini kafe tutup karena memang sehari dalam seminggu kafe libur namun pada hari kerja. Biasanya pada hari rabu. Aku tadi menjemput Gadis karena dia yang meminta, dan memaksa. Kami berdua baru saja menghabiskan baso yang masing-masing kami pesan. Dan sekarang terjawab sudah kenapa Gadis memaksa ku menjemputnya, ternyata karena ada yang ingin dia bicarakan. Dan itu adalah dia tidak setuju kalau tantenya bekerja di Kafe.

“Tapi kenapa?”

“Kalau gue bilang enggak ya enggak.”

“Tapi seharusnya ada alasan tertentu lah…”

“Emangnya dia minta kerja di kafe itu ada alasannya? Hah?”

“Ehmm… ga ada sih… tapi…”

“Kalau begitu jangan ngeyel. Kalau lo bisa kasih gue alasan kenapa dia minta kerja di kafe, gue akan ijinin dia kerja di kafe. Tapi kalau lo ga bisa, berarti lo harus ngikutin apa mau gue, kecuali lo mau gue jadi kaya dulu lagi.”

“Enggak-enggak mba… saya ga mau mba Gadis jadi kaya dulu lagi, beneran ga mau, mba Gadis tetep jadi mba Gadis yang manis kaya sekarang ya, jangan bandel kaya dulu lagi ya…”

“Makanya kalau gue bilang A ya A.”

“Iya, tapi kasih saya waktu buat bilang ke bu Pristy ya…”

“Gue kasih waktu seminggu.”

“Iya…”

Walaah. Baru dapet jalan keluar ini malah ada masalah baru lagi. Tapi tetap Gadis adalah prioritas yang paling utama. Karena membuka aib ku dengan bu Pristy ke Gadis adalah sesuatu yang mustahil. Maaf ya bu Pristy, saya harus memecat anda sepertinya. Tapi untuk jadi pertner enak-enak, enggak di pecat kok. Halah. Tepok jidad.

[Bersambung]

Daftar Part